Bab 1

"Pergi Kamu!" bentak wanita yang berdandan cukup menor tersebut. Alisnya yang cekung, serta warna lipstik semerah darah. Semakin membuat kesan gahar dan kejam dari raut wajahnya yang sudah tak muda lagi. Ia terlihat berdiri, di depan sebuah pintu rumah yang memang nampak tidak terlalu besar. Satu tangannya melemparkan sebuah tas keluar dari halaman rumah. Sedangkan tangan yang lainnya menyeret paksa dengan kasar. Tangan seorang gadis manis yang terlihat lebih muda darinya.

Gadis itu, menangis sembari terisak -isak. Tubuhnya terseok - seok, karena perlakuan wanita itu. Ia jatuh tersungkur di kaki wanita jahat, yang di kenal dengan sebutan Ibu tirinya.

"Cepat, pergi dari sini!" teriaknya kembali.

Dengan mata melotot dan berkacak pinggang.

Gadis malang itu menangis semakin keras. Dan berlutut memohon kepada Ibu tirinya itu, agar ia tidak di usir dari rumah. Dengan mengatupkan kedua tangannya, dan menundukkan wajahnya ia memelas.

"Hikss ... hiks ... Ibu! Jangan u_sir Anin dari si_ni," rintihnya lirih sembari tergagap.

"Kalau Anin tidak tinggal di sini, Anin harus kemana Bu? Anin sudah tidak punya tempat tinggal ..." ucapnya sedih dengan air mata yang terus mengalir deras.

Ibu tiri yang angkuh ini, seolah tak menggubris perkataan Anin. Ia malah semakin menjadi - jadi untuk segera menyingkirkan Anin dari rumah.

Dengan mata yang berapi - api, ia kembali berteriak keras dengan nada marah.

"Terserah! Kamu mau tinggal dimana. Itu bukan urusan Saya, Saya tidak peduli denganmu! Karena rumah ini sekarang milik saya, dan kamu tidak berhak untuk terus menetap di sini ..."

Dengan segala harapan dan kekuatan yang tersisa. Anin pasrah meratapi nasibnya. Mau tak mau ia harus pergi meninggalkan rumah peninggalan Ayahnya tersebut. Dengan perasaan tegar ia meraih tas besar yang sedari tadi terletak di samping, tubuhnya yang mungil. Ia mencoba berdiri dan berusaha untuk tetap kuat. Sambil menyapu air mata yang ada di pipinya. Ia ingat pesan dari Ayahnya, apapun yang terjadi nanti ketika Ayah telah tiada Anin harus tetap semangat untuk melanjutkan hidup.

Dengan mata yang berkaca - kaca, ia menatap Ibu tirinya. Dan berdiri di hadapannya.

"Baiklah Bu, Anin akan pergi dari sini. Anin yakin Tuhan tidak tidur dan Tuhan pasti akan menolong Anin."

Ia berhenti menangis. Anin mencoba mengumpulkan semangatnya kembali. Ia berusaha membuktikan kepada Ibu tirinya itu, kalau ia bukanlah gadis yang lemah.

Melihat tingkah Anin tersebut, Ibu tirinya menjadi semakin geram. Ia memajukan kedua bibirnya.

"Ah sudahlah! Kamu tidak usah sok tegar begitu. Saya tahu kamu hanya pura -pura, sudah pergi sana saya muak melihat mukamu ..." celotehnya bengis.

Tanpa satu patah kata pun, akhirnya Anin pergi meninggalkan rumahnya tersebut. Meski dengan langkah berat, karena terlalu banyak kenangan yang ia miliki. Saat ia masih bersama Ayahnya dulu.

Ia pun melangkah dengan gontai. Entah kemana ia akan menuju, semuanya hanya bisa ia pasrahkan kepada Tuhan. Jauh dalam lubuk hatinya seberkas cahaya itu akan muncul meski saat ini hidupnya terasa gelap gulita.

Tanpa terasa ia telah jauh meninggalkan rumah. Anin kini berada di pinggir jalan raya besar meniti langkah demi langkah seraya melawan teriknya matahari. Lelah dan letih sudah pasti ia rasakan.

Bunyi hiruk pikuk dan suara bising mesin kendaraan di jalan raya. Menemani langkah demi langkah kaki Anin, yang beralaskan sepatu sendal tipis berwarna coklat muda. Dengan penuh asa, sembari menenteng tas besar ia terus berjalan di pinggiran trotoar jalan tersebut.

Terik matahari menerpa kulitnya yang putih ranum. Membuat tetesan peluh mengucur dari kening hingga lehernya. Sesekali ia kembali meneteskan air mata. Dengan wajah lesu, ia terus berjalan.

"Oh Tuhan, kemana aku harus pergi? Aku sudah tidak punya siapa - siapa lagi di dunia ini selain Ayah, yang sudah meninggalkanku," keluh batinnya pilu.

Rasa putus asa dan kebingungan, kini menyergap dirinya. Anin tak tahu harus apa. Hanya do'a yang bisa terus ia panjatkan di dalam hatinya. Sudah hampir satu jam ia berjalan. Di tengah kegundahan hatinya, hanya ada satu nama yang kini terbesit dalam benaknya. Yaitu Laras, teman waktu ia SMP dahulu. Anin pun mencoba menghubunginya melalui handphone jadulnya. Yang ia beli dari uang yang selalu ia kumpulkan, dari hasil berjualan kue untuk membantu penghasilan almarhum Ayahnya dulu. Semenjak lulus SMP, Anin memang tidak melanjutkan sekolahnya lagi. Karena ia tidak mau membebani almarhum Ayahnya. Yang hanya bekerja sebagai montir di sebuah bengkel motor kecil.

Anin pun memutuskan untuk menghentikan perjalanannya sejenak. Ia merehatkan dirinya di sebuah kursi halte bus yang terletak di pinggir jalan tersebut. Sambil mengusap keringat yang ada di dahinya, ia mencoba menelpon sahabat lamanya itu. Beruntung ia masih menyimpan nomornya.

Nihil, sekali lagi ia harus menelan kenyataan pahit. Nomor yang ia tuju sudah tidak aktif. Karena sudah terlalu lama. Terakhir ia bertemu Laras dua tahun yang lalu, itu pun hanya sebentar saat Anin akan mengantar kue - kuenya kepada para pedagang di pasar. Laras mengaku kalau ia akan pindah keluar kota untuk mengikuti kedua orang tuanya. Yang berpindah tugas dalam bekerja.

"Huuff ..." hembusnya kecil sembari mendongakkan wajahnya ke atas langit -langit bangunan itu.

Keputusan asaan kembali menghantui pikirannya. Sembari mengigit bibir bawahnya, Anin berusaha untuk tetap berpikiran jernih. Ia yakin akan ada solusi dan jalan keluar dari masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Dan Anin pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Di tengah - tengah perjalanan, dan dalam keadaan pikirannya yang kacau.

Tiba-tiba, kakinya tak sengaja menginjak sebuah kertas berupa selebaran. Selebaran tersebut berisi kalimat dengan semua huruf kapital.

Yang bertuliskan, LOWONGAN PEKERJAAN. DI CARI WANITA USIA SEKITAR 21 TAHUN. DI UTAMAKAN PINTAR MASAK, MEMBERESKAN RUMAH, DAN MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA LAINNYA. MINAT HUBUNGI NOMOR YANG TERTERA. ATAU BISA LANGSUNG BERKUNJUNG KE ALAMAT YANG TERSEDIA. Bak pucuk di nanti ulam pun tiba. Anin langsung meraih kertas tersebut.

Wajahnya berbinar, setelah ia membaca selebaran tersebut. Dengan percaya diri, ia yakin kalau ia memenuhi syarat - syarat yang di ajukan.

Karena selama ini, memang dirinyalah yang mengerjakan semua tugas rumah. Atas perintah Ibu tirinya yang kejam. Anin berpikir kalau orang yang menyebarkan selebaran tersebut, kini tengah mencari seorang asisten rumah tangga. Tanpa pikir panjang dan dengan tekad yang bulat, Anin pun segera menuju ke alamat tersebut.

"Aku yakin, aku pasti bisa ..." ucapnya sumringah dengan senyum yang mengembang di bibirnya sembari menggenggam erat selebaran tersebut.

Susah payah Anin berjalan, karena tas besar yang sedari tadi ia tenteng. Akhirnya, ia sampai pada alamat yang ingin ia tuju.Terlihat, ada kemungkinan 15 orang gadis yang seusia dengannya.

Mereka nampak berdiri di depan pintu gerbang, berupa pagar besi besar menjulang tinggi ke atas. Yang di dalamnya terdapat sebuah rumah, bak istana di film kerajaan. Anin terkesima melihat rumah tersebut. Harapannya begitu menggebu agar bisa di terima bekerja di dalam rumah semegah itu.

Nampak dua orang penjaga atau satpam yang sedang membukakan pintu pagar, untuk menyuruh para gadis - gadis itu segera masuk. Karena hari itu juga seleksi akan di adakan. Tak mau ketinggalan, Anin pun juga bergegas ikut masuk. Meski dengan jalan yang sedikit lambat karena sesuatu yang membebani lengannya. Anin berusaha berjuang, karena menurutnya ini salah satu kesempatan yang harus ia dapatkan demi menyambung hidupnya.

Di dalam rumah.

Belasan para gadis itu dipanggil satu per satu, oleh seorang perempuan yang berusia sekitar 45 tahun. Tampilan perempuan itu menyatakan kalau ia adalah salah satu asisten rumah mewah itu. Pakaiannya rapi, dan ia mengenakan seragam khusus untuk pelayan. Perempuan itu nampak sangat berwibawa.

Dengan santun, ia menuntun para gadis - gadis itu, untuk satu persatu di wawancara. Ke satu ruang yang telah di ditentukan oleh sang majikan.

Pemandangan tersebut membuat Anin, menjadi sedikit khawatir dan curiga. Dalam hati ia bertanya - tanya. Siapakah perempuan itu? Apakah dia pelayan di rumah semegah itu? Kalau ia, kenapa sang majikan ingin mencari seorang gadis yang harus pandai memasak dan telaten mengerjakan pekerjaan tugas rumah tangga lainnya.

Pertanyaan beruntun itu, kini tengah merasuk di pikiran Anin. Hingga membuatnya tak sadar kalau ia kini tengah di panggil. Dan sekarang adalah gilirannya.

"Nona!" sapa perempuan itu ramah.

Anin masih diam mematung. Raut wajahnya terlihat cemas. Anin jadi berpikir yang bukan - bukan.

"Nona, Non ..." panggil perempuan itu lagi sembari mendekat ke samping Anin hingga menepuk pundaknya.

Merasa ada yang menepuk bahunya. Seketika Anin kaget dan dia menjadi tersadar.

"I_iya saya, ada apa? Kenapa?" sahut Anin tergagap.

Perempuan itu tertawa kecil melihat tingkah Anin. Wajah Anin yang polos membuat perempuan itu memaklumi apa yang sedang Anin pikirkan. Karena dirinya memang cukup berpengalaman.

"Sekarang giliran kamu," jelas perempuan itu kembali mengulas senyum.

Anin nampak menjadi canggung. Hatinya terasa gugup dan dag dig dug. Aneh memang mencari seorang pembantu saja harus di adakan wawancara. Perempuan itu pun meraih tangan Anin dan menuntunnya lembut, untuk segera berjalan ke ruangan yang akan di tuju. Anin kembali menenteng tas besarnya.

Perempuan itu melirik ke arah tas besar yang di bawa Anin. Raut wajahnya berubah, matanya menyipit dan ia terlihat berpikir.

"Sudah, tinggal saja tas Nona di sini! Nanti kita juga akan kembali ke ruang ini kok, kalau Nona sudah selesai diwawancara," tegas perempuan itu.

Anin hanya mengangguk. Ia menurut, dan mereka berdua pun segera berjalan ke arah ruangan yang dimaksud.

Sesampainya di depan pintu ruangan itu.

Tok ...tok ...

Perempuan itu mengetuk pelan pintu tersebut. "Nyonya, ini saya bawa gadis yang terakhir."

Panggilnya dengan nada sopan.

"Bawa dia kesini!" sahut suara dari dalam.

"Ayo," ajak perempuan itu pada Anin.

Dan mereka berdua pun masuk, kedalam sebuah kamar yang lumayan besar. Dengan desain interior khas dari luar negeri. Bernuansa estetik, lengkap dengan perabotan mewah yang pastinya bernilai fantastis. Anin mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. Ia begitu takjub. Belum pernah ia lihat kamar semewah, dan semegah itu.

Nampak dari salah satu sudut ruangan tersebut, ada seorang wanita yang berpenampilan cukup anggun. Dari gurat di wajahnya ia terlihat seusia dengan Ibu tirinya Anin. Rambutnya yang di sanggul begitu rapi, serta berpakaian mewah dengan gaya elegan. Ia duduk di samping pinggiran ranjang di atas kursi yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang memukau.

Bab 2

Wanita anggun itu, menatap Anin dengan seksama. Dari atas kepala hingga ujung kaki. Ia tersenyum, dan terlihat sangat manis.

"Ayo ke sini ..." perintahnya menyapa dengan hangat. Pada Anin, yang nampak tercenung dan berdiri di samping perempuan pelayan itu.

Perempuan itu melirikan matanya ke samping. Ia berusaha meyakinkan Anin yang terlihat sedikit takut. "Mari," ajaknya seraya menggandeng tangan Anin untuk mendekati wanita anggun tersebut.

"Siapa nama kamu?" tanya wanita anggun itu lembut pada Anin yang berdiri di depannya sambil tertunduk malu.

"Anindya Putri, Nyonya," sahut Anin mengangguk segan.

"Nama yang bagus." ujarnya kembali menarik bibirnya tersenyum.

"Kamu bisa mengerjakan tugas rumah?" tanyanya pada Anin.

Anin kembali mengangguk, "Iya Nyonya saya bisa mengerjakan semua tugas rumah."

"Contohnya?" sahut wanita itu ragu.

"Saya bisa masak, membersihkan rumah, mencuci pakaian," Anin terhenti sejenak seraya menoleh ke arah kaca jendela kamar wanita anggun tersebut.

"Bahkan saya bisa menata kebun," tambah Anin lagi.

Wanita itu tertawa riang mendengar penjelasan Anin.

"Bagus," jawabnya manggut - manggut.

"Tapi, bicara saja tidak cukup kalau kamu memang benar bisa mengerjakan pekerjaan rumah," sambungnya serius.

"Maksud Nyonya?" tanya Anin bingung.

"Tunggu sebentar ..." sahutnya seraya mengangkat tangan.

"Lunar," panggil Nyonya itu kepada sang pelayan. Tanpa ba - bi - bu, pelayan itu terlihat sudah mengerti apa yang di perintahkan sang majikan. Ia pun beranjak dari kamar tersebut dan keluar meninggalkan Anin dan Nyonya yang masih menunggu di dalam.

Dua menit kemudian sang pelayan tersebut, datang dengan mendorong satu buah meja persegi. Yang di bawahnya terdapat roda - roda kecil di kaki - kaki meja itu.

Pelayan itu mendorong meja tersebut hingga ke hadapan Anin. Anin diam, ia terlihat sangat tenang. Di atas meja tersebut, ia melihat ada satu buah pisau dapur, talenan, serta sayur - sayuran seperti wortel, dan bawang bombai. Serta satu kantong teh, satu toples kecil gula pasir. Yang tempatnya terbuat dari keramik. Dan terakhir teko air panas dan cangkir kecil lengkap dengan ukiran indah di depannya, yang juga terbuat dari keramik.

Nyonya itu menatap Anin, ia mendelikan matanya tajam. "Kamu tahu, apa yang harus kamu lakukan?" ucapnya melempar pertanyaan.

Anin mengangguk. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Baginya itu mudah. Dengan cekatan Anin mengiris - iris wortel dan mengupas bawang bombai, yang ada di atas meja tersebut. Gerakan tangannya begitu lihai, nampak sekali ia telah mahir dengan pekerjaan yang berhubungan dengan memasak. Setelah itu, ia membuat secangkir teh hangat dengan bahan yang telah disediakan oleh Lunar sang pelayan.

Nyonya tersebut, begitu detail memperhatikan gerak - gerik tangan Anin. Ia tak mau terlewatkan sedikit pun.

Setelah selesai Anin, menyajikan secangkir teh hangat yang telah tadi ia buat. "Ini, Nyonya," ucapnya seraya membungkukkan badan.

Nyonya itu pun menyambutnya. Dan, ia segera meminum teh itu dengan pelan. Wajahnya begitu berbinar setelah meminum teh yang Anin sajikan. Senyum lebar mengembang di wajahnya. "Teh buatan kamu sangat nikmat," pujinya kagum.

Anin pun tersenyum kecil.

Lalu ia bertanya, "Bagaimana dengan irisan wortel dan bawang bombai yang Saya kupas Nyonya?"

Nyonya tersebut mengangkat kedua alisnya. Dan kedua matanya yang terlihat melebar. Ia menaruh secangkir teh hangat yang ia sruput tadi, ke atas meja.

"Ya, lumayan. Saya rasa kamu cukup telaten dalam mengerjakan tugas - tugas rumah," sahutnya datar.

Anin menghela nafasnya. Ia bisa sedikit berbangga diri atas pujian yang diberikan Nyonya anggun tersebut. Namun ia belum cukup puas. Karena ia belum tahu, apakah dirinya telah diterima atau malah sebaliknya.

Dan Nyonya tersebut, melirikan matanya ke arah Lunar. Lunar yang sudah mengerti, dengan kode yang diberikan. Seketika mengangguk.

"Baik Nona, ujian kali ini selesai. Nona bisa tunggu di luar bersama yang lainnya ..." suruh pelayan itu.

Sembari mengulas senyumnya Anin mengangguk, tanda setuju. Dan ia pun keluar bergabung dengan yang lain. Sementara Lunar sang pelayan masih di dalam bersama wanita anggun, yang biasa di panggil Nyonya tersebut.

Mereka berdua berdiskusi.

"Jadi, bagaimana Nyonya?" ujar Lunar memulai pembicaraan.

Si Nyonya menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"Saya tidak tahu, apakah pilihan saya tepat atau tidak. Tapi dari sekian banyak gadis yang baru saja di uji. Saya sangat tertarik, dengan yang terakhir," jelasnya mantap.

"Baiklah kalau memang gadis itu yang menjadi pilihan Nyonya. Saya akan mengumumkannya di luar," tukas Lunar seraya melangkah keluar meninggalkan ruang kamar.

Lunar kini telah berada di tengah -tengah para gadis tersebut. Raut wajah mereka terlihat cemas dan penuh harap. Mereka tak sabar, untuk mengetahui siapakah yang akan dipilih. Begitu pun Anin, yang memiliki harapan begitu besar untuk diterima di rumah megah tersebut. Anin sudah terlampau bingung, kemana ia akan mencari berteduh.

"Kalian pasti penasaran bukan, siapa yang akan Nyonya pilih ..." ucap Lunar membuka pembicaraan. Ia menghela nafasnya sejenak. "sebenarnya kalian semua bagus, dan memiliki kemampuan yang sangat baik. Tapi sayang, hanya satu yang akan dipilih Nyonya yang terbaik dari yang terbaik. Dia adalah Anindya Putri," jelas Lunar dengan wajah yang berbinar.

Anin yang mendengarnya terperanjat sekaligus terharu. Kalau ia akan terpilih di antara para gadis-gadis tersebut. Dan yang lainnya memasang tampang dengan raut kekecewaan.

"Untuk kalian yang tidak terpilih silahkan kalian bisa meninggalkan rumah ini," tegas Lunar memerintahkan.

Para gadis - gadis itu pun, serempak pergi meninggalkan rumah besar nan mewah tersebut. Kini hanya Anin yang tersisa. Ia dan Lunar masih berada di ruang tamu itu.

"Jadi, apa yang harus saya kerjakan Nyonya?" tanya Anin pada Lunar. Anin kini nampak menjadi begitu tegang.

Lunar tersenyum kecil menatap Anin.

Ia mengerti, kekhawatiran yang Anin rasakan.

Jangan panggil saya Nyonya. Santai saja Nona. Mari kita temui Nyonya lagi. Kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan," imbuhnya penuh teka - teki, seraya menggandeng Anin kembali.

Setelah mengantar Anin kembali ke ruangan, kamar Nyonya. Lunar permisi kepada mereka berdua, karena masih begitu banyak pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan.

"Saya dengar dari Lunar. Katanya kamu membawa tas yang begitu besar, mengapa?" tanya Nyonya pada Anin yang terlihat canggung.

"Em, itu_itu ..." sahut Anin terbata dan ragu untuk menjawab. Ia tak ingin Nyonya itu tahu kalau dirinya telah ditimpa masalah yang begitu besar.

"Kenapa? Apa kamu baru datang dari desa?" tebak Nyonya itu karena keheranan.

Merasa tak ada pilihan, Anin mengiyakan. Ia terpaksa berbohong kalau ia adalah seorang gadis yang datang dari desa dan ingin mengubah nasib dengan pergi ke kota.

"Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu lagi. Tapi apa kamu bersungguh -sungguh ingin melakukan pekerjaan ini?" tanya Nyonya kali ini seraya menatap Anin dengan raut wajahnya yang sangat serius.

"I_ya, saya serius Nyonya," sahut Anin mantap.

"Apa kamu bisa menyimpan rahasia?"

"Rahasia!? Maaf, apa maksud Nyonya saya tidak mengerti ..."

Nyonya menyeruput tehnya. Setelah menelannya, ia berusaha terbuka kepada Anin. Padahal saat itu, ia sangat takut kalau Anin akan menolaknya.

"Kamu tahu, apa tujuan saya mencari seorang gadis dengan menggunakan selebaran yang kamu dapatkan itu?"

Anin menggeleng, "Tidak Nyonya saya tidak tahu."

"Apa kamu bisa menebaknya?" Nyonya kembali membuat penasaran.

"Saya rasa Nyonya ingin mencari asisten rumah tangga", Anin mengucapkan tebakannya.

Nyonya tersebut mengulas senyumnya. "Ya! Mungkin sebagian orang berpikiran seperti itu. Andai saja saya jujur, kalau saya kini tengah mencari seorang Menantu. Pasti akan banyak para gadis yang akan datang ke rumah saya. Dan peluang untuk kamu yang terpilih, mungkin akan sangat kecil. Maka dari itu bersyukurlah pada takdir."

Deg. Mendengar penjelasan Nyonya tersebut panjang lebar, membuat jantung Anin berpacu lebih cepat. Benaknya kini di gruduk dengan segudang pertanyaan yang membuat pikirannya rumit.

"Apa saya tidak salah dengar, Nyonya ingin mencari menantu?" tanya Anin merasa sangat heran.

Sang Nyonya menyeruput kembali tehnya. Ia menatap Anin dalam. "ya, saya memang tengah mencari seorang menantu. Apa kamu bersedia menjadi 'menantu kontrak' saya?"

Anin terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan. Bagaimana dia bisa hidup satu atap dan tidur seranjang dengan lelaki yang tidak ia kenal sama sekali.

Sang Nyonya yang paham, akan kegundahan yang Anin rasakan. Langsung mengambil sikap. Ia mengambil sesuatu di dalam laci lemarinya, yang terletak di samping pinggiran ranjang. Benda itu sebuah kertas yang berisikan foto.

Nyonya tersebut memberikan foto itu, kepada Anin. Anin menyambutnya dan menatap seksama foto tersebut. Ia cukup terpukau, lelaki tampan memakai setelan jas dan kemeja. Dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis. Berhidung mancung, serta berkulit putih.

"Dia adalah Reivan Wijaya. Dia putra saya satu - satunya. Kamu bisa memanggilnya Reivan. Dia pria yang dewasa. Dan memang usianya terlampau lebih tua dari pada kamu."

Nyonya tersebut kemudian berbicara kembali. Ia menatap Anin yang kini terlihat ketakutan. Dan berusaha untuk menenangkannya.

"Kamu tenang saja. Reivan sudah mengetahui hal ini. Dan dia menyetujuinya. Sesungguhnya dia tidak ingin menikah sama seperti kamu. Tapi karena Neneknya, saya dan suami saya terpaksa melakukan ini," jelasnya seolah menunjukkan kewajiban.

"Mengapa!? Ada apa dengan Nenek Reivan Nyonya? Maaf saya lancang," sahut Anin dengan nada keingin tahuannya.

Nyonya tersebut nampak menarik nafas panjang. Raut wajahnya berubah. "Kamu bisa menyimpan rahasia?"

Anin mengangguk.

"Baiklah kalau begitu, saya akan jelaskan. Beliau Ibu saya bernama Zylvana. Saat ini dia tengah sakit keras. Dan, di akhir hidupnya Ibu saya saat ini hanya ingin melihat cucunya sudah menikah. Jelas Nyonya dengan mata yang mulai berkaca - kaca.

Bab 3

Nyonya tersebut berdiri tepat di hadapan Anin. Ia menggenggam erat kedua pundak Anin. Dan menatap Anin begitu lekat. "Saya memilihmu, karena saya percaya denganmu. Dan, Kamu bisa menyimpan rahasia ini. Tenang saja Reivan lelaki yang baik. Dia akan menuruti apa perkataan Saya. Dan selama pernikahan kontrak kalian Saya pastikan dia tidak akan menyentuhmu. Bagaimana, apa Kamu bersedia?"

"Saya bersedia Nyonya," sahut Anin mantap.

Nyonya mengulas senyum lebar. "Terimakasih, kamu telah mau menjadi menantu kontrak Saya. Saya berjanji selesai kontrak pernikahan kamu dan Reivan Saya akan memberikan imbalan setimpal atas bantuan yang kamu lakukan", ucapnya seraya menitikkan air mata.

Anin menatap sedih wanita paruh baya tersebut. Hatinya yang tulus, tak mengharap imbalan. Ia hanya ingin membantu keluarga tersebut atas dasar kemanusiaan. Walaupun ia tahu keluarga tersebut kaya raya.

Nyonya mengusap air matanya. Ia kembali mengulas senyumnya. "Sudahlah Saya terlalu terbawa suasana, sehingga Saya tidak bisa mengendalikan perasaan Saya."

Anin balas tersenyum. "tak apa Nyonya. Saya mengerti apa yang Nyonya rasakan."

"Sebaiknya kamu beristirahat. Kamu pasti sangat lelah. Saya akan suruh Lunar, untuk mengantar kamu ke kamar tamu."

"Ya," sahut Anin singkat.

Sang Nyonya memanggil Lunar menggunakan telepon rumah yang ada di kamarnya. Rumah tersebut sangatlah besar, bak istana. Sehingga di setiap sudut ruangan terpasang telepon yang di gunakan untuk memanggil semua para pelayan.

"Maaf Nyonya, kalau boleh Saya tahu Nyonya Lunar itu siapa?" tanya Anin yang masih penasaran.

"Dia adalah kepala pelayan di rumah ini. Dia yang paling di percaya. Karena sudah berpuluh - puluh tahun lebih ia mengabdi di rumah ini. Waktu dia pertama kali datang ke rumah ini, usianya lebih muda dari pada kamu."

"Oh begitu, maafkan saya yang terlalu banyak bertanya," ucap Anin tak nyaman.

"Tidak apa-apa. Itu hal wajar, karena kamu masih terlalu baru di sini," sahut Nyonya maklum.

Tak berapa lama Lunar pun datang. Ia mengetuk pintu pelan. "Permisi, ada apa Nyonya?" ucap Lunar yang sudah berdiri di depan pintu.

"Tolong kamu antar Anin ke kamarnya. Biarkan dia beristirahat ..." perintah Nyonya lembut.

"Baik Nyonya," ucap Lunar patuh.

"Mari Nona," ajak Lunar ramah. Mereka berdua pun keluar dari ruang kamar Nyonya tersebut. Selanjutnya berjalan melangkah menuju kamar tamu. Sesampainya di kamar tamu, Lunar mempersilahkan Anin untuk segera masuk.

"Sementara Nona di sini, Nona bisa tidur dan istirahat di sini. Kalau Nona butuh sesuatu silahkan hubungi saya", ucap Lunar membeberkan.

Anin mengangguk, "Ya terimakasih," sahut Anin senang. Setelah mengantar Anin Lunar segera pergi meninggalkan Anin sendiri di kamar tersebut. Namun tanpa di duga Anin mencegatnya.

"Tunggu!" ucap Anin mengejutkan.

Lunar pun berbalik menoleh ke arahnya. Ia terpaksa menghentikan langkahnya. "Iya, ada apa Nona. Kamu perlu sesuatu?" tanya Lunar dengan raut wajah khawatir.

Anin menggeleng. "tidak. Sebenarnya saya tidak butuh sesuatu. Tapi apakah Anda bersedia meluangkan waktu Anda sebentar?"

Lunar melepas senyumnya. "iya, boleh saja. Memangnya ada apa ..." tanyanya merasa heran.

Raut wajah Anin, menjadi berubah. Pipinya memerah, dan terlihat bersemu. Lunar yang melihat raut wajah Anin seperti itu menjadi penasaran. Ia menerka - nerka apa yang sedang ada di pikiran gadis manis tersebut.

"Emm ..." ucap Anin malu - malu seraya menunduk.

Lunar tertawa kecil, melihat tingkah Anin. Ia mengangkat dagu Anin lembut dan menatap Anin dengan penuh kasih sayang. "Ayo bicaralah, jangan sungkan," ucap Lunar meyakinkan.

"Saya dengar dari Nyonya kalau Ibu sudah puluhan tahun bekerja di rumah ini. Maaf boleh saya memanggil anda Ibu?" tanya Anin canggung.

"Tentu saja boleh," jawab Lunar senang.

"Kalau begitu Ibu pasti tahu, tentang Pak Reivan ..." ucap Anin terus terang.

Mendengar nama Reivan, Lunar menjadi merasa geli. Akhirnya ia paham apa yang ingin di tanyakan gadis tersebut. "Oh Nak Reivan," sahutnya sedikit tertawa.

Dan Anin pun semakin bertambah malu.

"Maaf kalau pertanyaan Saya mungkin sedikit aneh," ucap Anin salah tingkah.

Lunar membelai lembut rambut panjang Anin. Ia menatap Anin dengan penuh perhatian. Melihat Anin, yang kini ada di hadapannya. Ia jadi teringat, anak perempuannya dulu saat ia masih kecil. Lunar terpaksa meninggalkan anak gadisnya itu karena peristiwa yang begitu menyakitkan. Ia di fitnah dan ia di usir oleh Ibu mertuanya sendiri dari rumah. Kalau saja, saat ini ia masih bersama keluarganya. Mungkin anak perempuannya itu kini telah beranjak remaja seusia dengan Anin.

"Tak apa Nona menanyakan tentang Nak Reivan. Itu pertanyaan yang wajar. Nak Reivan, usianya mungkin lebih tua dari pada kamu. Dia pria yang baik, dan supel. Dia bertanggung jawab, dan bijak seperti Nyonya. Tetapi dalam hal apapun, Nak Reivan sangat selektif. Sedari kecil dia memang seperti itu cenderung pemilih," jelas Lunar detail.

Anin terdiam ia hanya manggut -manggut.

Lunar menatap Anin dengan keibaan. "Bagaimana, ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tawar Lunar lagi.

Anin menggeleng, "Tidak Bu! Saya rasa cukup," sahut Anin mengerti.

"Ya sudah, saya permisi dulu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kalau butuh sesuatu," pesan Lunar mengingatkan seraya menatap Anin tersenyum dan membelai lembut wajah Anin.

"Ya Bu," sahut Anin singkat. Lunar pun melangkah keluar dari ruang kamar tersebut meninggalkan Anin sendirian.

Sepeninggal Lunar, Anin mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruang kamar tersebut. Anin mengamati satu-persatu benda-benda yang ada di ruangan itu. Entah mimpi apa ia semalam, semuanya nampak begitu indah dan tak nyata baginya. Kamar yang cukup luas, ranjang mewah, semua itu terasa mimpi baginya. Anin bahagia, ia merasa sangat bersyukur dengan takdir yang ia jalani kini. Dengan hati yang penuh bunga, Anin segera menikmati kemegahan dan kesenangan dalam hidupnya kini. Ia pun menghempaskan dirinya ke atas kasur yang begitu empuk. Rasa lelah yang menimpanya tadi seolah terbayarkan. Sembari menutup mata. Anin terlarut dalam kenyamanan. Belum lima menit ia menikmati waktu istirahatnya. Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara seseorang dari luar.

Suara itu, seperti suara seorang pria.

Anin yang penasaran, mengurungkan niatnya untuk berbaring. Ia beranjak dari kasur tersebut, dan melangkah menuju ke depan pintu. Sembari menempelkan telinganya, ke dinding. Karena memang jarak kamarnya begitu dekat dengan ruang tamu.

"Siang Bik," sapa pemuda itu hangat.

"Siang Nak Reivan. Tumben kok pulang lebih awal? Biasanya juga sore," sahut Lunar yang sedari tadi masih berada di sekitar ruang tamu.

"Tadi, Mamah telpon katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi Aku pulang lebih awal Bik," jawab Reivan sang pemuda tersebut.

Lunar tersenyum, "Nyonya memang tak sabar."

"Maksud Bibi?" tanya Reivan heran.

"Sudah! Mending Kamu temui Nyonya sana ..." balas Lunar dengan senyum lebar.

Deg.

"Tuan Reivan? Dia sudah datang ..." batin Anin sedikit gugup. Setelah menguping percakapan dari balik dinding kamar tersebut.

"Dan Nyonya sekarang akan berbicara dengannya. Untuk pernikahan kami, secepat itu?" terka Anin dalam benaknya.

Di ruang kamar Nyonya.

"Siang Mah," sapa Reivan seraya membuka pintu kamar. Sang Nyonya pun menoleh. "Siang sayang," balas Ibunya menatap Reivan tersenyum. Seraya meletakkan buku yang baru saja ia baca ke atas meja. Serta melepaskan kacamatanya. Reivan menghampiri Ibunya dan duduk di sampingnya. "Ada apa Ma?" tanya Reivan dengan nada serius.

"Masih bersangkutan dengan Nenek kamu. Reivan, Mamah sudah menemukan seorang gadis yang tepat untuk kamu nikahi," jelas sang Nyonya.

"Dia persis seperti sosok gadis yang Nenek kamu inginkan," imbuh Nyonya lagi.

Mendengarnya Reivan sedikit terkejut. Ia tak menyangka Ibunya akan menemukan sosok gadis yang di inginkan Neneknya secepat itu.

"Mamah yakin dia gadis yang tepat?" ungkap Reivan ragu.

Nyonya mengangguk, "Iya sayang Mamah yakin. Dia sekarang sudah di rumah kita. Mamah akan kenalkan kalian saat makan malam nanti."

"Oke Mah, semuanya terserah sama Mamah. Apapun itu mungkin memang dia yang terbaik," ungkap Reivan pasrah.

Setelah percakapannya dengan sang Ibu. Reivan pun, keluar dari kamar Ibunya dengan perasaan sedikit tegang. Sebenarnya ia sangat - sangat tidak siap. Namun, ia tak punya pilihan lagi. "Entah gadis seperti apa yang di pilih Mamah," batin Reivan gusar seraya melangkah menuju kamarnya.

Sore hari...

Anin yang sedari tadi tidur nyenyak, akhirnya terbangun. Ia menggeliatkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya. Perlahan, Anin mulai membuka matanya. Rasa curiganya, yang masih merasa asing dengan rumah tersebut. Membuatnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kamar tidur tersebut. Kali saja ada orang yang datang benaknya. Tak terlihat siapa pun. Hanya ada dirinya sendiri. Anin pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur tersebut dan memilih untuk mandi. Tetapi tiba-tiba pikirannya teralihkan saat pertama kali ia datang ke rumah itu. Ia melihat halaman samping, yang begitu luas. Yaitu sebuah kebun bunga yang di sulap menjadi sebuah taman. Sangat indah. Anin tergoda untuk berjalan-jalan ke tempat itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mandi. Dan memutuskan keluar kamar, untuk menuju taman tersebut. Dengan niat merileksasi hati dan pikirannya. Memang perasaan Anin saat ini tengah resah dan cemas.

Ia pun berjalan melangkah, hingga menuju taman. Anin begitu takjub dengan kebun bunga yang kini ada di depan matanya. Wangi aroma bunga semerbak, menusuk indra penciumannya. Udaranya begitu segar, meski sore hari. Anin tertarik untuk menciumi bunga-bunga tersebut satu-persatu. Gadis lugu nan polos ini, begitu terbuai dengan keindahan dan kenyamanan taman itu. Ia sangat menikmatinya. Membuatnya merasa betah berlama - lama tempat tersebut.

Sementara Reivan yang sedari tadi juga berada di rumah. Meluangkan waktunya sejenak untuk melakukan olahraga nge-gym. Ia terbiasa melakukannya di sela-sela kesibukannya bekerja. Ia melakukan kegiatan tersebut di ruang kamarnya, yang memang sudah di fasilitasi berbagai macam benda-benda untuk kebutuhan pria dewasa sepertinya. Sama seperti Nyonya dan Tuan. Kamar Reivan terletak di lantai atas. Dengan jendela kaca yang cukup besar. Jendela tersebut sengaja dibuat agar mereka dapat menikmati pemandangan taman bunga yang memang di buat menghadap ke arah samping ruang kamar.

Puas berolahraga membuat Reivan cukup kelelahan. Dan menimbulkan rasa dahaga. Reivan pun berjalan menuju dekat jendela kaca di kamarnya, di mana di sudut samping jendela tersebut ada sebuah meja yang di gunakan untuk meletakkan botol air minum dan cemilan. Reivan mengambil botol air minum tersebut, untuk membasahi tenggorokannya.

Selagi ia minum, tanpa sengaja pandangannya mengarah ke kebun. Ia kaget ketika melihat seorang gadis yang berparas cantik, dengan rambut panjang, berkulit putih, dan bertubuh mungil. Berada di tengah - tengah area kebun bunga tersebut. Kejadian itu membuat Reivan tersedak dan bajunya menjadi basah terkena tumpahan air. "Siapa dia!?" teriak batin Reivan penasaran.

"Apa dia mau mencuri?" ucapnya emosi. Rasa geram dan penasaran pun, membuat Reivan memutuskan untuk segera keluar dari kamarnya. Dan memutuskan untuk turun menemui gadis yang tadi ia lihat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED