Hari masih gelap, udara dingin terasa begitu menusuk sampai ke tulang. Namun seolah tak merasakan hal itu, seorang pemuda justru sedang mencuci mobil di garasi yang berada di samping kiri sebuah rumah besar. Dia begitu telaten membersihkan mobil jenis BMW keluaran terbaru di hadapannya.
Siapa pemuda perawakan tinggi berwajah lumayan itu? Apakah mobil yang sedang dicuci adalah mobilnya? Tentu saja bukan. Mobil mewah tersebut milik tuan besar di rumah itu, sementara pemuda di sana adalah seorang sopir yang sedang melakukan rutinitasnya saja.
Sean Palmer, nama pemuda tersebut. Dia sudah tinggal di rumah besar itu sejak usianya sepuluh tahun. Tak hanya dirinya, ayah dan ibunya pun tinggal dan bekerja di rumah itu sebagai pelayan. Sementara sang pemilik rumah bernama Damian Hernandez.
Tuan Hernandez terkenal sebagai pembisnis kaya raya di kotanya. Semua orang memanggilnya presdir, sebagai kehormatan yang tinggi daripada jabatannya di perusahaan. Ia memiliki seorang putri bernama Xavia. Usianya baru 22 tahun, dia sangat cantik dan merupakan gadis populer di kampusnya.
Suatu hari Tuan Hernandez tak sengaja menabrak seorang anak sewaktu meninjau cabang kantornya di pelosok kota. Anak laki-laki itu berusia sepuluh tahun. Dia berasal dari keluarga teramat miskin.
Setelah membiayayai pengobatan sang anak sampai kembali sehat, Tuan Hernandez pun mengajak mereka ke rumahnya untuk bekerja di sana sebagai pelayan. Tuan Hernandez memperkenalkan Xavia kecil dengan Sean, anak laki-laki yang ditabraknya. Tak hanya itu, ia juga menyekolahkan Sean satu sekolah dengan Xavia. Sementara ibu Sean bekerja sebagai pelayan dan ayahnya sebagai tukang kebun.
Kebaikan Tuan Hernandez membuat orang tua Sean sangat bersyukur. Namun, Nyonya Hernandez yang merupakan istri dari Tuan Hernandez tidak suka dengan cara suaminya yang begitu baik pada orang tua Sean. Baginya pelayan tetaplah pelayan.
Dia tidak suka Sean bersekolah dengan Xavia. Akibat rasa bencinya pada Sean dan orang tuanya, Nyonya Hernandez jadi sering bertengkar mulut dengan Tuan Hernandez.
"Ayam jantan saja belum berkokok, tapi kamu sudah terjaga."
Suara bass itu membuat punggung Sean langsung memutar. Dilihatnya seorang pria yang sedang berdiri sambil menenteng tas kerjanya. Stelan jas hitam membuatnya terlihat sangat gagah dan berkharisma. Bibirnya segera menyunggingkan senyum ramah menyambutnya.
"Selamat pagi, Presdir. Saya dengar Anda akan berangkat ke luar kota pagi ini. Oleh karena itu saya mencuci mobil Anda lebih dulu sebelum berangkat," ucap pemuda itu dengan tubuh sedikit dibungkukan. Baginya pria di hadapannya tak hanya tuannya saja, tapi juga sosok malaikat. Dia sangat menghormati Tuan Hernandez.
"Aku percaya suatu hari kamu pasti akan menjadi pria yang sukses, Sean. Hari ini kamu tak perlu mengantarku. Aku ingin kamu fokus dengan kuliahmu." Tuan Hernandez tersenyum bangga sambil menepuk satu bahu pemuda sederhana berwajah tampan di hadapannya.
Sean menjawab dengan anggukan sopan. Kemudian ia bergegas membukakan pintu mobil BMW hitam itu untuk tuannya. Pria di dalam mobil tersenyum padanya sebelum melaju meninggalkan rumah besar itu. Senyum penuh kagum tersemat pada bibir Sean akan sosok Tuan Hernandez. Dia ingin suatu hari bisa seperti pria hebat itu.
"Hei, Kutu Busuk! Sedang apa kamu di sana?! Di rumah ini masih banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan, tapi kamu malah bersantai di situ seperti Tuan Muda!"
Seketika tubuh Sean bergetar mendengar suara itu. Dia segera memutar tubuhnya menghadap pada sosok yang sedang berdiri di belakangnya saat ini. Wanita berusia sekitar 47 tahun sedang menatapnya sinis. Kedua tangannya dilipat di bawah dada dengan memasang wajah angkuhnya. Sean segera menurunkan pandangan dari tatapan tajam wanita di sana. Nyonya Hernandez, dia hanya bagai kutu busuk di hadapannya, seperti sebutan wanita itu padanya.
"Why? Kenapa diam seperti bongkahan batu? Cepat bersihkan kandang Bobby! Setelah itu beri dia makan dan mandikan dia dengan air hangat. Cepat lakukan!" Nyonya Hernandez berkata dengan suara lantangnya. Seolah lawan bicaranya berjarak sangat jauh darinya. Kenyataannya Sean berdiri di hadapannya saat ini. Indera pendengarannya pun masih berfungsi dengan baik, tak seharusnya wanita itu berkata dengan nada meninggi.
"Baik, Nyonya." Dengan penuh kesopanan Sean segera mundur dari hadapan wanita itu.
Apakah dia sakit hati karena ucapannya? Tidak, karena ini bukan kali pertama Nyonya Hernandez berkata lantang padanya. Sejak dirinya datang bersama orang tuanya, wanita itu selalu memberinya tatapan sinis.
Sementara Bobby yang dimaksud olehnya tak lain adalah seekor anjing peliharaan Nyonya Hernandez. Bahkan Bobby jauh lebih terhormat di rumah itu daripada dirinya yang memang hanya anak seorang pelayan.
"Dasar Kutu Busuk!" desis Nyonya Hernandez seraya memandangi punggung Sean menjauh.
Wanita itu segera memutar tubuhnya meninggalkan garasi. Enak saja mau hidup senang di rumahnya ini. Dia sangat membenci pemuda busuk itu, juga orang tuanya yang suka cari muka pada suaminya. Baginya mereka adalah benalu yang menjamur di dalam keluarga Hernandez.
Hh, entah sampai kapan. Suaminya terlalu baik pada mereka. Entah guna-guna apa yang mereka berikan padanya. Tuan Hernandez bahkan sangat menyayangi si kutu busuk itu. Nyonya Hernandez meradang dalam hati sambil berjalan menuju dapur.
Sepasang matanya membulat penuh setiba di ruang makan. Seorang wanita seumurannya sedang memasukan beberapa potong sanwich pada kotak makanan berukuran sedang di atas meja.
Sial! Dengan penuh emosi ia segera menghampiri wanita berseragam pelayan di sana.
"Mau dibawa ke mana makanan itu? Apa kamu mau menyimpannya untuk bekal putramu lagi?" tanyanya penuh selidik sambil menatap wanita di sampingnya.
"Nyonya? Maaf jika saya telah lancang. Benar, makanan ini untuk bekal Sean ke kampusnya." Deborah, ibu Sean sangat tersentak melihat Nyonya Hernandez sudah berdiri di sampingnya. Tangannya gemetaran menutup kotak makanan di atas meja. Wajahnya berubah pucat seperti sedang kurang sehat.
Untuk ke sekian kalinya ia tertangkap basah sedang menyiapkan bekal untuk putranya. Harus bagaimana lagi, dia tak punya uang untuk diberikan pada Sean sebagai ongkos selama putranya berada di kampus sepanjang hari. Dia tak ingin Sean akan kelaparan dan tidak konsentrasi belajar. Oleh karena itu dirinya mengambil beberapa potong roti isi untuk bekalnya.
Di meja makan ada banyak menu sarapan yang lezat. Deborah hanya mengambil dua potong sanwich saja untuk putranya. Sebenarnya ini bukan masalah besar bagi keluarga kaya raya macam keluarga Hernandez itu. Toh, hidangan sebanyak ini pun tidak pernah bisa mereka habiskan. Sisanya hanya akan dibuang sia-sia.
Apa ruginya jika mau berbagi rizki dengan pelayan di rumahnya.
Namun, bagi seorang wanita angkuh macam Nyonya Hernandez berbagi rizki itu bisa dirinya lakukan di panti-panti sosial yang sudah pasti akan diliput oleh banyak wartawan. Bukan membagi makanan dengan pelayan di rumahnya, apalagi dengan pelayan yang satu ini.
"Letakan lagi makanan itu. Berikan saja satu botol air mineral untuk bekal putramu. Kalian hanya pelayan di rumah ini, jadi jangan pernah berharap bisa makan makanan yang sama dengan kami. Mengerti?!" Nyonya Hernandez berkata ke wajah Deborah. Tatapan tajam itu membuat wanita di hadapannya tampak sangat tertekan.
Dengan berat hati Deborah kembali meletakkan dua potong sanwich yang tadinya sudah duduk manis dalam kotak makanan putranya. Menahan tangis ia memandangi dua potong sanwich itu yang sudah kembali ke tempatnya semula. Ia tak mungkin berani membantah pada Nyonya Hernandez. Terpaksa hari ini putranya ke kampus tanpa membawa bekal lagi.
Senyum penuh kemenangan merekah pada bibir Nyonya Hernandez. Pelayan sialan ini memang harus diberi pelajaran! Terlebih saat suaminya sedang tak berada di rumah, karena Tuan Hernandez tak akan suka melihatnya menindas Deborah seperti ini.
Apa hebatnya pelayan itu? Kenapa suaminya sangat baik pada Deborah dan suaminya, terutama pada anaknya si Kutu Busuk Sean. Sekelompok orang miskin itu sudah membuat kepalanya pusing.
Sean sedang berjongkok di depan sebuah kandang yang terbuat dari besi. Tangannya sibuk membersihkan kotoran yang berbau busuk di dalam sana. Sementara di sampingnya tampak seekor anjing jenis rottweiler yang sedang berdiri sambil mengibaskan ekornya.
Anjing berbulu hitam dan berwajah sangar itu tak lain adalah Bobby, hewan kesayangan Nyonya Hernandez. Seperti perintah wanita itu, Sean sedang mengurus Bobby saat ini.
Bagi kebanyakan pemilik anjing, rottweiler biasanya dipilih sebagai anjing penjaga yang loyal dan cerdas. Tidak semua orang bisa memelihara anjing jenis ini karena beberapa individu dari anjing ini bersifat one man dog, yakni patuh dan setia hanya pada satu orang.
Meskipun demikian, banyak anjing rottweiler yang jinak dan dapat bersahabat dekat dengan keluarga. Harga untuk anjing ini terbilang cukup mahal. Seekor rottweiler yang cakap dan memiliki sertifikat kepelatihan bisa mencapai harga di atas Rp120 juta. Tentu saja harga tersebut di luar dari biaya pemeliharaan dan makanan anjing yang juga relatif mahal.
"Baiklah, Bobby. Kandangmu sudah bersih dan kamu juga sudah mandi. Ayo kembali ke kandangmu, karena aku harus pergi kuliah sekarang." Dengan perlahan Sean menarik tali pada leher Bobby, lalu menggiring anjing itu menuju kandangnya.
Hewan buas berbulu tebal itu sangat patuh padanya, karena dia sudah mengurus Bobby sejak ia datang ke rumah itu. Nyonya Hernandez membeli Bobby saat sedang berlibur di Eropa. Sejak itu Sean yang ditugaskan untuk mengurusnya.
Butuh waktu satu tahun untuk menjinakan anjing itu. Bahkan tak jarang Sean digigit dan diterkam oleh Bobby saat ingin memandikan atau memberinya makan. Benar-benar perjuangan yang berat bagi Sean yang bahkan tidak menyukai seekor anjing sejak dirinya kecil.
"Sean, apa kamu sudah selesai?
Aku harus ke kampus sekarang, tapi Janied minta dijemput ke rumahnya. Hh, pemuda itu sangat menyebalkan!"
Gerutu seorang gadis yang baru tiba di belakang Sean. Postur tubuhnya tinggi bak seorang model, wajahnya cantik dengan sepasang manik hazel yang indah. Sementara bibirnya tak henti mengoceh tentang pemuda bernama Janied.
Sean hanya tersenyum tipis mendengarnya. Setelah mengunci kandang Bobby ia segera bangkit lalu memutar tubuhnya menghadap pada gadis dengan mini dress hitam di belakangnya tadi.
Xavia Hernandez, gadis itu begitu cantik dan selalu membuat hatinya bergetar saat melihat senyum manisnya, bahkan saat sedang menatapnya heran seperti saat ini. Sean selalu mengagumi Xavia sejak mereka masih kecil. Namun, ia sadar diri tentang perasaannya itu. Dirinya hanya anak pelayan, tak patut baginya menginginkan Xavia.
Tak seperti ibunya, Xavia sangat baik dan tipe gadis yang menyenangkan. Hanya gadis itu yang selalu membuatnya bertahan dari segala hinaan Nyonya Hernandez padanya. Bahkan Xavia sering kali membelanya di hadapan ibunya yang judes itu.
"Hei, kenapa bengong? Ayo cepat, Sean! Janied sudah menungguku!" Dengan wajah kesal yang menggemaskan di mata Sean, tangan Xavia segera menarik lengan pemuda itu meninggalkan teras belakang di mana kandang Bobby berada.
Sean hanya terdiam menikmati genggaman Xavia akan lengannya. Gadis itu menuntunnya sampai pada mobil sport warna orange yang masih terparkir di garasi. Xavia meminta Sean untuk mengemudikan mobil itu menuju kampus mereka.
Sean mengatakan jika dirinya belum bersiap untuk pergi ke kampus.
Xavia yang tak suka menunggu pun mengatakan jika Sean sudah terlihat tampan dengan kemejanya itu. Tersipu pemuda itu dibuatnya. Xavia tak perduli, dia segera menyeret Sean masuk mobilnya.
Sean segera mengemudikan mobil sport itu meninggalkan garasi. Xavia mengingatkannya lagi jika mereka harus menjemput Janied di rumahnya. Sean sedikit kesal setiap kali mendengar nama pemuda itu. Mungkinkah dia didera rasa cemburu? Karena pemuda bernama Janied itu adalah pacar Xavia.
"Hentikan mobilnya! Astaga kamu ini!" Xavia memekik saat mobilnya hampir saja melepati rumah Janied. Dengan wajah tampak kesal ia segera keluar dari mobilnya, berlari menuju seorang pemuda yang sedang berdiri di depan gerbang sebuah rumah besar.
Sean hanya terdiam dalam rasa campur aduk tak karuan. Apalagi saat melihat pemuda bernama Janied itu mengecup Xavia. Panas yang dirasakannya. Seperti ada api besar yang sedang berkobar di tubuhnya. Namun, dirinya tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu mereka di dalam mobil.
Benar, dia hanya seorang sopir saat ini. Lantas kenapa perasaan yang tak seharusnya ini tumbuh di hatinya? Bodoh! Sean mencengkeram kendali mobil sambil menggelengkan kepalanya. Kapan mereka akan selesai berciuman. Ingin rasanya ia membutakan sepasang matanya karena pemandangan itu.
"Xavia, apakah kita akan ke kampus? Hh, membosankan sekali! Bagaimana bila kita ke bioskop saja? Aku dengar ada film yang sangat bagus di bioskop."
"Tidak, Janied. Kita harus ke kampus sekarang. Kamu ingat? Kemarin kita baru saja kena hukuman karena bolos kuliah. Aku tak mau lagi!"
Sean hanya menjadi pendengar yang baik sambil duduk menghadap kendali mobil saat Xavia dan Janied baru saja memasuki mobil. Hal seperti ini sudah sering terjadi pada Xavia dan pacarnya itu. Janied memang bukan pemuda baik-baik. Dia sering mengajak Xavia bolos kuliah dan mabuk di club malam. Entah kenapa Xavia menyukai pemuda rusak itu. Sean tak habis pikir dibuatnya.
Mobil mulai melaju setelah Xavia memerintahkan pada Sean untuk segera menjalankan mobilnya. Janied sedikit kesal melihat anak pelayan itu berada di antara dirinya dan Xavia. Dia memang tak menyukai Sean sejak pertama Xavia mengenalkan pemuda itu padanya. Menurutnya Sean si kutu busuk itu memiliki perasaan lebih pada Xavia. Ya, dia bisa melihatnya dari cara Sean menatap Xavia.
"Janied, hentikan! Kamu ini kenapa sih?"
"Xavia, aku sangat merindukanmu, Sayang. Ayolah Sayang, cium aku sekarang."
"Diamlah dan duduk dengan benar. Janied!"
Sean mencengkeram kendali mobil dengan tubuh gemetaran. Apa yang sedang terjadi di bangku belakangnya bukan hal baru lagi. Janied selalu memaksa berciuman di mana saja.
Benar-benar brengsek! Dia bahkan tak mengendahkan jika dirinya berada di antara mereka. Terpaksa, sungguh terpaksa Sean harus mendengar desahan Xavia karena permainan Janied. Kalau boleh memilih, ia lebih baik keluar dari mobil ini daripada harus mendengar semuanya.
"Hentikan, Janied!" Xavia mendorong dada pemuda di atasnya sampai menjauh darinya. Tangannya buru-buru membenahi mini dress yang melorot karena ulah pemuda itu.
"Maaf, Sayang. Aku tak tahan melihatmu," seringai Janied setelah menyeka bibirnya yang basah.
Pemuda itu melirik pada Xavia saat keduanya sudah duduk dengan baik. Sudah satu tahun mereka berpacaran, tapi Xavia tak pernah mau diajak berhubungan intim. Benar-benar gadis yang norak! Rutuknya dalam hati.
Namun, Xavia tak hanya cantik dan memiliki postur tubuh yang sangat menggairahkan, tapi dia juga adalah putri tunggal dari keluarga Hernandez, konglomerat paling kaya di kota San Mitero. Janied tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Xavia harus jatuh ke dalam pelukannya.
Sementara pemuda sederhana yang sedang mengemudikan mobil hanya terdiam dalam rasa sakitnya. Sakit karena harus diam membiarkan pemuda brengsek itu menyentuh Xavia. Lantas, mau bagaimana lagi? Mereka berpacaran, sementara dirinya siapa? Hanya sebatas sopir dan teman kecil Xavia saja.
Ya, hanya itu.
"Janied, aku tak suka dengan caramu. Paling tidak, kamu tidak melakukan hal seperti ini padaku di depan Sean. Aku malu padanya!" kelakar Xavia dengan wajah kesal pada pemuda di sampingnya.
"Hei, kenapa kamu memikirkan si sopir itu? Biarkan saja dia mendengarnya. Itu bagus untuk pemuda tak laku macam dia, bukan?" Mulut besar Janied bicara seenaknya. Dia bahkan sengaja ingin membuat Sean kepanasan.
"Janied!" Xavia membulatkan sepasang matanya dengan wajah kesal pada pemuda yang sudah dipacarinya selama satu tahun itu.
Janied memiliki wajah yang tampan, tak sesuai dengan perilakunya yang buruk. Dia menyukai pemuda itu sejak masuk kuliah hari pertama.
Tak hanya dirinya, ada banyak gadis yang menginginkan Janied di kampus. Xavia merasa beruntung menjadi pacarnya. Namun, akhir-akhir ini Janied sering kali membuatnya kesal dengan kelakuan mesumnya.
Bahkan ia lebih merasa nyaman berada di samping Sean daripada Janied.
Xavia memalingkan wajah dari senyuman Janied. Dia sangat malu pada Sean, sungguh. Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda itu tentang dirinya. Janied benar-benar keterlaluan! Rutuknya dalam diam.
Setibanya di sebuah universitas terkenal di kota San Mitero. Pengelola kampus itu adalah ayah Janied, sementara pemiliknya tak lain adalah Tuan Hernandez, ayah Xavia.
Pantas jika Tuan Hernandez pun menyekolahkan Sean di kampus ini. Ia berharap pemuda itu bisa mencapai mimpinya tanpa memikirkan biaya kuliah yang teramat mahal.
Janied segera merangkul mesra bahu Xavia setelah keluar dari pintu mobil. Mereka tertawa begitu riangnya menuju area kampus. Banyak mata yang metatapnya dengan rasa iri. Salah satunya Sean yang masih duduk di dalam mobil. Alangkah bahagianya menjadi pemuda yang mendapatkan cinta Xavia, pikirnya sambil melamun.
"Hei, bodoh! Jalankan mobilnya!"
Suara seruan itu menyadarkan Sean dari fantasinya. Ia segera melajukan mobil menuju basement.
..........................................................
Di kampus Xavia memiliki banyak teman, salah satunya gadis bernama Molly. Dia teman yang paling dekat dengan Xavia. Tak ada yang Xavia sembunyikan dari Molly, termasuk hubungannya dengan Janied.
Molly mengatakan jika Janied adalah pemuda populer di kampus mereka. Ada banyak gadis yang mengincar Janied, termasuk dirinya. Hanya saja Molly tak mengatakan hal itu pada Xavia, jika dirinya pun sangat menginginkan Janied.
Setelah bertemu dengan Molly, Xavia melepaskan genggaman tangan Janied darinya. Pacarnya kuliah di lain kelas dengannya, karena Janied mengambil fakultas yang berbeda dengan Xavia. Sementara Molly dan Sean satu kelas dengan Xavia. Janied mengecup kilas bibir Xavia di hadapan Molly.
Gadis itu hanya tersenyum jengah melihatnya.
Sial! Kapan mereka akan putus?
Molly meradang dalam hati.
Setibanya di kelas Xavia langsung duduk pada bangku di samping Sean. Pemuda itu melempar senyum tipis untuknya. Xavia pun membalas senyum itu seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya. Detik selanjutnya ia mulai sibuk dengan ponselnya.
Sean tahu siapa yang sedang Xavia hubungi dalam pesannya. Dia hanya diam sambil mengagumi senyuman yang terukir di wajah gadis itu. Manis, senyumnya sangat manis. Mengalahkan gula-gula yang pernah dinikamatinya di pekan raya.
Benar, sewaktu mereka kecil Tuan Hernandez sering mengajaknya dan Xavia ke pekan raya di pusat kota.
Di sana dirinya dan Xavia sangat senang. Ada banyak wahana permainan yang mereka naiki bersama Tuan Hernandez. Tawa dan canda mereka masih diingatnya sampai saat ini. Entah dengan Xavia, mungkin dia sudah melupakan semua itu.
Sean segera memalingkan wajah dari Xavia. Buku novel romantis karya penulis asal Indonesia, Dewa Amour diraihnya dari dalam tas.
Sebagai seorang pemuda yang tak pandai bergaul Sean tak begitu pandai mencari perhatian para gadis, tak seperti Janied yang selalu dikelilingi banyak wanita cantik.
Dari novel-novel romantis yang dibacanya ia mulai belajar bagaimana menghadapi seorang gadis. Meski ini konyol, tapi dia juga ingin Xavia bisa menatapnya meski sekali saja.
Suara langkah dosen membuyarkan lamunannya. Mata kuliah pertama akan dimulai. Sebaiknya ia tunda dulu mimpinya bersama Xavia. Dengan tersenyum tipis Sean segera menutup buku novel yang sedang dibacanya.
Waktu pun terus berjalan, jam kuliah telah usai. Sean baru saja keluar dari kelasnya. Saat melintas, tak sengaja ia melihat Janied yang sedang berduaan dengan Molly di sudut ruang perpustakaan yang sudah sepi.
Sean mengedarkan pandangan ke sekitar. Di mana Xavia? Apakah dia tidak mengetahui perbuatan pacar dan temannya itu? Dengan sedikit geram pada Janied dan Molly, ia segera mendekati pintu perpustakaan. Terlihat olehnya Janied dan Molly yang sedang berpangut bibir begitu mesranya.
Tangannya mengepal kuat, ia harus menangkap basah dua bajingan itu. Namun, tiba-tiba saja ada tangan yang memegang satu bahunya dari belakang. Sedikit terkejut, Sean segera memutar tubuhnya. Wajah cantik dengan manik hazel yang menyala indah menyambutnya.
Xavia? Sean menatapnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan di sini?
Ayo kita pulang." Xavia tak begitu tertarik dengan tatapan manik kebiruan Sean. Mereka harus tiba di rumah sebelum petang. Tangannya langsung menarik pemuda itu menjauh dari pintu perpustakaan.
"Sebentar, Xavia. Aku baru saja melihat Janied dan Molly di perpustakaan!"
Xavia menghentikan langkahnya mendengar ucapan Sean. Tatapannya tertuju pada pemuda di sampingnya itu. Sean sedang menatapnya dalam.
"Apa yang kamu katakan? Janied dan Molly sudah pulang sejak dua puluh menit yang lalu," ucap Xavia dengan senyum miringnya.
"Aku benar-benar melihatnya di perpustakaan, Xavia. Mereka bahkan berduaan di sana." Sean masih berusaha meyakinkan gadis di hadapannya. Ia tak ingin Xavia patah hati karena pengkhianatan Janied dan Molly.
"Kamu ini kenapa? Aku sangat percaya pada Janied. Tidak mungkin dia melirik Molly di belakangku. Bahkan Molly adalah sahabat baikku!" Mode kesal mulai menyala di rahut wajah Xavia. Meski ini terdengar konyol dan dirinya tak percaya, tapi tetap saja ia kesal mendengarnya.
"Xavia, aku tahu kamu tak akan percaya padaku, tapi aku benar-benar melihatnya. Mereka ..."
"Cukup, Sean! Aku akan menghubungi Janied sekarang. Aku yakin dia sudah pulang saat ini." Berpaling dari Sean, Xavia segera menghubungi Janied dengan ponselnya. Dia tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Sean hanya mematung setelah Xavia memintanya diam. Dari wajah Xavia ia dapat menyimpulkan betapa gadis itu takut kehilangan Janied. Namun, dia benar-benar tak salah lihat. Janied dan Molly memang sedang berada di perpustakaan. Dua bajingan itu sudah main belakang dengan Xavia. Kasihan Xavia, dia sudah dibodohi oleh dua orang yang paling dirinya percaya. Sean menggelengkan kepalanya, lalu berpaling dari Xavia.
"Janied, apa kamu masih berada di kampus?" tanya Xavia setelah panggilannya tersambung pada Janied. Ia sudah tak sabar menunggu jawaban pacarnya itu.
["What? Di kampus? Aku sudah di jalan menuju pulang. Why?"]
Xavia segera menurunkan ponselnya, lantas menoleh dengan tatapan kesal pada pemuda di hadapannya.
"Kamu dengar itu? Aku tak suka cara becandamu!" Diraup segera wajah kesalnya dari hadapan Sean. Entah ada masalah apa dengan pemuda itu. Bisa-bisanya dia menuduh Janied dan Molly yang bukan-bukan. Xavia menjadi kecewa pada Sean.
"Xavia, bukan begitu. Xavia!"
Sean segera menyusul Xavia.
Oh, shit! Sepertinya gadis itu marah padanya. Bagaimana ini? Dia menjadi panik sendiri. Niat hati ingin menyelamatkan Xavia, tapi ternyata kemarahan gadis itu yang didapatnya. Sean sangat menyesal.
Setibanya di basement, Sean segera melajukan mobil Xavia menuju pulang. Gadis di bangku belakang tak mau menatapnya. Xavia tampaknya masih kesal, ia hanya memalingkan wajah pada jendela mobil.
Tak ada yang bisa Sean perbuat selain melajukan mobil menuju rumah Xavia. Bodoh! Kenapa dia sok tahu dan sok mau jadi pahlawan untuk Xavia. Sekarang lihat hasilnya?
Gadis itu bahkan tak mau melihatnya.
Sean sangat menyesal.
"Xavia," ucap Sean saat keluar dari mobil di pelataran. Ia menatap gadis itu penuh harap. Ingin meminta maaf pada Xavia atas kesalahan tadi. Harusnya ia tidak ikut campur kehidupan Xavia. Dia benar-benar menyesal.
"Aku lelah mau beristirahat." Hanya itu yang dilontarkan oleh lisan Xavia. Masih tampak aura kesal di wajahnya, gadis itu pun berlalu meninggalkan Sean yang masih mematung dalam dilema.
"Hei, Kutu busuk! Rupanya kamu di sana." Nyonya Hernandez berjalan cepat menuju pada Sean.
Ingin rasanya pemuda itu menghindar, tapi sungguh tak mungkin. Nyonya Hernandez akan lebih murka dari ini bila ia melakukannya. Sean segera menundukkan wajah saat wanita itu berdiri di hadapannya. Nyonya Hernandez menaikan sudut bibirnya dengan tatapan remeh pada Sean.
"Cepat kamu antar hadiah untuk Tuan Caldwell. Setelah itu beli buah dan sayur di super market. Kamu dengar?" Nyonya Hernandez berkata sambil melipat kedua tangannya di bawah dada. Dia akan membentak Sean jika ada yang pemuda itu tanyakan pasal perintahnya tadi.
"Baik, Nyonya." Sean yang sudah paham betul seperti apa wanita di hadapannya itu tak banyak bertanya lagi. Namun, mengantarkan hadian ke rumah Tuan Caldwell terdengar sedikit aneh baginya. Tuan Caldwell adalah ayahnya Janied. Untuk apa Nyonya Hernandez mengirim hadiah ke sana?
"Kenapa masih diam? Ayo cepat pergi!" Hardik Nyonya Hernandez bak sedang mengusir seorang pengemis. Tak ada satu kali pun dirinya tidak ingin membentak Sean. Dia bahkan sangat ingin menampar wajah pas-pasan pemuda itu. Hanya saja belum ada kesempatan untuknya.
Deborah yang melihat hal itu dari jendela dapur hanya bisa meremas apron yang melingkar di tubuhnya. Sebagai seorang ibu dirinya tak pernah sekali pun membentak Sean, tapi wanita itu, siapa dia? Hampir setiap hari Nyonya Hernandez membentak dan merendahkan putranya seperti sampah.
Dia benar-benar tak bisa terima, tapi apa daya? Mereka hanya pelayan di sini. Deborah yakin suatu hari pasti Sean akan menjadi pria yang sukses. Pria yang bisa mengangkat dejahat mereka. Meski harapan itu sangat kecil, tapi ia akan selalu mendoakan Sean.
Sekarang putranya itu sedang kuliah, dia tak bisa meninggalkan rumah ini. Tuan Hernandez berjanji padanya akan menyekolahkan Sean sampai sarjana. Itu yang membuatnya tetap bertahan sampai hari ini. Sesakit apa pun perlakuan Nyonya Hernandez, ia harus kuat demi putranya.