"Heh, kamu mau kemana?" Tanya Nenek itu sambil menarik kerah baju Anisa.
"Eh, Nenek. Aduh, kenapa malah di tarik? Ini itu aku akan mengejae suami aku. Ah ya sudah lah ayo Nenek ikut." Anisa mengangkat Nenek itu ke atas motor dan memakaikan helm dengan cepat, hingga menutup wajah Nenek itu.
"Astaga, ini menutup wajah saya!" Nenek itu memegang helm dan memukul pundak Anisa.
Anisa membawa motor dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Nenek itu ketakutan dan memeluk Anisa dengan kencang.
Hingga sampai di mana kecepatan mobil itu ternyata tidak bisa ditandingi oleh motor yang ke bawa oleh dirinya, hingga akhirnya Anisa memilih untuk berhenti dan tidak melanjutkan untuk mengejar mobil suaminya. Awalnya Anisa berpikir itu hanya mirip suaminya saja, namun disaat ia memastikan jika itu adalah mobil suaminya, ia yakin jika orang yang ada dalam mobil itu adalah suaminya dan wanita yang sedang merangkul tangan suaminya itu begitu sangat familiar di matanya. Anisa berhenti dan turun dari atas motor, tentu saja Nenek yang dibawa oleh Anisa menatap Anisa dengan tatapan bingung, karena wajah Anisa terlihat begitu sangat sedih. Nenek tersebut langsung membuka helmnya dan duduk di samping Anisa.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu sangat sedih? Memangnya apa yang terjadi? Kenapa suami kamu harus kamu kejar?" Tanya Nenek itu.
"Entahlah Nek, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, akhir-akhir ini Suamiku begitu berubah dan menuntutku untuk mengubah penampilanku dan tadi aku melihat dia dengan wanita lain sedang bermesraan di dalam mobil, wanita itu aku sangat mengenalnya dan sepertinya.." ucapan Anisa terhenti.
Ia langsung tersadar, bahwa tidak seharusnya ia bercerita tentang apa yang ia alami kepada orang lain. Anisa menggelengkan kepada.
"Ah tidak, tidak jadi, Nenem mau ke mana? Akan aku antarkan, ini sudah malam. Nenek tidak baik jika terus berada di luar seperti ini, nanti jika Nenek ada yang menjahati bagaimana?" Nenek itu melihat ke sana kemari, ia membuang lepasnya dengan kasar.
"Tidak tahu ini, tidak tahu harus kemana. Apakah kamu mau mengantarkan Nenek ke hotel tempat Nenek menginap?" Dengan tatapan penuh harap. Tidak seperti awal mereka bertemu.
"Loh kok ke hotel? Memangnya Nenek baru pertama kali datang ke kota ini?"
"Iya, saya baru pertama kali datang ke kota ini, karena Nenek ingin bertemu dengan cucu Nenek yang tinggal di sini, dia baru juga baru tinggal di sini beberapa bulan yang lalu, ternyata Nenek malah nyasar. Nenek kira tempat tinggalnya dekat dengan hotel yang Nenek tempati. Tetapi ternyata tidak," Anisa yang mendengar itu langsung bangkit.
"Baiklah, kalau seperti itu ayo kita berangkat!" Riko sudah sampai di kediaman wanita tersebut. Ia langsung membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan wanita kesayangannya untuk turun.
"Silakan turun Sayang, jangan lupa istirahat." ucap Riko sambil mengeluh rambut wanita itu dengan begitu lembut dan mengecup bibirnya dengan sekilas. Wanita itu tersenyum manis.
"Terima kasih, kamu selalu membuat aku puas dan terima kasih atas kalung yang kamu berikan." ucap wanita itu sambil memainkan kalung yang ia pakai. Riko menganggukkan kepalanya dan tepat di mana di pintu masuk rumahnya, ternyata ada Mama wanita itu yang sedang berdiri sambil tersenyum, serta menyilangkan kedua tangannya.
"Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang, nanti istri kamu bakalan curiga kalau kamu tidak pulang, besok kan kalian masih bisa bertemu." ucap Mama wanita itu "Mama. Iya aku akan pulang, tolong jaga kekasihku ya." ujar Riko dan dia langsung pergi dari sana.
Anisa sudah sampai di hotel di mana tempat Nenek itu tinggal.
"Nenek bisa kan masuk ke dalam sendiri? Aku akan pulang, karena aku rasa aku saat ini sudah begitu lelah."
"Iya bisa, terima kasih ya. Dan ini kartu nama Nenek, kalau ada apa-apa kamu hubungi saja nomer itu." Anisa melihat itu hanya menatap dengan tatapan aneh dan bingung, karena untuk apa ia mengambil kartu nama tersebut, karena ia kenal saja tidak dengan orang yang ada di hadapannya, tanpa banyak bicara Anisa langsung mengambil kartu itu dan pergi dari sana. Zesampainya ia di rumah, ternyata Ia bersamaan dengan Riko yang baru pulang dari entah berantah. Anisa turun dari motornya dan menyimpan helmnya di tempat biasa, ia menatap suami dengan tatapan tajam. Zedangkan Riko yang baru keluar dari mobilnya tentu langsung bersikap biasa saja, ia tidak mau menunjukkan sikap mencurigakan. Jika ia baru saja pergi dan bertemu dengan wanita lain.
"Habis dari mana kamu Anisa? Kenapa kamu pergi tanpa berbicara dulu dan minta izin kepada aku?" Tanyak Riko. Anisa yang mendengar itu langsung mengangkat halisnya Satu.
"Untuk apa aku meminta izin kepada kamu? Kamu saja pergi dari rumah ini tanpa berbicara dulu kepadaku dan juga.." Anisa berjalan mendekati suami dan mengelus-endus tubuh suaminya, hal itu tentu saja membuat Riko langsung membulatkan matanya, karena Anisa begitu sangat aneh. "Apa-apaan sih kamu Anisa, kenapa kamu malah seperti ini? Seperti tidak punya pekerjaan saja." Anisa langsung melipat kedua tangannya.
"Tidak, aku hanya mencium bau perempuan di tubuh kamu, kamu habis dari mana? Apakah begitu menyenangkan di luar, hingga sampai kamu melupakan aku ini? Sampai puluhan kali aku menghubungi kamu, kamu tidak mengangkatnya." Riko yang mendengar itu langsung gelagapan.
"Tidak, aku sibuk dengan kerjaanku. Kamu kenapa malah berbicara seperti itu? Awas! Aku mau mandi, aku capek. Jangan cari gara-gara Anisa." Riko mendorong tubuh Anisa. Anisa yang didorong seperti itu dia tersenyum miris. Ia mengepalkan tangannya dan bertekad untuk mencari tahu kebenaran, apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak mau jika sampai ia kecolongan nantinya.
Pagi harinya di saat Anisa hendak mencuci pakaian suaminya, seperti biasa ia terlebih dahulu mengecek pakaian suaminya, siapa tahu ada barang yang tertinggal. Namun, siapa sangka, ia malah melihat tanda bibir yang begitu merah di kerah baju suaminya, hal itu tentu saja membuat darah Anisa mengalir dengan sangat deras dan juga detak jantungnya begitu sangat kencang, ia meremas pakaian itu.
"Jadi, mereka sudah sejauh ini, apa yang mereka lakukan di belakangku?" Tanya Anisa pada dirinya sendiri.
Hingga di mana, disaat Anisa sedang terbelenggu dengan pikirannya sendiri Riko dari luar memanggil namanya dengan begitu sangat kencang.
"Anisa, Anisa. Di mana kamu? Cepat datang ke sini!" teriak Riko dengan beberapa kali. Anisa langsung tersadar dan ia langsung melempar pakaian itu ke dalam mesin cuci dan ia langsung keluar untuk menemui suaminya. "Iya ada apa? Kenapa sih kok teriak-teriak? Kalau terdengar oleh tetangga kan tidak enak Mas, ada apa? Kamu kan bisa memanggil aku dengan pelan." ucap Anisa sambil menghampiri suaminya.
"Ini ada adik kamu datang, tolong buatkan minum dan juga makanan untuk dia, katanya dia tadi belum sarapan karena dia sengaja datang ke sini, untuk bertamu dan menemui kamu, katanya ia rindu sama kamu." ucap Riko yang saat ini sedang berdiri di samping Laura. Anisa yang melihat adiknya tentu langsung terdiam dan menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan.
Anisa meletakkan teh hangat dihadapan adik tirinya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
"Kamu bagaimana kabarnya? Sudah berapa hari kakak tidak bertemu dengan kamu, maaf jika kakak lupakan kamu akhir-akhir ini. Ya biasalah Kamu kan tahu sendiri bagaimana kalau kakak ini sangat sibuk mengurus Kakak ipar kamu." ujar Anisa sambil melirik ke Riko yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Riko yang mendengar itu langsung menatap ke arah istrinya dan tersenyum kaku, setelah itu ia melirik ke arah Laura yang saat ini sedang cemberut menatap ke arahnya dan di saat Anisa menatap ke arah Laura, Laura langsung tersenyum.
"Ah tidak apa-apa Kak, aku baik dan bagaimana dengan kabar kakak? Makanya aku datang ke sini untuk melihat bagaimanakah kondisi Kakak dan juga kabar Kakak ipar, karena Mama sejam kemarin terus menyuruh aku untuk datang. Awalnya aku menolak karena aku merasa tidak enak jika aku datang pasti akan mengganggu kalian dan benar saja aku malah mengganggu Kakak kan?" tanya Laura dengan begitu sangat lembut. Anisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak kakak, tadi baru saja selesai memindahkan pakaian kakak ipar kamu. Ya biasalah ibu-ibu. Oh ya, ayo kita makan! Nanti makanannya akan dingin. Tidak enak kalau dingin, ya kan sayang?' tanya Anisa sambil merangkul tangan Riko di hadapan adiknya, tentu saja Riko yang dirangkul oleh Anisa tidak bisa menolak jika ia menolak dan bersikap kasar kepada Anisa itu akan membuat Anisa curiga. Riko tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Laura, kamu kan tadi bilang kalau kamu belum makan, lebih baik kita makan terlebih dahulu. Mbok tadi sudah membuatkan makanan untuk kita." Laura langsung menganggukkan kepalanya, padahal sejak tadi ia sudah mengepalkan tangannya karena merasa panas melihat pemandangan itu dan disaat mereka berada di meja makan pun, tiba-tiba Anisa menyuapi Riko tanpa banyak bicara, hal itu tentu saja membuat Riko terkejut. Begitu pun dengan Laura, padahal sejak tadi Laura sudah mencuri pandang ke arah kakak iparnya itu.
"Ayo buka mulutnya sayang!" perintah Anisa kepada suaminya. di saat seperti itu Riko hanya bisa menurut, karena ia tidak mau membuat Anisa marah.
"Em, sudah, aku bisa makan sendiri kok, kamu makan saja, habiskan makan kamu dan kamu juga Laura, kamu harus makan. Lihatlah,tubuh kamu tuh sedikit harus digemukkan kamu itu tidak harus menjaga pola makan kamu, kamu lebih cantik jika kamu sedikit gemuk ya kan sayang?" tanya Riko kepada Anisa. Anisa yang sedang mengunyah makanan langsung menatap ke arah adiknya dan menganggukkan kepalanya.
"Betul, apa yang diucapkan suami kakak adalah benar, makanya suami kakak selalu menyuruh kakak untuk makan karena dia sangat suka dengan tubuh yang sedikit gemuk. Katanya enak untuk dipeluk." ucap Anisa sambil menggenggam tangan suaminya dan tersenyum. Laura yang mendengar itu tentu mengepalkan tanganya dan mengutuk apa yang di ucapakan oleh Riko.
Siang harinya disaat Anisa sedang sibuk di dapur, tiba- tiba ia mendapatkan telepon dari ibu tirinya hal itu tentu saja membuat Anisa bingung pasalnya di situ ada adik tirinya yang sedang mengobrol berdua dengan ke suaminya mamah kan HP dia meneleponku, tumben sekali. Ada apa ini?" Anisa langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Ma, selamat siang."
"Siang Anisa. Bagaimana kabar kamu? Kenapa kamu tidak main ke rumah mama, sudah satu minggu kamu tidak ada kabar dan bagaimana Adik kamu? Apakah adik kamu ada di sana?" tanya Maya mamanya Laura. Anisa yang ditanya seperti itu langsung menatap ke arah ruang tamu yang saat ini di mana ada sepasang manusia yang sedang asyik berbicara tanpa memikirkan lingkungan sekitar. "Laura ada kok di sini. Bahkan dia sedang ngobrol sama kakak iparnya, aku senang sekali melihat mereka akur. Aku kira mereka tidak akan akur. ternyata akur. Mama Bagaimana kabarnya? Maaf aku tidak bisa mengunjungi Mama akhir-akhir ini, karena ya Mama tahu sendiri kan kalau aku dan juga Riko itu lagi dalam masa program memiliki anak, jadi ya tiap hari Riko selalu meminta jatah." Entah kenapa Anisa malah ingin berbicara seperti itu kepada Mama tirinya.
Maya yang mendengar itu langsung mendelikkan matanya.
"Oh seperti itu. Baguslah, lebih cepat lebih baik kamu memiliki anak. Ya sudah kalau seperti itu Mama titip Laura ya dan Laura tadi bilang kalau dia akan menginap di sana beberapa hari, kamu tidak apa-apa kan? Karena Mama akan pergi ke luar kota untuk menemui temanku, mama hanya punya kamu untuk menitipkan Adik kamu, kasihan dia, kalau dia tidur di rumah sendirian." Anisa yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya. Pasalnya mau pergi ke mana Mama tirinya itu dan juga permainan apa yang di lakukan oleh Laura.
"Oh seperti itu. Baiklah, Mama tenang saja," panggilan itu pun terputus. Anisa yang saat ini sedang berada di ambang pintu dapur dan sedang mengintip suami dan adik tirinya tentu langsung berjalan dan mengeluarkan suaranya untuk memanggil nama adiknya, agar mereka sadar jika Anisa datang.
"Laura- Laura. Kamu di mana?" teriak Anisa. Laura langsung menggeser tubuhnya.
"Iya kak, aku di sini. Aku di ruang tamu sama Kak Riko. Ada apa ya?" tanya Laura sambil bangkit. Anisa tersenyum.
"Ini loh, tadi Mama telepon sama kakak dia bilang kalau kamu akan menginap di sini beberapa hari, apakah betul?" tanya Anisa dengan lembut sambil memegang bahu adiknya, apalagi sejak tadi matanya begitu panas melihat kalung mewah bertengger di leher adiknya. Kalung itu adalah kalung di mana beberapa hari lalu temukan di balik paku celana suaminya pasalnya ia pikir kalung itu akan diberikan kepadanya, tapi ternyata disaat Riko menyadari kalung itu disimpan oleh Anisa Riko marah dan langsung mengambil kalung tersebut dan berdali jika kalung itu milik temannya.
"Iya kak, aku akan menginap di sini kalau kakak izinkan. kalau tidak ya tidak apa-apa." ucap Laura dengan begitu sangat lembut, memang Laura selama ini selalu bersikap lembut dan juga manja kepada kakaknya itu.
"Oh seperti itu. Kakak tidak keberatan kok, lagian kamu kan cuma punya kakak di sini. Oh ya kalung kamu cantik sekali, kira-kira kamu dapat kalung itu dari mana ya?" Tanya Anisa sambil menatap ke arah suaminya. Riko yang sadar jika saat ini kalung yang dipakai oleh Laura itu kalung yang di mana dilihat oleh Anisa langsung bangkit dan langsung gelagapan bahkan Riko langsung mengeluarkan keringat dingin, karena dia takut Anisa akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Laura yang ditanya seperti itu langsung melirik ke arah Riko dan memegang kalungnya.
'Oh ini. Ini dikasih sama pacar aku Kak, kata dia karena dia sangat mencintai aku dan juga berjanji akan menikahi aku, makanya dia memberikan kalung Ini, memangnya ada apa ya?"
"Tidak apa-apa, Kakak seperti pernah melihat kalung ini saja. bukan begitu sayang?" tanya Anisa kepada Riko. Riko yang ditanya seperti itu langsung membulatkan matanya.