Matahari pagi menyinari wajah Galang yang penuh semangat meski masih tampak sedikit kebingungan. Berusia 19 tahun, ia mengenakan seragam bengkel sederhana yang sedikit kebesaran, tanda bahwa dia masih baru dalam dunia ini. Meski tanpa keahlian otomotif sama sekali, Galang tak gentar.
Dengan langkah tergesa-gesa, ia menuju bengkel kecil di samping rumahnya, bangunan yang baru ia buka seminggu lalu sebagai bentuk tantangan sekaligus perjalanan belajar. Matanya yang tajam menyiratkan tekad kuat, sementara gerak tubuhnya yang canggung mengungkapkan ketidaktahuan yang ingin segera ia hilangkan.
Baginya, bengkel ini bukan sekadar tempat mencari penghasilan, melainkan panggung untuk menaklukkan ketakutan dan mengasah kemampuan baru yang selama ini hanya ada dalam angan.
Belum sempat Galang membuka seluruh jendela bengkel, sebuah suara mesin motor terdengar mendekat. Raut wajahnya berubah saat ia mengintip dari balik jendela dan melihat sosok yang tak asing baginya. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu bengkel sedikit dan mengintip ke luar.
"Eh, Ibu," gumamnya dalam hati, suaranya penuh keberatan. Itu adalah mertuanya, yang datang mengendarai motor bersama Amel, adik iparnya.
Namun pada akhirnya Galang memutuskan untuk menyambutnya. Raut wajahnya yang semula tegang berubah menjadi senyum simpul.
"Eh, Ibu... eh, Amel," sapa Galang dengan suara bergetar, tangan kirinya canggung menggaruk belakang kepala, sementara tangan kanannya berjuang membuka pintu bengkel yang agak berat.
Amira, mertuanya, melangkah masuk dengan mata tajam yang menyisir setiap sudut bengkel kecil itu-seakan mencari rahasia di balik keputusan besar menantunya.
"Hmmm, kamu buka bengkel sekarang, ya?" ucap Amira, nada suaranya menyatu antara penasaran dan tak terduga.
Galang menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri. "Iya, Bu. Aku putuskan berhenti kerja. Bagi saya, punya usaha sendiri lebih tenang dan menjanjikan," jawabnya dengan suara setengah yakin, setengah berharap penerimaan itu tulus.
Tiba-tiba Amel, adik iparnya yang masih remaja, melangkah masuk dengan langkah ringan, senyum manisnya memecah suasana tegang.
"Hy, Kak Galang," sapa Amel penuh keceriaan.
Galang membalas dengan anggukan dan senyum yang lebih lebar-sebuah upaya menyembunyikan kerisauan yang bergelayut dalam dada.
Di balik senyum itu, ada tanya dan takut yang belum bisa ia ucapkan. Akankah keluarga benar-benar bisa menerima perubahan hidupnya yang begitu drastis?
"Ayo, dek, kita ke sebelah aja. Di sini kotor," katanya seraya melirik ke adik iparnya, Amel, dan ibu mertuanya yang kemudian mengangguk pasrah.
Mereka bersama-sama melangkah ke rumah di samping. Sesampainya di ruang tamu rumah sebelah, Galang mempersilakan kedua tamunya.
"Duduk dulu Bu, Dek Amel. Sepertinya Geby lagi mandi," ujarnya sambil tersenyum kecut. Ia beranjak menuju kamarnya, langkahnya tergesa-gesa.
Pintu kamar terbuka, dan pemandangan di dalam membuatnya tercekat. Geby hanya mengenakan pakaian dalam. Jantung Galang berdebar kencang, nafasnya menjadi tak beraturan.
"Sayang, boleh gas gak?" suara Galang bergetar, terbungkus harapan yang hampir putus asa.
Senyum yang terlukis di wajahnya berusaha keras menutupi kegelisahan yang bergemuruh di dadanya. "Gas, gas, malam aja deh," balas Geby santai, seolah menggenggam ketegangan itu dan meremasnya habis tanpa sisa.
Galang mengangguk pelan, tapi matanya sudah menaruh tanda tanya yang dalam.
"Oh ya, Ibu dan Amel udah datang, Mas?"
"Udah," jawab Galang, nada suaranya kini sarat kekecewaan, seperti api kecil yang meredup perlahan.
Ia menjatuhkan diri di tepi kasur, pandangan kosong melayang ke kejauhan. Di benaknya, sosok Amel berputar-putar-dulu polos, culun, dengan kulit gelap penuh jerawat dan rambut kusut yang membuatnya tak terlihat istimewa.
Namun kini, gadis itu berubah drastis menjadi sosok yang memikat hati.
"Amel... Kok bisa jadi secantik ini? Dulu?... dekil, item, jerawatan, culun, malah kureng, panoan... Aahh, apa yang terjadi? Kenapa aku tak pernah melihatnya sebelumnya?" bisiknya dalam hati, penuh campuran antara heran dan sesak.
Gelisah yang menyesak dada itu memaksanya bangkit, melangkah mendekat ke Geby tanpa suara.
Dengan sentuhan lembut tapi penuh makna, ia memeluk dari belakang, sebuah kejutan kecil yang menandakan harapan. "Beneran dikasih nanti malam?" tanyanya, suaranya nyaris bergetar, menggantung di antara ragu dan kerinduan.
Gaby hanya tersenyum, sambil mengusap lembut wajah Galang. "Iya, kalau aku nggak kecapean," ucapnya penuh pengertian.
Galang mengangguk, memahami. "Ya udah, aku mau lanjut buka bengkel ya, Ibu dan Amel ada di luar," ujarnya ringan sambil mengecup pipi Gaby sebagai perpisahan, kemudian pelan-pelan melepas pelukan hangat mereka.
Langkah Galang terbawa ke luar, menyusuri pintu belakang yang langsung menuju ke bengkel di samping rumah.
Di sisi lain, Gaby melangkah keluar dari kamar, matanya bertemu dengan ibu dan adiknya. Air mata yang selama ini ia tahan, pecah begitu saja. Dengan langkah goyah ia mendekat, meluapkan segala rasa yang bercampur baur dalam pelukan ibunya. "Bu, maafkan Gaby ya, nggak bisa bantu banyak," bisiknya di tengah isak tangisnya, penuh penyesalan.
Dengan lelah, Amira menarik napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan kata-katanya, "Sayang, hanya mendapatkan tempat di rumah ini, Ibu dan adikmu sudah sangat bersyukur. Di kampung, Ibu sering dicap sebagai janda gatal, dan itulah sebabnya Ibu menjual rumah kita, agar biaya kuliah adikmu tercukupi." Amira mengusap pundak Gaby lembut saat bicara, suaranya terdengar penuh kelelahan.
Amel, yang mendengarkan sisi-sisi percakapan itu, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca. Ketika melihat Ibu dan kakaknya berpelukan, Amel segera menyusul memeluk keduanya, menyatu dalam satu pelukan hangat yang menyimpan ribuan emosi.
"Demi Ibu, Amel berjanji tidak akan mengecewakan. Akan menjadi anak yang membanggakan," janji Amel dengan suara bergetar.
Gaby melepas pelukan perlahan, menatap Amel dengan pandangan penuh harap.
"Ya, kamu harus benar-benar serius kuliah, ya," katanya, kedua tangannya menggenggam wajah adiknya dengan lembut.
Dalam nada yang berusaha keras terdengar tegas, Gaby menambahkan, "Ingat, di kota ini banyak pergaulan yang bisa menyesatkan, pilihlah yang benar, jangan sampai kamu salah langkah."
Setelah keriuhan mereda, Gaby memandu adik dan ibunya ke kamar tamu. Di ambang pintu, dia menoleh, "Bu, aku siap-siap dulu ya, mau berangkat kerja." Suaranya lembut namun tergesa-gesa.
Amira hanya mengangguk sambil duduk di pinggiran kasur, matanya lelah tapi tersenyum. "Iya, hati-hati ya, Nak."
Dia kemudian merebahkan diri, memejamkan mata sejenak.
Gaby menatap mereka berdua sebelum menambahkan, "Dek, kalau mau mandi, pakai kamar mandi di kamarku aja. Yang di belakang lagi direnovasi." Tanpa menunggu jawaban, dia bergegas ke kamarnya, memulai rutinitas paginya dengan pikiran yang bercampur aduk.
Sementara Amel memilih keluar dari kamar sambil merapatkan sweater yang ia kenakan. Langkahnya perlahan membawanya menjelajahi setiap sudut rumah. Sesampainya di teras, dia memilih untuk duduk, membiarkan sejuknya pagi memeluk tubuhnya. Matanya segera teralih ke arah bengkel di mana Galang, tampak tengah asyik dengan motor pelanggan.
Sesekali ia merenggangkan lehernya, mencoba memahami apa yang sedang dikerjakan. Ia bisa melihat kesalahan yang dilakukan Galang. Tak tahan melihatnya, Amel berdecak dan berteriak ke arah bengkel.
"Kak, itu ban tubeless loh, kenapa harus repot-repot lepas ?" teriaknya kebingungan.
Seorang pelanggan menimpali, "Iya, Mbak. Saya sudah bilang juga, tapi dia bilang begini lebih aman, mengurangi risiko gagal."
Galang menoleh ke arah mereka dengan ekspresi serius, menunjukkan pengetahuannya sebagai mekanik. "Dek, kamu ini nggak ngerti soal motor. Biarkan yang profesional yang kerjakan," jawabnya sambil kembali fokus pada ban yang sedang ditanganinya.
Dengan tekad yang tidak akan mengalah, Amel membuka sebuah aplikasi dan mulai mencari tutorial cara menambal ban tubless. Setelah menemukannya, ia menyerahkan ponselnya kepada Galang.
"Coba lihat ini, cara yang bener, lebih simpel dan cepat," tuturnya dengan nada lembut.
Galang yang semula malu, kini merasakan rasa malu semakin mendalam dalam hatinya. Ia mendekat dan mencoba fokus menyimak video tersebut, berharap bisa mengerti setiap langkahnya.
Dengan perlahan, ia mulai mengikuti instruksi dari video tersebut dan setelah beberapa saat, ia berhasil.
"Sudah pak," ucap Galang, terengah-engah karena kelelahan.
Sang pelanggan, yang sudah kesal, merespons, "Kalau nggak bisa otomotif nggak usah buka bengkel."
Galang mencoba tetap tenang, "Maaf pak, tapi saya jamin, kalau lain kali bapak datang kesini dengan keluhan yang sama, perbaikan akan lebih cepat."
Tanpa berbicara lebih lanjut, pelanggan itu pun berlalu dengan wajah yang masih menunjukkan kekecewaan..
"Kak, maaf. "Tanpa diduga, Amel menyentuh wajah Galang, mengejutkannya hingga tangannya spontan memegang tangan Amel yang lembut. Mereka saling menatap, detik itu terasa berlangsung lama, membuat jantung Galang berdegup kencang.
Amel tersenyum nakal, "Ada oli kak, hehehe." Ucapnya ringan.
Galang, yang merasa hatinya berdebar, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, "Makasih dek, sebenarnya ini tidak perlu, namanya juga montir," balasnya mencoba terdengar santai.
"Heheh, minimal tau tambal ban tubles dulu dong," sahut Amel dengan senyum menggoda sebelum ia berbalik untuk pergi.
Galang masih terpaku, matanya mengikuti sosok Amel yang menjauh. "Sadar lang," gumamnya dalam hati, menyadari betapa dia terpesona.
Mentari mulai merunduk ke barat, menandai peralihan siang yang kian tenggelam dalam bayang sore. Hening bengkel Galang tiba-tiba pecah oleh dering ponsel yang nyaring, memecah kesunyian seperti teriakan bisu di lorong waktu.
Tangan berminyak itu langsung menyambar alat kecil itu dengan gesit. "Hallo, Mas, lagi rame ngga?" suara Gaby memecah keheningan, mengalir lembut namun penuh makna di ujung sana.
Galang memiringkan kepala, tatapannya mengguratkan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.
"Lagi sepi, Dek. Ada apa?"
Gaby berujar dengan suara tergesa, "Bisa tolong anterin Amel ke kampus? Dia mau ambil formulir pendaftaran."
Diam sejenak, alis Galang berkerut dalam pergulatan batin yang tak terlihat. "Kenapa kamu gak yang antar langsung?" tanyanya pelan, mencoba menyelami makna di balik permintaan itu.
"Aku masih harus di kantor, Mas," jawab Gaby, nada suaranya seperti terjebak dalam kecepatan waktu yang mendesak.
Galang menarik napas dalam, pikirannya mulai berputar. "Aku bisa sih, tapi Amel udah siap belum?"
Gaby melepas tawa kecil, menangkis kegelisahan di udara. "Dia malu-malu minta ditemani, tapi gak berani ngomong langsung ke Mas."
Tekad Galang mengeras, suaranya penuh kepastian. "Oke, aku tutup bengkel dulu ya."
Langkah Galang terhenti seketika saat pikirannya terpaku pada Amel. Tanpa sadar, ia membuka pintu kamar dengan gegabah-dan dunia seolah tersedak saat matanya menangkap sosok Amel yang hanya berbalut handuk, tubuhnya basah menggoda selepas mandi.
Diam, hening, seperti waktu membeku. Amel meloncat cepat ke dalam kamar mandi, meninggalkan Galang yang terpaku di ambang pintu, jantungnya berdentum tak karuan.
Sementara Jantung Galang berdegup kencang, dadanya terasa sesak saat pandangannya menyapu lekuk tubuh Amel barusan.
Namun, ia segera merasakan getar malu dan takut, "Ohh tidak..." pikirnya, berusaha menepis perasaan yang mulai membara.
Pikirannya beralih ke bibir Amel, penuh kelembutan dan misteri.
Galang meneguk ludah, berusaha mengendalikan diri agar tak kehilangan kontrol. Tubuhnya kaku, sementara pikirannya berputar liar, terperangkap dalam tarikan magnet yang sulit dijelaskan.
Galang berdiri canggung, napasnya tercekat.
"Maaf... aku kira kamu nggak di dalam," suaranya bergetar, seolah suara itu sendiri tak percaya pada yang baru dilihatnya.
Amel mengangguk pelan, suaranya serak, "Iya, nggak apa-apa, Kak." Galang menelan ludah, mencari keberanian yang seolah menguap.
"Kamu... mau aku anterin?" tawarnya dengan suara nyaris ragu, berharap ketegangan bisa mencair.
Amel menggigit bibir, matanya penuh perhitungan, sebelum akhirnya melangkah keluar perlahan.
"Bisa... ya? Aku mau siap-siap dulu," katanya lirih, getaran suara yang mengungkapkan keberanian kecil yang baru ia temukan. Sejenak, ruang itu diselimuti keheningan-berat, hangat, dan penuh rasa yang tak terucapkan.
Galang mengangguk pelan, matanya terpaku sejenak pada wajah manis iparnya yang tak mampu menyembunyikan pesonanya. "Bisa," suaranya tercekat, nyaris bergetar, tatapannya mencuri pandang ke arah Amel yang masih terbalut handuk, memancarkan kehangatan yang membakar kesadaran dirinya akan batasan yang harus dijaga.
Dalam kepura-puraan tenang, ia segera mengalihkan pandang, dadanya berdetak keras menahan gelombang perasaan yang ingin saja mengacaukan semuanya. Dengan sikap sopan yang dibuat-buat, Galang mempersilakan Amel untuk bersiap.
Ia bersandar pada pintu, suara santainya justru menyelipkan kekhawatiran yang tajam, bisa terbaca jelas dalam tatapan matanya.
"Jangan kelamaan di situ, dek. Bahaya, tau?"
Amel hanya mengangguk, suaranya hampir lenyap dalam kerendahan, "Oiya, kak. Aku keluar dulu."
Hati Galang mendadak bergetar tak karuan, seakan ada jarum halus menusuknya dari dalam. Langkah Amel yang gemetar dan kepala yang tertunduk memperkuat suasana canggung yang menyesak di antara mereka-seolah waktu berhenti sejenak, meninggalkan ruang sunyi penuh tanya yang tak berani dijawab.
*******
Sesampainya di kampus, Amel pamit, sementara Galang menunggu di parkiran.
Galang bersandar pada sepeda motornya, melipat tangan di dada sambil menatap sekeliling kampus yang ramai. Saat itu, tiba-tiba dua sosok wanita menghampirinya.
Salah satu dari mereka, yang bernama Melisa mengerutkan dahi saat melihat Galang, "Kamu kok di sini?" tanyanya dengan nada terkejut, seolah-olah kehadiran Galang adalah suatu gangguan.
Galang hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mulai muncul, "Emangnya ngga boleh?" jawabnya singkat, suaranya mencoba terdengar acuh tak acuh.
Kedua gadis itu kemudian saling berbisik-bisik, seolah-olah mereka sedang membagi sebuah rahasia. Melisa tampaknya berbisik sesuatu yang cukup membuat gadis satunya, yang berambut panjang dan berwajah manis, terkejut.
"Oh, jadi ini mantanmu Cha," sahut gadis berambut panjang itu, matanya melebar seolah baru menyadari sebuah fakta penting.
Galang hanya bisa menelan ludah, hatinya berdebar tidak karuan mendengar kata-kata tersebut. Melisa, yang dulu pernah dekat dengannya, kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dia baca. Atmosfer menjadi tegang, dan Galang berusaha keras untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdetak kencang.
Sementara Melisa tersenyum sinis, raut wajahnya penuh kepuasan saat ia teringat informasi tentang Galang. Dengan nada menggoda, ia mengucapkan kalimat yang terasa seperti jarum menusuk ke hati Galang, "Katanya sih udah nikah, sama tante-tante kantoran. Gue beruntung banget beb, ngga jadi lanjutin hubunganku dengannya, bisa-bisa ngga ada masa depan."
Galang, yang semula tenang, kini wajahnya memerah dan urat-urat di lehernya menegang. Matanya yang tajam menatap Melisa, seolah ingin meluluhlantakkan semua keangkuhan yang terpancar dari diri wanita itu. Dengan suara yang terkendali namun penuh kekesalan, ia balas menyerang, "Emangnya kenapa? Setidaknya gue udah dapat yang gue ingin dari lu," ucapnya, suaranya dingin menyiratkan rasa sakit yang mendalam.
Melisa hanya tertawa kecil, menunjukkan bahwa ia tak terpengaruh oleh kata-kata Galang. Ia berpaling pada sahabatnya, mengabaikan Galang yang masih terpaku di tempat, dan berkata dengan ringan, "Eh, jaga mulut kamu yah. Yuk beb, kita pergi aja dari sini, bau oli banget nih," ucapnya.
Galang yang tertinggal, menelan kekecewaan. Ia mengelus dada, berusaha menenangkan hati yang berdesir kencang, sambil memandangi punggung Melisa yang semakin menjauh. Sebuah perasaan kehilangan bercampur amarah membuatnya berdiri membisu, sambil kepalanya bergumam, "Sabar, sabar..."
********
Amel melangkah ke arah Galang dengan langkah ragu-ragu dan dahi yang berkerut. Pada tatapan matanya terlihat kebingungan mendalam yang meluap.
"Aduh gimana nih, bisa ngga yah," keluhnya sambil memainkan jemarinya, tanda gelisah.
Galang, yang perhatikan perubahan pada adik iparnya, merasa penasaran. "Kenapa dek?" tanyanya dengan lembut, berusaha menggali lebih dalam.
Napas Amel tercekat sejenak, lalu ia menjelaskan dengan nada yang meninggi karena panik, "Jadi begini kak, pengumpulan formulir harus besok, setelah itu tiga hari lagi mau acara ospek. Tapi aku belum lengkapin semua perlengkapannya, mulai dari pakaian dan banyak lagi. Aku bisa stres kalau gini, kak!" Galang mengernyit, heran dengan kepanikan Amel yang tampak berlebihan. "Hah, kan masih ada tiga hari lagi kan? Kok udah panik aja?".
Amel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya terlihat sayu menatap Galang yang tampak bingung. "Aku bahkan belum tahu harus mulai dari mana, kak" keluhnya sambil melihat daftar yang harus ia persiapkan saat ospek nanti.
Galang menghela napas, matanya menyapu wajah Amel yang tampak pucat pasi. "Yaudah, nanti kita cari bareng setelah ini. Jangan khawatir, masih ada banyak waktu," ucapnya berusaha menenangkan.
Amel mengangguk lesu, raut wajahnya masih mencerminkan kecemasan yang mendalam. "Aku takut nggak sempat, Kak." desahnya, tangannya gemetar sedikit.
Galang memegang bahu Amel, mencoba memberikan dukungan. "Pasti bisa," katanya, mencoba menyuntikkan semangat.
Amel menghembuskan napas berat, matanya berkilat sedikit harapan saat mendengar kata-kata Galang. "Makasih, Kak. Untung ada kakak kasih aku semangat." ucapnya, sebuah senyum kecil akhirnya mengembang di wajahnya yang sebelumnya tegang.
Galang dengan sigap menunggangi motornya lagi ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi keras dari dalam saku jaketnya. Dengan gerak cepat, ia mengambil ponselnya, tapi begitu ia melihat nama ayahnya muncul di layar, dia langsung menekan tombol merah. Sesaat, matanya terlihat gelisah sebelum dia mengaktifkan mode pesawat.
"Siapa yang nelpon, Kak?" tanya Amel dengan nada penasaran. Galang memandang Amel, matanya mengeras,
"Bukan urusanmu," ujarnya, suaranya terdengar begitu dingin hingga Amel terperanjat dan wajahnya muram.
Melihat ekspresi Amel berubah, Galang hanya mengangkat bahu, tanpa rasa bersalah. "Mau naik atau gimana?" tanyanya, suaranya masih menyisakan ketegangan.
Sejenak mata Galang terarah tajam ke jalan raya, mencoba berpikir jernih. Tangan kanannya menggenggam kuat stang motor, sementara tangan kiri masih memegang ponsel yang baru saja dimatikan.
Amel, yang masih terkejut dengan respons mendadak Galang, memperhatikan lekukan ketegangan di wajah kakak Iparnya itu. Keningnya berkerut, dan ada semburat kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi, namun melihat tatapan tajam Galang, ia urungkan niatnya.
"Naik atau tidak?" ulang Galang, suaranya lebih keras kali ini, seakan ingin segera meninggalkan tempat itu. Amel hanya mengangguk pelan, hatinya masih diliputi kebingungan. Dengan perasaan yang campur aduk, ia naik ke belakang motor, memegang pinggang Galang dengan ragu.
Motor pun melaju kencang, meninggalkan keheningan yang belum terpecahkan, sementara pikiran Amel melayang, mencoba menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Tak lama kemudian, motor berderu pelan, dan Galang dengan hati-hati mengarahkan kendaraannya menuju lokasi pusat perbelanjaan. Wajahnya serius, seolah-olah membawa beban yang berat.
"Maaf dek," katanya akhirnya, suaranya terdengar berat.
"Ini urusan keluargaku, kamu nggak perlu ikut campur. Maaf ya, tadi aku nggak sengaja keras sama kamu." Ucapannya selesai diiringi tatapan penuh penyesalan.
Amel, dengan hati yang remuk, segera melompat turun dari motor, kemudian melangkah meninggalkan Galang tanpa sepatah kata pun. Seolah kata-katanya terkunci rapat di dalam dada. Sementara Amel sibuk menghilangkan kekecewaan dan rasa penasarannya dengan berbelanja keperluan ospek, Galang memilih untuk menunggu di tempat yang sama, diliputi kebingungan dan ketidakyakinan. Setelah menyelesaikan belanjanya, Amel kembali ke tempat semula, namun Galang tak ada di mana-mana.
"Dia kemana sih?" gumam Amel dalam kepanikan yang mulai menggelepar di dada, rasa kesalnya pada Galang semakin menjadi.
Amel merasa gelisah, matahari telah tenggelam dan langit mulai gelap. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu Galang yang tak kunjung datang. Beberapa kali dia melirik ke arah jalan, berharap melihat sosok Galang muncul dari kejauhan. Namun, yang ada hanya hampa dan kekecewaan yang semakin membesar di hatinya.
"Oke, aku akan pulang sendiri," ucapnya dengan nada sedih, menelan kekecewaan yang berkecamuk.
Tiba-tiba, suara motor terdengar mendekat dan sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Galang berhenti tepat di samping Amel, napasnya agak terengah-engah seolah baru berlari.
"Maaf, yah," kata Galang, seraya mengulurkan sesuatu ke arah Amel. Sebuah boneka kecil yang lucu dengan pita merah di lehernya.
Amel mendongak, matanya menatap Galang dengan ekspresi kesal. "Kamu kira aku anak kecil?" tanyanya, suaranya bergetar karena campuran emosi yang sulit dijelaskan.
"Iya, soalnya belum nikah," jawab Galang dengan senyum menggoda.
Amel hanya bisa menghela napas, hatinya bergetar hebat dan pipinya memerah, bukan karena marah, melainkan karena terkejut dengan kepedulian yang ditunjukkan Galang. Meski kesal, dia tidak bisa menahan senyum yang merekah di wajahnya. Ada rasa lega yang mengalir dalam dada, mengetahui bahwa Galang belum benar-benar meninggalkannya.
*******
Malam harinya, Galang sedang menikmati acara TV favoritnya di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu remang-remang. Udara malam itu terasa panas, membuat Galang hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Tengah larut dalam tayangan, tiba-tiba bayangan seseorang menghalangi cahaya televisi.
Dari arah belakang sofa, Amira muncul dengan langkah yang hampir tidak terdengar. Dengan gerakan yang lambat, ia duduk tepat di depan televisi, menghalangi pandangan Galang. Amira hanya mengenakan tanktop tipis dan celana pendek, pemandangan yang tidak biasa dan cukup membuat Galang terkejut.
"Maaf yah, Galang, soalnya gerah banget, jadi sengaja duduk di depan, biar bisa kena kipas," ujar Amira, sambil menoleh memberikan senyuman yang canggung. Suaranya terdengar lembut, berusaha menjelaskan situasi tanpa membuat Galang merasa tidak nyaman.
Galang yang tadinya ingin memprotes, justru terdiam sesaat. Matanya yang semula terfokus pada layar kini malah tertuju pada sosok Amira yang duduk menghadapnya. Kulitnya yang terlihat berkilauan karena keringat, dan cara dia membenarkan rambut yang menempel di lehernya, semuanya terekam jelas dalam pandangan Galang.
Ketika mata mereka bertemu, ada desiran aneh yang melintas di antara mereka. Galang merasakan perasaan yang sulit dijelaskan; campuran antara keberatan dan ketertarikan. Wajahnya yang awalnya tampak kesal perlahan melunak, dan dia menarik nafas dalam, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul.
"Ngga enak banget jadi Janda Lang," keluhnya tanpa memandang Galang, suaranya terdengar lelah.
Galang menangkap getar dalam suara Amira, hatinya tergerak oleh rasa ingin tahu yang mendalam.
"Kenapa nggak menikah lagi, Bu?" tanyanya, suaranya mengandung harap yang tersembunyi.
Amira menoleh, matanya bertemu Galang sesaat-ada luka yang tersimpan di sana.
"Udah ada calonnya, sih," jawabnya perlahan, "Tapi... Lang, duduk sini dulu, aku mau curhat." Jantung Galang berdegup kencang.
Campuran hangat dan dingin bergulung di dada, memaksa ia menggeser duduk lebih dekat tanpa menghilangkan jarak antara mereka.
Matanya menatap tangan Amira yang gemetar kecil, jemari-jemarinya seperti menari tanpa irama. "Sulit, Galang..." suara Amira pecah, penuh dengan kepedihan yang tak tersampaikan.
"Pacarku... dia bilang sayang. Tapi dia takut. Tak mau melangkah lebih jauh. Semua kata-katanya hanyalah janji-janji kosong, tentang menikmati hari ini tanpa harus terikat esok." Ada hampa dalam suaranya, laksana malam kelam yang menyelimuti jiwa yang sedang rapuh. Galang hanya mampu diam, merasakan beban hati Amira yang tak terucap, terperangkap dalam ketidakpastian yang menggigit.
Galang mengangguk perlahan, mencoba mencerna setiap kata. "Tapi Ibu ingin lebih dari itu, ya, Bu?" tanyanya, suara hati-hatinya mencoba tidak terdengar menghakimi.
Amira menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin kepastian, Galang. Aku ingin rumah yang bisa kusebut milik, bukan sekedar tempat berteduh sesaat. Aku ingin keluarga, bukan sekedar teman berbagi cerita."
"Dia mungkin takut, Bu," Galang berusaha memberi sudut pandang lain, meski hatinya sendiri merasa gusar.
"Takut kehilangan kebebasannya, atau mungkin, takut tidak bisa menjadi seperti yang Ibu harapkan."
Amira tersenyum pahit, mengangguk pelan. "Mungkin," katanya, suaranya semakin lirih. "Tapi mungkin juga aku yang harus belajar menerima kenyataan, bahwa tidak semua cinta berakhir di pelaminan."
Galang hanya bisa menawarkan senyum simpul, hatinya terasa dipilin. Ia menyadari betapa rumitnya jalan yang harus dilalui Amira. Dalam hening, mereka berdua terdiam, masing-masing tenggelam dalam labirin pikiran dan perasaan masing-masing.
Amira, dengan suara lembut yang penuh arti, bertanya kepada Galang apakah istrinya sudah tidur. Galang, dengan nada santai, mengonfirmasi bahwa istrinya memang sudah tidur karena tidak bisa menahan kantuk setelah jam delapan malam.
Sesaat kemudian, Amira tersenyum tipis, seolah ada makna tersembunyi di balik kata-katanya.
Dia mendekatkan kepalanya ke bahu Galang, bertanya dengan nada yang lebih menggoda, "Heheh, Amel juga gitu kok, sekarang dia juga udah tidur. Tapi kok aku merasa, malam ini seolah merestui kita berdua yah?" Suara Amira yang lembut itu seakan membawa pesan yang lebih dari sekadar pertanyaan biasa.
Galang yang semula terkejut dengan kedekatan fisik yang tiba-tiba itu, lambat laun merasa sebuah emosi yang tak terduga mengalir dalam dirinya. Dia mulai merespons dengan mengelus lembut kepala Amira, tangannya bergerak secara instingtif menunjukkan kenyamanan yang mulai terjalin di antara mereka. Keduanya kini tenggelam dalam suasana romantis yang diciptakan oleh film dan kedekatan mereka, seolah dunia luar tidak lagi berarti.