Bab 1

"Aku tidak menginginkan kehadiran seorang bayi! Aku ingin kau tetap cantik seperti ini tanpa tangisan bayi di rumah ini!"

Julian Ryder membisikkan kalimat itu tepat di telinga Aurora setelah mereka baru saja menuntaskan hasrat mereka.

Aurora membeku. Kata-kata suaminya menusuk hatinya lebih dalam daripada pisau.

Suamiku tak menginginkan bayi ini?

Lantas aku harus bagaimana?

Aurora menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi ini. Perutnya memang masih rata saat ini, tapi tidak lama lagi itu akan berubah. Dia tidak akan bisa menyembunyikannya selamanya.

Julian tidak ingin anak. Itu jelas.

Tapi dia ingin mempertahankan bayinya.

"Kau kenapa, sayang?" suara Julian membuyarkan lamunannya. "Wajahmu pucat dan bingung. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Aurora tersentak. Dia berusaha tersenyum, meskipun bibirnya terasa kaku.

"Oh, aku baik-baik saja, sayang."

Julian mengernyit. "Kau yakin?"

Aurora mengangguk cepat. Dia tidak bisa membiarkan Julian mencurigainya.

Tapi sampai kapan?

Rahasia ini akan semakin sulit disembunyikan seiring waktu.

"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, sayang?" Julian menatapnya tajam. "Aku tidak suka kau berbohong."

Aurora merasakan tengkuknya meremang. Pria ini selalu bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku tidak menyembunyikan apa pun," katanya, mencoba terdengar santai. "Aku hanya lelah."

Julian memandangnya dalam diam. Seolah mencoba membaca pikirannya.

"Kalau begitu, istirahatlah," ujarnya akhirnya. "Aku ingin istriku selalu sehat dan cantik."

Aurora memaksakan senyum. Tapi hatinya terasa nyeri.

---

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur. Dia hanya berbaring di samping Julian yang sudah tertidur pulas.

Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.

"Aku akan melindungimu," bisiknya pelan.

Tapi bagaimana caranya? Jika Julian tahu, pria itu mungkin akan memaksanya menggugurkan bayi ini.

Tidak. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Aurora harus mencari cara untuk menyembunyikan kehamilannya selama mungkin.

---

Keesokan paginya, Aurora merasa mual begitu bangun dari tempat tidur. Dia buru-buru ke kamar mandi, menutup pintu, lalu muntah.

Nafasnya tersengal. Tubuhnya gemetar.

Dia sudah tahu ini akan terjadi, tapi mengalaminya langsung membuat semuanya terasa lebih nyata.

Dia benar-benar hamil.

Aurora menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. Perlahan, dia mengambil test pack yang sudah dia sembunyikan di laci kamar mandi.

Dia sudah melakukan tes ini beberapa kali sebelumnya, tapi dia ingin memastikan lagi.

Beberapa menit kemudian, dua garis merah yang jelas muncul di sana.

Aurora menghela napas panjang.

Tidak ada lagi keraguan.

Dia harus melindungi bayinya, bagaimanapun caranya.

---

Aurora sedang duduk di ruang makan ketika Julian berjalan menghampirinya.

"Kau tampak lebih baik," katanya, mencium puncak kepalanya. "Aku khawatir melihatmu pucat semalam."

Aurora tersenyum kecil. "Aku hanya perlu istirahat."

Julian menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Hari ini aku ada beberapa urusan bisnis. Aku mungkin pulang agak malam."

Aurora mengangguk. Itu kabar baik. Jika Julian pergi, dia bisa mencari cara untuk menjaga kehamilannya tetap tersembunyi.

Setelah sarapan, Julian pergi seperti yang dikatakannya. Begitu pria itu menghilang di balik pintu, Aurora segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya, Liana.

"Liana, aku butuh bantuanmu."

Suara di seberang terdengar khawatir. "Ada apa, Aurora?"

"Aku hamil," bisiknya pelan. "Tapi Julian tidak boleh tahu."

Liana terdiam beberapa saat. "Kau serius?"

"Ya. Aku harus menyembunyikannya selama mungkin."

Liana menghela napas. "Ini berbahaya, Aurora."

"Aku tahu," jawabnya lirih. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

---

Beberapa hari berlalu. Aurora berusaha keras untuk bersikap normal di depan Julian. Dia memakai pakaian longgar, menolak makan terlalu banyak agar tidak menambah berat badan dengan cepat, dan memastikan untuk tidak menunjukkan gejala kehamilannya di depan suaminya.

Namun, semakin lama, semakin sulit.

Mual di pagi hari semakin parah. Tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Dan yang lebih buruk, Julian mulai curiga.

"Kau semakin sering menghindariku," kata Julian suatu malam.

Aurora berusaha tersenyum. "Aku hanya lelah, sayang."

"Terlalu sering lelah," gumam Julian. Dia menatapnya tajam. "Apa kau sakit?"

Aurora merasakan napasnya tercekat.

"Tidak," jawabnya cepat. "Aku baik-baik saja."

Julian masih menatapnya curiga. "Kau tahu aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Aurora menahan napas.

Dia harus lebih hati-hati.

---

Suatu sore, Aurora pergi menemui dokter kandungan secara diam-diam.

"Kandungan Anda sehat," kata dokter itu sambil tersenyum. "Saat ini usia kehamilan Anda sudah memasuki minggu ke delapan."

Delapan minggu.

Aurora merasakan emosinya meluap. Ada kehidupan di dalam dirinya.

Tapi saat dia berjalan keluar dari klinik, tubuhnya menegang.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir.

Aurora bisa merasakan tatapan seseorang mengawasinya.

Jantungnya berdetak cepat.

Apakah Julian sudah tahu?

Dengan tangan gemetar, Aurora segera pergi dari tempat itu.

Dia tidak boleh ketahuan.

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur.

Bayangan mobil hitam itu terus menghantuinya.

Apakah itu hanya kebetulan? Atau seseorang benar-benar mengawasinya?

Dia berbalik dan menemukan Julian berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi dingin.

Tubuh Aurora langsung membeku.

"Apa yang kau sembunyikan Aurora winters? Ingat Aku tidak suka kau berbohong!"

Bab 2

Aurora Winters berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, pikirannya berputar liar, mencari jalan keluar dari situasi ini. Julian Ryder, suaminya, memang telah pergi bekerja seharian, tetapi bukan berarti dia bebas begitu saja. Mansion ini seperti penjara dengan dinding emas, dan dia adalah tahanannya.

Bagaimana aku bisa keluar dari sini?

Semua gerak-geriknya selalu diawasi. Ke mana pun dia pergi, selalu ada mata yang mengawasi. Entah itu pelayan, penjaga keamanan, atau bahkan kamera tersembunyi yang mungkin dipasang oleh Julian.

Aurora mengepalkan tangan, frustrasi. Dia harus keluar. Harus segera. Waktu terus berjalan, dan semakin lama dia tinggal di sini, semakin sulit untuk menyembunyikan kehamilannya.

Dia mencoba keluar dari kamar, tetapi baru saja melewati pintu, seorang pelayan langsung menghampirinya.

"Nona, apa yang Anda inginkan?" suara pelayan itu lembut, tetapi matanya penuh kewaspadaan.

Aurora menarik napas dalam. Tenang. Jangan panik.

"Aku ingin sup panas," katanya, berpura-pura santai. "Tetapi aku ingin makan bersama sahabatku."

Pelayan itu tampak terkejut. "Maaf, Nona. Tuan tadi berpesan bahwa Anda sedang sakit dan tidak diperbolehkan keluar."

Sial! Apakah pria itu mulai curiga?

Aurora menahan amarahnya. Julian memang selalu mengontrol hidupnya, tetapi belakangan ini, pria itu semakin paranoid. Apa dia mulai mencurigai sesuatu?

Tidak. Dia tidak boleh panik. Dia harus tetap tenang dan mencari cara lain.

"Aku hanya ingin udara segar," katanya, mencoba menekan suaranya agar tetap terdengar manja. "Aku merasa sesak di dalam kamar sepanjang hari."

Pelayan itu ragu-ragu. "Saya akan meminta izin kepada Tuan Ryder terlebih dahulu."

Tidak! Jangan biarkan dia menelepon Julian!

Aurora segera tersenyum, berusaha tampak lembut dan tak berdaya. "Tidak perlu. Dia sedang sibuk, aku akan kembali ke kamar saja."

Pelayan itu menundukkan kepala, tampak lega karena tidak perlu berdebat. Aurora kembali ke kamarnya, tetapi pikirannya masih bekerja.

Aku harus keluar malam ini. Saat semua orang lengah.

---

Malam ini suasana tenang di luar mansion, tetapi di dalam mansion, keamanan tetap ketat. Aurora mengintip dari balik jendela. Dua penjaga berdiri di pintu depan, sementara kamera pengawas terus bergerak, memantau setiap sudut rumah.

Tidak akan mudah, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Dia harus menghindari rute utama. Berjalan melewati pintu depan jelas bunuh diri.

Aurora memeriksa lemari pakaian Julian. Di dalamnya, dia menemukan mantel panjang milik suaminya. Ini bisa menyamarkan tubuhku.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mengenakan mantel itu, menyembunyikan tubuhnya yang mulai berubah. Kemudian, dia berjalan ke kamar mandi dan membuka jendela kecil di sana.

Hanya ada satu masalah. Jendela itu berada di lantai dua.

Aku harus melompat.

Tangannya berkeringat. Jika dia jatuh dengan cara yang salah, bisa-bisa dia melukai dirinya sendiri-atau lebih buruk untuk bayinya.

Dia menggigit bibir, ragu sejenak. Tetapi suara Julian menggema di kepalanya.

"Aku tidak menginginkan bayi ini!"

Aurora mengepalkan tangan. Tidak. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti anakku.

Dengan keberanian yang tersisa, dia naik ke jendela dan mulai menuruni dinding, menggunakan pipa air sebagai pegangan. Tangan dan kakinya gemetar saat dia merayap turun perlahan.

Setengah jalan ke bawah, tangannya terpeleset.

"Aah!"

Aurora jatuh, tetapi untungnya, dia mendarat di semak-semak. Dadanya naik turun, jantungnya berdebar kencang. Dia segera bangkit, menahan rasa sakit di lututnya. Tidak ada waktu untuk merengek.

Dia berlari menuju pagar belakang. Itu adalah satu-satunya bagian dari mansion yang tidak terlalu diawasi. Namun, pagar itu tinggi dan terbuat dari besi kokoh.

Aurora menggigit bibir. Dia melihat sekitar, lalu menemukan tong sampah besar di dekat tembok.

Dengan cepat, dia mendorong tong itu ke dekat pagar dan memanjatnya. Saat dia mencoba naik, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

"Hei! Siapa di sana?"

Aurora menahan napas. Sial! Mereka melihatku!

Dia memaksa dirinya untuk melompat, dan saat dia mendarat di sisi lain, rasa sakit menjalar di pergelangan kakinya. Tetapi tidak ada waktu untuk berhenti.

Dia bangkit dan berlari ke dalam kegelapan, meninggalkan mansion dan kehidupan yang telah mengekangnya selama ini.

---

Aurora terus berlari sampai dia mencapai jalan utama. Nafasnya terengah-engah, dadanya naik turun.

Di kejauhan, dia melihat taksi melintas. Dengan cepat, dia melambaikan tangan.

Taksi itu berhenti.

"Ke mana, Nona?"

Aurora ragu sejenak. Dia tidak bisa kembali ke apartemen lamanya-Julian pasti akan mencarinya di sana.

"Apa ada hotel di sekitar sini?"

"Ada nona," jawab sopir.

"Antar aku ke hotel yang paling jauh."

Taksi melaju, meninggalkan bayangan mansion Julian di kejauhan.

Aurora menyandarkan kepalanya ke jendela, air matanya jatuh tanpa suara. Aku berhasil keluar. Aku bebas.

Dia bisa menyelamatkan anaknya itulah yang dia pikirkan saat ini.

Tetapi tanpa disadari sebuah mobil hitam mengikuti taksi yang digunakan oleh Aurora winters untuk pergi dari mansion Julian.

Aurora melihat kebelakang, mereka terlihat sangat marah dengan sikap yang dilakukan Aurora saat ini.

Mobil hitam itu terus berjalan tanpa ragu.

"Sial! Mereka tak boleh menemukanku!" Aurora tampak marah ketika pelariannya mulai ditemukan.

Jantungnya berdetak kencang, dia takut jika sampai dia akan tertangkap.

Bab 3

Suara dering telepon memecah keheningan ruangan. Julian Ryder mengangkatnya dengan ekspresi dingin, tetapi begitu mendengar laporan dari anak buahnya, wajahnya berubah.

"Tuan Ryder... dia kabur."

Hening.

Seketika, gelas kristal di tangannya dihantamkan ke dinding. Pecahan kaca berhamburan di lantai. Nafas Julian memburu, matanya menyala penuh amarah.

"Kalian bilang apa?!" suaranya dalam, mengandung bahaya.

"Aurora kabur, Tuan. Kami sudah menyisir area sekitar, tapi-"

"Brengsek! Bagaimana bisa dia kabur dari mansion yang aku buat seperti benteng?!" Julian menghantam meja dengan tinjunya, membuat barang-barang di atasnya bergetar.

Anak buahnya di seberang telepon terdiam, tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk beralasan.

"Kalian berdua kubayar mahal bukan untuk berdiri di sana seperti orang tolol! Jika kalian tidak bisa menemukannya dalam satu jam, aku pastikan kalian tidak akan melihat matahari besok!"

Ryder melemparkan ponselnya ke sofa, lalu berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.

Aurora kabur? Kenapa?

Selama ini dia memang mengawasi setiap gerak-geriknya, tapi itu hanya karena dia tidak ingin kehilangan wanita yang dia cintai. Lalu kenapa wanita itu memilih kabur dengan cara seperti ini?

Apa yang dia sembunyikan?

Ryder mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus menemukannya. Sekarang juga.

---

Di sisi lain kota, Aurora meringkuk di dalam bagasi taksi yang berhenti di pinggir jalan.

Nafasnya ditahan, jantungnya berdentam keras. Di luar, suara langkah kaki menggema di sekitar mobil.

"Periksa setiap sudut mobil ini!" suara berat salah satu pria menggema.

Sopir taksi yang tadi membawanya mengerang kesakitan di jalan aspal, tubuhnya penuh luka akibat pukulan brutal anak buah Julian.

"Di mana wanita itu?" seseorang menendang perut pria malang itu.

"Aku... aku tidak tahu..." jawabnya dengan suara parau.

Aurora memejamkan mata, mencoba menahan tangis. Tubuhnya kecil, dia beruntung bisa menyelinap ke dalam bagasi ini tanpa terlihat.

Namun, keberuntungan itu bisa berakhir kapan saja.

Suara pintu taksi terbuka.

Seseorang mengacak-acak kursi belakang.

Aurora mengepalkan tangan, tubuhnya bergetar hebat. Jika mereka membuka bagasi ini, semuanya akan berakhir.

---

Di ruang kerjanya, Julian menatap layar ponselnya dengan mata tajam.

Lokasi Aurora telah terlacak.

Sebuah senyum dingin terukir di bibirnya. Tidak ada yang bisa kabur dariku, Aurora.

Dia segera mengambil mantel hitamnya dan melangkah keluar dari kantor pribadinya. Begitu pintu terbuka, seorang pria berbadan besar sudah menunggunya.

"Mobil sudah siap, Tuan," ujar pria itu dengan nada hormat.

Julian berjalan melewati lorong panjang mansionnya, diikuti oleh beberapa anak buahnya yang membawa senjata. Semua orang tahu-ketika Julian Ryder marah, itu adalah saat yang berbahaya.

Dia masuk ke dalam mobilnya, duduk dengan tenang di kursi belakang, sementara pria di sampingnya memberi laporan.

"Kami sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar mansion. Sepertinya, Nona Aurora berhasil keluar dengan menyamar sebagai salah satu pelayan."

Julian tertawa kecil, tapi tidak ada tanda kesenangan di matanya.

"Istriku semakin pintar rupanya," gumamnya.

"Kami juga menemukan taksi yang membawanya, Tuan. Saat ini anak buah kami sedang menginterogasi sopirnya."

Julian memandang ke luar jendela, ekspresinya gelap.

"Cepatlah. Aku ingin dia kembali sebelum malam ini."

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi di mana Aurora terakhir kali terlihat.

---

Aurora merasakan tubuhnya mulai kesemutan di dalam bagasi yang sempit itu. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia bersembunyi, tetapi setiap detik terasa seperti selamanya.

Suara langkah kaki di luar semakin mendekat.

Kemudian-

Klek!

Pegangan bagasi bergetar.

Aurora menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara.

Seseorang mencoba membukanya!

Terdengar suara pria menggeram. "Sial, bagasinya terkunci. Buka dengan paksa!"

Aurora menahan napasnya. Dia menggenggam sesuatu di dalam tasnya-gunting kecil yang biasa dia bawa. Itu satu-satunya senjata yang dia punya sekarang.

Namun sebelum pria itu bisa memaksa membuka bagasi, suara lain terdengar.

"Sudahlah, dia tidak ada di sini. Kita buang waktu!"

"Tapi kita harus pastikan-"

"Bodoh! Kalau dia ada di sini, dia pasti sudah ketahuan sejak tadi! Kita cari di tempat lain!"

Langkah kaki mereka perlahan menjauh.

Aurora hampir tidak percaya.

Mereka pergi.

Dia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya perlahan membuka bagasi dari dalam.

Begitu kepalanya menyembul keluar, dia melihat sopir taksi itu masih tergeletak di tanah, mengerang kesakitan.

Aurora buru-buru keluar dari bagasi dan mendekati pria itu.

"Pak... Anda tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara bergetar.

Sopir itu mengangkat wajahnya yang penuh luka lebam. Dia tampak terkejut melihat Aurora masih ada di sana.

"Pergilah, Nona... mereka pasti akan kembali!"

Aurora menggigit bibirnya. Dia tahu itu benar.

Tanpa membuang waktu, dia meraih dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyelipkannya ke tangan pria itu.

"Saya minta maaf... karena Anda harus mengalami ini," bisiknya.

Sopir itu menatapnya lemah, tetapi dia tidak menolak uang itu.

Aurora lalu berlari secepat yang dia bisa, menyelinap di antara bayangan gedung-gedung, mencari jalan keluar dari situasi ini.

Dia tidak bisa kembali.

Dia tidak bisa tertangkap.

Karena jika Julian menemukannya...

Dia tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED