Bab 1

“Say, Ada Erin nggak di situ?” Suara Riya yang menanyakan keberadaan anak sulungku terdengar, begitu aku mengangkat panggilan telepon darinya. Riya memang memanggilku dengan sebutan ‘Say’. Dan aku pun memanggilnya dengan panggilan yang sama.

“Ada tuh lagi main sama adiknya. Kenapa? Mau disuruh jemput Hilda sama Ola? Biar diajak main ke sini?” Tanyaku sambil terus mengetik tuts keyboard laptop. Aku memang sedang mengerjakan pekerjaanku sebagai penulis novel online. Dan naskahku baru saja diterima beberapa hari yang lalu. Jadi sekarang, aku memang sedang lagi semangat-semangatnya menulis.

Sementara Hilda dan Ola adalah dua anak perempuan Riya yang hampir setiap hari main ke rumah. Boleh dibilang, aku seperti pengasuh tak resmi yang selalu diminta untuk menjaga anak-anak itu selagi ibu mereka sedang sibuk... Bermain ponsel.

“Nggak. Suruh ke sini ya si Erin. Aku ada ikan Sembilang. Tolong masakin asam pedas ya, Say.”

Aku menghela napas. Dan kulirik jam dinding. Sudah hampir setengah sebelas siang. Sebenarnya aku malas kalau harus masak lagi. Di rumah semua tugasku sudah beres. Aku bahkan selesai masak dan mencuci sejak pagi tadi. Semua aku lakukan secepat kilat agar aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku menulis lanjutan bab dari naskahku kemarin.

Tapi kini, Riya memintaku untuk memasak ikan. Itu artinya, aku harus menyiangi ikan, mengupas bawang dan membuat bumbu untuk asam pedas seperti permintaannya.

Bukan sekali ini saja dia menyuruhku memasak untuknya. Entah karena dia menyukai masakanku atau karena dia memang malas masak. Yang aku tahu, dia hampir tak pernah memasak sayur dan lauk sendiri di rumah. Dia lebih memilih untuk membeli masakan jadi. Dan itu setiap hari.

Belakangan ini, hampir setiap hari ia menyuruhku memasak untuknya. Aku sebenarnya tak keberatan, karena setelah masak, lauk disuruh bagi dua. Lumayan pikirku, karena di rumah memang jarang membeli lauk ayam atau ikan yang enak-enak. Beda dengannya yang selalu membeli bahan makanan mahal dalam jumlah banyak. Sementara aku di rumah harus bersyukur meski hanya bisa membeli ikan murah yang harus dijatah karena uang belanja yang sangat kurang dari suamiku.

“Ya udah. Aku suruh Erin ke sana ya.” Kataku. Dan ku suruh anak sulungku yang baru duduk di kelas 4 SD itu pergi ke rumah Riya yang berada tepat di sebelah rumah kami, yang hanya terhalang oleh sebuah pohon Langsat yang sampai kini tak pernah berbuah.

Aku baru saja hendak menutup telepon, namun kudengar ia kembali bicara.

“Langsung dimasak ya Say. Soalnya udah hampir tengah hari. Ayah Hilda abis shalat Dzuhur mau langsung makan.”

“Iya.” Sahutku pendek.

Kupikir ia akan langsung menutup teleponnya. Namun ternyata ia justru terus bicara, bahkan bahasannya sampai ke sana kemari. Aku yang sedang menulis sambil berpikir jadi tak fokus dengan apa yang ia bicarakan. Aku hanya mengiya-iyakan saja semua omongannya. Aku bertanya dalam hati, kapan selesainya ini?

“Anu loh Say, kamu kan tahu kalau selama ini aku dekat sama Roni. Dia tuh suka ngejekin aku, suka godain juga.”

“Iya aku tahu. Dia emang gitu orangnya, suka ceng-ceng in orang. Nggak usah tersinggung kalau dia godain kamu,” kataku sambil mengetik, sementara ponsel kuletakkan di telinga dan kujepit dengan pundak. Aku sungguh kerepotan. Aku tak ambil pusing dengan kalimatnya, karena yang aku tahu, suamiku Roni memang dekat dengan Riya dan kerap kali bergurau di depan mataku.

“Bukan gitu... Kamu tahu kan hubungan aku sama Roni...?”

“Iya aku tahu. Kamu kan sepupunya. Aku tahu kok kamu dekat dengan dia, wajar aja namanya juga sepupu kandung. Saling ejek itu biasa.” Aku masih tak paham ke mana arah omongan Riya.

“Aku tuh mau ngomong ke kamu, Say. Tapi Roni lagi nggak ada kan?”

“Iya nggak ada. Emang ada apa sih?” Aku bertanya tanpa menghentikan gerak tanganku yang sedang mengetik.

“Aku belakangan ini sering chat dan video call sama dia. Dia juga berapa kali datang ke rumah aku. Dan maaf ya Say... Aku nggak bisa menahan nafsu aku... Aku udah ciuman sama dia...”

SERRRR....

Darahku berdesir mendengar kalimat terakhirnya. Refleks tanganku berhenti mengetik. Berusaha mencerna apa yang baru saja ia katakan padaku.

“Apa? Kamu bilang apa?” aku memintanya untuk mengulang. Masih berharap kalau aku Cuma salah dengar.

“Maaf Say, aku dengan Roni selingkuh di belakang kamu.” Katanya dengan nada pelan, seolah takut kumarahi.

Aku menghela napas, berusaha membuang rasa sesak yang tiba-tiba saja menghantam brutal ke dadaku.

“Terus untuk apa kamu bilang ini ke aku?” tanyaku dengan nada santai. Aku berusaha untuk terdengar baik-baik saja. Padahal hatiku sudah bergemuruh menahan sedih, kecewa dan marah. Berulang kali aku hanya bisa beristighfar dalam hati. Memang air mata ini belum jatuh, tapi bibirku nyaris berdarah karena kugigit.

“Aku bilang kayak gini, biar kamu tahu kalau aku ada hubungan dengan suamimu. Aku minta kamu mengerti dan membiarkan Roni berhubungan dengan aku, Say. Suami kamu tuh bilang kalau dia cinta sama aku.”

Kalimat Riya seolah-olah adalah bongkahan batu besar yang sengaja ia hunjamkan ke dada dan kepalaku. Hati dan pikiranku jadi sakit karenanya. Sungguh tega sekali mereka melakukan ini padaku.

Selama ini, Riya memperlakukan aku seperti babu. Menyuruhku ini itu. Mulai dari memasak hingga mengasuh anak-anaknya. Yang mana aku disuruh memandikan, menyuapi makan hingga membersihkan kotoran mereka setelah buang air. Riya menyuruhku masak, kemudian ia makan. Tak disangka, suamiku pun ia telan.

Sementara suamiku, betapa sampai hati dirinya. Aku di sini hidup sendiri sebatang kara. Keluargaku jauh di kota sebelah. Bertahun-tahun aku tak pernah pulang kampung karena aku tahu Bang Roni tak punya cukup uang untuk mengajakku pulang bersilaturahmi ke keluarga besarku. Aku tahan diri ini meski hidup dalam keadaan serba kekurangan. Nyatanya, kini ia mengkhianatiku dengan sadis.

“Jadi kamu mau aku merestui hubungan kalian?” aku berusaha tertawa. “Ya udah, aku nggak masalah sih. Kalau emang kamu suka sama dia, dan dia suka sama kamu, silakan lanjutkan hubungan kalian. Aku mundur. Kamu yang maju.” Kataku.

“Ya nggak usah gitu lah Say. Maksud aku, kamu tetap jadi istrinya. Aku juga tetap dengan suamiku. Aku kan bilang gini, biar kamu tahu hubungan kami. Dan setiap kami bertemu, aku nggak merasa bersalah sama kamu.”

“Jadi aku pura-pura nggak tahu dan membiarkan dia setiap kali mau ketemu kamu, gitu?” tanyaku.

“Iya. Kamu kan tahu kalau orang yang dia suka itu aku. Jadi biarkan aja dia melakukan apa yang dia mau.”

SETAN!!! Kemauan bodoh macam apa itu? Dia minta aku mengetahui hubungan haramnya dengan suamiku, merestui mereka, namun aku disuruh untuk tetap bertahan. Memangnya aku ini tunggul bodoh?

Belum sempat aku menjawab lagi, terdengar ucapan salam dari pintu depan. Dan ternyata Riya di seberang telepon juga mendengarnya.

“Itu Roni kah yang pulang? Say, jangan bilang apa-apa ke dia ya. Jangan bilang kalau aku ngomong soal ini ke kamu. Nanti dia marah sama aku.”

“Kok bisa?” tanyaku penasaran.

“Iya, aku kemarin bilang ke dia kalau mau ngomong soal ini ke kamu. Tapi dia nggak izinkan. Dia bilang, kalau aku ngomong ke kamu, sama aja aku bunuh dia. Jangan bilang dia ya Say. Nanti dia marah sama aku.”

Kudengar nada ketakutan dari suara Riya. Aku tersenyum menyeringai. Haruskah kupanggil Bang Roni dan mengatakan semuanya?

Bab 2

“Eh Say, tolonglah... Jangan bilang, aku takut..!” suara Riya semakin terdengar panik di seberang sana. Aku hanya tertawa kecil. Entah karena menutupi rasa sakit hati atau karena mendengar Riya brengsek itu ketakutan. Bang Roni yang baru saja masuk, melihatku sedang menelepon seseorang sambil tertawa jadi curiga.

“Sayank lagi ngomong sama siapa?” tanyanya. Kami memang saling memanggil dengan panggilan ‘Sayank’. Karena usia kami yang hanya terpaut beberapa bulan saja, membuatku merasa enggan memanggilnya dengan sebutan Abang ataupun Mas. Jadi sejak awal pacaran, kami sudah membiasakan diri memanggil dengan panggilan Sayank sampai sekarang, sampai kami sudah punya dua anak.

“Oh, ini Riya yang nelfon,” kataku sambil tertawa tawar.

“Ngomong apa dia?!” Bang Roni tampak gusar dan sedikit panik. Dia pasti menyangka kalau Riya mengatakan hal yang sebenarnya.

“Eh Say, tolonglah jangan bilang. Nanti Roni ngamuk.” Riya masih memohon, dan demi kebaikannya padaku selama ini, aku tak akan menyusahkannya sekarang. Lagi pula, aku punya rencana lain.

Kami sama-sama tahu kalau Bang Roni adalah orang yang temperamental. Kalau emosinya sudah memuncak, ia tak segan mengamuk dan mengeluarkan pisau. Aku paham, Riya sangat takut kalau ku adukan.

“Nggak ngomong apa-apa kok. Riya Cuma minta masakin ikan asam pedas. Emang Riya harus ngomong apa?” pancingku, sekalian menyindir Bang Roni.

“Oh, kirain gosipin aku.” Bang Roni tampak berusaha bergurau, namun bagiku kini sudah tak lucu sama sekali. Aku sangat benci melihatnya.

“Nggak. Ge er amat, Yank. Nggak perlu nunggu digosipin. Kalau emang ada berbuat salah, langsung ngaku aja.” Aku menyindir lagi. Dan sengaja berkata seperti itu agar Riya mendengar. Namun ternyata suamiku itu memang kelewatan bebal. Ia sama sekali tak merasa tersindir.

“Gimana dengan pesanan aku untuk nanti malam, Yank?” tanyaku mengalihkan omongan. Aku ingin ia segera pergi, karena aku mau melanjutkan pembicaraan dengan Riya. Aku harus mengorek keterangan sebanyak-banyaknya dari perempuan bodoh tak berakhlak itu.

“Oh iya lupa!” Bang Roni menepuk keningnya. “Yang untuk acara pengajian di TPQ nanti malam ya? Emang kita disuruh nyumbang berapa kotak?” tanyanya lagi.

“Cuma lima kotak kok. Beli ayam dua kilo cukup.” Kataku, masih dengan panggilan telepon Riya yang tetap tersambung.

“Apa lagi?” tanya Bang Roni.

“Beli telur 5 sama mie kuning atau bihun buat tambahan lauk.”

“Itu aja?”

“Air mineral gelasnya jangan lupa.” Pesanku. “Nanti sore bantu aku ngotakin nasi ya.”

“Oke siap. Aku pergi dulu ya, sayank.” Bang Roni mencium punggung tangan dan keningku. Entah aku harus merasa senang atau sedih. Aku tak tahu apa maksudnya melakukan hal itu. Apakah karena merasa bersalah atau karena mau menutupi kemunafikannya? Yang jelas bukan karena ia benar-benar menyayangiku. Sebab, ia tak akan mungkin berkhianat kalau memang benar cintanya hanya buatku.

“Dia udah pergi kah?” Riya bertanya. Sesaat aku hampir lupa kalau dia masih di sana.

“Iya. Jadi gimana?”

“Aku lanjutin cerita ya.” Terdengar suara Riya yang sangat antusias. Entah kenapa dia seolah bangga memamerkan kebusukannya.

“Aku mau masak ikan kamu dulu. Kita lanjut nanti aja.”

“Ih, sambil masak aja. Kalau nanti, keburu Ayah Hilda datang.”

Aku membuang napas. Dia memang selalu memaksakan keinginannya. Kalau saja bukan karena selama ini dia sangat baik padaku, sering memberi pakaian mahal yang bagus dan makanan yang enak-enak, mungkin sudah kuludahi mukanya.

Tapi aku sadar, aku tak bisa bergerak sembarangan. Kalau gegabah, bisa-bisa aku yang stres. Karena semua yang ada di sini adalah keluarga besarnya. Sedangkan aku, tak punya siapa-siapa. Keluargaku jauh di kota sebelah.

“Ya udah. Sampai di mana tadi kita ngomong?”

“Itu... Aku Cuma minta kamu merestui hubungan kami.”

“Iya, aku restui. Tenang aja.” Sahutku enteng, seolah tak marah sama sekali. “Eh, tapi aku penasaran. Sejak kapan sih kalian selingkuh?”

“Belum lama ini. Baru berapa hari.”

“Trus, apa aja yang udah kalian lakukan?” tanyaku, meski aku memang harus mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban darinya.

“Nggak jauh sih, cuma ciuman bibir.”

Hatiku kembali nyeri. Aku tahu kalau suamiku memang sering menggoda wanita. Tapi aku tak pernah ambil hati karena aku tahu dia hanya bergurau. Dan Bang Roni bahkan sering bercerita di depanku siapa saja perempuan yang pernah dekat dengannya.

Namun kali ini, dia chat an, video call, bertemu diam-diam sampai berciuman dengan Riya sepupunya sendiri tanpa sepengetahuanku. Artinya kini dia memang sedang berkhianat.

“Gimana ciumannya? Asyik dong?” Aku lagi-lagi tertawa untuk menutupi sakit hatiku.

Kudengar Riya tertawa di seberang sana. Tak ia pikirkan perasaanku yang hancur lebur akibat perbuatannya. Di sana ia justru tertawa senang dan bangga karena merasa telah berhasil merebut kasih sayang dan cinta suamiku. Ia merasa kalau ia adalah wanita hebat yang bisa membuat suami orang jatuh cinta padanya. Padahal ia hanya seorang wanita murahan, tak lebih.

“Biasa aja Say. Kalau Cuma ciuman sih nggak ada yang spesial. Cuma emang Roni itu pandai ciuman.”

Aku sakit. Aku marah. Kenapa? Kenapa aku harus mendengar hal seperti ini? Bang Roni mencium perempuan lain. Tidak boleh! Seharusnya ciuman itu hanya untukku. Aku tak ikhlas membaginya dengan wanita lain. Padahal selama ini aku selalu menjaga mata dan hatiku agar tak pernah tertarik dengan laki-laki selain dirinya.

“Trus.. trus...?”

“Ih kamu kok malah penasaran sih, Say?”

“Iya. Soalnya cerita kalian seru.” Kataku, padahal aku sedang mati-matian menahan gejolak benci pada perempuan tak tahu malu ini. Aku akan membuat ia percaya sepenuhnya padaku. Akan aku buat ia menceritakan semua. Dan perlahan, akan kubuat ia jatuh sejatuh-jatuhnya, seperti yang ia lakukan padaku seperti sekarang. Bahkan mungkin akan jauh lebih sakit.

Akan aku buat dia merasakan sakitnya dikhianati orang terdekat, di saat kita percaya sepenuhnya pada mereka. Sungguh, aku tak akan tinggal diam.

“Makasih ya Say karena nggak marah sama aku. Ternyata emang nggak salah kalau aku cerita ke kamu. Aku yakin kamu nggak akan marah.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Ya kamu kan tahu kenapa aku bisa dekat sama Roni. Aku punya jin pendamping, dia juga punya. Jadi kalau kami berdua bertemu, jin kami saling tarik-menarik. Kamu pasti percaya kan hal yang kayak gitu? Kalau suamiku nggak bakalan percaya. Makanya aku nggak cerita ke dia, tapi aku cerita ke kamu.”

What the... Perempuan satu ini benar-benar bodoh apa ya? Alasan goblok macam apa itu? Pakai bawa-bawa jin segala. Dia bilang suaminya nggak bakal percaya. Memangnya aku percaya? Aku bahkan jauh lebih tak percaya dengan hal seperti itu.

Alasan saja jin pendamping. Semua manusia pasti punya pendamping, dan itu adalah setan. Tinggal kita saja yang mau menuruti atau melawan kemauan setan. Riya berselingkuh dengan Bang Roni bukan karena jin pendamping, tapi karena emang dasar dia aja yang bernafsu dengan suamiku itu.

“Oh jadi karena itu? Kalian jadi dekat karena itu?”

“Nggak Cuma karena itu sih. Aku dekat sama Roni awalnya karena kami sama-sama curhat soal rumah tangga kami masing-masing. Dan dia banyak ngeluh soal kamu Say.”

“Oh ya? Emang dia cerita apa aja tentang aku?” tanyaku dengan gigi gemeretak menahan marah.

Bab 3

“Dia bilang, kamu itu nggak pandai berdandan. Dia males lama-lama di rumah, soalnya setiap dia pulang ngeliat bininya layu. Katanya, lebih segar mandangin muka aku. Kalau aku, awal pagi dan sore udah dandan Say, udah rapi. Sementara kamu, dari dia bangun tidur sampai dia pulang kerja, katanya ngeliat kamu selalu dalam keadaan acak-acakan. Nggak berbedak, nggak bergincu, pucet, nggak ada cahaya sama sekali di muka kamu. Makanya sejak dia berhubungan sama aku, setiap abis Maghrib dan Isya dia pasti keluar kan? Itu dia datang ke rumah aku Say. Cuma mau ketemu sama aku. Dia bilang muka aku nyenengin.”

Tanganku mengepal. Sungguh sangat geram dan sakit hati ini. Mataku mulai terasa panas, tapi belum ada air mata yang jatuh. Aku tak mau anak-anakku melihat ibunya menangis.

Dan Bang Roni, bisa-bisanya dia bilang seperti itu. Kok tega dia menjatuhkan harga diriku di hadapan perempuan lain. Membuka aibku, menceritakan keburukanku. Padahal selama ini, tak pernah sekalipun aku menceritakan segala kekurangannya, bahkan pada orang tuanya sendiri.

Dia bilang aku tak berbedak, memangnya dia pernah membelikanku bedak? Aku pucat tak bergincu, apa dia tahu kalau aku hanya punya sebatang lipstik yang kubeli setahun lalu? Dan itu pun dengan uangku sendiri. Dia ingin istrinya cantik mempesona, tapi tak pernah memberi modal untuk membeli alat make up. Memberi uang untuk makan sehari-hari aja susah. Kalau bukan karena aku yang nombok belanja lauk pakai uang hasil jualan online ku, dia nggak akan bisa makan teratur setiap hari.

Bayangkan saja, dia memberi uang lima puluh ribu, dan setelah itu berhari-hari tak pernah lagi memberiku uang. Memangnya dia pikir cukup? Seperti itu menuntut aku untuk cantik dan membandingkan dengan perempuan yang berduit dari hasil makan uang orang tuanya?

Dia membandingkan aku dengan perempuan yang tak pernah masak di rumah, yang kerjaannya hanya berjoget-joget depan kamera ponsel dan kemudian meng-uploadnya di sosial media, yang setiap selesai mandi langsung sibuk dengan dirinya sendiri sampai tak mengurus anak. Dan lucunya lagi, aku yang mengasuh anak-anaknya, memberi mereka makan dengan suapan tanganku.

Dia membandingkan aku dengan perempuan seperti itu? Tak salah lagi, mereka memang pasangan yang bejat.

“Oh, jadi dia izin keluar tiap adzan Maghrib dan Isya itu pergi ke rumah kamu?”

“Iya Say, kan Ayah Hilda kalau adzan pergi shalat ke masjid. Jadi itulah kesempatan kami untuk ketemu. Waktu yang sebentar itu kami manfaatkan.”

“Untuk ciuman?” sinisku.

“Ya gitulah. Kan aku udah bilang .” katanya jujur tanpa malu-malu ataupun menutupi.

Astaghfirullah... Perempuan seperti apa dia? Teganya mengkhianati suami dengan hal keji seperti itu? Kasihan suaminya, turun dari rumah pergi ke masjid mau menangguk pahala, ternyata bininya di rumah naikkan laki-laki.

Dan Bang Roni juga sama saja jahat. Padahal Bang Sarip, suami Riya itu baik dan percaya padanya. Tapi hati yang tertutup nafsu membuatnya tega menikam dari belakang. Tak berpikir kah dia, kalau hal seperti itu terjadi padanya? Misal kalau dia sedang pergi keluar, aku menaikkan laki-laki ke rumah?

“Oh, Jadi kalian ketemu setiap suamimu ke masjid?”

“Iya, begitu Ayah Hilda turun dari rumah, aku chat dia biar datang ke rumah. Jadi nanti malam kalau dia turun pas lagi adzan, kamu nggak usah heran ya Say. Biarin aja, dia lagi ketemuan sama aku tuh.” Riya cekikikan, membuat kepalaku mendadak pening.

“Say, aku lanjut masak dulu ya. Sebentar lagi Bang Roni datang bawa lauk buat dimasak untuk acara di TPQ nanti malam. Kalau aku belum selesai masak punya kamu, nanti dia curiga.”

Aku memberi alasan. Padahal sebenarnya aku benar-benar sudah muak mendengar kejujuran Riya. Pertahananku sedang diujung tanduk, dan aku perlu jeda waktu untuk membangunnya kembali. Bagaimanapun, aku tak rela telah diperlakukan seperti ini. Dan akan kubuat mereka menyesal telah berkhianat di belakangku.

“Ya udah, nanti kalau sempat aku main ke rumah kamu Say, tunggu dia nggak ada. Biar enak ceritanya.”

“Iya. Aku tunggu.” Kataku, dan langsung mematikan sambungan telepon.

Aku sempat terdiam termenung beberapa saat. Berharap kalau ini semua hanya mimpi. Tak kusangka, pernikahanku selama hampir 13 tahun dengan segala memori indah, ternoda oleh perbuatan suamiku yang begitu kupercaya. Sungguh aku sama sekali tak menyangka kalau Bang Roni akan melakukan perbuatan rendah dan tercela seperti ini. Selama ini aku berpikir dia adalah lelaki paling setia di dunia.

Tunggu saja, akan kutanyakan padanya sore ini.

***

“Sayank kenapa? Kok mukanya kayak sedih gitu?”

Aku mengerling ke arah Bang Roni yang kini sedang membantuku mencetak nasi dengan menggunakan mangkok kecil. Sementara aku yang sedang membungkus lauk pakai plastik, tanpa sadar melamun sejak tadi. Pikiranku ke mana-mana. Benar-benar tak tentu rasa.

“Nggak. Nggak kenapa-napa...” aku membetulkan posisi dudukku yang sejak tadi membungkuk. Pinggangku pegal dan tengkuk mulai berat.

“Jangan bohong....”

“Siapa yang sedang berbohong sekarang?” tembakku.

“Maksudnya?”

“Aku boleh nanya?”

“Boleh.” Bang Roni mengangguk ragu. Sepertinya ia mulai was-was.

“Tapi jawab jujur ya.”

“Iya.”

Aku membuang napas sebentar.

“Sayank masih sayang nggak sama aku?”

Dahi Bang Roni berkerut. “Ya sayanglah.”

“Yakin???”

“Iyalah. Emangnya kenapa?”

“Sekarang aku nanya, selain aku, siapa lagi yang disayang?”

“Anak-anaknya.”

“Bukan. Maksudku, apa ada perempuan lain?”

“Nggak ada.” Bang Roni menggeleng, tapi dari ekspresi wajahnya, aku dapat melihat dengan jelas kalau ia sekarang sedang berbohong.

“Masa? Kenapa kenyataannya nggak begitu?”

“Sayank kenapa sih kalau ngomong berbelit-belit? Tinggal ngomong langsung ke inti apa susahnya?” Bang Roni ngedumel. Aku tahu ia mulai panik.

“Oke, aku mau tanya, Sayank sekarang lagi selingkuh sama siapa?”

“Hahh?? Maksudnya??!”

“Jawab jujur, Sayank sekarang lagi dekat kan dengan seseorang?”

“Siapa?” tanyanya, dia berlagak bodoh sekarang.

“Ya jawab makanya. Sayank sekarang lagi dekat dengan siapa?”

“Dekat gimana?”

“Sayank selingkuh kan?”

“Enggak.”

“Nggak usah bohong! Aku tahu!”

“Emang siapa? Sayank dengar dari mana?”

“Jawab aja. Yang jelas aku tahu. Aku beri kesempatan untuk bilang terus terang. Jangan sampai aku sendiri yang mengatakannya.”

“Aku nggak tahu. Emang siapa sih?”

“Ya mana aku tahu. Sayank yang selingkuh. Pasti Sayank lebih tahu siapa yang jadi selingkuhan Sayank. Yang jelas, aku tahu siapa orangnya dan apa yang udah kalian perbuat. Jadi mendingan jujur sekarang.”

“Iya. Tapi siapa? Ada yang bilang ke Sayank?”

“Sayank ini laki-laki atau bukan, sih? Kalau iya, berani dikit jadi orang. Jawab yang jujur. Sayank selingkuh sama siapa? Aku tahu, tapi aku menunggu Sayank yang bilang sendiri. Aku mau dengar langsung dari mulut Sayank.” Tegasku.

“Nggak ada, aku nggak selingkuh.”

Ya Allah, dia masih saja mengelak. Benar-benar pengecut.

“Kalau chat sampai video call, dan ketemu diam-diam di belakang, apa namanya kalau bukan selingkuh? Ingat-ingat, siapa yang udah Sayank datangi diam-diam belakangan ini dan Sayank cium bibirnya?”

Bang Roni tampak terkejut mendengar kalimat terakhirku barusan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED