"Reva! Reva, bangun nak!" seru wanita paruh baya di pagi-pagi buta, membangunkan anak bungsunya yang baru saja lulus SMA.
"Emmm ... masih ngantuk Ma, aku 'kan juga masih libur," ucap Reva, gadis bertubuh pendek mungil itu dengan suara serak bahkan matanya masih terpejam.
"Bangun nak! cepat siap-siap sekarang, hari ini kamu nikah!" Mata Reva seketika terbuka, langsung duduk, menatap mamanya dengan mata melotot. "Apa Ma? nikah? Mama jangan bercanda dong. Bukannya hari ini Kak Risa yang nikah?"
"Kakakmu enggak ada, dia kabur dari rumah., Mama enggak tahu lagi harus gimana, Mama pusing. Hari ini pernikahannya tapi dia malah kabur enggak tahu ke mana," ungkap Dina, Mama Reva seraya mengusap dahinya yang terasa berdenyut.
"Hah, Kak Risa kabur? kok bisa?" kepala Reva tiba-tiba berdenyut, terlalu banyak kabar mengejutkan pagi ini, bahkan ini baru beberapa jam setelah hari berganti.
"Udah, kamu jangan banyak tanya dulu ya. Sekarang, kamu mandi terus siap-siap." Mama Reva menarik tangan anaknya agar segera beranjak dari kasur.
"Hah, tapi aku enggak mau nikah Ma, aku belum siap. Masa aku yang harus gantiin Kak Risa." Reva merengek, menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, berontak seperti anak kecil.
"Reva jangan buat Mama tambah pusing deh. Sekarang kamu pilih mau gantiin Risa atau enggak usah tinggal di rumah ini lagi," ancam Dina terpaksa. Sebenarnya ia sayang sama anak bungsunya itu dan tidak mau memaksanya untuk melepas masa lajang secepat ini tapi sekarang dalam keadaan genting. Hari ini adalah pernikahan Kakaknya, otomatis semuanya sudah dipersiapkan dan banyak tamu akan hadir di acara ini, tidak mungkin semua itu akan dibatalkan begitu saja.
"Aaa Mama kok gitu sih, tega banget sama anak sendiri," Rasanya Reva ingin menangis saja. "Udah cepat sekarang kamu mandi. Kamu itu udah besar, jangan jadi anak cengeng." Setelah dipaksa mamanya, Reva akhirnya menuruti perintah Mamanya.
Sementara itu di kediaman mempelai pria, tampak seorang pria tinggi bertubuh tegap dengan dada bidang yang kelihatan memikat sudah rapi dengan setelan outfit pernikahan bernuansa putih suci itu.
"Kenapa Ma?" tanya Zidan, pria yang akan melangsungkan pernikahan hari ini pada Mamanya setelah memperhatikan gerak-gerik mamanya sehabis menerima telepon.
"Aduh Zidan, gimana ini ya, Mama bingung banget." Wanita paruh baya itu mondar-mandir seraya mengigit kuku jarinya. Zidan mengernyitkan dahinya, memperhatikan gerak-gerik mamanya yang tidak biasa.
"Kenapa sih Ma?" tanyanya lagi.
"Zidan, barusan calon besan telepon katanya Risa enggak ada di rumah."
"Hah! enggak ada di rumah gimana Ma?"
"Katanya dia kabur dari rumah,"
"Astaga! terus pernikahan ini gimana? enggak mungkin dibatalin 'kan? hanya tinggal beberapa jam lagi."
"Mama juga belum tahu, katanya nanti Bu Dina akan menelepon lagi," jawab Eva menunggu telepon dengan hati cemas. "Sebenarnya si Risa itu punya cowok, tapi orangtuanya enggak setuju kalau Risa sama cowok itu, jadi dia dijodohin sama kamu. Orangtuanya aja juga enggak menyangka bakal jadi kayak gini." Eva, Mama Zidan tiba-tiba bercerita, sementara Zidan hanya bisa menghela napas kasar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebenarnya dia tidak terlalu menyesali keadaan saat ini sebab memang belum ada cinta yang tumbuh di antara mereka. Mereka dijodohkan karena orangtua mereka bersahabat serta usia kedua mempelai juga tak lagi muda. Mereka hanya berkenalan singkat sebelum memutuskan untuk menikah.
*
1 jam sebelum acara dimulai, terlihat rombongan Zidan sudah lebih dulu sampai ke gedung acara. Hari ini adalah hari pernikahan Zidan, Zidan adalah seorang CEO muda sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang tekstil dan pakaian. Ia naik jabatan menjadi pimpinan perusahaan setelah menggantikan jabatan papanya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sesuai rencana awal, akad nikah dan resepsi akan dilangsungkan di ballroom hotel berbintang 5 yang terletak di pusat kota.
"Aduh, Bu Dina sekeluarga kok belum datang ya," Eva menunggu dengan cemas, memperhatikan ballroom hotel yang sudah mulai didatangi para tamu. Ia mencoba untuk menghubungi besan namun teleponnya tidak ada yang aktif. "Aduh, kok enggak aktif sih nomor hpnya."
"Sabar Ma, sebentar lagi mungkin datang," ujar Zidan menenangkan mamanya.
Tak lama kemudian rombongan Reva akhirnya datang. Bola mata Zidan bergerak pelan memperhatikan penampilan Reva yang cantik dan anggun sampai lupa berkedip. Reva tampak cantik dalam balutan outfit putih dengan rok batik. Riasan wajahnya dibuat natural sesuai dengan umurnya. Zidan akui bahwa Reva cantik, ia merasa pangling dengan gadis yang sekarang sudah berdiri tak jauh darinya itu. "Dia adiknya Risa Ma?" tanya Zidan setengah berbisik.
"Iya, itu Reva. Cantik ya," Zidan hanya diam, namun matanya terus memperhatikan Reva dari atas hingga bawah. Ia baru menyadari bila Reva akan menggantikan Risa untuk menjadi istrinya. Sebenarnya Zidan tidak terlalu mengenal adiknya Risa pasalnya mereka jarang bertemu dan berinteraksi. Jangankan dengan Reva, sama Risa saja Zidan belum terlalu kenal.
Setelah semua persiapan selesai, akad nikah pun akan segera dimulai.
Reva duduk canggung di sebelah Zidan, menundukkkan kepala, enggan melirik pria yang berada di sebelahnya. Bu Dina lalu memasangkan selendang putih ke atas kepala kedua mempelai. Mereka duduk bersebelahan di hadapan Papa Reva dan penghulu. Ada dua orang saksi juga di sana.
"Baiklah ananda Zidan, apakah kamu sudah siap?" tanya Reno, sang Papa dari Reva yang berada di hadapannya.
"InsyaAllah saya siap Pak," jawab Zidan mantap. Reva menelan ludahnya, gugup karena sebentar lagi ia akan melepas masa lajangnya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dia akan naik pelaminan secepat ini.
Reno selaku Papa dari Reva, mempelai wanita itu sendiri yang akan turun tangan untuk menikahkan anak bungsunya. Semua pasang mata otomatis menaruh atensi ke kedua mempelai ketika ijab qabul akan dimulai.
"Baiklah ananda Zidan, tolong jabat tangan saya." Zidan menuruti instruksi yang diperintahkan oleh Papa Reva. "Pelan-pelan saja, jangan gugup," ucap Reno, Zidan hanya mengangguk.
"Ananda Zidan Adnan Fernando bin Almarhum Brian Fernando, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri bungsu saya Reva Queen Arabella dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan logam mulia sebesar 25 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Reva Queen Arabella binti Reno Hadi dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai," ucap Zidan dengan lantang dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Semua orang akhirnya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, memanjatkan doa kepada Sang Pencipta atas kelancaran acara akad nikah hari ini.
Semua orang berbahagia tapi tidak dengan kedua mempelai yang tampak memasang wajah datar. Mereka melaksanakan pernikahan hari ini dengan hati dan perasaan kosong, hanya agar acara pernikahan yang sudah direncanakan lama ini tidak batal saja. Namun ada beberapa tamu yang mulai berbisik-bisik pada orang di sebelahnya setelah mendengar nama mempelai wanita.
"Eh, bukannya nama mempelai wanitanya bukan itu ya? inisialnya juga R sih tapi bukan dia deh perasaan. Apa aku salah lihat namanya di undangan kemarin ya?"
"Iya, aku juga merasa aneh. Perasaan nama mempelai wanitanya itu Risa deh bukan Reva."
"Iya 'kan aneh. Apa mempelai wanitanya diganti?"
Mereka akhirnya bertatap muka setelah penghulu menyuruh untuk mencium pasangan. Dengan ragu, Reva meraih tangan Zidan lalu menciumnya. Sementara Zidan langsung mencium kening Reva singkat tanpa keraguan. Dada Reva berdebar, ini pertama kalinya ia dicium oleh seorang pria, sukses membuat pipinya bersemu. Ia berdoa dalam hatinya semoga saja pipinya tidak memerah.
"Waahh manis banget ya pasangan baru ini. Selamat atas pernikahannya Zidan Adnan Fernando dengan Reva Queen Arabella~" seru sang MC acara bersemangat namun tidak dengan kedua mempelai yang menekuk wajah dan tidak bergairah.
Bersambung
Setelah akad dan resepsi usai, Reva langsung mengurung diri di kamarnya. Menangis terisak, meratapi nasibnya yang kini sudah berstatus sebagai seorang istri. Hatinya sangat sakit, di saat anak seumurannya sedang sibuk melanjutkan pendidikan untuk menggapai cita-cita-citanya dan masih bisa bebas bermain dengan anak sebayanya, ia malah terpaksa menikahi pria yang tidak dicintainya, yang bahkan usianya jauh di atasnya. Zidan dan Reva akan tinggal di kediaman mempelai wanita dan kediaman mempelai pria untuk beberapa hari ke depan sebelum pindah ke rumah sendiri.
"Zidan, Mama harap kamu bisa ngertiin Reva ya. Dia pasti belum siap untuk menerima semua ini. Kamu 'kan juga tahu kalau dia baru saja lulus SMA," tutur Dina, mamanya Reva meminta pengertian kepada menantunya. Orangtua Reva dan Zidan sekarang tengah berada di ruang tamu kediaman keluarga Reva.
"Iya Zidan. Sekali lagi kami juga minta maaf dan mohon pengertian dari kamu atas semua masalah yang terjadi hari ini," tambah Reno.
"Iya Ma, Pa. Aku mengerti. Kalian tidak perlu khawatir." Orangtua Reva sontak menyunggingkan senyum tulus.
"Ya udah kalau gitu kita makan malam dulu yuk," ajak Dina. Zidan mengangguk lalu mengikuti mertuanya menuju ruang makan.
"Ma, Reva nya enggak dipanggil dulu?" tanya Reno ketika tidak melihat Reva sedari tadi.
"Iya, sebentar ya." Dina beranjak dari duduknya, pergi ke kamar anak bungsunya.
Tok! Tok! Tok!
"Reva! makan dulu yuk nak! Papa sama Zidan udah nungguin itu!" seru Mamanya tapi tidak ada jawaban dari dalam, namun ia bisa mendengar sayup-sayup suara tangisan dari dalam kamar.
"Reva! buka pintunya dulu nak! Mama mau bicara," tetap saja tak ada jawaban. Dina akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah lalu memilih kembali ke ruang makan.
"Gimana Ma? Reva nya mana?" tanya suaminya. Dina menggeleng dengan sudut bibir turun.
"Biar aku aja yang nyamperinnya Ma, Pa." Zidan berdiri, mengambil segelas air lalu pergi ke kamar Reva.
Tok! Tok! Tok!
Zidan hanya diam, tak bersuara, mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Ia kembali mengetuk pintu, tetap berusaha sampai akhirnya pintu terbuka.
Terlihat Reva berdiri di hadapan Zidan dengan wajah basah karena air mata. Kelopak matanya sedikit membengkak akibat terus menangis.
Zidan menyodorkan air putih yang dibawanya, "Aku pikir kamu butuh ini." Reva melirik sekilas gelas kaca tinggi yang berisi air putih itu. "Banyak menangis bisa menyebabkan kehilangan asupan, kamu bisa dehidrasi. Jadi, aku rasa kamu butuh ini,"
Awalnya Reva ragu untuk menerimanya namun karena ia haus, ia pun menerimanya. "Terima kasih."
Zidan mengangguk, masih setia dengan ekspresi datarnya. "Aku tidak akan memaksamu. Kalau sudah baikan, keluar lah untuk makan. Jangan menangis terus nanti kamu bisa sakit." Reva mendongak, menatap lama iris coklat yang sedang menatapnya teduh itu.
Zidan menarik sudut bibirnya sedikit sebelum pergi meninggalkan Reva. Reva kembali menutup pintu, bersandar di balik pintu sembari menatap air minum yang diberikan suaminya. Ia kembali terisak, tidak tahu kenapa. Entah kenapa hari ini rasanya hatinya sangat rapuh, bawaannya ingin menangis terus.
"Gimana Zidan? Reva masih belum mau keluar?"
"Belum. Tapi, aku udah menyuruhnya untuk makan kalau sudah baikan,"
"Ya udah kita makan aja duluan," timpal Reno.
"Ayo makan Zidan."
"Iya Ma, Pa."
***
Keesokan harinya, Reva bangun kesiangan karena semalam ia tidak bisa tidur dan baru makan setelah tengah malam. Pagi ini tubuhnya terasa pegal, matanya bengkak dan kepalanya terasa berat. Rasanya malas untuk sekedar beranjak dari tempat tidur namun jam telah menunjukkan pukul 10 siang dan ia enggak mungkin terus berada di dalam kamar.
Ia bangun, duduk di tepi ranjang seraya menyentuh dahinya yang terasa berdenyut. "Aduh, pusing banget."
Tok tok tok!
"Reva, bangun nak! udah jam berapa ini?! ayo sarapan!" Terdengar suara mamanya dari balik pintu. Perlahan Reva berdiri, membukakan pintu.
"Kamu pucat banget, kamu sakit?" tanya Dina ketika melihat wajah anaknya pucat.
Reva menggeleng lemah. "Aku cuma pusing sedikit Ma, aku enggak apa-apa kok."
"Makanya kamu tuh jangan nangis terus. Jam segini aja kamu belum sarapan. Ya udah sekarang kamu mau mandi dulu atau sarapan dulu?"
"Aku sarapan dulu ya Ma, aku lapar,"
"Ya udah, ayo." Reva mengikuti mamanya ke ruang makan sambil celingak-celinguk memperhatikan sekitar. "Sepi banget Ma, yang lain ke mana?"
"Papa sama suami kamu udah berangkat kerja dari tadi. Kamu pikir sekarang udah jam berapa?" Reva hanya mengangguk paham. Ia duduk di meja makan. Terlihat hanya tinggal 1 porsi nasi goreng saja yang tersisa di atas meja.
"Mama udah sarapan?"
"Udah lah. Mama 'kan biasanya sarapan sebelum jam 9, mana bisa Mama lama-lama sarapan. Ya udah makan gih,"
"Iya Ma," Reva lalu menyantap sarapannya dengan cepat seperti orang kelaparan.
"Pelan-pelan makannya Re," Reva hanya mengangguk sebab mulutnya penuh dengan makanan.
Dina memandang iba anak bungsunya yang baru beranjak dewasa itu. Sebenarnya ada rasa tidak tega dan khawatir ketika harus melepas anaknya kepada pria lain secepat ini. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini memang takdir Reva. Semoga takdir ini memang yang terbaik untuk Reva dan masa depannya. Perlahan Dina mengangkat sudut bibirnya hingga terbentuk senyum kecil.
"Reva," Reva menatap mamanya setelah meneguk air minumnya. Dina meraih punggung tangan Reva, mengusapnya pelan. "Maafin Mama ya,"
Mata keduanya sontak berkaca-kaca. "Mama enggak perlu minta maaf, ini bukan salah Mama. Tapi, ini salah Kak Risa."
Dina tersenyum, "Mama harap kamu akan baik-baik selalu sama Zidan ya." Reva terdiam, mendengarkan. "Ingat, Zidan itu sekarang udah sah menjadi suami kamu. Hormati dia, ikuti perintahnya, jadilah istri yang baik."
Reva kembali meneteskan air mata, seperti belum ikhlas dengan keadaan. "Maafin aku Ma karena belum bisa menerima keadaan sekarang."
"Enggak apa, pelan-pelan aja. Mama tahu ini pasti sangat berat untuk kamu tapi Mama yakin kamu pasti bisa. Besok pagi kamu akan tinggal di rumah Zidan selama beberapa hari sebelum akhirnya akan tinggal dengan Zidan. Kamu harus persiapin diri ya," ungkap Dina tersenyum, mengusap punggung tangan Reva lagi lalu pergi meninggalkannya karena sudah tidak sanggup menahan tangisnya.
***
Sementara itu Zidan tampak sedang berhenti di tepi jalan, tidak jauh dari perusahaannya. Ia sudah menepi sejak setengah jam yang lalu, duduk di mobil seraya memainkan ponselnya.
"Halo,"
"Halo Pak,"
"Bagaimana? Apa para wartawan itu sudah pergi sekarang?" tanya Zidan di telepon. Ia sedang berbicara dengan salah satu satpam perusahaan. Alasan ia menepi sedari tadi karena salah satu satpam mengabarinya bila para wartawan sudah berkumpul di perusahaan dan sudah pasti mereka akan mewawancarai Zidan mengenai pernikahannya baru-baru ini apalagi mengingat mempelai wanitanya yang diganti tepat di hari pernikahan pasti membuat publik penasaran dan bertanya-tanya, apa alasan dibalik semua itu? Zidan memang bukan artis namun ia adalah seorang pengusaha muda yang tampan dan sukses karirnya di usia yang terbilang cukup muda apalagi ia juga memiliki Kakak perempuan, mantan model yang sudah menikah 4 tahun yang lalu dan sekarang tinggal bersama suami dan anaknya di Inggris. Otomatis ia dan keluarganya sering mendapatkan sorotan dari media.
"Belum Pak. Saya sudah coba menyuruh mereka pulang, tapi mereka tidak mau Pak."
"Kamu sudah coba bilang kalau saya tidak ke perusahaan hari ini?"
"Belum Pak." Zidan sontak menutup matanya lelah ketika mendengar jawaban satpam perusahaan. Maksudnya kenapa para petugas keamanan itu tidak berinisiatif sama sekali untuk membuat para wartawan itu pulang.
"Ya coba bilang begitu Pak atau cari cara lain. Udah setengah jam loh ini. Pokoknya saya tunggu 10 menit lagi ya, saya mau 10 menit lagi semua wartawan sudah pergi. Saya tidak mau menemui mereka."
"Ba-baik Pak."
Zidan memijat pangkal hidungnya setelah memutuskan sambungan. Sambil menunggu ia iseng membuka portal berita dan menemukan beberapa berita tentang dia, salah satunya berita tentang penggantian calon mempelai wanita seorang CEO PT. Adnando Family Tbk tepat di hari pernikahan.
Bersambung
Seminggu kemudian
Telah seminggu berlalu sejak pernikahan Zidan dan Reva dilangsungkan. Setelah tinggal bersama di kediaman orangtua masing-masing selama beberapa hari, akhirnya mereka tinggal bersama di sebuah rumah mewah nan mahal yang dihadiahkan oleh Mama Zidan sebagai kado pernikahan.
Dan di sinilah mereka baru saja tiba di perkarangan rumah besar itu bersama orangtua mereka yang menaiki mobil yang berbeda. Zidan memarkirkan mobil sedan mewah hitam miliknya di sebelah mobil sedan putih mamanya.
Mamanya Zidan tampak keluar lebih dulu bersama kedua orangtua Reva yang ikut bersamanya.
Reva keluar lebih dulu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Selama perjalanan, ia memang hanya diam saja. Zidan tidak terlalu peduli karena dia orangnya juga tidak suka banyak bicara.
Rumah untuk Zidan dan Reva itu tampak sangat besar nan mewah. Pilar rumah yang terdapat di depan terlihat menjulang tinggi dan kokoh. Rumah bergaya klasik modern itu memiliki 2 lantai. Halamannya pun begitu luas, terlihat asri karena terdapat taman yang ditumbuhi rerumputan hijau dan pepohonan yang rindang.
"Ini rumah hadiah dari Mama untuk Zidan dan Reva. Semoga kalian suka ya," celetuk Eva, mamanya Zidan seraya melirik Zidan dan Reva bergantian.
"Terima kasih Ma."
"Eh, jawabnya udah kompak aja nih." Eva menggoda anak dan mantunya ketika mereka enggak sengaja berbicara berbarengan sementara yang digoda hanya menyunggingkan senyum tipis. "Ya udah kalau gitu ayo kita lihat ke dalamnya," sambung Eva.
Saat tiba di dalam, terlihat rumah sudah berisi perabotan rumah tangga seperti sofa, meja, lemari, kasur dan lain-lain. Sebelum pindah ke sini, mereka memang sudah mengangsur barang-barang untuk mengisi rumah dari jauh-jauh hari. Rumah berlantai 2 ini kelihatan mewah dan elegan, semua ruangan terlihat didominasi dengan warna putih cream dan abu-abu. Lantai full marmer putih. Rumah ini memiliki 5 kamar tidur, 3 di atas dan 2 di bawah, 4 kamar mandi, di antaranya 2 di atas dan 2 di bawah, ruang kerja untuk Zidan di atas, dapur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan kolam renang di samping. Cukup luas untuk ditinggali 2 orang.
"Waahh rumahnya luas sekali ya Bu Eva," celetuk Dina takjub memandang ke sekeliling rumah. Sebenarnya rumah keluarga Reva juga termasuk besar namun tidak sebesar dan semewah ini karena Papa Reva bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan sedangkan Mamanya Reva sendiri bekerja sebagai tukang jahit, kalau dibandingkan dengan keluarga Zidan yang memiliki sebuah perusahaan manufaktur tentu saja kelihatan siapa yang lebih berduit di sini. Lagipula rumah keluarga Zidan sebenarnya lebih besar dan mewah dibandingkan rumah Zidan dan Reva sekarang.
"Ah, biasa aja ini Bu, yang penting anak-anak seneng dan bisa hidup nyaman."
Setelah melihat-lihat rumah, mereka pun mengambil duduk di ruang tamu. "Jadi inilah rumah kalian. Di sinilah kalian akan tinggal bersama untuk waktu yang lama, berbagi kasih sayang, saling peduli satu sama lain, saling mengingatkan satu sama lain kalau ada yang salah. Mama harap pernikahan kalian akan berlangsung selamanya." Eva mulai memberikan wejangan pada pengantin baru.
"Betul. Papa sama Mama juga berharap rumah tangga kalian selalu baik. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin, ada masalah dalam rumah tangga itu wajar, yang penting kalian harus bijak menyelesaikannya. Saling mencintai dan menyayangi satu sama lain untuk waktu yang lama karena pernikahan bukan cuma sebulan, setahun tapi untuk selamanya," tutur Reno sekaligus mewakili istrinya untuk memberikan nasihat.
"Iya, baik-baik ya kalian. Kalau kalian butuh bantuan apapun, jangan sungkan untuk minta bantuan ke orangtua kalian ini ya," tambah Dina.
Zidan dan Reva mengangguk paham.
"Terima kasih Ma, Pa untuk nasihatnya. Aku pasti akan selalu ingat nasihat kalian," ucap Zidan dan diangguki juga oleh Reva yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak mau tidur sekamar denganmu," celetuk Reva setelah orangtua mereka pulang. Mereka bahkan masih berada di halaman depan setelah mengantarkan orangtuanya. Zidan sontak menoleh, menatap istrinya tanpa bersuara. "Maksudku rumah ini punya banyak kamar, tidak masalah 'kan kita tidur sendiri-sendiri? karena bagaimanapun juga pernikahan ini terjadi tidak sesuai dengan keinginanku," sambung Reva kembali berbicara.
"Jadi kamu pikir pernikahan ini sesuai dengan keinginanku? aku juga sama sepertimu. Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Jika ada orang yang perlu kamu salahkan, salahkan saja kakakmu sendiri karena dia yang membuat kamu terjebak dalam pernikahan ini," jelas Zidan lalu hendak pergi dari sana namun baru beberapa langkah ia kembali menghampiri Reva. "Dan satu lagi aku tidak masalah dengan permintaanmu itu."
Setelah itu Zidan pun pergi dengan mobilnya meninggalkan Reva. Reva menatap mobil yang semakin menjauh itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Sejujurnya setelah seminggu menikah, hanya dirinya yang sering menunjukkan bila ia tidak menginginkan pernikahan ini sedangkan Zidan jarang sekali menunjukkannya walaupun sebenarnya Reva tahu bila Zidan kemungkinan juga tidak menginginkan pernikahan ini dan hari ini Reva baru mendengarnya langsung dari mulut Zidan.
*
Malamnya
Pasangan baru itu terlihat sedang sibuk sendiri-sendiri setelah makan malam. Rumah terasa sunyi seperti tidak berpenghuni. Reva tampak duduk di ruang keluarga seraya menonton TV sementara Zidan tengah berada di kamar.
Tak lama kemudian Zidan datang menghampiri Reva, meletakkan sebuah map berisi kertas dan sebuah pena ke atas meja. Reva meliriknya sejenak. "Apa itu?" tanya Reva pada suaminya.
"Baca saja," jawab Zidan yang sekarang sedang melipat tangannya di depan dada.
Reva lalu membaca berkas tersebut yang ternyata adalah sebuah perjanjian pernikahan. Di sana tertulis tentang perjanjian pernikahan selama 1 tahun di mana isi utama perjanjian adalah, dilarang ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing dan tidak membuat keturunan sampai masa perjanjian berakhir.
"Aku membuat ini karena aku tidak mungkin menceraikanmu dalam waktu dekat. Orangtua kita pasti akan curiga dan tidak mengizinkan jadi aku membuat perjanjian pernikahan ini, setelah setahun aku akan menceraikanmu. Setelah itu kamu bebas untuk melanjutkan pendidikanmu, menggapai cita-citamu dan bertemu seseorang yang memang kamu cintai."
Reva berpikir sejenak setelah mendengarkan penjelasan dari Zidan, ia berpikir tidak buruk juga. Ia tidak keberatan dengan isi perjanjian, ia juga belum ingin punya anak dalam waktu dekat, ia masih ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang fashion designer dulu.
"Untuk biaya hidupmu selama 1 tahun aku akan tanggung, jadi kamu tidak perlu khawatir. Di depan orangtua kita, bersikaplah selayaknya pasangan tapi di belakang mereka, kita bukan pasangan. Bagaimana? jika kamu setuju, silakan tanda tangani berkasnya."
Setelah berpikir lama, Reva akhirnya meraih pena, mengarahkan tangannya ke atas kertas putih tersebut. 'Maafkan aku Ma, Pa,' ucapnya dalam hati lalu menandatangani surat perjanjian pernikahan tersebut.
Bersambung