“Ini makanan sisa untukmu, cepat habiskan!”
Marcel melirik piring-piring yang berisi ceceran nasi yang tidak utuh, tulang-belulang ayam yang masih melekat dagingnya sedikit, dan juga sayur sop yang tinggal kuahnya saja.
“Makan di lantai, seperti biasa.”
Marcel menunduk dan menatap istrinya, Shirley.
“Kamu tega suruh aku menghabiskan makanan sisa dari saudara-saudaramu?” tanya Marcel dengan nada protes, sementara wajahnya mengernyit enggan ke arah piring-piring itu.
“Memangnya kenapa?” balas Shirley dengan alis terangkat sebelah. “Kemarin-kemarin juga begitu kan? Makan saja, daripada kamu mati—itu akan lebih merepotkan dibandingkan ayah ibu kamu yang lari tanpa tanggung jawab.”
Marcel mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia melawan, tapi tidak bisa. Karena orang tuanya yang gagal dalam penelitian, Marcel terjebak dalam ikatan pernikahan dengan Shirley harus menebus seluruh kerugian yang diderita keluarga Delvino dengan mengabdikan seluruh hidupnya.
“Aku tidak mau makan hidangan sisa kakak-kakakmu,” kata Marcel datar, lebih baik dia mati kelaparan daripada mati keracunan karena menyantap makanan sisa itu lagi.
“Ini masih enak, dan ini makanan baru!” hardik Shirley sambil membanting salah satu piring di atas meja, membuat bunyi gebrakan yang menyakitkan telinga.
Juga sekaligus menggores harga diri Marcel sebagai seorang suami.
“Sisa makanan baru maksud kamu?” tanya Marcel memperjelas. “Tetap saja aku tidak akan makan.”
Shirley melotot dengan mata terarah kepada Marcel.
“Sejak kapan kamu boleh bantah aku?” balas Shirley. “Kamu di sini itu untuk menebus kerugian yang sudah ditimbulkan kedua orang tua kamu! Kalau bukan karena mereka, ayah ibu aku tidak akan kehilangan banyak uang gara-gara penelitian bodoh kalian!”
Marcel hanya bisa diam karena memang dia sudah dijadikan penebus kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Dia ia dilarang melawan apa pun yang menjadi kehendak keluarga Delvino, termasuk anak-anak mereka yang kelakuannya tidak memiliki adab.
“Kamu harus makan karena aku tidak mau kamu sakit,” tegas Shirley lagi. “Kalau kamu sakit apalagi mati, maka kami akan menderita kerugian lebih besar lagi.”
Belum sempat Marcel menanggapi, beberapa orang laki-laki memasuki dapur dengan langkah-langkah cepat.
“Apa ini?”
“Kenapa meja makan masih berantakan?”
Shirley menoleh ke arah keempat kakak laki-lakinya.
“Oh, ternyata si bodoh itu belum makan juga dari tadi ....”
“Tunggu dulu, Kak!” cegah Shirley ketika salah satu kakaknya, Ronnie, akan melempar Marcel dengan segayung kuah sop yang penuh lemak. “Aku sedang berusaha membujuknya!”
Marcel berdiri membeku ketika Ronnie dan adik-adiknya yang lain maju mendekati titik di mana dirinya berada bersama Shirley.
“Makan ini!” perintah Ronnie tegas tanpa bisa dibantah.
“Aku tidak mau,” geleng Marcel lirih.
“Berani kamu menolak?” tanya Ronnie dengan seringai bengis. “Kami tidak mau kalau kamu sampai sakit! Jadi cepat makan, setelah itu kerja!”
Marcel tetap berdiri bergeming.
“Kamu itu sudah miskin, ditinggal orang tua, masih bisa-bisanya sombong dan tidak tahu diri!” sembur kakak Shirley yang lain, Ciko. “Ingat kalau kamu harus membayar semua kerugian yang ditimbulkan ayah ibu kamu!”
Marcel merasakan telinganya memanas, tapi dia tidak memiliki daya untuk melawan sikap semena-mena saudara iparnya.
“Sudah, pegangi saja dia!” suruh Ronnie sambil menoleh ke arah adik-adiknya.
“Kak, jangan dikeroyok!” cegah Shirley dengan wajah tegang.
“Kamu ngapain bela suami kamu ini? Mulai jatuh hati sama dia, ya?” ejek Ciko yang lebih dulu maju untuk membelenggu Marcel.
“Mau apa kalian?” tanya Marcel saat keempat kakak laki-laki Shirley mendekat padanya.
“Kan sudah aku bilang tadi, kamu makan saja!” sergah Shirley. Bukan dia mengkhawatirkan kondisi suaminya kalau sampai dikeroyok, tapi lebih kepada risiko yang akan didapatkan mereka semua kalau Marcel sampai kenapa-napa.
“Kalian keterlaluan ...!” Marcel belum selesai berucap, tapi Ronnie sudah keburu menempeleng kepalanya dengan keras. “Ciko, ambil sisa nasi di piring itu! Yang lain pegangi dia!” perintah Ronnie.
Suasana di dapur milik keluarga Delvino seketika berubah riuh, apalagi ketika Marcel yang berontak dan sukses diredam oleh cengkeraman kakak-kakak iparnya.
Ronnie yang merupakan anak tertua segera menyodorkan sesendok nasi ke dekat bibir Marcel yang terkatup rapat.
“Makan!” gertak Ronnie dengan nada perintah yang mengintimidasi.
“Aku tidak mau, aku tidak lapar!” sahut Marcel menolak.
“Ini makanan banyak yang sisa lho, kamu jangan menyia-nyiakan rejeki!” cemooh Ciko sambil mencengkeram rahang Marvel dan memaksanya untuk membuka mulut.
“Kak, hentikan itu!” cegah Shirley berulang-ulang. “Aku masih bisa memaksanya dengan caraku sendiri seperti biasanya! Kalau dia lapar, dia pasti akan makan mau tidak mau!”
“Ck, berisi kamu!” Ronnie berdecak kepada adik bungsunya. “Kasih dia duduk di kursi.”
Ciko dan dua orang lainnya segera menyeret Marcel dan mendudukkannya dengan paksa di salah satu kursi yang ada.
Ronnie langsung membanting piring hingga beberapa nasinya terpercik ke permukaan meja. Kali ini tanpa menggunakan sendok, dia berniat memaksa Marvel untuk memakan habis semua sisa hidangan yang tadi disantap keluarganya.
“Makan!” Ronnie dengan tega meraup sekepal nasi menggunakan tangannya dan menjejalkan nasi itu ke mulut Marcel yang dipaksa untuk terbuka.
“Telan!” suruh Ciko sambil mencengkeram rahang Marcel semakin erat.
“Kak, sudah! Nanti dia bisa mati tersedak!” cicit Shirley yang tidak sampai hati melihat suaminya dikerjai kakak-kakaknya sedemikian rupa.
“Jangan ikut campur kamu!” gertak Ronnie. “Dia harus dikasih makan, biar ada tenaga untuk kerja!”
“Tapi ... ayah sama ibu juga tidak akan setuju dengan perbuatan kalian!” seru Shirley gusar.
Marcel harus susah payah menahan napas sementara rongga dadanya mulai terasa sesak.
Kalaupun harus mati, dia rela mati sekarang daripada harus menebus utang-utang yang ditinggalkan orang tuanya dengan cara seperti ini.
Setelah memastikan Marcel tak berdaya, Ronnie menyodorkan tulang belulang ayam yang masih menempel sedikit dagingnya dan meraupkannya ke mulut adik ipar.
“Kak, sudah!” seru Shirley sambil mengentakkan kakinya, sementara Ronnie dan yang lain tertawa menyaksikan Marcel kesulitan menelan semua makanan sisa itu.
Di tengah kekacauan itu, Shirley hanya bisa berdiri pasrah karena tidak mampu menghentikan kegilaan kakak-kakaknya.
Setelah puas menyiksa Marcel, Ronnie segera meminta adik-adiknya yang lain untuk meninggalkan dapur.
“Lain kali suruh suami kamu jangan bertingkah lagi,” kata Ronnie dengan wajah puas.
“Minta dia untuk tahu diri sedikit, makan tidur masih numpang saja banyak gaya!” Ciko menimpali.
Shirley memajukan bibirnya tapi tidak berkata apa-apa ketika satu per satu kakaknya pergi meninggalkan dapur.
“Apa aku bilang?” cecar Shirley ketika Marcel merangkak terbungkuk-bungkuk sambil menahan perasaan ingin muntah. “Makanya kalau disuruh makan itu makan, bandel amat kalau dikasih tahu!”
Tanpa belas kasihan dan rasa hormat sedikitpun terhadap suaminya, Shirley memercikkan sisa air teh ke punggung Marcel. Setelah itu dia pergi meninggalkan dapur yang kondisinya sudah tidak keruan.
Marcel merasakan perutnya bergolak, piring-piring yang berserakan di atas meja menjadi saksi bisu saat dia muntah di tempat sampah yang terbuka.
Bersambung—
Marcel mengusap bibirnya dengan air yang mengalir dari wastafel dapur. Bukannya kenyang, yang ada dia malah mual.
Tadi itu memang bukan pertama kalinya Marcel dipaksa untuk menghabiskan makanan sisa keluarga istrinya, tapi tetap saja lama-kelamaan dia muak dengan semua ini.
Kalau bukan karena beban yang ditinggalkan kedua orang tuanya yang memilih pergi tanpa tanggung jawab, dia tidak akan sudi menjalani hidup seperti sekarang.
“Saya bantu, Pak?” Suara seorang perempuan terdengar lirih mencapai telinga Marcel dan membuatnya menoleh.
Kepala pelayan yang bernama Nana langsung menyuruh beberapa orang untuk menyingkirkan piring-piring kotor dari atas meja dan menaruhnya ke dalam gak cucian. Satu lagi diimbau untuk membuang sisa nasi dan tulang yang berceceran di lantai.
“Tidak usah, Bi. Nanti kalian bisa kena hukum ...” sahut Marcel tidak kalah lirih karena lemas.
“Sebagian anggota keluarga sudah kembali ke kamarnya masing-masing, sebagian lagi pergi menggunakan mobil.” Anak dari Nana menyahut. “Bapak mau makan lagi, akan saya siapkan ....”
“Tidak usah, Eli. Terima kasih,” angguk Marcel sembari duduk di pojok dengan punggung bersandar sementara beberapa pelayan bahu membahu membersihkan dapur.
Memang hanya mereka yang menaruh hormat kepada Marcel sebagai menantu di rumah keluarga Delvino, meski saat penindasan berlangsung, tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya karena risiko dipecat.
Begitu tubuhnya sedikit enakan, Marcel segera bangkit dan pergi menuju gudang yang terletak di luar rumah utama keluarga Delvino. Dia meniti tangga yang melingkar menuju ke ruang bawah tanah, di mana terdapat sebuah laboratorium yang sudah tidak beroperasi lagi sejak orang tuanya pergi tanpa jejak.
Memori Marcel berputar kembali di masa ketika dia tiba dijemput paksa dari kampusnya dengan alasan orang tuanya pergi meninggalkan surat perjanjian yang
Menyatakan bahwa Marcel harus mempertanggungjawabkan utang-utang yang ditinggalkan oleh orangtuanya.
Sejak saat itulah dia terjebak di lingkaran setan karena harus menikah dengan Shirley yang tidak menganggapnya sama sekali.
Kilas balik memori itu berakhir ketika Marcel menapakkan kakinya di atas lantai yang berlapis debu tebal setidaknya satu senti. Dia memang sudah bosan membersihkan lab itu karena kakak-kakak iparnya sering mengentakkan kaki mereka dengan sengaja sehingga membuat debu-debu berjatuhan di bawahnya.
“Aku ingin mengakhirinya,” gumam Marcel sambil melangkah mendekati salah satu lemari kaca yang berisi banyak tabung percobaan yang terbengkalai.
Dalam bayangan Marcel, semua cairan yang ada di dalam tabung itu setidaknya sudah kedaluwarsa dan bisa merenggut nyawa siapapun yang meminumnya.
Tanpa pikir panjang, Marcel membuka lemari kaca itu dan mengambil satu tabung kecil panjang yang berisi cairan berwarna biru elektrik.
“Untuk orang tuaku,” ucap Marcel sebagai salam terakhirnya. “Di mana pun mereka berada.”
Dengan sekali gerakan, Marcel langsung menenggak cairan itu sembari memejamkan kedua matanya.
Satu detik berlalu tanpa reaksi apa pun.
Marcel mengusap mulutnya dengan punggung tangan, setelah itu dia meletakkan tabung yang tadi diambilnya di atas meja.
Beberapa detik kemudian baru terasa sensasi yang tidak biasa di perut Marcel. Lambungnya bagai ada ombak yang pecah dan membentur organ-organ dalamnya, membuat Marcel mencengkeram perutnya erat, setelah itu dia terbungkuk di atas lantai kotor dengan sesuatu yang seperti menggigit-gigit setiap inci kulit tubuhnya.
Marcel mengeluarkan suara-suara aneh dari kerongkongannya, dia masih sempat berpikir bahwa itu adalah suara nyawanya ketika dipaksa meninggalkan tubuh yang tidak lagi stabil.
Ayah, ibu, selamat tinggal. Kalian tidak akan pernah bertemu denganku lagi, kata Marcel dalam hati sebelum akhirnya dia menutup mata ketika tubuhnya terkapar di lantai.
***
“Apakah si bodoh itu masih hidup?”
“Diam, Ciko!”
“Semua ini gara-gara Kakak, kan sudah aku bilang jangan main keroyokan!”
“Kamu diam saja, bocah ... bukankah kata dokter dia cuma keracunan?”
Marcel mendengar sayup-sayup suara yang sangat familiar di telinganya, suara itu terdengar begitu lirih seakan berasal dari tempat yang jauh.
“Apa dia akan selamat?”
“Memangnya apa yang kamu harapkan?”
“Kalau dia tidak selamat, kita yang akan rugi ....”
“Kak Ronnie yang harus bertanggung jawab dalam hal ini!”
“Berisik kalian ....”
Marcel mengerjabkan matanya, dan warna serba putih langsung masuk dalam penglihatannya begitu dia terbangun sepenuhnya.
Aku masih hidup? Batin Marcel tak percaya.
Mustahil! Bukankah dia telah meminum cairan kedaluwarsa yang ada di lab itu?
Bagaimana bisa dia masih hidup?
“Marcel bangun!” Mendadak ada yang menjerit dan membuat gaduh seisi ruangan.
“Cepat panggil ayah dan juga dokter!”
“Masih untung dia hidup, menyusahkan saja!”
Marcel masih terbaring diam karena tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepadanya.
Yang dia ingat adalah kejadian terakhir di dalam lab, mana kala Marcel berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.
Tidak berselang lama, seorang pria berjas putih muncul dan mengimbau orang-orang untuk meninggalkan ruangan tempat Marcel berada.
“Apakah dia akan pulih, Dokter?” terdengar suara Herman, ayah mertua Marcel.
“Saya harus memeriksa kondisi pasien dengan teliti,” jawab dokter yang menangani Marcel. “Yang pasti pasien berhasil melewati masa kritisnya dengan sangat mengesankan, jadi saya akan melakukan serangkaian pemeriksaan ....”
Marcel tidak lagi mendengarkan apa yang dokter itu katakan, dia masih terlalu bingung dengan situasi yang kini berlangsung di sekitarnya.
“Apa yang kamu rasakan, Cel?” tanya Herman setelah penjelasan dokter selesai.
Marcel membuka mulutnya, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar.
“Apa kerongkongannya bermasalah?” tanya Herman kepada dokter yang berdiri di sampingnya. “Karena itu dia tidak bisa bicara?”
“Kami akan terus melakukan pemeriksaan, Pak.” Dokter itu mengangguk. “Pasien bisa lolos dari masa kritisnya saja sudah sangat keajaiban karena cairan kimia yang ditelannya termasuk berbahaya ....”
Marcel memejamkan mata, berharap bahwa apa yang tengah berlangsung di depannya adalah mimpi belaka.
Dan dia kembali tertidur ....
Bangun-bangun, Marcel sudah berada di kamar pelayan yang ada di kediaman keluarga Delvino.
Kedua mata Marcel menyapu seluruh ruangan dan melihat Nana yang sedang melipat pakaian bersih.
“Bi ...” panggil Marcel dengan tenggorokan yang begitu kering.
Nana menoleh dengan ekspresi antara kaget dan tidak percaya.
“Syukurlah, Pak Marcel sudah bangun!” ucapnya sambil mendekati Marcel. “Saya ambilkan teh hangat dulu ya, Pak ....”
“Bi, kenapa saya belum ... belum dimakamkan juga?” tanya Marcel terbata.
“Dimakamkan?” sontak saja Nana mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Marcel. “Bapak masih hidup! Anda selamat, Pak!”
Marcel terbaring mematung, dan Nana meninggalkan kamar pelayan dengan nyaris berlari.
“Aku ... masih hidup?” gumam Marcel sambil mengerjabkan matanya berulang kali. “Bagaimana bisa?”
Dia ingat betul kalau dirinya benar-benar meminum cairan kimia itu sampai habis tak bersisa, jadi mustahil kalau dia masih selamat.
Marcel mencubit lengannya dan terasa sakit, tidak lama setelahnya dia menampar wajahnya sendiri berulang kali.
Dan ternyata dia memang masih hidup, ini bukan mimpi!
Bersambung—
Marcel mendengar cerita lengkapnya dari Eli. Ternyata pagi itu Marcel ditemukan dalam keadaan pingsan oleh penjaga rumah, dan langsung dibawa ke rumah sakit karena tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan dalam nadinya.
“Semua orang sudah berpikir yang tidak-tidak,” ucap Eli dengan wajah tegang, seakan kejadian itu baru saja terjadi kemarin hari. “Pak Marcel sama sekali tidak bergerak, pucat, dengan mata terpejam rapat ....”
Marcel bergidik, kenapa ceritanya terlihat lebih mengerikan dari kacamata orang lain?
“Tapi syukurlah Pak Marcel bisa sembuh dengan sangat cepat,” sambung Eli dengan wajah luar biasa lega. “Bahkan bisa beraktivitas seperti biasanya.”
Marcel yang baru saja membantu tukang kebun membabat alang-alang, mengangguk samar sambil beristirahat sejenak. Eli menuang dua cangkir teh hangat untuknya dan tukang kebun yang masih bekerja.
“Pak Marcel masih kuat?” tanya Mail, tukang kebun yang bekerja sedari pagi dengan Marcel.
“Masih, Pak!” angguk Marcel sambil tersenyum.
“Jangan dipaksakan, Bapak kan habis sakit.” Mail mengingatkan. “Sisanya biar saya yang selesaikan.”
“Terima kasih, Pak!” ucap Marcel, dia menghabiskan tehnya kemudian berdiri.
Setibanya di dalam rumah, dia disambut Ciko. Kakak kedua Shirley ini merupakan orang yang paling sering mengusiknya.
“Percobaan bunuh diri yang gagal ya?” Cemooh Ciko. “Kasihan, itu karena nyawa kamu masih terikat kontrak sama keluarga kami! Kecuali kamu lunasi utang-utang ayah ibu kamu, setelah itu kamu bisa bebas melenyapkan nyawamu!”
Marcel tidak menanggapi kalimat jahat yang dilontarkan Ciko kepadanya. Siapapun tahu, bahwa dia memang menjadi alat penebus utang atas kerugian yang ditimbulkan kedua orang tuanya terhadap keluarga Delvino.
“Cel, ke sini cepat!” teriak Shirley dari arah lantai dua kamar mereka.
Marcel segera berlari melompati anak tangga sekaligus dua sehingga cepat sampai di depan kamar Shirley.
“Ada apa teriak-teriak?” tanya Marcel kepada istrinya, dia selalu kagum dengan suara keras Shirley yang menjangkau bagian ruangan manapun di dalam rumah ini.
“Cepat kamu bawa baju-baju kotor aku ke belakang, kamu yang cuci ya?” perintah Shirley sambil menyodorkan sekeranjang pakaian kotor ke arah Marcel. “Ini ada gaun yang gampang rusak kalau pakai mesin cuci, jadi kamu harus kucek pakaian aku menggunakan tangan kamu. Ingat ya?”
Marcel tidak memiliki jawaban lain kecuali iya.
Setelah itu pekerjaan rumah tiada henti ditimpakan ke puncak Marcel oleh kakak-kakak iparnya, meskipun di rumah itu ada banyak pelayan yang bisa mereka suruh dengan leluasa.
Namun, mereka sengaja memerintah Marcel yang tinggal di sana sebagai penebus utang orang tuanya. Sehingga mulai dari pekerjaan berat sampai pekerjaan yang remeh temeh pun akan mereka bebankan kepada Marcel dan dianggap sebagai cicilan utang yang sah.
Ya, Marcel yang tidak punya warisan uang sepeser pun terpaksa menebus utang ayah ibunya menggunakan waktu dan tenaga yang dia miliki.
“Aku sudah selesai mengerjakan tugas-tugas rumah, jadi aku mau ke lab sebentar.” Marcel memberi tahu Eli. “Tolong sampaikan ke Bi Nana kalau dia atau yang lain tanya aku ke mana.”
“Baik, Pak!” angguk Eli. Dahulu dia dan pelayan lain sempat memanggil Marcel dengan sebutan tuan, tapi Ronnie melarang mereka.
“Dia memang menantu di rumah ini, tapi menantu yang jadi penebus utang.” Ronnie menjelaskan kepada para pelayannya ketika itu. “Jadi jangan ada yang memanggilnya tuan, ingat itu!”
Secara pribadi Marcel tidak mempermasalahkannya, dia justru muak jika ada yang memanggilnya dengan sebutan tuan.
***
Setibanya di lab yang berada di ruang bawah tanah kediaman Delvino, Marcel segera mengacak-acak lemari kaca yang berisi berkas-berkas tak terurus semenjak kepergian orang tuanya.
Menurut cerita, di lab itulah ayah dan ibu Marcel sering melakukan penelitian terhadap formula yang digadang-gadang bisa memperpanjang umur manusia. Namun, karena percobaan mereka tidak kunjung ada yang berhasil, maka keluarga Delvino menarik kembali uang mereka dan menuntut ganti rugi atas sebagian dana yang telanjur digunakan untuk percobaan itu.
“Ayah dan ibumu meninggalkan banyak berkas di sana,” kata Herman suatu kali. “kamu bisa memeriksanya kapan saja kamu mau.”
Dan di sinilah Marcel berada sekarang, di tengah tumpukan berkas-berkas yang menggunung dan penuh dengan coretan tangan kedua orang tuanya.
Selama beberapa saat, Marcel fokus membaca secara acak jurnal penelitian yang pernah mereka lakukan di lab. Selain itu, dia juga menemukan surat wasiat yang menyatakan bahwa Marcel berhak atas lab tersebut.
“Bukannya mereka belum meninggal?” gumam Marcel sambil geleng-geleng kepala. “Warisan macam apa ini?”
Tentu saja Marcel tak habis pikir kenapa kedua orang tuanya mewariskan sebuah lab kotor beserta tabung-tabung yang berisi cairan kimia sedangkan dia sendiri tidak mengerti untuk apa semua itu.
Namun, tunggu! Kedua mata Marcel mendadak melihat kalimat lain yang ditulis dengan jelas oleh ayahnya. Dia mulai membaca ulang kalimat demi kalimat yang tertera di dalam surat wasiat itu.
Ternyata mereka tidak hanya mewariskan sebuah lab bekas kepada Marcel, tapi juga lengkap dengan seorang ilmuwan yang bernama Meru dan putrinya, Venya.
“Apa? Melanjutkan kembali penelitian orang tua kamu?” Herman mengernyit ketika Marcel menghadap kepadanya di ruang kerja. “Untuk apa?”
Marcel berpikir sebentar, dia sendiri tidak tahu alasan pasti kenapa dirinya tertarik untuk melanjutkan penelitian kedua orangtuanya.
“Aku pikir tidak ada salahnya, Yah.” Marcel menjawab. “Karena ternyata orang tuaku juga meninggalkan seorang ilmuwan dan putrinya untuk ....”
Marcel menghentikan ucapannya ketika Herman tersenyum seolah meremehkan rencananya.
“Apakah ilmuwan yang kamu maksud adalah Pak Meru?” tebak Herman.
Marcel mengangguk dan berkata, “Betul, pak Meru dan juga putrinya yang bernama Venya.”
Herman kini tak tanggung-tanggung lagi melepaskan tawanya.
“Yang harus kamu tahu tentang Pak Meru adalah bahwa dia menjadi gila sejak orang tua kamu meninggalkan lab,” ujar Herman lambat-lambat. “Terus apa yang kamu harapkan dari seorang ilmuwan yang gila?”
Marcel terdiam cukup lama mendengar penjelasan mertuanya.
“Mungkin aku bisa minta tolong putrinya,” sahut Marcel kemudian. “Aku akan tetap mencobanya, Yah. Siapa tahu ada satu-dua penemuan orang tua aku yang berhasil, setidaknya itu bisa mengembalikan sebagian kerugian yang mereka timbulkan.”
Herman menarik napas panjang.
“Terserah kamu saja,” katanya tidak berminat. “Tapi saya pastikan kalau saya tidak akan mengundurkan sepeser pun dana lagi untuk membiayai penelitian kamu, sebaliknya kerugian akan bertambah besar seandainya penelitian yang kamu lakukan itu menimbulkan dampak yang tidak bagus di lingkungan rumah ini.”
Marcel tertegun, dia yang merupakan lulusan bisnis mana paham formula racikan kimiawi.
“Kalau kamu tidak berani ya tidak usah,” tegas Herman. “Risikonya tinggi, seluruh hidup kamu belum tentu cukup untuk melunasi semua utang mereka.”
Marcel menarik napas, kemudian pamit pergi dari hadapan Herman. Jujur nalurinya terusik setelah dia membaca apa saja warisan yang ditinggalkan ayah ibunya.
Bersambung—