Di balik sebuah dinding kaca gedung apartemen lantai sepuluh, berdiri sosok pria berambut cokelat, bertubuh tinggi semampai sedang menatap indahnya kota dengan tangan memegang gelas isi brandy. Atasan tubuh yang telanjang memperlihatkan otot-ototnya yang selalu membuat para wanita terpikat.
Clek!
Bunyi pintu terbuka membuat pria bernama lengkap Dominik Fedorov itu menoleh. Rahangnya yang berbulu tampak mempesona. Bibirnya yang tipis tak bergerak saat menelan minumannya hingga habis. Mata abu-abunya menyipit saat menatap wanita cantik bertubuh tinggi yang baru saja keluar kamar mandi.
Gaun hitam wanita itu tipis hingga memperlihatkan tubuhnya yang seksi. Mata cokeklatnya sedang mencari-cari, tapi langsung berhenti begitu siluet pria yang paling dicintainya terlihat.
"Dom, kau tidak ingin membersihkan diri?"
Pria itu meletakkan gelasnya di atas meja kemudian menghampiri wanita itu. "Aku tak perlu melakukannya. Aku ingin kau yang melakukannya untukku."
Saat ini tubuh mereka sangat dekat. Aroma sabun yang meruap dari tubuh wanita bernama lengkap Larisa Volkov itu membuat kejantanan Dominik mengeras. Tak menunggu lama, Dominik langsung menunduk dan melumat bibir Larisa.
Wanita sedikit terkejut. Bukannya menolak ia malah membalas lumatan Dominik hingga rambut hitam terkuncir langsung terurai.
"Kau ...," Dominik menggeram, tubuhnya semakin panas dan membara saat tangan Larisa bermain di balik celananya, "Aku akan menghukummu."
Larisa terkekeh. Ia menjauhkan tubuhnya dari Dominik kemudian berlari mendekati ranjang. Bukannya berdiam, Larisa justru melepaskan gaun hingga tubuhnya yang telanjang terlihat nyata.
Dominik tak tahan. Ia segera mendekati Larisa, membaringkan, kemudian menyerang tubuhnya dengan serangan bibir yang membuat Larisa mendesah.
"Dom, rasanya sangat nikmat."
Tangan Larisa meremas sepray. Tubuhnya menggeliat. Kakinya terbuka lebar dan matanya terpejam saat merasakan dingin yang begitu nikmat menyambar kewanitaannya.
"Oh, Dom, aku tak tahan lagi. Aku ...," desah Larisa. Pucuk dadanya semakin menegang menantikan sentuhan verbal dan dingin yang selalu dilakukan Dominik kepadanya.
Selalu ingin membuat Larisa tersiksa oleh kenikmatan, Dominik menjauhkan wajahnya dari sana lalu menyerang pucuk dadanya yang mengeras. Dominik melakukannya perlahan; membelai, mengecup kemudian bermain dengan lingualnya yang basah.
Larisa terus mendesah oleh kenikmatan yang diberikan Dominik kepadanya. Ia bahkan meminta ampun dan ingin segera mengakhiri semuanya. "Kumohon, Dom, aku tak tahan lagi. Aku ingin___"
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Dominik langsung mengajak Larisa dalam ciuman panas sambil melepaskan celana. Begitu celananya dilepaskan, saat itulah Dominik melepaskan ciumannya dan kembali menyerang bagian bawah tubuh Larisa secara kasar.
Larisa meremas rambut Dominik dan memohon ampun. "Kumohon, Dom. Cepat selesaikan, aku tak tahan lagi, aku ... Ah."
Dominik semakin mempercepat gerakan lidahnya, membuat Larisa semakin basah sampai akhirnya tubuh mereka menyatuh.
"Oh," geram Dominik. Ia berada di atas tubuh Larisa sambil menggoyangkan pinggulnya.
Larisa mendesah. Gerakan tubuh pria itu membuatnya melayang ke udara. "Dom, aku cinta padamu. Aku cinta padamu, Dominik."
Suara Larisa membuat Dominik semakin cepat, cepat, cepat, dan ... "Ahhhh."
Desahan panjang keluar dari mulut Larisa saat dirinya mencapai puncak untuk pertama kali. Perlahan ia membuka mata dan tersenyum kepada Dominik. "Aku ingin di atas."
Pria itu tak membatah. Dengan gerakan hati-hati ia memutar tubuh membuat posisi mereka berubah. "Sekarang buktikan kehebatanmu."
Larisa tersenyum nakal sebelum pinggulnya mulai bergoyang di atas tubuh Dominik.
"Oh, Larisa. Kau benar-benar wanita penggoda dari neraka."
"Dom, ahhh," desah Larisa. Ia terus bergoyang di atas tubuh pria itu dengan mata terpejam, "Dom, aku tak tahan. Aku ...."
"Keluarkan, Larisa. Keluarkan."
Pinggul Larisa semakin cepat, cepat dan ... Ahhh. Desahan panjang saling bersahutan memenuhi ruangan. Larisa yang tadinya di atas tubuh Dominik kini terkulai penuh keringat.
Dominik membuka mata, menatap Larisa kemudian mencium pucuk kepalanya. "Aku mencintaimu."
Larisa tersenyum sambil memeluk tubuh Dominik. "Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Dom."
Pria berusia dua puluh lima tahun itu menempelkan rahangnya di kelapa Larisa. Sambil mengusap kepala ia berkata, "Besok aku akan membawamu ke rumah. Aku akan memperkenalkanmu dengan orangtuaku."
Larisa terkejut. Ia mendongak menatap wajah Dominik yang sedang menatapnya. "Untuk apa?"
"Untuk apa?" Dominik tersenyum, "Aku ingin kita menikah, jadi aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa kaulah calon istriku."
Rasa bahagia langsung menyelimut Larisa. "Ka-kau ingin menikahiku?"
"Tentu saja. Apa kau tidak ingin kita menikah?"
"Bukan begitu, tapi ...," ekspresi di wajah Larisa berubah suram, "Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Aku takut orangtuamu tidak akan setuju."
Dominik bangkit. Ia menyandarkan tubuh di sandaran ranjang lalu menarik Larisa ke dalam pelukan. "Kau tidak perlu takut, mereka akan setuju."
"Tapi, Dom ___"
Belum selesai berbicara, Dominik langsung melumat bibir Larisa.
Wanita itu yang awalnya terkejut akhirnya melembutkan bibir kemudian balas lumatannya. Mereka berpelukan, berciuman hingga tubuh mereka kembali bergairah.
Setelah puas, Dominik melepaskan bibir Larisa. Ia menatap sayu lalu berkata, "Apapun pilihanku, orangtuaku akan setuju. Percayalah padaku."
Larisa tak menjawab. Ia hanya mengangguk kemudian mencium Dominik hingga akhirnya mereka menghabiskan ronde ke dua dengan penuh cinta dan lebih dahsyat.
***
Di dalam apartemennya yang mewah sosok Dominik sedang merapikan setelan jasnya yang mahal. Di depan cermin mata serta rahang tegas yang berjambangnya terlihat datar. Meski terkesan pria dingin dan tegas bibir tipis serta hidungnya yang mancung membuat wajah Dominik sangat tampan.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel dari saku jas membuatnya terkejut. Perlahan ia mengambil benda itu dan menatap layar. Dilihatnya nama Larisa sebagai pemanggil. Sambil tersenyum sayang Dominik segera menyambungkan panggilan yang tak lain dari kekasih tercinta.
"Halo, Sayang?"
"Aku sudah selesai. Kapan kau akan menjemputku?"
"Aku akan segera ke sana," katanya sambil menatap wajah di cermin.
"Dom?" panggil Larisa, "Aku gugup. Rasanya aku takut bertemu orangtuamu."
"Kau tidak perlu takut, Sayang. Orangtuaku tidak jahat. Mereka pasti akan menyukaimu. Kau percaya padaku, kan?"
"Aku selalu percaya padamu. Kalau begitu sekarang kemarilah dan jemput aku sebelum aku berubah pikiran."
Tut! Tut!
Dominik tersenyum saat Larisa memutuskan panggilannya. Tak ingin sang pujaan hati menunggu lama ia segera memasukan kembali ponsel ke dalam jas kemudian meninggalkan apartemen.
Di sisi lain.
Dalam rumah megah bergaya Rusia yang dinding jendela kacanya begitu banyak sosok tegas Bogdan Fedorov sedang beradu mulut dengan wanita cantik yang tak lain adalah istrinya, Katerina. "Dominik sudah dewasa, Kate. Hanya dia satu-satunya pewaris perusahan kita. Ini sudah waktunya kita memikirkan siapa yang pantas untuk menjadi istrinya."
"Aku mengerti, tapi biarkan Dominik yang memilihnya sendiri."
"Tidak! Sudah terlalu lama kita menunggu keputusannya. Buktinya sampai saat ini dia tidak pernah mengajak wanita ke rumah ini. Sebagai orangtuanya kita harus bertindak. Karena kalau sampai aku meninggal sebelum Dominik menikah, siapa yang akan meneruskan Fedorov Enterprise kalau anak kita satu-satunya juga ikut meninggal."
"Kumohon, Bogdan," kata Katerina, "Jangan bicara seperti itu. Belum waktunya bagi kalian berdua untuk meninggal, kau bukan Tuhan yang bisa memutuskan begitu saja tentang kehidupan."
Saat ini Katerina sedang duduk di sofa panjang berwarna cokelat. Wanita yang memiliki rambut pirang keemasan dan tergerai indah dipadu model wave alami sedang menatap ke arah Bogdan yang sedang mondar-mandir penuh amarah. Lelaki bermata abu-abu dan rambut hitam itu adalah suaminya.
"Benar kata Bogdan, Kate. Di usia Dominik sekarang seharusnya dia sudah menikah. Kita tidak tahu usia kita sampai kapan. Dan kalau Bogdan meninggal sebelum Dominik punya anak, siapa yang akan meneruskan perusahan?"
Wanita yang berkata itu adalah nenek Fedorov, ibu Bogdan. Karena mengalami kecelakan fatal kaki nenek Fedorov harus diamputasi dan duduk di kursi roda.
Katerina menatap ibu dan anak itu secara bergantian. "Aku mengerti, tapi setidaknya berikan dia kesempatan sekali lagi. Dominik pasti bisa membuktikan kepada kalian bahwa dia bisa memberikan keturunan dan generasi berikutnya sebagi penerus Fedorov Enterprise. Aku yakin Dominik pasti punya pacar."
Nenek Fedorov mengendus. "Kalau punya, apakah gadis itu sederajat dengan kita?" ia menatap putranya, "Kau harus mencari menantu yang setara dengan derajat kita, Bogdan. Aku tidak mau Dominik menikah dengan wanita kampung yang ternyata hanya menginginkan harta kita, enak saja."
Bersambung___
Kate menggeleng kepala. "Bu, tidak seharusnya Ibu berkata begitu. Derajat itu tidak menjamin kepribadian seseorang. Belum tentu yang sederajat akan membuat Dominik bahagia. Jadi, sebainya Ibu jangan berpikir begitu."
"Itu sudah pasti, Kate. Dan hal-hal itu sudah pernah terjadi di lingkungan kita."
Bogdan berkacak pinggang. "Ibu benar, Kate. Kita tidak boleh mencari wanita yang latar belakangnya di bawah kita, hal itu akan mempengaruhi generasi berikutnya."
"Benar!" timpa sang nenek, "Wanita yang akan menikah dengan Dominik harus berpendidikan tinggi. Orang kaya, kalau perlu latar belakangnya harus sama dengan keluarga kita. Dan aku sudah punya pilihan, yaitu cucu dari kerabat mendiang ayah kalian. Mereka dari keluarga Slava yang tentu saja sederajat dengan keluarga Fedorov. Jadi kalau kalian setuju aku akan bicara dengan mereka secepat mungkin untuk melakukan perjodohan Dominik dengan cucu mereka."
Katerina menarik napas panjang. Ia sekuat tenaga menentang apa yang dikatakan suami dan ibu mertuanya. "Kita tidak boleh memutuskannya sendiri, Bu. Kita harus konversasikan hal ini dengan Dominik . Siapa tahu dia sudah punya wanita pilihannya sendiri."
Nenek menatap kesal. "Baiklah. Tapi kalau wanita itu tidak sesuai dengan pilihan kita, kita harus tegas menjodohkannya dengan cucu keluarga Slava. Kau dengar itu, Bogdan?"
Bogdan menunduk hormat. "Aku mengerti, Bu. Dan kalau memang Dominik belum punya pacar, aku ingin Ibu saja yang mengatakan soal perjodohan itu kepadanya."
"Bogdan!" pekik Katerina, "Kau tidak boleh begitu, Dominik itu anakmu. Seharusnya kau memberikannya kebebasan untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk dinikahinya."
Lelaki itu menatap istrinya. "Aku juga tidak dibebaskan oleh ayahku, tapi buktinya aku bisa hidup bahagia bersamamu."
Katerina terperanjat. Ia tak bisa berkata apa-apa selain menatap suami dan ibu mertuanya yang kini saling membahas soal perjodohan Dimitry dengan wanita dari cucu pengusaha kaya.
Di sisi lain.
Di dalam rumah mewah lainnya sosok Larisa terlihat gugup dengan gaun putih panjang yang atasannya terbuka. Rambut hitamnya yang disanggul asal memperlihatlan leher putih dan panjang yang selalu membuat Dominik mabuk ketika membenamkan wajahnya ke sana.
"Larisa?" kata lelaki berkaca mata yang usianya di atas lima puluh. Lelaki itu bernama Ivan Volkov, seorang dokter spesialis di rumah sakit ternama negara R yang tak lain adalah pamannya Larisa.
"Halo, Paman. Ya, ampun aku gugup sekali, Paman."
Ivan mendekati Larisa untuk menenangkan. "Gugup kenapa, Sayang?"
Larisa menggenggam tangan Ivan. Sambil menatap Ivan ia berkata, "Hari ini Dominik akan mengajakku bertemu orangtuanya, Paman. Aku gugup sekali. Aku takut keluarga Fedorov tidak menerimaku dan menolakku untuk menjadi istri Dominik."
Ivan diam sesaat. Ia menatap keponakan kesayangan dan satu-satunya lalu menjawab, "Kau harus yakin, Nak. Kau sangat cantik. Kau juga punya pendidikan yang tinggi dan keluarga Volkov sederajat dengan keluarga Fedorov. Jadi, buang rasa takutmu itu karena kau tidak perlu takut."
"Oh, Paman. Tetap saja aku takut. Ini bukan hanya pertemuan biasa, tapi luar biasa."
Ting! Tong!
Bunyi bel pintu membuat Larisa dan Ivan terkejut. Larisa tersenyum, sedangkan Ivan melapisi tangan gadis itu dan berkata, "Itu pasti dia. Pergilah," katanya lalu mengajak Larisa berdiri. Mereka saling berhadapan.
Larisa tersenyum haru. "Doakan aku, Paman. Semoga aku diterima dengan baik dan tidak akan mengecewakan mereka."
"Itu psti, Sayang, yakinlah."
Larisa mencium pipi Ivan kemudian pamit meninggalkan ruangan itu. "Aku pergi"
"Hati-hati, Larisa," kata Ivan. Ucapannya tulus, tapi itu hanya pura-pura
Setelah tubuh Larisa menghilang di balik pintu di antara koridor panjang, saat itulah Ivan meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilannya terhubung Ivan duduk dan menatap tajam.
"Halo, Bos?" sapa seseorang yang bersuara laki-laki dari balik telepon.
"Larisa sudah pergi. Laksanakan tugas kalian dan jangan sampai ada yang melihat, paham?"
"Siap, Bos."
Tut! Tut!
Ivan memutuskan panggilannya. Sambil menatap kosong ia berkata, "Maafkan paman, Larisa. Hanya inilah yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Kau tidak boleh menikah dengan anaknya Bogdan Fedorov. Kau tidak boleh memiliki hubungan dengan keluarga mereka."
***
"Kau masih gugup?" bisik Dominik tepat di telinga Larisa.
Saat ini mereka berada di mobil tepatnya di halaman depan rumah keluarga Volkov. Dominik di bangku kemudi, sedangkan Larisa di sampingnya.
Wanita itu meraih tangan Dominik lalu berkata, "Tanganku sampai dingin. Aku takut."
Pria itu menarik dagu wanita yang usianya lebih muda satu tahun dan mencium bibirnya.
Larisa membalasnya dengan penuh cinta.
"Masih gugup?" tanya Dominik begitu bibir mereka terpisahkan.
Larisa tersenyum sambil menggeleng kepala. "Tidak lagi."
Dominik tersenyum kemudian menyalahkan mesin mobil. Dengan sebelah tangan saling menggenggam satu sama lain Dominik melajukan mobil menuju kediaman Fedorov yang sengat estetik dan sama mewahnya dengan kediaman keluarga Volkov.
"Kau yakin semua orang di keluargamu akan menerimaku?" tanya Larisa sambil menatap Dominik.
Pria itu sedang fokus menyetir, tapi sesekali matanya berpaling untuk menatap wajah cantik sang pujaan. "Atas alasan apa mereka menolakmu?" tanya Dominik dengan suara berat.
"Siapa tahu dan tidak hanya mereka lah yang tahu. Keluargamu keluarga terpandang. Mereka pasti tidak mau mendapatkan mantu yang hanya berasal dari keluarga sederhana seperti aku."
Dominik menatap Larisa sesaat. "Jika hal itu demikian, aku tidak akan mengubah keputusanku sekalipun kau dari keluarga miskin. Aku akan tetap menikahimu. Lagi pula kau bukan dari keluarga sederhana, jadi kau tidak perlu malu. Yakinlah kalau orangtuaku akan menerimamu."
Dominik mengecup pucuk kepala Larisa. Ketika wanita itu menyandarkan kepala di bahunya, mata Larisa menangkap sebuah mobil putih yang melambung, kepalanya tersentak karena kaget.
"Mobil itu laju sekali."
Dominik ikut berkomentar. "Mungkin pengemudianya mabuk."
Karena hari sudah malam jalanan cukup gelap dan sepi. Dominik menambah laju mobilnya agar mereka segera tiba di rumah. Namun saat ia menginjak gas semakin dalam, mobil yang tadi mendahului mobilnya kini menghadang di depan mereka.
Zet!
Dominik terkejut. Ia segera menginjak rem dalam-dalam hingga bunyi decitan terdengar. "Siapa mereka dan mau apa mereka menghalangi kita?" katanya sambil meremas setir mobil.
Larisa tampak panik. "Sayang, aku takut."
Dominik menggenggam tangannya. "Jangan takut. Aku akan melindungimu."
Sosok berpakaian gelap tiba-tiba muncul di balik kemudi sambil memegang pentongan. Wajahnya ditutup menggunakan topeng. Dominik sulit mengenali sosok itu.
Bukan hanya satu, tapi dua orang lagi mengekor di belakang dengan penampilan yang sama sambil mendekati mobil mereka.
"Sayang, mereka mendatangi kita," kata Larisa dengan suara gemetar.
Dominik terus menggenggam tangan Larisa dengan pandangan tak luput dari ketiga sosok yang terus berjalan mendekati mobil.
Tok! Tok!
Salah seorang dari mereka mengetuk kaca jendela di dekat Dominik dengan petongan.
"Dom, aku takut sekali," bisik Larisa. Tangannya semakin dingin saat melihat sosok yang satu lagi berjalan menghampiri pintu di dekatnya.
"Apapun yang terjadi, jangan buka pintunya."
Tok! Tok!
Sosok yang berada samping jendela Dominik kembali mengetuk dan memberi kode untuk keluar. Dominik tak peduli. Ia tetap diam di dalam mobil tanpa melepaskan tangan Larisa.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan kembali terdengar dan hal itu membuat Larisa semakin takut. "Dom, sebaiknya buka saja. Aku takut___"
Brak!
Larisa berteriak saat sosok di sebelah Dominik memukul kaca jendelanya. "Dom, kumohon buka saja. Tanya mereka mau apa dan berikan saja yang mereka inginkan."
Dominik mempertimbangkan sebelum akhirnya menurut. Dengan emosi yang meluap-luap ia ingin membunuh kedua orang itu. Namun sayang ia tidak membawa pistol. Ia sendiri tak menyangka di hari yang mungkin bersejarah ini akan ada penjahat yang menghadang mereka.
Brak!
"Akh!"
Larisa kembali berteriak saat pukulan kembali terdengar. Hal itu pun membuat kaca jendela mobil mulai retak akibat hantaman yang sagat keras.
"Sayang, kumohon," katanya sambil menangis.
"Seandainya tidak ada kamu, mungkin sudah sejak tadi aku membuka pintu dan menghajar mereka," kata Dominik.
Larisa menggeleng. "Kumohon, Dom. Daripada kita akan dibunuh lebih baik kita turuti saja permintaan mereka."
Mau tidak mau Dominik menurut demi ketenangan Larisa. Dengan tangan sebelah yang masih menggenggam tangannya, tangan yang lain bergerak untuk membuka kaca jendela. "Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan?"
Sosok di balik topeng itu tidak menjawab. Ia hanya mengodekan pada Dominik untuk keluar.
Larisa semakin takut. "Dom, aku takut," ia meremas tangan pria itu seakan menahan Dominik agar tetap tinggal.
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Dominik. Seandainya ia bisa melawan dan punya senjata, mungkin orang yang di depannya itu sudah lama mati.
Tok! Tok!
Bersambung____
Halo, Guys. Jangan lupa untuk klik logo love dan kasih komentar, ya. Thank you.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan di sisi Larisa terdengar. Wanita itu menoleh dan melihat sosok itu seakan menyuruhnya keluar.
Dominik menatap mereka secara bergantian dengan wajah garang. "Sepertinya mereka menginginkan mobil itu," bisiknya.
"Apa kau akan memberikannya?"
Mata Dominik jelalatan memantau para penjahat itu, dan saat itu sosok di sampingnya kembali mengodekan agar dirinya keluar. Perlahan ia bergerak dan membuka pintu mobil.
"Sayang aku takut," pekik Larisa.
Pria itu sama sekali tidak melepaskan genggamannya kepada Larisa. "Ikutlah, aku tidak akan meninggalkanmu."
Mereka berdua bergerak dan keluar dari balik pintu kemudi. Begitu sebelah kaki Dominik menginjak aspal, sosok yang muncul dari belakang langsung memukul lengannya.
"Dom!" pekik Larisa. Ia hendak keluar untuk menolong, tapi Dominik mencegahnya.
Spontan kaki Dominik menendang pintu mobil agar kembali tertutup.
Larisa pun dengan cepat mengunci pintu itu dan mengurung diri di dalam. "Ya, Tuhan. Semoga mereka tidak akan melukai Dominik."
Belum tiga detik ucapan itu terlontar, sosok tadi yang memukuli kekasihnya kini melayangkan pukulan keras.
Buk!
"Dominik!" Larisa menangis.
Tubuh Dominik terhuyung saat hantaman keras mengenai punggungnya. Saat wajahnya terangkat untuk menatap sosok yang memukulinya, sosok yang lain menyerang Dominik dengan pukulan bertubi-tubi.
Buk! Buk!
Larisa histeris. Dengan cepat ia membuka pintu mobil untuk menyelamatkan kekasihnya. "Aku mohon," ia menangis, "jangan sakiti dia. Kumohon."
Sosok lain meraih tubuh Larisa agar menjauh, sedangkan dua sosok itu terus memukuli Dominik hingga wajahnya berdarah dan terkulai di aspal.
Larisa semakin histeris. "Dominik! Kumohon, hentikan. Jangan sakiti dia," Larisa menangis. Baru saja hendak melangkah mendekati sang kekasih, dua orang yang tadi memukul Dominik menghadangnya, "Jangan sentuh aku! Aku ingin melihat pacarku!"
"Anda tidak boleh mendekatinya."
"Jangan melarangku! Dominik!" Ia terus menangis, tapi sosok-sosok itu terus menahannya.
Tubuh Dominik tak bisa bergerak. Pukulan yang cukup keras membuat persendiannya sulit digerakan. "Larisa ...," suaranya parau. Tubuhnya lemas dan darah mengalir dari pelipis, "Larisa ... jangan sentuh dia." Dominik berusaha berdiri untuk menolong Larisa. Tapi saat tubuhnya mulai bangkit, saat itulah sosok dari belakang memukul kepalanya hingga kegelapan melenyapkan kesadaran Dominik.
Buk!
Larisa tercengang. "Dominik!"
***
Pagi hari dengan bias kaca yang cerah akibat paparan sinar matahari, Dominik Fadorov sedang terbaring di atas ranjang dengan tubuh memar serta bagian kepala terlilit perban.
"Larisa ... Larisa ... Jangan bawa Larisa. Kumohon jangan bawa Larisaku."
"Dom, bangun. Dom."
"Larisa ... Larisa ...."
"Dom, bangun. Ini mami, Sayang. Dom!" Katerina menepuk pelan pipinya.
Saat itulah Dominik membuka mata. "Larisa! Di mana Larisa? Aku harus menolongnya."
Katerina panik. "Dom, mami mohon tenanglah. Mami__"
"Larisa, Mami. Larisa!"
Dalam hati Katerina bertanya-tanya siapa Larisa. Tapi karena kondisi Dominik yang sangat mengkhawatirkan, ia membujuk putra semata wayangnya untuk kembali berbaring. "Mami mohon berbaringlah, Sayang. Tubuhmu memar semua."
Sakit di tubuhnya langsung menyerang. Dominik menurut. Perlahan ia membaringkan dirinya sambil menatap bagian tubuh yang tampak biru keunguan. "Larisa ... mereka pasti membawa Larisa, Mami."
Katerina meraih tangan Dominik dan menggenggamnya dengan erat. "Siapa Larisa, sayang?" bisiknya sambil menatap penuh cinta.
Saat ini mereka berada di rumah besar keluarga Fedorov tepatnya di kamar Dominik.
"Dia pacarku, dia pacar sekaligus calon mantu keluarga Fedorov."
Mata Katerina berbinar-binar. Ia senang mendengar pengakuan Dominik. Itu artinya pria itu bisa membuktikan bahwa dia akan segera menikah. Namun saat hendak melontarkan pertanyaan lagi, bunyi handle pintu dari luar membuat Katerina menelan kembali pertanyaannya.
Clek!
Bogdan dan nenek Fedorov muncul dari balik pintu.
"Dom!" pekik sang nenek seraya menghambur masuk, "Apa yang terjadi? Kenapa ...," nenek menghentikan perkataannya karena terkejut melihat kondisi cucu semata wayangnya. Dengan cepat ia menoleh dan menatap putranya dengan pandangan marah, "Apa yang terjadi pada cucuku, Bogdan?"
Katerina yang tadi berada di pinggir ranjang Dominik kini bergerak untuk mempersilahkan ibu mertuanya agar bisa melihat kondisi Dominik.
"Semalam kantor polisi meneleponku, mereka menemukan Dominik dalam keadaan tidak sadar di atas aspal dengan wajah penuh darah."
Nenek tersentak. "Apa dia kecelakaan?"
Bogdan menatap sedih. "Itulah yang sedang kami selidiki, polisi tidak menemukan tanda-tanda kecelakaan. Tapi yang anehnya kaca depan dan jendela mobil Dominik hancur berkeping-keping."
Nenek terkejut lagi. "Ya, ampun, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Dominik baru sadar, sebaiknya kita jangan dulu banyak bertanya padaya. Biarkan dia istirahat dulu," kata Katerina dengan nada tidak suka.
"Jadi kalian belum tahu penyebabnya?" tanya nenek sambil menatap Katerina.
"Belum. Semalam Dominik tidak sadarkan diri, dan pagi ini dia baru saja sadar. Kuharap kalian juga bisa mengerti kondisinya," balas Katerina. Ia menatap Dominik, "Istirahatlah, Sayang. Mami akan membuatkan sup sayur untuk sarapanmu."
Dominik selalu menurut ketika Katerina sudah melontarkan perintah. Baginya Katerina adalah sosok orang tua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang dia sukai. Meski Bogdan juga adalah ayah yang baik baginya, tapi sikap Bogdan yang terlalu ambisius dan memaksanya untuk cepat menikah membuat Dominik jengkel. Apalagi sang nenek yang ia tahu selalu menghasut sang ayah agar menyuruhnya cepat menikah. Hal itulah yang membuat Dominik menjemput Larisa dan ingin memperkenalkan wanita itu kepada mereka.
Tapi saat ini niat itu lenyap bersama kejadian semalam. Dalam hati ia berdoa semoga Larisa tidak dilukai oleh mereka. Dominik berjanji, di saat kondisinya membaik ia akan mencari Larisa, membawa dan memperkenalkan wanita itu kepada kedua orangtuanya.
Di sisi lain.
Bias mentari pagi yang terpapar dari jendela kaca dan mengenai mata, membuat Larisa terbangun dengan tubuh yang terbalut pakaian tidur. Perlahan matanya terbuka untuk mengamati sekeliling.
"Larisa, kau sudah sadar?"
Suara yang paling dikenalinya membuat kepala Larisa menoleh. Dilihatnya wajah dari Ivan sedang bediri di samping ranjang bersama beberapa pelayan. "Paman," panggil Larisa. Suaranya bahkan hampir tak terdengar karena parau.
Ivan mendudukan diri di tepi ranjang. Dengan ekspresi penuh kekhawatiran ia meraih tangan Larisa dan menggenggamnya. "Paman di sini, Sayang. Paman di sini. Paman tidak akan meninggalkanmu."
Larisa bangun dan memeluk Ivan. Sambil menangis ia berkata, "Dominik, Paman, Dominik ... dia dipukul oleh orang-orang yang tidak tahu siapa. Aku ingin menolongnya, tapi mereka ...," dengan cepat Larisa melepaskan pelukannya begitu pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam, "Kenapa aku bisa ada di sini, Paman? Bukankah aku___"
"Mereka menemukanmu di jalan," potong Ivan tiba-tiba, "Ada polisi yang berpatroli mendapatimu di bahu jalan dengan kondisi tak sadarkan diri. Tapi untung saja polisi itu mengenalimu dan langsung menghubungi paman. Jadi tadi malam paman langsung ke kantor polisi untuk menjemputmu."
Larisa kembali merangsang ingatannya. Tapi saat pikirannya tertuju pada tiga sosok yang membawanya pergi dan meninggalkan Dominik di jalan aspal, suara Ivan menyadarkan pikirannya.
"Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan? Apa mereka melukaimu?"
Larisa menggeleng lemah sambil menatap kosong sambil menangis. "Aku tidak apa-apa, tapi Dominik ... mereka memukulnya hingga berdarah dan tidak sadarkan diri."
Ivan memeluknya. "Oh, Larisa. Paman sangat bersyukur mereka tidak melukaimu, Nak."
Wanita itu terus menangis. "Aku ingin le lokasi itu, Paman. Aku ingin melihat kondisi Dominik. Mungkin dia masih di sana dan tidak ada yang menolongnya."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Ivan menoleh. Sambil menenangkan Larisa ia berkata, "Masuk."
Clek!
Pria berpakaian hitam rapi muncul. "Bos, kami sudah menemukan pelakunya."
Perkataan itu membuat Larisa kaget dan berhenti menangis. Dengan cepat ia melepaskan pelukan Ivan dan menatapnya.
"Mereka adalah orang suruhan Bogdan, Bos."
Ivan menatap Larisa.
Wanita itu pun balas menatapnya dengan pandangan bingung. "Bogdan, siapa dia, Paman?"
Ivan menarik napas panjang. "Bogdan Fedorov, ayahnya Dominik."
Zet!
Larisa tersentak. "Ayahnya Dominik?"
"Iya. Kemungkinan dia sudah tahu rencana kalian menuju rumah mereka. Agar hal itu tidak terjadi, dia menyuruh orang untuk menghadang kalian."
Larisa menatap skeptis. "Tapi kenapa Dom yang jadi korban? Dom kan anaknya."
Ivan berdiri menghadap jendela. "Itulah taktik mafia, Nak. Mereka bersikap manipulasi seakan-seakan bukan mereka yang dipersalahkan," ia kembali menatap Larisa, "Jadi dia sengaja mencelakai anaknya sendiri, agar Dom berpikir bahwa mereka mengincarmu. Hal itu pasti akan membuat Dom berpikir bahwa orang yang melalukan hal itu adalah orang yang menginginkanmu. Dengan begitu dia sama sekali tidak akan tahu bahwa ayahnya otak di balik semua itu."
Larisa ternganga. Matanya penuh air. "Apakah itu artinya mereka tidak ingin aku menjalin hubungan dengan Dominik?"
Ivan kembali duduk di sampingnya. "Itu sudah jelas, Nak. Keluarga Fadorov adalah keluarga paling terkenal dan berpengaruh di negara R. Sudah pasti mereka telah merencanakan sesuatu untuk Dominik. Dan jika pria itu bertindak tidak sesuai dengan keinginan mereka, itu akan berpengaruh pada keluarga karena dia anak satu-satunya dan pewaris tunggal di keluarga Fedorov. Sudah pasti Bogdan tidak ingin anaknya menikah dengan wanita biasa dan menikah dengan wanita pilihan mereka."
"Apa itu artinya Dom sudah dijodohkan?"
"Benar."
"Tapi kan aku bukan wanita mikin, Paman. Aku bukan wanita cupu yang ingin menikah dengan Dom hanya karena harta."
Ivan tersenyum samar. "Itu benar, Sayang. Tapi untuk statusmu saat ini sudah pasti akan membuat mereka menolakmu. Paman rasa mereka sudah menyiapkan seorang wanita yang lebih kaya dari kita untuk Dominik. Sebab kalau tidak, mana mungkin ada orang yang mencari masalah di saat Dom ingin membawamu bertemu orangtuanya."
Larisa menunduk sedih, memikirkan penjelasan Ivan.
Tapi Ivan langsung berkata lagi membuat wanita itu menatapnya. "Kau jangan takut, Paman akan membantumu. Kau akan mendapatkan Dom kembali."
Larisa sedih. "Itu tidak mungkin, Paman. Pasti kapanpun ketika waktunya tiba mereka akan menikahkan Dom dengan wanita pilihan mereka."
"Tidak ada salahnya mencoba, Larisa ," kata Ivan meyakinkan.
Larisa menatap bingung. "Maksud, Paman?"
"Kau mau kan paman kirim ke Amerika?"
"Untuk apa?"
"Memegang kendali perusahan dan menjadi CEO. Kau mau?"
Bersambung___