Apa yang sangat menyakitkan di dalam hidup ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah dikhianati. Itulah yang dirasakan Arief Gagah Suroso. Dia gemetar mendapatkan surat dari pengadilan agama tentang gugatan cerai dari istrinya. Seminggu lagi jadwal sidang tersebut. Apa dia harus datang? Sebenarnya, semuanya sudah diketahui bahwa niatan istrinya menggugat cerai dirinya hanyalah kedok untuk menyembunyikan perselingkuhan wanita itu dengan ustadz yang setiap minggu didatanginya di kajian rutin.
Jannah Hanifah, nama yang akan terus diingat dalam seluruh hidup Arief. Masih teringat bagaimana dulu dia meminang istrinya dengan baik-baik ke kedua orang tuanya. Dengan berbekal tekad untuk menjalin keluarga sakinah mawadah warahmah hingga akhir hayat. Rasanya sungguh ini adalah kekecewaan yang mendalam. Setelah lima tahun berumah tangga, nyatanya hanya cukup lima tahun kebersamaan itu. Selebihnya adalah derita dan kesengsaraan atas nama cinta.
Rasanya Arief sudah tidak sanggup untuk menahan diri lagi. Dia tidak mau mendatangi panggilan dari Pengadilan Agama itu. Kalau istrinya ingin cerai ya biarkan saja. Namun, bagaimana dengan anak mereka? Bagaimana dengan Khalil? Dia masih kecil. Tidak mungkin Arief akan membiarkan bocah itu tinggal dengan istri tukang selingkuh itu. Tidak mungkin akan membiarkan anak mereka dididik oleh seorang pengkhianat. Khalil tidak boleh dibiarkan tinggal bersama Jannah. Dia harus dididik dengan baik agar tidak seperti ibunya.
Malam itu hujan. Suhu ruangan menjadi lebih dingin, seiring dengan masuknya angin dingin dari pintu jendela. Arief beranjak menutup daun jendela hingga yakin sudah dikunci. Di atas ranjang, tampak anak semata wayangnya sedang tidur pulas memeluk guling. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sudah pasti istrinya tidak akan pulang malam ini. Perempuan itu pasti sedang tidur bersama ustadz brengsek itu.
Untuk meyakinkan diri, Arief membuka layar ponselnya. Dia pun membuka aplikasi "Track your phone" yang terinstall di ponsel. Aplikasi itu bisa memberitahu letak posisi terakhir seseorang. Dia tidak terkejut dengan hasil yang akan dia peroleh saat melacak posisi terakhir istrinya ada di mana. Tadi dia mendapatkan chat kalau malam ini akan tinggal di rumah orang tuanya. Benarkah demikian?
Setelah aplikasi dibuka. Dia pun mendapati dimana posisi terakhir Jannah berada. Ada di Hotel Grand National. Arief hanya tersenyum sinis. Dia tangkap screenshot layarnya, setelah itu dia coba untuk memanggil istrinya. Agak lama untuk diangkat. Setelah beberapa detik berlalu akhirnya istrinya pun mengangkatnya.
"Ya, Assalaamu'alaikum," sapa istrinya, "ada apa mas?"
Terdengar suara berisik di seberang sana. Arief sudah membayangkan yang tidak-tidak. Suara napas istrinya juga terengah-engah.
"Aku sudah terima suratnya," jawab Arief.
Tiba-tiba suara telepon istrinya hening. Seolah-olah waktu itu kejadiannya benar-benar tiba-tiba dan mendadak berhenti. Suara napas istrinya juga berhenti. Entah apa yang terjadi di sana.
"Trus?" tanya Jannah.
"Umi sudah bulat ingin cerai?"
"Iya."
"Apa alasan umi?"
"Bukankah sudah berkali-kali kita bahas ini...uhff...! Kita sudah beda prinsip, ....ehm... kita beda segalanya. Lagipula... sam..pai... sekarang mas juga belum bisa memberikan ....apa yang aku ....inginkan..." lagi-lagi terdengar suara gaduh dan napas istrinya tersengal-sengal seperti menahan sesuatu.
Arief makin marah, tapi dia mencoba untuk menahan diri. Dia bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja. Arief menghela napas perlahan-lahan untuk meredakan emosinya. Dia pun bertanya kepada istrinya, "Umi masih cinta mas tidak?"
Lama jawaban dari Jannah. "Ahhh..." terdengar desahan istrinya.
Arief masih menunggu. Dia sudah mengira apa yang terjadi di sana seperti apa, jadi tak perlu dia bertanya. "Umi masih cinta mas tidak?" diulangnya pertanyaan Arief.
"Maaf, mas," terdengar suara Jannah menarik napas dalam-dalam seperti baru saja lari marathon. "Sedang angkat-angkat tadi. Kalau ingin Umi kembali ke mas, syaratnya gampang. Penuhi keinginan Umi."
"Begitukah?" tanya Arief sambil mendesah.
"Iya, Mas tahu sendiri sekarang pendidikan mahal, Khalil butuh biaya sekolah, rumah, kehidupan setiap hari dan hutang mas itu sudah seabrek. Umi juga kan yang akhirnya cari duit sana sini? Umi juga yang kerja sudah tiga bulan Umi menutupi keuangan keluarga kita. Sedangkan, Mas? Mas tidak ada sumbangsih sama sekali! Mas mikir nggak? Umi juga perlu nafkah!"
"Tapi mas juga ngasih ke kamu bukan? Seluruh gaji mas sudah kukasih. Mas bahkan nyaris tiap hari ke kantor nggak bawa uang dan nahan lapar sampai pulang ke rumah. Itu pun di rumah kalau masih untung ada makanan, biasanya juga sudah habis! Umi kemana selama ini?"
"Mas yang kemana selama ini? Setiap hari kerja pagi sampai malam, trus capek tidur. Aku juga butuh perhatian mas!"
Arief terdiam sejenak. Dia mendesah lagi. "Memangnya selama ini perhatianku kurang? Setiap kamu sakit, akulah yang merawat. Akulah yang menahan lapar sebelum aku melihat kalian makan aku tidak akan makan. Akulah yang rela mengubur cita-citaku hanya untuk kalian. Kau kira aku kemana?"
"Mas juga perlu ingat, mas pernah dekat dengan perempuan lain. Si Azizah itu atau siapa namanya. Mas kira aku tidak tahu? Mas masih suka ama dia kan? ngaku saja! Mas begitu baik ama dia, tapi sama aku? Mas lebih mengkhawatirkan si Azizah itu daripaada aku. Aku juga perlu dikhawatirkan mas."
Ada alasan lain kenapa Arief lebih perhatian ke Azizah. Memang salahnya tidak cerita ke istrinya, tapi itu bukan alasan yang sebenarnya. Arief sudah tidak lagi melihat celah istrinya untuk bisa mencabut gugatan cerai itu.
"Kau tak memikirkan bagaimana Khalil nanti hidup tanpa kebersamaan orang tua?" tanya Arief.
"Mas, orang tua Khalil masih hidup. Kita cuma pisah saja. Kita bisa saling mengasuhnya. Kita cerai dengan baik-baik. Hak asuh biar Khalil yang memilihnya nanti kalau sudah cukup umur, sementara Khalil bersamaku," jawab Jannah, "jangan khawatir, aku bisa mendidik Khalil."
"Kau sudah bertekad bulat untuk hal ini?" tanya Arief sekali lagi, "ini pertanyaan terkahirku. Sebab, setelah ini kau tidak akan melihatku lagi sebagai Arief yang kau kenal."
"Maksud mas?"
"Aku akan sangat berbeda," jawab Arief, "makanya, aku bertanya kepadamu, kau sudah bertekad bulat menggugat ceraiku?"
"Iya, aku sudah bertekad bulat. Tidak ada yang aku ragukan," jawab Jannah.
"Berapa lama kau sudah memikirkan ini?" tanya Arief.
"Cukup lama," jawab Jannah, "daripada kita saling menyakiti, ini jalan yang terbaik."
Arief berkata, "Baiklah. Kau yang memilihnya. Salam kepada ustadz Tholib di situ, agar beliau bisa menjagamu dengan baik."
"Hah? Maksud mas? mas...." suara Jannah terputus. Arief telah menutup teleponnya. Arief tersenyum sinis. Dikiranya selama ini Jannah tidak tahu kalau berselingkuh.
Sementara itu di tempat lain Jannah gemetar menggenggam ponselnya. Tubuhnya ada di atas ranjang tanpa sehelai benang pun sementara itu di sebelahnya ada seseorang yang tadi disebut oleh suaminya, ustadz Thalib. Guru pengajian mereka selama ini, sekligus juga teman Jannah saat kuliah dulu. Mustahil perselingkuhan mereka diketahui Arief? Sejak kapan?
Jannah panik. Dia mencoba menghubungi Arief sekali lagi, tetapi tidak diangkat atau direject. Jannah khawatir. Dia buru-buru pergi ke kamar mandi yang ada di kamar hotel untuk membersihkan dirinya dari bau sperma yang melekat di tubuhnya. Melihat gelagat Jannah, Thalib pun menghampirinya di kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Thalib.
"Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower.
"Ya bagus dong."
"Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!"
"Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?"
Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower.
"Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah.
"Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher.
"Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih.
Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi.
Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.
Selingkuh adalah dosa besar dan pengkhianatan terbesar bagi Arief. Dan ini adalah cerita bagaimana Arief membalas mereka.
Bersambung
AC di pengadilan Agama terasa panas. Tidak ada pengaruhnya sama sekali meskipun suhu yang disetting sudah menyentuh angka 20 derajat celcius. Arief tidak menyangka begitu saja kalau ini adalah saat-saat dimana rumah tangga yang mereka sudah bangun akan berakhir.
Tidak masalah, pikirnya. Dia pasti bisa melewati ini. Semua demi Khalil, apalagi yang bisa dia perjuangkan selain anak semata wayangnya. Jantungnya berdebar-debar saat seorang hakim masuk di ruang mediasi, bersamaan dengan itu datanglah Jannah.
Arief menatap Jannah di kesempatan itu setelah kurang lebih selama seminggu mereka tak pernah bertatap muka. Ada perasaan mendongkol. Jannah pun demikian, perasaan yang sulit diungkapkan. Benarkah Arief sudah tidak mencintainya lagi? Benarkah Arief sudah tidak memperjuangkannya lagi?
Hakim yang menjadi mediasi bertanya banyak hal tentang alasan Jannah menggugat cerai. Jannah berceria panjang lebar tentang kelakuan Arief. Mulai dari nafkah, perhatian dan juga keharmonisan rumah tangga yang mulai jarang akhir-akhir ini. Arief sama sekali tidak menyanggah, karena memang itu yang terjadi.
"Apa itu tidak bisa dibicarakan baik-baik? Kalian masih ada anak, coba pikirkan masa depan anak kalian!" bujuk hakim agar Jannah bisa mencabut gugatan cerainya.
"Anak tetap urusan kami Pak Hakim. Kami akan merawat anak kami dengan baik, tetapi untuk bisa hidup bersama saya rasa sudah tidak bisa lagi," kata Jannah dengan tegas.
Arief tidak banyak bicara. Hatinya masih terguncang. Orang yang selama ini dia cintai kenapa harus seperti ini? Semua berakhir begitu saja. Berusaha untuk bisa tenang Arief mendesah, tangannya mulai berkeringat. Dia tidak siap untuk menghadapi semuanya.
"Pak Arief, bapak masih mencintai istri bapak?" tanya hakim, "kalau misalnya Ibu Jannah memberikan syarat agar rumah tangga kalian tetap utuh, kira-kira bapak Arief mau?"
"Pak Hakim, tidak perlu memperpanjang urusan. Dia sudah tidak mencintai saya lagi!" ucap Jannah.
"Sebentar, Ibu. Kita perlu mendengar penjelasan Pak Arief dulu," kata Hakim.
Arief mengeluarkan sapu tangannya, lalu membasuh keringat yang ada di dahinya. Dia memberi isyarat agar diberi waktu sejenak. Hakim yang penasaran pun memperbolehkannya. Butuh beberapa waktu sebelum Arief berbicara dengan lugas.
"Pak Hakim. Persoalan ini sebenarnya memang salah saya. Saya tidak bisa mendidik istri saya. Saya yang bersalah. Saya akui kalau nafkah yang saya berikan tidak cukup, karena memang saya belum mendapatkan pekerjaan yang tepat setelah mendapatkan PHK dari tempat kerja saya terakhir. Demikian juga mencari pekerjaan saat ini juga sulit, saya bekerja di berbagai tempat, hutang sana-hutang sini. Namun, menafkahi keluarga itu masih jadi tanggung jawab saya. Saya setiap bulan selalu memberikan nafkah, saya ada buktinya dan istri saya juga tahu. Kalau memang nafkah yang saya berikan tidak cukup maka iya, itu tidak cukup, tapi saya menolak untuk dituduh tidak pernah memberi nafkah. Itu dua hal yang berbeda," kata Arief.
Hakim mengangguk-angguk. "Iya, setuju. Itu benar. Nafkah tidak cukup bukan berarti tidak memberi nafkah."
Arief melanjutkan. "Pak Hakim, saya minta maaf sebelumnya. Karena sepertinya istri saya sudah benar-benar tidak ingin melanjutkan rumah tangga ini, saya akan hargai keputusannya. Asalkan dengan satu syarat."
Jannah dan Hakim memperhatikan Arief. Ini diluar rencana Jannah sebenarnya. Dia menginginkan sidang ini berlangsung lama, sebab dia tahu untuk bisa bersama dengan ustadz Thalib, dia setidaknya butuh waktu hingga mereka bisa tinggal bersama. Terlebih, kawan-kawan Arief juga adalah kawan-kawannya. Akan sangat heboh kalau sampai keretakan rumah tangga mereka tercium oleh pihak luar.
"Khalil harus ikut bersama saya," kata Arief.
"Tidak bisa. Kenapa harus begitu? Khalil ikut ibunya!" protes Jannah.
"Sebentar, sebentar! Menurut peraturan anak sebelum usia 12 tahun harus ikut ibunya sebagai pemegang hak asuh. Bila anak sudah lebih dari 12 tahun, maka itu akan dikembalikan lagi kepada keputusan anak," kata Hakim.
"Iya, aturannya seperti itu, lagipula Khalil masih kecil!" kata Jannah. Dia yakin akan menang dalam keputusan hak asuh. Khalil pasti akan ikut bersamanya.
"Maaf, Pak Hakim. Saya ingin memberikan sesuatu," kata Arief meminta izin. Hakim pun mempersilakan. Arief membongkar ranselnya untuk mengambil laptop. Perasaan Jannah mulai tidak enak. Apa yang akan dikeluarkan oleh Arief? Bukti perselingkuhannya? Tidak mungkin. Arief tidak pernah sejauh itu. Selama ini Jannah sangat rapi menyembunyikan hubungannya dengan ustadz Thalib. Atau itulah yang dia pikirkan selama ini.
Sembari Arief menghidupkan laptopnya, dia mengambil beberapa lembar dokumen yang dibawanya ke dalam sebuah map. Setelah itu dia berikan map tersebut kepada hakim. Map plastik tersebut kemudian dibuka oleh hakim dan saat melihatnya hakim terkejut.
Laptop tersebut membuka folder. Ada beberapa file di sana. Kemudian, salah satunya dimainkan oleh Arief. Saat player menyala, terlihatlah sebuah video yang cukup aneh bagi Jannah, sebab dia cukup mengenali tempat dimana video itu merekam. Itu adalah kamar tidurnya.
"Coba Pak Hakim menonton video ini untuk beberapa saat. Tidak lama, karena durasinya panjang saya potong. Kalau mau versi full saya bisa juga berikan," kata Arief.
Jannah mulai gelisah. Apakah Arief memasang kamera tersembunyi di kamarnya? Sejak kapan? Kenapa dia yang sering membersihkan kamar tidak pernah tahu kalau suaminya memasang kamera pengintai?
Tidak, itu salah. Dia beberapa waktu memang tidak membersihkan kamar. Itu terjadi saat dia dan ustadz Thalib janjian untuk ketemu di rumahnya. Oh tidak. Apakah itu video rekaman perselingkuhannya?
Tiba-tiba saja di layar video muncul dua insan yang berciuman panas. Hakim yang melihat pun melotot, terlebih saat tahu siapa yang ada di video tersebut. Tampak baju Jannah dilucuti, kecuali jilbabnya. Adegan berikutnya sang pria mengenyoti payudara sekalnya sambil meremas-remas dengan gemas. Video mesum itu pun dihentikan oleh Arief, karena tidak perlu sang Hakim menonton keseluruhan.
"Itu apa mas?" tanya Jannah, "mas mau fitnah aku?"
Arief mengangkat bahunya. "Dokumen yang saya berikan ke Pak Hakim adalah bukti chat istri saya dengan selingkuhannya. Artinya, sudah jelas. Istri saya berselingkuh."
"Jangan mengada-ada kamu mas, kamu mau menyerangku dengan fitnah ini?" Jannah berusaha membela diri, "kamu juga selingkuh. Kamu selingkuh dengan Azizah!"
"Kamu punya buktinya?"
Jannah terdiam. Dia tidak siap. Dia tidak pernah menyangka Arief bisa sejauh itu.
"Pak Hakim. Bukti-bukti perselingkuhan ini sudah jelas. Istri saya, Jannah telah berselingkuh dengan seorang pria. Kalau Pak Hakim ingin mengetes atau mendatangkan saksi ahli apakah video ini benar atau tidak silakan. Bapak sekalian datangkan juga si pria yang ada di video ini juga silakan. Tapi saya cukup sampai di sini, dia ingin cerai? Saya kabulkan!" ucap Arief tegas.
"Ibu Jannah, apa ibu punya hal-hal yang bisa membela ibu?" tanya hakim.
Jannah kebingungan. "Saya butuh waktu pak hakim."
Mediasi hari itu pun berakhir. Masih ada babak panjang kalau persidangan ini dilanjutkan. Jannah hari itu rasanya seperti dikuliti habis-habisan. Dia pun stress dan berusaha untuk menenangkan diri.
* * *
"Bagaimana sidangnya?" tanya ustadz Thalib saat mereka bertemu lagi di hotel.
"Kacau. Arief tahu semua," jawab Jannah.
"Maksudnya?"
"Dia tahu semua, chatting kita, bahkan dia punya rekaman video kita sedang bercinta!" kata Jannah.
"Apa aku bilang. Kalau dia memang mencintaimu, kenapa dia tidak memperjuangkanmu. Malah diam dan membiarkanmu direbut oleh orang lain? Jannah sudahlah, jangan kamu urusi dia lagi. Lupakan dia!" bujuk ustadz Thalib.
"Tapi aku masih belum bisa menerimanya. Dia jahat sekali, kalau memang dia sudah tahu kita selingkuh, kenapa dia diam saja? Kenapa?" kata Jannah sambil menangis.
Ustadz Thalib pun memeluknya berusaha untuk menenangkan Jannah. Jannah akhirnya menghapus air matanya. Satu hal yang pasti, dia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi wajah suaminya nanti. Sebelum pengadilan agama mengetok palu, mereka masih suami istri secara hukum. Dia kembali teringat anaknya, ingin sekali dia memeluk anaknya di saat-saat seperti ini. Namun, semuanya sudah terlambat. Dia sudah terlalu jauh bertindak. Pasti Arief juga tidak akan membiarkan mendekati Khalil.
"Kau tak perlu khawatir. Apapun kebutuhanmu aku akan memenuhinya," kembali ustadz Thalib mengeluarkan kata-kata rayuannya.
"Tapi Mas masih jadi status suami orang, apa kata orang nanti?" tanya Jannah.
"Nggak masalah, aku akan menikahi kamu juga. Di dalam agama kan tidak dilarang memiliki istri lebih dari satu?" kata ustadz Thalib.
Lelaki itu memegang wajah Jannah. Dia berusaha untuk meyakinkan Jannah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Memang dalam hal kekayaan ustadz Thalib cukup kaya. Bisnisnya besar dan punya banyak toko. Kharismanya tinggi, terlebih setelah dia menikahi seorang perempuan kaya, anak dari pemilik pesantren. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya perselingkuhan dia aman sampai sekarang dan tidak diketahui oleh keluarganya.
Wajah ustadz Thalib mendekat ke Jannah. Mereka berciuman. Lidah lelaki itu mulai beradu dengan lidah mantan adik kelasnya. Mata Jannah memejam. Sungguh sebenarnya kalau dia bisa memutar waktu, dia ingin menikah dengan ustadz Thalib daripada Arief, tapi takdir berkata lain. Sejak kuliah dia sudah jatuh cinta kepada lelaki ini, sayangnya Arieflah yang lebih berani dan mendahului.
Tangan sang lelaki mulai bergerak aktif. Tentu saja, target utama adalah kedua payudara yang masih terbungkus kain. Tapi itu tidak akan lama, terlebih Jannah mulai membantu untuk melepas baju gamisnya. Sang ustadz juga rasanya tak sabar ingin kembali lagi beradu fisik, kulit dengan kulit. Rasanya juga tak akan ada habisnya untuk merengguk birahi dengan Jannah, seorang perempuan seksi yang sudah jadi bahan imajinasinya semenjak masih kuliah dulu. Sekarang, cinta mereka dipersatukan lagi walaupun dengan cara yang kurang baik, tapi itu masa bodoh.
Satu per satu pakaian pun dilucuti. Ah, hanya tinggal kerudung berwarna krem saja di kepala Jannah. Dasar fetish lelaki laknat ini sudah ditebak, ingin menggalui Jannah dengan memakai kerudung. Perempuan itu pasrah saja saat disuruh untuk mengulum batang berurat miliknya. Mulut yang selama ini juga mungkin digunakan untuk mengulum batang suaminya, sekarang digunakan mengulum batang suami orang.
"Ouuhh... iya, sayang. Pandai nian kau ini," ucap Thalib sambi merem melek.
Bersambung
Kepala Jannah terangguk-angguk seirama dengan kocokan pada batang berurat tersebut. Lidah Jannah pun juga sangat aktif menggelitiki kepala jamurnya, membuat Thalib makin melayang dibuatnya. Tangan kanan Jannah memijat lembut dua testis yang menggantung, memberikan efek etkasi bagi Thalib. Jannah tak perlu diajari lagi untuk hal-hal seperti ini. Jam terbangnya sudah tinggi, dia tahu titik sensitif lelaki ada di sebelah mana. Inilah yang membuat Thalib tergila-gila kepadanya.
"Sudah sayang, gantian!" kata Thalib. Dia tahu kalau ini diteruskan, bisa-bisa dia sudah keluar lebih dulu. Jannah menghentikan aktifitas blowjobnya. Thalib pun mendorongnya, hingga perempuan itu terlentang di atas ranjang.
Tanpa aba-aba Thalib dengan rakus langsung melumat bibir surgawinya. Jannah mengerang, serangan Thalib mendadak dan bertubi-tubi seperti retetan tembakan gutling gun. Jannah gemetar hebat saat Thalib benar-benar merangsang seluruh syaraf yang ada di tubuhnya. Permainan lidah Thalib tak bisa diragukan lagi, luar biasa. Arief saja kalah. Meskipun Arief juga pernah memberikannya kenikmatan seperti itu, tetapi sungguh tidak ada apa-apanya. Dan benar saja, Jannah orgasme. Kedua pahanya menjepit kepala Thalib dengan tubuhnya melengkung. Kedua tangannya juga meremas sprei tempat tidur, di saat yang bersamaan cairan bening muncrat keluar dari liang senggamanya.
"Aoowwh....ahh... udah maass.... nikmaat.... aahhh!" ucap Jannah.
Napasnya terengah-engah sambil memejamkan mata. Dia meletakkan lengannya ke dahi. Baru orgasme pertama saja rasanya seperti ini. Bagaimana berikutnya?
Thalib belum menuju ke menu utama. Dia masih mengambil ancang-ancang dengan melebarkan kaki Jannah. Diperhatikannya dulu bagaimana bibir surgawi perempuan yang dia cintai ini. Dulu, hampir saja dia menjebol keperawanan Jannah.
Penisnya tegak mengacung. Penis yang sudah mengobok-obok vagina Jannah ini akan sekali lagi bekerja. Penis yang dirindukan oleh Jannah. Kepalanya mulai menggeseki pintu masuk lorong kenikmatan perempuan tersebut. Dia ingin mempermainkan libido Jannah. Dia tahu Jannah sudah lama tidak berhubungan badan seperti ini. Maka dari itu agar Jannah tidak lari darinya, maka kebutuhan Jannah akan seks harus dipuaskan.
"Mas, please masukin!" pinta Jannah.
Thalib pun memasukinya. Dia menikmati setiap senti batangnya ke dalam liang surgawi Jannah. Liang surgawi yang sudah berbulan-bulan tidak dinikmati oleh suami sahnya. Thalib tidak kuasa, setiap batangnya masuk rasanya benar-benar nikmat. Tubuhnya pun kini menindih Jannah. Bibirnya sibuk menjilati ketiak Jannah yang wangi, lehernya yang jenjang dan tak ketinggalan dua payudara yang sangat menggiurkan. Biarpun sudah beranak, tapi payudara Jannah tidak ada yang menandingi bahkan istrinya sendiri.
Pinggul Thalib bergoyang naik turun mengebor kemaluan Jannah. Sementara itu kedua kaki Jannah mengunci rapat pinggul lelaki ini. Hingga akhirnya keduanya pun meraih puncak bersamaan. Siang itu sekali lagi kamar hotel telah menjadi saksi perselingkuhan mereka.
Lelehan kental sperma Thalib meleleh di liang senggama Jannah. Kedua insan ini pun akhirnya terkapar setelah pertempuran siang itu.
* * *
Arief pulang ke rumahnya dengan lesu. Seluruh bukti perselingkuhan istrinya sudah diberikan kepada hakim dan akan jadi pertimbangan nantinya. Dia hanya ingin menyelamatkan Khalil dari perempuan bejat itu. Bagaimana mungkin Khalil harus dididik oleh seorang pengkhianat?
Sebenarnya Arief sudah tahu gelagat istrinya sejak lama. Kenapa dia mendiamkan? Arief punya prinsip, seseorang yang sudah berkomitmen untuk hidup bersama berarti dia sudah tahu segala risiko. Persoalannya adalah istrinya yang tergoda dan lebih memilih untuk berselingkuh. Beda urusan jika ada lelaki lain yang menggoda istrinya, maka sudah barang tentu Arief akan melindungi istrinya.
Dengan istrinya membuka diri untuk lelaki lain, maka itu sudah jadi jawaban kalau perempuan itu telah berkhianat. Lalu, buat apa mencintai seorang pengkhianat? Kenapa harus memperjuangkan perempuan seperti itu? Itulah prinsip yang dipegang Arief.
Masih ingat bagaimana dulu ketika Jannah menerima pinangannya. Arief bertanya kepadanya, "Apakah kau yakin dengan keputusanmu? Aku bukan siapa-siapa, aku juga bukan orang yang mungkin sesuai dengan kriteramu. Aku takut kau akan kecewa."
Lalu apa jawaban Jannah, "Aku yakin, sebab kamu adalah orang yang berani sampai sejauh ini melamarku. Aku bisa melihat dari kesungguhanmu."
Dengan berbekal itulah Arief akhirnya menikahinya. Lalu kenapa sekarang Jannah mengkhianati kata-katanya sendiri? Hanya gara-gara CLBK?
"Abi, abi sudah pulang!!!" seru Khalil saat melihat ayahnya pulang. Dia langsung meminta gendong. Arief pun menggendong anaknya.
Seorang pengasuh tampak tersenyum menyambut kehadiran Arief. Dia adalah tetangganya yang dia sewa untuk menjadi pengasuh Khalil. Namanya Bu Dian.
"Makasih lho, Bu sudah menjaga Khalil," ucap Arief.
"Wah, Pak kalau saya disuruh jaga anak seperti Khalil ada sepuluh pun mau. Anaknya nggak rewel," puji Bu Dian.
Arief tersenyum mendengarnya. Dia lalu menyerahkan amplop berisi uang kepada Bu Dian atas kerja kerasnya menjaga Khalil.
"Lho, apa ini pak?" tanya Bu Dian.
"Gaji ibu. Saya berikan di awal saja langsung," kata Arief.
"Apa saya kurang baik menjaganya?"
"Bukan, bukan. Saya sepertinya akan pindah, jadi mungkin ini minggu-minggu terakhir ibu menjaga Khalil. Saya berterima kasih sekali kepada ibu yang sudah menjaga Khalil."
"Lho, bapak mau pindah kemana?"
"Mungkin kembali ke tempat asal saya. Di sana Khalil akan tinggal bersama kakek dan pamannya."
"Oh, begitu." Bu Dian pun menerima amplop tersebut dan bilang terima kasih. Setelah itu perempuan separuh baya itu pun pamit untuk pulang ke rumah.
"Khalil mau ketemu ama kakek?" tanya Arief.
Khalil mengangguk. "Iya"
"Besok kita pergi ke rumah kakek."
Khalil mengangkat tangannya gembira. "Horeee!!"
Rumah bapaknya Arief, cukup sederhana. Rumah tersebut adalah tempat dimana arief tumbuh sampai dewasa. Tidak ada yang spesial dengan bangunannya, hanya rumah berukuran 6 x 10 meter dengan halaman yang luas. Di halaman itu juga tidak ada yang spesial, hanya tanaman-tanaman terawat serta pohon mangga yang tinggi. Ayahnya Arief memang terkenal suka berkebun, sehingga dengan banyak tanaman di halaman sudah mencerminkan bagaimana wataknya.
"Kakeeek!" seru Khalil ketika melihat kakeknya sedang memotongi dahan-dahan kering di salah satu tanamannya.
"Eh, Khalil. Ada apa ke sini? Tumben sekali," ucap sang kakek. Pandangan lelaki tua itu beralih ke seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya. Itu bukan tatapan suka, melainkan tatapan menghakimi. Khalil langsung menggelayut manja di gendongan kakeknya. "Mau lihat ikan? Kakek punya ikan buesar."
"Mau mau!" seru Khalil.
Arief hendak mencium tangan ayahnya, tetapi lelaki itu menghindar. "Kalau bukan karena Khalil, kau sudah aku usir"
Arief mendesah. Ada perasaan menyesal kenapa dia tidak pernah menuruti nasihat orang tuanya. Namun, bagaimana dia harus menurut sedangkan siapapun yang tinggal di desa ini tahu siapa itu Rah Panji Suroso. Marga Suroso yang ada pada namanya itu bukanlah marga sembarangan di kampung kecil ini.
Mereka berjalan menuju ke samping rumah. Di sana ada kolam ikan yang berisi puluhan ikan koi. Khalil turun dari gendongan kakeknya dan langsung duduk di pinggir kolam. Dia seru sendiri dengan dunianya menjulurkan jarinya ke pinggir kolam. Beberapa ikan sampai menghampirinya dan bocah itu histeris sendiri. Suroso memberikan sebungkus makanan ikan kepada anak tersebut, lalu bocah itu dengan gembira memberi makan ikan.
"Aku mohon maaf," kata Arief. Perlahan-lahan Arief pun berlutut kepada ayahnya.
"Bangun! Kau sudah tak pantas lagi berlutut di hadapanku," kata Suroso sambil mengambil tempat duduk di pinggir kolam dengan kedua kakinya dimasukkan ke dalam air. Ikan-ikan kecil pun mulai menghampirinya.
"Seharusnya aku dengar nasihat bapak," ucap Arief.
"Apa? Kau dikhianati?"
Bersambung