“Siapa kau sebenarnya? Kenapa tiba-tiba muncul di hadapanku? Kenapa kau menawarkan bantuan?” cecar Leona memberanikan diri.
Pria bermata biru itu tertawa, membuat bibir tipis dengan lengkung sempurna itu nyaris tak terlihat. Dia menarik napas melalui sela gigi yang beradu, masih memandang Leona.
“Wow! Jangan terburu-buru Nyonya.” Dia menegakkan tubuh yang tadi bersandar di besi jembatan. Tangan kokoh itu menarik baju kaus yang dikenakan, sehingga menjadi lebih rapi dibandingkan tadi.
“Aku dikirim malaikat untuk membantumu,” ujarnya tersenyum tipis.
“Bohong!” tuding Leona mundur satu langkah ke belakang.
Kini ia tampak ketakutan. Tubuh yang tadi gemetar akibat lapar, bertambah gemetar karena ketakutan. Siapa yang percaya dengan bualan orang ini. Dikirim malaikat? Apakah ada hal semacam itu di dunia?
“Saya tidak berbohong, Nyonya.” Pria tersebut melempar telunjuk ke sisi jalan menuju jembatan. “Waktu berdiri di sana, malaikat menemuiku dan mengatakan ada wanita yang membutuhkan bantuanku di tengah jembatan.”
“Ternyata benar. Aku melihatmu di sini tepat sebelum kau bunuh diri,” sambungnya lagi dengan sebelah alis naik ke atas.
Leona mengeratkan genggaman pada handler koper dengan raut ketakutan. Meski memiliki tubuh gemuk, ia tetap seorang wanita yang harus waspada dengan pria asing.
“Come on, Nyonya. Aku hanya berniat membantumu.” Lelaki itu mendongakkan kepala melihat langit yang telah menghitam. “Malam sudah tiba, artinya kau butuh tempat untuk menginap.”
Dia menunjuk lagi dengan ujung dagu. “Aku yakin kau juga kelaparan.”
Wanita berwajah chubby itu melihat ke sekitar. Jaga-jaga jika pria yang ada di hadapannya bersama dengan orang lain.
Pria bertubuh tegap tersebut mendesah, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu identitas kepada Leona.
“Ini kartu identitasku,” katanya melirik kartu berukuran kecil yang ada di antara ibu jari dan telunjuk.
Pandangan Leona berpindah kepada kartu yang dipegang pria itu, sebelum kembali melihat wajahnya. Dia ingin memastikan foto yang ada di sana adalah orang yang sama.
“West Taylor,” gumam Leona setelah membaca nama yang tertera pada kartu identitas.
Laki-laki bernama West Taylor itu mengangguk singkat. “Kau bisa memanggilku West. Kartu identitas ini asli.”
Tilikan netra abu-abu Leona kembali berpindah kepada kartu yang masih menggantung di sela jemari West. Dia ingin membaca informasi lain mengenai pria tersebut, namun West sudah memasukkannya lagi ke dalam dompet.
“Bagaimana? Ikut denganku atau terlunta-lunta di jalanan? Aku yakin kau tidak memiliki uang untuk bertahan dua hari,” tebak West setelah memberi pilihan.
Leona menelan ludah karena tebakannya benar. Ada begitu banyak pertanyaan yang hinggap di benak saat ini, namun harus dipendam. Sekarang bukan waktu untuk mengajukannya. Yang ia butuhkan hanyalah tempat tinggal untuk sementara waktu.
“Aku sungguh tidak memiliki niat jahat sedikitpun kepadamu, Nyonya,” tegas West ketika masih menemukan keraguan dari cara Leona menatap. “Seperti yang kubilang tadi, aku diutus malaikat untuk menolongmu.”
Wanita bertubuh gemuk tersebut memperhatikan wajah West lamat-lamat, sebelum memberi keputusan. Meski baru berjumpa, ia tidak melihat gelagat buruk dari lelaki itu.
West memiringkan kepala dengan sebelah alis naik ke atas, menunggu jawaban dari Leona.
“Apa jaminannya kalau kau bukan orang jahat?” Leona masih belum percaya sepenuhnya.
“Kau bisa mengetahuinya setelah tiba di rumahku nanti,” sahut West.
“Apa kau tinggal sendirian?”
Pria yang memiliki model rambut crew cut itu menggelengkan kepala. Dia mengusap lembut dagu yang dihiasi rambut halus tipis.
“Aku tinggal dengan dua rekan kerja. Suami istri. Kau akan bertemu dengan mereka nanti,” jelasnya.
“Apa pekerjaanmu?” Leona kembali mengajukan pertanyaan.
West mendongakkan kepala sebentar melihat langit yang gelap keseluruhan, sebelum beralih kepada Leona. Dia mengamati paras yang dihiasi bintik halus itu.
“Kau akan mengetahuinya setelah tiba di rumah.” Lelaki bertubuh tinggi tersebut mengangkat tangan kiri sedikit. “Sudah waktunya makan malam. Mereka pasti sudah menunggu kedatanganku.”
Leona masih tampak ragu. Kaki terasa berat untuk diayunkan menuju tempat West berdiri. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada pria misterius tersebut. Kepercayaannya terhadap orang lain sudah hilang, semenjak Mark berkhianat.
Pria yang dikenal dan dinikahi selama sepuluh tahun saja membohonginya mentah-mentah, bagaimana ia bisa percaya dengan orang yang baru saja dikenal?
***
“Ini kamar yang akan kau tempati, Leona. Sekarang bersihkan diri terlebih dahulu. Tiga puluh menit lagi aku akan datang kembali menjemputmu untuk makan malam,” tutur West mengerling ke arah kamar berukuran sedang, “aku akan memperkenalkanmu kepada rekan kerjaku nanti.”
Netra abu-abu Leona mengitari ruangan yang terbilang nyaman untuk beristirahat. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia setuju untuk ikut dengan West. Dia sudah tidak punya tempat tujuan lagi, uang pun tidak ada. Kini wanita itu menggantungkan nasibnya kepada pria misterius yang baru saja ditemui.
“Thank you,” ucap Leona nyaris tak terdengar.
“Jangan berterima kasih kepadaku, tapi berterima kasihlah kepada malaikat yang telah memberitahukanku kalau kau butuh bantuan,” balas West dengan seulas senyum di parasnya.
Meski tahu West mengarang cerita mengenai malaikat, Leona tidak mempermasalahkan. Yang ia ingin ketahui sekarang adalah sejauh mana pria itu akan membantunya untuk membalas semua perbuatan Mark.
Leona tersenyum tipis sebagai tanggapan dari perkataan pria itu. West kemudian berlalu dari hadapannya menuju tangga ke lantai paling bawah dari rumah ini, yaitu area basemen.
“Kau bisa leluasa di rumah ini, Leona. Tapi ingat, jangan pernah sekali-sekali turun ke basemen tanpa seizinku!”
Perkataan West ketika Leona baru menginjakkan kaki di rumah ini kembali terngiang. Seketika ia kembali merasa was-was saat pikiran buruk melintas.
“Ada apa dengan basemen?” gumam Leona penasaran ketika mengamati pria yang sudah menghilang di ujung tangga.
Kedua bahu itu terangkat ke atas seiringan dengan gelengan kepala. Leona memilih untuk tidak memikirkan area basemen. Sekarang ia hanya ingin beristirahat sebentar, sebelum membersihkan diri.
Leona duduk sebentar di pinggir tempat tidur untuk mengendurkan otot kaki yang menegang akibat berjalan hampir seharian. Fisiknya lelah selelah batinnya. Air mata kembali menetes di pipi saat ingat bagaimana pengkhianatan Mark. Dia merasa seperti wanita bodoh yang rela meninggalkan keluarga, demi bajingan itu.
“Aku bersumpah, kau akan menyesalinya, Mark,” geram Leona menyeka bulir bening dengan keras.
Sorot mata abu-abu yang biasa tampak teduh, kini berubah menjadi tajam. Wajah yang kerap dihiasi senyum, sekarang hanya memberi ekspresi datar, terkadang marah. Leona terlihat begitu berbeda.
“Tuhan, kuatkan aku agar bisa membalas semua perbuatannya kepadaku,” lirih Leona sambil memejamkan mata.
Meski belum tahu apa yang akan dilakukannya nanti, namun ia bertekad tidak akan pernah membiarkan Mark hidup dengan tenang. Apalagi sampai menikmati jerih payah Leona selama ini.
Setelah beristirahat sebentar, wanita bertubuh gempal itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia butuh air dingin untuk memadamkan bara api yang membakar di dalam tubuh. Lelah yang terasa seakan hilang bersama dengan aliran air yang mengguyur setiap jengkal sisi raganya.
“Makan malam sudah tersedia, Leona.” Terdengar suara bariton memanggil diiringi ketukan pintu.
“Ya, sebentar,” sahutnya dengan tangan masih berusaha menggapai resleting gaun.
Leona menarik napas singkat, ketika masih belum berhasil menutup bagian belakang pakaian yang dikenakan. Dia memejamkan mata menyadari betapa gendut dirinya sekarang. Berdiam diri di rumah selama lima tahun, ternyata mampu membuat berat badan naik drastis. Ditambah lagi dengan nafsu makan yang meningkat.
Jemari yang diselimuti lemak itu kembali bergerak meraih resleting . Embusan napas lega meluncur begitu resleting tersebut berhasil tertutup dengan sempurna. Sekarang tinggal merapikan rambut hitam yang panjang dan tebal miliknya.
“Maaf lama. Ada masalah dengan ini,” kata Leona menunjuk resleting belakang gaun, setelah membuka pintu kamar.
“Tidak masalah.” West mengerling ke arah tangga. Sudah waktunya mereka makan malam.
Keduanya melangkah menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.
“Aku perlu berbicara denganmu setelah makan malam.” West menoleh sebentar saat berada di pertengahan tangga.
Leona mengangguk canggung. Dia masih belum terbiasa berinteraksi dengan lelaki ini. Sumpah demi apapun, ia juga penasaran siapa West dan apa pekerjaannya?
Langkah mereka berhenti ketika tiba di ruang makan yang tidak terlalu besar. West tinggal di perumahan untuk kalangan menengah ke atas. Ruang tamu di rumah ini luas, namun tidak dengan kamar dan ruang makan. Hal itu dikarenakan penghuni yang bisa dihitung dengan tiga jari.
Leona memandang pria dan wanita yang tampak berusia lima tahun di bawahnya. Sepasang suami istri yang telah lama ikut dengan West.
“Ah, perkenalkan ini Leona. Nanti aku ceritakan bagaimana kami berjumpa kepada kalian,” ujar West memperkenalkan wanita yang baru saja ditemui di jembatan.
“Leona, ini Shaun dan istrinya, Cassie. Mereka orang-orang kepercayaanku. Kau bisa menyebutnya sebagai partner kerja.” West beralih kepada Leona.
Tangan berukuran lebar itu terangkat ke atas bersiap menyambut uluran dari Shaun dan Cassie. Keduanya saling berbagi pandangan bingung, sebelum bersalaman dengan Leona.
“Sekarang kita makan malam dulu. Kau pasti lapar,” sambung West setelahnya.
Kepala Leona tertunduk dalam menahan malu. Dia merasa seperti seorang gelandangan yang baru saja dipungut di pinggir jalan oleh pria asing. Sekarang orang tersebut memberinya makan.
Hah! Wanita bermata abu-abu itu tak lagi peduli bagaimana tanggapan orang lain. Sekali lagi, yang ingin dilakukannya hanyalah membalaskan dendam kepada Mark dan West berjanji akan membantu.
“Sebentar!” cegah West ketika Leona mengambil nasi ditambah dengan kentang. Jari telunjuknya bergoyang ke kiri dan kanan seiringan dengan kepala.
“Mulai hari ini, menu makan malammu bukan lagi nasi ataupun kentang, tapi ini,” cicit West menyodorkan aneka salad dan buah.
Mata lebar Leona semakin membesar sebagai bentuk protes. Bibirnya terbuka sedikit.
“Jika kau bersungguh-sungguh ingin membalas perbuatan suamimu, maka mulailah dari ini.” West melempar telunjuk ke wajah Leona, kemudian perlahan ke bawah. “Kau harus menurunkan berat badan terlebih dahulu.”
Wanita bertubuh gempal itu malah melongo mendengar perkataan West. Saliva memenuhi rongga mulut seketika. Hal ini di luar dugaan Leona. Mengurangi takaran makan, mampu membuatnya tersiksa. Ternyata ia baru saja menggali kuburan untuk diri sendiri.
Aku bisa mati sebelum membalas perbuatan Mark, jika melakukan ini, batinnya menderita.
Bersambung....
“Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi kepadamu.”
West mematut Leona lamat-lamat dari kepala perlahan ke bawah. Dia bisa mengetahui dulunya, wanita itu memiliki wajah yang cantik. Bagi lelaki yang telah bertemu banyak orang seperti dirinya, akan sangat mudah mengenali watak siapa saja yang ditemui.
“Katakan dulu apa pekerjaanmu. Sebelum ke sini kau berkata akan mengatakannya ketika di rumah.” Leona malah tidak menjawab pertanyaan West.
“Aku?”
“Iya. Siapa lagi? Apa aku bertemu dengan Shaun dan istrinya sebelum kita ke sini?”
West tertawa mendengarnya. “Wah, ternyata kau memiliki sisi ketus juga, Leona.”
Leona menegakkan tubuh dengan dagu terangkat ke atas. Kali ini dia ingin menunjukkan kalau dirinya tidak berasal dari kalangan biasa. Kedua tangannya bergoyang sebelum tangan menyilang di atas lutut yang berimpitan.
“Tentu, Mr. Taylor. Kau bahkan belum mengetahui siapa diriku sebenarnya.”
West manggut-manggut seolah paham maksud perkataan wanita yang duduk tepat di hadapannya.
“Leona Elizabeth Parker, keturunan bangsawan di daerah Outville. Putri ketiga keluarga Parker yang diusir, karena menikah dengan pria dari kalangan bukan bangsawan. Suamimu bernama Mark Sinclair, bukan?” papar West lancar mengatakan asal usul wanita yang baru saja ditemui.
Mata abu-abu Leona langsung membesar. Rasa takut kembali hinggap dalam diri, khawatir jika pria ini memiliki niat yang tidak baik.
“Ba-bagaimana kau tahu tentangku?” Tangannya bersiap meraba ke samping kiri mencari benda yang bisa digunakan untuk melindungi diri, jika West berniat buruk kepadanya.
Pria berambut cokelat itu menyandarkan tubuh di punggung sofa dengan mengulas senyuman. “Mengetahui identitas seseorang, bukanlah hal yang sulit bagiku.”
“Tenang, Leona. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak pernah memiliki niat buruk kepadamu.” Tangannya naik ke atas, mengacungkan jari tengah dan telunjuk bersamaan ke atas. “Demi Tuhan, aku bersumpah hanya ingin membantumu.”
West berusaha meyakinkan Leona yang sudah ketakutan terlebih dahulu.
“Benar?” Leona masih tidak yakin.
“Sungguh-sungguh. Kau bisa percaya denganku.”
Gestur tubuh Leona kembali tenang. Tidak ada lagi gurat khawatir yang terpancar dua menit yang lalu.
“Apa pekerjaanmu? Kau harus jujur mengatakannya kepadaku.”
“Aku seorang penipu.”
“What?”
“Ya. Kau memintaku jujur dan aku katakan yang sebenarnya,” ujar West tanpa beban, “aku memiliki data base lengkap, sehingga bisa mencari tahu latar belakangmu dengan mudah.”
West menyeringai dengan pandangan belum lepas dari Leona. “Aku juga bisa membuatkan identitas baru untukmu. Karena itulah kau harus menurunkan berat badan, sebelum membalas suamimu.”
Wanita itu mulai paham ke mana arah pembicaraan West. Satu jam yang lalu pria itu bersikeras meminta dirinya untuk mengubah pola makan, hingga mengurangi konsumsi karbohidrat agar tidak menjadi lemak.
“Kau ingin aku—”
“Kurang lebih seperti itu. Detailnya akan kuberitahu nanti setelah kau ceritakan apa yang terjadi. Maksudku, pria seperti apa suamimu dan apa pekerjaannya.”
Mata abu-abu itu mengecil dan menatap penuh selidik. “Tadi kau bilang bisa mengetahui latar belakang seseorang, kenapa sekarang malah tanyakan apa pekerjaan suamiku?”
“Come on, Leona. Aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk mencari data tentangmu. Bagaimana aku bisa mencari tahu tentang suamimu dengan detail dalam waktu sesingkat itu?” balas West mengusap kening. Lelah juga berkomunikasi dengan perempuan seperti Leona.
Suasana hening ketika wanita berambut hitam itu berpikir sejenak. Bahunya naik, lalu turun perlahan ke bawah.
“Baiklah. Mark dulunya hanya seorang pegawai biasa di perusahaan pialang.” Senyum tipis tergambar di parasnya mengenang awal bertemu dengan pria itu. “Dia pria yang manis dan penyayang. Karena itulah, aku rela meninggalkan keluargaku demi dirinya.”
“Awal pernikahan, aku bekerja dengan sekuat tenaga. Mengumpulkan uang membeli rumah. Tujuannya agar bisa menunjukkan kepada keluarga, kalau Mark bisa memberi kecukupan materi untukku.” Sorot mata yang tadinya dihiasi cinta, kini berubah tajam seperti binatang buas yang ingin memangsa incaran.
West mendengar cerita Leona baik-baik, tanpa menyela.
“Tahun kelima pernikahan, aku membantunya mendirikan perusahaan investasi dana. Ya, walau sudah tidak bekerja lagi, tapi aku membantu Mark bekerja di belakang layar. Kau paham maksudku, ‘kan?” Pandangan netra yang basah kemerahan itu beralih kepada West.
“Maksudnya kau adalah otak dari perusahaan yang dikelola suamimu sekarang?” West tampak terkejut mendengar penjelasan Leona.
Leona menganggukkan kepala. “Aku ingin orang-orang menghargainya, terutama keluargaku. Karena itulah seluruh aset perusahaan dan rumah, dituliskan atas namanya.”
“Dan sekarang dia mengkhianatimu, hingga kau hidup terlunta-lunta?” Mata biru kecil milik West melebar. Dia berdecak tiga kali sambil bertepuk tangan. “Luar biasa bajingan itu. Bagaimana bisa laki-laki itu bersenang-senang dengan harta yang bukan miliknya?”
Pria itu mengusap rahang tegas yang dihiasi rambut tipis itu keras. Dia tidak menyangka ada pria yang begitu kejam kepada istrinya sendiri. Bahkan keberhasilannya saat ini, tidak lepas dari jerih payah Leona.
“Jadi apa rencanamu sekarang?” ujar West kemudian.
Kening Leona berkerut dalam, bibir bagian atas kanan terangkat sedikit. “Apa maksudmu menanyakan rencanaku? Bukankah kau yang mengatakan ingin membantuku tiga jam yang lalu? Lelucon apa ini?”
West menggeleng cepat. “Bukan itu maksudku. Apa kau berencana untuk mengambil perusahaan itu lagi?”
“Jika itu bisa membalas perbuatan Mark, kenapa tidak kulakukan?” lirih Leona tertunduk.
Pria berambut cokelatan itu mengangguk paham. “Baiklah. Sekarang keinginanmu ada dua, pertama membalaskan pengkhianatan suamimu dan kedua merebut lagi harta yang seharusnya milikmu?” katanya memastikan.
“Benar. Aku ingin membuat Mark sengsara dan menyesali perbuatannya,” sahut Leona tanpa ragu.
“Apa kau masih mencintainya?” selidik West.
Wanita berparas chubby itu terdiam. Dia benci dengan Mark, tapi jauh di lubuk hati terdalam ia masih mencintainya.
“Diam berarti benar.” Pria itu mendesah pelan sebelum kembali berucap. “Sebelum kujelaskan apa rencananya, lebih baik kau hilangkan dulu perasaanmu. Itu tidak akan memberi hasil yang baik untuk usaha kita.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi lagi, Leona. Mana bisa membalaskan dendam ketika masih cinta? Itu konyol sekali,” sela West sedikit meninggikan suara.
Lelaki bertubuh tegap itu berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang tamu.
“Aku harus bagaimana?” desis Leona membuat langkah West berhenti.
“Sebaiknya kau renungi dulu. Saranku, kau harus menghapus rasa cintamu bagaimanapun caranya.” West memutar balik tubuh menghadap Leona dan melihat wajah menyedihkan itu. Dia tidak habis pikir ada perempuan yang masih mencintai suaminya, setelah mengetahui perselingkuhan pria itu.
“Aku beri kau waktu tiga hari, sebelum memulai rencana kita.”
Pandangan Leona perlahan naik melihat West. Lagi-lagi bulir bening tergenang di sana, membuatnya tampak lemah. “Aku tanya, bagaimana cara agar bisa menghapus cintaku, West?”
“Aku mengenal dan mencintainya selama sepuluh tahun. Bagaimana bisa menghapus cinta itu dalam waktu singkat?”
Leona mulai kesal dengan diri sendiri. Tubuhnya bergetar merespons perasaan yang mulai berkecamuk. Dia benci dengan perbuatan Mark dan itu adalah fakta, tapi menghilangkan cinta yang selama ini dipupuk begitu saja, tentu akan sulit dilakukan.
“Ganti ponsel dan nomormu,” usul pria itu.
“Aku yang akan membelikannya untukmu besok,” jelas West ketika Leona ingin berbicara. Dia tahu persis saat ini, perempuan yang ada di hadapannya tidak memiliki uang.
Wanita itu mengangguk lesu dengan wajah menyedihkan.
West mendesah lagi tak tega melihat kondisi Leona sekarang. Dia maju satu langkah, kemudian berlutut di hadapannya.
Leona terkejut melihat pria itu berlutut di dekat kakinya. Dia menjadi gugup saat wajah West terlihat jelas dari jarak dekat. Selama ini tidak pernah ada laki-laki yang berlutut seperti ini, termasuk Mark.
“Ada cara jitu agar kau segera melupakan cintamu kepadanya, Leona.” West menatap lekat wajah yang dihiasi bintik halus tersebut.
“Apa?” tanya Leona nyaris berbisik.
Tangan West naik membelai pinggir pipi tembem milik wanita itu, kemudian mengusap tetesan air mata yang ada di sana.
“Berkencanlah denganku,” jawab West lugas.
Bersambung....