"Mau ngapain kamu ke sini, Ray?" tanya Kai.
Pria itu baru membukakan pintu setelah Raya mengancam akan membuka paksa pintu apartemen itu dengan bantuan para bodyguard yang menemaninya.
Dengan isyarat, Raya meminta dua orang pengawal yang menemaninya untuk berjaga di depan pintu. Sementara ia sendiri masuk ke dalam kamar dengan santai. Kai mengikutinya masuk.
"Tentu saja aku ke sini untuk menjemput suamiku pulang, cepatlah berkemas. Ada banyak wartawan di luar. Kau tentu tidak mau memberikan orang-orang itu kesempatan untuk menjatuhkan reputasimu dan papa mertua kan?"
Kai menatap Raya dengan muak.
"Bukannya itu memang yang kamu mau? Kalau kamu memang sepeduli itu, harusnya kamu menerima tawaranku untuk bercerai!" kata Kai sengit.
"Aku tidak mau!" jawab Raya seperti biasa.
Kini langkahnya telah sampai di ambang pintu kamar. Matanya menatap sayu seorang perempuan dengan tubuh hanya dililit oleh seprai saja. Kondisi kamar itu berantakan di bagian-bagian tertentu. Ada beberapa pakaian termasuk pakaian dalam wanita berserakan di lantai. Dan Raya mendengus ketika melihat sebuah celana dalam pria juga teronggok di sana.
"Kamu mandi sekarang! Oh, iya. Di mana kamu menyimpan baju bersihnya Kai?" tanya Raya pada Veronica kekasih dari suaminya.
Vero mendesis dan memandang kasihan pada Raya, dengan senyum kemenangan tentu saja. Jangan berharap dia akan menjawab pertanyaan Raya. Sungguh, Vero akan melakukan apa saja untuk membuat Raya tahu di mana seharusnya posisinya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Vero, Raya segera menuju ke lemari dan membukanya. Dan ternyata memang ada pakaian Kai di salah satu pintu lemari itu.
"Lancang sekali kau membuka-buka lemariku!" hardik Vero marah.
Vero segera turun dari ranjang masih dengan memakai selimut yang melilit tubuhnya untuk mencegah Raya mengobrak-abrik pakaian lemarinya.
Raya tak menghiraukan. Ia mengambil sebuah celana panjang dan kaos kasual serta pakaian dalam Kai dari sana dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
Masih mengabaikan Vero, Raya berpaling kembali pada Kai.
"Kamu segera mandi sekarang sebelum para wartawan itu curiga dengan apa yang kamu lakukan di sini. Aku tunggu di depan!" perintah Raya sambil memandang Kai tajam.
Langkahnya kini menuju ruang tamu hingga ia menemukan sofa dan duduk manis di sana.
"Bisa ya kamu dengan lancangnya menerobos masuk apartemen orang lain dan bertindak tidak sopan seenaknya?!" umpat Vero.
Vero dengan tubuh yang masih dililit seprai itu menyusul Raya ke ruang depan.
Raya tertawa kecil sebelum ia duduk dengan anggun di sofa yang tersedia di ruang tamu tersebut.
"Bisa ya kamu dengan tidak tahu malu membawa suami orang ke apartemenmu dan making love dengannya tanpa rasa bersalah sama sekali?" balas Raya tanpa raut emosi sama sekali.
Vero dengan geram mendatangi Raya hingga ia berada tepat di hadapan istri dari kekasihnya itu.
"Hah! Suamimu? Maksudmu suami di atas kertas? Kau sangat tahu Raya, kalau Kai tidak mencintaimu. Dia hanya mencintaiku! Kau hanya duri dalam hubungan kami! Dari sejak awal bukannya Kai sudah bilang kalau pernikahan kalian hanya sebatas pernikahan terpaksa?" balas Vero.
Entah dengan cara apa lagi Vero membuat Raya sadar bahwa cinta Kai hanya untuknya.
Raya mengangguk, sedikit mencibir.
"Benar, lalu? Pernikahan terpaksa pun tetap saja itu adalah pernikahan. Kamu sendiri apa punya?"
Bibir Vero bergetar menahan amarah, namun ia tak bisa mengungkapkannya karena memang ia tak memilikinya, status pernikahan itu.
Raya yang sempat duduk kemudian berdiri dan menatap wanita di depannya itu. Seprai yang membalut tubuh Veronica hampir melorot sehingga belahan dadanya terbuka hampir separuhnya.
Raya meraih seprai itu dan melilitkannya dengan kencang ke tubuh Vero hingga wanita itu merasa sesak hingga sulit bernapas.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan kisah cintamu itu dan Kai, Vero. Tetapi jika kau memang secinta itu padanya harusnya kau berpikir ratusan kali untuk membuat reputasi Kai dan ayahnya buruk," kata Raya sambil menyelipkan ujung seprai ke sisi terakhir lilitan kain itu.
Raya mengangguk puas melihat seprai itu kini sudah tidak melorot di tubuh Vero.
Sementara itu, Vero menggertakan giginya dengan geram sambil melihat ke arah kamar.
Tampaknya Kai benar-benar menuruti permintaan Raya untuk mandi dan berpakaian. Buktinya laki-laki itu tidak menyusul ia dan Raya keluar kamar meski Kai terlihat sama marahnya dengan dirinya.
"Aku ... tidak ... peduli!" jawab Vero muak namun memelankan nada suaranya agar Kai tidak mendengarnya.
Raya tersenyum lagi.
"Kalau kau tidak peduli jangan pernah bermimpi masuk dalam keluarga Prabaswara. Jelas wanita sepertimu tidak akan mampu menjadi bagian dari mereka," jawab Raya tegas dan lugas.
Vero menghentakkan kakinya sebagai upayanya yang berusaha meredam emosi. Kemudian ia memilih pergi dan masuk kembali ke dalam kamar. Dia tidak bisa membalas Raya saat ini karena beresiko ia akan mengeluarkan kata-kata yang akan membuat Kai membuat penilaian berbeda kepadanya nanti. Dia akan membalas perempuan itu nanti, tapi tidak saat ini.
Saat ia kembali ke kamar, benar saja Kai sudah berada di dalam kamar mandi. Terlihat bayangan Kai yang sedang mandi di bawah shower dari dinding dan pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca berwarna abu buram itu.
Pelan-pelan Vero berusaha mengatur napasnya yang memburu agar emosinya tidak terlihat dengan jelas di mata Kai nanti. Lalu dengan pelan ia mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Hmm, sebentar lagi aku selesai." Terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.
"Buka, Sayang. Aku juga mau ikutan mandi. Sekalian," ucap Vero.Lalu,
ceklek!
Pintu kamar mandi itu terbuka menampilkan tubuh Kai yang basah tanpa busana.
Vero tersenyum genit.
"Kita lanjutin yang tadi?" tanyanya dengan nada menggoda.
Kai membuka pintu kamar mandi sedikit lebih lebar untuk melihat ke arah pintu kamar. Kemudian ia memandang kekasihnya seakan bertanya di mana istrinya saat itu.
"Dia ada di ruang tamu. Biarkan saja dia. Short time, mau?" tanyanya dengan nada yang sangat menggoda.
Kai sempat ragu dan terlihat ingin menolak, namun bukan Vero namanya kalau dia tidak berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Setidaknya Vero harus menunjukkan pada Raya bahwa hati Kai bahkan tubuhnya adalah miliknya. Walaupun Raya membanggakan pada Vero status pernikahan Kai dengannya, namun apa gunanya itu semua jika bahkan hati dan jiwa Kai ada untuknya.
Makan tuh buku-buku nikah, kekehnya dalam hati.
Kini Vero mendorong tubuh Kai agar kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu setelah ia juga ikut masuk ke dalam. Jangan tanya apa yang akan mereka lakukan, karena sudah pasti itu adalah hal-hal menyenangkan yang mungkin tidak akan pernah dirasakan oleh istri sah sialan itu.
Dari ruang tamu, Raya bisa mendengar sayup-sayup suara erangan Vero dari kamar yang sengaja dibuat terbuka oleh wanita itu.
Dalam diam Raya hanya bisa menghela napas.
***
Bersambung...
Cemburu? Tidak. Raya tidak cemburu. Dia hanya berat di posisi ini. Andai saja bukan karena permintaan terakhir ayahnya, dia enggan menikah dengan Kai. Seorang pria, anak tunggal Pak Hartawan Prabaswara, seorang menteri yang kepadanyalah ayah Raya mengabdi selama puluhan tahun lamanya, bahkan sebelum pria itu terjun di dunia politik.
Raya dan Kai sudah saling mengenal sejak kecil. Bahkan saat SD mereka terbilang akrab karena sering bertemu di sekolah. Ketika lulus SD, Kai pindah ke Singapura bersama ayah dan ibunya karena urusan bisnis di sana. Ayah Raya yang menjabat sebagai asisten pribadi Pak Hartawan tentu saja ikut bosnya dan meninggalkan anak dan istrinya di Indonesia dan hanya dikunjungi tiga kali dalam satu tahun.
Setelah itu Raya dan Kai pernah beberapa kali bertemu saat Pak Hartawan dan keluarganya pulang ke Indonesia, namun tidak seakrab dulu tentunya. Hingga akhirnya delapan tahun yang lalu, mertuanya itu pulang ke negara ini karena mendapat panggilan dari presiden untuk diangkat menjadi menteri di kabinetnya.
Pak Hartawan orang yang baik. Kehidupannya nyaris sempurna andai anak tunggalnya, Kai, adalah anak penurut yang bisa membanggakan ke dua orang tuanya. Namun, bukan kehidupan namanya kalau tidak memiliki dua sisi.
Nyatanya kehidupan sempurna Pak Hartawan itu diimbangi pula dengan anaknya yang pembangkang. Kai dikuliahkan oleh Pak Hartawan hingga ke Inggris agar bisa melanjutkan bisnis tekstil miliknya. Namun harapannya musnah saat Kai di sana hanya bermain-main saja hingga ia berhenti kuliah dan akhirnya pulang ke Indonesia dan memilih berkarir menjadi seorang aktor dan kebetulan Kai sangat cocok di bidang ini. Namanya cepat populer, entah karena ketampanannya atau memang bakat aktingnya yang luar biasa.
Profesi itu memang diinginkan oleh banyak orang karena menghasilkan banyak uang, tetapi tidak dengan Pak Hartawan yang tidak suka dengan bidang entertainment. Menurutnya profesi Kai itu hanya profesi tidak bermartabat dan sangat mempertaruhkan harga diri sendiri dan keluarga.
Berkali-kali Pak Hartawan meminta Kai berhenti dari pekerjaannya, namun bukannya memenuhinya Kai makin menjadi-jadi. Beberapa kali ia membuat skandal yang mati-matian berusaha ditutupi ayahnya agar tidak mencuat ke publik.
Hingga akhirnya terbersit ide Pak Hartawan untuk mencarikan isteri untuk anaknya yang sekiranya mungkin bisa membuat anaknya berubah menjadi lebih baik.
Rayalah gadis pilihannya. Anak perempuan dari asisten pribadinya itu telah ia kenal dari sejak kecil, pribadinya baik, cantik, dan bisa mengimbangi keluarga mereka dari tata krama dan sopan santun. Tidak ada yang lebih pantas dari Raya untuk bisa dijadikannya menantu.
Permintaan itu tak kuasa ditolak oleh Pak Aswin, ayahnya Raya. Meski tahu kelakuan buruk anak laki-laki bosnya itu, namun Pak Hartawan menjamin kalau Raya akan diperlakukan dengan baik di keluarganya. Pria itu berkata hanya Rayalah yang mungkin bisa mengubah Kai, hanya anak perempuannyalah yang paling pantas menjadi menantu Pak Hartawan.
"Tolong, Aswin. Aku percaya padamu, kesetiaanmu, ketulusanmu, aku tahu semua itu kau turunkan juga pada putrimu. Biarkan Raya jadi menantuku. Aku akan menganggap dia seperti putriku sendiri. Tolong!" begitu kata Pak Hartawan pada Aswin.
Sama dengan ayahnya yang tidak mampu menolak permintaan Pak Hartawan, Raya pun sama tidak mampu menolak permintaan ayahnya kepadanya.
"Ayah meminta tolong padamu, meski nanti mungkin kau mendapat kesulitan mendampingi Kai, tapi ayah tahu sebenarnya Kai anak yang baik. Kau pasti bisa membuatnya berubah dan jatuh cinta padamu. Pak Hartawan juga akan menjagamu dan menganggap kamu seperti anak perempuannya sendiri. Ini permintaan terakhir ayah padamu, tidak akan ada lagi permintaan apa pun dari ayahmu ini," kata Pak Aswin waktu itu.
Raya adalah orang yang tegas pada apa yang dia inginkan dan apa yang tidak dia inginkan. Jika dia ingin ya, dia akan berkata ya, dan jika tidak maka dia akan tegas berkata tidak. Tetapi itu tidak berlaku jika orang tuanya yang memintanya.
Permintaan itu berat untuk Raya penuhi, tetapi bukan berarti dia tidak bisa meski harus memaksakan diri. Hingga dua tahun lalu terjadilah pernikahan antara dia dan Kai.
Bak sebuah firasat, apa yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa itu adalah permintaan terakhir sang ayah Raya, tepat satu minggu setelah pernikahan megahnya dengan Kai, Pak Aswin meninggal dunia dalam kecelakaan mobil saat perjalanan pulang dari rumah Pak Hartawan menuju rumahnya.
Raya menghela napas dalam saat mengingat semua itu. Hanya itu yang membuat dia bertahan dalam pernikahan ini.
Permintaan terakhir sang ayah ini mungkin tak bisa ia penuhi hingga seumur hidupnya, tapi tunggu setidaknya dua tahun lagi hingga masa jabatan Pak Hartawan selesai, Raya akan menyelesaikan pernikahan ini.
Dia yakin ayahnya di alam baka sana akan mengerti keputusannya, bahwa dia tidak bisa berlama-lama dalam pernikahan yang menyiksa ini, tapi Raya tahu kalau ayahnya akan sedih jika karir Pak Hartawan hancur hanya karena skandal yang dilakukan oleh putranya sendiri. Itu sebab Raya harus menjaga reputasi suami dan mertuanya itu saat ini.
Hanya sementara, sebentar lagi, Ray ... Bersabarlah!
***
"Itu Kai! Itu Kai! Ayo kita ke sana!"
Begitu keluar dari lobby apartemen, beberapa wartawan segera menyongsong kedatangan Raya dan Kai. Nampak Kai yang sedang merangkul istrinya terlihat begitu terkejut didatangi secara bergerombol oleh para wartawan itu.
Sepintar itu memang dia berakting. Padahal dia sudah tahu dari Raya kalau banyak wartawan di bawah sedang menunggunya.
"Eits!! Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai begini, Kawan-kawan? Santai, Bro! Santai!" ucapnya ketika para wartawan itu mulai menjejalinya dengan banyak microphone maupun recorder.
"Kai! Apa benar kamu berselingkuh dengan Veronica Castaro, lawan main anda sendiri?" tanya seorang wartawan wanita.
"Apa benar gosip yang beredar itu bahwa pernikahanmu dengan Raya Baskara hanya pernikahan terpaksa?"
"Istri anda menjemput anda ke sini, apa kemungkinan dia sudah tahu tentang hubungan anda dengan Veronica Castaro? Tolong dijawab Kai!"
Kai menatap Raya yang dibalas tatap kembali oleh istrinya itu.
"Pernikahan terpaksa?" gumam Kai sembari menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Ya, banyak gosip beredar yang mengatakan kalau kamu dan Raya Baskara sebenarnya hanya menikah karena terpaksa, apa tanggapan kamu terhadap berita ini, Kai?" tanya salah seorang wartawan itu lagi.
Kai manggut-manggut sembari melihat ke arah Raya lagi dengan pandangan menelisik.
"Ya, itu benar," jawab Kai singkat.
"Haaa?!!"
Seketika semua orang yang ada di sana menganga dan tak menyangka akan mendapat jawaban itu dari Kai.
"Benarkah? Kai? Jadi gosip tentang pernikahan kalian yang didasari keterpaksaan itu benar?" tanya wartawan lainnya lagi masih tak percaya setelah sempat beberapa detik terlihat shock mendengar jawaban Kai.
"Siapa di antara kalian yang merasa terpaksa menjalani pernikahan ini?"
Kini semakin banyak wartawan yang menyodorkan alat perekam mereka ke arah Kai dan Raya.
***
Bersambung...
Pandangan seluruh wartawan yang ada di sana kini tertuju pada Raya. Sebagian dari mereka ada yang menatap tak percaya, namun tidak sedikit yang melihatnya dengan tatap mengasihani.
Raya sendiri seperti biasa hanya diam, terlihat anggun dan kalem karena memang tampilan seperti itulah yang bisa dia tunjukkan di depan umum untuk menjaga nama baik suami dan mertuanya.
Meski dia tahu kalau suaminya sudah teramat muak kepadanya, tapi Raya tahu dengan pasti kalau kata-kata Kai yang baru saja diucapkannya itu tidak sungguh-sungguh ia katakan untuk memberi tahu para wartawan itu bagaimana situasi rumah tangga mereka yang sebenarnya.
Pasti Kai mengatakan itu dengan tujuan tertentu. Kai sudah punya skill pro dalam hal mengatasi para wartawan itu.
"Siapa di antara kalian yang merasa terpaksa?" desak wartawan itu lagi.
Kal melirik Raya dan mendapatkan cibiran dari mulut wanita itu.
"Sebenarnya ..."
Kai terdiam sejenak sehingga para wartawan itu semakin mendekatkan diri pada Kai agar dapat mendengar lebih jelas.
"Gaiirahku yang memaksa aku untuk cepat-cepat menikahi Raya. Hahaha! Gimana ya? Namanya sudah kebelet kawin ya mau nggak mau terpaksa nikah deh!" tawanya tergelak sambil terbahak-bahak.
Terdengar sorakan para wartawan yang merasa diprank oleh para wartawan itu. Sementara Raya dalam diam hanya menghembuskan napas lega.
"Hahaha ... lagian kalian sebenarnya dapat gosip seperti itu darimana saja sih? Segala-gala aku dituduh selingkuh. Apa kalian tidak memikirkan nasibku di rumah nanti? Meski bukan istri yang pemarah, tapi bisa-bisa istriku yang cantik ini sakit hatinya nanti dan menyuruhku tidur di luar. Di mana perasaan kalian, Bro!" kelakar Kai sambil kini tangannya merangkul erat pundak Raya.
Raya merespon itu dengabn tawa kecil sambil menatap Kai seolah candaan Kai itu benar-benar lucu. Bukan sekali dua kali mereka harus berakting sok mesra di depan para wartawan, tapi selalu, hampir setiap waktu.
"Lalu, apa yang kalian lakukan di dalam apartemen berdua saja dengan Vero? Kalau bukan karena ada affair lalu apa?" tanya wartawan lain yang tidak mudah dikecoh oleh candaan Kai itu.
"Astaga, kalian pikir memangnya apa? Seperti yang kalian tau, kalian juga yang bilang tadi, Vero itu lawan mainku di Sinetron Madu untuk Maudy, jadi wajar kalau aku mampir di apartemennya kan? Ada banyak hal tentang pekerjaan yang harus kami bahas. Lagipula siapa bilang kami hanya berdua?"
"Aku sengaja menelepon istriku biar dia datang. Karena memang ada juga beberapa rencana pekerjaan yang aku butuh persetujuan istriku sebelum tanda tangan kontrak. Kalau mau selingkuh buat apa aku panggil kamu, benar kan, Sayang?" tanya Kai meminta dukungan pada istrinya itu.
Kai kini menurunkan rangkulannya dari pundak ke pinggang Raya untuk menunjukkan pada semua yang ada di sana bahwa hubungannya dengan istrinya tak ada masalah dan mereka mesra-mesra saja seperti pasangan pada umumnya.
Sekilas namun tak ada yang memperhatikan, Raya memutar bola matanya malas. Dia bukan artis tapi kemampuannya berakting selalu dibutuhkan setiap waktu.
"Iya, saya datang ke sini karena ditelepon oleh Kai. Lagian aneh, kok bisa sih kalian punya pemikiran seperti itu? Saya sudah kenal lama dengan Vero, sudah seperti saudara juga. Lagipula memang ketemuan apa salahnya sih? Mereka perlu membangun chemistry biar sinetron yang mereka mainkan bagus. kok bisa sih teman-teman wartawan mikirnya jelek gitu? Nanti saya jadi over thinking beneran loh," kekeh Raya.
"Tapi banyak loh, Ray, teman yang makan temannya sendiri. Di kalangan artis bahkan ada artis yang selingkuh dengan suami temannya sampai punya anak. Mbak Raya dengar kabar itu juga kan?" kata wartawan lain mengingatkan.
Raya mengangguk.
"Iya, tapi orang kan beda-beda, Mbak. Saya yakin dan percaya kalau suami saya dan Vero nggak mungkin kayak gitu? Iya kan, Sayang?" kata Raya sambil bergelayut mesra di lengan Kai.
"Ya, nggak dong! Punya istri satu aja, cantiknya kayak gini nggak habis-habis. Buat apa selingkuh?" balas Kai sambil memeluk Raya dan mengacak-acak rambutnya dari belakang.
"Gombal deh!" sahut Raya sambil mencubit pelan perut Kai.
"Awww!! Sakit, Ayang!!"
Dengan akting senatural itu, siapa yang tidak terkecoh? Di mata orang lain gestur Kai dan Raya, bagaimana mereka saling memperlakukan pasti terlihat manis.
"Lalu, bagaimana soal foto kamu yang lagi ciuman dengan Vero di kolam renang itu, Kai?" celutuk seorang wartawan lagi mengingatkan tentang salah satu foto skandalnya yang beredar di jagad maya beberapa bulan yang lalu.
"Editan itu. Sudah dibilangin juga. Vero juga sudah konfirmasi kan kalau foto yang beredar itu sebenarnya foto dia dengan pacarnya yang diambil dari jarak jauh oelh orang tidak bertanggungjawab? Yang jelas bukan aku. Bukan ya! Sekali lagi bukan, jangan ngadi-ngadi! Kita mau pamit dulu. Soalnya masih ada urusan lain!" kata Kai sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon untuk undur diri.
Kai segera menuntun Raya untuk segera pergi dari sana.
"Kai, Kai!! Raya!!! Satu pertanyaan lagi! Gimana dengan momongan? Kalian berdua apa belum ada niat punya momongan?" tanya wartawan lain sambil mengikuti langkah mereka ke arah parkiran mobil.
"Ada. Ada niat, cuma belum di kasih saja sama yang di atas. Mohon doanya, ya Mas, Mbak biar disegerakan! Kita pamit dulu. Istri saya sudah capek soalnya!" jawab Kai dengan harapan para wartawan itu mundur dan membiarkan mereka pergi.
***
Bersambung...