Bab 1

Pagi telah tiba, tampak matahari sudah menampakkan cahaya dengan begitu malu malu. Masuk perlahan menyinari disela sela jendela kamar gadis cantik itu. Ia begitu tertidur nyenyak di kasur empuknya, yang berukuran king size. Kamar yang begitu luas dihiasi desain bunga bunga berwarna merah agak gelap.

Tampak jendela kamarnya belum juga terbuka karena pemilik nya masih saja tertidur memeluk guling empuknya dari balik selimut itu.

Ia tidur menggunakan baju tidur yang begitu terlihat seksi di tubuhnya dengan motif tembus pandang berwarna hitam yang memperlihatkan tubuh-nya. Ia memang terbiasa tidur menggunakan pakaian seksi seperti itu.

Suara langkah kaki terdengar memasuki kamarnya, Adam berdiri tepat di depan pintu kamar sambil menatap Hana dengan tersenyum menggelengkan kepalanya.

Ia lalu beranjak, melangkah perlahan kearah kasur itu. mendudukkan bokongnya di sisi samping kasur milik wanita itu. Ia memandangi Hana sambil mengukirkan senyuman penuh cinta pada anak angkat sekaligus cintanya itu.

Kedua tangan Adam bergerak di-atas pipi milik Hana, mengelusnya pelan dengan gerakan lembut penuh cinta. Hana yang masih memejamkan matanya, akhirnya menggeliat pelan saat merasakan, elusan lembut di pipinya.

"Eungh!." lenguhan pelan terdengar dari mulut Hana, ia perlahan membuka kedua matanya.

Dan hal pertama yang ia lihat di depan matanya adalah pria yang begitu ia cintai. Ia melebarkan senyuman itu saat mengetahui elusan itu, berasal dari tangan Adam.

"Dady." Hana tersenyum, lalu satu tangannya meraih tangan Adam yang masih berada di pipinya. Mengecup tangan kekar itu penuh sayang. Ia kemudian memberikan satu gigitan pelan di jari Adam dengan senyuman nakal.

"Kamu ingin menggoda ku, baby?" tanya Adam dengan menatap nakal kearah Hana.

"Hahaha, bukankah Dady yang ajarin aku" ucap Hana sambil mengigit bibirnya.

"Dasar anak nakal, umaach ... umaach ." seru Adam sambil memberikan dua serangan ciuman di pipi Hana dengan gemas.

"Daddy, aku belum mandi, jangan di cium." jerit Hana pelan dengan suara terdengar manja.

"Sudah mandi ataupun belum, kamu tetap aja wangi sayang, umaach." sahut Adam yang masih sibuk menciumi pipi Hana, Hinga ciuman itu turun perlahan di ceruk leher milik Hana.

Adam mencium leher Hana dengan kuat menggunakan kedua bibirnya hingga meninggalkan bekas merah di leher putih Hana.

"Eungh ... Dady jangan tinggalin jejak! Aku mau ke kampus pagi ini, nanti teman Hana bisa lihat, Dady." Hana mencoba menyingkirkan kepala Adam dari ceruk lehernya.

Takut jika Daddy-nya akan meninggalkan banyak jejak di-sana. Tapi Adam tidak juga mengangkat kepalanya dari leher itu. Ia masih saja asik mencium leher jenjang itu dengan begitu g**r*h.

"Daddy ..." mata Hana sudah terlihat sayu.

Adam menyeringai dibalik ceruk leher itu, saat mendengar des*han Hana. Ia lalu mengangkat kepalanya sebentar, lalu menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuh Hana. Membuangnya asal hingga tergeletak di atas lantai kamar.

Saat selimut itu sudah berhasil disingkirkan, Syaf menatap lapar melihat baju transparan yang dipakai Hana. Terlihat sangat menggoda imannya. Membuat ia menatap lapar tubuh itu.

"Kamu benar benar, menggoda sayang." ujar Adam dengan tatapan mendamba, ia lalu naik keatas kasur.

"Dady mau apa?" Hana sudah waspada dengan gerakan Daddy-nya. Ia sudah tebak jika Daddy nya sudah menaiki kasur seperti ini, akan berlanjut dengan adegan yang sudah sudah.

"Kita akan melakukan pemanasan dulu, sebelum kamu akan ke kampus." sahut Adam yang sudah menurunkan satu tali baju tidur Hana dengan tersenyum nakal.

"Jangan sekarang Dady, nanti aku terlambat ke kampus." ucap Hana mencoba menolak.

Ia memang akan ke kampus pukul delapan nanti, karena ia mempunyai jadwal pada jam itu.

"Kamu tidak akan terlambat baby," ucap Adam lalu memberikan remasan pelan di satu buah melon itu.

"Ah ... Dady." Hana m*nd*sah lagi sambil mengigit pelan bibirnya.

"Sangat nikmat bukan?" Adam tersenyum puas melihat Hana yang menikmati hal itu.

Adam kemudian menurunkan kepalanya didepan satu melon itu, lalu melahapnya dengan rakus.

"Eungh!." suara laknat Hana terdengar lagi, ia menekan kepala Adam lebih dalam, dibuah melon itu.

"Ah ... aku tidak tahan lagi dady." Hana menahan kepala Adam.

Adam lalu mendongakkan kepalanya keatas melihat wajah Hana yang sudah berkabut gairah.

Ia lalu bangkit, memindahkan kepalanya keatas tepat di wajah Hana. Ia memberikan satu kecupan di kening Hana dengan sayang.

"Baiklah, ayo kita mulai baby." ucap Adam.

Hana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum nakal, Adam lalu berbaring di samping Hana dengan satu lengannya ia letakkan dibelakang kepala Hana. dan satu tangan lainnya ia gunakan untuk pemanasan nanti.

Mereka lalu melakukan aktivitas itu dengan penuh gairah dan cinta.

"Hmm ... ini begitu nikmat Daddy" racau Hana sesekali memejamkan matanya.

Mereka saling menikmati satu sama lain tanpa adanya penyatuan langsung. Yap Adam dan Hana memang tidak ingin melakukan penyatuan secara langsung. Mereka ingin melakukannya, jika hubungan itu memang sudah ada titik terang ke arah pernikahan.

Semoga saja.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Dan sudah pasti Hana akan terlambat beberapa menit ke kampus.

Tampak Hana menekuk wajahnya dengan kesal, saat memasuki ruang makan. Sementara Adam hanya senyum memandangi kedatangan Hana. Hana meruncingkan bibirnya ke-depan.

"Udah dong mukanya! Dari tadi loh kamu kayak gini." ucap Adam menatap Hana yang baru saja duduk di tempat duduk yang bersebelahan dengan Adam.

Hari ini, ia memang mengantarkan Hana untuk ke kampus setelah itu, barulah ia ke kantornya.

"Ish ... ini juga gara gara Dady, aku jadi nggak tepat waktu kan." ucap Hana sambil meraih satu gelas susu di depannya, kemudian meneguknya hingga tandas.

"Kamu juga keenakan sayang, kalau kamu lupa." Adam meledeknya.

Sontak pipi hana menimbulkan semburat merah di-sana. "Ih Daddy ..." ucapnya dengan wajah terlihat malu.

Sementara Adam hanya terkekeh melihat kelakuan anaknya. Lebih tepatnya kekasih hatinya.

"Sini, biar Daddy suap-in." Adam meraih sendok di atas piring, lalu menyuapkan Hana nasi goreng itu ke-mulutnya.

Hana tersenyum kecil menerima suapan itu, perlahan rasa kesalnya tadi hilang tergantikan dengan senyuman senang.

Ia lalu mengambil alih sendok yang dipegang Adam, lalu menyendok kan lagi ke mulut Adam. Mereka saling menikmati makanan itu satu piring berdua.

Pembantu yang sedari tadi berada tidak jauh dari mereka, menatap dengan berbagai macam reaksi. Ada yang menatap iri keduanya dan ada juga yang menatap curiga hubungan majikannya dengan anak angkatnya itu.

"Kamu curiga nggak sih? Sama hubungan mereka?" Bisik salah satu pembantu itu.

"Diam kamu mau didengar Tuan Adam?. Seketika pembantu itu terdiam.

Bab 2

Mobil Adam telah memasuki halaman, kampus ternama itu. Terlihat para mahasiswa pun berlalu lalang di aula kampus.

Adam menghentikan mobilnya. "Belajar yang giat." ucap Adam melirik kearah Hana.

"Iyah Daddy sayang" sahut Hana dengan suara manja. Adam tersenyum melihat lalu mengelus kepala Hana dengan gemas.

"Ya sudah, nanti kalau kamu udah selesai jamnya, kamu telfon Aryo! Biar dia yang jemput kamu"

"Loh ... memangnya Daddy udah nggak jemput Hana?" Hana dengan wajah bertanya tanya.

"Iyah, Daddy sedang ada pertemuan dengan klien, jadi mungkin Daddy akan pulang sedikit larut" Adam sambil menghela nafasnya.

la sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menjemput Hana, karena jadwalnya yang begitu padat mengharuskan ia tidak bisa menghindari hal itu.

"Nggak apa apa, Daddy. Biar om Aryo aja yang jemput Hana." ucap Hana, mencoba menghilangkan perasaan bersalah di-hati Daddy-nya.

"Tapi Daddy akan usahakan, jika bisa Daddy akan menjemput kamu."

"Nggak usah Daddy, biar om Aryo aja. Jangan terlalu dipikirkan, okay!" Hana mengelus pipi Daddy-nya lembut sambil tersenyum menatap Adam.

Adam membalas senyuman itu. Dengan satu tangannya terangkat, memindahkan tangan Hana yang ada di-pipinya beralih ke bibirnya, ia lalu mengecup tangan itu dengan sayang.

Hana tersenyum lebar melihat tangannya yang di kecup Adam. la lalu memeluk Adam sebentar dan Adam membalas pelukannya dengan memberikan sapuan di belakang Hana. Han lalu melepaskan pelukan itu.

Menatap Adam sebentar lalu berucap. "Ya udah, aku keluar ya." ucap Hana tersenyum.

la lalu meraih tas sampingnya dan akan membuka pintu mobil itu untuk keluar, tapi dengan cepat Adam menarik tangannya pelan.

Hana berbalik menatap Adam dengan wajah bingung. "Kenapa Daddy?"

"Kamu lupa sesuatu baby." Imbuh Adam sambil tersenyum nakal.

Sontak Hana langsung mengerti dengan apa yang dimaksud daddy-nya itu. la lalu berbalik sempurna menghadap Adam, lalu memberikan ciuman dibibir Adam.

Adam membalas ciuman itu dengan bahagia. Mereka saling melumat sebentar, hingga detik berikutnya mereka menghentikan lumatan itu.

Adam dan Hana saling memandang lalu terkekeh pelan. Mereka menertawakan kelakuan mereka, yang tak pernah puas jika soal ini.

Tangan Adam terangkat menghapus sisa sisa saliva di bibir Hana menggunakan jari jempolnya.

"Kamu ingin melihatkan sisa ciuman ini?" Adam bertanya sambil meledek Hana.

"Ish.. nggak:" Hana menepuk dada Adam dengan bibir yang terlihat meruncing.

"Hahaha.. ya sudah sana pergi" ucap Adam mempersilahkan Hana untuk keluar

"Ya udah, aku duluan. ucap Hana lalu mencium sebentar pipi Daddy-nya, kemudian membuka pintu mobil itu dan keluar.

Adam tertawa pelan melihat tingkah Hana yang semakin berani dan nakal padanya. Membuat ia semakin jatuh cinta dengan Hana saja.

Setelah Hana keluar, Adam langsung menyalakan kembali mobilnya, ia menurunkan sedikit kaca mobil itu agar Hana bisa melihatnya dari dalam sana.

"Bye Dady .." Hana tersenyum, memandangi kepergian Daddy-nya

Hana lalu melangkah pergi menuju ruangan nya dengan wajah begitu bahagia. Saat akan sampai di ruangan nya, terdengar suara pria memanggil dengan.suara yang terdengar samar-samar dari arah belakang nya.

Hana lalu membalikkan badannya, mencari cari asal suara itu. Dan saat berbalik ke belakang ia menatap.tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang pria dengan wajah blasteran itu tersenyum kearah nya.

Leo berjalan ke tempat Hana dengan sedikit berlari. Sementara Hana hanya memasang wajah heran. la heran mengapa pria didepannya ini harus repot-repot berteriak dan berlari memanggil nya, seolah olah ada sesuatu yang begitu penting.

"Hai" sapa Leo.

"Ya, hai" jawab Hana dengan senyum paksa.

"Aku cariin kamu loh, dari tadi" seru Leo.

"Emangnya kenapa?" Hana dengan wajah bertanya tanya.

"Ya, nggak kenapa napa sih. Cuman kangen aja Maybe." Leo menggombal.

Hana menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Kamu ada ada aja, gombalnya."

Leo tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi jawaban yang serius nya apa?" tanya Hana lagi.

"Nggak ada yang serius amat sih, cuman pengen lihatin wajah kamu aja. Sehari nggak lihat kamu tuh rasanya kayak sewindu, tahu nggak" gombalnya lagi.

"Hahaha, ish garing banget tahu nggak, candaan kamu" sahut Hana.

"Hehehe. Leo hanya tertawa.

"Ya udah, aku masuk duluan ya. Soalnya ada jam gue: ucap Hana sambil melirik jam tangannya.

"Oh, ya udah. Sampai ketemu lagi di kantin" ucap Leo dengan sedikit berteriak.

Melda hanya menangapi dengan senyum, ia lalu berjalan pergi meninggalkan Leo di tempat itu. Leo memandangi kepergian Hana sambil senyum-senyum sendiri di tempatnya berdiri.

"Interesting, lo benar benar buat gue jadi makin tertarik sama lo, Han" gumam Leo.

Tiba tiba terdengar suara bertanya tepat di belakang Leo. Leo begitu tersentak kaget dan berbalik kebelakang.

"Lo tertarik sama siapa?" tanya Alex dengan wajah menyelidik.

"Astaga! Lo kayak hantu di siang bolong, tahu nggak" Leo berdecak kesal sambil mengelus dadanya.

"l asking you, siapa yang lo maksud tadi?" pria berwajah bule seperti Leo itu, menatap Leo dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Cih! Cari tahu aja sendiri, kepo banget lo." Leo menatap kesal temannya itu, ia lalu meninggalkan Alex begitu saja.

"Hey, you don't answer me!" teriak Alex lalu mengejar temannya itu.

Sementara di kantor. Adam tampak sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil sibuk dengan berkas berkasnya di atas meja. la menandatangani berkas berkas itu dengan serius.

Terlihat jelas jiwa kepemimpinan nya begitu kentara. Hingga bunyi panggilan telepon miliknya, mengehentikan pergerakan Adam. Adam lalu mengalihkan perhatiannya kearah telepon itu.

Satu tangannya meraih benda itu, sambil terus menandatangani lagi berkas. "Halo:

"Adam, ayah dan mommy akan ke rumah kamu sebentar malam." terdengar suara tegas dibalik telpon itu.

"Untuk apa?" tanya Adam dengan nada terdengar keberatan. Adam melepaskan pena nya di atas berkas.

"Untuk apa kamu bilang! Apa kedatangan orang tua ke rumah anaknya harus punya alasan?" ayah Barack berdecak kesal di sebrang sana.

"Bukan begitu ayah, cuman aku merasa aneh saja. Kenapa tiba tiba. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Adam dengan wajah curiga.

"Nanti saja, ayah akan jelaskan maksud kedatangan ayah dan mommy. ucap pria tua itu.

"Tapi Adam tidak bisa untuk malam ini, bagaimana

jika besok malam saja." usul adam.

"Memangnya kenapa, tidak bisa malam ini?" tanya

ayahnya dengan wajah heran.

"Adam lagi ada meeting, sama klien sebentar malam. Jadi mungkin Adam tidak bisa"

"Ya sudah kalau gitu, besok malam ya, kalau besok malam kamu nggak bisa, ayah akan tetap paksa kamu." ucap ayah Barack tegas.

Adam menghela nafas. "Dasar pria pemaksa,"

Bab 3

"Halo, om Aryo!." Hana sedang berdiri didepan kampus, sambil menelfon Aryo untuk menjemputnya pulang.

"Ada apa Nona." sahut Aryo diseberang sana.

"Jemput aku, Hana tunggu didepan kampus." ucap Hana.

"Baik Non, saya segera ke sana." balas aryo.

"Yasudah." sahut Hana lalu mematikan sambungan telpon itu.

Aryo adalah supir pribadi untuk Hana, yang dibayar oleh Adam untuk mengantar Hana ke kampus.

Sambil menunggu Aryo, Hana memutuskan duduk ditempat duduk yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

Ia lalu berjalan menuju tempat duduk itu, lalu mendudukkan bokongnya di sana. Sembari memainkan hpnya.

Saat Hana serius memainkan hp miliknya, seseorang pria datang dan duduk di tempat duduk itu yang tepat berhadapan dengan Hana.

Ia tersenyum melihat Hana yang serius sekali dengan benda persegi itu sampai tidak menyadari keberadaannya.

"Serius banget, main hpnya." ucap Leo tersenyum.

Sontak Hana langsung mengalihkan kedua matanya kearah suara itu. "Leo! Lo ngapain?"

"Nggak, lagi nemenin lo aja, emang Kenapa? Nggak boleh ya?." tanya Leo.

"Nggak ... nggak kok. Duduk aja nggak apa apa." sahut Hana cepat. Leo pun menahan perasaan senangnya.

"Lo belum pulang?" tanya Leo tersenyum.

"Lagi nungguin supir aku, buat jemput." sahut Hana.

"Gimana, kalau gue yang anterin lu?" Leo memberikan penawaran.

"Nggak usah, nggak perlu repot-repot. Beberapa menit lagi mungkin, om Aryo bakalan sampai kok."

Melda menolak dengan halus. Takut jika membuat Leo jadi kecewa.

"Oh gitu ya. Yasudah, aku temenin kamu di sini." cetus Leo mengembangkan senyumnya.

"Iyah." Hana hanya membalasnya singkat. Hingga beberapa menit suasana begitu hening diantara keduanya.

Hana yang tidak ingin membicarakan hal apapun dengan Leo memutuskan hanya diam dan sesekali menatap jam tangan yang melingkar ditangannya.

Sementara Leo diam karena merasa kehabisan topik untuk berbicara dengan Hana. Yang ia lakukan hanya memandangi wajah Hana sambil senyum-senyum sendiri di tempatnya.

"Gue mau ngomong apa, ya tadi. Kenapa gue tiba tiba bego gini sih." batin Leo menggerutu dirinya sendiri.

"Hmm sorry ya, yang di kantin tadi aku nggak sempat keluar, soalnya lagi ngerjain tugas dari dosen pembimbing." Hana tiba tiba memulai obrolan mereka.

Leo tersenyum. "Nggak apa-apa, santai aja! Gue juga nggak maksa lo kok." sahut Leo.

Hana membalas senyuman itu. "Om Aryo lama banget ya?" gumam Hana pelan yang masih bisa didengar oleh leo.

"Kenapa Han?" Leo berinisiatif bertanya.

"Tadi Om Aryo ngomong udah ke sini, tapi belum nyampe nyampe juga." keluh Hana melihat kembali jam ditangannya.

"Coba telpon lagi, supir kamu. Biar tahu dia udah dimana?" Leo memberikan saran.

"Iyah, bentar gue telpon dulu." sahut Hana meraih benda persegi itu, kemudian memencet nomor Aryo.

"Halo Om, udah sampai di mana? Kok lama banget." Hana dengan wajah heran.

"Saya sudah hampir tiba nona."

"Ya udah cepetan!" Hana mematikan sambungan telponnya.

Tak lama setelah Hana mematikan Panggilan itu, terlihat mobil yang dikendarai Aryo telah tiba di depan kampus itu.

Hana yang melihat kedatangan mobil itu, langsung bernafas lega. "Akhirnya sampai juga tu om Aryo."

Leo berdiri dan mengarahkan pandangannya mengikuti arah mata Hana yang melihat mobil itu.

"Itu supir yang bakal jemput kamu?" tanya Leo di samping Hana.

"Iyah, gue duluan ya, maaf ninggalin lo sendiri." ucap Hana tidak enak hati.

"Hahaha, santai aja kali." ucap Leo tertawa.

"Ya udah gue duluan ya, Leo." pamit Hana sambil menepuk pelan bahu Leo.

Hana lalu melangkah pergi dan memasuki mobil mereka.

Leo terpaku ditempatnya. Saat Hana menyentuh bahunya. "Astaga, pake di sentuh lagi. Gue bakal ingat terus nhi momen nya." Gumam Leo begitu senang.

Leo hampir saja ingin berteriak-teriak kegirangan saat itu juga. Tetapi keadaan yang tidak mendukung membuat ia menahannya sambil mengigit bibirnya.

Sementara Om Aryo sudah menatap tidak suka sedari tadi melihat interaksi Nona-nya dan juga pria itu.

"Caper banget tuh anak mudah." gumam om Aryo pelan melihat Leo dengan tatapan tajam.

"Harus lapor ke-Tuan nhi." gumamnya lagi.

Hana yang sudah berada dalam mobil berdecak kesal saat Aryo tak kunjung masuk. Ia lalu menurunkan kaca mobil itu, lalu mendongakkan kepalanya keluar di balik jendela mobil itu.

"Om, jadi nggak sih pulangnya!." Hana dengan wajah kesal.

"Eh ... Iyah Non." Aryo yang masih melihat Leo pun terkejut dan gelagapan. Ia langsung cepat cepat berlalu masuk kedalam mobil.

Mobil itu pun berlalu meninggalkan kampus Hana.

Diluar sana langit sudah gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tampak Hana baru saja menyelesaikan tugas tugas kampusnya.

Ia menyusun rapi buku bukunya di rak buku miliknya. Setelah selesai menyusun, Hana kemudian meraih handuk kecil di lemari khusus handuk dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.

Hana melepaskan pakaiannya dan langsung menguyur tubuhnya di bawah guyuran shower. Diluar kamar mandi, terdengar suara pintu kamar milik Hana berbunyi.

Tampak Adam memasuki kamar Hana dengan tersenyum, saat mendengar bunyi air dari dalam kamar mandi itu.

Ia lalu buru buru melepaskan pakaiannya dan membuang asal di atas sofa kamar itu.

Adam lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Karena Hana yang tidak mengunci pintu itu membuat Adam dengan mudah untuk masuk.

Saat masuk kedalam Adam tersenyum menyeringai, melihat tubuh bak gitar spanyol milik Hana. Posisi Hana yang membelakangi pintu, membuat ia tidak menyadari kedatangan daddy-nya.

Adam lalu berjalan perlahan mendekati Hana, lalu memeluknya dari belakang dengan keadaan mereka sama sama tanpa sehelai pun.

Adam memeluknya dari belakang sambil satu tangannya meremas satu buah melon milik Hana.

Hal itu sontak membuat Hana tersentak kaget. "Daddy! Astaga buat kaget aja."

Hana mendongakkan kepalanya melihat Adam. Ia tersenyum dan kembali menikmati guyuran shower itu dengan tubuh-nya dipeluk oleh Adam.

Adam kemudian membalikkan badan Hana ke-depan menghadap padanya, dengan kepala Hana keatas tepat menatap wajahnya, lalu Adam mendekatkan bibirnya tepat di bibir Hana. Memberikan lumatan penuh candu dan gairah untuk mereka.

Mereka pun menikmati ciuman itu. Adam lalu mengangkat tubuh Hana dan menggendongnya seperti koala tanpa melepaskan ciuman mereka. Sementara Hana memeluk leher Adam dengan begitu erat sambil memejamkan matanya menikmati ciuman mereka.

Membiarkan pedang panjang Adam bergondal-gandil dibawah sana.

"Eungh ... Daddy. It's so good." lenguh Hana disela sela aktivitas mereka.

"Yah, it's so good." sahut Adam dengan suara terdengar berat karena gairah.

Adam Lalu menurunkan ciuman di leher Hana, Hinga turun ke satu melon itu memberikan lumatan di sana.

Membuat hana semakin dibuat bergairah menikmatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED