Bab 1

POV BAGAS

[Sayang, jangan lupa kita akan bertemu hari ini, soalnya aku rindu dan sudah pesan hotel yang paling bagus untuk kita berdua agar kita bisa menikmatinya dengan sangat romantis?] Pesan tersebut aku kirim kepada wanita yang selama ini selalu mengisi hari-hariku yang sepi. Dzakira. Entah kenapa ketika menyebut namanya hatiku berbunga, apalagi ketika memandang lekuk tubuhnya yang indah membuatku selalu ingin menyentuh tubuhnya. Berbeda dengan Amira--istriku, entah kenapa aku merasa jijik jika bertatap muka dengannya, apalagi menyentuhnya. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir menyentuh Amira.

Setiap merasa kesepian, aku selalu meminta Dzakira, tentunya aku harus merogoh kocek yang lumayan agar mendapatkan kepuasan darinya. Tentunya Amira tidak mengetahui bahwa aku sudah menduakannya. Lagipula, ini salahnya yang tak mampu melayaniku.

Bayangan terlukis di pikiran, hingga tak terduga, pesan yang barusaja kukurim ke nomernya berhasil terbaca olehnya. 

[Siap, Sayang. Sekarang juga aku akan bersiap-siap untuk menemuimu, karena aku juga sangat merindukanmu.] Balasnya, bibirku langsung tersenyum ketika membaca pesan darinya. 

[Aku akan menjemputmu di tempat biasa agar Amira tidak mengetahui bahwa aku akan pergi bersamamu. Lagipula bosan di rumah, setiap hari hanya melihat istriku yang lumpuh yang sama sekali tidak bisa melayaniku.] Pesan kembali kukirim. Kondisi Amira memang saat ini tengah lumpuh karena kecelakaan yang sebelumnya pernah ia alami. Oleh sebab itu, Amira tidak mampu melayaniku.

[Sudah tahu istrimu lumpuh, tapi masih saja bertahan, lebih baik segera kamu ceraikan dia. Aku ingin menjadi istrimu satu-satunya.] Balas Dzakira. Aku menghela nafas membaca balasan pesan darinya. Sejak awal menikah, aku memang ingin secepatnya bercerai dari Amira, namun ia adalah sumber ATM berjalanku. Bagaimana mungkin aku menceraikannya?

[Aku akan menceraikan istriku, tapi nanti tunggu waktu yang tepat supaya hartanya jatuh ke tanganku dan setelah itu kita menikah dan hidup bahagia.] Janjiku pada Dzakira. 

Setelah mengirim pesan kepada Dzakira, aku langsung pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai kendaraan roda empat. Untung saja sesaat aku pergi, Amira tengah tertidur pulas jadi aku bisa pergi tanpa sepengetahuannya. 

Dari kejauhan, terlihat seorang wanita cantik berdiri sembari memainkan ponsel yang dia pegang. Dengan perlahan, aku memarkirkan mobil dihadapannya, lalu keluar dan menyapa wanita yang tak lain adalah Dzakira. Kami berpelukan erat dan saling melempar senyum. Setelah itu, kami berdua langsung masuk ke dalam mobil dan menuju hotel. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar melihat kami dan menganggap bahwa kami adalah sepasang kekasih, kami pun sama sekali tidak memperdulikan mereka.

Saat ini, aku merasa beruntung memiliki kekasih seperti Dzakira. Dia sangat cantik, memiliki rambut panjang berwarna cokelat. Tubuhnya yang langsing, serta kulitnya yang putih membuat siapapun pastinya akan terpana dengan kecantikan Dzakira dan tentunya aku merasa bahagia, apalagi Dzakira selalu memberikan kepuasan batin yang sama sekali tak bisa aku dapatkan dari Amira-istriku.

Amira seakan-akan tidak menyadari bahwa aku menginginkan kepuasan, ia seperti wanita bodoh. Padahal sesungguhnya, aku adalah laki-laki yang butuh belaian seorang perempuan, oleh sebab itu aku memutuskan menjalin hubungan gelap dengan Dzakira selama ini tanpa Amira sadari. 

Sebenarnya sejak dari dulu aku sangat ingin sekali menceraikan Amira, akan tetapi dia mempunyai harta yang tak ternilai jumlahnya. Bagaimana tidak, Amira anak dari seorang pengusaha sukses yang usahanya telah terkenal ke manca negera. Itu sebabnya aku bertahan.

Selang beberapa saat, akhirnya kami sudah sampai di depan hotel, seperti biasa kami menuju resepsionis untuk melunasi sisa pembayaran yang tadi malam belum dilunasi dan akan menyewa selama satu minggu.

''Permisi Mbak, saya mau melunasi pembayaran tadi malam untuk kamar VIP nomer 191,'' ucapku pada resepsionis wanita. 

''Sebelumnya kami memohon maaf Pak, kami memutuskan untuk tidak menerima tamu, sebab semua kamar sudah terisi penuh dan saya akan mengembalikan uang yang sebelumnya sudah dibayar,'' ujar resepsionis, aku yang mendengar sangat terkejut.

''Bukankah kemarin bilang banyak kamar yang kosong, tapi kenapa pagi ini sudah terisi penuh?'' ucapku heran.

''Mohon maaf Pak, ini adalah kelalain saya yang tidak mengecek terlebih dahulu data tamu.'' 

Aku menghela nafas mendengar penjelasan resepsionis. Entah kenapa, aku merasa heran dengan pelayanan di hotel ini. Kemudian aku menatap wajah Dzakira yang terlihat kesal.

''Lebih baik kita cari hotel yang lain saja ya, Sayang?'' ucapku mengajak untuk mencari hotel yang lain.

''Tidak mau! Pokoknya aku mau hotel ini, aku tidak mau hotel di tempat lain,'' rengek Dzakira. Perasaanku amat kecewa mendengar ucapannya yang tak mau mengalah.

''Kalau begitu, saya akan membayar mahal satu kamar hanya untuk satu hari, apakah bisa?'' ucapku meminta sembari mengulurkan kartu debit ATM berwarna hitam. Terlihat, resepsionis yang ada di hadapanku nampak berfikir.

''Baiklah, kalau untuk satu hari, tidak masalah kami akan membantu. Silahkan melakukan pembayaran sebesar empat puluh juta rupiah, ini tolong di isi PIN-nya,'' ujarnya sambil menyerahkan mesin ATM kecil. Aku pun langsung menekan pin ATM enam digit untuk menyelesaikan pembayaran. Ketika mendengar nominal harga kamar, aku sangat terkejut, namun, demi bisa merasakan kembali tubuh Dzakira aku pasti akan merelakan uang sebanyak itu, toh ini uang Amira, bukan uangku.

''Mohon maaf Pak, PIN salah,'' jelasnya, keningku mengerut mendengar penjelasannya. Tanpa fikir panjang, aku segera menekan kembali enam digit. Akan tetapi masih saja salah, aku heran sebab kejadian salah pin bukan yang pertama kalinya.  

''Sayang, atmku sedang dalam masalah, untuk kali ini, kamu yang bayar ya, nanti aku akan ganti secepatnya,'' pintaku pada Dzakira memohon. Seketika raut wajahnya memerah menahan penuh amarah.

''Apa?''

_______

Bab 2

MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMIKU (2)

Sayang, ATM-ku sedang dalam masalah, untuk kali ini, kamu yang bayar ya, nanti aku akan ganti secepatnya,'' pintaku pada Dzakira memohon. Seketika raut wajahnya memerah menahan penuh amarah.

''Apa kamu sudah gila, tidak akan mungkin aku mau membayar empat puluh juta, aku sama sekali tidak ada uang sebesar itu dan lagipula aku tidak membawa uang sepeserpun,'' ujar Dzakira meluapkan kekecewaan. 

''Aku baru memberimu yang seratus juta kemarin, kenapa bisa habis secepat itu?'' tanyaku heran. Bisa-bisanya dia boros hanya dengan satu hari.

''Uang yang kamu beri kemarin sudah habis dipakai shopping, lagipula uang segitu tidak ada apa-apanya, zaman sekarang serba mahal.'' Dzakira melipatkan kedua tangan di dada, kedua matanya memandang sinis.  

''Kamu keterlaluan, Dzakira. Lalu bagaimana sekarang bukankah kamu tetap menginginkan hotel ini. Aku sama sekali tidak bawa uang cash, sementara kartu ATM-ku tidak bisa dipakai.'' Aku merasa frustasi dan heran, bisa-bisanya kartu ATM-ku tidak bisa digunakan, padahal aku sudah betul-betul memasukkan pin ATM, lalu kenapa bisa salah? Apa jangan-jangan--

''Apa jangan-jangan PIN ATM-mu ada yang mengganti, pasti istrimu,'' ujarnya menduga-duga. 

''Tidak mungkin Amira, dia wanita lumpuh dan tidak akan mungkin bisa mengganti PIN ATM-ku.'' Aku sama sekali tidak percayai ucapan Dzakira, mana mungkin seorang wanita lumpuh seperti Amira mampu mengganti PIN ATM, berjalan saja dia tidak bisa harus menggunakan kursi roda. Apalagi pergi ke bank untuk merubah password.

''Kalian malah ribut di sini, mau jadi atau tidak, kalau tidak lebih baik kalian berdua pergi dari hotel ini secepatnya,'' usir resepsionis. ''Sekurity, tolong bawa mereka berdua keluar dari hotel ini.''

''Siap, laksanakan!'' Sekurity menoleh, lalu melangkah mendekat hendak mengusir kami.

''Tunggu! Saya akan membayarnya memakai kartu kredit.'' Dzakira mengeluarkan kartu kreditnya. Ternyata ia masih memiliki kartu kredit. Aku bernafas lega ketika Dzakira menyerahkan kartu hitam kepada resepsionis. Tanpa pikir panjang, resepsionis pun langsung meraih dan transaksi pun akhirnya berhasil. Kami berdua langsung dipersilahkan ke kamar dengan menggunakan kartu yang sudah diberikan oleh resepsionis.

Sesampainya di kamar, udara terasa sangat sejuk. Bunga mawar merah terkumpul di atas kasur putih yang begitu empuk dan membentuk love. Dengan perlahan, aku merebahkan tubuh di kasur, sementara Dzakira hanya diam menatapku seakan-akan menahan kekesalahan yang teramat dalam di dada. Tanpa fikir panjang, aku langsung bangkit dan berdiri berhadapan dengannya. 

''Sayang, kamu marah? Kamu tenang saja, aku akan menggantinya besok sekaligus memberimu uang bulanan, kamu boleh membeli barang-barang branded kesukaanmu. Sekarang, jangan pikirkan apapun, kita sudah berada di dalam kamar dan lebih baik kita melakukannya sekarang,'' ujarku padanya, kemudian wajahku mendekat hendak menyentuh bibir merahnya.

''Oke, aku percaya kamu akan mengganti uang serta memberi apapun yang aku inginkan. Yang jelas, asal jangan pernah lupakan konsekuensi yang pernah kita berdua sepakati jika masih ingin terus menjalin hubungan gelap denganku,'' ucap Dzakira menekankan nada bicaranya. Aku hanya mengangguk tak mampu memperdebatkan masalah kesepakatan yang sebelumnya pernah aku janjikan padanya.

Sejak delapan bulan lalu, kami membuat perjanjian bahwa aku akan selalu menuruti perkataannya. Apapun itu, jika tidak, dia akan memutuskan pergi begitu saja dari kehidupanku. Tentunya juga Dzakira pasti akan melaporkan tentang perselingkuhan yang aku lakukan bersamanya kepada Amira dan itu yang membuat aku tak ingin melepaskan Dzakira karena aku sendiri sudah jatuh cinta kepadanya, lebih baik menjalin hubungan gelap dan menuruti keinginannya. Amira pun tidak akan tahu tentang apa yang kulakukan dibelakangnya. 

Dzakira melempar senyum, ia bersiap melakukannya sekarang. Aku pun sudah tak sabar ingin menikmati sentuhan demi sentuhannya yang membuatku sampai ketagihan. Perlahan, Dzakira mulai melepaskan semua pakaiannya, terutama pakaianku. Dia memeluk tubuhku erat, hingga pada akhirnya aku pun terbuai dan merasakan kenikmatan yang aku dambakan darinya. Kamar ini adalah saksi percintaanku dengan Dzakira.

Kring!

Terdengar suara pesan masuk ke ponselku, suaranya seakan menganggu aktivitas kami yang sedang kasmaran hingga terdengar bekali-kali. Aku yang kesal lantas menyelesaikan aktivitas dan langsung melangkah meraih ponsel yang tersimpan di atas nakas. Kemudian, tanpa fikir panjang langsung membuka pesan pada aplikasi berwarna hijau dan membacanya.

[Bersenang-senanglah kalian melakukan perbuatan keji itu, sangat menjijikan sekali. Kalian tenang saja, semua perbuatan kalian yang ada di kamar terekam jelas di kamera CCTV. Akan aku simpan bukti ini agar kalian menyadari bahwa aku tidak diam melihat perlakukan hina kalian di belakangku!] 

Degh. Aku terkejut ketika membaca pesan yang sama sekali tidak kuketahui siapa pemilik nomer yang mengirim pesan singkat tersebut. Aku pun langsung menerawang ke seluruh penjuru kamar, namun sama sekali tidak melihat adanya CCTV yang ada di kamar hotel ini.  

''Kenapa, Sayang, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres?'' tanya Dzakira heran melihatku.

''Ada yang mengirimkan pesan seperti ini ke nomerku, tapi aku sama sekali tidak tahu pemilik nomer ponsel ini,'' ucapku pada Dzakira sembari menyerahkan bukti pesan padanya. Dia langsung meraih dan membacanya.

''Yang mengirim pesan ini aku yakin itu adalah Amira. Siapa lagi kalau bukan dia, kalau orang lain, tidak akan mungkin sudi mengirim pesan seperti ini ke nomermu,'' ungkap Dzakira menuduh.

''Aku pun menyangka bahwa Amira yang mengirim pesan. Lebih baik, aku pergi sekarang, aku takut dia mengetahui perselingkuhan kita. Apalagi pesan tersebut menyebut bahwa kamar ini ada CCTV dan merekam jelas perbuatan kita barusan,'' ujarku hendak pamit pada Dzakira. Lalu, mengenakan pakaian satu persatu.

''Tidak bisa! Kamu tidak boleh pergi, kita baru melakukannya sebentar, apakah kamu tidak menginginkan lagi, bahkan aku sudah membayar 40 juta untuk satu hari. Aku melarang jika kamu memaksa pergi.'' Dzakira marah, ia menatap wajahku tajam. Tubuhnya yang ditutupi selimut tebal membuatnya tak bisa mendekatiku.

''Apa kamu sudah tidak waras Dzakira, jika Amira mengetahui perselingkuhan kita, tamat riwayatku. Kita bisa melakukannya lain waktu. Apa kamu pikir semua uang yang selalu aku berikan padamu itu hasil jerih payahku? Kamu salah besar, semua itu pemberian dari Amira dan tidak akan mungkin aku meninggalkannya karena Amira adalah mesin pencetak uangku,'' ujarku dengan penuh emosi menatap balik ke arah Dzakira.

Saat ini, aku sama sekali tidak perduli jika Dzakira sudah membayar sewa kamar seharga empat puluh juta. Jika aku masih tetap di sini, aku tidak mau kehilangan Amira, tentunya dia tidak akan lagi memberiku uang banyak. Aku lebih baik aku pergi temui Amira. 

Dzakira terdiam, ia menahan kekecewaan, aku pun tak memperdulikannya, urusan batin nanti pun kami akan kembali melakukannya. Yang jelas, untuk sekarang aku tidak mau sampai Amira mengetahui kebusukan yang sudah aku lakukan di belakangnya.

''Bagas?''

Bersambung

Bab 3

MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMIKU (3)

Dzakira terdiam, ia menahan kekecewaan, aku pun tak memperdulikannya, urusan batin nanti pun kami akan kembali melakukannya. Yang jelas, untuk sekarang aku tidak mau sampai Amira mengetahui kebusukan yang sudah aku lakukan di belakangnya.

''Bagas?'' 

Aku melangkah keluar kamar meninggalkan Dzakira sendirian. Teriakan dan cacian terdengar sangat jelas di telinga. Hatiku saat ini tidak perduli dengannya, aku hanya takut Amira marah dan mengusirku dari rumah hanya gara-gara perselingkuhan. Menurutku, nyawa lebih berharga dibanding nafsu birahi. Jika Amira dan keluarga besarnya mengetahui bahwa aku telah berkhianat. Mungkin, aku akan ditendang dari keluarga Hartawan dan tidak diberikan sepeserpun harta. Padahal niatku dari awal ingin sekali merebut semua harta yang dimiliki oleh keluarga Amira hingga jatuh ke tanganku.

Soal Dzakira, nanti pun ia akan berbaik hati kembali, apalagi jika diberi uang yang banyak. Dia perempuan matre yang hanya memandang dari segi materi, pastinya ia akan menuruti kembali semua keinginanku, termasuk nafsu yang sama sekali tidak akan bisa aku dapatkan dari Amira.

Jika benar yang barusan mengirim pesan adalah Amira, pastinya ia tengah berada di hotel ini. Untuk itu, aku harus mencari keberadaanya secepat mungkin dan aku akan berpura-pura meminta maaf padanya, Amira pasti akan memaafkanku, sebab aku tahu, dia sangat mencintaiku. 

Dari kejauhan, tiba-tiba saja aku melihat seorang perempuan tengah berjalan memasuki sebuah mobil mewah keluaran terbaru. Tampilannya sangat menggoda imanku, ia memakai dress berwarna merah maroon serta memakai sedikit polesan pada wajahnya. Aku seakan terpana dengan kecantikannya. Namun, ketika menyadari perempuan itu hampir mirip dengan Amira. Tanpa menahan rasa penasaran, aku melangkah mendekat ke arah mobil yang ditumpangi perempuan cantik itu, ketika mendekat, mobil itu telah berhasil pergi meninggalkan halaman hotel. Aku pun menahan kekesalan di dada karena tak sempat menatap jelas wajah perempuan itu.

''Tidak mungkin itu Amira, itu hanya perempuan yang mirip saja. Tidak mungkin Amira bisa secantik itu, lagipula Amira cacat, sedangkan dia ... sangat sempurna.'' Aku berbisik di dalam hatinya.

Aku memilih kembali masuk ke hotel dan ingin menanyakan perihal CCTV kepada resepsionis. Ketika melangkah, tiba-tiba saja deringan telepon terdengar. Rupanya Amira menelepon. Aku pun berfiki, kenapa tidak sejak tadi aku menelepon Amira? Bodoh!

''Hallo, Sayang, kamu lagi di mana?'' tanyaku menanyakan keberadaan Amira--istriku ketika sambungan telepon telah terhubung.

"Kamu tidak perlu tahu aku di mana, yang jelas aku sudah mengetahui tentang kebusukanmu di belakang aku,'' ujarnya, dadaku terkejut mendengar ucapan Amira.

''Maksudmu apa, Sayang?'' 

''Kamu jangan coba-coba membodohi aku Bagas, aku sudah mengetahui tentang perselingkuhanmu, kamu tega berkhianat, padahal aku sudah memberikanmu harta yang berlimpah, tapi ternyata ...'' Amira tak melanjutkan ucapannya. Aku merasa patah hati sekarang, ternyata memang benar yang tadi mengirim pesan itu adalah Amira.

''Aku bisa menjelaskannya Amira, aku minta maaf,'' lirihku meminta maaf.

''Semuanya sudah terlambat, aku sama sekali tidak bisa memaafkanmu, Bagas. Bukti perselingkuhanmu ini sudah menjadi bukti dan tunggu saja kabar pencerain kita dari pengadilan agama,'' lanjutnya, aku semakin terkejut mendengar ucapan dari mulut Amira, rasanya sakit sekali seakan dada dihantam oleh benda tajam.

''Aku mohon, Sayang, maafkan kesalahku.'' Amira langsung mematikan sambungan telepon sepihak, hatiku merasa tak tenang ketika mendengar bahwa Amira akan mengurus surat cerai di pengadilan agama. Tamatlah riwayatku, semua kemewahan akhirnya akan sirna. Aku tidak akan bisa lagi tinggal di rumah mewah dan tidak akan mempunyai harta benda yang berlimpah. Padahal, aku sudah berjanji pada Dzakira secepatnya akan menguasai harta Hartawan, namun sayangnya ....

Hatiku merasa putus asa, aku tak mau kembali ke masa lalu. Hidupku sangat sulit sekali, bahkan untuk makan pun rasanya tidak mampu. Hanya segenggam garam setiap harinya yang harus aku makan. Hidupku dahulu sangat menderita, aku tak mau kembali ke masa dahulu.

Tanpa fikir panjang, aku masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang ke rumah, aku ingin memohon dan memberikan klarifikasi kebohongan agar Amira dan keluarganya percaya bahwa aku akan menjadi suami yang baik dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Mungkin dengan memohon Amira akan terketuk hatinya menerima permintaan maafku.

Tanpa terasa, aku telah tiba di halaman rumah keluarga Hartawan. Terlihat, kedua mertuaku tengah berdiri di samping Amira yang masih menggunakan kursi roda miliknya. Mereka seakan-akan tengah menunggu kedatanganku, tatapannya penuh dengan kebencian. Hatiku seakan tak tenang ketika dipandang seperti itu.

''Pa, Ma, Amira. Maaf aku--''

BUGH!

Bersambung

Komentarnya dong teman-teman, biar aku tahu kalian ada❤️ Salam sayang, mohon menunggu untuk bab 4, ya. Terima kasih.

_____

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED