"Karena hutang Ibumu, kau sebagai putrinya harus menjadi pemuas nafsuku. Ayo, sekarang telanjang, Hahahah."
Sebuah dorongan yang cukup kencang dari dua penjaga laki-laki bertubuh besar membuat tubuh Bianca hampir terjungkal ke depan. Dia lalu seret paksa menuju sebuah kamar, bajunya dirobek kasar, hingga mengekspose bra dan celana dalam yang ia kenakan. Menampakkan kulit putih bersih hasil perawatan salon mahal.
Air mata Bianca bercucuran. Gadis itu mencoba menyelamatkan diri dan memberontak, dia ingin kabur kemana saja, terserah. Asalkan bukan di sini dan menjadi pelampiasan nafsu.
Namun semua itu sudah terlambat, tubuhnya digerayangi, menghasilkan suara desahan napas yang memenuhi udara. Laki-laki di atasnya membuka celana, mengeluarkan rudal besar panjang yang tampang mengerikan, lalu memasukkan ke inti tubuh Bianca. Mencinptakan gerakan maju mundur yang membuat intinya terasa penuh.
“Mpphh, ahh, sakithhh, tolong berhenti.”
Kepala Bianca pening bukan main, ternyata begini rasanya dipaksa bercinta. Sangat tidak menyenangkan dan benar-benar buruk. Bagaimana bisa novel-novel romansa setengah porno menggambarkan percintaan yang paksa begitu indah dan candu.
Semua itu bohong. Nol besar! Buktinya sekarang, Bianca mau mati berdiri karena inti tubuhnya dijejali paksa oleh benda tumpul panjang yang mengerikan.
"Sedang memikirkan apa, Manis?” kata sosok di atasnya. “Bagaimana rudalku? Apa kau menikmatinya? Enak tidak?" sambil tubuhnya terus bergoyang dengan wajah belingsatan. “Ahh, shhh, ahh. Nikmathh sekalihh.”
"Ini mimpi atau bukan?"
"Mimpi? Huahaha, Ini adalah kenyataan, Cantik. Ini takdirmu, kau menjadi pemuas nafsu sebagai ganti rugi uang yang digelapkan ibumu. Selamat datang di neraka. Kau setiap hari akan kuperkosa tanpa ampun. Sekarang jangan banyak bicara dan nikmati saja percintaan panas ini."
"Tidaaaak!!!!" Bianca menjerit tertahan.
Bianca segera ia tersentak dari lamunan yang diciptakan oleh kepalanya sendiri. Tubuhnya bergidik ngeri.
"Aku tidak mau jadi budak seks, aku mau hidup bebas jadi tante-tante hot yang nyewa berondong krisis duit kuliah," katanya. Sambil mengibas-ngibaskan tangan ke udara. Membuang semua imajinasi cabul dan liar tentang nasibnya yang menunggu untuk dijemput.
Daritadi dia hanya berkhayal saja, bukan kenyataan. Itu adalah imajinasi yang timbul karena rasa khawatir berlebihan.
Semua belum terjadi dan tidak akan mungkin benar terjadi? Bianca mana mau menjadi pemuas nafsu dari laki-laki bangkotan dengan kepala botak yang berbau tanah. Mustahil baginya untuk orgasme kalau berada di bawah kukungan pria semacam itu.
Bianca masih perawan, apemnya tersegel rapat dan itu adalah harga mahal yang dia jaga selama ini.
Lalu diberikan pada laki-laki udzur yang sebentar lagi masuh neraka? Yang benar saja. Big no!
Bianca menggeleng. Dia bertekad untuk merubah takdir buruk dalam bayangannya. Maka dari itulah alasan kenapa sekarang gadis bertubuh seksi itu meringkuk bersembunyi seperti maling di bawah meja CEO Dvalton grup.
Dia menyusup diam-diam karena butuh bicara dan bernegosiasi. Berharap pemimpin utama perusahaan yang menyeretnya pada kasus ini mau berbaik hati mencabut tuntutan.
Awalnya, kehidupan Bianca baik dan makmur. Dia adalah gadis manis dengan dada besar dan bokong yang kencang. Wajahnya cantik dan kulitnya putih. Kemanapun Bianca pergi selalu menjadi sorotan bagi kaum laki-laki.
Hidup yang benar-benar mulus betul sepuluh, memiliki gaji, tempat tinggal, dan juga lingkungan pertemanan yang suportif.
Sampai sebuah surat dari bank swasta memberitahukan bahwa aset rumah, tanah, dan semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Bianca di sita tanpa ampun.
Bianca yang tidak siap terkejut bukan main saat sebuah kenyataan pahit yang tentu saja mengubah segalanya membuat gadis itu harus memutar otak untuk membereskan kekacauan yang ada.
Kenapa di usianya yang sangat muda dia harus terlilit hutang yang bahkan bukan dia penyebabnya, melainkan Ibunya sendiri. Seharusnya, diusianya sekarang tugas Bianca hanya perlu bersenang-senang. Menyewa brondong kekurangan uang seperti yang tadi dia khayalkan tadi dan memperkosa mereka.
Oh, Tuhan. Andai waktu bisa diputar, Bianca akan sekuat tenaga melarang sang ibu untuk bersikap ceroboh dengan meminjam kucuran dana dari perusahaan tempatnya bekerja.
Tahun-tahun di masa kejayaan sang ibu membuat perempuan itu sangat yakin bisa membayar semua pinjaman yang diajukan.
Namun takdir siapa yang tahu, sesuatu terjadi. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, ibunya yang seorang single parent tersandung kasus korupsi, lalu dinyatakan bangkrut.
Ibu baik hatinya yang sangat ramah mendapatkan panggilan dari pengacara Dvalton group, sebuah perusahaan dibidang berlian asal italia karena kasus penggelapan uang.
Hal ini tentu saja menjadi pukulan yang sangat berat, baik bagi dirinya maupun ibunya sendiri. Bianca yang tidak tega melihat ibunya menderita akhirnya memutuskan untuk menemui CEO dari perusahaan itu. Barangkali dia bisa membuat kesepakatan yang bisa meringankan penderitaan Bianca sebagai gadis seksi baik hati dan tidak jadi pelakor.
Sebelumnya, Bianca sudah banyak mendengar kalau para CEO hanya memiliki dua sifat jahanam, antara brengsek atau cabul, atau keduanya. Sudah brengsek, cabul pula. Bianca berharap CEO yang akan dia temui kali ini setidaknya paham agama dan baik.
Dan setelah semua perencanaan matang itu, di sini lah dia. Duduk meringkuk bersembunyi di bawah kolong meja kerja pemimpin perusahaan Dvalton.
Iya, ya. Bianca tahu ini memang diluar akal sehat manusia. Tindakannya yang membuat posisi wanita itu perlu menekukkan kaki jenjangnya supaya menghemat tempat adalah illegal. Kalau dia ketahuan, mungkin dia akan diseret keluar oleh satpam dan dimaki-maki di depan gedung kantor.
Sebelumnya, dua hari yang lalu dia datang ke Singapura. Saat baru tiba yang mana itu kemarin, dia gagal meyakinkan resepsionis yang berada di lantai paling bawah bangunan untuk mengizinkannya bertemu pemimpin perusahaan. Hari ini dia kembali datang dan lagi-lagi harus kembali menelan kecewa.
CEO bajingan itu—yang entah siapa namanya—menolak untuk menerima tamu tanpa janji terlebih dahulu. Kenapa orang-orang penting selalu saja menyebalkan? Lagi pula membuat janji membutuhkan prosedur yang rumit dan memakan waktu. Bianca tak punya cukup banyak uang untuk bertahan di kota yang bukan asalnya. Dia harus bertemu dengan CEO sialan itu bagaimana pun caranya.
Makanya Bianca nekat menyusup dan bersembunyi di bawah meja kantor CEO itu. Dia hanya mau bernegosiasi. Itu saja. Tolong jangan menyalahkan Bianca.
***
Flashback
"Selamat pagi. Apa ada yang bisa kami bantu, Nona?"
"Bisa kah anda berbahasa Inggris? Aku tidak terlalu menguasai bahasa mandarin."
"Ah." Sang resepsionis berdehem sebentar. Mengubah raut mukanya sekaligus bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan nona asing berambut hitam yang baru datang.
"Selamat pagi. Apakah ada yang bisa kami bantu, Nona?"
"Begini. Emm, Aku ingin menemui Tuan Steve Dvalton. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan dengan beliau. Jadi bisakah anda mengatur jadwal untuk hari ini agar aku bisa bertemu dengannya?" tanya Bianca sopan.
Namun gadis semok itu harus menelan kekecewaan kala sang resepsionis berkata, "Maaf, Nona. Jika anda tidak memiliki janji temu dengan atasan kami, maka kami tidak bisa membantu anda untuk membuat jadwal. Setidaknya janji pertemuan harus dibuat satu hari sebelumnya atau kalau anda mau anda bisa meninggalkan identitas anda dan nomor yang dapat kami hubungi di sini. Jika kami sudah membuat jadwal yang tepat, maka kami akan memberitahu anda segera."
Bianca meringis. Sialan, dia sudah menduganya.
"Oh, begitu, ya. Emm, bisakah anda membuat pengecualian untukku, kali ini saja. Masalah yang kuhadapi benar-benar darurat dan aku tidak punya cukup waktu di sini. Besok aku harus kembali ke negaraku."
"Maaf Nona. Saya tidak bisa."
"Atau begini saja. Tolong beritahu sekretaris Tuan Steve kalau aku ingin bertemu dengan atasannya. Sebut saja Nona Morista dari Indonesia. Aku yakin Tuan Steve langsung mengenaliku. Kami terlibat hubungan—"
"Nona." Belum selesai Bianca mengutarakan maksud. Sang resepsionis terlebih dahulu sudah memotong omongannya. "Saya tidak tahu anda yang ke berapa. Tapi sudah banyak perempuan muda yang datang ke sini untuk bertemu dengan Tuan Steve. Mereka juga menggunakan alasan yang sama yang anda gunakan. Sejenis hubungan atau entahlah," kata resepsionis itu. Seolah sungkan untuk mengatakannya.
Namun, Bianca tentu tahu maksudnya. Pikiran gadis itu langsung berbicara, 'Bajingan. Sebenarnya berapa banyak laki-laki brengsek itu meniduri wanita sampai ada banyak yang berkunjung ke kantor.'
"Aku mohon. Setidaknya beri aku satu kali kesempatan atau satu panggilan untuknya yang memberitahu kalau aku ada di sini dan menunggunya," ucap Bianca meyakinkan.
"Maaf Nona, saya sungguh tak bisa."
"Tolong lah." Bianca menunjukkan wajah seperti anak anjing. Matanya bulat berbinar mengemis bantuan. "Kau 'kan juga pekerja, kau seharusnya mengerti apa yang kurasakan. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan habiskan banyak sekali dana hanya untuk meminta kepastian dari atasanmu."
Berhasil. Sang resepsionis langsung menatap iba sekaligus jengkel. "Ah, aku bosan sebenarnya menghadapi ini. Berapa banyak lagi wanita yang harus menggunakan trik sama." Dia menatap ke arah Bianca. "Lain kali cobalah untuk tidak tertipu dengan wajah tampan yang dia miliki, Nona. Kau perlu menyelamatkan dirimu."
"Terima kasih sarannya. Aku akan mengingat itu."
Sang resepsionis mengangkat gagang telepon di depannya kemudian menghubungi sekretaris Dvalton. Entah apa yang mereka bicarakan dalam bahasa mandarin, tetapi yang Bianca tahu resepsionis itu sepertinya gagal.
Terdengar suara bentakan yang cukup kencang dari seberang telepon dan membuat wajah gadis di depannya itu memucat karena dimarahi.
"Bagaimana?" Bianca mencoba menenangkan debar di dada tepat saat sang resepsionis meletakkan ganggang teleponnya ke tempat semula.
"Sepertinya tidak berhasil. Maaf Nona. Sekertaris Tuan Steve tetap menolak."
Raut wajah Bianca menunjukkan ekspresi sedih. "Begitu, ya. Huft. Ya, sudah. Maaf sudah membuatmu dimarahi, miss."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya terbiasa dengan hal itu. Saya minta maaf karena tidak bisa menolongmu lebih dan hanya ini yang bisa saya lakukan."
"Baiklah. Tapi bisakah kau setidaknya membolehkan aku untuk duduk di sana." Bianca menunjuk sebuah kursi tunggu di loby. "Aku akan menunggu jika semisal Tuan Dvalton lewat."
"Tidak masalah, Nona. Silahkan saja, tapi Tuan Steve sangat jarang melewati lobby untuk keluar dari kantor."
"Tidak masalah. Aku hanya sedang mencoba peruntunganku. Setidaknya aku harus membawa hasil hari ini."
Sang resepsionis tersenyum manis. "Baiklah. Sebelum itu Anda harus mengisi jurnal kunjungan." Dia menyodorkan buku dan Bianca segera menandatangainya.
Usai mengisi jurnal. Bianca yang baru akan mendarat bokongnya mendadak mendapat sebuah ide. Gadis itu bangkit, berdiri dengan dua mata melebar. Jantungnya berdegup kencang.
Dia kembali mendekat pada resepsionis untuk bertanya, "Maaf, boleh aku tahu dimana lantai CEO berada?"
Awalnya resepsionis itu terlihat ragu. Namun, Bianca meyakinkan dengan ingin memastikan sesuatu, menggunakan alasan-alasan yang terdengar urgen.
"Ruang CEO ada di lantai empat puluh, Nona."
Bianca cepat mencatat dalam kepala. Bergerak seperti maling dan masuk ke dalam lift menuju lantai dimana pemimpin perusahaan ini berada. Sudah dibilang dia harus bertemu dengan laki-laki itu, tak peduli bagaimana pun caranya. Bianca sudah kehabisan waktu dan uang.
Dan sekarang, di sini lah dia. Menunduk melipat badan, bersembunyi di bawah meja kerja milik CEO perusahaan Dvalton.
Suara pintu terbuka dan langkah kaki terdengar. Sekarang, Bianca bisa melihat dua buah sepatu mengkilat berwarna hitam ada di hadapannya.
Bayangan soal dirinya dilecehkan oleh pria tua kembali tergambar memenuhi kepala.
Sekarang Bianca bergerak gusar. Takut dan cemas meringkuk di bawah meja. Degup jantung serasa mencelos begitu mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat.
Tadi dia sudah menyiapkan mentalnya, tapi tetap saja dia merasa gugup. Ini adalah keputusan paling nekat dan berani yang pernah dia buat selama seperempat abad dia hidup di dunia.
Banyak pikiran buruk muncul. Bagaimana kalau laki-laki CEO itu marah akan sikap kelancangan yang dilakukan oleh Bianca.
Tentu saja. Siapa sih yang tidak akan marah menemukan seseorang yang diam-diam menyelundup masuk ke dalam ruang kantor tanpa izin dari penghuninya.
Demi apa pun. Bianca mencoba menjalankan ide gila yang muncul di dalam kepala tanpa pernah memikir akibat terburuk yang akan terjadi. Persetan dengan itu semua karena dia harus bertemu dengan CEO dari Dvalton group.
Bisa Bianca lihat dengan jelas sepasang sepatu berwarna hitam mengkilat yang sangat kinclong dan celana hitam senada dengan jas yang dipakai.
Dia hanya bisa melihat seperempatnya saja dan hanya dari pemandangan itu, dia sudah tahu kalau orang yang memakai stelan demikian adalah tipe parlente; Orang-orang berkelas yang biasanya kejam dan haus dengan seks.
Tuan Steve menarik kursi dan mendudukinya. Setelah itu dia menarik maju agar lebih dekat ke meja kerja.
Jarak Bianca dengan selangkangan pemimpin utama Dvalton group sangat dekat. Bahkan teramat dekat. Dia berusaha menahan napas, Bianca harus kuat dan yakin. Mengenyampingkan pikiran buruk yang menginterupsi saat ini atau kalau tidak, maka ibunya yang malang dan super baik itu akan menderita.
Dia harus membuat kesepakatan dengan Dvalton group.
Tuan Steve menggerakkan kaki, lebih dekat ke bawah meja. Menyebabkan selangkangan laki-laki itu tepat di depan mata Bianca. Gadis itu menahan napas, makin gugup dan takut. Gelembung besar yang menyembunyikan sesuatu di dalamnya membuat otak Bianca berpetualangan ke arah yang iya iya.
‘Pegang tidak ya? Kalau kupegang, apa orang ini akan mendesah atau teriak?’ batin Bianca penasaran.
Dia memaju-mundurkan tangannya di udara. Antara ingin mencengram atau tidak. Tiba-tiba di tengah kebingungan itu, Tuan Steve berdeham. Membuat Bianca kaget setengah mati.
Mata Bianca terpejam. Keringat dingin sudah banjir menetes dari dahi. Gadis itu berpikir, mungkin Tuan Steve sedang sibuk memperhatikan layar laptopnya dan mungkin sedang mempelajari dokumen atau laporan lain yang harus segera dia tangani. Jadi dia tidak menyadari kalau ada sesosok gadis seksi yang bersembunyi di bawah meja sedang memandang selangkangannya.
Haruskan Bianca keluar dari persembunyiannya sekarang dan mengejutkan laki-laki itu? Atau bertahan saja? Bagaimana kalau ternyata Tuan Steve menyimpan sepucuk senjata di dalam laci dan menembak kepalanya. Tapi kalau dia bertahan, berapa lama dia harus menunggu. Sampai pulang? Tidak mungkin.
‘Keluar, tidak, keluar, tidak. Atau aku genggam saja rudalnya agar aku tahu ukurannya besar atau tidak? Aih, jangan. Ngapain coba,’ isi pikiran Bianca memenuhi kepala. Gadis itu bingung.
Saat akan menemukan jalan keluar lainnya, Tuan Steve berbicara, "Apa kau masih betah di sana?”
Dugh! Aww!
Suara kepala membentur meja terdengar.
“Kepalamu kejedug? Kau baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kau masih betah di sana? Mau berapa lama? Apakah masih lama? Aku sudah tahu keberadaanmu daritadi," kata Tuan Steve.
Hening dan sunyi. Bianca yang merasa kepalanya cenat-cenut menutup mulut rapat. Matanya membola, jantungnya serasa mau pecah. Dia ketakutan level maksimal.
"Keluar saja. Aku sudah tahu kalau kau bersembunyi di sana."
Mata Bianca memejam. Dia terkesiap gugup. Baiklah, mau tidak mau dia harus keluar dari persembunyian, tapi dari mana rupanya pria itu tahu kalau dia sedang bersembunyi di bawah meja? Ah, cctv, tentu saja. Kenapa Bianca tidak berpikir sampai ke sana. Sialan!
Gadis itu akhirnya merangkak keluar dari kolong meja kerja CEO itu. Bianca berhasil berdiri, dengan memegang dua paha Tuan Steve dan menyeringai tak bersalah di depan laki-laki itu.
‘Sialan, dia tampan rupanya.’
“Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktu anda,” ucap Bianca sopan.
“Menyingkir dari hadapan saya.”
“Ah, iya benar.” Bianca menggeser tubuh, menciptakan jarak sambil membetulkan baju ketat yang dia kenakan. Sementara mata elang milik Tuan Steve memandang sekilas tubuh seksi Bianca, lalu beralih menatap laptop.
Di momen ini. Bianca merasa seperti jalang yang mencoba untuk menggoda Tuan Steve. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, tapi demi sang ibu, Bianca sanggup melakukan itu.
Namun, bukannya mendapat sambutan. Justru Tuan Steve malah mengambil gagang telepon di meja kiri dekat dengan Bianca, tepat di hadapan gadis itu. Dia menekan tiga kali tuts angka dan Bianca sadar jika dirinya dalam bahaya.
Tuan Steve sedang memanggil keamanan.
"Security, tolong ke ruanganku sekarang juga. Ada penyus—"
Bianca dengan cepat memencet tombol pengair percakapan di telepon line itu. Degup jantungnya bertalu-talu, dia cemas bukan main, tapi memaksa untuk menyungging senyum.
"Tolong jangan panggil keamanan terlebih dahulu. Aku mohon." Dia menangkupkan dua tangan mengiba. Setelah itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena gerakan cepat saat memutuskan percakapan di telepon line tadi.
Dia sangat seksi. Amat sangat seksi dan Bianca yakin dengan tubuh indah yang dimilikinya dia pasti bisa meluluhkan hati CEO bajingan ini. Gadis itu sengaja mengikalkan rambut panjang yang dia miliki. Di belah pinggir dan di letakkan di depan sisi tubuhnya.
Bianca memakai sebuah gaun terusan brenda berwarna merah terang model sabrina, dengan korset berwarna hitam pekat di luarnya. Dia juga memakai sepasang sepatu heels tinggi berwarna senada dengan gaun yang digunakan. Bibir tebal berisi yang dioles dengan lipstik merah.
Memang tema pakaian yang dia kenakan hari ini sangat memprovokasi, memiliki niat untuk menggoda sang CEO yang katanya brengsek dan pemain wanita.
Namun, lagi dan lagi Bianca harus menelan kecewa. Bukannya terpesona, Tuan Steve malah menatapnya datar. Seolah sama sekali tidak tertarik dengan Bianca yang sudah berdandan maksimal.
"Kau menyusup ke dalam kantorku dan aku tidak boleh mengusir orang sepertimu? Kenapa?"
Suaranya tenang dan datar. Seksi dalam artian yang membuat sesuatu bergetar di bawah perut. Astaga hanya dengan suaranya saja, Bianca pikir laki-laki ini mampu membuat banyak wanita di luar sana orgasme.
"Ak-aku sungguh minta maaf," katanya dengan wajah panas. "Tapi aku hanya ingin meminta beberapa menit dari waktu yang kau miliki."
"Beberapa menit? Meminta? Kau pikir aku akan meluangkan waktu untuk orang sepertimu?" tanyanya dengan suara yang tinggi. Kali ini Tuan Steve sama sekali tak lagi terlihat seksi. Bianca jadi gemetar ketakutan.
"Ya, maaf. Aku tahu kau sibuk, tapi aku sangat butuh untuk bertemu denganmu, sebentar saja."
"Kau pikir kau siapa?"
"Aku Bianca Morista."
Dahi Tuan Steve berkerut, "Bianca. Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”
"Aku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri. "Aku hanya perempuan asing dengan lipstik merah yang sangat seksi," ucapnya sambil mengangkat kedua bahu.
Mati sudah. Ini adalah kiamat. Dan dia akan mati sebentar lagi. Kenapa dia menjawab pertanyaan penting itu dengan jawaban melantur.
Apa yang sebenarnya Bianca katakan barusan? Dan juga aksinya? Sikapnya? Bukankah itu semua adalah tindakan bodoh.
Kenapa sebelumnya tak ada yang memberitahu gadis itu kalau CEO perusahaan yang dikorupsi oleh ibunya begitu sangat tampan dan menggoda iman.
Bianca pikir Tuan Steve adalah pria tua bungkuk, dengan rambut memutih dan usia yang tidak jauh berbeda dari usia ibunya.
Tapi lihat apa yang ada di hadapannya saat ini? Tuan Steve sangat tampan dan seksi. Matanya berwarna abu-abu tegas, hidung mancung dan ramping, bibirnya tipis, dan badan yang kokoh seperti dihasilkan dari olah raga gym teratur.
Awwhhh, benar-benar sangat menggoda. Membuat sesuatu di bawah tubuh Bianca berdesir.
Tunggu! Cepat-cepat gadis itu menggeleng. Jangan, jangan, dan jangan. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Dia tidak boleh tergoda oleh orang yang akan memenjarakan ibunya.
"Jadi apa tujuanmu sebenarnya kemari? Kau mau menjadi salah satu penghangat ranjangku atau bagaimana? Menjual dirimu sendiri, Nona?"
Sialan. Tujuan Bianca ke sini adalah untuk membahas hutang piutang. Siapa juga yang mau menjajakan diri. Memangnya dirinya adalah perempuan panggilan pemuas nafus seperti yang ada di novel-novel berjudul gairah sang CEO?
Bianca tidak terima. Dia marah.
"Iya, aku akan menjadi pemuas ranjangmu."
"Hah?!"
"Hah?"
Astaga, bicara apa dia barusan. Bianca membelalak, bukan itu maksudnya. Dia ingin terlihat sarkas, tapi malah seperti dirinya doyan.
Tuan Steve menyipitkan mata. "Ternyata memang benar ingin jual diri.”
Bianca yang terlanjur mengatakan itu menahan napas. Dia ingin membetulkan kesalahpahaman, tetapi sudah terlanjur ditanggapi oleh lawan bicaranya.
Tuan Steve berdiri, melonggarkan dasi dan menatap dengan ekspresi wajah penuh birahi. “Ayo, buka bajumu dan telanjang, kita lihat sehebat apa goyanganmu, perempuan.”
“Aku tidak mau jual diri, siapa juga yang mau menjual diri,” sembur Bianca tidak terima.
“Oh, ya?” Steve justru semakin menekan gadis itu. menatapnya dengan pandangan menelanjangi.
Sialan, Bianca benar-benar sangat hot dan pandai berbicara sama seperti ibunya yang bajingan itu. Siapa yang sangka ternyata Linda menyimpan seorang putri yang begitu cantik dan seksi.
Steve jadi tidak tahan melihat dua bongkahan kenyal yang menyembul itu. Sangat menantang dan segar, ingin sekali Steve cicipi.
“Tapi kau cukup seksi untuk bisa dikategorikan sebagai gadis yang ingin menjual dirinya."
“Dalam mimpimu, Tuan Steve Dvalton. Aku memang seksi dari lahir, tapi bukan berarti aku ingin menjajakan diriku padamu.”
Seringai Steve terbentuk.
Semua yang keluar dari mulut Bianca benar. Bibir seksi merah yang menggoda. Steve tahu itu, bahkan tanpa perlu Bianca memberitahunya. Dia lahir untuk menjadi penggoda bagi laki-laki macam Steve dan Steve menyukainya.
Kemarin saat gadis itu datang Steve tidak sudi untuk menemui. Dia ingin memberi pelajaran dan lagi pula itu sudah menjadi urusan bank dan pengadilan bukan lagi menjadi urusannya.
Mau dia menangis meraung-raung sekalipun tetap saja ibu Bianca akan masuk penjara.
Steve tahu gadis itu menunggu hingga menjelang malam. Dia mendapatkan panggilan dari sekretarisnya bahwa dia diberitahu oleh resepsionis bawah ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan CEO Dvalton tanpa membuat janji.
Steve benci itu dan dia sudah pasti akan menolaknya. Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk orang yang tidak perlu. Dan karena itulah sekretarisnya memarahi resepsionis malang itu, tetapi dia tetap menyampaikan laporannya pada Steve tentang kedatangan seorang gadis seksi bernama Morista.
Kemarin dia hanya menyebutkan nama belakangnya saja, jadi Steve langsung tahu kalau dia adalah putri dari Linda Morista. Steve semakin tidak ingin menemuinya. Namun siapa sangka, putri dari Linda Morista ternyata berbuat nekat begini.
Seorang gadis manis dan cantik dari Indonesia. Jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencari Steve. Berniat ingin menemuinya dengan keyakinan bahwa Steve tidak akan segera mengenalnya.
Dasar bodoh, Tentu saja Steve langsung mengenalinya, karena sebagai anak bawahan kakeknya. Linda sudah dengan lihai dan lancang mengkorupsi uang perusahaan Dvalton group.
Gadis hot bernama Bianca ini benar-benar menggoda iman Steve saja. Dia terlihat begitu menyegarkan untuk dimakan, mata berwarna hitam bulat, lekuk tubuh yang seksi, dua bongkahan kenyal yang begitu penuh, kulit putih pucat dan kaki mulus jenjang bak model.
Dia pasti akan terasa sangat nikmat kalau—
Tunggu! Apa-apaan dia ini. Apa Steve baru saja terpesona olehnya dan memuji gadis itu. Begitukah?
Tidak, ini tidak boleh. Dia tidak boleh tergoda olehnya dan dia tidak boleh mengendalikan Steve menggunakan tubuhnya itu. Ya, Steve yakin sekali. Kalau gadis di hadapannya ini adalah tipe gadis penggoda yang memiliki banyak jurus untuk merayu.
Steve tidak boleh terpengaruh, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa dikontrol oleh pikirannya dan malahan dia segera mengangkat pantatnya sendiri dari tempat duduk, berjalan mendekat pada Bianca yang berjarak tidak jauh.
“Kurasa aku sudah salah paham, kukira tadinya kedatanganmu ke sini karena ingin menggodaku. Rupanya aku salah,” kata Steve setelah lama hanya berdiam diri.
Bianca mengerutkan dahinya. “Maksud anda?”
“Ternyata aku yang tergoda dengan sendirinya.”
Steve maju beberapa langkah, mendekat pada gadis berbibir penuh dan merah itu.
Dan sialan yang benar-benar sial. Wangi tubuh Bianca langsung menguar masuk ke dalam paru-paru. Membuat Steve tak bisa menahan diri untuk menerkamnya.
“Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam?” Bianca memberi peringatan, tapi Steve mana peduli, lelaki itu terus saja mendekat mengikis jarak yang ada.
Dia rasa dia mulai gila saat tangannya tiba-tiba sudah melilit di pinggang Bianca sambil mendekatkan wajahnya.
“Kau sangat seksi, aku jadi tidak tahan.”
“Tidak tahan apa? J-jangan macam-macam, atau.”
“Atau apa? Hmm?”
Mereka saling menatap satu sama lain, awalnya Bianca menolak untuk membalas tatapan Steve, tapi Steve mendongakkan paksa wajahnya. “Katakan sayangku, atau apa.”
“Atau aku akan teri—“
Belum selesai Bianca bicara, bibirnya tiba-tiba sudah meraup paksa. Steve langsung mencecap rasa yang dari tadi sudah sangat ingin dia cicipi. Menyebar gigitan-gigitan kecil yang merangsang kenikmatan agar Bianca membalas apa yang Steve lakukan saat ini pada perempuan itu.
“Mpphh, lepas.”
Ciuman Steve semakin brutal. Dua tangannya melilit paksa tubuh Bianca dan menekannya, membuat dua payudara perempuan itu terasa di dada Steve.
“Mpph, sshh.”
“Nikmati saja, Bianca,” ucap Steve sensual.
Bianca membuka bibirnya sedikit dan kesempatan itu tidak akan Steve sia-siakan. Dengan cepat Steve langsung meraup semua yang bisa dia raup. Ciuman yang benar-benar sangat menggairahkan.
“Mphh, ahhh, shhh.”
Bianca yang sepertinya mulai hilang akal berubah menjadi seperti seorang ahli, gadis itu membalas ciuman Steve, membuat sorakan girang di hati CEO Dvalton. dan lidah gadis itu terasa manis seperti cherry.
Sebelah tangan Steve mendarat nyaman di salah satu payudara Bianca. Meremasnya kuat, membuat Bianca ingin menjerit keenakkan.
“Sakithh.”
“Sakit atau nikmat?” tanya Steve sambil terus memainkan payudara kenyal Bianca.
“Mpphh, ahh.”
Tubuh Bianca bergidik, merasakan rangsangan luar biasa yang menyengat tubuhnya. Inti tubuhnya di bawah sana bahkan sudah mulai terasa basah. Respon alami saat dua orang dewasa saling bercumbu.
Steve meningkatkan intensitas ciumannya, membeli lidah Bianca dan menghisap habis air liurnya.
Gawat, kalau terus begini bisa-bisa Bianca akan ditelanjangi dan semua imajinasi awalnya akan terwujud.