Sekarang, perubahan mendadak tingkah laku Lukman hari ini menjadi masuk akal. Dia bahkan telah menyentuh Elisa, sesuatu yang Elisa rasa menarik sekaligus membingungkan. Awalnya, dia begitu senang dengan perkembangan baru dalam hubungan mereka, tetapi
tidak lama setelah kebahagiaannya, dia merasa seperti sedang memainkan sandiwara yang tidak diperuntukkan bagi siapa pun.
"Barusan kamu ... hanya karena mengasihaniku, kan?" tanya Elisa, suaranya gemetar. Wajahnya memucat. Tangannya mengepal, mencengkeram jubah mandinya erat-erat.
Kehangatan yang dia rasakan dari momen intim mereka tadi menghilang dengan cepat ke udara, meninggalkan perasaan dingin dan kehampaan.
Dia bertanya-tanya apa Lukman menidurinya hanya untuk membuatnya setuju membiarkan Rita pindah ke rumah ini.
Baginya, ini seperti sebuah penghinaan besar.
Lukman terlihat sedikit tidak sabar. Dia mematikan rokoknya di asbak kristal dan bertanya, "Kenapa kamu terus menolak? Rita adalah adikmu. Berapa lama kamu berniat terus menghindarinya?"
"Dia memang adikku, tapi dia hampir membunuhku. Apakah kamu mengharapkan aku bersedia melihat wajahnya setiap hari dan mengingat kalau aku hampir mati di tangannya?"
Volume suara Elisa naik tidak terkendali.
Dia yakin dia terlihat mengerikan pada saat ini. Di masa lalu, dia telah melakukan segalanya untuk menjadi istri yang sempurna bagi Lukman, bahkan meninggalkan kariernya untuk merawat suaminya, semua dengan harapan dapat memenangkan cinta pria itu.
Elisa tahu Lukman adalah pria dengan harga diri yang tinggi. Dipaksa menikah dengan dirinya tentu terasa seperti gangguan yang terus menerus untuk Lukman.
Namun, Elisa berharap bahwa seiring berjalannya waktu, Lukman mungkin mulai memiliki perasaan padanya.
Sekarang, dia menyadari betapa naif dirinya.
Elisa tidak menyadari bahwa tiga tahun lalu, dia hampir kehilangan nyawanya dalam kecelakaan mobil yang disebabkan oleh Rita, kemudian mengakibatkan dia harus dirawat di rumah sakit selama tiga bulan dan membuatnya terikat pada kursi roda selama berbulan-bulan. Lukman tidak tahu tentang mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam, membuatnya terbangun sambil berteriak. Pria ini juga tidak menyadari bagaimana hujan menyebabkan rasa sakit pada bekas luka di kakinya.
Siang dan malam, hidupnya penuh dengan perjuangan seperti itu.
Bagi Lukman, Rita hanya gadis malang yang harus meninggalkan negaranya karena istrinya yang pencemburu, seorang wanita yang dia anggap gila dan penuh kebencian.
Padahal faktanya, mereka berdualah yang membuatnya menjadi gila.
Lukman memandangnya dengan tatapan yang dingin dan tajam, berbeda jauh dengan kehangatan dan kelembutan yang dia tunjukkan beberapa saat sebelumnya. Akan tetapi, kali ini, Elisa berdiri tegak, bibirnya terkatup rapat, matanya menyala karena ketegasan.
Dia telah mengalah selama bertahun-tahun, tetapi dia masih memiliki batas kesabaran.
Dia tidak bisa melihat Rita masuk ke dalam rumah mereka dan mendekati suaminya tepat di depan matanya langsung.
Dia tidak mampu melakukannya.
"Kupikir kamu salah paham." Lukman perlahan bangkit, berjalan melewatinya, melepaskan jubah mandinya, dan mengenakan pakaian dengan anggun.
Garis wajahnya sangat menarik, seolah dibuat dengan cermat oleh seorang seniman, tetapi tatapan dingin di matanya membuatnya tampak makin misterius. Namun, kata-katanya jelas dan blak-blakan.
Perkataan Lukman tegas dan tidak berbelas kasihan. "Ini adalah rumahku. Siapa pun yang kuizinkan datang, dia boleh datang. Aku bukan menanyakan pendapatmu, aku hanya memberitahumu."
Sambil mengencangkan kancing terakhir kemejanya, Lukman berbalik menghadap Elisa.
Seolah semua momen barusan hanyalah khayalan Elisa.
Elisa merasakan tenggorokannya tercekat, seperti ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya erat, membuatnya sulit bernapas. Dia menyaksikan Lukman menghampirinya selangkah demi selangkah, rasa takut yang tidak dapat dijelaskan menyelimuti dirinya.
Tanpa sadar, dia melangkah mundur hingga Lukman mengulurkan tangan dan memegang dagunya kuat-kuat.
Mata mereka bertemu, dan jantung Elisa mulai berdebar kencang.
Lalu, entah dari mana, terdengar keributan yang memecah ketegangan di antara mereka. Pembantu mereka menerobos masuk, dan mengumumkan, "Pak Lukman, Nona Rita ada di bawah!"
Nona Rita? Apa Rita di sini?
Elisa tiba-tiba menegang. Dia melihat Lukman menanggapi dengan sigap, bergegas ke jendela untuk memeriksa ke luar.
Merasa penasaran, dia bergabung dengannya, dan pada saat inilah dia melihat pemandangan di bawah.
Sedang terjadi badai besar, petir membelah langit, guntur menggelegar, awan gelap menggantung rendah, dan hujan turun dengan deras. Pepohonan membungkuk tertiup oleh angin, dan Rita berdiri di sana, tepat di pintu masuk vila mereka. Dia basah kuyup, rambutnya menempel di wajahnya, tetapi dia tetap berdiri teguh.
Dia tampak memelas dan menawan.
Elisa melirik Lukman yang berada tepat di sebelahnya, mata pria itu terbelalak kaget. Dia tiba-tiba berbalik, siap berlari ke bawah dalam sekejap mata.
Meskipun masih ada kehangatan tersisa di tubuhnya, Elisa merasakan menggigil kedinginan.
Dia berbicara melalui giginya yang terkatup rapat, suaranya stabil tetapi tegas, "Jika kamu melangkah keluar dari pintu itu hari ini, hubungan kita berakhir di sini."
Lukman berhenti di depan pintu.
Pria itu terkekeh pelan bahkan tanpa menoleh ke belakang. "Kamu pikir kamu bisa membuat kesepakatan denganku hanya karena aku berbaik hati padamu? Sungguh konyol."
Dia langsung mengambil mantelnya dan menuju ke bawah tanpa berpikir dua kali.
Saat Elisa memperhatikannya pergi, seluruh tubuhnya seolah mati rasa. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari ada sensasi aneh di kedua pipinya.
Ketika dia menyentuh wajahnya, dia menemukan air matanya mengalir turun tanpa dia sadari.
Tiga tahun telah berlalu, tetapi dia masih tidak bisa membuat pria itu tetap di sisinya.
Tidak peduli hari apa atau apa yang baru saja terjadi, Rita berdiri di sana, tanpa perlu berusaha dan bisa dalam seketika menghancurkan semua yang telah dikerjakan Elisa selama tiga tahun ini.
Elisa tidak pernah bersikap kasar pada Lukman, tetapi kali ini berbeda.
Dia tahu jika suaminya melangkah keluar dari pintu itu, hubungan mereka benar-benar berakhir di sini.
Perlahan, dia berpindah ke jendela, menunduk, dan melihat Lukman dengan cepat mendekati Rita. Rita mencondongkan tubuh sedikit dan jatuh ke dalam pelukannya.
Lukman buru-buru membantu Rita masuk ke mobilnya, kedekatan mereka terlihat jelas. Elisa pun bertanya-tanya, apakah Lukman masih memiliki aromanya?
Namun, wanita yang ada di pelukannya sudah berbeda.
Dia menyaksikan mobil Lukman menghilang di tengah hujan yang perlahan mereda.
Hujan berhenti dan menghilang dalam sekejap, tetapi badai di hati Elisa seolah tidak akan berhenti.
Pikirannya terganggu oleh suara nada dering ponselnya. Meski awalnya enggan, dia akhirnya berbalik dan menjawab panggilan yang terus-menerus mengganggunya.
Itu panggilan telepon dari ibu tirinya, Lana Sistadi.
Setelah ibu Elisa menghilang karena dicurigai melarikan diri bersama pria lain, ayahnya yang patah hati menikah lagi dengan Lana setahun kemudian. Lana membawa putri kandungnya yang bernama Rita, usianya setahun lebih muda dari Elisa.
Elisa memahami perjuangan ayahnya. Selama bertahun-tahun, dia menanggung rasa bersalah dan malu atas tindakan ibunya.
Lambat laun, Lana dan Rita menguasai rumahnya, bahkan menggantikannya menerima kasih sayang ayahnya.
Kecelakaan mobil tiga tahun lalu menghancurkan kedamaian palsu antara dia dan Rita.
Suara Lana terdengar hangat, hampir terlalu familier di telinganya. "Elisa, apakah kamu sudah memeriksakan diri ke rumah sakit? Bagaimana hasil yang kamu terima? Aku tidak bermaksud mengomel, tapi kamu sudah lama menikah. Sudah waktunya untuk punya bayi, tidakkah kamu pikir begitu? Jika kamu hamil, ibu mertuamu tentu akan puas."
Elisa telah menikah dengan Keluarga Ermawan, dan ibu Lukman, Helen Ermawan, tidak terlalu senang dengan pernikahan mereka.
Dalam hal kekayaan dan status, Keluarga Sistadi tidak dapat bersaing dengan Keluarga Ermawan.
Terlepas dari sikap cuek Lukman terhadap Elisa, Keluarga Sistadi telah memperoleh beberapa keuntungan dari waktu ke waktu.
Dalam situasi ini, tanpa adanya kabar baik tentang kehamilan Elisa, kedua belah pihak orang tua sama-sama tidak puas.
Akan tetapi, Elisa sendiri berada dalam posisi buruk.
Dia dan Lukman bahkan belum pernah tidur di atas tempat tidur yang sama. Jika dia mengandung bayi dalam keadaan sekarang, tentunya akan terasa aneh.
Sebaliknya, Lana mendesak Elisa dengan keras, ini membuatnya bingung. Putri Lana sendiri tidak jadi menikah dengan Lukman, jadi Elisa mengira Lana akan membencinya.
Namun, Lana tetap bersikeras agar Elisa segera memiliki keturunan.
Elisa terlalu stres untuk mengobrol lama dengan ibu tirinya. "Baiklah, Tante Lana."
Kata-kata Elisa pada Lana lembut, tetapi jelas membuatnya kesal. Lana masih terus berkata, "Ingat tanah di Kota Pirvas yang kita obrolkan sebelumnya? Apa Lukman sudah mengiakan? Aku tidak ingin ikut campur, Elisa, tapi penting bagimu untuk menyadari bahwa situasi keluarga kita makin buruk. Ibumu kabur bersama pria lain, dan ini merusak reputasi keluarga kita. Tanpa seorang anak, bagaimana kamu bisa berharap akan mendapat kedudukan yang kuat di Keluarga Ermawan?"
"Ibuku hanya menghilang. Beliau tidak kabur bersama siapa pun," balas Elisa cepat, merasa marah saat ini diungkit-ungkit.
Ibunya menghilang secara misterius. Ayahnya yang menikah dengan keluarga ibunya tanpa membawa uang sepeser pun, harus menanggung konsekuensi dan rumor perselingkuhannya.
Berita itu menghantam Elisa seperti sambaran petir di siang bolong.
Setiap kali disebutkan, seolah ada belati ditusukkan ke dalam hatinya.
"Baiklah, baik. Ibumu hilang, bukan melarikan diri." Nada bicara Lana seolah sedang bicara dengan anak kecil. Cibirannya menunjukkan ketidaksukaannya atas penyangkalan Elisa. "Terlepas dari apakah hilang atau melarikan diri, kita telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menyembunyikan tindakan memalukan ibumu. Kita ini keluarga, Elisa. Membantu ayahmu sama dengan membantu dirimu sendiri. Kamu pasti tidak ingin Lukman dan keluarganya yang selalu meremehkanmu mengetahui hal ini, kan?"
Wajah Elisa menegang, dan tanpa sadar, dia menggigit bibir bawah. Dia tahu dia tidak bisa membiarkan Lukman dan Keluarga Ermawan yang selalu memandang rendah dirinya, mengetahui rahasia ibunya.
Itulah kenapa dia menanggung beban ini, terus-menerus memohon pada Lukman untuk membantu kesejahteraan Keluarga Sistadi, dan hanya memperburuk reputasinya di mata pria itu.
Merasa lelah, dia memberi Lana tanggapan positif. Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Lana melanjutkan dengan basa-basi.
Saat Elisa hendak mengakhiri panggilan, wajahnya memucat, dan dia menatap ke meja kopi di dekatnya.
Lukman baru saja duduk di sana.
Sekarang, ada pil putih kecil di atas meja.
Jantung Elisa berdebar kencang saat melihatnya. Dia menjatuhkan ponselnya dan berjalan ke arah pil kecil yang tidak sempat dia perhatikan tadi.
Itu ... itu adalah pil kontrasepsi yang Lukman tinggalkan untuknya.