Bab 1
Mesin motor sengaja aku matikan saat sampai di halaman rumah. Mendorongnya pelan-pelan ke garasi agar Mas Farid-suamiku tidak mengetahui kedatanganku. Aku sengaja pulang lebih awal karena sudah tidak sabar ingin memberi kejutan untuknya.
Setelah memarkirkan motor, aku mengeluarkan kado spesial dari dalam jok.
Sebuah jam tangan yang sudah lama diidam-idamkan oleh Mas Farid akan kuberikan untuknya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke empat. Tentunya sebagai ucapan terima kasih juga karena telah setia mendampingi dan membuatku bahagia selama bersama dengannya.
Kue tart toping coklat leleh yang dihiasi tulisan happy anniversary, kukeluarkan dari dalam kantong plastik yang tergantung di motor, kemudian membawanya.
Aku masuk melalui pintu belakang yang kebetulan sedang terbuka. Mungkin saja suamiku sedang berada di dapur.
Aku sudah tidak sabar untuk memberinya kejutan, pasti suamiku akan senang sekali mendapat kejutan dariku.
Pelan-pelan kulangkahkan kaki agar tidak ketahuan. Namun langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat sosok seorang wanita yang sedang berada di dapur.
Siapa wanita itu? Apa yang ia lakukan di rumahku?
Pikiranku mulai tidak tenang. Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat melihat ada wanita asing di rumahku?
Aku mencium aroma kopi torabika kesukaan Mas Farid, tampaknya wanita itu sedang membuat kopi.
Wanita itu tidak mengetahui keberadaanku, ia terlihat santai mengaduk-aduk kopi tersebut. Setelah itu, ia mengambil nampan kemudian meletakkan gelas yang berisi kopi tersebut di atasnya. Wanita itu pun berlalu sambil membawanya.
Tunggu dulu! Apa aku tidak salah lihat, perut wanita itu buncit, aku yakin sekali kalau wanita itu sedang hamil. Lantas, apa yang ia lakukan di rumahku? Kenapa tiba-tiba ada wanita hamil di rumahku? Jangan-jangan ….
Aku berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Mengikuti wanita itu yang ternyata menghampiri Mas Farid di ruang tamu. Wanita itu kemudian memberikan gelas yang berisi kopi tersebut kepada Mas Farid.
Mereka duduk berdampingan tanpa ada jarak. Sepersekian detik kemudian, Mas Farid mengelus perut wanita itu sambil menempelkan telinga di perutnya.
"Aku enggak mau lagi pisah darimu, Mas," ucap wanita itu dengan manja.
Apa aku tidak salah lihat? Apa aku tidak salah dengar? Apa maksud dari ucapan wanita itu? Ada hubungan apa antara suamiku dan perempuan itu, hingga Mas Farid mengelus perut wanita itu segala?
Aku menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Kaca-kaca bening menetes begitu saja dari sudut netra. Ada yang perih disini, di dalam hati ini. Sedih, cemburu, kesal dan marah bercampur menjadi satu saat melihat pemandangan menyakitkan di depan mata.
Dengan melihatnya saja, aku sudah yakin bahwa Mas Farid ada hubungan spesial dengan wanita itu.
Aku berusaha mengatur nafas, sebisa mungkin harus tetap tenang. Aku menarik nafas dalam, mengembusnya perlahan. Kulakukan berulang-kali sambil beristighfar agar hatiku bisa tenang.
Setelah berhasil meredam emosi yang tadinya menggebu-gebu, aku memutuskan untuk tetap menjalankan rencanaku. Yaitu memberi kejutan kepada mereka.
Pasti mereka akan mengelak dan menyangkal jika langsung kulabrak sekarang. Aku harus berfikir cerdas untuk bisa mengungkap ada hubungan apa sebenarnya antara suamiku dan wanita itu.
Kado yang sudah kusiapkan dari tadi, kumasukkan kembali ke dalam tas. Aku tidak akan memberikannya sekarang.
Kuatur nafas agar terlihat tenang di hadapan mereka. Bismillah … aku pasti bisa.
Kulangkahkan kaki berjalan perlahan menghampiri mereka, rupanya mereka belum juga menyadari keberadaanku.
"Happy anniversary, suamiku sayang," ucapku setelah berada tepat di hadapan mereka.
Mas Farid dan wanita itu terkejut melihat kedatanganku. Saking asyiknya berduaan, mereka sampai tidak menyadari kehadiranku yang sudah menyaksikan semua kelakuan mereka dari tadi.
Mas Farid refleks menarik tangannya yang tadinya mengelus perut buncit wanita itu. Panik melihat kedatanganku dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Dek, ka-kamu sudah pulang?" tanya Mas Farid terbata.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Kupandangi mereka berdua dengan sorot mata tajam. Ingin kukatakan kalau aku sudah mengetahui semuanya, tapi kutahan.
'Tenang Adelia, kamu pasti bisa menghadapi dua penghianat itu. Kamu pasti bisa membalas mereka dengan cara yang elegan,' batinku berbisik.
"Iya, Mas. Eh, ada tamu rupanya. Siapa wanita ini, Mas?" tanyaku sok ramah. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat ini. Yang jelas, aku harus pura-pura tidak tahu tentang mereka.
"Iya, Dek. Ini sepupu mas yang baru datang dari kampung." Mas Farid kelihatan salah tingkah, sedangkan wanita itu tampak biasa-biasa saja.
"Sepupu?" Keningku mengernyit saat mendengar Mas Farid menyebut bahwa wanita itu adalah sepupunya. Masa iya sih, sepupuan tapi pakai elus perut segala, 'kan enggak masuk akal! Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi dan mau percaya begitu saja.
"Duduk dulu, Dek, biar mas jelasin." Mas Farid menarik tanganku, tapi aku menepisnya. Aku enggan untuk duduk bersama mereka berdua.
Niatku ingin memberikan kejutan spesial kepada Mas Farid, tapi justru sebaliknya. Mas Farid lah yang memberi kejutan untukku dengan membawa wanita asing yang sedang hamil ke rumah ini. Entah apa maksudnya!
"Itu apa yang kamu bawa, Dek?" Mas Farid mengambil kue tart tersebut dari tanganku kemudian meletakkannya di atas meja.
"Ya ampun, mas lupa. Hari ni 'kan anniversary kita, maafin mas ya, Sayang." Mas Farid meraih tanganku, kemudian mengecup keningku di depan wanita itu.
Aku tahu, Mas Farid melakukan ini untuk menutupi kedoknya. Berpura-pura baik padaku, tetapi menusukku dari belakang.
Aku melirik wanita itu, ia masih duduk santai di atas sofa bludru yang kubeli setahun lalu itu. Air mukanya langsung berubah saat melihat perlakuan Mas Farid padaku. Jika ia hanya sepupunya Mas Farid, tidak mungkin ia cemburu melihat kemesraan kami.
"Berhubung kita kedatangan tamu hari ini, jadi kita akan merayakannya bertiga, bersama Rini," ucap Mas Farid sambil memandangi aku dan wanita itu secara bergantian.
"Oh iya, mas sampai lupa. Rini, kenalin ini istrinya Mas, Adelia." Mas Farid memperkenalkanku pada wanita itu.
Wanita yang sedang hamil itu pun berdiri dan mendekatiku sambil memegangi perut buncitnya.
"Aku Rini, Mbak. Sepupunya Mas Farid yang baru datang dari kampung," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Kubiarkan tangannya mengambang di udara, enggan menyambutnya. Aku tidak mungkin bisa percaya begitu saja.
"Sepupu?" tanyaku penuh selidik.
"Iya, Dek! Rini ini adalah sepupunya mas. Untuk sementara waktu, Ia akan tinggal disini bersama kita." Mas Farid berucap dengan tenang seolah tanpa beban.
"Kenapa harus tinggal bersama kita, Mas? Dia kan punya suami. Harusnya dia tinggal sama suaminya dong. Bukan tinggal bareng kita," tolakku dengan memasang wajah tak suka. Aku tidak mau wanita itu tinggal di rumah ini. Aku tidak sudi serumah dengannya!
"Dek, Suaminya Rini baru saja meninggal dalam kecelakaan. Karena Rini stress di kampung, keluarga menyarankan agar Rini tinggal di rumah kita dulu untuk sementara waktu agar Rini bisa menenangkan pikiran." Mas Farid merayu dan berusaha meyakinkanku.
Berani sekali Mas Farid mengatakan bahwa suaminya Rini sudah meninggal. Ia pasti tahu dong, kalau perkataan itu adalah doa.
Jika Mas Farid bukan ayah dari janin yang sedang dikandung wanita itu, kenapa tadi ia mengelus perut wanita itu segala? Ah, otakku rasanya tidak sanggup berpikir lagi.
Aku curiga, itu pasti akal-akalan mereka berdua saja, agar aku percaya.
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Begitu juga dengan Mas Farid. Sepandai-pandainya ia menyembunyikan bangkai, pasti lama-lama akan tercium baunya.
Bersambung ....
Bab 2
"Kalau boleh tahu, sepupu yang mana ya?" tanyaku penuh selidik. Ya, aku harus tahu dengan jelas dari mana asal usul wanita itu.
"Kamu nggak kenal, Dek, soalnya kalian belum pernah bertemu sebelumnya," sahut Mas Farid. Dari gelagatnya saja, aku sudah bisa menebak siapa dia.
"Sepertinya Mbak Adel tidak suka melihat kedatangan Rini. Maaf jika kehadiran Rini di rumah ini membuat Mbak jadi terganggu. Jika Mbak Adel keberatan dengan kehadiranku disini, aku akan pergi, Mbak," ucapnya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar merasa bersalah atau justru ini hanya berakting.
Aku memang tidak suka jika wanita itu tinggal di sini. Jelas, aku merasa terganggu, pulang-pulang melihat suamiku sedang berduaan dengan wanita asing di rumahku sendiri.
"Iya, aku keberatan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ada wanita asing di dalam rumahku. Jelas saja aku berpikiran lain." Aku sengaja berkata seperti untuk melihat bagaimana expresi Mereka.
Mas Farid harus tahu bahwa tidak boleh sembarangan membawa orang lain ke rumah ini. Begitu juga dengan wanita yang mengaku sebagai sepupunya Mas Farid itu, ia harus sadar diri.
"Biarpun kamu adalah sepupunya Mas Farid, tapi kamu harus minta ijin dulu padaku sebelum menginjakkan kaki di rumah ini," ucapku dengan tegas.
"Maaf, Mbak. Tapi tadi kata Mas Farid tunggu sampai Mbak Adel pulang dulu, biar ada kejutan," ucapnya, berusaha membela diri.
Kejutan apaan? Aku tidak bisa percaya kalau mereka adalah saudara sepupu setelah melihat pemandangan menyakitkan tadi.
"Dek, kamu jangan gitu, dong! Kasihan Rini. Biarkanlah ia tinggal di rumah ini. Bukan untuk seterusnya kok, hanya sementara sampai Rini merasa tenang." Mas Farid berusaha membujukku.
Aku memang merasa keberatan untuk mengizinkan wanita itu tinggal di rumah ini.
Sebenarnya, aku bukanlah orang yang kejam dan tidak punya rasa kasihan. Banyak yang menjadi pertimbangan untuk menerima wanita itu tinggal di rumah ini. Apalagi keadaannya saat ini ia sedang hamil.
Aku tidak mau nantinya rumah tanggaku berantakan gara-gara kehadiran wanita yang mengaku sebagai sepupunya Mas Farid itu di sini. Apalagi, aku belum yakin betul kalau wanita itu adalah sepupunya Mas Farid. Bisa saja mereka membohongiku.
Bagiku tidak cukup kalau hanya mendengar penjelasan mereka, harus ada bukti, baru aku bisa mempercayainya. Bisa saja mereka mengaku kalau suaminya Rini sudah meninggal agar aku percaya.
"Benarkah suamimu sudah meninggal, Rini?" Aku bertanya hanya untuk memastikannya saja.
Wanita itu tiba-tiba menangis, aku sendiri bingung melihatnya. Perasaan, tidak ada yang salah dengan pertanyaankum Wajar aku menanyakannya.
"Rin, tolong jangan menangis. Jika kamu menangis, nanti janin yang ada di dalam kandunganmu bisa stress loh." Mas Farid berusaha menenangkan wanita itu.
Aku tercengang melihat sikap Mas Farid kepada wanita itu. Perhatian sekali! Bahkan Mas Farid sepertinya sudah paham betul bagaimana memperlakukan wanita yang sedang hamil.
"Mari kita bicara di kamar, Dek. Mas akan jelasin semuanya." Mas Farid menarik tanganku dan membawaku masuk ke kamar.
"Dek, Mas kan sudah jelasin tadi, kalau suaminya Rini sudah meninggal. Lihat tuh, Rini jadi tersinggung!" Mas Farid malah menyalahkanku karena menanyakan hal yang ingin kuketahui.
"Wajar saja jika aku bertanya, Mas! Rini kan akan tinggal di sini, jadi aku harus tau semua tentang dia," ucapku tak mau kalah.
Mas Farid sudah berubah. Baru satu hari wanita itu hadir di rumah ini, sikapnya sudah seperti ini.
Aku duduk di tepi ranjang, malas mendengar Mas Farid jika ia hanya ingin menyalahkanku.
Melihatku diam seperti itu, Mas Farid duduk di sampingku. Ia memutar posisi duduknya agar berhadapan denganku.
Tangan kekar itu membingkai wajahu, lalu meminta maaf atas kesalahannya.
"Maafin mas, Dek. Mas tidak bermaksud menyalahkanmu. Mas hanya kasihan melihat kondisi Rini saat ini. Dia stress karena kehilangan suaminya."
"Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya, Mas?"
"Awalnya, mas sudah menolak. Tapi mas enggak enak sama Ibu dan Tante. Mereka yang mengusulkan agar Rini tinggal di rumah kita untuk sementara waktu." Lelaki berparas tampan yang sudah mendampingiku selama empat tahun itu menunjukkan rasa bersalahnya.
"Lagian, Rini juga bisa membantumu untuk beres-beres rumah, biar kamu nggak kecapean mengerjakan semuanya sendirian, Dek," ucapnya lagi.
"Benarkah yang kamu katakan itu, Mas? Mas yakin?" Aku menatapnya, dalam.
"Mas berkata yang sebenarnya. Tidak sedikitpun terlintas di benak Mas untuk menduakan mu. Alangkah bodohnya jika mas melakukannya, apalagi sampai membawa wanita itu ke rumah kita." Mas Farid menggenggam tanganku, kemudian menciumnya.
"Yakin?" Kalau dia sepupunya Mas, kenapa Mas sampai mengelus dan menempelkan telinga Mas di perutnya? Apakah seperti itu caramu memperlakukan saudara sepupumu, Mas?" Aku mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Raut wajah Mas Farid tiba-tiba berubah, mendadak gugup dan mengalihkan pandangannya.
"Begini, Dek. Kamu salah paham. Mas cuma ingin merasakan gerakan calon ponakan mas yang ada di dalam kandungan Rini. Mas pingin punya anak." Suara Mas Farid terdengar lirih saat ia mengatakan ingin memiliki anak.
Disitulah kelemahanku, sampai saat ini, aku belum bisa memenuhi keinginannya.
"Mas pingin punya anak?" Aku bertanya sambil menahan bulir bening yang hendak keluar dari kelopak mata. Jika dibahas soal anak, maka aku tidak akan bisa ngomong apa-apa lagi, karena sampai detik ini belum bisa memberikan keturunan untuk suamiku.
"Enggak kok', mas cuma bercanda." Mas Farid tersenyum padaku, terlihat sekali bahwa senyumnya seperti dipaksakan.
"Semoga saja Mas berkata jujur, jika ada kebohongan atau rahasia yang Mas tutup-tutupi, maka rumah tangga kita akan hancur, Mas! Aku tidak mau menjalani pernikahan yang di dalamnya penuh kebohongan," tegasku agar Mas Farid berpikir seribu kali jika ia ingin bermain api dengan wanita lain.
"Mas enggak akan pernah mengkhianatimu, Dek. Hanya kamu satu-satunya wanita yang Mas cintai di dunia ini. Mas tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita." Mas Farid mendekapku ke dalam pelukannya. "Percaya sama mas," lirihnya.
Meskipun Mas Farid bicara seperti itu, tapi aku belum bisa mempercayai omongannya. Aku harus tetap menyelidikinya.
***
Setelah lelah seharian bekerja di butik muslimah yang sudah aku kelola sebelum menikah dengan Mas Farid, aku terpaksa harus memasak lagi untuk makan malam kami.
Aku jarang sekali memasak di malam hari karena sudah capek dengan aktivitasku yang membutuhkan waktu dan energi. Biasanya sepulangnya dari butik, aku akan singgah ke warung nasi Padang langgananKu. Makan nasi bungkus saja, biar praktis.
Berbeda dengan malam ini, niatku yang tadinya akan mengajak Mas Farid untuk makan di luar sambil merayakan anniversary kita, gagal sudah karena kehadiran wanita itu.
Hanya telur balado dan sayur bening yang bisa kusiapkan. Mas Farid menemaniku menatanya di atas meja, sedangkan wanita itu masih mengurung diri di kamar.
"Dek, panggil Rini, gih! Biar kita makan sama-sama," ucap Mas Farid sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
Mas Farid adalah suami yang baik. Ia seringkali membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan hanya baik, pastinya perhatian dan romantis. Di mataku Mas Farid adalah sosok laki-laki yang sempurna.
Semoga saja firasat burukku tidak benar dan tidak akan pernah terjadi. Karena jika hal itu sampai terjadi, aku tidak akan pernah memaafkannya.
Aku mengetuk pintu kamar tamu, yang saat ini ditempati oleh Rini. Tak lama pintu terbuka, keluarlah Rini dengan mata sembab. Mungkin ia habis menangis.
"Rin, kita makan dulu, Mas Farid sudah menunggu di meja makan."
"Baik, Mbak," jawabnya, kemudian mengikutiku menuju ruang makan.
Suasana makan malam kali ini hening, berbeda dengan sebelumnya. Biasanya Mas Farid akan menyuapiku dan aku juga melakukan hal yang sama. Aku mencoba memaklumi keadaan ini dan tetap bersikap seperti biasa. Hanya saja hatiku belum bisa tenang sebelum memastikan bahwa suamiku tidak ada hubungan spesial dengan Rini.
***
Tengah malam, aku tiba-tiba terbangun karena dorongan ingin buang air kecil. Aku terkejut saat mengetahui tubuh Mas Farid tidak ada lagi di atas kasur. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar, tetap tidak ada.
Kemana Mas Farid malam-malam begini? Apa mungkin ia sedang di kamar mandi?
Akhirnya kuputuskan untuk menyusulnya ke kamar mandi. Di rumah ini hanya ada satu kamar mandi yang letaknya di dekat dapur.
Begitu sampai di depan kamar mandi, kudapati pintunya terbuka, itu artinya tidak ada orang di dalamnya.
Kemana Mas Farid? Tidak mungkin malam-malam begini ia pergi ke pabrik!
Rumah ini tidak begitu luas, hanya ada ruang tamu, ruang tengah, tiga kamar, dapur dan kamar mandi. Kucari ke setiap ruangan, tapi tidak kutemukan juga.
Saat melewati kamar Rini, samar-samar terdengar suara yang cukup aneh.
Suara siapa itu? Rini hanya sendirian di dalam. Apa jangan-jangan Mas Farid berada di dalam? Terus suara itu ...
Bersambung ...
Bab 3
Saat membuka mata, ternyata aku sudah berada di dalam kamar.
Kepalaku masih terasa pusing. Aku berusaha mengingat kejadian semalam saat Mas Farid tidak berada di sisiku.
Desahan yang kudengar dari kamar Rini, dan … suara itu?
Apa mungkin aku hanya bermimpi? Tapi kenapa rasanya seperti nyata? Aku yakin sekali bahwa apa yang kualami semalam bukanlah mimpi.
Seingatku, semalam aku terjatuh di depan kamar Rini. Saat membuka mata ternyata malah berada di atas ranjang. Mas Farid juga masih terlelap di sampingku.
Terakhir yang kuingat sebelum tidur, Mas Farid memberiku jus buah, terus setelah itu aku langsung tertidur. Biasanya aku tidur di atas jam sembilan malam, semalam baru jam tujuh sudah ketiduran.
Ya Rabb, ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Kupaksakan untuk bangun walaupun kepala masih pusing. Bergegas ke kamar mandi, kemudian menyegarkan tubuhku dengan guyuran air.
Setelah selesai mandi, kuambil wudhu dan menunaikan ibadah shalat subuh. Aku bersimpuh di hadapan-Nya. Mencurahkan semua keluh kesahku.
Aku memohon pada-Nya agar senantiasa menjaga dan melindungi rumah tanggaku. Kupasrahkan semuanya kepada-Nya. Semoga engkau selalu menjaga hati suamiku, ya Allah.
Aku merasa lebih tenang setelah curhat kepada Allah. Mama selalu berpesan agar aku mengadukan semua keluh kesahku kepada Allah. Ternyata benar, sekarang aku jauh merasa lebih tenang.
Kulirik jam dinding, sudah menunjukkan jam 05:30. Mas Farid masih terlelap, ia sulit sekali bangun di saat subuh. Seringkali ia bangun jam enam pagi dan sholat subuh pun sering kali di akhir waktu. Aku selalu mengingatkan, tapi Mas Farid selalu bersikukuh bahwa sholatnya pasti akan diterima oleh Allah. Wallahu alam, tugasku hanya mengingatkan saja.
***
Pagi ini, aku akan memasak nasi goreng untuk sarapan kami. Segera kusiapkan bahan-bahannya dan mulai mengolahnya.
Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, seperti ada orang yang sedang mandi. Aku mendengarnya dengan jelas karena kamar mandi letaknya di dekat dapur.
Tak lama kemudian, keluarlah Rini dari kamar mandi. Aku mengernyitkan kening saat melihat rambut Rini yang basah.
"Keramas ya, Rin?" tanyaku saat ia berjalan di sampingku.
"Iya, Mbak, biar segar," jawabnya sambil menekan-nekan handuk yang menutupi kepalanya.
"Emang enggak kedinginan?" tanyaku lagi. Rasa ingin tahuku semakin tinggi, apalagi setelah mengalami kejadian semalam yang menurutku benar-benar nyata. Walaupun kenyataannya saat bangun, aku sudah berada di kamar. Tetap saja aku mencurigai mereka.
"Enggak dingin kok', Mbak. Airnya seger. Oh ya, Rini ke kamar dulu ya, Mbak."
Aku menganggukkan kepala, pertanda mengiyakan. Berusaha menepis segala pikiran buruk yang ada di otakku karena memang kecurigaanku belum terbukti.
***
Saat sedang sarapan, aku menanyakan kejadian semalam kepada Mas Farid. Ia hanya mengatakan bahwa aku hanya bermimpi. Tapi aku belum bisa mempercayainya, soalnya apa yang kualami benar-benar seperti nyata.
Setelah selesai sarapan, Mas Farid pun berpamitan dan hendak berangkat ke kantor. Mas Farid bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta.
Setelah pamit, Mas Farid celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
"Cari apa sih, Mas?" tanyaku, heran melihat tingkahnya.
"Mas nyari Rini, kok' dia enggak ikut sarapan bareng kita ya?" Mas Farid malah balik bertanya padaku.
"Nanti kalau sudah lapar pasti dia makan kok'. Enggak usah khawatir," jawabku. Rini memang seperti menghindar dariku. Entah ada apa dengannya, aku tidak mau tahu dan tidak mau ambil pusing juga.
"Yasudah, mas pamit yah." Mas Farid mengulurkan tangannya dan akupun mencium punggung tangannya dengan takjim.
"Iya, Mas. Hati-hati ya!"
Setelah Mas Farid pergi, aku pun segera mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai. Mulai dari mencuci baju, piring, menyapu rumah, mengepel lantai dan lainnya ku kerjakan sendiri.
Aku tipikal orang yang mandiri, aku sudah terbiasa mengerjakan semua ini mulai dari masa gadis, dulu. Mama yang selalu mengajariku. Mama bilang sebesar apapun gaji seorang istri, setinggi apapun jabatannya, kodrat wanita adalah mengurus rumah tangga. Rumah adalah tempat paling nyaman untuk istri. Tapi bukan berarti si istri tidak boleh ikut bekerja. Boleh-boleh saja, asalkan tidak lupa pada kewajibannya dan niatnya tulus lillahi ta'ala untuk membantu suaminya.
Nasihat itu lah yang selalu kuingat. Biarpun penghasilan dari butik milikku lebih besar dari gaji Mas Farid, tapi aku tetap menghargainya dan bangga memiliki suami yang bertanggung jawab. Tidak pernah sekalipun aku merendahkannya, justru aku selalu membanggakannya, terlebih di depan orang tuaku.
Alhamdulillah, semua pekerjaan rumah sudah beres. Sekarang saatnya berangkat ke butik.
Kukeluarkan motor matic yang kubeli enam tahun lalu itu dari garasi. Menghidupkan mesinnya, kemudian mengendarai dengan kecepatan sedang.
Soal Rini, biarkan saja lah. Kerjaannya hanya berdiam diri di kamar. Kata Mas Farid dia akan membantu meringankan pekerjaanku, nyatanya justru membuatku semakin repot.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Alhamdulillah sampai juga di butik.
Ku buka rolling door dengan ucapan bismillah, semoga hari ini daganganku laris manis, amin.
Baru beberapa menit butik dibuka, pelanggan sudah mulai berdatangan karena kemarin aku sempat menayangkan siaran langsung juga untuk mempromosikan barang baru di grup jual beli. Mungkin mereka melihat postinganku yang kemarin.
Alhamdulillah ya Allah, rezeki hari ini lebih banyak dari yang kemarin. Baru buka beberapa jam saja sudah diserbu oleh pelanggan. Alhamdulillah … tak henti-hentinya aku mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Saking sibuknya melayani pelanggan, aku tidak sadar ternyata sudah saatnya makan siang. Biasanya Mas Farid akan menelponku di saat jam makan siang. Tapi kali ini tidak, bahkan pesan pun tidak ada. Aku sampai bolak balik membuka aplikasi hijau bergambar telepon tersebut untuk memastikannya.
Jika Mas Farid tidak mengabariku, biar aku yang menelponnya, kan sama saja. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
Kutekan kontak yang kuberi nama suamiku di ponselku, kemudian mulai menelponnya. Hanya bunyi 'tut ...tut … tut …' yang terdengar. Tidak ada jawaban. Kucoba berulang kali tapi tetap tidak diangkat. Aku masih tetap tenang dan berusaha agar tidak berprasangka buruk.
Sambil menunggu kabar dari Mas Farid, aku menyeruput jus alpukat yang kupesan di warung sebelah. Iseng-iseng kubuka GPS untuk mengecek posisi Mas Farid. Mataku membulat saat GPS menunjukkan kalau suamiku sedang berada di rumah, bukan di kantor.
Apa yang dilakukan Mas Farid di rumah? Di rumah kan ada Rini, apa jangan-jangan …
Pikiranku mulai tidak tenang, jus alpukat yang sedang kuminum mendadak rasanya hambar, memikirkan Mas Farid dan Rini.
Apa yang sedang mereka lakukan? Apa kepentingan Mas Farid menemuinya? Kepalaku benar-benar pusing memikirkannya.
Kucoba menghubungi ponsel Mas Farid kembali, yang tadinya panggilanku masuk tapi tidak diangkat, sekarang malah non aktif.
Aku harus segera pulang sekarang, harus membuktikan kebenarannya.
Bersambung ...