Bab 1

Maria yang tengah membuat bubur untuk Marni sang mertua terkejut dengan kedatangan Fiko sambil menggandeng tangan seorang perempuan cantik. Tanpa rasa bersalah, Fiko memperkenalkan perempuan di sampingnya sebagai istri barunya kepada Maria. Maria hanya mematung syok tanpa bisa berucap apa-apa sampai perempuan itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Maria berjabat tangan.

"Perkenalkan! Nama aku Sela Anastsya Arindi, istri keduanya Mas Fiko." Sela tersenyum manis ke arah Maria. " Kamu pasti Maria, istri pertamanya Mas Fiko."

Maria tidak menanggapi perempuan yang mengaku bernama Sela itu membuat Fiko menggeram marah. "Maria! Mana sopan santunmu? Cepat terima uluran tangannya Sela!" Fiko meninggikan suaranya karena merasa Maria malah melamunkan sesuatu dan bukannya dengan cepat menyambut uluran tangan Sela. Fiko tahu Maria shok, tapi tidak dengan mengabaikan Sela. Kalau Maria tahu tujuannya menikahi Sela, Fiko yakin Maria akan berterima kasih pada dirinya dan Sela.

Maria tersentak karena mendengar nada tinggi yang diucapkan Fiko padanya. Pelan, sebuah air mata lolos dari sudut matanya. Selama ini, sesalah apa pun Maria pada Fiko, Fiko tidak pernah membentak atau meninggikan suaranya dalam menegur, namun sekarang hanya demi wanita yang baru, Fiko tega membentaknya. Dia juga tidak menyangka Fiko akan menduakannya setelah 3 tahun pernikahan mereka. "Mas, ka-kamu menikah lagi?"

Hati Fiko tercubit ketika menyadari ada air mengalir dari mata Maria. Istri yang ia nikahi 3 tahun lalu itu kini meminta kejelasan dengan apa yang ia perbuat. Keinginannya untuk segera memiliki keturunan mendorongnya agar menikahi perempuan lain tanpa menceraikan Maria. "Maafkan Mas Maria. Mas sangat ingin segera memiliki anak. Karena kamu belum bisa kasih itu ke Mas, terpaksa Mas menikahi Sela."

Hati Maria sakit mendengarnya. Maria memindai penampilan Sela yang terlihat berkelas, rambut hitam bergelombang, wajah cantik, kulit mulus, serta baju dan perhiasan lainnya melekat indah di tubuhnya. Sedangkan dirinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya berada di dapur, mengurus rumah, serta mengurus mertua yang terduduk di kursi roda.

"Fiko, kamu sudah pulang Nak." Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan menggunakan kursi roda. Dia Marni, Ibunya Fiko yang terkena setruk hingga harus duduk di kursi roda.

Dengan cepat Fiko menghampirinya untuk membantu mendorong sampai ke hadapan semua orang. Kemudian dia mengangkat Marni dan mendudukkannya di kursi makan. "Ya, Ibu. Aku membawa Sela untuk bertemu ibu dan Maria."

Seketika senyum cerah Marni terbit. Dia menatap Sela dengan binar mata yang membuat hati Maria makin sakit karena tidak pernah melihat binar itu untuk dirinya. "Ya ampun. Mantu kesayangan ibu sudah datang. Cantik banget kamu sayang."

"Terima kasih atas pujiannya, ibu." Sela tersenyum manis. “Bagaimana kabarnya Ibu?" Tanya Sela, dengan lembut Sela membawa tangan Marni dan menggemgamnya di atas paha.

Marni makin melebarkan senyumannya. Dia balik menggemgam tangan Sela erat. “Sangat baik setelah bertemu denganmu." Jawabnya lugas sambil melirikkan matanya sedikit ke arah Maria. Marni tersenyum puas karena mendapati wajah Maria yang keruh.

Fiko ikut duduk di kursi sebelah Marni, dan ikut memegang tangan Sela dengan lembut. "Terima kasih Sela. Kamu sudah buat Ibu Mas bahagia. Padahal, kamu baru saja datang di rumah ini."

Sela mengibaskan tangannya yang tak digenggam Fiko dan Marni. "Itu bukan apa-apa. Ibunya Masakan, Ibunya aku juga. Kalau ibu bahagia, aku juga ikut bahagia."

Mereka tertawa bersama melupakan seseorang yang tengah menahan sakit karena tak dianggap ada. Maria melihat mata Marni yang memandang Sela lembut. Padahal Sela baru datang hari ini, namun dia sudah bisa menarik perhatian Marni untuk menyukainya. Sedangkan dirinya yang sudah 3 tahun ini selalu merawatnya, mulai dari memberi makan, obat, memandikan, mengantar pup serta buang air kecil, tak pernah sekalipun di pandang selembut itu. Maria selalu terkena marah dengan alasan tak becus, inilah, itulah, dan berakhir mengadukannya pada Fiko.

Dalam diam, Maria meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Dia terduduk di atas ranjang dengan pandangan kosong. Tak lama pintu terbuka menampilkan Fiko yang menatapnya rumit.

"Maria, sekarang kamu bereskan semua barangmu yang ada dikamar ini."

Maria menatap heran kearah Fiko. "Kenapa Mas?"

Fiko membuang muka enggan melihat wajah Maria. "Mas dan Sela yang akan menempati kamar ini."

Mari berdiri menatap marah Fiko. Dia tidak menyangka Fiko tega mengusirnya hanya demi Sela. "Tega kamu mas. Aku ini juga istri kamu. Kalau tidak tidur disini, dimana aku tidur?"

Fiko menghela nafas lelah. Dia berjalan mendekati Maria dan memegang kedua bahunya. "Mas minta maaf Maria. Mas juga tidak tega, tapi Sela tidak mau tinggal disini kalau tidak menempati kamar ini. Tolong mengerti Mas, Maria!"

Mari menepis kedua tangan Fiko yang bertengger dibahunya. "Aku tidak mau mengerti Mas. Kalau dia tidak mau tinggal di sini, biarkan saja dia pergi. Lagian, tidak ada dalam sunnah Nabi, wanita yang di madu tinggal serumah dengan madunya.

"Tapi, Mas hanya punya rumah satu? Kalau tidak di sini, ke mana lagi?" Fiko mencoba memberi pengertian.

"Makanya jangan sok-sok an ingin beristri dua!" Maria menjawab ketus.

Fiko menatap Maria tak suka. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut istri yang sangat dia cintai itu, terlebih dia tahu Maria adalah gadis sopan santun yang tak pernah dengan sengaja menyakiti hati orang lain. "Mas enggak menyangka kamu bisa bicara seperti itu, Maria."

"Dan aku juga tidak menyangka Mas tega mengusirku dari kamar ini demi istri barumu."

Fiko mengusap wajah kasar. Dia juga tidak tega harus memperlakukan Maria seperti ini, namun dia juga bingung kalau tidak dikamar ini, di mana Sela bisa tidur. "Kamu tidur bareng Ibu." Putusnya tanpa mengerti perasaan Maria.

Sekali lagi air mata Maria menitik. Buru-buru dia mengusapnya kasar, "Ibu tidak pernah menerimaku dengan baik, bagaimana bisa aku tidur sekamar dengannya?"

"Itu karena kamu tidak pernah memperlakukan Ibu dengan baik, makanya Ibu begitu. Coba saja kalau kamu bisa sedikit lebih pengertian ke Ibu. Aku yakin, Ibu pasti menyukaimu." Jawab Fiko enteng.

"Kurang pengertian apa aku, mas. Setiap hari yang merawat dan memperhatikan Ibu itu aku. Lalu apalagi yang kurang?" Maria menyorot Fiko terluka. Memang Fiko sering memarahinya karena Marni selalu mengadu yang tidak-tidak pada Fiko tentang Maria. Namun, dia selalu mencoba bersabar demi mempertahankan rumah tangganya. "Kenapa kamu tidak menyuruh Sela saja yang tidur dengan Ibu. Ibu menyukai Sela."

Fiko menghembuskan napas frustasi. "Sela itu baru dirumah ini. Tentu dia harus beradaptasi dulu. Setidaknya beri dia waktu satu bulan. Setelah itu, kamu boleh kembali menempati kamar ini."

Tanpa persetujuan Maria, Fiko mengeluarkan semua barang Maria dan memindahkannya ke kamar Marni. Maria hanya berdiri tanpa berbuat apa-apa. Matanya memang tidak menangis, namun hatinya sakit luar biasa. Dia sudah diperlakukan seperti pembantu di rumah ini, namun hanya ke tidak adilan yang dia dapat.

Maria berjalan dengan menyeret langkahnya yang berat menuju kamar sang mertua. Begitu pintu terbuka, sebuah bantal melayang tepat mengenai mukanya. "Tidur dilantai kamu. Saya tidak sudi seranjang denganmu."

Marni tersenyum puas melihat Maria berdiri dengan tatapan kosong diambang pintu. Tanpa banyak bicara dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan berselimut tebal.

Maria tidur dilantai tanpa alas apa pun kecuali bantal untuk menyangga kepala yang tadi dilempar Marni. Malam semakin larut. Semua penghuni rumah sudah tertidur pulas kecuali Maria yang sedang menahan dinginnya lantai. Sesekali dia menggosok tangannya untuk menghalau dingin. Namun percuma, ternyata dingin itu tak kunjung hilang.

***

Bab 2

Maria tersentak ketika mendapati air dingin menyiram ke wajahnya. Dia mendongak mendapati Marni yang tersenyum culas memandangnya jijik. Seolah belum puas, Marni kembali melempari Maria dengan gayung yang tadi dia pakai untuk menampung air.

"Dasar pemalas. Cepat bangun dan siapkan sarapan!" Marni melewati Maria begitu saja. Dengan sengaja Marni tidak menjauhkan roda kursinya yang ada di depan jari tangan Maria sehingga dengan naas menggilasnya.

Maria menjerit sakit ketika tangannya tergilas roda. Marni hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan niatnya untuk keluar.

Maria mengusap jari tangannya pelan. Ingin marah, tapi dia cukup sadar dengan keberadaan di rumah ini saja orang-orang sudah tak menginginkannya.

Dia melihat jam di nakas dan baru menunjukkan pukul 04. Pagi. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai menunaikan ibadah Shalat, dia pergi ke dapur untuk memasak. Namun, waktu melewati kamarnya yang dulu dia dan Fiko tempati, pintu itu sedikit terbuka, dia mendapati Fiko masih tertidur sambil berpelukan dengan Sela. Hatinya sakit, namun dia mengingatkan diri bahwa Sela juga istrinya, dan wajar mereka melakukan hal seperti itu.

Marni yang bersembunyi di belakang tembok menyeringai puas. Dia sengaja membuka sedikit pintu kamar Fiko dan Sela agar ada celah untuk Maria melihatnya yang sedang berpelukan mesra. Setidaknya wanita yang sayangnya masih menantunya itu sadar diri bahwa Fiko sudah tidak membutuhkannya lagi karena ada Sela yang menggantikannya.

Tanpa menggagu Fiko dan Sela, Maria melanjutkan langkahnya ke dapur guna memasak sarapan untuk semua orang. Selesai masak, Maria membereskan seluruh rumah sampai beres. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi, dia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum berkumpul untuk makan. Namun, begitu dia keluar untuk makan, Maria tak mendapati sayur dan ikan yang tadi dia masak. Hanya tertinggal nasi sedikit di atas bakul.

Fiko yang masih duduk di kursi makan menatap heran Ke arah Maria yang memandang meja dengan tatapan kecewa. "Kenapa kamu memandang meja seperti itu?"

Maria mendudukkan tubuhnya di sebelah Fiko. "Kenapa kalian tidak menungguku makan?" Maria balik bertanya. Dia menyorot Fiko hampa. Padahal perutnya sudah kelaparan karena lelah dari subuh membereskan rumah.

Fiko menggelengkan kepala heran. "Bukannya kamu sudah makan?"

"Kapan?" Maria bertanya bingung. Dia belum menyentuh makanan sedikit pun, lalu bagaimana bisa dia di bilang sudah makan.

"Ibu bilang kamu makan duluan tadi." Marni memang mengatakan pada Fiko bahwa dia melihat Maria makan duluan tanpa menunggu yang lain. Fiko berpikir mungkin karena Maria sudah lapar bekerja dari subuh, makanya memutuskan untuk makan duluan tanpa menunggu yang lain.

"Dan mas percaya?" Maria menyorot Fiko kecewa. Sudah sering terbukti kalau Marni sering mengarang cerita bohong tentang dirinya, namun Fiko tetap mempercayainya seolah Marni tak pernah melakukan kebohongan sekalipun.

"Ibu gak mungkin berbohong!" Fiko agak meninggikan suaranya karena tidak suka dengan pertanyaan Maria yang seolah menyebut ibunya tidak jujur. Ibunya, wanita yang paling Fiko hormati adalah wanita terbaik dalam hidupnya. Setelah kepergian ayahnya 15 tahun yang lalu, hanya ibunyalah seorang yang membesarkannya sampai sesukses sekarang.

Maria bangkit berdiri meninggalkan Fiko yang termenung. Fiko sangat menghormati ibunya, sehingga tak mungkin dia menjelekkan ibunya. Terlepas dari benar atau salahnya Marni, Fiko tetap akan membelanya walau itu artinya harus menyakiti istrinya.

Maria pergi ke belakang rumah. Dia menangis Di sana menumpahkan segala amarah yang terpendam. Berkali-kali dia memukul dadanya berharap rasa sakit itu mereda walau hanya sedikit.

"Sakit. Sakit. Sakit." Maria terus memukuli dadanya sampai rasa lapar diperutnya terlupakan terganti dengan rasa sakit hatinya yang tak terkira. Dia ingin marah pada Fiko, namun kewajiban seorang istri kepada suaminya masih terikat untuk selalu taat selagi masih belum melenceng dari syariat Islam.

Samar Maria mendengar Fiko memanggilnya. Buru-buru dia menghapus air matanya sebelum ketahuan.

Fiko datang menjinjing kantong di tangannya. "Ini ada nasi dan lauknya, sebaiknya kamu makan sebelum mag kamu kambuh!"

Maria menerimanya. Di bibirnya tersungging senyum kecil. Fiko masih memperhatikannya, dan itu cukup untuk Maria bertahan. Ya perhatian Fiko saja cukup untuk dirinya. Dia tidak meminta lebih, asal Fiko masih menganggapnya ada. Katakan Maria labil, namun di dunia ini hanya Fiko yang dia punya. Tentu Maria punya batas kesabaran, dan untuk saat ini, kesabaran itu masih ada selagi Fiko adil kepadanya.

"kamu tahu aku belum makan?" Tanyanya penuh haru. Rona di wajahnya kembali ceria seolah baru saja mengisi energi.

Fiko mengangguk dan memperhatikan wajah Maria lekat. Dia menyadari mata Maria bengkak. Maria adalah wanita tangguh, kalau dia menangis berarti sesuatu itu sangat menyakiti hatinya. Dan Fiko tentu sadar dengan apa yang membuat Maria menangis, itu dirinya. Dirinya si laki-laki berengsek yang tega membuat wanita sebaik Maria mengeluarkan air mata, wanita yang dia cintai setulus hati, namun sekaligus wanita yang tidak bisa memberinya keturunan. "Habiskan!"

Maria mengangguk. Dalam diam dia menghabiskan makanannya ditemani Fiko. Tanpa mereka sadari seseorang mengepalkan tangannya marah menyaksikan antara Maria dan Fiko. Dia bersumpah akan membuat Fiko membuang Maria dari hidupnya.

"Aku mendapatkan gajiku kemarin." Fiko memulai kembali pembicaraan di saat makanan Maria telah habis.

Mari mendongak menampilkan senyum kecil di bibirnya. "Bagus dong."

Fiko ikut tersenyum melihat senyum muncul di bibir Maria. "Ya. Mulai sekarang kamu gak usah lagi mengatur kebutuhan rumah. Karena kata ibu, Sela lebih bisa mengatur keuangan, jadi aku kasih hampir semua gajihku kepadanya." Fiko merogoh sesuatu dari dalam sakunya. "Ini ada tiga ratus ribu untuk uang jajanmu. Kalau tidak cukup, kamu bisa memintanya lagi pada Sela."

Senyum Maria lenyap tak tersisa. Hatinya kembali pedih. Dia kira hanya dengan Fiko masih menganggapnya ada itu sudah cukup untuknya. Nyatanya, hal ini pun sama menggores luka. Dengan tangan bergetar, Maria menerima uang pemberian Fiko.

"Kenapa Mas tidak mendiskusikannya denganku terlebih dahulu?" Maria bertanya tanpa melihat Fiko. Kepalanya menunduk memandang pada cekalan tangannya yang mengerat kuat pada uang. Dia kecewa, ingin marah karena tidak mendapat perlakukan selayaknya pasangan yang selalu di ikut sertakan dalam hal apa pun.

"Kalau soal itu, Mas percaya kalau kamu pasti setuju dengan apa yang menjadi keputusan Mas. Selama ini kamu memang suka begitu, kan." Fiko menjawab enteng tanpa menyadari perubahan emosi wanita di depannya.

Maria tersenyum pedih. "Mas, benar. Selama ini memang aku selalu mengikuti apa yang menjadi keputusan, Mas. Tapi, itu terjadi karena Mas juga tidak pernah sekalipun bertanya hal mengenai apa pun padaku. Mas lebih suka merundingkannya bersama ibu." Maria mendongak ke arah Fiko. Tatapan matanya menggambarkan kehampaan "Apa keputusan sekarang Mas mengajak Sela?"

Fiko membeku. Seakan lupa dengan satu hal. Bagaimana pun Maria selalu mengikuti keinginannya, Maria tetap saja wanita yang punya hati dan keinginan tersendiri. Fiko sadar selama ini sering melupakan akan pakta itu. "Maaf." Balas Fiko menyesal. "Harusnya Mas ajak kamu juga! Maaf sayang. Mas minta maaf." Fiko mengambil tangan Maria dan menciumnya lembut penuh penghayatan.

Maria menghela napas pasrah. Bagaimana pun itu juga sudah menjadi keputusan suaminya. Akhirnya Maria hanya bisa mengangguk membuat senyum lega Fiko terbit.

"Ya sudah. Mas masuk ke dalam." Fiko berdiri dan menepuki celana bahannya yang tertempel daun kering. Sebelum pergi, sekilas dia mengusap kepala Maria yang tertutup hijab.

Maria memandang kepergian Fiko sampai menghilang di balik pintu. Dia berdiri dan memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Namun, niatnya itu harus tertunda dengan kedatangan seseorang yang kini tengah menghalangi jalannya.

***

Bab 3

"Sebaiknya mulai sekarang kamu harus tahu diri!" Sela menyeringai, "Sebelum Fiko membuangmu dengan hina, lebih baik kamu pergi dengan terhormat."

Maria menatap datar Sela. "Sepertinya kamu begitu ingin saya pergi?" Maria tidak tahu letak salahnya di mana sehingga Sela bisa begitu tidak menyukainya. Harusnya, di sini yang merasakan ketidak sukaan adalah dirinya karena sela telah masuk ke dalam pernikahan orang. Walaupun agama memperbolehkannya, tapi itu juga harus sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Dan letak poligami yang Fiko lakukan tentu tidak dapat di benarkan.

"Tentu!" Sela menyilangkan tangannya di dada dan memandang Maria rendah. "Orang sepertimu hanya bagaikan batu kerikil yang ingin dipungut untuk dijadikan berlian. Harusnya kamu sadar, sekali kerikil tetap kerikil. walau digosok sedemikian rupa pun, nilai jualnya akan tetap sama rendah. Sama sepertimu yang rendahan."

"Bicaramu seolah kamu berlian saja. Saya kerikil, namun kemanfaatannya begitu banyak bagi orang lain. Salah satunya selain kerikil itu tahan banting, untuk jalan raya. Tanpa kerikil, tidak akan ada jalan yang kuat untuk dilalui banyak mobil. Lalu kamu seolah merasa dirimu adalah berlian. Ya, mungkin memang benar. Kamukan ular. Dalam film tuh biasanya ular juga pada punya berlian." Maria tersenyum puas mendapti wajah merah Sela. "Ternyata sebegitu tidak sukanya kamu dengan keberadaanku!"

Sela kembali menyeringai. Dia berbalik, namun sebelum melangkah, dia menengok sedikit ke arah Maria. "Baguslah kamu menyadarinya. Untuk membuat Fiko hanya memandangku seorang, maka benalu sepertimu harus kusingkirkan terlebih dahulu."

Maria tertegun dengan apa yang baru saja Sela ucapkan. Apakah baru saja dia diancam madunya? Maria tertawa miris, "sebegitu tidak lakunya kamu sehingga harus merebut suami orang."

Sela yang sudah berjalan sontak menghentikan langkahnya. Dia berbalik sepenuhnya menghadap Maria. "Saya tidak merebutnya dari kamu. Fiko sendiri yang menginginkanku. Lagi pula, apa yang bisa diharapkan dari perempuan mandul sepertimu. Menyusahkan."

Maria meredam gejolak rasa yang ingin meledak keluar dengan beristigfar dalam hati. "Jadilah apa yang kamu inginkan. Sesungguhnya karma tahu harus pada siapa dia membalas."

"Takuuut." Sela tertawa mengejek.

Maria yang melihat kepergian Sela hanya bisa menghela napas pelan. "Kenapa kamu menikahi wanita seperti itu, mas?"

***

Rutinitas sehari-hari Maria tetap sama walau di rumah itu bertambah satu anggota, yaitu Sela. Maria tidak pernah meminta Sela untuk membantu pekerjaannya dalam mengurus rumah, memasak, bahkan memberi ibu obat dengan teratur. Semua kegiatan itu Maria kerjakan sendiri karena ingin memperlihatkan pada Fiko kalau wanita yang menjadi madunya itu tidak sebaik yang Fiko pikirkan. Sela adalah wanita ular berkepala dua.

Setelah kejadian kemarin di belakang rumah. Maria kini paham dengan niat Sela yang ingin merebut Fiko dari dirinya. Dia sengaja menarik perhatian Ibu, karena Ibu merupakan kelemahan terbesar Fiko. Maria sungguh menyayangkan sikap Ibu mertuanya yang gampang terbujuk rayu oleh Sela. Maria yakin, setelah Sela mendapatkan apa yang dia mau, perlakuan Sela pada Ibu pasti berubah.

Maria yang saat ini tengah membuka kulkas guna ingin mengambil sayuran untuk di masak hanya bisa menghela napas lelah. Isi kulkas itu ternyata kosong. Dia bertanya-tanya, apakah Sela tidak berbelanja kebutuhan dapur? Lantas di gunakan untuk apa uang gaji yang di berikan Fiko?

Maria menyeringai samar. Dalam hati dia beristigfar karena memiliki niat tidak baik. Dia tidak akan memasak sarapan untuk pagi ini. Maria akan membiarkan para penghuni lapar karena tidak ada makanan. Biarkan saja Sela yang mendapat kemarahan karena salahnya tidak berbelanja. Tentu Maria tidak akan membiarkan dirinya ikut kelaparan. Dia masih mempunyai uang yang di berikan Fiko kemarin.

Dengan langkah ringan Maria pergi keluar untuk mencari sarapan. Sekitar 1 kiloan dia berjalan, akhirnya dapat menemukan penjual bubur ayam.

"Mang, bubur ayamnya satu porsi. Jangan pakai kecap manis!" Teriaknya pada Mang Ahmad, penjual bubur ayam.

Mang Ahmad mengacungkan jempolnya.

Maria mendudukkan tubuhnya di kursi kosong. Selagi menunggu bang Ahmad membuatkan pesanannya, Maria melihat sekelilingnya. Kedai ini ramai dengan para pembeli dan hampir semua kursi penuh. Mungkin kursi di sebelahnya satu-satunya yang kosong. Maria berucap syukur dalam hati karena kebagian tempat duduk. Kalau tidak, Maria terpaksa harus memakannya di rumah.

"Boleh saya duduk di sini?" Seorang laki-laki berdiri di belakang kursi yang bersebelahan dengan Maria.

Maria mengangguk. "Silakan."

Laki-laki itu duduk dan ikut memesan. "Mang, saya pesan satu porsi bubur ayamnya, jangan tambahkan kecap manis!" Dia lalu menoleh ketika merasakan tatapan dari perempuan di sampingnya. "Kenapa?"

Maria tersenyum kecil. "Pesanan kita sama."

Laki-laki itu juga tersenyum. "Tidak menambahkan kecap manis?"

Maria mengangguk dan tertawa.

"Seleraku memang sama dengan selera adikku waktu kecil." Laki-laki itu tersenyum penuh arti. Ada emosi tertahan dalam matanya ketika memandang Maria.

Tak lama pesanan pun datang. Setelah mengucapkan basmalah dalam hati, Maria memakannya dalam diam.

"Adikku juga suka memisahkan kerupuknya untuk ia makan terakhir." Laki-laki itu berbicara kembali ketika melihat cara makan Maria yang tengah memisahkan kerupuk dari bubur.

Gerakan tangan Maria yang sedang memilah kerupuk sontak terhenti. Maria berpikir, kenapa perkataan laki-laki di sampingnya seolah mengatakan kebiasaan Maria adalah kebiasaan adiknya. Apakah Maria bisa menyimpulkan maksud dari ucapan laki-laki ini adalah Maria itu adik kecilnya karena kebiasaan mereka sama.

"Kenapa berhenti?"

Maria tersenyum kaku. "Tidak." Maria kembali melanjutkan makannya, namun kali ini dengan ritme yang agak cepat. Maria merasa orang di sampingnya punya aura yang dapat membuat orang di sekelilingnya merinding ngeri.

Setelah buburnya habis, dengan cepat Maria berdiri untuk melangkah. Karena tergesa-gesa, pinggul Maria terantuk meja dan menyebabkan Maria akan terjatuh menghantam aspal apabila sebuah tangan kekar tidak memeluk pinggang rampingnya.

Maria mengerjap kaget. Dalam pelukan seorang pria asing, harusnya Maria merasa risih, namun kenapa pelukan laki-laki ini terasa nyaman dan melindungi. Perubahan emosional yang tiba-tiba, mendesak bendungan di mata bulat Maria dan menerobos banjir kecil. Isakan kecil lolos begitu saja. Seolah tubuh Maria begitu merindukan pelukan ini padahal jelas laki-laki ini adalah orang asing.

"Gak pernah berubah. Tetap ceroboh dan cengeng." Suara berat laki-laki itu terdengar mengejek. Ada senyum geli tersungging di bibirnya. Namun, binar matanya tak dapat menutupi kerinduan yang besar pada sosok dipelukannya.

Maria yang baru sadar dengan kondisinya buru-buru melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang menolongnya. Dia melihat ke sekelilingnya. Hampir semua orang kini melihat ke arahnya. "Terima kasih karena telah menolongku." Maria berlari tanpa menunggu jawaban dari laki-laki yang menolongnya.

Sedangkan laki-laki itu hanya memandang kepergian Maria dengan sendu sampai menghilang.

Di perjalanan pulang, Maria memikirkan kembali perkataan laki-laki itu. Apa maksudnya dengan kata 'gak pernah berubah. Tetap ceroboh dan cengeng'. Apakah mereka dulu saling mengenal?

"Seperti ini kelakuan istrimu Fiko! Keluarganya kelaparan eh, dia nya malah keluyuran." Marni berucap sinis begitu Maria membuka pintu rumah.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED