"Mas? Bantuin Shafiya dong. Berat tau koper sama tas nya," Shafiya harus gerak cepat mengikuti langkah lebar sang suami. Tujuannya ialah terminal bis. Gandi--suaminya hanya menoleh sebentar. Kemudian lanjut jalan mengabaikan celotehan Shafiya.
"Punya suami gak peka. Gue dicuekin kiranya benda mati kah? Dimintai tolong malah lempengnya naudzubillah, untung sayang kalau gak?" gerutu Shafiya sesekali mengibaskan rambut cetarnya. Sengaja biar Abang becak atau supir angkot tau kecantikan seorang Shafiya Gina Adipati. Narsis? No comment deh. Gandi aja gak complain. Atau ngedumel dalam hatinya?
Cuaca sangatlah panas. Wanita itu haus mau beli minum namun takut ditinggalin Gandi ... suami dingin spek kulkas dua pintu. Bawa koper segede harapan orang tua. Tas gendong berisi peralatan make up dan segala perintilannya.
"Sebentar lagi sampai. Jangan misuh-misuh ke suami sendiri, nggak baik,"
Woah, sekalinya Gandi bicara Shafiya langsung kicep. Tidak bisa berkata-kata lagi. Ingat, surga istri ada pada suaminya. Toh, pria tersebut membawa pula satu koper milik Shafiya. Iya, bajunya banyak. Sementara Gandi hanya satu koper saja. Ukuran sedang lagi. Biasa bajunya irit. Gak suka belanja dia tuh.
Banyak asap alias polusi udara, berdesakan dengan penumpang lain, bau aroma ketiak bercampur aduk sungguh membuat Shafiya menahan mati-matian agar tidak muntah. Iyuh, dirinya menggerutu tiada henti dalam batinnya.
Kenapa Gandi tidak memesan bis full AC serta semerbak wangi? Ingin Shafiya membisiki kalimat itu tapi urung. Dia tau suaminya tengah mengatur uang tabungan kita. Meskipun Shafiya suka belanja, dirinya tetap tau diri menabung guna masa depan juga keperluan anaknya kelak. Walau kita belum dikaruniai buah hati selama dua tahun pernikahan, Shafiya dan Gandi tidak putus berdo'a memohon kepada Allah. Ikhtiar ditambah usaha. Setiap malam tak pernah absen olahraga di ran*an* kecuali Shafiya tengah menstruasi.
***
"Bangun? Kita udah sampai,"
Gandi mengusap lembut lengan Shafiya membuat si empu semakin ngantuk dalam tidurnya.
"Mau Mas tinggalin? Mas tau kamu cuma pura-pura tidur,"
Sebel deh, batin Shafiya segera membuka kedua matanya.
Mengkhayal ingin dibangunkan secara romantis ala drama Korea pupus sebab kecuekan Gandi yang minim romance. Tau ah, dia mendadak bad mood.
Rumah sederhana terpampang nyata di penglihatan Shafiya. Sudah lama wanita itu tidak mengunjungi rumah mertuanya. Terakhir kali mungkin ... enam bulan yang lalu. Sekarang dirinya dan suami akan menetap di sana.
Ternyata masih sama. Tanaman bunga berbagai jenis berjejer indah serta rapih, lalu pohon mangga mulai berbuah tetapi masih mentah belum matang. Dibuat petis siang begini enak kali ya.
"Assalamualaikum," salam Shafiya juga Gandi bersamaan.
Pintu berwarna hitam terbuka menampakkan dua sosok paruh baya beda genre. Iya, mereka kedua orang tuanya Gandi. Nampak Ibu mertuanya--Ratmi, menyambut kita penuh hangat. Senyuman itu. Shafiya amat merindukan beliau.
"Waalaikumsalam," jawab Ratmi tetapi suami beliau--Seto hanya terdiam. Oh iya, pendengarannya agak kurang. Efek faktor usia.
"Pak? Jawab salamnya atuh," Ratmi menyenggol lengan Seto pelan. Selanjutnya Gandi menyalimi kedua orang tuanya disusul oleh Shafiya.
"Hayuk masuk. Ibu atos nyiapken teh haneut sareng dadar gulung,"
Shafiya hanya bengong. Tidak menahu apa yang dibicarakan Ratmi.
"Kamu duluan masuknya," titah Gandi sembari mengangkat dagu nya. Idih, sok cool Mas? Emang cool sih.
Dirinya masuk setelah Ratmi dengan Seto lebih dulu beranjak.
Pukul tiga sore, hujan turun begitu lebat. Shafiya ketiduran saking lelahnya dan Gandi ada urusan sebentar ke luar.
Tes
Satu tetes air mengenai wajah Shafiya. Detik berikutnya air tersebut menetes semakin deras.
"Ugh, Mas Gandi iseng, ya?" lirihnya senantiasa memejamkan mata.
Merasa tidak ada sahutan, Shafiya pun melek.
"MAS GANDI?! ATAP KAMAR KITA BOCOR??" Shafiya bergegas turun dari kasur.
Teriakan membahananya sukses membuat Ratmi mengurungkan niatnya menuju kamar mandi. Dia khawatir. Apakah sang menantu kedapatan maling? Atau ada orang iseng ... hus, Ratmi menggelengkan kepalanya cepat.
"Aya naon, Neng??"
"Bocor, Bu, atap kamarnya,"
Empat kata cukup membuat Ratmi gelagapan. Dia kembali ke dapur guna mengambil ember.
Hah, belum ada sehari Shafiya harus kelimpungan menyelamatkan kasur juga lainnya menuju ruang tengah. Iya, kamar yang ditempatinya full bocor. Nasib ... nasib.
"Kapan atuh beli sawah di bos Marwan?" tanya Ratmi kepada Gandi.
Menikmati semilir angin di tambah cahaya senja sore hari. Ada pula pisang goreng dengan kopi buatan Shafiya. Duh, nikmat mana lagi yang engkau dustakan Ya Rabb?
"Gandi diskusikan dulu, Buk sama Shafiya,"
Ratmi mengangguk paham. Kunci keutuhan rumah tangga yaitu saling komunikasi atau tidak ada yang ditutup-tutupi. By the way, Shafiya rajin anaknya. Bangun subuh, beberes rumah, nyuci baju, menyapu halaman hingga menyiram bunga, dan terakhir ialah memasak.
Sosok menantu kedua Ratmi, patut di acungi empat jempol. Top markotop lah. Tidak seperti menantu pertamanya. Itu, istrinya si Nana. Manja sekali, rempong, dan anti minum yang dimasak dalam panci. Harus air galon. Makanya, setiap Nana dengan istrinya berkunjung dan menginap, Ratmi rasanya ingin langsung mengusir. Bukan anaknya--Nana, tetapi istrinya saja. Kelakuannya itu lho, bikin ngelus dada terus.
Hem, ini mah semisal Shafiya bisa mendengar isi hati mertuanya, langsung goyang pargoy, mungkin? Di puji terus sampai mampus. Beda lagi sama menantu pertama. Agaknya hati dia panas, mendidih, matang tuh air untuk diminum.
"Buk?" panggil Gandi. Pria tersebut bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Ratmi?
Awalnya senyum-senyum, mata sinis sambil ngedumel tanpa suara, terus balik lagi ceria.
"Ibuk??" Gandi panggil lagi tetapi Ratmi tidak meresponnya.
"Awas, Buk ada ular deket kaki?!"
Ratmi sangatlah phobia hewan melata. Iseng dulu lah, supaya beliau berhenti memikirkan apa yang tidak Gandi ketahui.
"Astaghfirullah mana ularnya, mana?!"
Ibuk Gandi sampai naik ke bangku saking takutnya. Anaknya malah tersenyum kecil. Puas sekali mengerjai Ibuk tercinta. Satu sifat yang belum Gandi perlihatkan ya, ini. Sikap jahilnya. Sama istrinya mah lempeng bae, cuek lagi. Ibaratnya cuek, hidup, untung ganteng.
Gandi manisnya pas di atas ran*an* doang. Eits, meskipun cuek, muka macem tembok, pria tersebut orangnya bertanggung jawab. Jadi iman ketika solat dengan sang istri, check. Perhatian lewat tindakan bukan ucapan, check. Wajah tampan rupawan? Woah iya jelas dong. Selalu wangi badannya meski seharian kerja? Yes, that's right.
Pokoknya Shafiya cinta banyak-banyak Mas Gandi.
Ratmi memukul bahu Gandi pelan, "Kamu ini, ngerjain Ibuk, ya?"
Mau buka suara, sudah keduluan suara membahananya Shafiya. Asalnya dari dapur. Segeralah Gandi beranjak, takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Masak nasi di tungku gimana, Mas? Shafiya enggak bisa,"
***
"Nyalain api nya pake daun kelapa yang kering atau gimana sih, Mas? Shafiya bingung,"
"Sayur apa nih, Mas? Enak nggak buat dimakan?"
Pertanyaan itu Shafiya layangkan teruntuk suami tercinta. Mati lampu mendadak, gas habis padahal belum masak untuk makan malam nanti. Shafiya frustrasi. Gini amat, ya hidup di desa? Itulah batin perempuan itu ketika takdirnya berubah dari atas ke bawah.
"Neng Shafiya mending ambil panci dulu. Biar Ibuk masak nasi, eneng potongin sayur pare nya," titah Ratmi memaklumi menantunya. Tidak apa, Shafiya baru terjun ke kehidupan serba sederhana.
"What is this pare? Padi kah?"
Shafiya tau bahasa Sunda karena memiliki teman arisan dari suku tersebut.
"Beda atuh, Neng. Padi ya tetep padi. Pare itu ya, sayuran yang banyak khasiatnya,"
Sebenarnya, Ratmi tidak terbiasa bicara bahasa Indonesia. Sehari-harinya ngomong Sunda jadi rada kagok. Tetapi, demi Shafiya, Ratmi rela meski terbata-bata.
"Kok pahit, Mas?"
Makan malan di awali Shafiya mau muntah sebab makan sayur pare.
"Huek... "
Perempuan itu menutup mulutnya sambil menunduk bertanda minta maaf. Selanjutnya dia bergegas ke kamar mandi guna memuntahkan sayuran hijau namun pahit seperti obat.
"Minum teh dulu gih,"
Perhatiannya, batin Shafiya senyum mesem-mesem saat keluar dari kamar mandi.
"Pakai gula 'kan, Mas?"
Kalau enggak, Shafiya akan inisiatif menambahkan gula. Mulutnya masih terasa pahit soalnya.
"Hem," dehem Gandi meninggalkan Shafiya termenung sendirian.
Ruang makan memang terhalang oleh gorden. Tapi ... nyesek tau ditinggal sendiri. Sama suaminya pula.
Fix dah, Shafiya hari ini amatlah sensitif. Seperti tadi contohnya. Mematahkan hanger dikarenakan menghalangi jalannya. Menendang kaki kursi saat tak sengaja jari kelingkingnya terantuk. Serba salah intinya mah.
"Jadi?"
Malam-malam sekitar pukul 22:00, Gandi mau mengatakan hal serius kepada Shafiya. Entah mau bicara apa, dan itu justru membuat Shafiya penasaran bingit. Apakah menu sarapan besok ayam rica-rica?
"Shafiya ngantuk, Mas. Besok aja ya, ngomongnya?"
"Sekarang saja, Dek,"
"Ya udah apa? Shafiya dengerin tapi sambil rebahan, ya?
Pinggangnya masih terasa sakit. Siang tadi, dirinya membantu Bapak dan Ibuk mertua memperbaiki kandang ayam. Gandi nya ke mana? Ada urusan di luar. Bilangnya sih mau bertemu dengan teman semasa SD nya. Temu kangen lah intinya. Lelaki dong, semisal perempuan, Shafiya melarang suaminya agar di cancel. Takut oleng, ntar gak sayang sama Shafiya lagi.
"Eumm, kita beli sawah aja, bagaimana?"
"Jaga-jaga selagi Mas belum dapat kerjaan yang pasti,"
Sawah, ya?
Jangan bilang nanti dirinya akan terjun langsung? Panas terik matahari, mencakul, menanam padi, kemudian ... tidak!! Shafiya tidak mau, jeritnya dalam batin.
Jam setengah enam pagi, Shafiya pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur. Mertuanya sibuk di sawah, sementara Gandi menemui Marwan--juragan sawah di desa ini.
Agak rempong, say. Shafiya memakai baju sabrina crop top lengan panjang warna hitam. Untuk bawahan dia memakai jeans biru, sepatu sneakers putih dan tak lupa topi anti badai motif bunga. Semprot parfum ke seluruh tubuh, selesai deh. Tinggal cus jalan kaki melewati gang menuju jalan raya. Last, menunggu angkot atau bis bersama penumpang lainnya.
Kenapa enggak pakai motor?
Udah dipakai sama Gandi. Motor mertua ada sih ... tapi Shafiya gak bisa bawa motornya. Yang ada nabrak orang nanti, atau masuk selokan. Tolong dong jemput Shafiya pakai mobil lamborghini. Ngelunjak dikit gak ngaruh.
"Anjir, gue lupa bawa kacamata," gumamnya pelan.
Shafiya menggerutu setelah memeriksa tas sling bag miliknya tidak ditemui benda tersebut. Kacamata oh ... kacamata. Di mana kah engkau berada?
Walah, mau ke pasar atau pantai, Neng? Ribet bener.
Ibu-ibu di sebelahnya berbisik satu sama lain. Shafiya tebak, mereka tengah membicarakannya. You know lah warga Konoha ini. Kagak afdol tanpa gibah, guys.
Mungkin dalam benak mereka, Shafiya mau ke pasar aja rempongnya minta ampun. Ya, masa mereka tau sih semisal dirinya mau ke pasar?
Tring
Suara notifikasi pesan berasal dari ponselnya.
Mas Gandi.
Huh, kebetulan sekali.
[Pulangnya telepon Mas, ya? Biar tak susulin langsung ke pasar.]
Uwuw, so sweet nya suami Shafiya.
Tin tin
"Eh, Kun*u*," ceplos Shafiya dikarenakan kaget ketika Pak supir angkot membunyikan klakson mobilnya.
"Geulis-geulis latah ai si Eneng," tawa supir angkot mengudara membuat Shafiya mengerucutkan bibirnya.
Berusaha jadi perempuan cool, Shafiya mengibaskan rambutnya. Dengan tubuh dibuat lenggak-lenggok, dia membuka pintu depan, duduk sampingan sama supir. Kebetulan masih kosong.
"Berangkat, Bang. Keburu panas nih," keluh Shafiya sambil menyeka keningnya menggunakan tisu.
"Siap Neng geulis," jawabnya seraya hormat. Lucu deh Abangnya. Tapi, masih gantengan Gandi--suaminya.
Baru satu menit, Shafiya mengoceh tiada henti. Sang supir mengucap istighfar dalam batinnya sebab bukan Shafiya saja yang rempongnya kebangetan.
"AC nya mana dah, Bang?" Shafiya celingukan kesana-kemari.
Dia berdecak pelan, "Lih, kok enggak pakai pengharum kendaraannya?"
"Sebel ih, Bang supirnya diem aja. Malah cuekin gue," cebiknya sambil bersedekap dada.
"Eits, kursi depan khusus Shafiya seorang. Enggak boleh ada yang naik lagi," tegasnya kala ada penumpang mau membuka pintu depan.
Enak saja.
Shafiya gak mau dempet-dempetan.
Yang bener aja, rugi dong.
***
"Ada ayam, Bu?" tanya Shafiya saat baru sampai di pasar.
Pertama kali, dia mendatangi tukang penjual ayam.
"Aya, Neng. Meni seer kie pan. Mangga bade naona? Pimping, sirah atanapi dada montok?" cerocos Ibu tersebut tanpa jeda.
Shafiya senyum kikuk. Menggaruk alisnya yang tidak gatal karena tidak paham ucapan Ibu penjual ayam.
"Just speak Indonesian, please?"
Anjir lah, gue sok Inggris.
"Oke, sorry Miss,"
Ups, Shafiya mau ngabrut alias ngakak brutal.
"Mau paha, dada?" tanyanya lagi.
"Hem," dehem Shafiya seraya mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, "bahu aja, Bu. Lagi butuh sandaran soalnya,"
"Waduh, bisa aja si enengnya,"
"Bercanda, Bu," sahut Shafiya, "itu aja deh, bagian paha dua puluh kilo. Terus dadanya lima kilo,"
Ibunya melotot sebab terkejut, "Masya Allah tabarakallah. Mau ada acara apa emangnya? Meni seer pisan?"
Bertanya sembari memotong daging ayang begitu lihainya.
"Hajatan tah?" sambungnya.
"Bukan. Buat persediaan selama satu bulan," jawab Shafiya enteng juga polos.