Bab 1

Vindreya, gadis cantik berkulit putih itu membuka perlahan kedua matanya. Dengan mata sayup-sayup, dia mengubah posisinya yang tadi tidur terlentang, kini duduk di atas sebuah ranjang empuk. Dia melihat ke sekelilingnya. Ruangan yang sedang dia tempati itu tampak asing.

“Aku di mana?” Vindreya menggaruk kepalanya sambil terus menoleh ke kanan dan kirinya.

Prang!

Vindreya terperanjat kaget. Sepertinya itu adalah panci yang tanpa sengaja jatuh ke atas lantai. Karena merasa penasaran, gadis itu beranjak lalu berjalan dengan mengendap-endap kemudian keluar dari kamarnya.

Tak jauh di depan Vindreya, tampak seorang lelaki asing sedang membungkukkan badannya untuk mengambil panci yang baru saja terjatuh. Laki-laki itu lalu tak sengaja menoleh ke sisi kirinya dan melihat Vindreya sedang berdiri dengan raut wajah bingung sekaligus takut.

Laki-laki berambut hitam dengan sorot mata tajam itu tersenyum. Lalu, entah bagaimana bisa Vindreya mendadak mematung dengan perasaan bahagia yang sulit dideskripsikan. Rasanya seolah-olah senyuman dari laki-laki itu telah sejak lama dinantikan oleh indera penglihatan Vindreya.

“Pagi, Sayang,” ucap laki-laki itu.

“Eh? Sa--sayang?” Vindreya kaget. Mengapa laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’? Mereka bahkan tidak saling mengenal.

“Maaf, ya. Pasti gara-gara aku jatuhin panci, kamu jadi kebangun, ya?”

“Em, itu ….” Vindreya menggaruk kepalanya sambil memalingkan wajah dari laki-laki asing itu.

Laki-laki itu berjalan kemudian menarik salah satu kursi di meja makan lalu meletakkannya di sebelah Vindreya.

“Ayo, duduk.” Laki-laki itu memegang lembut kedua bahu Vindreya.

Vindreya sekarang malah dibuat semakin takut. Selain memanggilnya ‘sayang’, laki-laki itu juga berani menyentuh Vindreya seolah-olah Vindreya adalah miliknya.

Masih dengan perasaan tidak tahu apa-apa, Vindreya menurut saja dan menjatuhkan bokongnya di atas kursi. Laki-laki itu berbalik badan lalu menyalakan kompor dan mulai memasak.

Kedua tangan Vindreya saling menggenggam erat di atas pahanya. Apakah tidak apa-apa jika dia berbicara dengan orang asing? Ah, untuk apa berpikir panjang lebar? Jika dia diam, maka tidak akan ada pertanyaannya yang terjawab.

“Em, ma--maaf. Kamu siapa, ya?” tanya Vindreya dengan ragu.

“Hahaha.” Laki-laki itu masih sibuk memasak dan betah sekali membelakangi Vindreya. Tampaknya dia tidak tahu sudah berada di level mana rasa bingung Vindreya sekarang.

Laki-laki itu mengecilkan nyala api kompor lalu berjalan sambil tersenyum hangat pada Vindreya. Sesampainya di depan gadis itu, laki-laki itu berlutut sambil menggenggam kedua tangan putih Vindreya.

“Vindreya, nggak apa-apa kalo kamu masih belum bisa ingat aku. Aku juga nggak masalah kalo aku harus berkali-kali memperkenalkan diri aku sama kamu … karena aku suka sama status aku sekarang.”

Vindreya hanya diam, tetapi alisnya semakin merapat bahkan hampir bertaut. Dia semakin bingung.

“Vindreya Sanjaya, aku adalah Kenzo, suami kamu.”

“Hah?!” Vindreya terperanjat kaget dengan mata melotot. “Su--suami? Kamu suami aku? I-itu artinya aku istri kamu? Kita udah nikah? Tapi … aku nggak ingat semua itu.”

Laki-laki bernama Kenzo itu tersenyum. “Iya, Sayang. Untuk saat ini kamu memang nggak ingat sama semua itu. Tapi, aku nggak akan pernah nyerah untuk kembaliin semua ingatan kamu tentang kita.”

“Apa yang udah terjadi sebelumnya? Kenapa aku nggak bisa ingat apapun?”

“Kamu kecelakaan dan akhirnya hilang ingatan.”

Vindreya menatap curiga pada Kenzo. Apa benar dia hilang ingatan? Apa benar Kenzo adalah suaminya?

Kenzo melebarkan senyumannya lalu mengacak-ngacak rambut Vindreya. “Tunggu sebentar, ya. Dikit lagi sarapannya siap. Ingat, kamu adalah istri aku dan mulai besok kamu yang akan menyiapkan makanan. Kalo kamu butuh bantuan apapun itu, beritahu aku karena aku bisa lakuin segalanya.”

Vindreya hanya mampu tersenyum kaku. Kenzo bangkit lalu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.

“Em, a--aku mau ke kamar mandi,” izin Vindreya sembari beranjak pelan dari kursinya.

Kenzo lagi-lagi berjalan menghampiri Vindreya lalu meraih tangan gadis itu kemudian menariknya lembut.

Vindreya menahan tangannya. “Eh, mau ke mana?”

“Tadi katanya mau ke kamar mandi, ‘kan?”

“Apa harus berduaan juga di kamar mandi?”

“Ahaha. Kamu ini polos banget, ya. Enggak, Sayang. Emangnya kamu ingat di mana kamar mandinya?”

Vindreya menggeleng pelan.

“Nah, makanya aku anterin kamu.”

“Tapi kamu bisa tunjukkin di mana kamar mandinya.”

“Memang.” Kenzo melepas genggaman tangannya lalu berjalan ke belakang Vindreya kemudian memeluk gadis itu. “Tapi aku suka selalu berada di dekat kamu.”

Vindreya tersenyum. Mengapa dia tersenyum? Bukankah tadi dia begitu takut dan bingung pada laki-laki asing yang sedang memeluknya dari belakang itu? Entahlah. Yang Vindreya tahu, dia merasa nyaman berada di dalam dekapan Kenzo. Apa ini artinya yang Kenzo katakan bahwa dia adalah suami Vindreya itu benar?

.

Kenzo dan Vindreya tiba di depan kamar mandi. Kenzo melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum memperhatikan tiap keindahan yang terpancar di wajah sendu Vindreya.

“Masuk sana. Aku bakal tunggu di sini,” kata Kenzo.

“Hah? Em, nggak perlu ditungguin. Aku bisa balik sendiri ke dapur nanti. Takutnya juga masakan kamu nanti gosong gara-gara nungguin aku.”

“Kamu nggak suka makanan gosong?”

“Hah?”

“Ahaha.” Kenzo tersenyum gemas lalu mengacak-ngacak rambut Vindreya. “Oke, aku akan balik ke dapur sekarang. Tapi, hati-hati ya karna di dalam kamar mandi itu ada cermin angker.”

Vindreya seketika merinding dengan mata yang membulat sempurna. “Eh? Se--serius?”

“Ahaha.” Kenzo lagi-lagi tertawa melihat ekspresi Vindreya yang tampak begitu polos. “Enggak, Sayang. Aku bercanda. Udah, sana masuk.”

Vindreya mengangguk pelan lalu masuk ke kamar mandi, sementara Kenzo kembali ke dapur untuk memasak.

Di dalam kamar mandi, Vindreya melihat ke kanan dan kirinya, juga ke langit-langit. Semuanya masih saja terasa asing. Dia masih belum bisa mengingat apapun.

“Huft …. Ada di dunia mana sebenarnya aku sekarang?” tanya Vindreya pada dirinya sendiri.

Gadis itu melihat sebuah cermin yang berada cukup jauh di sisi kanannya. Oh, iya. Dia baru teringat bahwa dia juga tidak tahu seperti apa wajahnya. Dia berjalan mendekati cermin lalu melihat pantulan wajahnya di sana.

Vindreya tersenyum. “Aku cantik juga, ya.” Dia kemudian tertawa kecil.

Dia tampaknya betah sekali memperhatikan wajah cantiknya di cermin. Namun, semakin lama dia melihat cermin, wajah cantiknya malah berubah aneh. Berubah menjadi wajah gadis lain. Tiba-tiba ….

“Hai, Vindreya,” sapa seorang gadis berambut pendek sebahu dengan dahi yang ditutupi oleh poni. Entah bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul dari balik cermin.

“Aaa!” teriak Vindreya yang terkejut bukan main.

Badan Vindreya bergetar hebat. Dia tahu gadis di balik cermin yang baru saja menyapanya itu bukanlah dirinya. Dia ingat sekali tadi wajahnya tidak seperti itu di cermin. Lalu, mengapa sekarang tiba-tiba muncul wajah gadis lain di cermin? Gadis itu bahkan bisa menyapa Vindreya. Benar-benar menyaramkan. Vindreya sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari, tetapi malah dicegah oleh gadis di balik cermin itu.

“Tunggu, Vindreya. Kamu tenang aja. Jangan takut. Jangan pergi dari sini sebelum aku memperkenalkan diri aku,” ucap gadis di balik cermin itu.

~bersambung

Bab 2

“Si--siapa lagi kamu? Argh! Kenapa banyak banget orang asing di sini?” Vindreya mulai frustasi.

Gadis di balik cermin itu tersenyum menahan tawa. “Tenang, Vindreya. Jangan sampai semua keanehan ini buat kamu jadi gila. Sebelumnya perkenalkan nama aku Hansa.”

“Hansa? Siapa lagi itu?”

“Aku akan jadi kunci dari semua memori masa lalu kamu.”

“Hah? Maksud kamu?”

“Aku yang akan ngasih tau kamu siapa sebenarnya orang-orang asing yang kamu temui di sini. Aku akan ngasih tau kamu apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa kamu nggak bisa ingat apapun.”

“Jadi, kamu tau semuanya? Ya, udah. Ayo, kasih tau aku sekarang.”

Gadis di balik cermin yang bernama Hansa itu tertawa manis. “Ini belum saatnya, Vindreya. Masih terlalu cepat bagi kamu untuk mengetahui semua kebenarannya.”

Vindreya mulai kesal. “Kalo ini belum waktunya kamu ngasih tau yang sebenarnya sama aku, kenapa kamu muncul sekarang? Kenapa kamu bilang bahwa kamu tau semuanya sekarang? Kenapa nggak nanti aja saat waktu yang tepat itu tiba?”

“Supaya kamu tau bahwa ada seseorang yaitu aku yang bisa bantu kamu suatu saat nanti. Supaya kamu ngerasa lebih tenang dan nggak keburu depresi ada di dunia asing ini.”

“Jadi, kamu tau ‘kan siapa itu Kenzo sebenarnya?”

Hansa mengangguk sambil tersenyum.

“Siapa dia? Dia beneran suami aku? Tapi, coba kamu liat wajah aku ini. Kok kayaknya masih terlalu muda untuk jadi seorang istri? Begitu pun dengan Kenzo. Bukannya kami lebih cocok jadi siswa SMA? Iya, ‘kan? Bahkan kamu juga kayaknya seumuran sama kami.”

“Vindreya, udah aku bilang ini belum saatnya kamu tau yang sebenarnya. Cukup nikmati aja. Menjadi istri Kenzo adalah kemauan kamu.”

“Hah? Kemauan aku? Tapi gimana bisa ….”

Tiba-tiba Hansa menghilang dari balik cermin, entah ke mana perginya. Sekarang yang bisa Vindreya lihat di cermin hanyalah wajahnya. Wajah itu tampak begitu gelisah dan bingung ketika kembali teringat bagaimana gadis bernama Hansa secara ajaib muncul dari balik cermin. Apakah Hansa adalah makhluk halus? Atau justru malaikat?

“Menjadi istri Kenzo adalah kemauan aku?” tanya Vindreya.

Jika memang menjadi istri Kenzo adalah keinginan Vindreya, lalu mengapa dia tidak bisa mengingat sedikit pun tentang Kenzo? Ah, ya sudahlah. Itu artinya untuk saat ini Kenzo memang benar bahwa Vindreya baru saja mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya.

Setelah dibuat bingung oleh kehadiran Hansa, Vindreya keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju dapur. Di sana, dia melihat Kenzo tampak sedang terburu-buru menyajikan makanan di atas meja.

Merasa ada seseorang di dekatnya, Kenzo mendongakkan kepalanya dan mendapati Vindreya sedang berjalan ke arahnya.

“Hai, Sayang,” sapa Kenzo ramah.

Kenzo berjalan cepat menghampiri Vindreya yang masih sekitar 1 meter lagi untuk tiba di meja makan. Laki-laki itu berdiri di belakang Vindreya lalu memegang lembut pundaknya dan mendorongnya hingga akhirnya duduk di depan makanan yang masih sedikit berasap itu.

“Ayo, dimakan,” suruh Kenzo, masih dengan senyum ramahnya.

Vindreya mengangguk pelan. Dia melihat ada yang aneh dengan suaminya itu yang tampak terburu-buru seperti ada sesuatu yang sedang dikejar.

Vindreya mulai memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Dia mengunyahnya dengan pelan sambil beberapa kali melihat Kenzo yang terus saja memandangnya.

“Kamu nggak makan?” tanya Vindreya.

Kenzo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Vindreya masih belum berani berbicara banyak pada Kenzo. Gadis itu kemudian kembali memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya. Di sisi lain, Kenzo melihat jam tangannya lalu melihat dengan khawatir ke luar jendela.

“Ada apa, Kenzo?” tanya Vindreya.

Kenzo kembali melihat Vindreya lalu tertawa kecil. “Liat ini jam berapa. Jam setengah 9 pagi.”

“Hm? Jadi?”

Kenzo tertawa kecil lagi. “Aku kerja, Sayang.”

“Oh, ya udah. Kalo gitu kamu berangkat aja sekarang.”

“Setelah kamu makan baru aku berangkat.”

“Eh, nggak apa-apa. Kamu berangkat aja sekarang. Aku ngerasa nggak enak kalo kamu telat.”

Kenzo tersenyum hangat. “Ya, udah kalo kamu udah nyuruh gitu.”

Kenzo beranjak dari kursinya lalu berjalan ke sebelah Vindreya kemudian mengecup kening istrinya itu. “Aku berangkat, ya.”

Vindreya agak terkejut lalu mengangguk pelan dengan perasaan kikuk.

Sudah sekitar 4 jam yang lalu Kenzo pergi dan masih belum pulang hingga sekarang. Vindreya duduk di sofa sendirian sambil menonton TV, tentunya masih dengan perasaan asing pada sekitarnya.

Bugh!

Vindreya terperanjat kaget dengan kepalanya yang spontan menoleh ke sisi kanannya, asal suara itu. Sepertinya ada sesuatu di halaman rumahnya.

“Apa itu Kenzo?” tanya Vindreya pelan.

Vindreya beranjak dari sofa lalu berjalan pelan keluar dari rumah. Di luar, alisnya tiba-tiba merapat mendapati seorang lelaki asing yang tampaknya baru saja melompat dari atas pagarnya dan kini sedang membersihkan telapak tangannya yang tadi menyentuh tanah untuk menahan tubuhnya.

Vindreya lagi-lagi ketakutan. Dia berjalan mundur dengan pelan, mencoba tidak menciptakan sedikit pun suara.

“Hai, Vindreya,” sapa laki-laki asing yang rupanya sudah lebih dulu melihat Vindreya itu.

Vindreya refleks menghentikan langkah kakinya lalu melihat dengan kaku pada laki-laki asing itu.

Laki-laki itu berjalan sampai akhirnya dia tiba tepat di depan Vindreya. “Kenzo nggak ada di rumah, ‘kan?” tanyanya sambil mendongakkan kepalanya ke dalam rumah Vindreya.

Vindreya hanya mengangguk kaku.

“Huh. Bagus, deh. Jadinya, kita bisa berduaan tanpa perlu ada yang ganggu.”

“Ka--kamu siapa?”

Laki-laki itu tersenyum getir. “Kamu jadi nggak ingat sama aku kayak gini gara-gara dia, Vin. Apa aja yang tersisa di ingatan kamu?”

Vindreya menatap bingung sampai akhirnya dia menggeleng.

“Nggak ada apapun yang bisa kamu ingat, ya? Kenzo itu bener-bener kejam.”

Alis Vindreya merapat. Bagaimana bisa Kenzo yang selalu bersikap ramah dan hangat itu disebut kejam oleh laki-laki asing ini?

Laki-laki itu meraih kedua tangan Vindreya dan menggenggamnya erat. “Vindreya, aku adalah Elvano, tunangan kamu.”

Deg!

Vindreya spontan menarik tangannya. Keanehan apa lagi ini? Setelah suami, sekarang tunangan?

“Ta--tapi aku udah bersuami. Nggak mungkin aku punya tunangan lagi,” elak Vindreya yang memang saat ini sedang mencoba untuk percaya bahwa Kenzo adalah suaminya.

“Bersuami? Oh, aku tau. Pasti Kenzo bilang ke kamu kalo dia adalah suami kamu, ya?”

Vindreya mengangguk.

“Vin, cowok itu bohong. Dia bukan suami kamu. Satu-satunya kekasih kamu adalah aku. Kenzo bukan siapa-siapa kamu.”

“Kenzo bilang aku kecelakaan dan hilang ingatan.”

“Dia bohong, Vin. Nggak ada satu pun tentang Kenzo yang bener. Kamu tau? Dia adalah orang jahat yang sengaja nyulik kamu dari aku, cuci otak kamu sampai kamu lupa semuanya, dan mengaku bahwa kalian adalah sepasang suami istri. Tapi, kayak yang aku bilang tadi bahwa dia bohong.”

“Gimana caranya aku percaya sama kamu? Apa buktinya kalo semua yang kamu bilang itu adalah kebenarannya?”

“Nggak ada satu pun bukti yang bisa ngasih tau kamu kebenarannya kecuali perasaan kamu sendiri.”

“Berarti yang bener adalah Kenzo.”

“Hah? Kok bisa dia yang bener? Udah aku bilang dia itu pembohong, Vin.”

“Tadi kamu bilang aku harus percaya sama perasaan aku karena itu adalah satu-satunya bukti kebenarannya, ‘kan? Meskipun masih ngerasa asing, tapi ada perasaan nyaman yang aku rasain saat ada di deket Kenzo.”

“Kalo hanya tentang perasaan nyaman, aku juga bisa kasih itu untuk kamu, Vin. Ayo, ikut aku. Kita buktiin bahwa kamu juga akan ngerasa nyaman sama aku.”

Elvano tiba-tiba menarik tangan Vindreya lalu membawanya masuk ke dalam rumah kemudian mengunci pintunya.

“Lho. Kamu mau ngapain?” tanya Vindreya kaget.

~bersambung

Bab 3

Vindreya begitu kaget karena Elvano tiba-tiba mengajaknya masuk ke rumah dan mengunci pintunya. Perasaan gadis itu semakin tidak enak sekarang, takut jika Elvano akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

Bukannya menjawab pertanyaan Vindreya, Elvano malah asik melihat isi rumah itu. “Oke, jadi apa yang bisa kita berdua lakuin di sini, ya?”

Vindreya sangat ketakutan. Bagaimana jika Elvano melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan? Gadis itu kemudian tiba-tiba teringat pada Hansa, si gadis di balik cermin itu.

“Hansa, kamu di mana? Please, tolong aku,” batin Vindreya.

Hansa memang aneh sekaligus ajaib. Wujudnya tidak tampak, tetapi suaranya terdengar dan menjawab kekhawatiran Vindreya.

“Vindreya, tenang aja. Elvano nggak mungkin bakal ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu. Asal kamu tau aja bahwa menjadi tunangan Elvano adalah keinginan kamu,” kata Hansa yang suaranya hanya bisa didengar oleh Vindreya.

Alis Vindreya merapat dan lagi-lagi berucap dalam hati, “Menjadi tunangan Elvano adalah keinginan aku?”

“Vindreya,” panggil Elvano yang tiba-tiba memeluk erat Vindreya.

Vindreya terkejut dengan mata melotot. Tubuhnya serasa kaku dan tak mampu melepas pelukan Elvano.

“Vin, aku nggak tau apa yang harus aku lakuin di rumah Kenzo ini. Yang aku tau, aku kangen sama kamu dan pengen kamu balik lagi sama aku. Kalo aja Kenzo bukan cowok yang berbahaya, mungkin aku udah bawa kamu pergi dari sini. Kamu tau? Aku udah berkali-kali berusaha bawa kamu pergi dari sini, tapi Kenzo selalu berhasil ngalahin aku dengan semua kekejamannya.”

Vindreya terdiam. Apa kisah di antara mereka bertiga memang serumit itu?

“Aku cinta sama kamu, Vin. Aku nggak mau kamu jadi milik orang lain, tapi aku juga nggak bisa buat kamu jadi milik aku seutuhnya sekarang. Tunggu sedikit lagi ya, Vin. Sebentar lagi aku pasti bisa bawa kamu keluar dari hidup Kenzo, dan kita akan hidup bahagia tanpa dia.”

Vindreya tidak menyangka. Dia yang awalnya ingin mendorong tubuh Elvano yang memeluknya, kini malah merasa nyaman berada di dalam pelukan hangat dan menenangkan itu. Jadi bagaimana sekarang? Siapa yang harus gadis itu percayai? Dia bahkan memiliki perasaan yang sama pada dua laki-laki asing sekaligus.

Tok tok tok!

Elvano dan Vindreya terkejut dan kompak melihat ke arah pintu yang masih terkunci itu.

“Vindreya?” panggil seseorang dari luar sambil terus mengetuk pintu.

“Itu Kenzo?” tanya Vindreya pelan.

Elvano hanya mengangguk.

Vindreya cepat-cepat keluar dari pelukan Elvano sambil melihat dengan panik ke sekelilingnya untuk mencari jalan keluar bagi laki-laki yang mengaku sebagai tunangannya itu atau setidaknya menemukan tempat di rumah itu yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

“Vindreya, buka pintunya, dong!” teriak Kenzo lagi dari luar.

“I--iya, tunggu sebentar!” balas Vindreya.

Vindreya melihat ke kanan dan kirinya dengan semakin panik.

“Di mana pintu dapurnya? Kamu keluar lewat sana aja,” usul Vindreya yang masih belum mengetahui seluk beluk ruangan di rumah itu.

Pyar!

“Aaa!” teriak Vindreya sambil menutup kedua telinganya. Dia sangat kaget sekaligus ketakutan.

Secara mengejutkan Kenzo sudah berdiri di dalam rumah, di sebelah jendela yang baru saja dia pecahkan. Dari luar jendela tadi, dia mengintip dan berhasil memergoki istrinya yang sedang berduaan dengan musuhnya.

Berbeda dengan Vindreya yang takut luar biasa, Elvano justru tersenyum enteng.

“Hai, Ken. Udah lama nggak ketemu,” sapa Elvano.

Kenzo berjalan perlahan menghampiri Elvano dan Vindreya. “Keluar dari sini sekarang, El. Udah aku bilang jangan ganggu aku dan Vindreya lagi.”

“Hahaha. Nggak kebalik, tuh? Bukannya kamu yang gangguin hubungan aku dan Vindreya?”

Kenzo akhirnya tiba tepat di sebelah kanan Vindreya, sedangkan Elvano di sebelah kiri yang berarti Vindreya sekarang berada di tengah-tengah dua laki-laki asing itu.

“Vin, sekarang kamu bilang aja mau pilih aku atau Kenzo. Kalo kamu pilih Kenzo, aku bakal keluar dari sini sekarang. Tapi kalo kamu pilih aku, aku bakal bawa kamu pergi dari sini dan nggak akan biarin kamu kembali ke rumah ini. Aku udah nggak tahan liat kamu disekap di rumah mengerikan ini lagi.”

“Rumah mengerikan kamu bilang? Tanya aja sama Vindreya senyaman dan sebahagia apa dia tinggal di sini bersama aku. Dibanding tunangan, semua orang tau bahwa suami punya level yang lebih tinggi.”

“Kamu bukan suaminya, Ken. Kamu hanya mengarang cerita dengan mengatakan bahwa Vindreya adalah istri kamu.”

“Kamu yang mengarang cerita, El. Vindreya nggak pernah punya tunangan.”

Elvano mulai kesal. Dia meraih salah satu tangan Vindreya dan membuat gadis itu menoleh.

“Ayo, Vin. Buat keputusan sekarang, kamu pilih aku atau dia,” suruh Elvano lagi.

Kenzo tak mau kalah. Dia juga meraih tangan Vindreya yang lainnya. “Jangan takut, Sayang. Cukup bilang kamu pilih aku, maka semuanya akan baik-baik aja.”

“Argh …!” Vindreya berteriak frustasi sambil menarik kedua tangannya dari dua laki-laki asing itu.

“Gimana bisa aku pilih satu di antara kalian sedangkan aku mencintai keduanya?!” lanjut Vindreya.

Tunggu. Apa yang baru saja Vindreya katakan? Dia mencintai kedua laki-laki asing itu? Bukankah baru beberapa saat yang lalu dia ketakutan pada dua laki-laki itu karena tak mengingat apapun tentang mereka? Lalu, mengapa sekarang jadi tiba-tiba cinta?

Vindreya sudah tidak tahan lagi. Dia tiba-tiba berlari keluar rumah dan meninggalkan Kenzo dan Elvano di sana. Bagaimana pun juga, Vindreya harus mencari jalan keluar dari dunia asing dan aneh itu.

Vindreya berlari sekencang yang dia bisa menjauhi rumah di mana Kenzo dan Elvano sedang berdebat memperebutkannya. Beberapa kali Vindreya menengok ke belakang untuk melihat apakah kedua laki-laki itu mengejarnya atau tidak. Cukup mengagetkan bahwa tak ada satu pun di antara Kenzo dan Elvano yang mengejarnya. Ada apa ini? Apakah mereka benar-benar mencintai Vindreya atau tidak? Namun, ini membuat Vindreya bisa bernapas lega karena telinganya tak perlu lagi terganggu dengan perdebatan itu.

Entah sudah berapa lama dan berapa jauh Vindreya berlari, tetapi entah kenapa dia tidak merasa lelah sedikit pun. Matahari yang tadinya bersinar terik, kini berganti dengan bulan yang menerangi gelapnya malam.

Vindreya melihat ke kanan dan kirinya. Aneh sekali. Ada banyak rumah dengan lampu menyala seperti pada umumnya, tetapi sejak tadi dia tidak melihat ada satu orang pun di sana. Dunia asing itu seolah-olah hanya ditinggali oleh Vindreya, Kenzo, Elvano dan Hansa.

“Hansa! Kamu di mana?! Aku butuh kamu untuk jelasin semua keanehan ini! Apa ini masih belum waktu yang tepat?! Hansa!”

Vindreya berteriak sekencang mungkin, tak peduli jika itu akan membuat pita suaranya rusak. Yang dia inginkan hanyalah kejelasan dan bisa keluar dari dunia asing itu.

Lagi-lagi bulan berganti matahari. Suasana sejuk dan gelap malam hari, kini berubah menjadi hari yang lebih cerah oleh sinar matahari dengan keadaan yang lebih hangat.

Vindreya terduduk dengan pasrah di atas jalanan yang begitu sunyi. Air matanya mengalir. Dia kesepian dan kebingungan. Entah harus ke mana dia sekarang.

“Hansa!” teriaknya sekali lagi.

“Iya, Vindreya. Aku selalu di dekat kamu,” ucap seseorang.

~bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED