“Hei, kembalikan barang-barangku!” pekik Amber sambil berusaha bangkit dari timbunan salju. Hidungnya yang berair kini memerah karena marah.
“Hei!” seru wanita dengan mantel putih berbulu itu lagi. Dengan susah payah, ia melangkah menuju aspal. “Berhenti kalian! Jangan membuatku marah! Kalian akan menyesal jika aku berhasil menangkap kalian!”
Malangnya, ketika Amber hampir tiba di bahu jalan, mobil yang dikejarnya sudah berputar arah. Dua pria yang tadi melemparnya pun tertawa puas sembari melambaikan tangan dari jendela.
“Adjö!”
Tanpa memedulikan apa yang disebut oleh si orang asing, Amber berteriak sekencang-kencangnya. “Dasar penipu! Aku membayar mahal untuk diantar menemui Adam Smith, bukan ditelantarkan di tengah hutan seperti ini!”
Dengan mata berkaca-kaca, Amber melihat mobil perampok itu menghilang di kejauhan. Ia sadar, tidak ada gunanya memekik ataupun mengejar. Si orang asing tidak akan kembali menjemputnya.
“Aku tidak seharusnya percaya pada mereka,” sesal wanita itu geram.
Sambil mengatur napas, Amber mulai mengamati keadaan. Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Yang ada hanyalah bayangan pohon pinus, tebaran salju, dan taburan bintang-bintang di langit gelap.
“Gawat,” desah sang wanita seraya mendekap diri lebih erat. Angin yang berembus telah menghantarkan dingin hingga ke tulang. “Apa yang harus kulakukan? Aku tidak boleh mati sekarang.”
Sembari mengelap hidung dengan sarung tangan, Amber berputar menghadap titik pendaratannya tadi. Dua detik kemudian, wanita itu tiba-tiba menghela napas tak percaya. Samar-samar, ia dapat melihat sebuah cerobong sedang mengepulkan asap tak jauh dari sana.
“Apakah itu rumah penduduk?” desah Amber sembari melebarkan mata. Ia berpikir telah menemukan secercah harapan. Namun, selang satu kedipan, alisnya kembali berkerut.
“Tapi, sepanjang jalan tadi, aku tidak melihat satu pun rumah warga. Apa mungkin ... ada orang yang hidup di tempat seperti ini?” gumam wanita itu ragu.
Sekali lagi, Amber mengamati pemandangan sekitar. Yakin bahwa tidak ada bangunan lain, ia pun mendesah panjang.
“Hanya ini satu-satunya jalan,” gumamnya sebelum meniup sarung tangan agar hangat. “Orang di rumah itu pasti mau membantuku.” Dengan penuh percaya diri, sang wanita mengerahkan tenaga untuk menembus salju setinggi lutut.
Setibanya di depan pintu, Amber akhirnya bisa bernapas lega. Sambil terus menggosok tangan, ia memperhatikan cahaya kuning yang terpancar dari balik kaca jendela.
“Syukurlah, ternyata pondok ini memang rumah penduduk.” Setelah mengembuskan napas cepat, Amber mengetuk pintu. “Permisi. Apakah ada orang di dalam?”
Tak kunjung mendapat jawaban, wanita itu kembali mengetuk. “Permisi!” teriaknya lebih kencang.
Beberapa detik kemudian, tetap tidak ada suara yang terdengar. Keheningan itu membuat kekesalan Amber bangkit. Ia sudah terlalu lama terpapar udara musim dingin.
“Ke mana perginya penghuni pondok ini? Apakah dia tidak mendengar panggilanku? Ck, aku bisa membeku kalau terus menunggu di luar sini,” gerutu wanita yang mulai menggigil itu sebelum menggedor pintu lebih kuat.
“Permisi! Apakah ada orang? Aku sangat membutuhkan bantuan!” pekik Amber, setengah panik. Tangannya yang terasa kaku tak henti-henti membentur papan tebal itu. “Tolonglah! Aku bisa mati kedinginan kalau kau tidak menolongku.”
Selang beberapa saat, pintu akhirnya terbuka. Mendapati celah untuk masuk, senyum Amber pun melebar. “Terima kasih!”
Namun, tepat ketika ia hendak melangkah, seorang pria berbadan tegap menghalangi jalan. Sambil menghunuskan tatapan dingin, orang asing itu bertanya, “Apakah kau tidak bisa membaca?”
Mendapat sambutan tak terduga, Amber sontak terdiam. Lewat mata bulatnya, ia mengamati wajah laki-laki brewok dengan rambut cokelat tak terurus itu. Tidak ada ekspresi ramah di sana. Tampak jelas bahwa si penghuni pondok tak menyukai kehadirannya.
“S-selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu Anda,” ujar sang wanita, mendadak sopan. Dengan susah payah, ia berusaha meredam gemuruh napasnya. “Nama saya Amber dan saya bukan orang jahat. Saya datang ke negara ini untuk bertemu dengan Adam Smith. Tapi ternyata, saya malah ditipu. Barang-barang saya diambil dan saya ditinggalkan begitu saja di hutan beku ini.”
Sambil mengeraskan rahang, sang pria mendekatkan kepalanya kepada Amber. “Kutanya sekali lagi. Apakah kau tidak bisa membaca?”
Mendengar nada rendah yang penuh penekanan itu, sang wanita sontak bergidik ngeri. Sambil mendekap diri lebih erat, ia berbisik, “Membaca?”
Setelah mendengus kecil, si pemilik pondok melirik ke arah papan yang terpasang di samping pintu. Setengah tulisannya tertutupi salju. “Baca itu dan pergilah dari sini!” Sedetik kemudian, Amber tersentak karena sang pria membanting pintu.
“Astaga! Kenapa dia dingin sekali?” gerutu wanita itu tak percaya. “Aku hanya ingin meminta bantuan. Kenapa dia malah mengusirku? Memangnya, apa yang tertulis di sini?”
Sambil mengerutkan alis, Amber menyibak lapisan salju yang menghalangi tulisan. “Menjauhlah jika tidak ingin terbakar di musim panas atau membeku di musim dingin.”
Usai membaca papan peringatan itu, sang wanita tertawa datar. “Yang benar saja? Aku justru bisa membeku kalau menjauh dari pondok ini,” gumam Amber seraya kembali ke depan pintu. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menggedor lagi.
“Permisi, Tuan Dingin. Aku benar-benar butuh bantuan. Berapa pun biayanya, pasti akan kubayar. Sekarang, tolonglah aku agar tidak mati kedinginan di sini,” seru Amber, mengabaikan kesopanan. Sel-sel dalam tubuhnya telah mendesak untuk segera dihangatkan. “Tuan Dingin?”
Sekali lagi, pintu terbuka. Mengira bahwa sang pria berubah pikiran, Amber pun melangkah masuk. Namun, sebelum ia melewati ambang pintu, seember air tiba-tiba menampar wajahnya. Dalam sekejap, wanita itu memekik. Sambil mendengus kesal, ia menyeka mata dengan sarung tangan dan lengan mantel putihnya yang basah.
“Apa-apaan ini? Kenapa kau menyiramku?” teriaknya tak terima.
Alih-alih menjawab, sang pria malah menyunggingkan senyum miring. Sedetik kemudian, ia menutup pintu rapat-rapat. Pemilik pondok itu sama sekali tidak peduli jika tubuh Amber bergetar semakin hebat akibat marah dan kedinginan.
“Dasar psikopat!” gerutu wanita itu geram. Sambil menggertakkan geraham, ia mulai memukul dan menendang pintu. “Kalau kau ingin membunuhku, kenapa kau tidak menggunakan pisau atau peluru? Kenapa malah menyiksaku seperti ini?”
Semakin cepat jantungnya berdetak, semakin cepat pula hati Amber memanas. “Lihat saja nanti! Kau akan menyesal kalau sampai aku mati di sini. Orang tuaku tidak akan tinggal diam. Teman-temanku juga. Mereka tidak akan membuat hidupmu tenang.”
Tiba-tiba, pintu kembali terbuka. Si “Tuan Dingin” pun muncul dengan ember yang terisi penuh. Tak ingin mendapat guyuran kedua, Amber bergegas melangkah mundur. Saking tergesa-gesanya, ia sampai jatuh terduduk.
“Akh!”
Meski demikian, sang pria tetap menuangkan air di atas kepalanya. “Pergilah atau kau sungguh kubekukan menjadi es!”
“Tapi aku tidak punya tempat lain!” teriak Amber sambil menyingkirkan butiran air yang belum terserap oleh mantel putihnya.
“Itu bukan urusanku!” Tanpa iba, si pemilik pondok melangkah masuk dan menutup pintu. Menyaksikan sikap dingin pria itu, napas Amber semakin memendek. Kemarahan telah meledak-ledak dalam dadanya.
“Aaargh!” erang wanita itu kesal. Dengan tubuh bergetar hebat, ia bangkit berdiri. “Kenapa harus psikopat itu yang tinggal di sini? Kenapa bukan orang baik yang bersedia menolong? Sekarang aku harus ke mana?”
Setelah mengamati kegelapan malam, Amber akhirnya menelusuri jejaknya tadi. “Aku tidak boleh putus asa. Pasti ada orang lain yang hidup di hutan ini. Aku harus segera menemukan rumahnya.”
Dengan sekuat tenaga, wanita itu memaksakan lututnya yang gemetar untuk bergerak. Meski napasnya terasa semakin berat, ia terus berjalan dan berjalan, tanpa mengetahui bahwa badai akan segera tiba.
Sambil tersenyum miring, Tuan Dingin menuangkan teh dari panci ke dalam cangkir. Sama sekali tidak ada penyesalan pada raut wajahnya. Sorot mata pria itu malah tampak puas.
“Dasar perempuan bodoh,” gumamnya samar. “Tidak ada satu orang pun yang bisa mengusik ketenanganku. Kau harus tahu itu.”
Setelah menyeruput sedikit, Tuan Dingin membawa cangkirnya menuju sebuah kursi di dekat jendela. Dari situ, ia dapat melihat salju turun dari langit dan angin kencang mulai menggerakkan puncak pinus.
“Hm? Apakah malam ini akan ada badai lagi?”
Seraya mengangkat alis, pria itu menikmati tehnya. Ia senang telah berhasil mengembalikan kedamaian. Namun, semakin banyak salju yang turun, semakin jauh tatapannya menerawang. Hingga pada satu titik, desah cemas berembus dari mulutnya.
“Perempuan itu ... mampukah dia bertahan?”
Selang perenungan singkat, Tuan Dingin menggeleng cepat. Tidak seharusnya bayangan Amber menetap lama dalam benaknya.
“Kenapa aku memikirkan perempuan itu? Dia bukan siapa-siapa.”
Sambil mengangguk-angguk, pria itu kembali mengangkat cangkir. Namun, belum sempat teh mengenai bibirnya, ia bergeming.
“Tapi, kalau perempuan itu mati, aku juga yang akan repot,” pikirnya sebelum meletakkan cangkir di pinggir jendela. Setelah mengetuk-ngetukkan jari, Tuan Dingin akhirnya beranjak mengambil mantel dan senter.
“Ck, kenapa perempuan selalu menyusahkan?” gerutunya sambil membuka pintu. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan menelusuri jejak Amber.
“Hm? Ke mana perginya perempuan itu?” batin Tuan Dingin saat melihat tidak ada yang berdiri di pinggir jalan. Sambil mengerutkan alis, ia mempercepat lajunya.
Lima meter dari bahu jalan, langkah pria itu mendadak terhenti. Selang satu kedipan tegas, ia menoleh ke kanan. Sedetik kemudian, ekspresi datarnya berubah tegang. Seseorang bermantel putih telah terbaring dikelilingi timbunan salju.
“Gawat!” desah Tuan Dingin sambil memasukkan senter ke dalam saku. Secepat kilat, ia memeriksa keadaan sang wanita. “Nona? Nona!”
Meskipun pipinya ditepuk beberapa kali, Amber tidak menjawab. Sekujur badannya yang dingin pun diam. Tak ingin dituduh sebagai pembunuh, sang pria bergegas mengangkat wanita itu. Dengan susah payah, ia membawanya berjalan menembus salju.
Setibanya di pondok, Tuan Dingin langsung membaringkan Amber di dekat pemanas. Kini ia dapat melihat betapa birunya bibir wanita itu. Sekali lagi, sang pria mencoba untuk membangunkan Amber.
“Nona? Nona!”
Sayangnya, guncangan yang ia berikan tidak cukup untuk mendatangkan kesadaran. Merasa putus asa, Tuan Dingin pun berdecak kesal. “Tidak seharusnya aku melewati batas. Lihatlah akibatnya! Dia hipotermia.”
Setelah mengomeli diri sendiri, sang pria menarik sarung tangan Amber. Sambil meremas jemari pucat yang sedingin es itu, ia mengharapkan perubahan.
“Ayo, Nona ... bangunlah! Jangan membuatku dicap sebagai pembunuh! Salahmu sendiri telah menggangguku di malam musim dingin.”
Detik demi detik berlalu, Amber tidak juga bergerak. Napasnya bahkan hampir tidak terdeteksi. Tak ingin terlambat, Tuan Dingin bergegas melucuti pakaiannya.
“Tidak ada cara lain. Aku terpaksa melakukannya. Jangan menyalahkanku, Nona. Ini demi keselamatanmu.”
Selang beberapa saat, kedua orang itu tidak lagi mengenakan busana. Tanpa ragu, Tuan Dingin menarik selimut dari sofa. Sembari membentang kain tebal itu, ia menangkup punggung Amber dengan tubuhnya. Sedetik kemudian, pria itu mulai mendekap erat sang wanita dan menjalarkan tangan menebar kehangatan.
***
Begitu membuka mata, Amber langsung disambut oleh percikan api di balik kaca pemanas. Mendapati pemandangan yang tidak biasa itu, ia pun tersentak. Sambil terbelalak, wanita itu mengingat-ingat kejadian semalam.
“Aku masih hidup?” simpulnya setengah percaya. Setelah berkedip-kedip cepat, barulah ia mendesah lega. “Syukurlah .... Siapa yang menyelamatkanku?”
Sambil menahan rasa berat dalam kepala, Amber menegakkan badan. Tepat pada saat itu pula, kain yang menutupi tubuhnya tersingkap. Dalam sekejap, keceriaan di wajahnya memudar. Secepat kilat, wanita itu kembali membungkus diri dengan selimut.
“Di mana pakaianku?” desahnya seraya celingak-celinguk. Tak mendapati apa yang ia cari, Amber spontan meringis. “Astaga. Apa yang telah terjadi padaku?”
Selagi wanita itu kebingungan, seseorang meletakkan piring ke dalam wastafel. Suara dentingnya terdengar hingga ke ruang depan. Mengetahui keberadaan “sang pelaku”, Amber pun bangkit. Sambil menyeret selimut yang melilit di tubuhnya, ia berjalan menuju dapur.
Begitu melihat si Tuan Dingin, Amber spontan ternganga lebar. Rasa syukur yang sempat tumbuh mendadak lenyap. Yang tersisa hanyalah kejengkelan dan kemarahan yang teramat besar.
“Kau ...!” serunya seraya meruncingkan telunjuk. Mata wanita itu telah memerah dan berair. “Aku mengerti sekarang. Pantas saja kau membiarkanku kedinginan di luar sana. Kau pasti berharap aku pingsan, sehingga kau bisa melakukan apa saja terhadapku!”
Mendengar suara Amber yang begitu kencang, sang pria sontak mengernyit. “Kau tidak tahu terima kasih, rupanya. Aku sudah menyelamatkanmu, tapi kau malah meneriakiku?”
Dengan sebelah tangan dan napas menderu, Amber mencengkeram baju laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu. “Kau kira aku tidak tahu? Kau sudah meniduriku!”
Bukannya takut, Tuan Dingin malah meninggikan dagu. “Berhentilah mengada-ada,” ucapnya dengan nada rendah dan datar.
“Mengada-ada?” tanya Amber dengan suara bergetar. “Bukankah buktinya sudah jelas? Aku terbangun tanpa sehelai benang!”
Tiba-tiba, sang pria mendengus sinis. “Memangnya kenapa kalau aku menyingkirkan pakaianmu? Bukankah kau ingin selamat? Kau tidak akan mampu bertahan dengan mantel basah itu.”
Setelah mendekatkan kepalanya dengan sang wanita, Tuan Dingin memperdalam suara. “Kau mengalami hipotermia semalam. Satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu adalah dengan berbagi kehangatan ... dari kulit ke kulit. Karena itulah, aku melepas pakaianmu,” terangnya dengan ekspresi dingin.
“Lalu, kau menjadikan itu alasan untuk meniduriku? Begitu?” sela Amber sambil mendongakkan wajah. Tangannya yang mencengkeram baju sang pria kini bertambah erat.
Tanpa terduga, sebelah sudut bibir Tuan Dingin terangkat lebih tinggi. “Kau kira aku tertarik padamu?” Sembari menggeleng, pria itu menyipitkan mata. “Sama sekali tidak, Nona. Aku justru terpaksa menyentuh tubuhmu yang kotor itu.”
Helaan napas sontak lolos dari mulut Amber. “Kotor? Kau menyebutku kotor?”
“Tolong jangan bersikap seperti gadis yang masih suci. Aku tahu, perempuan sepertimu pasti sudah tidur dengan banyak laki-laki.”
Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Tuan Dingin. Dengan mata yang membara, Amber kembali meruncingkan telunjuk. “Jaga mulutmu! Aku bukan perempuan semacam itu. Kau tidak boleh seenaknya menyentuhku, apalagi meniduriku!”
Sambil menekan bagian dalam pipi dengan lidah, Tuan Dingin membalas tatapan Amber dingin. “Sudah kubilang, aku tidak menidurimu.”
“Kau kira aku percaya? Mana ada laki-laki normal yang tidak melakukan itu ketika bersama perempuan tanpa busana? Memangnya kau impoten, hah?”
Dalam sekejap, mata sang pria terisi oleh kebencian. Sambil menggertakkan geraham, ia mendorong pundak Amber hingga tersudut di salah satu dinding. Tanpa sedikit pun iba, Tuan Dingin mencengkeram dagu sang wanita.
“Mulutmulah yang seharusnya dijaga! Kalau saja aku tahu kau seberisik ini, aku pasti sudah membiarkanmu mati di luar sana.”
Meski takut, Amber tetap mempertahankan ekspresi kesalnya. Dengan agak tertunduk, ia menatap Tuan Dingin tajam.
“Ternyata benar. Kau impoten,” gumam wanita itu tanpa berpikir panjang.
Sedetik kemudian, sebuah tinju mendarat di dinding, tepat di samping kepala Amber. Menyaksikan tindakan spontan itu, sang wanita spontan memekik. Sambil memejamkan mata rapat-rapat, ia menggenggam selimut dengan erat.
“Jangan menguji kesabaranku,” tegas Tuan Dingin dengan suara rendah yang membuat Amber bergidik ngeri. “Kau seharusnya bersyukur aku tidak memakanmu bulat-bulat.”
Usai memberi peringatan, pria itu pergi dari hadapan Amber. Sesaat kemudian, terdengar suara pintu dibanting dari arah depan. Mengetahui Tuan Dingin tidak lagi bersamanya, sang wanita langsung menjatuhkan diri di atas lantai. Sudah sejak tadi ia menahan gemetar di kedua lututnya.
“Aku pasti sudah gila. Kenapa aku malah memancing kemarahan Beruang Gila itu?” sesal Amber sambil berusaha mengatur napas. Dengan kepala tertunduk, ia mencoba menata ulang pikiran.
“Apakah benar laki-laki itu tidak meniduriku?” tanyanya lirih.
Sembari mengerutkan alis, Amber menggerak-gerakkan kaki, memeriksa apakah ada yang aneh pada bagian bawah tubuhnya. Setelah memiringkan kepala, wanita itu mulai mengangguk samar.
“Dia pasti impoten. Kalau tidak, kenapa dia semarah itu?” gerutu Amber sebelum terdiam sesaat. “Tapi, apa maksudnya dengan memakanku bulat-bulat? Apakah dia benar-benar psikopat?”
Sembari merenung, tatapan Amber mulai menjelajahi dapur. Tanpa sadar, tangannya bergerak sendiri mengelus perut. “Aku butuh makanan.”
Masih dengan selimut membungkus tubuh, wanita itu bergerak memeriksa apa yang ada di atas meja. Begitu menemukan tumpukan Cinnamon Roll di atas piring, mata Amber sontak membulat.
“Ini pasti enak,” ujarnya bahagia. Tanpa berpikir panjang, ia mulai melahap kue berbentuk gulungan itu.
Setelah menghabiskan satu potong, Amber kembali memeriksa ruangan. “Akan sempurna jika ada susu hangat,” gumamnya sebelum membuka sebuah lemari.
Sedetik kemudian, mata wanita itu membulat. Puluhan botol berisi cairan merah berbaris di hadapannya.
“Apakah ini wine? Kenapa warnanya kental sekali?”
Setelah berkedip-kedip sesaat, ia menutup lemari dan beralih ke kulkas. Di sanalah ia menemukan apa yang dicari.
“Ah, ini dia!”
Dengan sebelah tangan, Amber mengeluarkan sebotol susu dan langsung mengenggaknya. Walau tidak hangat, ia tetap gembira.
“Kenapa rasanya enak sekali? Apakah karena aku kelaparan?” gumam wanita itu sebelum mengembalikan botol ke dalam kulkas.
Menit berikutnya, Amber mulai sibuk mencari di mana mantelnya berada. Malangnya, semua pintu yang ingin ia periksa terkunci rapat. Alhasil, wanita itu malah membongkar laci-laci, menyelidiki identitas si pemilik pondok.
“Siapa sesungguhnya orang ini? Kenapa dia begitu kasar dan dingin?” gerutu Amber sambil terus menggeledah. Sayangnya, tidak ada informasi yang bisa didapat. Sebagian laci tidak berisi dan sebagian lagi memuat barang-barang tak penting.
“Dan kenapa tidak ada foto sama sekali di rumah ini? Apakah Tuan Dingin benar-benar seorang psikopat?” celetuk Amber seraya membuka lemari di dekat sofa.
Sedetik kemudian, alis wanita itu melengkung maksimal. Aneka bentuk tulang terpajang rapi di hadapannya. “A-apa ini?”
Dengan tatapan ngeri, Amber meneliti setiap bagian lemari. Hanya tingkat teratas yang tidak diisi dengan tulang. Gumpalan kertas memenuhi ruangnya. Penasaran, ia pun meraih satu. Sambil menjepit selimut agar tidak melorot, wanita itu meluruskannya.
“ENYAHLAH KANIBAL JAHAT!”
Membaca pesan singkat itu, Amber pun mengerutkan alis. “Kanibal?”
Tanpa mengubah ekspresi, ia mengambil gumpalan kertas lain.
“KANIBAL SEPERTIMU TIDAK LAYAK HIDUP!”
Dalam sekejap, mulut sang wanita ternganga lebar. Sebuah ide baru saja melintas dalam benaknya. Dengan bola mata yang bergetar, ia menyusun bukti-bukti yang telah ditemukan—papan peringatan yang tidak manusiawi, omongan Tuan Dingin tentang memakannya bulat-bulat, puluhan botol berisi cairan semerah darah, dan kumpulan tulang yang dipajang. Ketika mendapat kesimpulan, wajahnya langsung memucat.
“Laki-laki itu kanibal?” desah Amber dengan mata bulat. Seketika, keringat dingin mulai membanjiri tengkuknya.
Tiba-tiba, seseorang membuka pintu dengan kasar. Sedetik kemudian, Tuan Dingin masuk dengan sebuah sekop di tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu dengan nada tak senang. Bola matanya bergerak-gerak mengamati Amber yang terbelalak, lemari yang terbuka lebar, serta dua lembar kertas yang tergeletak di lantai.
Merasa terancam, sang wanita spontan melangkah mundur. Kurang berhati-hati, ia pun membentur lemari. Beberapa tulang berjatuhan di dekat kakinya. Menyaksikan kecerobohan itu, alis Tuan Dingin otomatis melengkung tinggi.
“Tulang-tulangku!” seru pria itu sambil bergegas menghampiri.
Berpikir “sang Kanibal” akan membunuhnya, nyali Amber mendadak lenyap. Wanita itu sadar bahwa dirinya tidak akan bisa lolos dari terkaman sang pria kekar. Sambil merapatkan mata, ia pun menjatuhkan lutut dan bersimpuh.
“Tolong jangan makan aku! Tubuhku terlalu kurus untukmu. Kau tidak akan merasa kenyang,” ucapnya dengan suara bergetar.
Mendengar nada ketakutan itu, Tuan Dingin sontak menghentikan langkah. Dengan raut heran, ia memperhatikan wanita yang menghindari tatapan matanya. “Kau berpikir aku akan memakanmu?” desah pria itu penuh tanya.
“Kumohon maafkan aku!” seru Amber sambil mencengkeram selimut lebih erat. “Aku tidak bermaksud mengganggumu. Kedatanganku ke sini hanyalah sebuah kebetulan, dan aku menyesal telah memarahimu. Aku seharusnya berterima kasih karena kau sudah berbaik hati membiarkanku hidup.”
Sambil berkedip-kedip, Tuan Dingin mencerna situasi. Setelah melihat tulang-tulang dalam lemari dan tulisan “kanibal” di sisi Amber, barulah ia tersenyum miring.
“Dasar perempuan bodoh,” umpatnya dalam hati. Sedetik kemudian, pria itu mendatarkan ekspresi.
“Kau pikir, permohonan maaf saja cukup untuk menyelamatkanmu?” tanya Tuan Dingin dengan nada garang.
Amber sontak kebingungan. Selang perenungan singkat, ia akhirnya mengintip lewat sudut atas matanya. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau membebaskanku?” tanya wanita itu takut-takut.
“Entahlah. Aku sudah lama tidak memakan daging manusia.”
Jawaban ringan itu sontak membuat napas Amber tertahan. Kengerian wanita itu kini tumbuh berlipat ganda. “T-tapi, kau punya roti di dapur. Itu jauh lebih enak daripada ... aku.”
Sekali lagi, alis sang pria terangkat maksimal. “Kau mencuri makananku?”
Secepat kilat, Amber menggeleng. “Tidak. Aku tidak mencurinya,” jawabnya dengan suara tertekan.
“Kau mengambil makananku lalu memohon agar aku tidak memakanmu. Apakah itu adil?”
Merasa terdesak, Amber pun menegakkan kepala. “Sungguh. Aku tidak mencuri makananmu,” tegasnya senatural mungkin.
Setelah menyandarkan sekop ke dinding, Tuan Dingin mendekatkan hidungnya ke wajah Amber. Selagi perempuan yang masih berlutut itu menahan napas, ia mulai mengendus-endus.
“Kau memakan Cinnamon Roll-ku,” ujar pria itu sebelum memicingkan mata. “Sekarang, haruskah aku memakanmu?”
Sekujur tubuh Amber mendadak kaku. Ketakutan yang amat besar telah melumpuhkan saraf-sarafnya. Bahkan, untuk berpikir saja, wanita itu sudah tidak sanggup. Ia hanya bisa membayangkan bagaimana Tuan Dingin mencabik-cabik kulit yang selama ini dirawat dengan segenap jiwa.
“T-tolong ... jangan makan aku,” bisiknya hampir tak terdengar. “Aku masih ingin hidup.”
Sembari tersenyum sinis, sang pria menggeleng. “Aku tidak peduli.”
Sedetik kemudian, Tuan Dingin menarik tangan kiri Amber. Mengetahui “si Kanibal” hendak menggigit, sang wanita pun memberikan perlawanan. Dengan sekuat tenaga, ia menarik tangannya.
“Jangan makan aku! Aku terlalu kurus untukmu!” pekik Amber sambil meronta-ronta.
Malangnya, wanita itu kalah tenaga. Tangannya terus mendekat ke arah mulut sang pria.
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
Dengan tangannya yang bebas, Amber mendorong wajah Tuan Dingin agar menjauh. Ia tidak peduli jika selimut tak lagi membungkusnya. Wanita itu belum siap kehilangan nyawa.
Tak menduga gerakan itu, sang pria spontan menyerang lebih agresif. Selang beberapa detik, ia telah berhasil menjepit Amber di antara tubuhnya dan lantai kayu beralaskan karpet.
“Tidakkah kau lihat? Tanganku ini hanya tulang berbalut kulit! Gigimu bisa rontok jika memakannya!” seru wanita yang tidak bisa lagi berpikir normal. Apa pun yang terlintas dalam pikiran meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia benar-benar putus asa.
“Justru itulah bagian favoritku. Tulang manusia,” ujar Tuan Dingin sambil menahan tawa. Ia gembira melihat si perempuan bodoh menderita. “Sekarang, ucapkan selamat tinggal pada dunia. Kau akan segera menjadi santapan lezat.”
“Tidak,” desah Amber seraya melirik ke arah tangannya yang semakin dekat dengan mulut sang pria. Begitu Tuan Dingin menganga lebar, ia pun memekik di puncak suara. “Tidak ...!”
Tanpa terduga, sang pria berhenti mendekatkan tangan Amber ke mulutnya. Bekas luka pudar yang melintang di pergelangan sang wanita telah mencuri perhatian. Mengapa ia tidak melihatnya semalam?