Bab 2

Mobil Adam telah memasuki halaman, kampus ternama itu. Terlihat para mahasiswa pun berlalu lalang di aula kampus.

Adam menghentikan mobilnya. "Belajar yang giat." ucap Adam melirik kearah Hana.

"Iyah Daddy sayang" sahut Hana dengan suara manja. Adam tersenyum melihat lalu mengelus kepala Hana dengan gemas.

"Ya sudah, nanti kalau kamu udah selesai jamnya, kamu telfon Aryo! Biar dia yang jemput kamu"

"Loh ... memangnya Daddy udah nggak jemput Hana?" Hana dengan wajah bertanya tanya.

"Iyah, Daddy sedang ada pertemuan dengan klien, jadi mungkin Daddy akan pulang sedikit larut" Adam sambil menghela nafasnya.

la sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menjemput Hana, karena jadwalnya yang begitu padat mengharuskan ia tidak bisa menghindari hal itu.

"Nggak apa apa, Daddy. Biar om Aryo aja yang jemput Hana." ucap Hana, mencoba menghilangkan perasaan bersalah di-hati Daddy-nya.

"Tapi Daddy akan usahakan, jika bisa Daddy akan menjemput kamu."

"Nggak usah Daddy, biar om Aryo aja. Jangan terlalu dipikirkan, okay!" Hana mengelus pipi Daddy-nya lembut sambil tersenyum menatap Adam.

Adam membalas senyuman itu. Dengan satu tangannya terangkat, memindahkan tangan Hana yang ada di-pipinya beralih ke bibirnya, ia lalu mengecup tangan itu dengan sayang.

Hana tersenyum lebar melihat tangannya yang di kecup Adam. la lalu memeluk Adam sebentar dan Adam membalas pelukannya dengan memberikan sapuan di belakang Hana. Han lalu melepaskan pelukan itu.

Menatap Adam sebentar lalu berucap. "Ya udah, aku keluar ya." ucap Hana tersenyum.

la lalu meraih tas sampingnya dan akan membuka pintu mobil itu untuk keluar, tapi dengan cepat Adam menarik tangannya pelan.

Hana berbalik menatap Adam dengan wajah bingung. "Kenapa Daddy?"

"Kamu lupa sesuatu baby." Imbuh Adam sambil tersenyum nakal.

Sontak Hana langsung mengerti dengan apa yang dimaksud daddy-nya itu. la lalu berbalik sempurna menghadap Adam, lalu memberikan ciuman dibibir Adam.

Adam membalas ciuman itu dengan bahagia. Mereka saling melumat sebentar, hingga detik berikutnya mereka menghentikan lumatan itu.

Adam dan Hana saling memandang lalu terkekeh pelan. Mereka menertawakan kelakuan mereka, yang tak pernah puas jika soal ini.

Tangan Adam terangkat menghapus sisa sisa saliva di bibir Hana menggunakan jari jempolnya.

"Kamu ingin melihatkan sisa ciuman ini?" Adam bertanya sambil meledek Hana.

"Ish.. nggak:" Hana menepuk dada Adam dengan bibir yang terlihat meruncing.

"Hahaha.. ya sudah sana pergi" ucap Adam mempersilahkan Hana untuk keluar

"Ya udah, aku duluan. ucap Hana lalu mencium sebentar pipi Daddy-nya, kemudian membuka pintu mobil itu dan keluar.

Adam tertawa pelan melihat tingkah Hana yang semakin berani dan nakal padanya. Membuat ia semakin jatuh cinta dengan Hana saja.

Setelah Hana keluar, Adam langsung menyalakan kembali mobilnya, ia menurunkan sedikit kaca mobil itu agar Hana bisa melihatnya dari dalam sana.

"Bye Dady .." Hana tersenyum, memandangi kepergian Daddy-nya

Hana lalu melangkah pergi menuju ruangan nya dengan wajah begitu bahagia. Saat akan sampai di ruangan nya, terdengar suara pria memanggil dengan.suara yang terdengar samar-samar dari arah belakang nya.

Hana lalu membalikkan badannya, mencari cari asal suara itu. Dan saat berbalik ke belakang ia menatap.tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang pria dengan wajah blasteran itu tersenyum kearah nya.

Leo berjalan ke tempat Hana dengan sedikit berlari. Sementara Hana hanya memasang wajah heran. la heran mengapa pria didepannya ini harus repot-repot berteriak dan berlari memanggil nya, seolah olah ada sesuatu yang begitu penting.

"Hai" sapa Leo.

"Ya, hai" jawab Hana dengan senyum paksa.

"Aku cariin kamu loh, dari tadi" seru Leo.

"Emangnya kenapa?" Hana dengan wajah bertanya tanya.

"Ya, nggak kenapa napa sih. Cuman kangen aja Maybe." Leo menggombal.

Hana menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Kamu ada ada aja, gombalnya."

Leo tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi jawaban yang serius nya apa?" tanya Hana lagi.

"Nggak ada yang serius amat sih, cuman pengen lihatin wajah kamu aja. Sehari nggak lihat kamu tuh rasanya kayak sewindu, tahu nggak" gombalnya lagi.

"Hahaha, ish garing banget tahu nggak, candaan kamu" sahut Hana.

"Hehehe. Leo hanya tertawa.

"Ya udah, aku masuk duluan ya. Soalnya ada jam gue: ucap Hana sambil melirik jam tangannya.

"Oh, ya udah. Sampai ketemu lagi di kantin" ucap Leo dengan sedikit berteriak.

Melda hanya menangapi dengan senyum, ia lalu berjalan pergi meninggalkan Leo di tempat itu. Leo memandangi kepergian Hana sambil senyum-senyum sendiri di tempatnya berdiri.

"Interesting, lo benar benar buat gue jadi makin tertarik sama lo, Han" gumam Leo.

Tiba tiba terdengar suara bertanya tepat di belakang Leo. Leo begitu tersentak kaget dan berbalik kebelakang.

"Lo tertarik sama siapa?" tanya Alex dengan wajah menyelidik.

"Astaga! Lo kayak hantu di siang bolong, tahu nggak" Leo berdecak kesal sambil mengelus dadanya.

"l asking you, siapa yang lo maksud tadi?" pria berwajah bule seperti Leo itu, menatap Leo dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Cih! Cari tahu aja sendiri, kepo banget lo." Leo menatap kesal temannya itu, ia lalu meninggalkan Alex begitu saja.

"Hey, you don't answer me!" teriak Alex lalu mengejar temannya itu.

Sementara di kantor. Adam tampak sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil sibuk dengan berkas berkasnya di atas meja. la menandatangani berkas berkas itu dengan serius.

Terlihat jelas jiwa kepemimpinan nya begitu kentara. Hingga bunyi panggilan telepon miliknya, mengehentikan pergerakan Adam. Adam lalu mengalihkan perhatiannya kearah telepon itu.

Satu tangannya meraih benda itu, sambil terus menandatangani lagi berkas. "Halo:

"Adam, ayah dan mommy akan ke rumah kamu sebentar malam." terdengar suara tegas dibalik telpon itu.

"Untuk apa?" tanya Adam dengan nada terdengar keberatan. Adam melepaskan pena nya di atas berkas.

"Untuk apa kamu bilang! Apa kedatangan orang tua ke rumah anaknya harus punya alasan?" ayah Barack berdecak kesal di sebrang sana.

"Bukan begitu ayah, cuman aku merasa aneh saja. Kenapa tiba tiba. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Adam dengan wajah curiga.

"Nanti saja, ayah akan jelaskan maksud kedatangan ayah dan mommy. ucap pria tua itu.

"Tapi Adam tidak bisa untuk malam ini, bagaimana

jika besok malam saja." usul adam.

"Memangnya kenapa, tidak bisa malam ini?" tanya

ayahnya dengan wajah heran.

"Adam lagi ada meeting, sama klien sebentar malam. Jadi mungkin Adam tidak bisa"

"Ya sudah kalau gitu, besok malam ya, kalau besok malam kamu nggak bisa, ayah akan tetap paksa kamu." ucap ayah Barack tegas.

Adam menghela nafas. "Dasar pria pemaksa,"

Bab 3

"Halo, om Aryo!." Hana sedang berdiri didepan kampus, sambil menelfon Aryo untuk menjemputnya pulang.

"Ada apa Nona." sahut Aryo diseberang sana.

"Jemput aku, Hana tunggu didepan kampus." ucap Hana.

"Baik Non, saya segera ke sana." balas aryo.

"Yasudah." sahut Hana lalu mematikan sambungan telpon itu.

Aryo adalah supir pribadi untuk Hana, yang dibayar oleh Adam untuk mengantar Hana ke kampus.

Sambil menunggu Aryo, Hana memutuskan duduk ditempat duduk yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

Ia lalu berjalan menuju tempat duduk itu, lalu mendudukkan bokongnya di sana. Sembari memainkan hpnya.

Saat Hana serius memainkan hp miliknya, seseorang pria datang dan duduk di tempat duduk itu yang tepat berhadapan dengan Hana.

Ia tersenyum melihat Hana yang serius sekali dengan benda persegi itu sampai tidak menyadari keberadaannya.

"Serius banget, main hpnya." ucap Leo tersenyum.

Sontak Hana langsung mengalihkan kedua matanya kearah suara itu. "Leo! Lo ngapain?"

"Nggak, lagi nemenin lo aja, emang Kenapa? Nggak boleh ya?." tanya Leo.

"Nggak ... nggak kok. Duduk aja nggak apa apa." sahut Hana cepat. Leo pun menahan perasaan senangnya.

"Lo belum pulang?" tanya Leo tersenyum.

"Lagi nungguin supir aku, buat jemput." sahut Hana.

"Gimana, kalau gue yang anterin lu?" Leo memberikan penawaran.

"Nggak usah, nggak perlu repot-repot. Beberapa menit lagi mungkin, om Aryo bakalan sampai kok."

Melda menolak dengan halus. Takut jika membuat Leo jadi kecewa.

"Oh gitu ya. Yasudah, aku temenin kamu di sini." cetus Leo mengembangkan senyumnya.

"Iyah." Hana hanya membalasnya singkat. Hingga beberapa menit suasana begitu hening diantara keduanya.

Hana yang tidak ingin membicarakan hal apapun dengan Leo memutuskan hanya diam dan sesekali menatap jam tangan yang melingkar ditangannya.

Sementara Leo diam karena merasa kehabisan topik untuk berbicara dengan Hana. Yang ia lakukan hanya memandangi wajah Hana sambil senyum-senyum sendiri di tempatnya.

"Gue mau ngomong apa, ya tadi. Kenapa gue tiba tiba bego gini sih." batin Leo menggerutu dirinya sendiri.

"Hmm sorry ya, yang di kantin tadi aku nggak sempat keluar, soalnya lagi ngerjain tugas dari dosen pembimbing." Hana tiba tiba memulai obrolan mereka.

Leo tersenyum. "Nggak apa-apa, santai aja! Gue juga nggak maksa lo kok." sahut Leo.

Hana membalas senyuman itu. "Om Aryo lama banget ya?" gumam Hana pelan yang masih bisa didengar oleh leo.

"Kenapa Han?" Leo berinisiatif bertanya.

"Tadi Om Aryo ngomong udah ke sini, tapi belum nyampe nyampe juga." keluh Hana melihat kembali jam ditangannya.

"Coba telpon lagi, supir kamu. Biar tahu dia udah dimana?" Leo memberikan saran.

"Iyah, bentar gue telpon dulu." sahut Hana meraih benda persegi itu, kemudian memencet nomor Aryo.

"Halo Om, udah sampai di mana? Kok lama banget." Hana dengan wajah heran.

"Saya sudah hampir tiba nona."

"Ya udah cepetan!" Hana mematikan sambungan telponnya.

Tak lama setelah Hana mematikan Panggilan itu, terlihat mobil yang dikendarai Aryo telah tiba di depan kampus itu.

Hana yang melihat kedatangan mobil itu, langsung bernafas lega. "Akhirnya sampai juga tu om Aryo."

Leo berdiri dan mengarahkan pandangannya mengikuti arah mata Hana yang melihat mobil itu.

"Itu supir yang bakal jemput kamu?" tanya Leo di samping Hana.

"Iyah, gue duluan ya, maaf ninggalin lo sendiri." ucap Hana tidak enak hati.

"Hahaha, santai aja kali." ucap Leo tertawa.

"Ya udah gue duluan ya, Leo." pamit Hana sambil menepuk pelan bahu Leo.

Hana lalu melangkah pergi dan memasuki mobil mereka.

Leo terpaku ditempatnya. Saat Hana menyentuh bahunya. "Astaga, pake di sentuh lagi. Gue bakal ingat terus nhi momen nya." Gumam Leo begitu senang.

Leo hampir saja ingin berteriak-teriak kegirangan saat itu juga. Tetapi keadaan yang tidak mendukung membuat ia menahannya sambil mengigit bibirnya.

Sementara Om Aryo sudah menatap tidak suka sedari tadi melihat interaksi Nona-nya dan juga pria itu.

"Caper banget tuh anak mudah." gumam om Aryo pelan melihat Leo dengan tatapan tajam.

"Harus lapor ke-Tuan nhi." gumamnya lagi.

Hana yang sudah berada dalam mobil berdecak kesal saat Aryo tak kunjung masuk. Ia lalu menurunkan kaca mobil itu, lalu mendongakkan kepalanya keluar di balik jendela mobil itu.

"Om, jadi nggak sih pulangnya!." Hana dengan wajah kesal.

"Eh ... Iyah Non." Aryo yang masih melihat Leo pun terkejut dan gelagapan. Ia langsung cepat cepat berlalu masuk kedalam mobil.

Mobil itu pun berlalu meninggalkan kampus Hana.

Diluar sana langit sudah gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tampak Hana baru saja menyelesaikan tugas tugas kampusnya.

Ia menyusun rapi buku bukunya di rak buku miliknya. Setelah selesai menyusun, Hana kemudian meraih handuk kecil di lemari khusus handuk dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.

Hana melepaskan pakaiannya dan langsung menguyur tubuhnya di bawah guyuran shower. Diluar kamar mandi, terdengar suara pintu kamar milik Hana berbunyi.

Tampak Adam memasuki kamar Hana dengan tersenyum, saat mendengar bunyi air dari dalam kamar mandi itu.

Ia lalu buru buru melepaskan pakaiannya dan membuang asal di atas sofa kamar itu.

Adam lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Karena Hana yang tidak mengunci pintu itu membuat Adam dengan mudah untuk masuk.

Saat masuk kedalam Adam tersenyum menyeringai, melihat tubuh bak gitar spanyol milik Hana. Posisi Hana yang membelakangi pintu, membuat ia tidak menyadari kedatangan daddy-nya.

Adam lalu berjalan perlahan mendekati Hana, lalu memeluknya dari belakang dengan keadaan mereka sama sama tanpa sehelai pun.

Adam memeluknya dari belakang sambil satu tangannya meremas satu buah melon milik Hana.

Hal itu sontak membuat Hana tersentak kaget. "Daddy! Astaga buat kaget aja."

Hana mendongakkan kepalanya melihat Adam. Ia tersenyum dan kembali menikmati guyuran shower itu dengan tubuh-nya dipeluk oleh Adam.

Adam kemudian membalikkan badan Hana ke-depan menghadap padanya, dengan kepala Hana keatas tepat menatap wajahnya, lalu Adam mendekatkan bibirnya tepat di bibir Hana. Memberikan lumatan penuh candu dan gairah untuk mereka.

Mereka pun menikmati ciuman itu. Adam lalu mengangkat tubuh Hana dan menggendongnya seperti koala tanpa melepaskan ciuman mereka. Sementara Hana memeluk leher Adam dengan begitu erat sambil memejamkan matanya menikmati ciuman mereka.

Membiarkan pedang panjang Adam bergondal-gandil dibawah sana.

"Eungh ... Daddy. It's so good." lenguh Hana disela sela aktivitas mereka.

"Yah, it's so good." sahut Adam dengan suara terdengar berat karena gairah.

Adam Lalu menurunkan ciuman di leher Hana, Hinga turun ke satu melon itu memberikan lumatan di sana.

Membuat hana semakin dibuat bergairah menikmatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED