"Cinta itu seperti mimpi buruk yang datang tiba-tiba dan pergi tanpa kata-kata"
***
Tiba-tiba kantin berubah menjadi ramai karena datang dua cowok yang dikagumi banyak siswi di sekolah ini. Bukan hanya rupanya yang tampan tapi pikirannya juga cerdas. Semua murid disekolah ini mengidolakan cowok-cowok seperti itu.
Kecuali Melodi, dia sangat membenci seorang cowok salah satu diantara mereka. Melodi bahkan muak bertemu setiap hari dengan cowok itu. bagaimana tidak, cowok itu selalu menyudutkannya setiap saat dan melukai harga dirinya sebagai seorang manusia.
Entah mengapa setiap Melodi bertemu dengan orang itu, Melodi selalu naik darah. Melodi selalu teringat patah hati yang terjadi di masa-masa dulu. Jika memang cintanya bertepuk sebelah tangan tidak masalah. Akan tetapi, tidak perlu sampai menginjak-injak harga dirinya.
"Harus dong! nah, lo gimana sekarang?"tanya Andin menyenggol bahu Melodi pelan. Kebetulan Andin duduk disebelah Melodi jadi Andin bisa bebas memukul Melodi nanti.
"Gak gimana-gimana dong!"jawab Melodi santai. Sesekali menyedot es coklat kesukaannya.
Ada cerita yang tidak bisa diungkapkan, bukan maksud tidak percaya tapi Melodi belum siap mengungkapkan jati dirinya. Belum saatnya dia bercerita siapa dia dan bagaimana hidupnya. Jika bisa Melodi tidak mau seperti ini. Keadaanlah yang memaksa Melodi harus berubah. Ingat! Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan dia mampu berdiri sendiri. Setidaknya itu yang menjadi prinsip Melodi saat ini.
Beri kritik dan sarannya ya di komentar😊masih penulis amatir, mohon di mengerti.
Dan jangan lupa tekan bintang⭐
Terima kasih🥰
Kembar, seharusnya ketika seseorang memiliki saudara kembar itu menyenangkan, tapi apa jadinya jika saudara kembar ini memiliki sifat bagaikan langit dan bumi yang satu penurut dan yang lain susah diatur. Terlebih salah satu dari mereka saling membenci. Ya, Melodi memiliki alasan untuk itu kenapa dia bersikap seakan membenci Meli. Melodi mempunyai seribu alasan untuk bersikap begitu.
"Beb, gak bosen apa gini-gini mulu?" ucap salah satu teman Melodi yang bernama Faya.
"Kalian gak ada usul tempat yang bagus dimana?" tanya Melodi sambil memainkan garpu tanpa ada minat menyantap makanan yang dipesannya.
"Len, jawab! Biasanya lo yang tau tempat bagus, "ucap Faya sambil menyedot jus milik Helen tanpa permisi.
Persahabatan mereka sudah terjalin 3 tahun lamanya mereka sudah saling mengenal sejak dibangku 1 SMA. Mereka adalah 4 orang cewek yang terbilang bandel, mereka ber 4 sering bolos disaat jam pelajaran dan juga melanggar peraturan sekolah lainnya. Alasan mereka melakukan itu karena bosan dengan kehidupannya yang rumit, mereka tidak ingin memikirkan beban dan ingin bersenang-senang.
"Kebiasaan deh! Emang duit lo habis sampai gak mampu beli minuman sendiri?" kata Helen tak terima dengan tingkah laku Faya.
"Sekali-kali sedekah sama gue," jawab Faya cuek sambil menggeser-geser layar ponselnya.
"Papa lo pelit ya? Gak ngasih duit ke anaknya sendiri?" tanya Helen sedikit mengejek Faya.
Bisa dibilang Melodi dan para sahabatnya adalah anak orang yang terpandang. Secara finasial mereka tidak kekurangan sama sekali bahkan bisnis keluarga mereka ada dimana-mana, namun sayangnya mereka semua adalah anak yang bermasalah. Beberapa dari mereka ada yang dikengkang,ada yang diatur dan lain sebagainya. Ada banyak drama didalam keluarga mereka masing-masing. Terkadang drama itu membuat mereka muak dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini.
"Cari tau sana! Biasanya lo yang paling update dengan tempat bagus," perintah Andin sambil memasang henset ditelinganya dengan santai.
"Gak! Lo aja yang cari gue lagi males soalnya," kata Helen jengah karena dia malas harus dia terus yang mencari tempat yang bagus.
"Padahal lo itu andalan kita," kata Melodi sambil menyenggol tangan Helen sedikit keras.
"udah dibilang gue lagi males!" jawab Helen malas-malasan.
"Gak biasanya lo males kayak gini, kenapa?" tanya Melodi penasaran, Memang diantara sahabatnya Helenlah yang jarang malas. Helen tipikal orang yang aktif, dia mudah berbaur dengan orang baru. Berbanding terbalik dengan Melodi yang cuek dengan sekitarnya. Jadi ketika Helen berubah menjadi pendiam itu sudah pasti dia sedang tidak baik-baik saja.
"Natan?" tebak Andin yang berfokus pada buku yang berada di genggamannya tanpa menatap lawan bicaranya.
Meskipun Andin terlihat cuek dengan obrolan para sahabatnya bukan berarti Andin tidak perduli dengan sahabatnya. Dia hanya tak terlalu banyak bicara seperti para sahabatnya. Mungkin sesekali Andin akan ikut ngobrol untuk menghormati sahabatnya.
"Kenapa lagi tuh cowok?" tanya Faya sambil cengengesan, "mending putusin aja! Cowok diluar sana juga masih banyak."
Faya adalah tipikal playgirl jangan ditanya dia punya pacar atau tidak, jelas dia punya. Faya adalah orang yang sedikit bebas kalau menyangkut soal lawan jenis, cowoknya berada dimana-mana.
"Diem lo!" ketus Helen malas, hari ini dia badmood karena Natan. Dia tidak ingin moodnya semakin buruk karena mendengar ocehan Faya tentang Natan.
"Ck, lupakan Natan masih banyak cowok tampan diluar sana. Lo itu harus tegas, dong! Cowok kayak Natan tukang ngerayu cewek dimana-mana. Lo jangan terlalu sayang sama dia!" Faya berbicara dengan nada serius. Meskipun Faya memang sedikit ngeselin, tapi dia orang yang paling mengerti keadaan sahabatnya.
"Kalian semua, ya. Giliran urusan cowok aja kalian pada semangat," kata Andin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sok lo! Terus gimana itu cerita lo sama si Andra?" tanya Faya yang membongkar rahasia Andin.
Andin yang mendengar nama Andra disebut dia pun mulai terpancing dan menutup bukunya seketika. Harusnya Faya tidak membeberkan masalah dirinya dan andra. Lagian hubungan mereka berdua belum tentu jelas.
"Fay! ember banget mulut lo!" kata Andin tidak terima.
"Kenapa pake rahasia-rahasiaan sih!" kata Faya santai, "lo nganggep kita semua sahabat lo bukan? Melodi sama Helen berhak tahu jugalah, dong!"
"Oh gitu, kalian main belakang sekarang?" ucap Melodi menyipitkan kedua matanya. Melodi curiga sepertinya ada kisah antara Andin dengan Andra yang tak Melodi ketahui. Selama ini mereka semua jujur dengan kisah hidupnya, tak terkecuali masalah keluarga.
"Sahabat macam apa lo?! Bisa-bisa nya gue gak tahu tentang lo sama Andra, "kata Helen sedikit marah.
"Apaan kalian, tuh! Orang gue cuman temenan doang sama Andra," elak Andin cemberut merasa bersalah karena lupa menceritakan dirinya dan Andra.
"Ndin, coba tatap mata gue kalau lo beneran cuman temenan sama Andra," tatap Helen pada Andin dengan intens nya.
"Bisa ganti topik gak?! Bosan gue dengernya!" ucap Melodi tiba-tiba merusak keseriusan Helen. Jika membahas soal cinta Melodi akan merasa muak. bukan berarti dia tidak pernah jatuh cinta tapi ada pengalaman pahit dibalik semua itu dan Melodi tidak ingin mengingatnya. Melodi ingin membuang bayangan-bayangan masa lalu.
"Oh iya, kisah cinta lo gimana?" tanya Andin menyenggol bahu Melodi pelan. Tempat duduk Melodi ada disebelah kiri Andin.
"Gak gimana-gimana, dong!" jawab Melodi santai. Sesekali, menyedot es coklat kesukaannya. Ada cerita yang tidak bisa diungkapkan. Bukan maksud tidak percaya tapi Melodi belum siap mengungkapkan jati dirinya. Belum saatnya dia bercerita siapa dia dan bagaimana hidupnya.
Jika bisa, Melodi tidak mau seperti ini. Keadaanlah yang memaksa Melodi harus berubah. Ingat! Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan dia mampu berdiri sendiri. Setidaknya itu yang menjadi prinsip Melodi saat ini.
Dia hanya takut jika dia bercerita semuanya akan berubah. Sahabatnya akan berpihak pada saudaranya dunianya akan direbut paksa lagi.
"Gue jadi penasaran sama tipe cowo yang lo suka," kata Faya sambil sok berpikir keras.
"Kenapa? lo mau ambil cowo yang gue suka juga?" kata Melodi to the poin.
"Gue sleding juga lo! Seburuk-buruknya seorang Faya, gue gak mungkin nikung sahabat gue sendiri," kata Faya menaikkan suaranya.
"Ya ampun, Fay. Bercanda doang kali," jawab Melodi terkekeh. Melodi sangat suka menjahili Faya.
"Kebiasaan, setiap bahas soal cinta lo selalu gak perduli. Lo gak mungkin gak pernah jatuh cinta, kan?" tanya Faya sambil memicingkan matanya.
"Gila lo! ya pernah lah," jawab Melodi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sebenarnya lo suka cowok yang gimana?" tanya Andin penasaran sama kisah cinta Melodi.
"Yang penting cowok!" jawab Melodi cuek.
"Jawaban macam apa itu?" protes Helen tidak terima dengan jawaban nyeleneh Melodi.
"Guekan bener yang penting dia itu cowok. Satu lagi, ini yang paling penting!" kata Melodi terlihat serius.
"Apaan?" kata Andin kepo.
Semua sahabat Melodi langsung menatap Melodi dengan serius. Selama ini, mereka tidak pernah mendengar kisah percintaan Melodi. Dan kali ini adalah momen langka bagi sahabatnya mendengarMelodi menceritakan kisah cintanya.
"Dia harus berbatang," jawab Melodi asal tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Sialan lo! Gue udah serius juga!" kata Andin sambil melempar sendok kearah Melodi dengan marah.
"Untung gue sabar," kata Helen mencoba bersabar akan sikap Melodi yang menjengkelkan.
Tiba-tiba kantin berubah menjadi ramai karena datang dua cowok yang dikagumi banyak siswi di sekolah ini. Bukan hanya rupanya yang tampan tapi pikirannya juga cerdas. Semua murid disekolah ini mengidolakan cowok-cowok seperti itu. Kecuali Melodi, dia sangat membenci seorang cowok salah satu diantara mereka. Melodi bahkan muak bertemu setiap hari dengan cowok itu. bagaimana tidak, cowok itu selalu menyudutkannya setiap saat dan melukai harga dirinya sebagai seorang manusia.
Kenapa gue selalu bertatap muka dengannya, Batin Melodi benci.
Entah mengapa setiap Melodi bertemu dengan orang itu, Melodi selalu naik darah. Melodi selalu teringat patah hati yang terjadi di masa-masa dulu. Jika memang cintanya bertepuk sebelah tangan tidak masalah. Akan tetapi, tidak perlu sampai menginjak-injak harga dirinya.
"Melo, kenapa sih!? Tiba-tiba jadi diam gitu?" tanya Faya celingukan mencari tau kemana arah Melodi memandang.
"Hm, Jadi dia orangnya?" ucap Faya manggut-manggut setelah tahu objek yang dipandang Melodi.
"Apa Fay?" kata Helen ikut penasaran.
"Lihat tuh!" tunjuk Faya kearah dua cowok yang berjalan berdampingan.
"Oh, Dia bukannya Anak IPS III ya?" tebak Andin yang ikut-ikutan memerhatikan cowok itu seperti yang lainnya.
"Kalian apaan sih! Orang gue cuman ngeliat doang kok," elak Melodi berusaha terlihat cuek.
Takdir macam apa yang sedang mempermainkannya. Kenapa rasa benci yang dirasakan Melodi tidak kunjung menghilang. Padahal, sudah 3 tahun berlalu. Melodi ingin sekali menghilangkan semua ingatan sakit itu. Tapi entah mengapa Melodi selalu gagal. Apa sebenarnya yang Melodi harapkan. Melodi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Jika melodi masih mencintainya, mengapa dia merasa tidak perduli dengan kehadirannya. Tapi, jika dia sudah tidak mencintainya, mengapa ada rasa benci yang masih tertanam jelas.
Seluruh murid SMA Bhakti 17 berhamburan keluar sekolah, pertanda bahwa jam sekolah telah usai. Banyak dari murid sedang menunggu jemputan, ada yang menunggu ditepi jalan ada juga yang menunggu di kantin sambil ngobrol. Dan disinilah Melodi sekarang berada didepan gerbang sekolah sambil memakan pentol bakar yang baru saja di belinya.
"Gue udah dijembut jadi gue pergi dulu ya?" kata Helen berpamitan dengan para sahabatnya.
"Hati-hati," jawab Andin,Faya, dan Melodi bebarengan.
"Kenapa Helen harus dijemput lebih dulu, sih!" kata Andin menggerutu.
"Kenapa? Lo ada janji sama Andin?" tanya Faya yang tengah fokus pada handphone yang ada ditangannya.
"Ya enggak," jawab Andin cengengesan.
"Gak jelas lo!" kata Melodi kesal dengan ketidak jelasan Andin.
"Oh ya, Mel! "panggil Faya tiba-tiba, "hari ini lo langsung pulang kerumah, kan?" tanya Faya sambil bersiap -siap menghubungi supirnya. Faya dan sahabat Melodi yang lainnya tau kalau Melodi memilik masalah dalam keluarganya. Begitupun dengan mereka semua, sahabatnya Melodi semua juga bermasalah.
"I...iya," jawab Melodi sedikit ragu-ragu.
"Mau mampir ke rumah gue sebentar gak?" ajak Faya dengan tulus, sudah biasa baginya Menampung Melodi setiap hari.
Bagi Faya sahabatnya adalah segalanya. Faya sudah menganggap sahabatnya ini seperti keluarganya sendiri, Faya nyaman dengan pertemanan ini walaupun pertemanan ini agak sedikit mengarah ke negatif. Tidak, tidak ada yang namanya negatif di dalam sebuah persahabatan. Hanya saja tergantung kita bisa mengontrol ke negatif an atau tidak, jika tidak bisa maka kita akan ikut juga ke jurang itu.
"Hari ini gak dulu karena gue ada urusan," jawab Melodi berbohong sambil tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti inilah Melodi selalu menyembunyikan perasaannya, dia hanya ingin memperlihatkan ke dunia bahwa dia sedang baik-baik saja. Melodi selalu menyakinkan diri sendiri agar tidak selalu kuat.
"Yakin nih?" ucap Faya kala membaca raut wajah Melodi tersirat kebohongan.
Melodi memukul lengan Faya dengan pelan untuk meyakinkan sahabatnya ini, "yakin, lagian lo bawel banget, deh!"
"Gue itu perduli bukan bawel, astaga!" ucap Faya yang jengkel dengan kelakuan Melodi.
Melodi terkekeh melihat wajah Faya yang memerah karena kesal, "Fay, santai aja kenapa, sih!"
"Eh, tunggu deh! Itu bukannya si Andra, ya?" tiba-tiba mata Faya mengarah pada seseorang cowok berjaket hitam menaiki motor.
"Mana?" tanya Melodi celingukan penasaran siapa sih sebenernya si Andra itu.
"Lumayan juga ya si Andra," ucap Faya mengeluarkan senyum simpulnya.
"Lo mau ngembat cowoknya Andin juga?" tanya Helen memincing matanya menatap Faya curiga.
"Ck, pikiran lo negatif mulu sama gue!" kata Faya menaikkan nada suaranya.
Terkadang Melodi heran melihat tingkah para sahabatnya, kelakuan mereka sangat diluar nalar sama sekali. Apapun itu Melodi sungguh tidak keberatan karena dengan keberadaan mereka Melodi bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihujat oleh seseorang.
"Lo playgirl sih!" kata Helen terang-terangan.
"Siapa suruh Andra lumayan juga tampangnya," kata Faya asal yang sebentar lagi pasti kena jitakan Andin.
"Ya ampun sakit! Segitunya banget lo sama gue!" omel Faya mengelus kepalanya pelan menahan sakit karena kena jitak Andin.
"Lagian lo mau ngincer si Andra juga?" tanya Melodi tersenyum heran dengan sahabatnya yang satu ini.
"Gye udah bilang gue gak akan mau sama cowok sahabat sendiri, kalian semua gak percaya?" kata Faya yang terlihat kesal karena ketidak percayaan para sahabatnya.
"Iya percaya, lagian lo rese' banget orangnya," jawab Andin yang sudah mengerti kelakuan si Faya.
Sebenarnya mereka tidak mempermasalahkan tentang itu semua. Bagi mereka persahabatan adalah persahabatan tidak bisa di hancurkan oleh cinta dan sebagainya. Mereka semua menolak untuk mencintai cowok yang sama.
"Gue bilang lumayan bukan berarti gue tertarik sama orangnya," kata Faya memutar bola matanya jengah.
"Iya Faya, mana mungkin gue punya pikiran kayak gitu? Persahabatan kita gak boleh rusak hanya karena cowok, kan?" kata Andin memeluk Faya erat.
Melodi yang melihat eratnya persahabatan ini tersenyum bersyukur. Setidaknya Melodi masih memiliki orang-orang yang bisa menerima Melodi dengan baik. Melodi bersyukur telah dipertemukan dengan para sahabatnya.
"Samperin sana gue mau cabut dulu dan sampai ketemu besok," Melodi berjalan meninggalkan sahabatnya, tidak lupa melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Hati-hati," kata Andin dan Faya barengan.
Entah kenapa hari ini Melodi merasa angin berhembus kencang. Dia merasa heran biasanya cuaca akan panas tapi ini begitu sejuk. Mungkin cuaca sedang pengertian dengan dia seakan cuaca tau bahwa hatinya butuh suasana yang sejuk untuk melepas rasa panas yang sebentar lagi akan dia rasakan.
***
Rumah, harusnya tempat ini adalah tempat untuk melodi pulang mencurahkan keluh kesahnya setelah seharian di luar rumah, tempat untuk bersandar di kala dia ada masalah. Namun sayang kenyataannya adalah di rumahnya ini dia harus melihat apa yang tak seharusnya dia lihat, mendengar apa yang tak seharusnya dia dengar.
"Huft..."helaan nafas Melodi terdengar begitu lirih.
Melodi saat ini berada didepan rumahnya, dia termasuk dalam orang yang berada. Rumah yang terbangun mewah ini bukan miliknya dia hanya numpang hidup disini. Ada seribu rasa sakit yang tersimpan di dalam rumah ini, ada luka yang tidak bisa di katakan.
"Baru pulang sekolah?" sapa pembantu dirumahnya. Hanya seorang pembantu yang memperhatikan Melodi. Setidaknya menyapanya setiap hari tak mengabaikan seperti yang lainnya.
"Sore Bi, mama udah pulang?" tanya Melodi pada Bi Minah pembantu rumah tangganya.
"Sudah, tadi ibu sempat menanyakan keberadaan Non Melodi," jawab Bi minah.
"Tumben," jawab Melodi aneh, "aku kedalam dulu ya, Bi!" kata Melodi pamit undur diri.
"Baik Non, jangan terlalu dimasukin kehati ya nanti perkataan ibu," jawab Bi Minah. Bi minah tentu tau keadaan keluarga ini karena sudah lama beliau bekerja di keluarga Wirawan.
Pelan-pelan Melodi membuka pintu itu. samar samar terdengar suara tawa dua orang yang entah Melodi tidak tau sedang membahas apa. Ada rasa sakit yang tiba tiba menghantamnya tapi dia abaikan. Selalu seperti ini Melodi selalu mengabaikan rasa sakit ini, menganggap itu semua hanyalah angin yang berlalu. Dia harus tetap tenang meskipun nyatanya dia merasa sedih.
Tanpa melihat siapa yang sedang tertawa, Melodi langsung berjalan menuju kamarnya. Dia lelah tidak ingin berdebat dengan siapapun hari ini.
"Jam berapa sekarang baru pulang?" suara mama Wulan menggema dan menghentikan langkah kaki Melodi. Drama akan segera dimulai.
"Mama tau sendiri sekolah Melodi lebih lama dari sekolah Meli," jawab Melodi malas.
"Banyak alasan! kamu tahu, Meli lebih baik dibandingkan dengan kamu," kata Mama Melodi membanding-bandingkan dirinya dengan saudara kembarnya. Selalu seperti itu menganggap Melodi adalah beban di keluarga ini.
"Memang selalu Meli selalu baik dimata Mama," kata Melodi cuek seperti biasanya.
"Seharusnya kamu contoh saudara kembarmu. Meli penurut,pintar, dan lihat dirimu! kelayapan gak jelas mau jadi apa kamu nanti?" tunjuk Mama Wulan didepan muka Melodi.
"Terserah mama mau bilang apa Melodi apa," kata Melodi menuruti pikiran mamanya, "kalau semua itu memang membuat mama lega anggap saja Melodi memang seperti itu."
Walau mama Wulan membencinya, Melodi tetap saja akan menghormati mama Wulan. Dia tidak lupa yang dihadapannya ini adalah orang yang telah melahirkannya. Terbesit rasa ingin tau dimana keberadaan Papanya, namun Melodi tidak berani bertanya kepada Mamanya. Dia takut akan kena marah lagi, dia hanya ingin tau dimana Papanya berada. Kenapa Beliau tidak pernah perduli akan pertumbuhannya. Apa Papa juga sama mengganggap Melodi tidak ada?
"Berani sekali kamu sama Mama! Seharusnya kamu beruntung masih Mama tampung dirumah ini. Makan dan tidur gratis serta biaya sekolah kamu juga," kata Wulan mengungkit biaya hidup Melodi.
Selalu seperti ini, membuat Melodi semakin muak saja. Seakan Melodi hanya sampah, seakan dia bukan anak kandungnya. Sebenarnya apa kesalahan yang pernah dia lakukan hingga membuat mamanya begitu membenci dirinya. Padahal dia dan meli saudara kembar, Kenapa hanya dia yang dibenci.
"Sudahlah, Ma. Melodi pasti capek biarkan dia istirahat," kata Meli menengahi.
Kenapa selalu Meli. Semua orang selalu menyukai Meli dan menganggap Meli selalu baik dan sempurna tak terkecuali Revan. Mengapa dirumah ini Melodi selalu diperlakukan dengan tidak adil begini, Melodi benar-benar tidak bisa mengerti.
"Mama dan satu anak tersayang kalian berdua memang klop," kata Melodi sambil mengacungkan jembolnya.
"MELODI!" teriakan mama Wulan tidak terima dengan kelakuan Melodi yang semakin lama semakin berani.
"Terserah, aku capek mau istirahat."
Melodi meninggalkan ruang tamu begitu saja. Dia sudah tidak tahan dengan tuduhan yang selalu di lontarkan oleh mamanya. Dimata Mama Wulan Melodi selalu salah, apapun yang dilakukan Melodi, dia akan selalu terkena marah oleh semua orang. Tak terasa butiran air mata jatuh. Ya Melodi menangis ketika berjalan menuju kamarnya. Mengapa hari-harinya begitu menyebalkan seperti ini. Melodi sangat membenci kehidupannya dan keadaannya yang sangat berantakan ini.