Lampu gantung kristal di ruang makan itu berpijar redup, memantulkan cahaya pada deretan piring porselen yang isinya sudah mendingin. Elara duduk mematung. Di hadapannya, sebuah kue tart kecil dengan lilin angka tiga yang sudah meleleh hingga mengenai lapisan gula tertata rapi. Tidak ada kemeriahan. Hanya suara detak jam dinding yang seolah mengejek kesunyian di rumah bak istana itu.
Ini malam perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Dan seperti dua tahun sebelumnya, Elara merayakannya sendirian.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Julian pasti sedang sibuk, atau lebih tepatnya, sedang menyibukkan diri agar tidak perlu pulang dan melihat wajahnya. Elara menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang mulai merayap di dadanya. Ia sudah terbiasa, bukan? Ia yang memaksa pernikahan ini terjadi. Ia yang menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menekan keluarga Julian agar pria itu berlutut di altar bersamanya.
Jadi, bukankah wajar kalau ia harus menelan semua kepahitan ini sendirian?
Tepat pukul sebelas malam, suara deru mobil terdengar di halaman. Jantung Elara berdegup kencang, sebuah reaksi tubuh yang masih saja bodoh setelah tiga tahun disakiti. Ia segera berdiri, merapikan dress sutra merahnya yang ia beli khusus untuk malam ini, dan mencoba memasang senyum terbaiknya.
Pintu depan terbuka. Julian melangkah masuk dengan langkah tegap namun dingin. Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya yang tampan terlihat lelah, tapi matanya langsung menajam begitu melihat Elara berdiri di ujung lorong.
"Belum tidur?" suara Julian rendah, tapi ketus.
"Aku menunggumu, Julian. Ini kan hari peringatan pernikahan kita," jawab Elara lembut, berusaha mengabaikan tatapan tajam pria itu.
Julian mendengus sinis. Ia berjalan melewati Elara menuju dapur, menuangkan air es ke gelas dengan gerakan kasar. "Peringatan? Maksudmu peringatan tiga tahun sejak kau menjebakku dalam neraka ini? Harusnya aku yang merayakannya dengan berkabung, bukan makan kue bodoh itu."
Elara mengepalkan tangannya di balik kain dressnya. "Aku memasak makanan kesukaanmu. Hanya sebentar saja, bisakah kita duduk dan bicara tanpa harus bertengkar?"
Julian berbalik, menyandarkan pinggulnya di konter dapur sambil menatap Elara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya penuh penghinaan. "Kau dandan seperti ini hanya untuk memamerkan betapa kayanya keluargamu? Atau kau ingin mengingatkanku lagi bahwa kau bisa membeli apa saja, termasuk suami?"
"Aku tidak pernah berniat seperti itu, Julian. Aku hanya ingin kita mencoba lagi. Tiga tahun sudah berlalu, bisakah kita membuka lembaran baru?"
Julian tertawa, tapi tawanya terdengar kering dan menyakitkan. Ia berjalan mendekati Elara, memangkas jarak di antara mereka sampai Elara bisa mencium aroma alkohol tipis dan parfum pria yang mahal dari tubuh suaminya. Julian menarik kotak hadiah kecil yang tergeletak di dekat kue tart itu-sebuah jam tangan edisi terbatas yang Elara pesan berbulan-bulan lalu.
"Ini apa? Mainan baru untukku?" Julian mengangkat kotak itu dengan ujung jarinya seolah itu adalah sampah.
"Itu hadiah untukmu. Aku tahu kau suka mengoleksi jam tangan," kata Elara, matanya mulai berkaca-kaca.
Tanpa diduga, Julian melepaskan pegangannya. Kotak mahal itu jatuh ke lantai dengan suara keras. "Simpan saja uangmu, Elara. Aku tidak butuh barang-barang yang dibeli dengan rasa bersalah. Kau tahu apa yang benar-benar kuinginkan sebagai hadiah? Surat cerai. Itu satu-satunya hal yang bisa membuatku bahagia."
Deg. Elara merasa dunianya seolah berhenti berputar. Meski sudah ratusan kali mendengar kata cerai keluar dari mulut Julian, setiap kali pria itu mengucapkannya, rasanya tetap seperti belati yang dihunus tepat ke jantungnya.
"Kenapa kau begitu membenciku?" bisik Elara dengan suara bergetar. "Aku mencintaimu sejak kita masih kecil, Julian. Apa itu sebuah kejahatan?"
"Cinta?" Julian melangkah maju satu langkah lagi, membuat Elara terpojok ke meja makan. "Apa yang kau lakukan itu bukan cinta. Itu obsesi gila. Kau menghancurkan hubunganku dengan wanita yang kucintai, kau mengancam masa depan keluargaku, dan kau menyeretku ke sini hanya untuk memuaskan egomu. Kau tidak mencintaiku, Elara. Kau hanya ingin memilikiku seperti kau memiliki tas-tas bermerek di lemarimu itu."
Julian mengambil garpu dari meja, mencuil sedikit kue tart buatan Elara, lalu membuangnya ke lantai. "Kuenya hambar. Sama seperti pernikahan ini. Jangan pernah berharap aku akan menyentuh apa pun yang berasal darimu."
Pria itu berbalik dan menaiki tangga tanpa menoleh lagi, meninggalkan Elara yang luruh ke lantai. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Ia melihat kue yang berantakan di lantai, jam tangan yang tergeletak tak berdaya, dan meja makan yang begitu luas untuknya sendiri.
Elara memeluk lututnya. Rasa sakitnya bukan lagi sekadar pedih, tapi sudah mulai terasa mati rasa. Ia menyentuh dadanya yang sesak. Selama tiga tahun ini, ia selalu percaya bahwa dengan kesabaran, Julian akan luluh. Ia percaya bahwa jika ia tetap berdiri di samping pria itu, suatu saat Julian akan melihatnya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai istri.
Namun malam ini, di bawah cahaya lampu kristal yang mahal itu, Elara sadar bahwa ia telah membohongi dirinya sendiri. Ia terlalu percaya diri dengan kekuasaannya. Ia terlalu sombong dengan berpikir cintanya cukup untuk mereka berdua.
"Ternyata benar," gumam Elara di sela isak tangisnya. "Aku tidak sedang membangun rumah tangga. Aku sedang membangun penjara, dan aku sendirilah yang mengunci diriku di dalamnya."
Kesunyian malam itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Elara menatap bayangannya di cermin besar yang ada di ruang tamu. Wanita di sana terlihat cantik, namun matanya kosong. Tak ada lagi sisa-sisa kesombongan putri konglomerat yang biasanya ia banggakan. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang baru saja sadar bahwa ia telah kalah telak dalam permainan yang ia buat sendiri.
Malam itu, Elara tidak naik ke kamar utama. Ia tetap di sana, di lantai dapur yang dingin, bersama sisa-sisa perayaan yang hancur, menyadari bahwa mungkin bendera putih memang sudah saatnya ia kibarkan.
Matahari pagi itu masuk lewat celah gorden yang tidak tertutup rapat, menusuk langsung ke mata Elara yang bengkak. Dia terbangun dengan posisi meringkuk di sofa ruang tengah, bukan di kamar utama yang empuk. Badannya terasa pegal semua, tapi rasa kaku di punggungnya tak sebanding dengan rasa nyeri yang masih tersisa di dadanya sejak semalam.
Dia bangkit perlahan, merapikan dress merahnya yang kini sudah kusut masai. Di atas meja makan, kue tart yang semalam dia siapkan masih ada di sana, tampak menyedihkan dengan krim yang mulai meleleh. Elara menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di lantai dapur.
Baru saja dia ingin melangkah ke kamar mandi, suara pintu kamar atas terbuka. Julian turun dengan kemeja kantor yang sudah rapi, terlihat segar seolah badai yang dia ciptakan semalam sama sekali tidak memengaruhi tidurnya. Pria itu berhenti di anak tangga terakhir, menatap Elara dengan pandangan meremehkan.
"Masih di sini? Aku kira kau sudah lari mengadu pada ayahmu," sindir Julian sambil mengancingkan jam tangan-bukan jam pemberian Elara, tentu saja.
Elara tidak membalas. Dia hanya menatap Julian datar. "Aku mau mandi."
"Oh, silakan. Mandilah dengan air bunga atau apa pun yang biasa dilakukan putri kaya sepertimu untuk mencuci dosanya," Julian melangkah menuju pintu depan, tapi langkahnya terhenti saat hidungnya menangkap sesuatu. Dia mengernyit, lalu mendekat ke arah Elara.
Julian menarik napas dalam-dalam di dekat bahu Elara, membuat wanita itu tersentak kaget. Jantung Elara berdegup kencang, tapi sedetik kemudian, wajah Julian berubah menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.
"Parfum ini..." suara Julian mendadak berubah jadi rendah dan tajam. "Kenapa kau memakai aroma ini, Elara?"
Elara bingung. "Maksudmu apa? Ini parfum baruku-"
"Jangan bohong!" Julian menyambar pergelangan tangan Elara dengan kasar, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini parfum yang sering dipakai Clara. Kau sengaja, kan? Kau sedang mencoba menjadi dia supaya aku sudi melirikmu? Kau benar-benar menjijikkan."
Elara mencoba melepaskan tangannya yang mulai sakit. "Aku bahkan tidak tahu Clara pakai parfum apa, Julian! Lepaskan, sakit!"
"Kau tahu segalanya tentang dia! Kau yang membayar orang untuk mencari tahu hidupnya, kau yang membuat dia pergi dari kota ini, dan sekarang kau mencoba meniru baunya?" Julian mengibaskan tangan Elara seolah-olah tangan itu adalah kotoran. "Bahkan jika kau memakai kulitnya sekalipun, kau tidak akan pernah bisa menggantikannya. Kau cuma sampah yang terbungkus kain sutra."
Julian keluar dari rumah dengan membanting pintu begitu keras hingga vas bunga di dekat pintu bergetar. Elara terpaku di tempatnya. Dia mencium aroma tubuhnya sendiri. Parfum itu adalah hadiah dari temannya, dia tidak tahu kalau aromanya mirip dengan milik mantan kekasih Julian. Tapi bagi Julian, segala sesuatu yang dilakukan Elara selalu punya niat busuk di baliknya.
Dia terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Baru jam delapan pagi, dan dia sudah merasa sehancur ini.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di atas meja. Nama "Ayah" muncul di layar. Elara menghapus air matanya secepat kilat, mengatur suaranya agar tidak terdengar serak.
"Halo, Yah?"
"Elara, kenapa suaramu begitu? Kau sakit?" suara berat ayahnya terdengar di seberang sana.
"Hanya flu sedikit, Yah. Ada apa?"
"Julian belum mengirimkan laporan proyek terbaru ke kantor pusat. Katakan padanya, jangan karena dia suamimu, dia bisa santai-santai. Kalau dia berulah lagi, Ayah tidak segan-segan menarik semua investasi di perusahaannya. Mengerti?"
Elara menggigit bibir bawahnya. Inilah yang membuat Julian semakin membencinya. Setiap kemajuan karier Julian selalu dibayang-bayangi oleh ancaman ayahnya. Julian merasa seperti anjing peliharaan yang harus terus dipacu agar tetap patuh.
"Julian sedang sibuk, Yah. Nanti aku sampaikan," kata Elara pelan.
"Bagus. Ingat Elara, kau itu putri keluarga klan utama. Jangan biarkan pria itu merendahkanmu. Kalau dia macam-macam, bilang pada Ayah."
Setelah telepon ditutup, Elara melempar ponselnya ke sofa. Dia merasa terjepit di antara dua batu besar yang siap menghimpitnya sampai remuk. Di satu sisi ada ayahnya yang sombong dan suka mengontrol, di sisi lain ada Julian yang menganggapnya sebagai sumber penderitaan hidupnya.
Dia memutuskan untuk pergi ke kantor Julian. Bukan untuk bertengkar, tapi untuk menyampaikan pesan ayahnya-sekaligus, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling bodoh, dia ingin memastikan Julian sudah makan siang.
Elara mampir ke restoran favorit Julian, membelikan menu yang biasa pria itu pesan tanpa bawang bombay, persis seperti yang Julian suka. Dengan kotak makan di tangan, dia berjalan masuk ke gedung kantor Julian. Para karyawan menatapnya dengan pandangan aneh-campuran antara rasa hormat palsu dan kasihan yang disembunyikan. Semua orang tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya.
Saat sampai di depan ruangan Julian, sekretarisnya mencoba menahannya. "Maaf, Bu Elara, Pak Julian sedang ada tamu penting."
"Aku istrinya, aku bisa masuk kapan saja," kata Elara dengan sisa-sisa kesombongan yang dia punya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan bawahan suaminya.
Tanpa mengetuk, Elara membuka pintu.
Langkah kakinya terhenti seketika. Di dalam ruangan itu, Julian tidak sedang bersama klien. Dia sedang duduk di sofa dengan seorang wanita. Wanita itu sedang menangis, dan tangan Julian berada di bahu wanita itu, mengusapnya dengan lembut-sebuah gerakan yang tidak pernah Julian berikan pada Elara selama tiga tahun mereka menikah.
Wanita itu adalah Clara.
"Elara?" Julian berdiri, matanya memancarkan amarah karena privasinya diganggu. "Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk?"
Elara menatap Clara yang tampak begitu rapuh, lalu menatap kotak makan di tangannya. Rasanya sangat konyol. Dia datang seperti istri yang berbakti, sementara suaminya sedang sibuk menenangkan "cinta sejatinya".
"Ayah memintamu mengirimkan laporan proyek," kata Elara, suaranya terdengar hampa. "Dan... aku membawakanmu makan siang."
Julian melihat kotak makan itu, lalu tersenyum miring yang menyakitkan. "Makan siang? Kau lihat? Clara sedang kesulitan karena bisnis kecilnya diganggu oleh orang-orang suruhan ayahmu, dan kau datang ke sini membawa makanan seolah-olah kau adalah malaikat?"
"Aku tidak tahu apa-apa soal bisnis Clara, Julian!"
"Sudahlah, Elara. Pergi dari sini. Bau parfummu yang meniru dia saja sudah membuatku mual, apalagi melihat wajahmu yang pura-pura tidak tahu apa-apa." Julian mengambil kotak makan itu dari tangan Elara, lalu tanpa ragu, dia membuangnya ke tempat sampah di sudut ruangan.
Bunyi buk saat kotak itu menghantam dasar tempat sampah terdengar seperti suara harapan Elara yang hancur berkeping-keping.
"Julian, itu keterlaluan..." Clara berbisik pelan, mencoba melerai, tapi Elara tahu itu hanya akting agar dia terlihat lebih baik di mata Julian.
Elara menarik napas dalam, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk matanya. Dia tidak boleh menangis di depan wanita ini. Dia tidak boleh kalah telak.
"Laporannya, Julian. Kirim sebelum sore kalau kau tidak mau perusahaanmu habis," kata Elara dengan nada dingin yang dia paksakan.
Dia berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak. Tapi begitu pintu lift tertutup, pertahanannya runtuh. Dia bersandar pada dinding lift, tubuhnya gemetar hebat. Dadanya terasa sangat sakit sampai dia sulit bernapas.
Tiga tahun dia bertahan. Tiga tahun dia dihina. Tiga tahun dia mencoba mencairkan gunung es yang ternyata justru semakin membeku. Dan hari ini, melihat Julian memberikan kelembutan yang selama ini dia dambakan kepada wanita lain, Elara sadar bahwa dia sudah sampai pada batasnya.
Dia tidak lagi punya kekuatan untuk berjuang. Cintanya yang besar ternyata bukan sebuah kekuatan, melainkan sebuah kutukan yang pelan-pelan membunuhnya.
Sesampainya di rumah, Elara tidak lagi menangis. Dia berjalan menuju kamar, mengambil koper besar dari atas lemari, dan mulai memasukkan baju-bajunya. Bukan baju mahal yang dibelikan Julian-karena Julian memang tidak pernah membelikannya apa-apa-melainkan baju-baju miliknya sendiri.
Dia melihat cincin pernikahan di jari manisnya. Sebuah lingkaran emas yang indah, tapi terasa seperti borgol yang berat. Dia melepaskan cincin itu, meletakkannya di atas meja rias, tepat di samping foto pernikahan mereka di mana Julian sama sekali tidak tersenyum.
"Cukup, Julian," bisiknya pada ruangan yang kosong. "Aku menyerah."
Elara menatap koper yang sudah terbuka di atas tempat tidur. Tangannya gemetar saat dia melipat satu per satu pakaian yang tidak terlalu mencolok. Dia sengaja tidak menyentuh gaun-gaun rancangan desainer ternama atau tas kulit buaya yang berderet di rak kaca. Semua itu adalah simbol "Elara sang Putri Konglomerat," identitas yang selama ini dia gunakan untuk menutupi lubang besar di hatinya. Tapi hari ini, dia tidak ingin menjadi putri siapa pun. Dia hanya ingin menjadi manusia yang tidak perlu merasa takut akan dihina setiap kali membuka mulut.
Dia berjalan ke arah meja rias, mengambil sebuah kotak kecil berisi obat sakit kepala yang sudah hampir habis. Selama berbulan-bulan, kepalanya terus berdenyut karena kurang tidur dan tekanan batin, tapi Julian tidak pernah tahu. Julian hanya tahu cara mencaci, bukan cara bertanya "apakah kau baik-baik saja?".
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di lorong. Jantung Elara seolah melompat ke tenggorokan. Itu langkah Julian. Pria itu biasanya tidak pulang secepat ini. Dengan gerakan panik, Elara mendorong kopernya ke bawah kolong tempat tidur dan menutupinya dengan sprei yang menjuntai. Dia segera duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Julian berdiri di sana, masih memakai kemeja yang sama dengan yang dia pakai saat membuang makan siang Elara tadi siang. Wajahnya terlihat berang, lebih merah dari biasanya.
"Mana berkas asli proyek pengembangan di pelabuhan?" tanya Julian tanpa basa-basi. Suaranya menggelegar di kamar yang sunyi itu.
Elara mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Ada di brankas ruang kerja bawah. Kenapa? Bukannya kau sudah punya salinannya?"
Julian melangkah mendekat, auranya begitu mengancam. "Ayahmu menahan tanda tangan persetujuan terakhir. Dia bilang, dia hanya akan menandatanganinya kalau aku membawamu makan malam ke rumahnya malam ini. Kau yang merencanakan ini, kan? Kau mengadu padanya soal kejadian di kantor tadi?"
Elara tertawa getir. "Mengadu? Julian, kalau aku mau mengadu, aku sudah melakukannya sejak tahun pertama kita menikah. Aku tidak perlu menunggu sampai kau mempermalukanku di depan Clara hanya untuk bicara pada ayahku."
"Jangan sebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu!" bentak Julian. Dia menunjuk wajah Elara dengan telunjuknya. "Aku tahu taktikmu. Kau pura-pura jadi korban, lalu lari ke pelukan ayahmu agar dia bisa menekanku lagi. Kau pikir dengan cara ini aku akan mencintaimu? Yang ada aku makin jijik melihatmu!"
Elara merasakan sesuatu pecah di dalam dirinya. Bukan lagi rasa sedih yang membuatnya ingin menangis, tapi rasa lelah yang luar biasa. Dia berdiri, menatap tepat ke mata Julian, sesuatu yang jarang dia lakukan karena biasanya dia selalu menunduk ketakutan.
"Kalau begitu, jangan pergi," kata Elara datar.
Julian tertegun sejenak. "Apa?"
"Kalau kau merasa ditekan, jangan datang ke makan malam itu. Biarkan ayahku menarik investasinya. Biarkan perusahaanmu goyah. Bukankah itu yang kau mau? Kebebasan? Ambil saja kebebasanmu, Julian. Jangan salahkan aku atas pilihan yang kau ambil sendiri karena kau terlalu takut kehilangan hartamu."
Julian terpaku. Dia tidak menyangka Elara akan menjawab setegas itu. Biasanya, wanita di depannya ini akan memohon maaf atau mencoba menjelaskan dengan suara yang gemetar. Tapi kali ini, mata Elara terlihat... kosong. Tidak ada lagi binar pemujaan yang biasanya membuat Julian merasa muak sekaligus berkuasa.
"Kau berani mengancamku sekarang?" desis Julian, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan amarah.
"Aku tidak mengancam. Aku hanya memberimu pilihan. Aku capek, Julian. Aku mau istirahat," Elara berbalik, membelakangi Julian, sebuah tanda bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
Julian mendengus kasar, menendang kursi kecil di dekat meja rias hingga terjatuh, lalu keluar dari kamar sambil membanting pintu. Suara dentumannya bergema, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Begitu keadaan aman, Elara kembali menarik kopernya. Dia tidak punya banyak waktu. Julian mungkin akan pergi ke rumah ayahnya sendirian atau kembali ke kantor untuk meluapkan amarahnya. Ini adalah kesempatannya.
Dia mengambil selembar kertas dan pulpen. Dia ingin menulis surat yang panjang, menjelaskan betapa dia sangat mencintai pria itu sejak mereka masih bermain di taman belakang rumah belasan tahun lalu. Dia ingin menulis bagaimana dia selalu menyimpan foto masa kecil mereka di dalam dompetnya. Tapi setelah menulis beberapa kata, dia meremas kertas itu.
Tidak ada gunanya. Bagi Julian, kata-katanya adalah sampah. Penjelasannya adalah kebohongan.
Dia akhirnya hanya menulis satu kalimat pendek di atas kertas putih bersih: "Aku mengembalikan kebebasanmu. Jangan cari aku."
Elara meletakkan kertas itu di atas bantal Julian, tepat di samping cincin pernikahannya. Dia merasa seperti sedang melepaskan bagian dari nyawanya, tapi dia tahu jika dia tidak pergi sekarang, dia akan mati perlahan-lahan di rumah ini.
Dengan langkah pelan, dia menyeret kopernya keluar kamar. Dia melewati lorong yang penuh dengan foto-foto pernikahan mereka-foto-foto yang semuanya terasa seperti kebohongan besar. Dia turun melalui tangga pelayan di bagian belakang agar tidak terlihat oleh asisten rumah tangga yang mungkin masih terjaga di dapur.
Udara malam menyambutnya saat dia keluar lewat pintu samping. Dingin, tapi entah kenapa terasa sangat menyegarkan. Dia berjalan menuju gerbang samping, tempat dia sudah memesan taksi online dengan akun baru yang tidak terhubung dengan kartu kredit keluarganya. Dia menggunakan sisa uang tunai yang dia simpan di brankas pribadinya selama setahun terakhir-uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk keadaan darurat seperti ini.
Saat taksi itu bergerak menjauh dari gerbang rumah mewah tersebut, Elara menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Lampu di kamar utama masih menyala. Di sana, ada seorang pria yang sangat dia cintai, tapi juga pria yang paling banyak memberinya luka.
"Selamat tinggal, Julian," bisiknya pelan. Air mata akhirnya jatuh, satu tetes yang panas, namun kali ini rasanya berbeda. Ini bukan air mata permohonan, melainkan air mata perpisahan.
Di dalam taksi, Elara mengeluarkan kartu SIM ponselnya dan mematahkannya menjadi dua. Dia membuang potongan plastik kecil itu ke luar jendela. Dia tahu ayahnya bisa melacaknya dalam hitungan jam jika dia tetap menggunakan nomor itu. Dia harus benar-benar menghilang.
Dia meminta sopir taksi menurunkannya di sebuah terminal bus antar kota yang ramai, bukan di bandara. Dia tahu Julian dan ayahnya akan mengecek manifestasi penerbangan terlebih dahulu. Di terminal yang bising dan berbau asap knalpot itu, Elara duduk di bangku kayu yang keras, memeluk kopernya erat-hal.
Dia tidak tahu akan ke mana. Dia tidak punya rencana besar. Yang dia tahu hanyalah dia harus pergi sejauh mungkin dari nama besar keluarganya dan dari bayang-bayang pria yang tidak pernah menganggapnya ada.
Seorang ibu tua yang duduk di sebelahnya menawarkan sebotol air mineral. "Mau ke mana, Nak? Malam-malam begini sendirian, matanya merah lagi."
Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat asing di wajahnya. "Ke tempat yang jauh, Bu. Tempat di mana tidak ada yang kenal siapa saya."
Ibu itu mengangguk paham, seolah sudah sering melihat orang-orang yang melarikan diri dari hidupnya di terminal ini. "Kadang, menjadi orang asing itu lebih tenang daripada menjadi orang yang dikenal tapi tidak dipedulikan."
Kata-kata ibu itu menghujam tepat ke jantung Elara. Benar. Selama ini dia dikenal sebagai istri Julian, sebagai putri konglomerat, sebagai wanita sombong yang merebut suami orang. Dia punya segalanya, tapi dia tidak punya dirinya sendiri.
Bus menuju kota kecil di pesisir selatan datang. Elara berdiri, mengangkat kopernya dengan tenaga yang tersisa. Dia melangkah masuk ke dalam bus tua yang kursinya sudah sobek di sana-sini. Dia memilih kursi paling belakang, menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang bergetar.
Saat bus mulai bergerak meninggalkan terminal, Elara menutup matanya. Dia membayangkan Julian yang mungkin baru saja kembali ke rumah dan menemukan cincin itu di atas bantal. Apakah Julian akan merasa senang? Apakah dia akan langsung menelpon Clara untuk merayakannya? Atau... apakah dia akan merasakan sedikit saja kekosongan?
Elara segera menggelengkan kepalanya. "Berhenti berharap, Elara. Dia membencimu. Dia selalu membencimu."
Kini, perjalanan barunya dimulai. Tanpa pelayan, tanpa mobil mewah, tanpa kartu kredit tanpa batas. Hanya ada dia, kopernya, dan hati yang hancur berkeping-keping yang harus dia rekat kembali sendirian. Dia tidak tahu apakah dia akan sanggup, tapi dia tahu satu hal: dia tidak akan pernah kembali ke neraka yang dia sebut rumah itu.