Cuaca cerah seakan kelabu, aku masih berdiri dengan kedua mata yang sembab.
Hari ini tepatnya ... aku akan berpisah dengan Dion.
Pria yang menjadi cinta pertamaku.
"Mel, maafkan aku ya, aku harus pergi ...." Ucapnya sambil mengelus rambutku dengan lembut. Dion juga tampak bersedih karena harus berpisah denganku.
Aku pun menangis sesenggukan, dengan suara berat tertahan, aku mengutarakan perasaanku yang teramat rapuh.
"... Dion jujur aku belum rela harus berpisah denganmu. Tapi Ibumu, lebih membutuhkanmu ... aku harap kamu baik-baik saja di sana, tolong jangan lupakan aku ...," tukasku dengan suara bergetar.
Dion memeluku dengan erat dia pun seolah tak ingin meninggalkan aku, tapi di sisi lain dia harus pindah keluar kota karena harus mengurus ibunya yang sedang sakit keras, ditambah lagi, sang ayah sudah menikah dan memiliki keluarga baru di Jakarta, tentu dia tak ingin membiarkan ibunya terlunta-lunta menahan rasa sakit sendirian. Begitu pun aku, yang juga tak ingin menjadi orang yang egois dan mengabaikan kesusahan orang lainya demi kebahagiaan cinta anak SMA, yang bisa dibilang hanya sekedar cinta monyet.
***
Aku mengenal Dion saat pertama kali masuk sekolah.
Kala itu kami sedang mengikuti kegiatan MOS (masa orientasi siswa)
dan aku tak sengaja bertemu Dion saat kami sama-sama dihukum.
"Ayo pokoknya yang telat datang hari ini akan mendapat hukuman ya!" kata kak Dela selaku ketua OSIS.
"Oh my God! Mati deh gue," gumamku panik.
"Tenang kamu gak sendiri kok, aku juga telat, " sahut seorang anak lelaki yang juga baru datang dan sekarang ada di sampingku.
"Wah untung ada teman, kalau egak pasti gue bakal malu banget nih," ujarku sambil menarik nafas lega.
"Oiya kenalin aku Dion, nama kamu siapa?"
tukasnya sambil mengulurkan tangan.
"Ah gue Melisa, seneng deh gue punya teman baru," sahutku seraya menjabat tangan pria itu.
Saat kami sedang asyik mengobrol dan berkenalan tiba-tiba terdengar suara yang melengking dari kejauhan
"WOY! kalian ini malah pacaran disini sih!" teriak Kak Dela dengan lantang, "berhubung kalian telat, jadi kalian dihukum bersihin toilet sekolah sekarang juga!" perintahnya.
Suara Kak Dela memang terkenal sangat cempreng.
Kadang kalau dia berteriak semua orang sampai menutup telinga.
Lalu aku dan Dion pun membersihkan toilet. Menuruti perintah Kak Dela.
'Hoek! Hoek!' Suara mulutku sambil menyikat WC sekolah. Aku tak tahan dengan baunya, terlebih aku jarang sekali membersihkan WC, di rumahku sudah ada ART yang selalu siaga membersihkan toilet dan mengerjakan tugas-tugas yang lainnya.
"Kamu kenapa Mel, kamu hamil ya?" tanya Dion dengan wajah polosnya.
Aku pun menyahuti ucapan Dion dengan nada murka.
"Woy enak aja punya mulut asal njeplak, emang gue cewek apaan main bunting-bunting aja! Gue muntah karna gak tahan tuh sama WC nomer 3 gak disiram! Iyuh ... mana bau banget!" keluhku jijik.
Sementara Dion malah tertawa geli melihat ekspresiku yang mungkin terlihat lucu di matanya.
"Iya maaf, eh ... Mel, mulai sekarang ngomongnya 'aku-kamu' aja ya, biar kelihatan imut gitu jangan 'lo-gue' kesanya kayak Abang-abang Preman Tanah Abang, yang lagi malak!" ucap Dion dengan nada bercanda.
Saat Dion berbicara seperti itu, entah mengapa aku jadi deg-degkan padahal hanya bercandaan Dion yang super-duper garing, tapi aku merasa bahagia dan mulai merasa nyaman dengan keberadaan Dion. Mulai dari situ kami pun semakin akrab.
Aku dan Dion selalu bersama-sama bahkan kami juga duduk dalam satu bangku di kelas 10 A.
Dion adalah teman pertamaku saat SMA dan siapa sangka dia pun juga menjadi cinta pertamaku.
***
Di dalam kelas yang sepi di jam istirahat, semua siswa dan siswi sedang berada di kantin, tapi tidak denganku saat itu.
Karna aku sedang tidak enak badan jadi nafsu makan pun berkurang, lalu aku memutuskan untuk diam dikelas dan memilih tidur dengan menaruh kepalaku di atas bangku.
Tak lama Dion menghampiriku.
"Mel kamu sakit ya? Badan kamu panas nih," Dia menyentuh keningku.
"Hm ... iya ni gue sakit, Dion, eh 'aku' maksudnya," jawabku yang hampir saja memanggi diriku sendiri dengan sebutan 'gue' kata yang tak disukai oleh Dion.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Dion.
"Badan aku gak enak, aku mual, kepalaku juga pusing," jawabku.
"Hah kamu hamil?"
Sahut Dion sambil ngegas dengan nada sopran.
Astaghfirullah! Lagi-lagi mulutnya asal njeplak dan menuduhku hamil!
"Woy! Enak aja lu kalau ngomong jangan asal nyerocos dong! Nanti kalau kedengeran orang disangka beneran lagi!" ocehku.
"Hehe bercanda Mel, marah mulu kayak orang darah tinggi aja, yaudah kita ke klinik yuk!" ajaknya.
"Ah enggak ah ... aku tidur aja," jawabku
"Terus kamukan belum makan, aku beli makan dulu ya buat kamu!" ucap Dion sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Ah gak usah, aku gak papa kok," ujarku lemas, karna aku memang benar-benar sedang tidak ingin makan apapun untuk saat ini.
"Udah kamu diem aja ya!" teriak Dion yang tetap ngeyel.
Aku pun pasrah, dan kembali menaruh wajahku di atas meja.
Beberapa menit kemudian dia membawa banyak makanan dari kantin beserta obat masuk angin cair dicampur dengan teh hangat.
Sambil menepuk pelan pundaku yang sedang tidur menunduk dibangku, dia memanggil namaku.
"Mel, ini kamu makan dulu ... aku suapin ya?"
Mendengarnya aku langsung mengangkat kepalaku pelan-pelan.
"Hah ... buset banyak amat ni makanan lu ngegondol dari mana?!" teriakku dengan bahasa nyablak, kalau kata orang Betawi. Aku berbicara dengan logat ala orang Betawi, padahal aku adalah gadis berdarah Jawa. Hanya saja karna lahir dan dibesarkan di Jakarta, membuatku menjadi ikut membaur dengan penduduk asli sini.
"Sembarangan aja 'ngegondol' emang aku kucing gondol ikan! Aku mah Pangeran yang ngegondol hati kamu, tau ...." Ucap Dion dengan senyum sok imutnya.
"Iyuh, gombal lu!" ujarku dengan nada sewot seolah tak suka dengan gombalan Dion, padahal dalam hatiku, aku sangat menyukainya dan bahagia dengan gombalan-gombalan norak itu.
"By the way, anyway, busway, ngomongnya jangan 'lu-gue' dong aku gak suka ah entar aku ngambek lo," Dion kembali memang wajah sok imutnya kali ini dengan ekspresi cemberut.
Aku pun juga tak mau kalah imut darinya.
"Yaelah lebay banget sieh kamuh ...!" Nada suaraku sengaja kubuat agak bindeng.
Dion malah menertawakanku. Lalu dia menyodorkan teh hangat untukku.
"Dah ni minum aja gak usah ngambek mulu entar cepet tua tambah jelek lo!" ujarnya.
*****
Kami pun pulang dengan mengendari angkutan umum. Lalu berhenti di perempatan jalan gang masuk, kami memang searah, dan rumah Dion pun tak begitu jauh dari rumahku.
Saat kami berjalan kaki, tiba-tiba kepalaku mendadak pusing, lalu aku tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian ... entah apa yang terjadi tiba-tiba aku sudah bangun dan berada diatas sofa rumahku.
"Loh kok aku tau-tau ada disini sih?" tanyaku pada Dion heran.
"Iya Mel, kamu tadi pingsan jadi aku bawa kerumah aja," tegas Dion
"Oh makasi ya Dion kamu udah gendong aku sampek sini, untungnya aku gak gendut, jadi kamu gak keberatan, gendongnya," ujarku dengan nada bercanda.
"Ye gak berat apaan! Kamu emang kurus tapi badan kamu tetap berat! Soalnya kebanyakan dosa sih!" celetuk Dion meledek.
"Ah apaan si lu!" sengutku kesal.
"Udah jangan marah yang penting kamu makan dulu abis itu minum obat, tadi aku panggil Bidan yang tinggal di samping rumah kamu itu, untuk memeriksa keadaanmu," pungkas Dion.
Aku sampai kaget mendengarnya, karna mengapa harus panggil Bidan? Padahal aku ini tidak hamil?
"Dion! Kamu sampai panggil Bidan?" teriakku heboh. Dan Dion malah tampak bengong.
"Pasti kamu masih mikir kalau aku ini hamil ya?"
Sambil menghela nafas kesal, Dion menjawab pertanyaanku.
"Duh kamu tu seuzon mulu, emang periksa bidan kusus buat orang hamil doang?" ucapnya.
sejenak aku diam dan bicara dalam hati 'Oiya ya, 'kan bidan juga bisa ngobatin orang sakit gak cuman orang lahiran aja, aduh malunya ...!' Aku menepuk kening sendiri.
Setelah itu Dion tak langsung pulang ke rumahnya, justru dia malah menemaniku yang sedang sakit sendirian, karena waktu itu ayah dan ibu sedang diluar kota, si Embak yang bekerja dirumahku juga sedang pulang kampung.
jadilah apa saja kulakukan sendiri. Mungkin Dion tak tega untuk meninggalkanku.
Saat aku sedang meringkuk di sofa, Dion mengambilkan selimut untukku.
Terasa begitu nyaman, karena memang kala itu tubuhku sedang menggigil kedinginan.
Aku mulai memejamkan mata, tiba-tiba Dion, menggengam tanganku dengan pelan, tapi semakin lama genggaman itu semakin erat. Mendadak suasana menjadi senyap. Dan jantungku seolah ingin loncat. Karena aku berfikir pasti Dion akan menyatakan perasannya kepadaku ....
Ternyata dugaanku memang benar, Dion menyatakan perasaannya kepadaku. Atau dalam bahasa gaulnya 'nembak'
"Mel, sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau enggak jadi pacar aku?"
Bersambung ....
Hembusan angin pagi begitu lembut dengan percikan sinar mentari dari balik pohon rindang.
Aku baru saja terbangun.
Kokok ayam tetangga dan kicauan burung liar menandakan, jika sudah saatnya tersadar dari mimpi serta meninggalkan selimut tebal dan kasur empuk.
Tapi sayangnya aku masih belum siap membuka mata, walau aku sadar jika ini sudah pagi.
Rasa kantuk mengalahkan segalanya ... aku pura-pura tidur lagi saja. Masih terlalu malas....
Ring...!
Suara jam weaker yang memekik telinga, membuatku terbangun dari rasa kantuk yang teramat berat. 'terpaksa'
"Hoam... udah pagi aja ni," Aku duduk di atas kasur dengan raut wajah yang masih malas, rambut acak-acakan, serta berkali-kali terus menguap. Tak sengaja aku menoleh kearah foto pria yang terpajang di atas meja kamarku. Terlihat senyuman yang khas dari Dion, membuatku rindu.
"Dion hari ini lagi ngapain ya?"
Sekejap kuraih ponsel yang selalu kutaruh di dekat bantal, kemudian aku menelpon Dion.
beberapa detik kemudian video call tersambung.
"Hallo, Dion! Selamat pagi!" sapaku dengan ceria.
Dion pun tersenyum sepertinya dia juga baru bangun tidur.
"Halo, Pacarku, tumben pagi-pagi udah telepon kangen ya?"
"Ah tau aja udah kayak Dukun, hehe," godaku kepada Dion.
"Ih masa dibilang Dukun, sih? Aku ini bukan Dukun, tapi aku adalah Cenayan, di hatimu! Ciye...!" Lagi-lagi Dion menggodaku dangan gombalannya yang super garing, tapi entah mengapa gombalan itu yang selalu kunantikan.
"Gombal ah!" sengutku.
"Tapi suka,' kan?" Dion meledeku.
"Ih apaan sih!"
***
Hari ini tepat satu bulan sudah, aku berpacaran jarak jauh dengan Dion, meskipun begitu kami tetap saling berhubungan lewat dunia maya, aku sibuk dengan urusan sekolah di sini, dan Dion juga sibuk dengan urusannya di sana. Hidupnya lumayan berat, harus sekolah sembari menjaga sang ibu yang sedang sakit.
"Dion gimana kabar ibumu?"
"Yah begitulah, Mel, aku tidak yakin akan kesembuhan Ibuku," keluh Dion dengan wajah penuh putus asa.
"Dion, kamu yang sabar ya ... liburan semester ini aku janji akan ke Semarang, untuk menjenguk ibumu," ujarku.
Seketika tatapan Dion yang awalnya lemas berubah menjadi semangat.
"Serius, kamu akan ke Semarang!?" tanya Dion antusias.
"Iya, Dion. Sekalian aku mau jenguk Nenek,"
Dion tersenyum kepadaku, "Makasi ya, Mel, aku menunggu kedatanganmu," tukasnya sambil tersenyum bahagia, lalu kami mengakhiri obrolan kami, karna sebentar lagi harus bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
***
Tak terasa liburan semester pertama telah tiba.
Aku memenuhi janjiku kepada Dion.
Aku sudah bersiap untuk pergi ke Semarang bersama dengan Tante Diani, dia adalah Adik dari Papaku.
Tante Diani, ingin berkunjung ke rumah Nenek, sehingga aku pun memutuskam untuk pergi bersamanya. Lagi pula Nenek tinggal satu kelurahan dengan Ibu-nya Dion, hanya berbeda desa saja. Aku juga baru tahu akan hal ini, Dion baru bercerita.
Tentu saja aku sempat terkejut, dan timbul keinginan untuk pergi kesana. lagi pula sudah cukup lama aku tidak berjumpa dengan Nenek, sejak aku masih kecil dulu.
***
Kami berangkat dengan menumpangi bus jurusan Jakarta-Semarang. Terpaksa kami menaiki angkutan umum, karna Tante Diani, belum berani mengendarai mobil sendirian apa lagi perjalanan jauh begini.
****
Singkat cerita kami sudah sampai di salah satu terminal kota Semarang. Kami berhenti di sana dan melanjutkan perjalanan dengan menumpangi ojek.
Karna letak rumah Nenek tak jauh dari terminal.
***
"Akhirnya sampai juga di kampungku," Tante Diani menghela nafas lega, "itu rumah yang warna catnya hijau, rumah Nenek-mu lo, Mel!" kata Tante Diany sambil menunjuk kearah rumah sederhana.
"Wah beda banget ya, Tante! Perasaan dulu waktu Mel, masih kecil rumahnya gak kayak gitu deh! Kalau gak salah masih pakai bilik bambu!" ujarku yang masih pangling.
Lalu Tante Diani membalas ucapanku.
"Ya kali, Mel! Itu tahun kapan!?" sengutnya. "Makanya sering-sering main kerumah, Nenek, dong!" ujar Tante Diani memarahiku.
"Hehe... iya, Tante, tapi Mel, 'kan gak berani pergi sendirian, lagian rumah Nenek, 'kan jauh, kalau dekat pasti Mel, samperin!" tukasku sambil nyengir tak berdosa .
"Ah, alasan aja! Sekarang aja kalau bukan karna Dion, pasti juga gak bakal ikut Tante kesini!"
"Ih, Tante, kok Mel malah digalakin sih?" keluhku sambil cemberut, dan Tante Diani mendengus kesal.
"Tau ah!"
***
Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum" Tante Diani mengetuk pintu sembari mengucap salam.
Lalu terdengar suara orang membukakan pintu.
Ceklek!
"Walaikumsalam," Seorang wanita tua menyapa kami dengan ramah.
"Eh Diani! Eh... yang satu ini siapa ya?" Wanita tua itu tak menyadari jika aku adalah cucunya.
"Ih, Nenek jahat masa lupa sih sama, Mel," ucapku dengan wajah cemberut
"Hoho, Nenek bercanda, Mel! Masa iya, Nenek lupa sama cucu Nenek yang paling cantik ini!" ujarnya dengan tertawaan khas.
"Makasih, Nek! Udah bilang Mel, cantik!" sahutku agak narsis.
"Iya dong cucu Nenek memang cantik, wajahnya sama persis dengan wajah Nenek yang masih muda dulu!" ucap Nenek dengan penuh percaya diri.
"Asataga!" Aku dan Tante Diani tertawa lantang, "Nenek-nya, siapa sih ini?" ledekku.
Kucubit manja pipinya yang sudah keriput, "udah tua masih narsis aja ya,"
"Ya sudah ayo masuk Kakek-mu, sudah menunggu di dalam," ajak Nenek.
Lalu kami masuk kedalam rumah, dan disambut oleh Kakek dengan ramah. Kemudian kami mengobrol sambil minum teh hangat ditemani camilan khas kampung.
Sejenak aku teringat dengan Dion, karna tujuan awalku kemari memang ingin bertemu dengannya. Sambil menyeruput teh hangat buatan Nenek, aku berfikir dalam hati, setelah lelahku hilang, mungkin aku akan pergi ke rumah Dion. Tapi sekarang aku nikmati dulu kebersamaanku bersama Kenek dan Kakek. Aku tahu beliau sangat merindukanku.
"Mel, gimana nilai sekolahmu semester ini?" tanya Kakek.
"Alhamdulillah, Mel, dapat peringkat satu, Kek!" jawabku.
"Wah, bagus itu, Kakek bangga sama kamu. Terus tingkatkan prestasi ya, Mel! Nanti kalau kenaikan kelas kamu dapat peringkat satu lagi, Kakek akan memberimu hadiah," ujar Kakek menyemangatiku.
"Wah, beneran nih, Kek?!" tanyaku antusias.
"Yah benar dong!"
"Dengerin tuh, Mel! Pikirin prestasi juga, jangan malah mikirin cowok terus!" ledek Tante Diani.
"Apa? Cowok? Mel, udah punya pacar ya?" tanya Nenek yang penasaran.
"Ih, Nenek, kepo deh! Jangan dengerin, Tante Diani, dia itu suka hoax!" jawabku sambil melirik Tante dengan sinis.
"Emmm, hoax ya?" dungus Tante Diani dengan lirikan menyindir.
"Hoax, itu apa ya?" tanya Nenek dengan polosnya.
"Hoax itu, Nek, yang suka dibikin dodol, kalau di Jogja," jawab si Kakek ngasal.
"Ih, Kakek, ini ngacok deh! Itu mah salak, Kek! Bukan hoax!" sahut Nenek, lalu kami semua tertawa dengan lantang.
Kakek dan Nenekku ini memang senang bercanda, sehingga siapapun yang dekat dengan mereka pasti akan tertawa, karna ada saja hal, yang menjadi topik bercandaan mereka.
Bersambung....
Puas sudah aku mengobrol panjang lebar bersama Nenek dan Kakek. Kemudian Tante Diani beranjak kekamar untuk tidur, karna memang perjalanan dari Jakarta ke Semarang sangatlah melelahkan. Tapi bagiku rasa lelah itu hampir tak terasa karna tertutupi rasa rindu yang mendominasi di fikiran.
Saat Tante Diani beranjak ke kamar aku pun meminta izin kepada Nenek dan Kakek, untuk ke rumah Dion.
"Nek, Kek, Mel minta izin pergi kerumah teman dulu ya?" ujarku.
Lalu Nenek dan Kakek tampak heran karena aku hampir tak pernah datang kemari tapi kok sudah memiliki kawan.
"Lo memangnya temanmu itu siapa to, Mel? Kamu, 'kan jarang kemari, dan teraktir datang ke rumah Nenek, saat kamu masih berusia 6 tahun, itu lama sekali lo? Kok kamu bisa punya teman sih?" tanya Nenek secara beruntun.
"Ah ada dong, Nek, dia baru pindah di kampung ini gara-gara Ibunya yang sedang sakit, emm... kalau gak salah nama Ibunya tuh, Bu Ningrum," jelas ku kepada Nenek.
"Owh, si Bocah Ganteng, itu to?" ujar Nenek sambil tersenyum, "yang rumahnya di samping sungai?"
"Nah itu dia, Nek!"
"Owalah, dulu ibunya itu, tukang jait langganan Nenek, kalau mau bikin baju Nenek selalu datang ke rumahnya, soalnya hasil baju bikinan, Bu Ningrum itu bagus-bagus sekali, tapi sekarang sayang beliau sedang sakit keras," tutur Nenek.
"Wah ternyata Nenek, kenal ya? Em... kalau gitu Mel, boleh kesana ya, Nek?"
"Ya boleh dong! Oh iya sekalian bawain oleh-oleh ya kebetulan Nenek tadi baru bikin kue," ujar si Nenek.
"Ah iya, Nek,"
Nenek langsung pergi ke dapur sebentar, lalu keluar lagi dengan membawa kantung kresek warna putih.
"Ini kuenya, jangan lama berikan kepada Bu Ningrum, dan kamu juga harus hati-hati di jalan ya," pesan Nenek.
"Iya, Nek,"
"Eh, satu lagi!"
"Ap itu, Nek,"
"Nanti kalau ada anak badung, godain kamu jangan takut, bilang kalau kamu itu cucu Nenek, pasti mereka gak bakalan berani berkutik!" pesan Nenek kepadaku, tapi nada bicaranya sudah mirip dengan Abang-abang Preman, hehe... beliau ini memang sangat lucu.
"Siap, Nek!" Aku langsung mengangkat tangan kanan dan formasi hormat bendera.
"Kalau gitu Mel, berangkat dulu ya!" Kucium tangan Nenek dan beranjak pergi.
Sambil berjalan aku berkali-kali mengecek ponselku dan membaca ulang alamat yang dikirimkan oleh Dion. Meski letaknya sangat strategis dan tidak terlalu jauh, tapi aku masih ragu, dan takut kalau nanti malah tersesat.
Namun sampai di pertengahan jalan aku bertemu dengan segerombolan anak muda, yang sedang berkumpul dan bermain gitar bersama.
Rasanya aku sangat malu untuk lewat di depan mereka. Terlebih aku adalah orang asing di sini, lalu bagaimana kalau mereka berbuat jahat kepadaku?
Duh, lama-lama aku takut ....
Tapi yasudahlah, aku lewat saja, toh sebentar lagi juga sampai, tanggung kalau harus putar balik.
Saat aku berjalan tepat di depan mereka tiba-tiba saja, kakiku menyandung sesuatu, hingga aku terjatuh. Kantung pelastik kue yang kubawa juga terjatuh, begitu pula dengan ponselku, benda pipih itu tergelincir.
Huft... benar-benar situasi yang menyebalkan.
"Walah ada, Gadis Ayu, mau kemana? Sini biar Mas, bantuin!'' ujar salah seorang pemuda itu.
Aku pun terdiam dan berusaha bangun sambil memungut kantung kresek dan ponselku. Mendadak aku dikagetkan oleh seorang pemuda yang menghampiriku, dia membantuku berdiri.
"Ayo, Mbak, saya bantuin," ucapnya.
Aku merasa deg-degan, pemuda itu memang tampan, tapi penampilannya sangat urakan. Dia menggunakan kaus hitam di padu dengan celana jeans yang sobek-sobek, rambutnya juga acak-acakan. Aku lihat penampilan pemuda yang lainnya pun sama. Apa mereka itu kelompok para, Preman?
Bagaimana ini? Aku takut sekali!
"Mbak, ayo bangun! Mbak-nya, mau diem di sini aja?" tukasnya, seraya mengulurkan tangan kearahku.
Akhirnya dengan ragu-ragu aku meraih tangan pemuda itu. Lagi pula aku tidak boleh berpikiran buruk dulu, dan aku juga teringat dengan pesan Nenek tadi sebelum aku berangkat.
Kalau ada yang macam-macam atau menggodaku, tinggal bilang saja kalau aku cucunya Nenek Sugiyem, pasti mereka tidak akan berani lagi.
Entah benar atau tidak ucapan si Nenek, tapi aku rasa tidak perlu memberitahu pemuda ini, toh dia juga tidak macam-macam kepadaku.
"Ini ponselnya, Mbak," Pemuda itu juga mengambilkan ponselku yang terjatuh.
"Terima kasih," ucapku.
"Memangnya, Mbak, mau kemana? Mau saya antarkan?" tanya Pemuda itu dengan sopan. Benar-benar penampilannya yang mirip preman ini tidak sesuai dengan tutur katanya yang lambut, dan dari raut wajahnya terlihat sekali jika anak ini juga tulus menolongku.
"Ah gak usah, Mas, terima kasih," Aku pun juga menolaknya dengan sopan.
"Udah, gak apa-apa, biar saya antarkan!" paksanya sambil mengambil motor.
"Gak usah, Mas! Beneran, saya jalan kaki aja," ujarku.
"Udah ayo, Mbak! Rezeki gak boleh ditolak lo," ucapnya.
"Tapi—"
"Udah, gak usah takut sama saya, karna saya ini orang baik, bukan orang jahat!" ucapnya meyakinkanku.
Akhirnya kuterima saja ajakannya, lagi pula berjalan kaki itu lumayan melelahkan.
"Ah yasudah deh, saya mau! Terima kasih ya, Mas!" ucapku.
"Iya!"
Sepanjang perjalanan menuju rumah Dion, sama sekali aku tak mengobrol dengan pria yang sudah memboncengku ini, karna aku belum mengenalnya, lagi pula aku adalah tipe orang yang tidak bisa langsung akrab dengan orang yang baru kutemui.
Huh... rasanya benar-benar sangat canggung.
kemudian pemuda itu mencoba bertanya kepadaku, mungkin dia ingin mencairkan suasana.
"Oh iya, ngomong-ngomong, Mbak ini namanya siapa? Dan tujuan kita ini mau kemana?"
Ya Tuhan, aku sampai lupa memberitahu kemana tujuanku kepadanya.
"Nama saya Melisa, Mas! Dan saya mau ke rumah, Bu Ningrum," jawabku.
"Oww ...." Dia mengangguk paham, dan sekarang motornya malah sudah berhenti di depan rumah sederhana dengan pagar besi setengah badan berwarna biru.
"Loh, kok berhenti?" tanyaku heran.
"Ini rumah, Bu Ningrum, Mbak," jawabnya.
"Oh, sudah sampai ya?" ucapku sambil menuruni motor.
"Ya sudah, saya langsung pergi ya, Mbak!"
Rueng!
Dia berlalu begitu saja dengan motornya, padahal aku belum sempat berterima kasih dan bertanya siapa namanya?
Ah yasudahlah, salah siapa langsung ngibrit. Aku langsung memasuki gerbang.
Lalu kuketuk pintu rumah itu.
Tapi sepertinya tidak ada orang, aku mengulangi kata 'Assalamu'alaikum' dan bolak-balik mengetuk pintu, tapi tak ada yang menyahutiku.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kursi teras, sambil membuka ponsel dan segera menghubungi Dion.
Drrtt...
"Halo Dion kamu dimana?" tanyaku.
[Aku lagi jalan pulang dari rumah sakit, Mel!] jawabnya.
"Masih lama ya?"
[Enggak sih, sebentar lagi juga sampai rumah, memangnya ada apa?]
"Aku sudah ada di depan rumah kamu, Dion! Dan aku lagi duduk di kursi teras,"
[Hah! kamu udah sampai kampung?!]
"Iya, Dion,"
[Yes! Tingguin ya!] Dion terdengar girang.
"Eh, pelan-pelan aja nyetirnya, Dion! Kamu lagi bawa mobil, 'kan?"
[Iya, Sayang, ini juga pelan kok, kan aku lagi bawa Ibu,]
"Oh, yasudah hati-hati ya,"
[Iya, Calon Istri....]
"Ih, apaan sih!"
Aku langsung mematikan telepon, karna Dion sedang dalam perjalan, bahaya bermain ponsel saat berkendara.
***
Tak berselang lama terlihat mobil berwarna putih memasuki gerbang rumah Dion.
"Itu pasti, Dion," Aku langsung berdiri.
Tin!
Dion menekan klakson dengan kencang. Sengaja supaya aku kaget, 'Emang dasar iseng!'
Ceklek!
Dion keluar dari dalam mobil sambil tersenyum lebar.
"Melisa!" panggilnya sambil berlari menghampiri dan bersiap memelukku. Tangannya sudah mengepak dua-duanya mirip burung yang akan terbang.
Aku pun terdiam pasrah, dia benar-benar memelukku, ini mirip adegan di film India.
Entah harus disebut romantis atau norak?
"Mel, kangen ...." Ucapnya.
"Sama aku juga kangen," jawabku.
"Tapi ...,"
"Tapi apa, Mel?"
"Tapi, Ibu kamu mana?" tanyaku.
"Astaga!" Dion menepuk keningnya sendiri, "Ibu, masih ada di dalam mobil!" ujarnya.
Dion langsung melepas pelukannya lalu berjalan menghampiri sang Ibu.
"Aduh, Bu, maafin Dion yang durhaka ini, Bu. Tolong jangan kutuk Dion, jadi batu ya," bicara Dion sambil menuntun sang ibu keluar dari dalam mobil.
Dia membawa ibunya mendekat kearahku.
Aduh, rasanya benar-benar deg-degan, aku bertemu dengan Ibu-nya Dion. Aku takut kalau beliau tidak menyuakiku.
"Bu, kenalin ini pacarnya, Dion namanya, Melisa!" ucapnya Dion mengenalkanku dengan bangga kepada ibunya.
Aku pun tersenyum ramah sembari meraih tangan beliau yang begitu kecil.
"Salam kenal, Tante," tukasku.
Wanita kurus dengan wajah pucat, dan tubuh yang terlihat sedang lemas ini, juga menyambutku dengan hangat. Terlihat betul jika beliau ini adalah orang yang baik.
"Wah ini to yang namanya,
Melisa? Ayu tenan!" tukasnya sambil mencolek daguku. Nada bicaranya begitu khas logat Jawa Tengah.
"Ah, Tante, bisa aja," ujarku malu-malu.
"Oh iya, Mel, bawa kue dari Nenek Sugiyem, Nenek-nya, Mel" aku menyodorkan plastik berisi kue kearahnya.
"Lo ternyata kamu cucunya, Nenek Sugiyem, to?''
"Ah iya, Tante," jawab ku
"Ah manggilnya 'Bu' aja biar kompak kaya Dion," tukasnya.
"Baik, Bu," jawabku sambil mengangguk.
Kemudian Bu Ningrum masuk kedalam kamar sembari berpamitan kepada kami.
"Yasudah, Ibu mau istirahat dulu, kalian ngobrol berdua aja ya,"
"Iya, Bu!" sahut Dion.
"Dion, ingat anak orang jangan diapa-apain," pesan Bu Ningrum.
"Iya, Bu! Ya Allah, curigaan banget sama anak sendiri," keluh Dion dengan nada bercanda.
"Ibu ngingetin, bukan curiga!" tegas wanita paruh baya itu.
***
Kami kembali mengobrol di teras rumah.
"Pacarku Mel, ini ternyata makin cantik aja ya," ledek Dion sambil mencolek pipi kiriku.
"Ah kumat deh gombal!" sengutku.
"Ih serius!"
"Ah, kamu mah, Raja Gombal!" cercaku.
Kami masih mengobrol bersama, membahas segala topik, di
mulai kisah sehari-hari hingga masalah keluarga, lalu sampailah aku membahas tentang sekolah.
"Dion, gimana dengan sekolahmu?"
"Sekolah...." Dion terdiam sesaat, dan dia menundukan kepalanya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya sangat kecewa, lalu dia menghela nafas dan menjawab pertanyaanku.
"Aku berhenti sekolah, Mel," jawabnya.
Mungkin ini karna dia yang terlalu sibuk mengurus sang ibu, lagi pula di sini dia tak memiliki saudara lagi.
Mau tak mau dia sendiri yang harus menjaga ibunya dan mengantarkan beliau pergi ke dokter.
Bu Ningrum, memiliki penyakit komplikasi, dan belum lama ini beliau juga difonis leukimia.
Aku bisa memahami bagaimana sulitnya Dion, aku tidak perlu mengintrogasinya, ini malah akan menambah beban baginya. Hanya saja aku kecewa, karna melihat anak cerdas seperti Dion, harus putus sekolah dan berhenti mengejar cita-citanya, sejenak aku tertegun.
"Mel, kenapa diam? Kamu pasti kecewa ya sama aku? Karna aku bukanlah orang yang bisa kamu banggakan?" tanya Dion yang tampak gelisah. Aku masih terdiam, karna bingung harus berkata apa?
Selang beberapa saat, Dion berbicara lagi.
"Aku ngerti kok Mel, aku memang payah kalau pun kamu akan meninggalkanku untuk mencari yang lebih baik dariku ... aku rela kok," pungkasnya.
Air mataku jatuh mendengar pernyataan Dion. Tidak mungkin aku meninggalkannya yang sedang terpuruk ini. Aku bukan gadis yang jahat?
"Ah kamu ngomong apa sih? Aku gak bakal ninggalin kamu, Dion. Aku janji bakal setia sama kamu kok, dan terus support apa pun pilihan kamu!" ujarku meyakinkanya.
Dan Dion pun tersenyum, Dia mengusap rambutku lalu mengecup keningku dengan hangat, "Makasi ya, Mel," lirihnya.
Bersambung....