Bab 1

Suara desahan yang seharusnya terdengar merdu menjadi begitu menyakitkan di telinga wanita yang kini bersembunyi di dalam lemari kayu berukuran besar. Bulir bening membasahi pipi chubby yang dihiasi oleh bintik-bintik cokelat hingga batang hidung. Kedua tangan membekap erat bibir yang sejak tadi bergetar menahan suara tangis yang ingin keluar.

Pujian dan rayuan yang dilontarkan oleh sepasang pezina itu semakin menyesakkan dadanya. Ia marah, sehingga mata abu-abu gelap itu dikelilingi sklera yang memerah. Kali ini ia membuktikan sendiri gunjingan tetangga tentang pria yang telah dinikahinya sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya wanita bertubuh gempal itu tidak percaya dengan bisik-bisik tetangga yang mengatakan sang Suami berselingkuh. Ia beranggapan mereka hanya iri dengan rumah tangga yang dibina selalu tenang tanpa masalah berarti. Meski selama sepuluh tahun, belum dikaruniai buah hati.

“Kau jauh lebih menggairahkan dibandingkan istri gendutku, Sherly,” puji pria yang masih tenggelam dalam kesenangan sesaat.

“Tentu saja, Mark. Mana bisa istrimu bercinta dengan beragam pose sepertiku,” balas perempuan berambut pirang.

Leona, wanita yang masih berada di dalam lemari, menutup rapat telinga ketika mendengar percakapan kedua insan tersebut. Kakinya semakin ditekuk sehingga menambah sesak di dada. Keringat mulai mengalir deras seiringan dengan air mata. Hati yang terasa panas, menambah panas suhu tubuhnya yang berada di tempat pengap itu.

“Kalau tidak percaya, kau buktikan saja sendiri. Suamimu itu sering membawa perempuan berambut pirang ke rumah ketika kau pergi.” Kalimat yang dilontarkan tetangga kembali terngiang di telinga Leona.

Setelah berpikir keras, ia menyusun rencana agar bisa membuktikan perkataan mereka. Leona berbohong kepada Mark dengan mengatakan akan pergi ke Netherville untuk menemui sahabatnya. Perangkap yang dirancang berhasil, pria itu membawa perempuan selingkuhannya ke rumah.

Leona kembali meratapi apa yang telah dilihat saat ini. Pengorbanannya selama sepuluh tahun menjadi sia-sia. Masih segar dalam ingatan bagaimana ia meninggalkan keluarga, karena memutuskan untuk menikah dengan pria biasa yang bukan berasal dari kalangan bangsawan. Ya, wanita itu keturunan bangsawan terpandang di daerah Outville.

Dulu Mark memuji kecantikan Leona yang katanya seperti Lady Diana, namun sekarang ia justru mengolok sang Istri di hadapan selingkuhan. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan, menghadirkan perih yang teramat sangat di hati perempuan berhati lembut tersebut.

“Mau ke mana?” Mark kembali bersuara.

Leona kembali mendekatkan telinga ke pintu lemari, agar bisa mendengar lebih jelas.

“Pulang, Honey. Aku tidak mau istrimu tiba dan melihat keberadaanku di sini,” sahut perempuan yang bersama dengan Mark.

Mark berdecak pelan menarik lagi wanita bertubuh ramping itu, sehingga terduduk di atas pangkuan.

“Dia akan kembali nanti sore. Masih empat jam lagi.” Mark menyeringai sambil membelai rambut pirang wanita selingkuhannya.

“Bagaimana jika dia kembali sekarang?”

“Biarkan saja. Aku akan menceraikannya, agar bisa menikah denganmu.”

Wanita yang masih bersembunyi di dalam lemari itu semakin mengeratkan genggaman tangan. Napasnya menjadi sesak ketika bayangan perceraian hinggap di pikiran.

“Benarkah?”

“Tentu! Aku akan membuktikannya padamu.”

Tubuh Leona semakin terbakar mendengar perkataan suaminya. Ia sudah tidak tahan lagi. Setelah menarik napas dalam-dalam, tangannya bergerak mendorong pintu lemari sehingga membuat kedua insan itu terperanjat.

“Sebelum hal itu terjadi. Akulah yang akan menceraikanmu, Mark!!” tegas Leona setelah berhasil berdiri tegak.

Dia berusaha menjaga keseimbangan ketika kaki terasa keram akibat terlalu lama ditekuk. Leona tidak ingin terlihat lemah di hadapan pengkhianat yang telah dinikahinya bertahun-tahun.

“Sekarang keluar dari rumahku!!” usir Leona mengacungkan jari telunjuk ke arah pintu keluar.

Perempuan berambut pirang tersebut langsung masuk ke dalam selimut, lantas menutupi tubuhnya. Sementara Mark mendengkus setelah berhasil mengendalikan diri. Tawa singkat keluar dari sela bibir tipis berwarna keunguan itu.

“Rumahmu??!! Apa kau lupa rumah ini sudah menjadi milikku?!” sergah Mark pantang kalah.

Mata abu-abu itu terpejam erat ketika ingat telah setuju untuk mengalihkan kepemilikan rumah menjadi nama Mark Sinclair. Meski pada awalnya rumah ini milik Leona, tapi ia sudah menghibahkannya kepada pria itu.

“Jadi siapa yang harus angkat kaki dari sini?” Mark tersenyum penuh kemenangan seraya merangkul bahu selingkuhannya.

Semburat merah terpancar dari paras Leona saat menahan amarah. Sebagai wanita berpendidikan, ia tahu persis tak akan bisa mengambil lagi rumah tersebut meski melewati jalur hukum. Kebodohan yang diperbuat, mengakibatkan dirinya harus angkat kaki dari kediaman yang dibeli dengan jerih payah sendiri.

Mark berdiri ketika Leona masih bergeming di tempat. Pria itu mengeluarkan seluruh pakaian istrinya dari dalam lemari, lantas dilemparkan asal ke lantai. Tak lama kemudian sebuah koper berukuran jumbo telah teronggok di atas tumpukan pakaian.

“Sampai jumpa di pengadilan nanti, Leona,” ujar Mark setelahnya, “aku beri kau waktu satu jam untuk pergi dari rumah ini. Jangan pernah tunjukkan wajah jelekmu lagi kepadaku! Aku sudah muak denganmu.”

Napas Leona semakin menderu keluar dari hidung dan bibir bersamaan. Tatapan mata abu-abu miliknya tampak tajam melihat perempuan berambut pirang yang tersenyum pongah.

“Aku bersumpah, kau akan menyesali ini semua, Mark!” Dia melempar telunjuk ke tempat perempuan jalang itu tidur. “Wanita itu hanya ingin hartamu yang sebenarnya milikku!!”

“Aku bersumpah tidak akan pernah menerimamu lagi, meski kau merangkak dan memohon agar aku kembali suatu saat nanti,” sambungnya berusaha menegarkan diri meski di dalamnya sangat rapuh.

***

Suara klakson mobil terdengar bersahut-sahutan di kota yang tidak pernah tidur. Asap kendaraan mulai menyesakkan pernapasan, membuat Leona terbatuk sesekali. Otot kaki mulai lelah berjalan menyusuri jalan besar yang masih ramai. Keringat berkucuran di kening hingga leher, hingga membasahi gaun bermotif bunga yang dikenakan.

Ke manakah ia akan pergi sekarang? Sebentar lagi langit mulai gelap. Leona butuh tempat untuk berteduh dan beristirahat. Hanya Mark yang dimilikinya di sini. Rumah yang ditinggalkan tiga jam yang lalu adalah tempat tujuan satu-satunya. Tapi, kini ia tak bisa lagi kembali ke sana.

Tangan dilapisi lemak itu bergerak naik ke pinggir kening, menyeka keringat yang baru saja meninggalkan pori-pori kulit putihnya. Pandangan kembali beredar mencari tempat untuk sekedar melepas penat. Perlahan tangan turun beranjak merogoh tas yang tersangkut di pundak. Dia mengeluarkan dompet berwarna cokelat muda dan melihat isinya.

Desahan pelan meluncur dari sela bibir ketika melihat hanya beberapa lembar uang yang ia miliki. Semua berubah drastis setelah Mark mengusirnya. Selama lima tahun belakangan, Leona memang tak lagi bekerja karena fokus dengan program untuk mendapatkan anak. Namun, seluruh pengorbanannya sekarang menjadi sia-sia setelah apa yang diketahui hari ini.

Leona mulai frustasi. Ia tidak mungkin menjadi gelandangan di kota besar ini. Tak mungkin juga kembali ke rumah keluarganya di Outville. Jika berkunjung ke Netherville, keluarganya pasti akan tahu apa yang akan terjadi. Dia benar-benar sendirian dan mulai ketakutan.

“Aku harus ke mana?” lirihnya memegang perut yang keroncongan.

Malam menjelang. Warna lembayung berganti gelap. Wanita bertubuh gempal itu belum juga menemukan tempat untuk beristirahat. Kaki sudah letih menopang tubuh besarnya.

Pandangan netra abu-abu gelap milik Leona kembali beredar mengamati sekitar. Tilikan berhenti ketika melihat jembatan yang digunakan untuk menyeberang sungai Hannes yang terkenal di Earth Ville. Jembatan tersebut berukuran besar, sehingga dibagi menjadi dua jalur. Di bawahnya terdapat air yang mengalir cukup deras.

Leona bergegas menuju pinggir jembatan dan mengamati derasnya aliran sungai Hannes yang sedikit keruh. Beragam pikiran bergelayut di benak wanita berpipi chubby tersebut.

“Lebih baik aku mati tenggelam di sana daripada menanggung malu,” gumamnya pada diri sendiri.

Selang dua detik kemudian, ia menggelengkan kepala sehingga rambut hitam yang dikuncir tersebut bergoyang ke kiri dan kanan.

Tidak! Aku tidak boleh mati sekarang, bisiknya dalam hati.

Wanita itu kembali terdiam dengan tangan berpegangan erat di besi jembatan. Matanya terpejam erat ketika terjadi perang di dalam diri. Tarikan napas berat terdengar dari hidung mancung berukuran sedang miliknya.

“Kalau mau bunuh diri jangan di sini.” Tiba-tiba terdengar suara bariton dari samping kanan.

Leona terkesiap, lantas melihat ke sumber suara. Terlihat seorang pria berambut cokelat mengenakan baju kaus dipadu dengan celana jeans sobek sedang menatap kepadanya.

Pria asing tersebut menunjuk gedung bertingkat tiga puluh tak jauh dari sana. “Kau bisa bunuh diri di sana. Melompat dari lantai paling atas dan mati tanpa merasakan sakit.”

Laki-laki itu mengerling ke sungai sebelum kembali berujar, “Jika kau melompat ke sana, kemungkinan besar kau akan terseret arus dan sesak napas jika tenggelam. Kau akan menderita terlebih dahulu, sebelum malaikat maut mengambil nyawamu.”

Leona menelan saliva mendengar perkataan pria yang baru saja ditemui. Rasa takut kembali menyelimuti dirinya.

“Kau wanita penakut. Aku jamin tidak akan berani melompat ke bawah sana,” komentar pria itu tersenyum singkat.

Wanita bertubuh gempal tersebut hening. Energi habis terkuras setelah melewati rentetan fakta menyakitkan dalam hidupnya. Leona tidak memiliki tenaga untuk berdebat saat ini.

Lelaki itu mengeluarkan sebatang rokok, kemudian membakar ujungnya dengan macis. Dia mengisap dalam-dalam sebelum mengembuskan asap yang sempat diisap.

“Jangan pernah berpikiran untuk bunuh diri, apapun masalah yang kau hadapi sekarang.” Pria itu masih berceloteh, meski tidak ditanggapi oleh Leona.

Dia mengamati Leona yang sedang diam menatap nanar aliran sungai. “Biar kutebak. Suami atau pacarmu berselingkuh, bukan?”

Mata abu-abu gelap milik perempuan tersebut membulat seketika. Kerutan tampak di antara kedua alis. “Ba-bagaimana kau tahu?” selidiknya menatap curiga.

Pria itu tergelak sambil menunjuk koper dengan ujung dagu. “Apalagi yang membuat seorang wanita gendut ingin bunuh diri, setelah pergi dari rumah?!”

Tangan Leona yang sejak tadi memegang pinggir jembatan turun ke bawah, lalu saling bertautan di depan tubuh. Kepalanya tertunduk dalam. Ternyata orang-orang bisa mengetahui apa yang terjadi dengan hanya melihat kondisinya sekarang.

“Bodoh,” desis pria itu.

“Sorry?”

“Kau bodoh jika ingin mengakhiri hidupmu.”

Kening Leona berkerut bingung, sehingga kedua alis nyaris bertautan. “Aku tidak bodoh,” sanggahnya tersinggung. Dia memang sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup, namun sesaat kemudian mengurungkan niatnya.

“Kau bodoh, Nyonya. Jika aku jadi dirimu, aku akan balas dendam.” Seringaian terlihat di sudut bibir dengan lekung sempurna milik pria tersebut.

“Balas dendam?” kata Leona.

Pria itu menegakkan tubuh yang bersandar di besi jembatan. Dia melempar asal puntung rokok ke sungai. Mata biru miliknya menatap lekat wanita berparas chubby tersebut.

“Aku bisa membantumu untuk membalaskan dendam kepada suami atau pacarmu itu. Kau harus buat pria itu menyesal seumur hidup karena telah mencampakkan wanita cantik sepertimu,” jelasnya dengan sebelah alis naik ke atas.

Leona tercenung mendengar perkataan pria asing ini. Kesedihan ternyata membuatnya bodoh, sehingga tidak memikirkan hal tersebut. Ia bisa membuat Mark menyesal seumur hidup, karena telah meninggalkan dirinya demi perempuan jalang.

Sesaat kemudian ia kembali gamang. Balas dendam dibantu pria yang baru saja dikenal? Bagaimana jika orang ini penculik, pemerkosa atau penjual organ? Mark yang dikenal lebih satu dekade saja berani menipunya, apalagi pria asing ini.

“Bagaimana?” Pria itu masih menunggu jawaban Leona.

Bersambung....

Bab 2

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa tiba-tiba muncul di hadapanku? Kenapa kau menawarkan bantuan?” cecar Leona memberanikan diri.

Pria bermata biru itu tertawa, membuat bibir tipis dengan lengkung sempurna itu nyaris tak terlihat. Dia menarik napas melalui sela gigi yang beradu, masih memandang Leona.

“Wow! Jangan terburu-buru Nyonya.” Dia menegakkan tubuh yang tadi bersandar di besi jembatan. Tangan kokoh itu menarik baju kaus yang dikenakan, sehingga menjadi lebih rapi dibandingkan tadi.

“Aku dikirim malaikat untuk membantumu,” ujarnya tersenyum tipis.

“Bohong!” tuding Leona mundur satu langkah ke belakang.

Kini ia tampak ketakutan. Tubuh yang tadi gemetar akibat lapar, bertambah gemetar karena ketakutan. Siapa yang percaya dengan bualan orang ini. Dikirim malaikat? Apakah ada hal semacam itu di dunia?

“Saya tidak berbohong, Nyonya.” Pria tersebut melempar telunjuk ke sisi jalan menuju jembatan. “Waktu berdiri di sana, malaikat menemuiku dan mengatakan ada wanita yang membutuhkan bantuanku di tengah jembatan.”

“Ternyata benar. Aku melihatmu di sini tepat sebelum kau bunuh diri,” sambungnya lagi dengan sebelah alis naik ke atas.

Leona mengeratkan genggaman pada handler koper dengan raut ketakutan. Meski memiliki tubuh gemuk, ia tetap seorang wanita yang harus waspada dengan pria asing.

“Come on, Nyonya. Aku hanya berniat membantumu.” Lelaki itu mendongakkan kepala melihat langit yang telah menghitam. “Malam sudah tiba, artinya kau butuh tempat untuk menginap.”

Dia menunjuk lagi dengan ujung dagu. “Aku yakin kau juga kelaparan.”

Wanita berwajah chubby itu melihat ke sekitar. Jaga-jaga jika pria yang ada di hadapannya bersama dengan orang lain.

Pria bertubuh tegap tersebut mendesah, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan kartu identitas kepada Leona.

“Ini kartu identitasku,” katanya melirik kartu berukuran kecil yang ada di antara ibu jari dan telunjuk.

Pandangan Leona berpindah kepada kartu yang dipegang pria itu, sebelum kembali melihat wajahnya. Dia ingin memastikan foto yang ada di sana adalah orang yang sama.

“West Taylor,” gumam Leona setelah membaca nama yang tertera pada kartu identitas.

Laki-laki bernama West Taylor itu mengangguk singkat. “Kau bisa memanggilku West. Kartu identitas ini asli.”

Tilikan netra abu-abu Leona kembali berpindah kepada kartu yang masih menggantung di sela jemari West. Dia ingin membaca informasi lain mengenai pria tersebut, namun West sudah memasukkannya lagi ke dalam dompet.

“Bagaimana? Ikut denganku atau terlunta-lunta di jalanan? Aku yakin kau tidak memiliki uang untuk bertahan dua hari,” tebak West setelah memberi pilihan.

Leona menelan ludah karena tebakannya benar. Ada begitu banyak pertanyaan yang hinggap di benak saat ini, namun harus dipendam. Sekarang bukan waktu untuk mengajukannya. Yang ia butuhkan hanyalah tempat tinggal untuk sementara waktu.

“Aku sungguh tidak memiliki niat jahat sedikitpun kepadamu, Nyonya,” tegas West ketika masih menemukan keraguan dari cara Leona menatap. “Seperti yang kubilang tadi, aku diutus malaikat untuk menolongmu.”

Wanita bertubuh gemuk tersebut memperhatikan wajah West lamat-lamat, sebelum memberi keputusan. Meski baru berjumpa, ia tidak melihat gelagat buruk dari lelaki itu.

West memiringkan kepala dengan sebelah alis naik ke atas, menunggu jawaban dari Leona.

“Apa jaminannya kalau kau bukan orang jahat?” Leona masih belum percaya sepenuhnya.

“Kau bisa mengetahuinya setelah tiba di rumahku nanti,” sahut West.

“Apa kau tinggal sendirian?”

Pria yang memiliki model rambut crew cut itu menggelengkan kepala. Dia mengusap lembut dagu yang dihiasi rambut halus tipis.

“Aku tinggal dengan dua rekan kerja. Suami istri. Kau akan bertemu dengan mereka nanti,” jelasnya.

“Apa pekerjaanmu?” Leona kembali mengajukan pertanyaan.

West mendongakkan kepala sebentar melihat langit yang gelap keseluruhan, sebelum beralih kepada Leona. Dia mengamati paras yang dihiasi bintik halus itu.

“Kau akan mengetahuinya setelah tiba di rumah.” Lelaki bertubuh tinggi tersebut mengangkat tangan kiri sedikit. “Sudah waktunya makan malam. Mereka pasti sudah menunggu kedatanganku.”

Leona masih tampak ragu. Kaki terasa berat untuk diayunkan menuju tempat West berdiri. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada pria misterius tersebut. Kepercayaannya terhadap orang lain sudah hilang, semenjak Mark berkhianat.

Pria yang dikenal dan dinikahi selama sepuluh tahun saja membohonginya mentah-mentah, bagaimana ia bisa percaya dengan orang yang baru saja dikenal?

***

“Ini kamar yang akan kau tempati, Leona. Sekarang bersihkan diri terlebih dahulu. Tiga puluh menit lagi aku akan datang kembali menjemputmu untuk makan malam,” tutur West mengerling ke arah kamar berukuran sedang, “aku akan memperkenalkanmu kepada rekan kerjaku nanti.”

Netra abu-abu Leona mengitari ruangan yang terbilang nyaman untuk beristirahat. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia setuju untuk ikut dengan West. Dia sudah tidak punya tempat tujuan lagi, uang pun tidak ada. Kini wanita itu menggantungkan nasibnya kepada pria misterius yang baru saja ditemui.

“Thank you,” ucap Leona nyaris tak terdengar.

“Jangan berterima kasih kepadaku, tapi berterima kasihlah kepada malaikat yang telah memberitahukanku kalau kau butuh bantuan,” balas West dengan seulas senyum di parasnya.

Meski tahu West mengarang cerita mengenai malaikat, Leona tidak mempermasalahkan. Yang ia ingin ketahui sekarang adalah sejauh mana pria itu akan membantunya untuk membalas semua perbuatan Mark.

Leona tersenyum tipis sebagai tanggapan dari perkataan pria itu. West kemudian berlalu dari hadapannya menuju tangga ke lantai paling bawah dari rumah ini, yaitu area basemen.

“Kau bisa leluasa di rumah ini, Leona. Tapi ingat, jangan pernah sekali-sekali turun ke basemen tanpa seizinku!”

Perkataan West ketika Leona baru menginjakkan kaki di rumah ini kembali terngiang. Seketika ia kembali merasa was-was saat pikiran buruk melintas.

“Ada apa dengan basemen?” gumam Leona penasaran ketika mengamati pria yang sudah menghilang di ujung tangga.

Kedua bahu itu terangkat ke atas seiringan dengan gelengan kepala. Leona memilih untuk tidak memikirkan area basemen. Sekarang ia hanya ingin beristirahat sebentar, sebelum membersihkan diri.

Leona duduk sebentar di pinggir tempat tidur untuk mengendurkan otot kaki yang menegang akibat berjalan hampir seharian. Fisiknya lelah selelah batinnya. Air mata kembali menetes di pipi saat ingat bagaimana pengkhianatan Mark. Dia merasa seperti wanita bodoh yang rela meninggalkan keluarga, demi bajingan itu.

“Aku bersumpah, kau akan menyesalinya, Mark,” geram Leona menyeka bulir bening dengan keras.

Sorot mata abu-abu yang biasa tampak teduh, kini berubah menjadi tajam. Wajah yang kerap dihiasi senyum, sekarang hanya memberi ekspresi datar, terkadang marah. Leona terlihat begitu berbeda.

“Tuhan, kuatkan aku agar bisa membalas semua perbuatannya kepadaku,” lirih Leona sambil memejamkan mata.

Meski belum tahu apa yang akan dilakukannya nanti, namun ia bertekad tidak akan pernah membiarkan Mark hidup dengan tenang. Apalagi sampai menikmati jerih payah Leona selama ini.

Setelah beristirahat sebentar, wanita bertubuh gempal itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia butuh air dingin untuk memadamkan bara api yang membakar di dalam tubuh. Lelah yang terasa seakan hilang bersama dengan aliran air yang mengguyur setiap jengkal sisi raganya.

“Makan malam sudah tersedia, Leona.” Terdengar suara bariton memanggil diiringi ketukan pintu.

“Ya, sebentar,” sahutnya dengan tangan masih berusaha menggapai resleting gaun.

Leona menarik napas singkat, ketika masih belum berhasil menutup bagian belakang pakaian yang dikenakan. Dia memejamkan mata menyadari betapa gendut dirinya sekarang. Berdiam diri di rumah selama lima tahun, ternyata mampu membuat berat badan naik drastis. Ditambah lagi dengan nafsu makan yang meningkat.

Jemari yang diselimuti lemak itu kembali bergerak meraih resleting . Embusan napas lega meluncur begitu resleting tersebut berhasil tertutup dengan sempurna. Sekarang tinggal merapikan rambut hitam yang panjang dan tebal miliknya.

“Maaf lama. Ada masalah dengan ini,” kata Leona menunjuk resleting belakang gaun, setelah membuka pintu kamar.

“Tidak masalah.” West mengerling ke arah tangga. Sudah waktunya mereka makan malam.

Keduanya melangkah menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.

“Aku perlu berbicara denganmu setelah makan malam.” West menoleh sebentar saat berada di pertengahan tangga.

Leona mengangguk canggung. Dia masih belum terbiasa berinteraksi dengan lelaki ini. Sumpah demi apapun, ia juga penasaran siapa West dan apa pekerjaannya?

Langkah mereka berhenti ketika tiba di ruang makan yang tidak terlalu besar. West tinggal di perumahan untuk kalangan menengah ke atas. Ruang tamu di rumah ini luas, namun tidak dengan kamar dan ruang makan. Hal itu dikarenakan penghuni yang bisa dihitung dengan tiga jari.

Leona memandang pria dan wanita yang tampak berusia lima tahun di bawahnya. Sepasang suami istri yang telah lama ikut dengan West.

“Ah, perkenalkan ini Leona. Nanti aku ceritakan bagaimana kami berjumpa kepada kalian,” ujar West memperkenalkan wanita yang baru saja ditemui di jembatan.

“Leona, ini Shaun dan istrinya, Cassie. Mereka orang-orang kepercayaanku. Kau bisa menyebutnya sebagai partner kerja.” West beralih kepada Leona.

Tangan berukuran lebar itu terangkat ke atas bersiap menyambut uluran dari Shaun dan Cassie. Keduanya saling berbagi pandangan bingung, sebelum bersalaman dengan Leona.

“Sekarang kita makan malam dulu. Kau pasti lapar,” sambung West setelahnya.

Kepala Leona tertunduk dalam menahan malu. Dia merasa seperti seorang gelandangan yang baru saja dipungut di pinggir jalan oleh pria asing. Sekarang orang tersebut memberinya makan.

Hah! Wanita bermata abu-abu itu tak lagi peduli bagaimana tanggapan orang lain. Sekali lagi, yang ingin dilakukannya hanyalah membalaskan dendam kepada Mark dan West berjanji akan membantu.

“Sebentar!” cegah West ketika Leona mengambil nasi ditambah dengan kentang. Jari telunjuknya bergoyang ke kiri dan kanan seiringan dengan kepala.

“Mulai hari ini, menu makan malammu bukan lagi nasi ataupun kentang, tapi ini,” cicit West menyodorkan aneka salad dan buah.

Mata lebar Leona semakin membesar sebagai bentuk protes. Bibirnya terbuka sedikit.

“Jika kau bersungguh-sungguh ingin membalas perbuatan suamimu, maka mulailah dari ini.” West melempar telunjuk ke wajah Leona, kemudian perlahan ke bawah. “Kau harus menurunkan berat badan terlebih dahulu.”

Wanita bertubuh gempal itu malah melongo mendengar perkataan West. Saliva memenuhi rongga mulut seketika. Hal ini di luar dugaan Leona. Mengurangi takaran makan, mampu membuatnya tersiksa. Ternyata ia baru saja menggali kuburan untuk diri sendiri.

Aku bisa mati sebelum membalas perbuatan Mark, jika melakukan ini, batinnya menderita.

Bersambung....

Bab 3

“Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi kepadamu.”

West mematut Leona lamat-lamat dari kepala perlahan ke bawah. Dia bisa mengetahui dulunya, wanita itu memiliki wajah yang cantik. Bagi lelaki yang telah bertemu banyak orang seperti dirinya, akan sangat mudah mengenali watak siapa saja yang ditemui.

“Katakan dulu apa pekerjaanmu. Sebelum ke sini kau berkata akan mengatakannya ketika di rumah.” Leona malah tidak menjawab pertanyaan West.

“Aku?”

“Iya. Siapa lagi? Apa aku bertemu dengan Shaun dan istrinya sebelum kita ke sini?”

West tertawa mendengarnya. “Wah, ternyata kau memiliki sisi ketus juga, Leona.”

Leona menegakkan tubuh dengan dagu terangkat ke atas. Kali ini dia ingin menunjukkan kalau dirinya tidak berasal dari kalangan biasa. Kedua tangannya bergoyang sebelum tangan menyilang di atas lutut yang berimpitan.

“Tentu, Mr. Taylor. Kau bahkan belum mengetahui siapa diriku sebenarnya.”

West manggut-manggut seolah paham maksud perkataan wanita yang duduk tepat di hadapannya.

“Leona Elizabeth Parker, keturunan bangsawan di daerah Outville. Putri ketiga keluarga Parker yang diusir, karena menikah dengan pria dari kalangan bukan bangsawan. Suamimu bernama Mark Sinclair, bukan?” papar West lancar mengatakan asal usul wanita yang baru saja ditemui.

Mata abu-abu Leona langsung membesar. Rasa takut kembali hinggap dalam diri, khawatir jika pria ini memiliki niat yang tidak baik.

“Ba-bagaimana kau tahu tentangku?” Tangannya bersiap meraba ke samping kiri mencari benda yang bisa digunakan untuk melindungi diri, jika West berniat buruk kepadanya.

Pria berambut cokelat itu menyandarkan tubuh di punggung sofa dengan mengulas senyuman. “Mengetahui identitas seseorang, bukanlah hal yang sulit bagiku.”

“Tenang, Leona. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak pernah memiliki niat buruk kepadamu.” Tangannya naik ke atas, mengacungkan jari tengah dan telunjuk bersamaan ke atas. “Demi Tuhan, aku bersumpah hanya ingin membantumu.”

West berusaha meyakinkan Leona yang sudah ketakutan terlebih dahulu.

“Benar?” Leona masih tidak yakin.

“Sungguh-sungguh. Kau bisa percaya denganku.”

Gestur tubuh Leona kembali tenang. Tidak ada lagi gurat khawatir yang terpancar dua menit yang lalu.

“Apa pekerjaanmu? Kau harus jujur mengatakannya kepadaku.”

“Aku seorang penipu.”

“What?”

“Ya. Kau memintaku jujur dan aku katakan yang sebenarnya,” ujar West tanpa beban, “aku memiliki data base lengkap, sehingga bisa mencari tahu latar belakangmu dengan mudah.”

West menyeringai dengan pandangan belum lepas dari Leona. “Aku juga bisa membuatkan identitas baru untukmu. Karena itulah kau harus menurunkan berat badan, sebelum membalas suamimu.”

Wanita itu mulai paham ke mana arah pembicaraan West. Satu jam yang lalu pria itu bersikeras meminta dirinya untuk mengubah pola makan, hingga mengurangi konsumsi karbohidrat agar tidak menjadi lemak.

“Kau ingin aku—”

“Kurang lebih seperti itu. Detailnya akan kuberitahu nanti setelah kau ceritakan apa yang terjadi. Maksudku, pria seperti apa suamimu dan apa pekerjaannya.”

Mata abu-abu itu mengecil dan menatap penuh selidik. “Tadi kau bilang bisa mengetahui latar belakang seseorang, kenapa sekarang malah tanyakan apa pekerjaan suamiku?”

“Come on, Leona. Aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk mencari data tentangmu. Bagaimana aku bisa mencari tahu tentang suamimu dengan detail dalam waktu sesingkat itu?” balas West mengusap kening. Lelah juga berkomunikasi dengan perempuan seperti Leona.

Suasana hening ketika wanita berambut hitam itu berpikir sejenak. Bahunya naik, lalu turun perlahan ke bawah.

“Baiklah. Mark dulunya hanya seorang pegawai biasa di perusahaan pialang.” Senyum tipis tergambar di parasnya mengenang awal bertemu dengan pria itu. “Dia pria yang manis dan penyayang. Karena itulah, aku rela meninggalkan keluargaku demi dirinya.”

“Awal pernikahan, aku bekerja dengan sekuat tenaga. Mengumpulkan uang membeli rumah. Tujuannya agar bisa menunjukkan kepada keluarga, kalau Mark bisa memberi kecukupan materi untukku.” Sorot mata yang tadinya dihiasi cinta, kini berubah tajam seperti binatang buas yang ingin memangsa incaran.

West mendengar cerita Leona baik-baik, tanpa menyela.

“Tahun kelima pernikahan, aku membantunya mendirikan perusahaan investasi dana. Ya, walau sudah tidak bekerja lagi, tapi aku membantu Mark bekerja di belakang layar. Kau paham maksudku, ‘kan?” Pandangan netra yang basah kemerahan itu beralih kepada West.

“Maksudnya kau adalah otak dari perusahaan yang dikelola suamimu sekarang?” West tampak terkejut mendengar penjelasan Leona.

Leona menganggukkan kepala. “Aku ingin orang-orang menghargainya, terutama keluargaku. Karena itulah seluruh aset perusahaan dan rumah, dituliskan atas namanya.”

“Dan sekarang dia mengkhianatimu, hingga kau hidup terlunta-lunta?” Mata biru kecil milik West melebar. Dia berdecak tiga kali sambil bertepuk tangan. “Luar biasa bajingan itu. Bagaimana bisa laki-laki itu bersenang-senang dengan harta yang bukan miliknya?”

Pria itu mengusap rahang tegas yang dihiasi rambut tipis itu keras. Dia tidak menyangka ada pria yang begitu kejam kepada istrinya sendiri. Bahkan keberhasilannya saat ini, tidak lepas dari jerih payah Leona.

“Jadi apa rencanamu sekarang?” ujar West kemudian.

Kening Leona berkerut dalam, bibir bagian atas kanan terangkat sedikit. “Apa maksudmu menanyakan rencanaku? Bukankah kau yang mengatakan ingin membantuku tiga jam yang lalu? Lelucon apa ini?”

West menggeleng cepat. “Bukan itu maksudku. Apa kau berencana untuk mengambil perusahaan itu lagi?”

“Jika itu bisa membalas perbuatan Mark, kenapa tidak kulakukan?” lirih Leona tertunduk.

Pria berambut cokelatan itu mengangguk paham. “Baiklah. Sekarang keinginanmu ada dua, pertama membalaskan pengkhianatan suamimu dan kedua merebut lagi harta yang seharusnya milikmu?” katanya memastikan.

“Benar. Aku ingin membuat Mark sengsara dan menyesali perbuatannya,” sahut Leona tanpa ragu.

“Apa kau masih mencintainya?” selidik West.

Wanita berparas chubby itu terdiam. Dia benci dengan Mark, tapi jauh di lubuk hati terdalam ia masih mencintainya.

“Diam berarti benar.” Pria itu mendesah pelan sebelum kembali berucap. “Sebelum kujelaskan apa rencananya, lebih baik kau hilangkan dulu perasaanmu. Itu tidak akan memberi hasil yang baik untuk usaha kita.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi lagi, Leona. Mana bisa membalaskan dendam ketika masih cinta? Itu konyol sekali,” sela West sedikit meninggikan suara.

Lelaki bertubuh tegap itu berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang tamu.

“Aku harus bagaimana?” desis Leona membuat langkah West berhenti.

“Sebaiknya kau renungi dulu. Saranku, kau harus menghapus rasa cintamu bagaimanapun caranya.” West memutar balik tubuh menghadap Leona dan melihat wajah menyedihkan itu. Dia tidak habis pikir ada perempuan yang masih mencintai suaminya, setelah mengetahui perselingkuhan pria itu.

“Aku beri kau waktu tiga hari, sebelum memulai rencana kita.”

Pandangan Leona perlahan naik melihat West. Lagi-lagi bulir bening tergenang di sana, membuatnya tampak lemah. “Aku tanya, bagaimana cara agar bisa menghapus cintaku, West?”

“Aku mengenal dan mencintainya selama sepuluh tahun. Bagaimana bisa menghapus cinta itu dalam waktu singkat?”

Leona mulai kesal dengan diri sendiri. Tubuhnya bergetar merespons perasaan yang mulai berkecamuk. Dia benci dengan perbuatan Mark dan itu adalah fakta, tapi menghilangkan cinta yang selama ini dipupuk begitu saja, tentu akan sulit dilakukan.

“Ganti ponsel dan nomormu,” usul pria itu.

“Aku yang akan membelikannya untukmu besok,” jelas West ketika Leona ingin berbicara. Dia tahu persis saat ini, perempuan yang ada di hadapannya tidak memiliki uang.

Wanita itu mengangguk lesu dengan wajah menyedihkan.

West mendesah lagi tak tega melihat kondisi Leona sekarang. Dia maju satu langkah, kemudian berlutut di hadapannya.

Leona terkejut melihat pria itu berlutut di dekat kakinya. Dia menjadi gugup saat wajah West terlihat jelas dari jarak dekat. Selama ini tidak pernah ada laki-laki yang berlutut seperti ini, termasuk Mark.

“Ada cara jitu agar kau segera melupakan cintamu kepadanya, Leona.” West menatap lekat wajah yang dihiasi bintik halus tersebut.

“Apa?” tanya Leona nyaris berbisik.

Tangan West naik membelai pinggir pipi tembem milik wanita itu, kemudian mengusap tetesan air mata yang ada di sana.

“Berkencanlah denganku,” jawab West lugas.

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED