Setengah jam kami duduk di kedai ini. Namun, sepertinya tidak ada percakapan yang berarti. Kopi yang kami pesan sejak tadi tak aku sentuh sedikitpun. Hanya kopi lelaki di depanku yang terlihat tandas tak tersisa.
"Jadi, kamu tetap tak mau bercerita kenapa, Jay?" ucapnya kepadaku. Masih terus berusaha mendesakku.
"Lalu buat apa kamu minta aku kemari?" kejarnya lagi.
"Ayolah, Jaya yang kukenal tidak seperti ini. Lagi pula kaya sama siapa saja, aku ini kawan karibmu sejak kecil, Jay. Janganlah sungkan," ujarnya lagi sembari menyerobot kopi punyaku. Kubiarkan saja, toh aku tak lagi berselera.
Ingin rasanya aku curhat dengan Iwan, namun gengsi. Takut gantian di tertawakan. Sungguh tidak menyenangkan kalau sampai Iwan tahu bahwa aku yang biasanya sok tegar ini ternyata lemah juga oleh wanita. Benar-benar menyedihkan. Namun, ini memang masalah perasaan, terlalu susah untuk dikendalikan.
Dulu, sempat aku menertawakan Iwan, temanku karibku. Saat ia ditinggal pacarnya entah kemana. Sebenarnya juga kalau dibilang pacar juga lucu, sebab hanya berhubungan lewat dunia maya saja. Kenal, pacaran, dan akhirnya sudahan juga di dunia maya. Aku sempat tertawa terbahak-bahak saat Iwan curhat kepadaku kala itu. Melihat matanya yang basah oleh air mata, membuatnya semakin tampak lucu saja. Sangat tidak pantas lelaki berbadan kekar dan bertampang sadis bisa menangis hanya gara-gara wanita yang tidak pernah ditemui di dalam dunia nyata.
"Kamu gila!" kataku kepadanya waktu itu sembari tertawa terbahak-bahak.
Dan nampaknya kini aku tengah terkena karmaku sendiri. Dulu pernah menertawakan Iwan yang menangis kehilangan wanita, dan kini aku sendiri pun menangis karena kehilangan wanita. Benar-benar roda kehidupan itu berputar.
Kini Iwan sudah berumah tangga dengan Asih, teman sekelas kami waktu SMA. Yang berarti temanku juga. Sudah dikaruniai anak satu malah. Dan aku dulu yang menertawakannya, kini lagi menuai karma. Sedangkan Iwan sudah bahagia dengan pilihannya.
.
Kata pepatah, hidup adalah seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Semuanya serba bergantian. Kesedihan dan kebahagian datang silih berganti. Dan kini, aku tengah berada dalam keadaan di bawah itu.
"Ya, sudah! Kalau nggak mau bercerita aku pergi, Jay. Sudah di tungguin bos, nih!" Iwan berdiri sembari meraih tas ranselnya di meja.
Buru-buru aku raih tangannya, "Sebentar, Wan. Baik, aku bercerita. Tapi janji ya, jangan tertawa."
Perlahan kuturunkan rasa gengsiku.
"Apaan, sih? Bikin penasaran saja! Dari tadi, Kek." Iwan kembali menaruh ranselnya, dan duduk kembali sambil pasang wajah manyun.
"Janji ya, jangan meledek atau tertawa," tegasku sekali lagi sembari sedikit melotot.
"Iya, iya! Bawel, sih. Apaan?" Iwan balas mendelik.
Akhirnya aku ceritakan juga kepada Iwan tentang pertemuanku dengan seorang wanita, yang pada akhirnya ia menghilang tanpa jejak. Iya hilang, entah kemana tanpa pamit satu patah kata pun juga.
"Ha-ha-ha ... kena karma kamu, Jay!" Tawa Iwan menggelegar di udara, sampai-sampai seluruh penghuni kedai kopi melirik kepada kami.
Kutinju lengan Iwan. Sialan, kalau tahu begini mendingan tadi enggak usah cerita saja. Aku membatin kesal.
***
Aku mengenal wanita itu belum lama, baru sekitar tiga bulan yang lalu. Kami berkenalan di sebuah kedai kopi, di sore hari saat hujan deras mengguyur bumi. Awalnya kami hanya sama-sama tengah berteduh di sebuah emperan kedai, hanya ada kami berdua kala itu. Lalu kami saling berkenalan dan sembari menunggu hujan reda kami pun berlanjut mengobrol masuk ke dalam kedai.
Wanita itu bernama Vera, nama yang menyiratkan aura pesona dan kedewasaan, menurutku. Setelah hujan reda kami pun saling berpamitan dan tentu tak lupa saling bertukar nomor telepon. Meskipun perkenalan itu hanya sekilas lalu. Namun, senyumnya yang memesona berbalut lipstik merah marun itu sangat membekas sampai ke dalam palung hatiku. Bahkan senyum itu bertengger mesra di otakku hingga tiga hari lamanya.
Belum pernah aku sebucin ini. Aku memang lelaki normal yang sangat bisa mengagumi wanita cantik, tetapi aku bukanlah seorang lelaki gampangan yang mudah terpikat dan terpesona kepada setiap wanita.
Baru kali ini tampaknya pesona wanita mampu mematahkan kuda-kuda pertahananku sebagai seorang lelaki. Biasanya, wanita yang mendekatiku atau berkenalan denganku sepintas lalu saja, tidak ada yang spesial atau istimewa. Perasaanku juga tak seheboh ini kala bertemu pertama kali dengan dengan Sandra, mantan kekasihku dulu. Vera memang berbeda. Ia bagai intan mutiara yang kilaunya mampu menyilaukan mataku sampai aku tak bisa lagi melihat apa-apa selain kilaunya saja. Gila bukan?
Sejak tiga hari setelah bertemu dengannya kala itu, bayangannya seperti tak mau lenyap, terus menari-nari dalam otakku. Aku seperti setiap detik dirajam rindu. Aku memberanikan diri menghubungi nomernya, rasanya tak tahan juga tersiksa begitu. Entah perasaan gila macam apa ini. Orang baru kenal sekilas kok sudah merindu.
Ingin kutulis chat untuk menyapanya. Namun, berkali-kali juga aku hapus, canggung sebenarnya harus memulai dari mana. Ada rasa gengsi juga. Ah, persetan! Aku melawan perasaanku sendiri. Tidak mau aku lebih lama disiksa oleh bayangannya. Rindu ini begitu mengganggu dan begitu menyiksaku!
[Hai, Ver. Ini aku, Jaya. Kita berkenalan di kedai Coffee Star tiga hari lalu. Ingat?] aku kirim juga akhirnya.
Aku menunggu balasan chat-nya dengan perasaan yang gelisah, dengan harap-harap cemas.
Tak berselang lama, Vera pun akhirnya membalas, [Eh, iya. Ingat dong, masa baru tiga hari sudah lupa. Aku belum pikun, lho ya. Bagaimana kabarmu?]
[Aku baik, Ver. Oh ya, kalau tidak sibuk, apa kita bisa bertemu nanti malam di Kedai Coffee Star lagi?] balasku tanpa babibu lagi. Rasanya aku tidak ingin lagi membuang-buang waktu dengan percuma untuk segera menemuinya. Kali ini bukan lagi waktunya untuk bertele-tele ria, Bung!
[Oh, tentu. Aku juga kebetulan lagi free. Nggak ada kesibukan, nih! Baik pukul delapan malam kita bertemu, ya. Bye,] balasnya diakhiri dengan emoticon love.
Apa! Sebentar-sebentar, benarkah dia balas dengan emoticon love? Berkali-kali aku memastikan dan memang benar aku tidak salah lihat. Senyumku merekah, batinku membuncah, nampaknya gayung pun bersambut. Tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri bak orang gemblung. Kuhampiri cermin, kulihat bayanganku sendiri.
"Apa kau tengah jatuh cinta, Jaya?" tanyaku bodoh pada bayanganku sendiri.
Ah, aku baru mengalami jatuh cinta sekonyol sekaligus seindah ini. Pesona apa yang ada di dalam dirimu, Ver, sehingga membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepadamu. Tidak sabar rasanya menunggu sampai nanti malam.
Ah, Ver, Ver. Aku masih terus saja senyum-senyum sendiri. Tidak peduli lagi kalau ada orang melihat dan mengira aku orang gila dadakan. Sekali lagi, peduli setan!
***
Pukul delapan malam kurang aku sudah sampai di kedai, memilih tempat yang terbaik. Malam ini suasana kedai nampak bersahabat, tidak terlalu ramai. Lampu yang tidak terlalu terang, juga tidak terlalu gelap, romantis. Terdengar sayup-sayup instrumen jazz kesukaanku. Rasanya alam semesta tengah mendukung hati yang tengah bahagia ini. Aku datang dengan penampilan terbaikku. Kucium bajuku sendiri untuk memastikan parfum yang tadi kusemprotkan tidak sia-sia. Wangi! Aku tersenyum puas.
Tidak ada sepuluh menit kemudian Vera datang. Senyuman yang bertengger berhari-hari di otakku akhirnya menjelma nyata. Penampilannya kala itu lebih indah dari apa yang kubayangkan. Aku gugup. Namun, segera aku tepiskan. Ia datang dengan memasang senyuman yang sumringah bak bulan purnama merekah, buru-buru kupersilahkan dia duduk.
"Wah aku telat nih?" ujarnya setelah sampai di dekatku.
"Eh, Ver, enggak, kok …," jawabku agak gugup.
"Sudah lama menunggu, Jaya? Eh, benar, kan, Jaya kan namanya?" selidiknya sembari menyalamiku.
"Eh, anu, iya, aku Jaya. Masa baru tiga hari berkenalan sudah lupa, sih?" jawabku dengan nada sesantai mungkin. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku gugup. Malu dong!
"Enggak lupa, kok. Hanya ingin memastikan saja. Soalnya, Jaya yang ada di depanku sekarang ini kok rasanya terlihat lebih ganteng daripada waktu kemarin bertemu ya, he-he." Tawanya mendarat manis sekali di mataku.
Wah, aku jadi kikuk sendiri, spontan garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal. Andai tidak ada orang disitu aku ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak, atau selebrasi keliling kedai ala pemain bola.
"Ah, kamu bisa saja, Ver. Oh, ya, kamu mau pesan apa, nih?" Aku menyodorkan menu kepadanya sembari memantapkan hati agar kelihatan berwibawa.
"Apa saja deh, yang penting enak dan manis. Kaya orang di depanku," ujar Vera sembari melirikku.
Demi apapun! Aku benar-benar ingin berteriak dan jingkrak-jingkrak. Peduli setan! Kalau perlu koprol sekalian.
Malam pun berlangsung sangat romantis dan memukau. Kami menikmati malam dengan ngobrol panjang lebar, saling menjajaki satu sama lain. Malam yang penuh dengan keasyikan yang fantastis. Tanpa aku sadari, perlahan belenggu pesonanya semakin kuat menjeratku. Aku benar-benar mabuk kepayang di buatnya. Rasa-rasanya itu adalah malam terindah dalam sepanjang hidupku. Terdengar lebay? Bodo amat!
Sejak itu kami semakin dekat dan dekat. Dia ternyata juga masih single, katanya. Tentu saja aku tidak langsung percaya. Bagaimana mungkin wanita semenawan dan sememesona itu masih sendirian? Kalau tidak dusta apa lagi namanya? Namun, Vera berkali-kali menegaskan, mengucap serius, ia masih sendirian, masih ingin fokus kuliah katanya, aku percaya saja. Dan, memang sebenarnya itulah yang aku mau darinya.
Rasanya tidak ada lagi kata-kata indah yang dikenal manusia di bumi yang sanggup mewakili perasaan bahagiaku waktu malam itu. Akal sehatku mentok dan angkat tangan untuk dapat menerjemahkan bagaimana dan seperti apa. Ada yang bilang, bagi orang yang tengah dilanda cinta, dunia serasa milik mereka berdua, yang lain ngontrak saja. Nampaknya itu benar adanya. Saat aku bersama Vera, menjalani hari-hari yang indah bersamanya, aku seperti lupa segalanya. Jarang keluar nongkrong bersama-teman seperti sebelum-sebelumnya, juga jarang ngobrol lagi bersama emak. Isi di otakku penuh oleh sesosok makhluk indah bernama Vera. Pesonanya seperti meluluh lantakkan akal sehatku sampai hancur berkeping-keping.
.
Ketika awal menjalani hubungan bersamanya, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Vera menginginkan hubungan ini dirahasiakan, aku tak boleh menceritakan kepada siapapun, kepada teman-temanku, bahkan kepada keluargaku. Ketika kutanya mengapa, Vera hanya menjawab tak mau diumbar-umbar dulu, nanti ada saatnya sendiri, katanya. Aku menurut saja, tak ada pikiran macam-macam lainnya.
Aku seperti terjajah cinta, dibelenggu dan dijadikan budaknya. Tidak berdaya apa-apa. Bagai pepatah, seperti kerbau yang tengah dicocok hidungnya, aku selalu menuruti apapun yang dikatakannya. Aku juga tak berani mengulik lebih dalam tentangnya ketika Vera selalu menghindar ketika kutanya rumah aslinya di mana, di mana orang tuanya, dan siapa saja teman-temannya. Ia selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan. Selama ini identitas selain nama, hanya kost-nya saja yang aku tahu.
Tiga bulan lamanya kami menjalin asmara, kita jalani dengan indah tak ada konflik ataupun halangan apa-apa. Semua berjalan mulus dan menyenangkan. Hari demi hari kami jalani penuh dengan penuh warna, suka, dan cita. Mau jalan-jalan ke mall, ke tempat wisata, ke cafe, atau kemana saja aku selalu mendampinginya. Yang aku suka dari Vera adalah, ia tidak gengsi jika kuajak makan meski itu hanya di pinggiran jalan saja.
"Asal bersama kamu, Jaya. Aku mau kamu ajak makan di mana saja, termasuk di pinggir jalan, yang penting jangan di tengah jalan, ya," selorohnya kala itu sembari terkekeh kecil, aku pun ikut tertawa mendengarnya. Entah, bagiku ia terlalu sempurna menjadi wanita. Cantik, baik, menyenangkan, humoris, dan sedikit genit. Lelaki mana yang tahan untuk tidak tergila-gila.
Setiap tempat yang aku datangi bersama Vera seakan menjadi sebuah tempat yang begitu indah, meski itu hanyalah tempat biasa. Vera seperti membawa daya kilau yang luar biasa sehingga mampu menjadikan indah setiap tempat yang ia pijak.
Tempat-tempat yang kami kunjungi bagaikan taman-taman surga bagi kita berdua yang tengah di mabuk cinta. Setiap sudut dan lorong yang gelap dan kumuh seketika menjadi terang dan harum tatkala Vera hinggap di sana. Entah dengan kata apalagi aku harus menggambarkan bagaimana keindahan sosok bernama Vera. Bagiku ia tak hanya istimewa tetapi juga luar biasa. Bidadari surga yang terselip di antara kerlap-kerlip lampu dunia.
.
Sampai kemudian waktu menunjukan kuasanya. Tiga bulan aku menjalani hari-hari indah bersamanya dan pada akhirnya ia mendadak hilang entah kemana. Seperti musnah ditelan bumi. Aku kelimpungan mencarinya kesana kemari hingga berhari-hari lamanya, ponselnya pun tidak bisa dihubungi, dan sialnya, satu-satunya tempat yang aku tahu yang memungkinkan dia ada pun tak ada jejaknya.
"Mbak Vera sudah pindah, Mas, sejak kemarin. Katanya sih mau pulang kampung ke Bandung sana. Ada urusan mendadak katanya," ujar ibu kost kala itu ketika aku bertanya kepadanya tentang Vera. Aku baru tahu kalau ternyata Vera orang Bandung.
Semenjak itu aku seperti kehilangan semangat untuk hidup, bahkan hanya untuk sekedar bernafas saja aku seperti tak punya tenaga. Aku benar-benar seperti kehilangan nyawa. Mungkin ini terdengar konyol, bodoh, bahkan mungkin tolol, tapi begitulah keadaanku. Aku benar-benar lemah tak berdaya.
Tiga bulan menjalani sebuah hubungan adalah masa-masa yang paling manis. Bayangkan bagaimana sakitnya engkau di tinggalkan di saat tengah sayang-sayangnya. Di saat tengah tergila-gila dengan yang dicintainya lalu harus menerima takdir bahwa engkau akan kehilangannya. Kehilangan yang tanpa sedikitpun tahu apa dan kenapa penyebabnya. Ia hilang begitu saja tanpa ada secuilpun alasan yang diucapkannya.
Vera, dimana kamu sekarang? Apa salahku padamu hingga kau siksa aku begini kejam?
***
Hari sudah siang. Sang surya telah menjilati bumi dengan panasnya. Sinar keemasannya merangsek masuk ke kamarku lewat celah-celah jendela kaca yang tak tertutup rapat gordennya.
Aku membuka mata dengan terpaksa. Kalau tidak terganggu oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dari luar kamar sana enggan aku membuka mata ini.
"Jaya! Jaya! Bangun! Sudah jam berapa ini? Apa kamu mau bolos kerja lagi," teriak emak dari luar kamar.
"Iya, Mak. Aku bangun," kujawab lemah saja, hampir tanpa tenaga.
"Itu ada Darto datang mencarimu! Cepat bangun! Lekas sana temui, jangan tidur saja kerjaannya." Suara emak terdengar makin meninggi.
"Iya, iya, aku bagun, Mak!" pekikku. Terganggu juga dengan suara emak yang semakin berisik.
Aku bangkit keluar kamar dengan perasaan malas. Langkahku gontai bak petapa yang baru keluar dari persemediannya. Sampai ruang depan, kulihat Darto rekan kerjaku tengah duduk di ruang tamu sembari memainkan ponselnya.
"Ehem ... hai, To. Sudah lama?" tanyaku malas sekadar berbasa-basi yang beneran basi.
"Jaya, Jaya. Kepriben sih, Koen. Sudah tiga hari kamu bolos kerja, kie. Kamu sebenarnya sakit apa kepriben, sih?" cerocos Darto setelah menyadari kehadiranku. Tidak ada yang berbeda dengannya, logat ngapaknya masih kental meski lama hidup di Jakarta. Biasanya aku tak tahan untuk tidak geli mendengarnya, tapi kali ini terdengar biasa saja. Aku malas untuk merespon apapun. Bahkan merespon malas itu sendiri pun aku malas.
"Iya aku sakit, To, sakit hati," jawabku sekenanya sembari menumbangkan badanku ke sofa.
"Walah, dunia sudah sedemikian maju dan berkembang kok masih saja ada orang sakit hati karena cinta, lelaki pula. Sadar, Jaya, sadar!" Suara Darto mulai terdengar menjengkelkan. Lagi pula apa hubungannya sakit hati karena cinta dengan kemajuan zaman. Sarap sepertinya ini orang! Aku menggerendeng dalam hati.
"Nyong disuruh bos kemari. Disuruh memberikan ini kepadamu. Ingat berapa hari koen bolos kerja? Berkali-kali di kontak tapi nggak direspon. Sudah tahu kan itu apa?" cecar Darto.
Kulirik Darto mengeluarkan selembar amplop putih dari dalam tasnya, dan menyodorkan kepadaku. Tanpa aku kulihat pun aku sudah tahu kalau itu adalah SP gara-gara bolos kerja. Tetapi tidak begitu aku pedulikan. Bahkan jika dipecat pun tidak apa-apa.
"Jadi, bagaimana? Memangnya kamu sudah tidak minat kerja lagi?" selidik Darto sembari menyeringai bak barongsai.
"Nggak tahu, To. Aku seperti nggak punya semangat hidup. Jangankan kerja, untuk makan saja tak ada selera aku," tukasku lemah. Bukan lebay, tapi beginilah keadaanku.Aku bekerja di sebuah pengiriman paket sebagai kurir. Darto ini adalah seniorku di sana. Iwan juga kerja disana, tetapi sebagai security. Badannya yang besar dan wajahnya yang sangar sangat memenuhi persyaratan untuk itu. Aku baru sadar, ternyata sudah 3 hari aku bolos kerja.
Darto menggeser duduknya dan mendekatiku. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Jay? Jaya yang aku kenal selama ini selalu energik, selalu semangat, suka memberi motivasi kepada kawan-kawan lainnya, kenapa tiba-tiba sekarang jadi lemah macam mayat hidup saja. Ceritalah, barangkali aku bisa membantu."
"Jangankan kamu, To. Aku sebagai emaknya saja tak tahu apa yang terjadi." Tiba-tiba emak ikut nimbrung, sembari membawa setepak teh dan makanan ringan.
"Silahkan diminum, To. Dan, tolong bujuk itu si Jaya, jangan terus-terusan seperti mayat hidup begitu. Di tanyain enggak mau bilang apa-apa, diam saja. Sudah emak bujuk tapi percuma, barangkali sama kamu sebagai temannya mau cerita," tukas emak panjang lebar.
"O, siap, Mak! Masalah rayu merayu serahkan sama Inyong. Ngomong-ngomong, kuenya di dalam masih ada kan, Mak?" Seru Darto sembari mencomot kue yang masih dibawa emak. Dasar emang si Darto. Makanan melulu pikirannya.
"Tenang, nanti emak bawain buat kamu ngemil di kerjaan," jawab emak. Darto menyeringai senang. Kilatan matanya berbinar-binar. Darto ini memang dekat sekali dengan emak. Sudah dianggap seperti anak sendiri kalau kemari, Iwan juga.
"Ya sudah, emak lanjut ke belakang, mau nyuci. Kamu bilangin itu si Jaya, lelaki kok lemah! Alay!" ujar emak sembari bergegas ke belakang, tidak lupa liriknya mampir ke arahku. Lirikan yang bukan sembarang lirikan, lirikan yang seakan ingin mengatakan: 'aku menyindir kamu, Jaya!'
"Jadi, sebenarnya kamu kenapa, Jay? Beneran putus cinta? Sama siapa? Bukannya selama ini kamu jomblo?" tanya Darto bertubi-tubi.
Kulirik Darto, tampaknya benar-benar menunggu jawabanku. Aku menghela nafas, dan perlahan aku ceritakan semuanya kepada Darto. Satu demi satu, barangkali dengan begitu bisa sedikit mengurangi beban masalahku.
Kini bertambah satu lagi orang yang aku beri tahu masalahku. Tapi nyatanya beban ini tak menjadi berkurang sedikitpun, malah bertambah tidak karuan rasanya.
Vera, apakah aku harus mencarimu ke Bandung sana? Tetapi kemana? Jangankan alamat rumahmu, Bandung sebelah mana saja aku tidak tahu. Sebentar-sebentar, alamat? Bukankah KTP pasti tertera alamatnya? Yah! Ibu kos tempat Vera tinggal selama di sini pasti punya. Kenapa aku tidak terpikirkan itu? Bukankah juga ibu kos yang bilang kalau Vera orang Bandung?
"Yah, aku harus mencarinya kesana dan tahu penyebabnya kenapa engkau begitu tega menyiksa aku begini kejamnya," gerendengku lirih.
***
Satu persatu orang terdekatku mulai tahu apa yang tengah terjadi denganku. Entah berapa kali mereka menasehatiku dan menyemangatiku tetapi tetap saja tidak mampu memantik gairah hidupku untuk menyala kembali. Barangkali hatiku dan apapun yang bisa di pakai untuk menerima nasehat telah tuli dan buta. Aku tidak tahu, yang aku tahu aku tidak mampu melihat apapun selain Vera.
Malam ini entah malam yang keberapa aku meratapi kehilangannya. Kehilangan sebuah sosok yang kepergiannya sekaligus membawa semangat hidupku juga. Rasanya tidak ada lagi sesuatu yang menarik di dunia ini selain mengingatnya dan kembali bersamanya. Tikaman demi tikaman rindu kian menghujam diriku secara radikal dan kolosal, bidikannya bertubi-tubi memberondongku hingga aku tak berdaya apa-apa lagi. Sakit ini lebih dari sakit itu sendiri.
Seperti biasa, aku pandangi fotoku bersama Vera di layar ponsel. Hanya itu satu-satunya kenanganku bersamanya. Tiba-tiba memoriku berputar kembali ketika masih menjalani hari-hari indah bersama Vera. Sebelum akhirnya keindahan itu menguap secepat kilat dan meninggalkan bekas luka yang teramat menyesakkan dada.
"Ver, kenapa engkau mau menerima orang sepertiku? Aku tidak ganteng-ganteng amat dan juga tidak tajir," kataku kala itu kepadanya di bawah siraman senja di ujung utara Jakarta. Aku telah berterus terang kepadanya sejak saat kita berkenalan, tidak ada yang aku tutup-tutupi.
Yang aku pandang bukannya malu tetapi malah membalas menatapku lekat penuh isyarat. "Apakah cinta harus ada alasannya, Jaya?"
"Hem, mungkin. Pada umumnya begitu, bukan?" jawabku kepadanya yang sekaligus balik bertanya.
"Tidak, Jaya. Bagiku cinta saja sudah cukup. Cinta yang murni tidak membutuhkan alasan apapun. Cinta ya cinta, titik! Tidak butuh alasan dan segala tetek bengeknya. Bukankah jika cinta masih membutuhkan alasan dan ketika nanti alasan itu berubah seiring waktu, apakah masih bisa dibilang cinta?" tukas Vera sembari mengerlingkan matanya yang indah itu. Oh, Tuhan, bidadari ini terlalu sempurna.
Aku penasaran dibuatnya. Vera sungguh cerdas. Aku menjadi semakin tertantang untuk menjajaki kilaunya semakin dalam.
"Iya, juga. Namun, bukankah jika sesuatu itu tanpa alasan, kita sebagai manusia biasa tidak bisa mengukurnya, bukan?"
"Ha-ha-ha-ha ...." Vera malah tertawa mendengar pertanyaanku. Lihatlah, bahkan ketika tertawa pun cantiknya tidak sedikit pun memudar. Gila!
"Sudahlah, Jaya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Bagiku kenyamanan itu adalah yang utama, dan menjalani dengan itu saja sudah lebih dari cukup. Cukup untuk alasan cinta itu sendiri, jika memang menurutmu cinta harus ada alasannya, dan itu satu-satunya alasanku." ujarnya sembari menyandar di pundakku. Aku seketika membisu, lidahku kelu, tidak mampu lagi berkata apa-apa. Yang ada hanya rasa yang berbunga-bunga.
***