Bab 8

Memukul Tuan Muda Axel

Tina tampak berseri-seri, dia juga ingin melihat orang penting tersebut.

"Luna, ayo kita tunggu di depan pintu lift," ajak Tina sambil menarik baju Luna.

"Nggak usah, aku akan pulang bersama Ardika ...."

Setelah minum satu gelas anggur, wajah Luna yang sedikit mabuk tampak kemerahan.

Tina pun menasihatinya dengan kesal, "Aduh, kenapa kamu terus memikirkan Ardika si idiot itu? Kali ini adalah kesempatan yang sangat langka. Kalau kita bisa meninggalkan kesan baik untuk orang penting itu, utang keluarga kalian nggak perlu dikhawatirkan lagi, 'kan?"

"Hmm ... baiklah."

Tak lama kemudian, Axel mengangkat panggilan telepon.

Semua orang langsung menahan napas.

Apakah orang penting tersebut akan turun?

Setelah beberapa saat, Axel pun meletakkan ponselnya dengan ekspresi tak berdaya. Dia lalu berkata, "Ayahku baru saja meneleponku, dia bilang perjamuannya sudah selesai dan orang penting tersebut sudah pergi lebih awal."

"Aduh, kita kurang beruntung, nggak bisa bertemu orang penting itu ...."

Semua orang merasa menyesal.

"Sayang, kamu sudah selesai makan?"

Saat ini, Ardika tiba-tiba berjalan masuk.

"Ardika, kamu masih berani datang? Pergi sana!"

Melihat kedatangan Ardika, Tina yang masih tenggelam dalam penyesalan pun marah dan menamparnya.

"Plak!"

Ardika langsung menggenggam pergelangan tangannya dan berkata, "Tina, aku tahu kamu galak. Untungnya kamu adalah sahabatnya Luna, jangan ulangi lagi."

"Dasar pecundang! Beraninya kamu berbicara seperti itu denganku?" bentak Tina dengan kesal.

Axel langsung memukul meja dan berdiri. Dia lalu berkata, "Dasar bocah! Lepaskan tanganmu. Kamu seharusnya merasa terhormat karena dipukul oleh Nona Tina."

"Siapa kamu?" tanya Ardika dengan nada dingin.

"Dia adalah anaknya Direktur Irwan. Cepat turunkan tanganmu!"

"Anaknya Irwan?" Setelah meliriknya, Ardika lalu berkata dengan sinis, "Ayahmu bahkan nggak berani berbicara seperti itu denganku."

"Cari mati!"

Setelah tertegun sejenak, Axel langsung marah. Dia berjalan ke arah Ardika dengan cepat, kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Ardika.

"Plak!"

Ardika melepaskan Tina, kemudian menampar Axel dengan keras.

"Ah ...."

Axel langsung terpental, darah pun muncrat dari hidung dan mulutnya.

Wajahnya bengkak!

"Shh!"

Semua orang yang berada di Hall Rembulan terkejut.

Beraninya Ardika memukul anaknya Irwan?

Tony langsung berdiri dan berteriak dengan kesal, "Ardika, kamu cari mati! Kamu nggak hanya mencelakakan dirimu, tapi juga mencelakakan Luna dan keluarganya."

Wajah Luna dan keluarganya langsung pucat.

Di dalam Hall Rembulan, hanya Ardika yang tampak santai.

"Sayang, nggak usah takut. Anak orang kaya yang sombong memang pantas dipukul. Nggak apa-apa."

Semua orang mengira Ardika sedang membual.

"Tuan Muda Axel, kamu nggak apa-apa?"

Tony dan Tina segera membantu Axel untuk berdiri.

"Minggir!"

Axel mendorong mereka dengan kesal. Kali ini, dia benar-benar marah.

Sejak kecil sampai dewasa, semua orang selalu bersikap hormat kepadanya. Bahkan ayahnya juga tidak pernah menamparnya.

"Nak, kamu berani juga! Hari ini, kamu nggak akan bisa keluar dari tempat ini dengan baik."

Sambil memelototi Ardika, Axel mengeluarkan ponsel untuk menelepon Irwan.

"Ayah, seseorang memukulku di Restoran Gatotkaca. Tolong bawa orang kemari, aku ingin membunuh pecundang ini."

"Apa! Aku akan segera membawa orang ke sana."

Semua orang bisa mendengar amarah dari suara Irwan di ujung telepon.

"Ardika, kamu benar-benar bajingan! Belatung sialan!"

Desi berteriak dengan penuh amarah. Orang itu adalah direktur pemerintahan, orang yang tidak bisa disinggung oleh Keluarga Basagita.

"Tuan Muda Axel, Ardika nggak sengaja, mohon maafkan dia."

Wajah Luna sangat pucat. Tanpa sadar, dia ingin berlutut, tetapi dihentikan oleh Ardika. Ardika lalu berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Orang yang harusnya khawatir adalah dia."

Gila! Sudah gila!

Sampai saat ini, Ardika masih berani berkata sombong.

Desi tiba-tiba merasa pusing dan jatuh lemas di kursi.

"Siapa yang berani memukul anakku?"

Tak lama kemudian, Irwan sudah muncul di Hall Rembulan dengan wajah kesal. Di belakangnya juga ikut sekelompok pria kekar.

"Ayah, bocah itu! Dia adalah menantu idiot dari keluarga kelas dua."

Axel menunjuk Ardika sambil berkata, "Aku hanya memarahinya, tapi dia bahkan bilang kalau Ayah juga nggak pantas berbicara dengannya."

Semua orang menatap Ardika dengan tatapan putus asa, karena ekspresi Irwan terlihat sangat marah.

"Bagus, bagus, bagus! Sudah lama tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepadaku."

Sambil memaksakan senyuman, Irwan pun mengalihkan pandangannya ke arah Ardika.

Kemudian, dia pun tercengang di tempat.

"Tuan, Tuan, Tuan ...."

Bulu kuduk Irwan langsung berdiri, dia juga tidak bisa berbicara dengan benar.

"Plak!"

Tiba-tiba, Irwan menoleh ke belakang dan menampar anaknya hingga terjatuh ke lantai.

"Dasar anak sialan! Siapa yang ingin kamu bunuh? Kamu sudah hebat, ya?"

"Beraninya kamu membuat masalah di Restoran Gatotkaca? Kamu ingin mati, ya? Sini, biar aku hajar sampai mati saja."

Irwan langsung menghajar Axel dengan keras, dia tidak memberi pengampunan meskipun Axel adalah anaknya. Axel hanya bisa menjerit kesakitan.

Semua orang langsung tertegun.

Apa yang terjadi? Bukankah Ardika yang seharusnya dipukul?

"Berdiri! Minta maaf!"

Irwan menarik rambut Axel dan memaksanya berdiri.

Dia menekan kepala Axel dan memaksanya minta maaf kepada Ardika.

Ardika juga malas berdebat, dia hanya melambaikan tangannya dengan santai. Irwan akhirnya bisa merasa lebih tenang, dia segera menarik anaknya untuk pergi dari sana.

Setelah beberapa saat, Hall Rembulan masih saja hening.

Semua orang menatap Ardika dengan bengong.

Setelah itu, Tony pun tersenyum dan berkata, "Orang yang menjadi direktur memang berbeda. Tata kramanya sangat ketat."

Oh ya?

Semua orang masih bingung, mereka merasa masalah ini sangat aneh.

Luna dan keluarganya juga merasa terselamatkan.

"Ardika, kali ini kamu beruntung. Tapi, jangan mengira dirimu hebat."

Tony menatap Ardika dengan tatapan merendahkan, "Kalau hari ini aku nggak membantu Luna menagih utangnya, apakah kamu tahu bagaimana kehidupan Luna dan keluarganya nanti?"

"Kamu bilang kamu yang menagih utangnya?"

Tatapan Ardika menjadi dingin.

"Kalau nggak, memangnya pecundang sepertimu bisa?"

Desi menarik Tony dan berkata, "Tony, jangan pedulikan dia. Ayo kita bayar dan pergi dari sini. Melihatnya saja membuatku kehilangan nafsu makan."

Tony menekan bel untuk memanggil pramusaji.

"Tuan Muda Tony, Tuan John sudah bayar."

Setelah tertegun sejenak, Tony pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ardika, apakah kamu masih berani meragukan bahwa aku yang membantu Luna menagih utang?"

"Kak Herkules adalah anak buahnya Tuan John. Tuan John pasti tahu hubunganku dengan Kak Herkules baik, jadi dia membayar tagihannya."

Tony benar-benar sangat bangga.

Desi juga tersenyum lebar dan berkata, "Tuan John bahkan membayar tagihannya, Tony benar-benar hebat. Kalau Luna bisa menikah denganmu, dia nggak akan dirundung orang lain lagi."

Luna langsung mengenyit.

Melihat sahabat baiknya diam saja, Tina pun berkata, "Tuan Muda Tony, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna, bukankah kamu harus menyiapkan sesuatu."

"Tentu saja harus ...."

Ketika Tony baru berbicara, Ardika langsung memotongnya, "Tina, istriku ulang tahun, aku pasti akan merayakannya dengan meriah, orang lain nggak usah ikut campur."

"Tapi, karena kamu adalah sahabatnya Luna, kamu boleh datang. Tony, kamu juga boleh datang melihatnya."

Bab 9

Keluarga Basagita yang Tidak Tahu Malu

Tina juga mendengkus dingin.

Tony yang menyipitkan matanya tiba-tiba mengangguk, lalu berkata dengan nada bercanda, "Ardika, boleh juga. Kamu yang rayakan saja, biar aku bisa melihatnya."

Tony malas berdebat dengan seorang pecundang.

Lagi pula dengan keuangannya, selama Tony mau, dia bisa membuat Luna hidup mewah setiap hari.

Kali ini, dia akan membiarkan Ardika mengacaukannya.

Tanpa kekurangan yang ditunjukkan oleh si pecundang, kehebatan Tony tentu saja tidak terlihat, 'kan?

Desi langsung mengabaikan Ardika, dia lalu bertanya, "Tony, apakah kamu bisa mengundang Kak Herkules ke pesta ulang tahun Luna? Kami harus berterima kasih kepadanya karena sudah membayar utang."

Senyuman di wajah Tony langsung menghilang.

Hari ini, dia sempat menelepon Herkules. Setelah memarahinya, Herkules langsung menutup telepon dengan kesal. Siapa sangka ternyata Herkules malah membayar utangnya, hal itu sudah cukup mengejutkan Tony.

Mengundang Herkules ke ulang tahun Luna?

Tony tidak percaya dia punya kehormatan sebesar itu.

Namun, ketika melihat Ardika yang tersenyum tipis, dia pun memberanikan diri dan berkata, "Bibi, tenang saja. Aku akan menelepon Kak Herkules, dia pasti akan menyetujuinya."

Selesai bicara, dia pun mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomornya dengan perasaan tegang.

"Halo, Kak Herkules. Tiga hari lagi, Nona Luna ulang tahun, apakah Anda bisa datang?"

"Hahaha .... Nona Luna mengundangku ke pesta ulang tahunnya? Aku pasti akan datang."

"Terima kasih Kak Herkules!"

Tony merasa sangat senang.

Ketika berjalan keluar dari Restoran Gatotkaca, Desi sudah memeluk lengan Tony. Dia sudah mengakui Tony sebagai menantunya.

Ardika yang berada di belakang mendapat telepon dari Herkules.

"Tuan Ardika, Tony menelepon saya untuk mengundang saya ke pesta ulang tahun Nona Luna, saya sudah menyetujuinya. Tapi, saya merasa ada yang aneh, kenapa dia yang undang?"

"Jadi, saya menelepon untuk bertanya tentang maksud Tuan Ardika ...."

Ardika tersenyum dan menjawab, "Kamu datang saja. Dia bilang kalau kamu membayar utang karena menghormatinya."

"Apa! Memangnya siapa Tony!" bentak Herkules dengan kesal. "Tuan Ardika, Anda tenang saja. Di pesta ulang tahun Nona Luna nanti, saya akan memberinya pelajaran."

"Luna, kamu nggak suka dengan Tuan Muda Tony, ya? Aku kasih tahu, dia sudah berkorban banyak untukmu ...."

Tina yang duduk di mobil Land Rover sedang memasang sabuk pengaman, tapi tiba-tiba pintu mobil terbuka.

Ketika dia menoleh ke arah pintu, kedua matanya memancarkan amarah yang besar. Dia pun berkata, "Ardika, siapa yang suruh kamu masuk ke mobilku? Turun sana. Kalau nggak sanggup beli mobil, jalan kaki saja."

"Tina, antar dia saja," ucap Luna yang duduk di samping mobil pengemudi.

"Pfft! Mengesalkan! Aku harus cuci mobil lagi nanti ...."

Tina menjalankan mobilnya dengan kesal.

Demi menghalangi mereka untuk bicara, Tina sengaja menyalakan radio dan mengeraskan suaranya.

"Para pendengar yang setia, saatnya waktu berbagi."

"Belakangan ini, kalian pasti sudah mendengar bahwa ratu perhiasaan Kota Banyuli, Bella Dewanto, mengeluarkan 60 miliar untuk membeli kalung bernama Hati Peri, 'kan?"

"Besok, Kalung Hati Peri akan dipamerkan di toko perhiasaan milik Grup Permata Buana dengan kuota yang terbatas."

Kedua mata dua orang wanita yang duduk di dalam mobil ikut berbinar.

Mereka sudah melihat foto Kalung Hati Peri di berita.

Tidak ada wanita yang bisa menahan godaan dari Hati Peri.

"Ardika, kamu bilang ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Luna, kamu sudah menyiapkan hadiah ulang tahun?"

Tina berkata dengan ekspresi menyindir, "Jangan sampai kamu memberikan hadiah satu kantong makanan ringan. Memalukan saja!"

"Menurutku, hadiah Hati Peri nggak buruk, betul Luna?"

Luna tertegun sejenak, dia lalu berkata, "Tina, apa yang kamu katakan? Tony saja nggak sanggup membelinya, Ardika mana punya uang ...."

Ardika pun berpikir dalam hati, 'Hati Peri, ya? Sepertinya cocok dijadikan hadiah ulang tahun.'

Dia mengeluarkan tiga kartu nama dari sakunya, kemudian melihat kartu nama Bella, lalu mengirimkan pesan singkat kepadanya.

"Aku akan membeli Hati Peri ...."

...

Malam hari, Vila Keluarga Basagita.

Hari ini, Wulan yang ditampar tidak bisa makan dan tidur. Jadi, dia pun datang ke vila untuk mengadu.

Dengan wajah yang bengkak, dia pun menjelaskan semua yang terjadi di kompleks penjualan mobil dengan tambahan bumbu-bumbu lain. Setelah mendengarnya, Tuan Besar Basagita pun mengenyit.

Ketika melihat ekspresi kakeknya, Wulan pun berkata dengan ekspresi yang lebih sedih, "Kakek, Ardika si idiot itu sengaja menyebut nama Tuan John dan membuat Kak Herkules marah. Karena itu, aku malah ditampar oleh Kak Herkules. Bukan itu saja, Kak Herkules juga bilang nggak akan melepaskan Keluarga Basagita ...."

Setelah mendengarnya, Wisnu yang pucat ikut berkata, "Mereka memang pantas dihajar, tapi kenapa harus menyeret Keluarga Basagita? Tuan John yang berada di belakang Kak Herkules adalah bos preman yang sebenarnya. Kalau sampai keluarga kita menjadi target, Keluarga Basagita pasti akan hancur ...."

Banyak anggota Keluarga Basagita yang ketakutan ketika mendengar nama Tuan John.

Tuan Besar Basagita juga mulai ketakutan, apakah Keluarga Basagita akan terkena bencana?

Saat ini, dua sosok berjalan masuk ke dalam vila.

Melihat Luna dan Ardika berjalan masuk, banyak orang yang mulai memarahi mereka.

"Dasar pecundang! Beraninya kalian kembali setelah membuat masalah besar?"

"Dasar pecundang! Kalau bukan kalian, Kak Herkules dan Tuan John tidak akan marah dengan Keluarga Basagita."

"Eh? Kenapa kalian baik-baik saja?"

Wulan saja sudah ditampar, kenapa mereka baik-baik saja?

Banyak yang merasa bingung. Tidak seharusnya seperti itu, bukankah mereka seharusnya dihajar sampai lumpuh?

Tuan Besar Basagita tidak memedulikan hal itu, dia langsung memukul meja dan berkata, "Luna! Apakah kamu masih menghormati kakekmu ini?"

"Aku menyuruhmu pergi menagih utang, tapi kamu malah membawa Ardika untuk bertengkar dengan Kak Herkules. Selain membuat Wulan ditampar, Keluarga Basagita juga akan terkena bencana besar. Kamu senang sekarang?"

Keluarga Basagita akan terkena bencana?

Ketika masuk ke dalam vila, Luna sudah mendengar ucapan itu. Dia tampak sedikit bingung. Sebaliknya, Ardika melirik Wulan, lalu tersenyum dingin karena sudah tahu.

Ardika lalu berkata, "Kakek, Wulan memang pantas ditampar. Tapi, Kakek tenang saja, Keluarga Basagita tetap baik-baik saja."

Wulan yang kesal langsung membentak, "Dasar idiot! Beraninya kamu bicara seperti itu? Awalnya, Kak Herkules menganggapku sebagai tamu VIP. Kalau bukan karena kamu yang membuatnya marah, aku nggak mungkin ditampar! Kak Herkules juga nggak mungkin marah dengan Keluarga Basagita."

Napas Tuan Besar Basagita juga mulai terengah-engah. Dia menunjuk Ardika dan berkata, "Keluarga Basagita akan dihancurkan oleh idiot seperti kamu. Lihat saja tampangmu itu, kamu masih bersikap santai. Siapa yang memberimu keberanian untuk berkata seperti itu?"

"Karena kami sudah mendapatkan utangnya. Kalau Kak Herkules benar-benar marah, mana mungkin dia membayar utangnya?" Sambil berkata, Ardika menoleh ke arah Luna dan melanjutkan, "Sayang, tunjukkan buktinya kepada Kakek."

Bab 10

Hadiah Ulang Tahun

Apa?

Utangnya sudah dibayar?

Mana mungkin? Bukankah Herkules sudah marah?

Wulan dan yang lainnya langsung bengong, bahkan Tuan Besar Basagita juga tertegun. Dia menggaruk telinga sambil bertanya, "Kalian ... kalian benar-benar berhasil mendapatkan uangnya?"

Sambil mengangguk, Luna segera memberikan buktinya dengan hormat.

"Kakek, ini ceknya, Kakek lihat dulu."

Setelah melihatnya beberapa kali, Tuan Besar Basagita pun menghela napas lega. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Ini memang cek milik perusahaan Herkules."

Ekspresi tegang di wajah setiap anggota Keluarga Basagita pun menjadi lebih lega.

Kalau bisa mendapatkan uangnya, hal itu membuktikan bahwa Herkules tidak marah. Keluarga Basagita juga akan baik-baik saja.

"Huh! Kalian kira utangnya dibayar gara-gara kalian? Jangan mimpi!" Saat ini, Wulan tiba-tiba maju ke depan dan berkata, "Kalau bukan karena aku dipukul oleh Kak Herkules, mana mungkin kalian bisa mendapatkan uangnya?"

"Pasti karena Kak Herkules ingin meminta maaf kepadaku, jadi dia pun membayar utangnya."

Setelah mendengarnya, banyak anggota Keluarga Basagita yang mengangguk setuju.

Ketika datang membeli mobil, Wulan dipukul tanpa alasan yang jelas. Demi menunjukkan permintaan maaf, Herkules pun membayar utangnya. Penjelasan ini memang masuk akal.

Pada saat ini, Luna mulai panik. Wulan sudah memutarbalikkan fakta, Luna hanya bisa berharap kepada Tuan Besar Basagita.

Kemudian, dia melihat Tuan Besar Basagita terdiam sejenak, lalu berkata, "Wulan benar! Dialah yang berjasa mendapatkan utangnya, bukan Luna."

Luna yang panik pun bertanya, "Kakek, bagaimana dengan bonusnya?"

Luna sudah tidak peduli siapa yang mendapatkan uangnya kembali, dia hanya ingin mengambil kembali bonus yang sudah ditahan selama bertahun-tahun.

"Kalau Wulan yang mendapatkan uangnya, semua bonus keluarga kalian akan menjadi milik Wulan."

Apa?

Setelah mendengarnya, seolah-olah tersambar petir, Luna bahkan tidak bisa berdiri dengan benar.

Ekspresi Ardika juga sangat masam.

Sikap Keluarga Basagita yang tidak tahu malu jauh melebihi ekspetasinya.

Wulan tampak sangat senang setelah menerima cek yang diberikan oleh kakeknya.

Satu tamparan ditukar dengan uang miliaran, Wulan sama sekali tidak rugi.

"Terima kasih Kakek! Dengan uang ini, aku sudah punya uang yang cukup untuk membeli Hati Peri."

Awalnya, Wulan ingin membeli mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Sekarang, dengan tambahan uang ini, dia bisa membeli hadiah yang lebih mahal lagi.

Tuan Besar Basagita melambaikan tangannya dan bertanya, "Tiga hari lagi adalah ulang tahunmu, kamu sudah pesan tempat? Apakah perlu kakek meminjamkan kartu anggota emas Restoran Gatotkaca untuk mengadakan pesta di lantai tiga?"

"Terima kasih, Kakek, tapi nggak perlu. Tuan Muda David punya kartu anggota platinum. Dia sudah memesan lantai enam untukku."

Setelah mendengarnya, Tuan Besar Basagita tampak sedikit canggung, tapi dia juga tidak berkata apa-apa. Dia pun menyuruh pembantu untuk memapahnya masuk ke kamar tidur.

Sebaliknya, anggota Keluarga Basagita yang lain tampak sangat iri.

Selain Hati Peri, dia juga mengadakan pesta di lantai enam Restoran Gatotkaca. Pesta ulang tahun yang sangat meriah.

Luna sama sekali tidak peduli dengan hal itu, dia terlihat lemas.

Melihat kondisi Luna, Wulan pun menyindirnya, "Luna, kamu sudah pesan tempat pesta ulang tahun? Sudah beli hadiah ulang tahun?" Mendengarnya, Luna menggigit bibir dan menahan diri agar tidak menangis.

Tanpa belas kasihan, Wulan lanjut menyindirnya, "Sudah, jangan sok sedih. Semua orang tahu kalian miskin. Kalau kamu mau berlutut di depanku, aku bisa meminjamkan Hati Peri kepadamu beberapa hari, mau?"

Ardika yang berdiri di samping langsung menatap Wulan dengan tatapan tajam. Dia lalu berkata, "Hati Peri bukanlah sesuatu yang bisa dipakai oleh orang kampung sepertimu."

"Dasar idiot! Nggak usah sok keras! Kenapa? Aku nggak pantas? Memangnya Luna yang nggak sanggup beli kue ulang tahun itu pantas? Benar-benar konyol!"

Wulan memelototinya dan menghina Ardika. Lalu, Ardika hanya mengangguk dan berkata, "Betul katamu! Hanya Luna yang berhak memakai Hati Peri."

Wulan mendengkus dingin, lalu ingin lanjut menyindirnya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang buru-buru.

Sekelompok pria berbaju hitam mengantar sebuah kotak perhiasan sambil berlari masuk ke dalam vila.

"Hati Peri sudah tiba, silakan diterima!"

Hati Peri?

Anggota Keluarga Basagita tidak mengerti. Wulan masih belum membelinya, kenapa sudah diantar?

Ardika tidak menyangka Bella bertindak dengan cepat, dia pun berkata kepada Luna, "Sayang, hadiah ulang tahunmu sudah tiba."

Setelah mendengarnya, semua orang saling memandang.

Ardika si idiot ini membeli Hati Peri?

Hati Peri seharga 60 miliar?

Wulan juga terkejut.

"Tidak mungkin! Dari mana si idiot ini punya uang untuk membeli Hati Peri?"

Melihat Luna memakai Hati Peri lebih menyakitkan daripada membunuh Wulan langsung.

Luna juga terkejut. Dia pun berkata dengan bingung, "Ardika, ini ...."

"Sayang, aku membelinya untukmu. Aku akan menjelaskannya nanti," ucap Ardika sambil tersenyum kepada Luna.

Luna menerima kotak itu dengan ekspresi bingung. Sebagai seorang wanita, siapa yang tidak suka dengan perhiasan mahal?

Apalagi sebagai hadiah ulang tahun, Luna merasa sangat bahagia.

Pada saat ini, ponsel Wulan tiba-tiba berdering.

Suara David terdengar dari ujung telepon.

"Sayang, kamu sudah menerima hadiah dariku? Suka nggak?"

Hadiah?

Wulan langsung berteriak, dia lalu merebut kotak perhiasan dari tangan Luna sambil berteriak ke arah ponselnya, "Suka, suka. David, aku benar-benar sangat mencintaimu. Kenapa kamu tahu aku ingin Hati Peri?"

Hati Peri?

David yang berada di ujung telepon langsung bengong. Bukankah dia hanya mengirimkan uang ke rekening Wulan? Kenapa berubah jadi Hati Peri?

Namun, David tidak menyangkalnya dan menjawab, "Baguslah kalau suka."

Setelah berbicara sebentar, telepon pun terputus.

Semua anggota Keluarga Basagita pun sadar.

"Ternyata Tuan Muda David yang membeli Hati Peri untuk Wulan, mengagetkan saja."

"Betul. Hampir saja direbut."

"Ya, melihat si idiot itu berkata dengan percaya diri, aku hampir saja percaya."

Wulan memeluk kotak perhiasan itu dengan erat, lalu berkata dengan bangga, "Ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Tuan Muda David, beraninya seorang idiot merebut hadiahku? Cari mati, ya?"

Luna yang terkejut pun menunjukkan ekspresi kecewa.

Ardika juga mengernyit dan berkata, "Wulan, ini bukan milikmu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari “B24819” di Goodnovel untuk membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B24819
Salin
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED