Bab 2

Sekarang Bianca bergerak gusar. Takut dan cemas meringkuk di bawah meja. Degup jantung serasa mencelos begitu mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat.

Tadi dia sudah menyiapkan mentalnya, tapi tetap saja dia merasa gugup. Ini adalah keputusan paling nekat dan berani yang pernah dia buat selama seperempat abad dia hidup di dunia.

Banyak pikiran buruk muncul. Bagaimana kalau laki-laki CEO itu marah akan sikap kelancangan yang dilakukan oleh Bianca.

Tentu saja. Siapa sih yang tidak akan marah menemukan seseorang yang diam-diam menyelundup masuk ke dalam ruang kantor tanpa izin dari penghuninya.

Demi apa pun. Bianca mencoba menjalankan ide gila yang muncul di dalam kepala tanpa pernah memikir akibat terburuk yang akan terjadi. Persetan dengan itu semua karena dia harus bertemu dengan CEO dari Dvalton group.

Bisa Bianca lihat dengan jelas sepasang sepatu berwarna hitam mengkilat yang sangat kinclong dan celana hitam senada dengan jas yang dipakai.

Dia hanya bisa melihat seperempatnya saja dan hanya dari pemandangan itu, dia sudah tahu kalau orang yang memakai stelan demikian adalah tipe parlente; Orang-orang berkelas yang biasanya kejam dan haus dengan seks.

Tuan Steve menarik kursi dan mendudukinya. Setelah itu dia menarik maju agar lebih dekat ke meja kerja.

Jarak Bianca dengan selangkangan pemimpin utama Dvalton group sangat dekat. Bahkan teramat dekat. Dia berusaha menahan napas, Bianca harus kuat dan yakin. Mengenyampingkan pikiran buruk yang menginterupsi saat ini atau kalau tidak, maka ibunya yang malang dan super baik itu akan menderita.

Dia harus membuat kesepakatan dengan Dvalton group.

Tuan Steve menggerakkan kaki, lebih dekat ke bawah meja. Menyebabkan selangkangan laki-laki itu tepat di depan mata Bianca. Gadis itu menahan napas, makin gugup dan takut. Gelembung besar yang menyembunyikan sesuatu di dalamnya membuat otak Bianca berpetualangan ke arah yang iya iya.

‘Pegang tidak ya? Kalau kupegang, apa orang ini akan mendesah atau teriak?’ batin Bianca penasaran.

Dia memaju-mundurkan tangannya di udara. Antara ingin mencengram atau tidak. Tiba-tiba di tengah kebingungan itu, Tuan Steve berdeham. Membuat Bianca kaget setengah mati.

Mata Bianca terpejam. Keringat dingin sudah banjir menetes dari dahi. Gadis itu berpikir, mungkin Tuan Steve sedang sibuk memperhatikan layar laptopnya dan mungkin sedang mempelajari dokumen atau laporan lain yang harus segera dia tangani. Jadi dia tidak menyadari kalau ada sesosok gadis seksi yang bersembunyi di bawah meja sedang memandang selangkangannya.

Haruskan Bianca keluar dari persembunyiannya sekarang dan mengejutkan laki-laki itu? Atau bertahan saja? Bagaimana kalau ternyata Tuan Steve menyimpan sepucuk senjata di dalam laci dan menembak kepalanya. Tapi kalau dia bertahan, berapa lama dia harus menunggu. Sampai pulang? Tidak mungkin.

‘Keluar, tidak, keluar, tidak. Atau aku genggam saja rudalnya agar aku tahu ukurannya besar atau tidak? Aih, jangan. Ngapain coba,’ isi pikiran Bianca memenuhi kepala. Gadis itu bingung.

Saat akan menemukan jalan keluar lainnya, Tuan Steve berbicara, "Apa kau masih betah di sana?”

Dugh! Aww!

Suara kepala membentur meja terdengar.

“Kepalamu kejedug? Kau baik-baik saja?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau kau masih betah di sana? Mau berapa lama? Apakah masih lama? Aku sudah tahu keberadaanmu daritadi," kata Tuan Steve.

Hening dan sunyi. Bianca yang merasa kepalanya cenat-cenut menutup mulut rapat. Matanya membola, jantungnya serasa mau pecah. Dia ketakutan level maksimal.

"Keluar saja. Aku sudah tahu kalau kau bersembunyi di sana."

Mata Bianca memejam. Dia terkesiap gugup. Baiklah, mau tidak mau dia harus keluar dari persembunyian, tapi dari mana rupanya pria itu tahu kalau dia sedang bersembunyi di bawah meja? Ah, cctv, tentu saja. Kenapa Bianca tidak berpikir sampai ke sana. Sialan!

Gadis itu akhirnya merangkak keluar dari kolong meja kerja CEO itu. Bianca berhasil berdiri, dengan memegang dua paha Tuan Steve dan menyeringai tak bersalah di depan laki-laki itu.

‘Sialan, dia tampan rupanya.’

“Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktu anda,” ucap Bianca sopan.

“Menyingkir dari hadapan saya.”

“Ah, iya benar.” Bianca menggeser tubuh, menciptakan jarak sambil membetulkan baju ketat yang dia kenakan. Sementara mata elang milik Tuan Steve memandang sekilas tubuh seksi Bianca, lalu beralih menatap laptop.

Di momen ini. Bianca merasa seperti jalang yang mencoba untuk menggoda Tuan Steve. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, tapi demi sang ibu, Bianca sanggup melakukan itu.

Namun, bukannya mendapat sambutan. Justru Tuan Steve malah mengambil gagang telepon di meja kiri dekat dengan Bianca, tepat di hadapan gadis itu. Dia menekan tiga kali tuts angka dan Bianca sadar jika dirinya dalam bahaya.

Tuan Steve sedang memanggil keamanan.

"Security, tolong ke ruanganku sekarang juga. Ada penyus—"

Bianca dengan cepat memencet tombol pengair percakapan di telepon line itu. Degup jantungnya bertalu-talu, dia cemas bukan main, tapi memaksa untuk menyungging senyum.

"Tolong jangan panggil keamanan terlebih dahulu. Aku mohon." Dia menangkupkan dua tangan mengiba. Setelah itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena gerakan cepat saat memutuskan percakapan di telepon line tadi.

Dia sangat seksi. Amat sangat seksi dan Bianca yakin dengan tubuh indah yang dimilikinya dia pasti bisa meluluhkan hati CEO bajingan ini. Gadis itu sengaja mengikalkan rambut panjang yang dia miliki. Di belah pinggir dan di letakkan di depan sisi tubuhnya.

Bianca memakai sebuah gaun terusan brenda berwarna merah terang model sabrina, dengan korset berwarna hitam pekat di luarnya. Dia juga memakai sepasang sepatu heels tinggi berwarna senada dengan gaun yang digunakan. Bibir tebal berisi yang dioles dengan lipstik merah.

Memang tema pakaian yang dia kenakan hari ini sangat memprovokasi, memiliki niat untuk menggoda sang CEO yang katanya brengsek dan pemain wanita.

Namun, lagi dan lagi Bianca harus menelan kecewa. Bukannya terpesona, Tuan Steve malah menatapnya datar. Seolah sama sekali tidak tertarik dengan Bianca yang sudah berdandan maksimal.

"Kau menyusup ke dalam kantorku dan aku tidak boleh mengusir orang sepertimu? Kenapa?"

Suaranya tenang dan datar. Seksi dalam artian yang membuat sesuatu bergetar di bawah perut. Astaga hanya dengan suaranya saja, Bianca pikir laki-laki ini mampu membuat banyak wanita di luar sana orgasme.

"Ak-aku sungguh minta maaf," katanya dengan wajah panas. "Tapi aku hanya ingin meminta beberapa menit dari waktu yang kau miliki."

"Beberapa menit? Meminta? Kau pikir aku akan meluangkan waktu untuk orang sepertimu?" tanyanya dengan suara yang tinggi. Kali ini Tuan Steve sama sekali tak lagi terlihat seksi. Bianca jadi gemetar ketakutan.

"Ya, maaf. Aku tahu kau sibuk, tapi aku sangat butuh untuk bertemu denganmu, sebentar saja."

"Kau pikir kau siapa?"

"Aku Bianca Morista."

Dahi Tuan Steve berkerut, "Bianca. Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”

"Aku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri. "Aku hanya perempuan asing dengan lipstik merah yang sangat seksi," ucapnya sambil mengangkat kedua bahu.

Mati sudah. Ini adalah kiamat. Dan dia akan mati sebentar lagi. Kenapa dia menjawab pertanyaan penting itu dengan jawaban melantur.

Apa yang sebenarnya Bianca katakan barusan? Dan juga aksinya? Sikapnya? Bukankah itu semua adalah tindakan bodoh.

Kenapa sebelumnya tak ada yang memberitahu gadis itu kalau CEO perusahaan yang dikorupsi oleh ibunya begitu sangat tampan dan menggoda iman.

Bianca pikir Tuan Steve adalah pria tua bungkuk, dengan rambut memutih dan usia yang tidak jauh berbeda dari usia ibunya.

Tapi lihat apa yang ada di hadapannya saat ini? Tuan Steve sangat tampan dan seksi. Matanya berwarna abu-abu tegas, hidung mancung dan ramping, bibirnya tipis, dan badan yang kokoh seperti dihasilkan dari olah raga gym teratur.

Awwhhh, benar-benar sangat menggoda. Membuat sesuatu di bawah tubuh Bianca berdesir.

Tunggu! Cepat-cepat gadis itu menggeleng. Jangan, jangan, dan jangan. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Dia tidak boleh tergoda oleh orang yang akan memenjarakan ibunya.

"Jadi apa tujuanmu sebenarnya kemari? Kau mau menjadi salah satu penghangat ranjangku atau bagaimana? Menjual dirimu sendiri, Nona?"

Sialan. Tujuan Bianca ke sini adalah untuk membahas hutang piutang. Siapa juga yang mau menjajakan diri. Memangnya dirinya adalah perempuan panggilan pemuas nafus seperti yang ada di novel-novel berjudul gairah sang CEO?

Bianca tidak terima. Dia marah.

"Iya, aku akan menjadi pemuas ranjangmu."

"Hah?!"

"Hah?"

Astaga, bicara apa dia barusan. Bianca membelalak, bukan itu maksudnya. Dia ingin terlihat sarkas, tapi malah seperti dirinya doyan.

Tuan Steve menyipitkan mata. "Ternyata memang benar ingin jual diri.”

Bianca yang terlanjur mengatakan itu menahan napas. Dia ingin membetulkan kesalahpahaman, tetapi sudah terlanjur ditanggapi oleh lawan bicaranya.

Tuan Steve berdiri, melonggarkan dasi dan menatap dengan ekspresi wajah penuh birahi. “Ayo, buka bajumu dan telanjang, kita lihat sehebat apa goyanganmu, perempuan.”

Bab 3

“Aku tidak mau jual diri, siapa juga yang mau menjual diri,” sembur Bianca tidak terima.

“Oh, ya?” Steve justru semakin menekan gadis itu. menatapnya dengan pandangan menelanjangi.

Sialan, Bianca benar-benar sangat hot dan pandai berbicara sama seperti ibunya yang bajingan itu. Siapa yang sangka ternyata Linda menyimpan seorang putri yang begitu cantik dan seksi.

Steve jadi tidak tahan melihat dua bongkahan kenyal yang menyembul itu. Sangat menantang dan segar, ingin sekali Steve cicipi.

“Tapi kau cukup seksi untuk bisa dikategorikan sebagai gadis yang ingin menjual dirinya."

“Dalam mimpimu, Tuan Steve Dvalton. Aku memang seksi dari lahir, tapi bukan berarti aku ingin menjajakan diriku padamu.”

Seringai Steve terbentuk.

Semua yang keluar dari mulut Bianca benar. Bibir seksi merah yang menggoda. Steve tahu itu, bahkan tanpa perlu Bianca memberitahunya. Dia lahir untuk menjadi penggoda bagi laki-laki macam Steve dan Steve menyukainya.

Kemarin saat gadis itu datang Steve tidak sudi untuk menemui. Dia ingin memberi pelajaran dan lagi pula itu sudah menjadi urusan bank dan pengadilan bukan lagi menjadi urusannya.

Mau dia menangis meraung-raung sekalipun tetap saja ibu Bianca akan masuk penjara.

Steve tahu gadis itu menunggu hingga menjelang malam. Dia mendapatkan panggilan dari sekretarisnya bahwa dia diberitahu oleh resepsionis bawah ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan CEO Dvalton tanpa membuat janji.

Steve benci itu dan dia sudah pasti akan menolaknya. Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk orang yang tidak perlu. Dan karena itulah sekretarisnya memarahi resepsionis malang itu, tetapi dia tetap menyampaikan laporannya pada Steve tentang kedatangan seorang gadis seksi bernama Morista.

Kemarin dia hanya menyebutkan nama belakangnya saja, jadi Steve langsung tahu kalau dia adalah putri dari Linda Morista. Steve semakin tidak ingin menemuinya. Namun siapa sangka, putri dari Linda Morista ternyata berbuat nekat begini.

Seorang gadis manis dan cantik dari Indonesia. Jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencari Steve. Berniat ingin menemuinya dengan keyakinan bahwa Steve tidak akan segera mengenalnya.

Dasar bodoh, Tentu saja Steve langsung mengenalinya, karena sebagai anak bawahan kakeknya. Linda sudah dengan lihai dan lancang mengkorupsi uang perusahaan Dvalton group.

Gadis hot bernama Bianca ini benar-benar menggoda iman Steve saja. Dia terlihat begitu menyegarkan untuk dimakan, mata berwarna hitam bulat, lekuk tubuh yang seksi, dua bongkahan kenyal yang begitu penuh, kulit putih pucat dan kaki mulus jenjang bak model.

Dia pasti akan terasa sangat nikmat kalau—

Tunggu! Apa-apaan dia ini. Apa Steve baru saja terpesona olehnya dan memuji gadis itu. Begitukah?

Tidak, ini tidak boleh. Dia tidak boleh tergoda olehnya dan dia tidak boleh mengendalikan Steve menggunakan tubuhnya itu. Ya, Steve yakin sekali. Kalau gadis di hadapannya ini adalah tipe gadis penggoda yang memiliki banyak jurus untuk merayu.

Steve tidak boleh terpengaruh, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa dikontrol oleh pikirannya dan malahan dia segera mengangkat pantatnya sendiri dari tempat duduk, berjalan mendekat pada Bianca yang berjarak tidak jauh.

“Kurasa aku sudah salah paham, kukira tadinya kedatanganmu ke sini karena ingin menggodaku. Rupanya aku salah,” kata Steve setelah lama hanya berdiam diri.

Bianca mengerutkan dahinya. “Maksud anda?”

“Ternyata aku yang tergoda dengan sendirinya.”

Steve maju beberapa langkah, mendekat pada gadis berbibir penuh dan merah itu.

Dan sialan yang benar-benar sial. Wangi tubuh Bianca langsung menguar masuk ke dalam paru-paru. Membuat Steve tak bisa menahan diri untuk menerkamnya.

“Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam?” Bianca memberi peringatan, tapi Steve mana peduli, lelaki itu terus saja mendekat mengikis jarak yang ada.

Dia rasa dia mulai gila saat tangannya tiba-tiba sudah melilit di pinggang Bianca sambil mendekatkan wajahnya.

“Kau sangat seksi, aku jadi tidak tahan.”

“Tidak tahan apa? J-jangan macam-macam, atau.”

“Atau apa? Hmm?”

Mereka saling menatap satu sama lain, awalnya Bianca menolak untuk membalas tatapan Steve, tapi Steve mendongakkan paksa wajahnya. “Katakan sayangku, atau apa.”

“Atau aku akan teri—“

Belum selesai Bianca bicara, bibirnya tiba-tiba sudah meraup paksa. Steve langsung mencecap rasa yang dari tadi sudah sangat ingin dia cicipi. Menyebar gigitan-gigitan kecil yang merangsang kenikmatan agar Bianca membalas apa yang Steve lakukan saat ini pada perempuan itu.

“Mpphh, lepas.”

Ciuman Steve semakin brutal. Dua tangannya melilit paksa tubuh Bianca dan menekannya, membuat dua payudara perempuan itu terasa di dada Steve.

“Mpph, sshh.”

“Nikmati saja, Bianca,” ucap Steve sensual.

Bianca membuka bibirnya sedikit dan kesempatan itu tidak akan Steve sia-siakan. Dengan cepat Steve langsung meraup semua yang bisa dia raup. Ciuman yang benar-benar sangat menggairahkan.

“Mphh, ahhh, shhh.”

Bianca yang sepertinya mulai hilang akal berubah menjadi seperti seorang ahli, gadis itu membalas ciuman Steve, membuat sorakan girang di hati CEO Dvalton. dan lidah gadis itu terasa manis seperti cherry.

Sebelah tangan Steve mendarat nyaman di salah satu payudara Bianca. Meremasnya kuat, membuat Bianca ingin menjerit keenakkan.

“Sakithh.”

“Sakit atau nikmat?” tanya Steve sambil terus memainkan payudara kenyal Bianca.

“Mpphh, ahh.”

Tubuh Bianca bergidik, merasakan rangsangan luar biasa yang menyengat tubuhnya. Inti tubuhnya di bawah sana bahkan sudah mulai terasa basah. Respon alami saat dua orang dewasa saling bercumbu.

Steve meningkatkan intensitas ciumannya, membeli lidah Bianca dan menghisap habis air liurnya.

Gawat, kalau terus begini bisa-bisa Bianca akan ditelanjangi dan semua imajinasi awalnya akan terwujud.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED