“Percuma kamu Bapak sekolahkan tinggi-tinggi! Susah-susah pun maksain kamu biar masuk SMA, tapi mana nyatanya sekarang! Sudah mau satu tahun lulus sekolah tapi belum kerja juga! Belum ngasilin duit! Mending adik kamu yang sekolahnya SMP doang, sudah punya pacar anak tukang daging sapi, hidupnya terjamin!” celoteh Bapak. Orang yang Sumi paling takutkan ketika sudah bicara.
Sumi menghela napas. Dia masih membelekangi Bapak dan mengiris bawang merah untuk masak. Untuk ke sekian kalinya omelan itu terasa menusuk hati Sumi. Bapak selalu mengungkit keinginannya untuk bersekolah lagi dan menyalahkan karena sampai saat ini belum menghasilkan rupiah.
“Iya, Pak! Sumi juga lagi berusaha cari kerja! Sudah kirim lamaran juga!” tukas Sumi lirih, tak berani menatap wajah Bapak.
“Ya, tapi mana atuh? Tiap hari ngabisin duit doang buat fotokopi, buat bikin kartu kuning, kartu SKCK, mana? Mana hasilnya?!” Suara Bapak makin meninggi membuat Ibu yang tengah menidurkan Asril---balita berusia tiga tahun---adik sumi yang paling kecil melerai.
“Pak, sudah! Kasihan Sumi! Kalau belum rejeki, ya, mau gimana, toh?” tukas Ibu. Perempuan yang omongannya pun biasanya Bapak anggap angin lalu.
“Ini nih, semuanya gara-gara Ibu! Coba dulu gak usah nurutin kemauannya buat sekolah lagi, ngabisin duit doang! Gak ada hasilnya!” bentak Bapak.
Setelah itu, Sumi pasti akan menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Ibu yang membelanya dan Bapak yang selalu menyudutkannya tak pernah satu kata.
Sumi menghentikan irisan bawangnya. Dia berjalan menunduk meninggalkan dapur yang hanya tersekat bilik teriplek dengan ruang tengah. Keluar melalui pintu samping. Sumi mengambil pakan ayam dan memberikannya sambil membiarkan tangisnya tumpah.
Rupanya nilai yang tinggi memang tak menjamin kesuksesan. Semua prestasi selama sekolah menguap begitu saja. Perawakan Sumi yang hanya seratus lima puluh senti, membuatnya selalu kesulitan mendapatkan pekerjaan. Entah sudah berapa puluh lamaran yang dikirimkannya. Namun semua menguap begitu saja. Benar yang dikatakan Bapak, dia tak berguna, hanya membuang-buang waktu dan menghabiskan uang orang tua.
Sumi memanddangi ayam-ayam kampung peliharaan Ibu sambil menyeka air mata. Hatinya sedih dan luka atas perlakuan Bapak, tetapi bisa apa? Dia hanya bisa berdoa, menangis dan begitulah berulang sambil menunggu keajaiban.
“Sumi! Kamu masaknya cepetan! Sebentar lagi keluarga calon suaminya Intan akan datang! Jangan malu-maluin, nanti tamu datang belum ada apa-apa! Kamu itu memang selalu ingin membuat Bapak malu ya di depan calon besan atau jangan-jangan kamu iri sama Intan?” Suara Bapak membuat Sumi bergegas menyeka air mata.
“Iya, Pak! Bentar!”
Hanya itu kalimat yang terlontar. Ditinggalnya ayam-ayam itu yang menjadi alibinya untuk menangis di samping rumah yang ada di tepi sawah itu. Ya, kampung Sumi berada di pinggiran Kawasan industri, masih ada petakan-petakan sawah milik tetangganya yang terbentang. Beberapa warga generasi lama pun masih ada yang bertahan sebagai petani, sebagiannya sudah beralih profesi ada yang menjadi tukang sapu di Kawasan, ada yang kuli tanam rumput di para mandor pengelola yang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan.
Bapak membanting pintu dan meninggalkan Sumi. Dia kembali menangkup wajah. Rasanya tertekan sekali selalu mendapat perlakuan seperti itu dari Bapak. “Apakah sebetulnya aku ini bukan anak kandungnya?” Kadang pertanyaan itu terlintas dalam benak Sumi. Mengingat perlakuan Bapak selalu beda padanya dan pada Intan---adiknya.
Keluarga calon besan datang. Beruntung Sumi sudah menyelesaikan masakannya. Ayam surrundeng itu sudah tersaji di meja makan. Begitu pun air panas dalam termos, beberapa piring kue yang mendadak dipesan dan beberapa sachet kopi siap dituang. Sumi menyajikannya. Intan yang baru pulang dari jahit pakaian pun membantunya.
“Teh, maaf … Intan lama, ya! Teteh masak sendirian jadinya!” tukasnya merasa tak enak. Intan memang berhati lembut. Dia pun mengalah untuk tak sekolah SMA karena dia sadar jika dia tak secerdas Sumi. Umurnya yang hanya selisih dua tahun, membuat keluarga harus memilih siapa yang akan melanjutkan sekolah pada akhirnya. Intan mengalah, lagi pula dia pun tak terlalu berminat untuk bekerja. Mending cari suami, ada yang ngasih nafkah katanya.
“Gak apa, Tan! Sudah selesai, kok! Ayo bantu teteh bawain ke depan!” tukas Sumi. Dia membersihkan tangan dan membasuh muka dulu agar tak terlalu terlihat kusut di mata tamu. Ini kali pertamanya keluarga Ardi---calon suami Intan datang.
Ardi---lelaki yang awalnya mendekati Sumi itu tak bisa membuang pandang. Dia mencoba mendekati Intan karena Sumi mengatakan akan bekerja dulu dan tak bisa menerima lamarannya. Akhirnya dia mendekati Intan karena memang wajahnya mirip dengan Sumi. Namun entah dengan hati, dia pun tak yakin sebetulnya dia jatuh hati pada Intan atau pada Sumi. Menatap gadis manis itu ke depan, Ardi lupa jika yang ditujunya adalah Intan.
“Nah ini anak-anak saya, Bu Marwah, Pak Amin! Ini Sumiati---kakaknya, yang ini Intan---adiknya. Alhamdulilah kalau Intan ini penurut, dia lebih mikirin keluarga.”
Intan duduk di ruang depan, bergabung bersama Ibu, Bapak dan Asril yang tengah asik bermain pasir. Sementara itu, Sumi kembali ke dalam. Entah kenapa mendengar pernyataan Bapak, hatinya mendadak sesak. Bapak seolah hendak mengatakan jika dirinya yang memaksa bersekolah itu seolah tak memikirkan kepentingan keluarga.
Sumi berdiam di dapur, diambilnya gawai jadul yang sudah ketinggalan zaman. Ponsel bekas temannya yang dibelinya dari hasil membantu memotong padi di sawah di sela-sela waktu sekolahnya. Sumi membelinya agar ketika ada panggilan pekerjaan itu mudah. Meskipun lagi-lagi Bapak selalu mencibirnya. Rupanya ada pesan dari Tita---teman sekelasnya yang kini sudah kerja di salah satu perusahaan automotive. Tita beruntung karena memiliki tubuh tinggi, meskipun dia tak pernah mendapatkan ranking di kelas, tetapi nyatanya dia lebih mudah mendapatkan pekerjaan dari pada dirinya yang tak pernah geser dari tiga besar.
[Sum, aku ada info lowongan, tapi gajinya kecil, mau gak? Tapi ada tips juga katanya yang lumayan! Kalau mau bawa lamarannya ke rumah sore nanti, ya!] tulisnya. Jemari Sumi dengan semangat mengetik balasan dengan cepat.
[Lowongan di mana? Aku selalu gak lolos tinggi badan, Ta! Tapi aku mau coba. Gak apa gaji kecil yang penting kerja dulu.]
Tampak Tita tengah mengetik.
[Kerja jadi caddy di lapangan golf, Sum! Kebetulan lagi banyak membutuhkan!] tulisnya.
Sumi belum sempat mengetik pesan balasan ketika Bapak muncul dan menyiramkan air padanya. Beruntung ponselnya tidak kena, jadi masih selamat.
“Kamu itu memang anak pembawa sial! Kenapa juga masih di rumah gak kerja-kerja! Gara-gara kamu juga, Intan jadi batal dilamar!” bentak Bapak.
Sumi mengusap wajahnya yang basah. Menatap Bapak dengan pandangan sedih dan nanar. Apa lagi salahnya? Bahkan sejak pagi sudah susah payah memasakkan untuk keluarga calon suami Intan. Namun kenapa kini malah dirinya yang kembali disalahkan.
Sumi mengusap wajahnya yang basah. Menatap Bapak dengan pandangan sedih dan nanar. Apa lagi salahnya? Bahkan sejak pagi sudah susah payah memasakkan untuk keluarga calon suami Intan. Namun kenapa kini malah dirinya yang kembali disalahkan.
Sumi menatap Bapak dengan mata berkaca-kaca. Suaranya gemetar ketika bertanya.
“Kenapa Bapak gitu, Pak? Aku dari tadi di sini … kenapa Bapak nyalahin aku?”
Bapak membuang muka. Dia memutar tubuh dan meninggalkan Sumi tanpa kata. Dibantingnya pintu itu sehingga Sumi pun terkejut dibuatnya. Sumi mengelus dada, berharap sesak ini hilang. Namun usianya yang baru Sembilan belas tahun belum cukup mampu bersikap dewasa. Sumi berlari ke kamar dan menumpahkan tangisnya di sana.
Sumi masih terisak ketika derit pintu terdengar. Intan muncul dengan mata merah. Mereka tidur se kamar karena rumah mereka hanya ada dua kamar. Sumi menoleh pada adiknya yang tampak habis menangis juga.
“Dek, apa yang terjadi? Kenapa Bapak nyalahin teteh, apa kamu beneran batal lamaran?” Sumi mengusap air mata dan menatap wajah cantik Intan yang mendung.
Namun jawaban Intan yang biasanya lembut, mendadak ketus. Kedua bola matanya melirik penuh kekesalan.
“Sudah deh, Teh! Gak usah sok baik! Ardi itu cintanya sama Teh Sumi bukan sama aku. Kenapa Teteh gak bilang, kenapa Teteh mempermalukan aku? Aku malu, Teh! Teman-teman semua sudah tahu kalau hari ini aku lamaran, tapi nyatanya Ardi membatalkannya, dia mengharapkan Teteh untuk jadi istrinya! Aku benci Teteh!” Intan menjelaskan sambil terisak. Hatinya hancur mendapati semua kenyataan di depan mata yang menyesakkan.
Sumi menggeleng. Hatinya yang sakit tambah tersayat. Kenapa semua kini jadi menyalahkannya. Bahkan adik yang disayanginya dan biasa menghormatinya pun berucap demikian.
“Dek!” Sumi mendekat dan hendak memeluk Intan. Namun tangan Intan menepisnya.
“Mulai hari ini, jangan panggil aku Adek!” Intan melengos pergi dan membanting pintu kamar.
Sumi menghela napas. Kembali ditangkupnya wajahnya dan membiarkan semua sesak ini tumpah. Kenapa kini semua jadi salahnya? Pikirannya yang kacau akhirnya abai, rencananya ke rumah Tita pun hampir batal . Dia membuarkan sesak itu menguap bersama tangisan. Ibu berkali-kali datang menghiburnya. Pelukannya sedikit membuatnya tenang.
“Sudah, Teh … jangan diambil hati. Maafin sikap Bapak sama Intan. Teteh jangan sedih kayak gini, dong! Ibu sedih kalau Teteh nangis terus!” tukasnya sambil menyeka matanya yang ikut berkaca-kaca.
Ya, selama ini Sumi lebih dekat dengan Ibu, sedangkan Intan lebih dekat dengan Bapak. Bahkan Intan sangat dekat. Sumi memeluk Ibu, menumpahkan kembali sesak yang ada hingga dering gawai membuatnya sadar jika ada janji hari ini dengan Tita. Dilihatnya ada pesan masuk dari Tita.
[Aku sudah di rumah! Ditunggu ya, sekarang!]
Sumi melepas pelukannya pada Ibu. Dia menyeka air mata, lalu mengambil amplop lamaran yang masih menumpuk di dalam laci.
“Mau ke mana?” Ibu menatapnya. Sementara itu, sejak tadi Asril bermain-main sendirian bolak-balik ke ruang tengah. Dia hanya melihat ibu dan kakaknya menangis dan tak mengerti harus bertanya atau berbuat apa.
“Mau ke rumah Tita! Ada lowongan katanya!” tukas Sumi sambil mengambil cardigan warna abu. Dia lalu mencium punggung tangan Ibu.
“Doain Sumi, ya, Bu! Moga keterima kerja kali ini! Malu sama Bapak,” ucap Sumi. Setiap mengingat ucapan Bapak yang menyebutnya tak berguna, dirinya semakin minder dan jatuh dalam kepercayaan kalau dirinya memang benar-benar tak berguna.
“Iya, Teh! Semoga lekas dapat kerja! Jangan terlalu dipikirin omongan Bapak! Ibu gak mau Teteh sakit.” Ibu mengusap pucuk kepala Sumi.
Sumi berjalan meninggalkan rumah menuju rumah Tita. Rumah itu tak terlalu jauh , tetapi lumayan membuatnya berkeringat. Menyusuri jalanan aspal yang rusak sambil menunduk mencoba menepis rasa sakit yang masih tersisa.
Setibanya di rumah Tita, diserahkannya lamarannya itu padanya.
“Kamu yakin itu gak pakai tinggi badan?” Sumi menatap Tita.
Tita tersenyum sambil menarik tangannya mengajak duduk pada bangku panjang di depan rumahnya. Rumah Tita cukup besar, terdiri dari empat kamar dan di depannya ada pohon mangga yang rindang. Ayah Tita memiliki sawah yang luas. Ketika pembebasan lahan oleh developer Kawasan industry dia menjual semuanya dengan harga tinggi dan membeli lagi di daerah yang agak jauh sehingga punya dua kali lipat luasnya. Semua sawahnya diurus orang, mereka hanya menunggu hasil panen saja pada setiap musim tanam.
“Biasanya di sana pakai tinggi badan, sih! Minimal 155 senti!” tukas Tita.
“Lah, terus?” Sumi menatap takut-takut. Khawatir jika dia kembali akan gagal karena tinggi badan.
“Sekarang lagi ada perombakan system. Jadi mereka sedang menerima kedi part time … nah, karena butuh banyak dan kebetulan aku ada kenalan orang dalam, jadi bisa nitipin kamu!” tukas Tita lagi dengan yakin.
“Syukurlah! Moga bisa!” Sumi tersenyum penuh harap.
“Tapi ada syaratnya!” tukas Tita.
“Apa?” Sumi menatap.
“Ya, nanti kalau kamu sudah lolos training … kamu ngasih lah ucapan terima kasih sama orang kenalan aku itu! Gak usah besar sih, yang penting ada saja!” tukas Tita menjelaskan. Sumi mengangguk paham. Semoga dia bisa mengumpulkan uang dulu dan diberikan pada orang itu nanti.
Sumi berjalan pulang dengan hati sedikit tenang, jika sudah kerja dia akan mengontrak saja. Tinggal di rumah hanya membuat luka hati setiap hari. Apalagi kini Intan pun tampak membencinya. Tak ada alasan lain lagi untuknya tinggal di rumah itu lebih lama.
“Sumi!” Suara seseorang memanggilnya dari samping seraya berhentinya sebuah sepeda motor. Sumi menoleh pada lelaki yang tersenyum padanya. Ardi ada di sana sambil menatapnya.
“Ardi?” Sumi menautkan alis dan menatap lelaki yang tersenyum padanya itu.
“Sum, kamu mau ya nerima lamaran aku?” tukasnya enteng.
Sumi membuang muka. Semudah itu lelaki yang ada di depannya bersilat lidah. Plin plan dan tak punya pendirian.
“Kamu kenapa mainin Intan? Kamu pikir kami ini apaan? Seenaknya kamu gonta ganti orang!” bentak Sumi. Hilang sudah kelembutannya.
Sumi berjalan meninggalkan lelaki itu yang mematung sendirian. Setengah berlari agar lebih cepat sampai rumah, tetapi rupanya Ardi mengejarnya. Ketika dia tiba di depan rumah, Ardi pun menghentikan sepeda motornya. Ada Bapak yang menatap tajam padanya.
“Kamu itu bener-bener, ya! Kamu sengaja mau nyakitin adik kamu dengan jalan sama dia?!” Bapak menatap penuh amarah pada Sumi.
“Aku gak jalan sama Ardi, Pak. Dia yang ngikutin aku!” tukas Sumi sambil menatap kesal pada Ardi. Lelaki itu malah turun dan mendekat.
“Pak, kenapa Bapak nolak lamaran aku buat Sumi? Ternyata setelah kutanyakan pada hati, aku sukanya sama Sumi, Pak … bukan sama Intan! Kan sama-sama jadi mantu Bapak, kenapa harus dibeda-bedakan?” Ardi melempar komplen.
“Sumi itu sudah saya sekolahkan SMA, saya keluarkan modal untuk sekolah! Jadi sebelum balik modal, dia gak boleh nikah dulu … kecuali, kamu mau ganti semua uang yang saya keluarkan buat nyekolahin dia!” Bapak bicara lantang, tega dan jelas. Membuat Sumi semakin benci tinggal di rumah itu. Dia berlari menuju kamar sambil menangis. Kenapa semua itu dianggapnya utang yang harus dilunasi?
“Sumi itu sudah saya keluarkan modal untuk sekolah! Jadi sebelum balik modal, dia gak boleh nikah dulu … kecuali, kamu mau ganti semua uang yang saya keluarkan buat nyekolahin dia!”
Bapak bicara lantang, tega dan jelas. Membuat Sumi semakin benci tinggal di rumah itu. Dia berlari menuju kamar sambil menangis. Kenapa semua itu dianggapnya utang yang harus dilunasi?
Sementara itu, Ardi melajukan kembali sepeda motornya, tak hendak berdebat lebih lama. Memang awalnya dia yang salah, akan tetapi entah kenapa setelah melihat Sumi lagi, hatinya memang tak menginginkan intan. Dia tak menyadari jika karena ulahnya kini Sumi tengah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan oleh lelaki yang sejak kecil selalu Sumi panggil Bapak.
Entah kenapa Bapak itu seakan hanya sayang pada Intan, apa karena Intan mengalah untuk tak sekolah? Kalau Sumi tahu akan jadi seperti ini, mungkin lebih baik dulu dirinya berhenti saja dan membiarkan takdir menentukan jalan hidupnya. Awalnya dia berkeras ingin melanjutkan sekolah karena ingin memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga. Sumi kasihan pada Ibu yang selalu harus kerja banting tulang.
Suara derit pintu terdengar. Sumi menoleh dan tampak Intan yang cemberut. Dia memasang wajah tak menyenangkan, jalan lurus dan tak menyapanya. Dia melewatinya begitu saja.
Intan langsung menuju lemari yang dibuat untuk menyimpan pakaian mereka berdua dan memasukkan beberapa potong pakaian itu ke dalam tasnya. Sumi mendekat dan bertanya padanya.
“Tan, kamu kok beresin pakaian?”
Pertanyaan Sumi hanya dianggap angin lalu. Tak ada jawaban dari mulut Intan. Sumi duduk di tepi ranjang dan kembali bertanya. Entah kenapa perih rasa dari ucapan Bapak, bertambah sakit melihat sikap Intan yang cuek padanya.
“Tan, kamu jangan gini dong ke Teteh? Salah Teteh apa?” Sumi menarik lengan Intan. Rasanya sakit sekali diperlakukan demikian.
Namun Intan menepisnya. Dia berpindah pada meja rias. Diambil semua perlengkapan makeup nya. Lalu tanpa kata dia bergegas keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.
“Ya Allah, kenapa semua orang seakan memusuhiku? Apa salahku? Aku tak melakukan apa-apa tapi kenapa harus menanggung semua ini?” Intan menyeka air matanya yang kembali luruh.
Di luar terdengar deru sepeda motor yang menjauh. Apakah Intan pergi karena tak ingin lagi berbagi kamar dengannya? Kenapa dirinya merasa seakan sendirian dan tak punya sandaran. Kadang Sumi sangat berharap lelaki yang dipanggil Bapak itu menatapnya penuh sayang seperti yang dia lakukan pada Intan dan Asril, tetapi tak pernah. Bagi Bapak, dirinya seolah benalu yang menumpang.
***
Hari itu Sumi tersenyum ketika mendapatkan sebuah panggilan interview dari Golf Club. Meskipun di kampung Sumi ada beberapa konotasi negatif tentang pekerjaan itu, tak melunturkan tekad Sumi. Itulah pekerjaan yang kini diharapkannya agar tak selalu dihina Bapak.
Sumi berharap dirinya bisa segera punya uang sendiri sehingga bisa ngontrak dan meninggalkan rumah agar Intan bisa kembali pulang dan Bapak tak selalu memandangnya kesal. Sudah berhari-hari Intan menginap di rumah temannya untuk menghindarinya dan membuat tambahan biaya karena harus kasih uang makan.
[Ta, tapi aku pakai apa, ya ke sananya? Gak ada angkutan umum ‘kan?] Sumi mengirim pesan pada Tita.
[Hmm … iya gak ada! Bentar aku hubungi Zaki dulu. Biar dia anter kamu!] balas Tita cepat.
Sumi terdiam. Ya, dia ingat Zaki teman sekolahnya dulu yang sempat minta dicomblangin ke Tita. Namun kini mereka sudah tak pernah berhubungan dan Tita sudah punya pacar lagi katanya.
[Eh, kamu gak apa hubungi Zaki, Ta? Pacar kamu gimana?] Sumi khawatir membuat masalah untuk Tita.
[Hahaha. Dah, lah! Kamu nurut saja biar Zaki yang anter!] tulis Tita cepat. Dia gak bilang, jika sebetulnya yang Zaki sukai adalah Sumi, bukan dirinya. Zaki takut Sumi membencinya karena dia pernah mendengar jika Sumi suka lelaki yang religius dan dewasa, sedangkan dirinya kebalikannya.
[Ok.] Itulah jawaban Sumi pada akhirnya.
Hari yang dinanti, tiba. Sumi yang sudah mengenakan pakaian hitam putih dan menunggu Zaki di depan rumah setelah mencium tangan Ibu meminta restu. Ibu memeluk dan mendoakannya, semoga Sumi bisa keterima kerja. Katanya lapang golf itu baru buka, jadi butuh banyak sekali kedi.
Tak berapa lama, Zaki datang dengan sepeda motornya. Lelaki yang terkenal selengehan dan asbun ketika berbicara itu selalu berbeda ketika berhadapan dengan Sumi. Dia jadi suka tampak kikuk dan gugup. Meskipun memang kalau ngomong masih suka asal ceplos.
“Assalamu’alaikum, Umi!”
“Wa’alaikumsalam!”
Sumi dan Ibu yang tengah berada di teras menoleh. Sumi berpamitan sekali lagi pada Ibu. Namun baru saja Sumi mendekati Zaki, lelaki itu malah mematikan sepeda motornya dan turun.
“Eh, mau ke mana?” tanya Sumi heran.
“Pamit dulu sama calon ibu mertua!” ucapnya sambil tersenyum tengil.
“Eh?” Sumi melongo. Namun Zaki tetap berjalan santai dan mencium punggung tangan Ibu.
“Pamit, Bu! Doakan lancar hingga sampai ke KUA! Eh, ke tujuan maksudnya!” tukasnya sambil cengengesan.
“Iya, hati-hati ya, Zaki bawa motornya!” tukas Ibu. Zaki tersenyum dan mengangguk.
Dia berjalan mendekat dan membetulkan jaketnya. Lalu menyalakan sepeda motornya dan meminta Sumi naik.
“Umi, ayo naik!” tukasnya.
Dia menyodorkan satu helm yang dibawa pada motor bebeknya itu.
“Kok umi, sih?” Sumi melempar komplen sambil tangannya memakai helm yang diberikan oleh Zaki.
“Kan biar mesra, Umi dan Abi Zaki!” kekehnya.
Sumi hanya tersenyum simpul dan menggelengkan kepala. Sudah lama tak ketemu Zaki semenjak lulus. Namun dia tak pernah berubah. Sengkleknya masih sama.
“Sudah?” tanya Zaki sambil menoleh pada spion.
Dia menatap senyuman Sumi yang mendengar ocehannya. Wajah manisnya tampak sedikit bersinar karena mendung itu sedikit terusir oleh candaan.
“Sudah!” tukas Sumi datar. Dia membetulkan helm yang dipakainya.
“Ya sudah, turun!” tukasnya datar.
“Kok?” Sumi sudah mulai kesal.
“Katanya sudah?” Zaki terkekeh.
“Lah ‘kan kamu nanya!” timpal Sumi lagi.
“Hahaha, iya ayo kita pergi … semoga selamat sampai KUA!” tukasnya sambil melajukan sepeda motornya. Sumi tertawa, melupakan sejenak sesak yang menimpanya.