Ruang makan keluarga Wijaya selalu memancarkan kemewahan-meja marmer berukir emas, lampu gantung kristal, dan deretan pelayan yang siap melayani setiap kebutuhan. Namun, suasana malam itu jauh dari nyaman bagi Lily Wijaya.
Ia duduk diam dengan gaun elegan berwarna merah marun yang dipilihkan ibunya. Di hadapannya, seorang pria muda berjas abu-abu tersenyum tipis. Dewa Arya, calon suaminya, berbicara dengan percaya diri, tetapi kata-katanya seperti tidak mencapai telinga Lily.
"Jadi, Lily," suara Dewa memecah keheningan. "Bagaimana menurutmu tentang rencana ini? Pernikahan kita akan menjadi langkah besar untuk keluarga kita."
Lily menoleh perlahan, menatap pria itu. Ia tampak sempurna-tampan, kaya, dan berwibawa. Tapi baginya, Dewa adalah simbol dari sesuatu yang ia benci: kehilangan kebebasan.
"Aku rasa... ini terlalu cepat," jawab Lily singkat, mencoba menjaga kesopanan.
"Lily," suara ayahnya, Pak Wijaya, terdengar tegas. "Kita sudah membahas ini. Perjodohan ini bukan hanya untuk keluarga kita, tapi juga untuk masa depanmu. Dewa adalah pasangan yang ideal."
Lily menghela napas dalam. Masa depanku? Masa depan siapa yang kau pikirkan sebenarnya, Ayah? pikirnya, tapi ia tak berani mengatakannya.
"Tentu saja, Pak Wijaya," Dewa menimpali dengan nada penuh keyakinan. "Saya akan memastikan Lily bahagia."
Senyuman itu membuat Lily semakin merasa terjebak.
Di sudut ruangan, Rehan, asisten pribadi Lily, berdiri sambil mencatat sesuatu di iPad-nya. Pandangannya sesekali melirik Lily. Ia tahu betapa berat situasi ini baginya.
Setelah makan malam selesai, Lily dengan cepat meninggalkan ruangan, menuju balkon di lantai atas untuk menghirup udara segar. Ia berdiri di sana, memandang langit malam yang penuh bintang, tetapi pikirannya gelap.
Rehan mendekatinya perlahan, membawa secangkir teh hangat. "Tehmu, Nona."
Lily menoleh dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Rehan. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."
Rehan hanya mengangguk. Ia sudah bekerja untuk Lily selama lima tahun, dan selama itu pula ia memahami sisi lain dari wanita pewaris ini-seseorang yang tidak pernah bebas dari bayangan keluarganya.
"Kau terlihat gelisah malam ini," ujar Rehan, berdiri di sampingnya.
"Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas, Rehan," Lily menjawab sambil menatap cangkir tehnya. "Semua ini... perjodohan, rencana besar ayahku. Semua terasa salah."
Rehan diam sejenak sebelum menjawab, "Terkadang, untuk menemukan kebebasan, kita harus mengambil risiko. Tapi aku yakin, kau cukup kuat untuk melakukannya."
Kata-kata itu menghangatkan hati Lily, meski hanya sedikit.
Ketika ia kembali ke kamar, ibunya, Ny. Wijaya, sudah menunggunya. Wajah ibunya serius, tetapi ada sedikit kelembutan.
"Lily, Ayahmu hanya ingin yang terbaik untukmu," kata Ny. Wijaya, mendekati putrinya. "Kami tidak ingin kau merasa tertekan, tapi ini adalah tanggung jawab kita sebagai keluarga."
Lily mengangkat wajahnya. "Ibu, apakah kau bahagia dengan semua ini? Hidup dalam bayang-bayang rencana Ayah?"
Pertanyaan itu membuat Ny. Wijaya terdiam. Setelah beberapa saat, ia menjawab dengan lirih, "Kebahagiaan sering kali datang belakangan, Nak. Yang penting, kita menjalankan tugas kita."
Lily tahu percakapan ini tidak akan membawa solusi. Setelah ibunya pergi, ia duduk di tepi ranjangnya, memikirkan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
"Tugas?" pikirnya. "Apa aku hanya alat untuk rencana mereka? Tidak, aku harus menemukan jalan keluarku sendiri."
Malam semakin larut, tetapi pikiran Lily tak kunjung tenang. Ia berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangannya sendiri. Di balik gaun mahal dan perhiasan berlian, ia merasa hampa.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk," ujarnya pelan.
Rehan muncul dari balik pintu dengan ekspresi penuh kehati-hatian. "Maaf mengganggu, Nona. Tapi saya pikir Anda perlu ini." Ia membawa sebuah map berisi dokumen.
"Apa itu?" tanya Lily, mengernyit.
"Informasi tentang Tuan Dewa," jawab Rehan, menaruh map itu di meja. "Saya rasa Anda perlu tahu siapa sebenarnya orang yang akan Anda nikahi."
Lily terkejut. "Rehan, bagaimana kau bisa mendapatkan ini?"
Rehan tersenyum kecil. "Itu tugas saya, Nona. Saya bekerja untuk Anda, bukan keluarga Anda."
Dengan hati-hati, Lily membuka map tersebut. Foto-foto dan laporan terperinci memenuhi halaman-halaman di dalamnya. Ia membaca dengan cermat dan semakin terkejut dengan setiap kata yang ia temukan.
"Dewa memiliki... banyak sekali bisnis yang tidak jelas? Perusahaan-perusahaan cangkang? Apa ini artinya dia menggunakan keluargaku sebagai tameng?"
"Benar, Nona," ujar Rehan serius. "Beberapa perusahaan itu terhubung dengan aktivitas yang mencurigakan di luar negeri. Saya pikir, perjodohan ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga cara dia memperluas kekuasaannya."
Lily merasa dadanya sesak. Ia tahu keluarganya ambisius, tetapi ia tak pernah membayangkan bahwa mereka akan terlibat dengan seseorang seperti Dewa.
"Ayah dan Ibu tahu soal ini?" tanya Lily sambil menatap Rehan.
Rehan menggeleng. "Mungkin tidak semuanya. Tapi saya yakin, mereka hanya melihat peluang keuntungan tanpa menggali lebih dalam."
Lily menggigit bibirnya. "Jadi aku hanya alat, ya? Untuk membantu ambisi mereka dan pria ini."
"Tidak, Nona. Anda lebih dari itu," jawab Rehan tegas. "Itulah mengapa saya menunjukkan ini. Anda memiliki hak untuk memutuskan sendiri, bahkan jika itu berarti melawan keluarga Anda."
Kata-kata itu seperti cambuk bagi Lily. Ia menutup map itu dengan tegas.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menentukan hidupku begitu saja, Rehan," katanya dengan nada penuh tekad. "Tapi aku tidak bisa terburu-buru. Jika aku melawan terlalu cepat, mereka akan menghancurkanku."
Rehan mengangguk. "Saya akan mendukung apa pun keputusan Anda. Tapi berhati-hatilah. Tuan Dewa bukan orang yang mudah dihadapi."
Lily tersenyum kecil. "Terima kasih, Rehan. Tanpamu, aku mungkin sudah tenggelam dalam permainan ini."
Setelah Rehan pergi, Lily duduk di meja kerjanya, memikirkan langkah berikutnya. Ia tahu apa yang ia inginkan-kebebasan, cinta sejati, dan kendali atas hidupnya sendiri. Namun, untuk meraihnya, ia harus menghadapi keluarganya, Dewa, dan semua intrik di balik perjodohan ini.
Malam semakin dalam, tetapi ketegangan di rumah keluarga Wijaya terasa belum usai. Di ruang kerja, Pak Wijaya duduk bersama Ny. Wijaya, membahas perjodohan Lily dan Dewa.
"Lily terlalu keras kepala," kata Pak Wijaya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari. "Dia harus mengerti bahwa ini demi masa depan keluarga."
Ny. Wijaya menghela napas. "Dia hanya butuh waktu, Mas. Bagaimanapun, pernikahan ini bukan keputusan kecil. Mungkin kita perlu lebih sabar."
"Waktu? Kita tidak punya waktu!" seru Pak Wijaya. "Dewa sudah memberikan semua dukungannya untuk proyek merger ini. Kalau Lily terus membantah, kita bisa kehilangan segalanya!"
Di lantai atas, Lily, yang tak sengaja mendengar percakapan itu dari tangga, merasakan hatinya seperti diremas. Segalanya? Aku ini apa bagi mereka? Sebuah aset?
Keesokan harinya, Lily memutuskan untuk menghadapi orang tuanya. Ia memasuki ruang makan pagi dengan langkah mantap. Pak Wijaya sudah duduk di sana, ditemani oleh ibunya dan, seperti biasa, pelayan yang melayani mereka dengan hati-hati.
"Ayah," Lily memulai, suaranya tegas. "Aku ingin membicarakan perjodohan ini."
Pak Wijaya mendongak dari korannya. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Lily? Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Tidak. Tidak ada yang jelas bagiku. Aku tidak setuju dengan pernikahan ini," tegasnya.
"Lily!" Ny. Wijaya menegur pelan, tetapi Lily tak mundur.
"Aku tahu Dewa bukan orang yang bersih, Ayah. Aku tahu dia hanya ingin menggunakan kita untuk kepentingannya sendiri. Jadi, jangan harap aku akan menerima ini tanpa perlawanan."
Pak Wijaya membanting korannya ke meja. "Kau tahu apa tentang dunia ini, Lily? Kau hanya gadis yang tumbuh di bawah perlindungan kami! Kalau kau menolak, kau akan menghancurkan semua yang sudah kita bangun selama puluhan tahun!"
"Apa yang sudah kita bangun, Ayah? Atau apa yang sudah kau bangun di atas kebahagiaanku?" suara Lily bergetar, tetapi ia tetap berdiri tegak.
Ruangan itu menjadi sunyi. Tak ada yang berani bergerak, bahkan para pelayan pun membeku di tempatnya.
Ny. Wijaya mencoba mencairkan suasana. "Lily, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Kau tahu itu, kan?"
"Apa yang terbaik, Bu? Menikah dengan pria yang tidak kucintai, hanya demi bisnis? Itu bukan yang terbaik untukku," ujar Lily, suaranya mulai melembut, tetapi tetap tegas. "Aku ingin hidupku sendiri. Aku ingin cinta yang nyata, bukan perjanjian dagang."
Pak Wijaya mendengus. "Cinta? Cinta tidak akan membuat kerajaan bisnis kita bertahan, Lily."
Lily menggigit bibirnya, menahan amarah. "Kalau begitu, mungkin aku tidak cocok menjadi pewaris keluarga ini."
Tanpa menunggu jawaban, Lily berbalik dan pergi, meninggalkan keheningan yang tegang di ruang makan.
Di luar, ia menemukan Rehan yang sedang mempersiapkan mobil untuk perjalanan pagi. Melihat wajah Lily yang tampak kusut, Rehan bertanya dengan hati-hati, "Semua baik-baik saja, Nona?"
Lily menghela napas panjang. "Tidak. Tapi aku tidak peduli lagi. Kita pergi ke kantor sekarang."
Rehan hanya mengangguk. Ia tahu Lily sedang menghadapi badai besar, tetapi ia memutuskan untuk tidak menambahkan bebannya dengan pertanyaan.
Saat mereka berada di dalam mobil, Lily memandang keluar jendela, pikirannya penuh dengan kebingungan dan kemarahan.
"Rehan," panggilnya tiba-tiba.
"Ya, Nona?"
"Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"
Rehan melirik melalui kaca spion, ragu sejenak sebelum menjawab. "Saya akan bertarung, Nona. Meski itu berarti melawan orang yang paling dekat dengan saya."
Kata-kata itu menggema di hati Lily. Di balik semua kekacauan ini, ia tahu satu hal pasti: ia tidak akan menyerah pada hidup yang dipaksakan.
Bersambung...
Restoran mewah di pusat kota dipenuhi aroma bunga segar dan alunan musik piano. Lily melangkah masuk dengan gaun hitam elegan, wajahnya datar meski jantungnya berdegup kencang. Di sebuah meja, seorang pria tampan dengan setelan jas mahal berdiri menyambutnya.
"Lily," sapa Dewa dengan senyum yang sempurna. Ia menjulurkan tangan, mengisyaratkan tempat duduk untuknya. "Akhirnya kita bertemu. Orang tuamu banyak bercerita tentangmu."
Lily membalas senyum itu, namun matanya tetap tajam. "Dan sebaliknya, aku tidak tahu apa pun tentangmu. Ini cukup mengejutkan."
Dewa tertawa ringan, seolah komentar Lily adalah lelucon. "Aku harap malam ini bisa membuatmu mengenalku lebih baik. Kita di sini bukan karena paksaan, Lily. Aku ingin ini menjadi awal yang baik untuk kita berdua."
"Awal yang baik, ya?" gumam Lily, menahan nada sarkastis dalam suaranya.
Pelayan datang dengan anggur terbaik. Lily memegang gelasnya tanpa minum, memperhatikan Dewa dengan saksama. Pria itu tampak sempurna-karismatik, percaya diri, bahkan tutur katanya penuh perhatian. Namun, Lily merasa ada sesuatu yang mengganjal.
"Lily," Dewa membuka percakapan. "Aku tahu perjodohan seperti ini bisa terasa berat, terutama di zaman seperti sekarang. Tapi aku percaya kita bisa menjadi tim yang kuat, baik di dunia bisnis maupun kehidupan pribadi."
Lily tersenyum tipis. "Tim yang kuat? Apa kau benar-benar menganggapku partner, atau hanya bagian dari strategimu?"
Dewa terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku suka kejujuranmu. Itu sifat yang langka."
Jawaban itu tidak memuaskan Lily, tetapi ia memilih tidak melanjutkan. Malam berlalu dengan obrolan yang terasa formal, hampir seperti negosiasi bisnis.
Sementara itu, di sudut ruangan, Rehan duduk di meja kecil, memantau dari jauh atas permintaan Lily. Ia berusaha menjaga sikap netral, meski matanya tak lepas dari Lily dan Dewa.
Ketika makan malam selesai, Dewa menawarkan mengantar Lily pulang, tetapi Lily menolak dengan sopan. "Terima kasih, tapi asistenku sudah menunggu."
"Rehan, ya?" Dewa menoleh ke arah Rehan yang berdiri di pintu. "Asisten yang sangat setia, aku lihat."
Lily mengangguk. "Dia memang sangat dapat diandalkan."
Senyum Dewa berubah menjadi sedikit dingin. "Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Lily."
Lily hanya mengangguk sebelum pergi bersama Rehan.
Di dalam mobil, suasana terasa hening hingga Lily tiba-tiba berbicara.
"Kau melihat dia tadi, Rehan?"
Rehan, yang tengah mengemudi, menjawab dengan tenang. "Ya, Nona. Tuan Dewa tampak seperti pria yang sempurna."
"Terlalu sempurna," gumam Lily. "Aku merasa dia tidak jujur. Senyumnya terlihat tulus, tapi rasanya seperti ada sesuatu di baliknya."
Rehan melirik melalui kaca spion, mencoba menenangkan. "Mungkin hanya kesan pertama, Nona. Tapi kalau Anda merasa ada yang salah, Anda harus lebih waspada."
Lily menghela napas. "Aku sudah tahu ini permainan politik. Tapi entah kenapa, aku merasa Dewa punya tujuan yang lebih dari sekadar merger bisnis."
Rehan tidak menjawab, tetapi dalam hati ia setuju. Selama malam itu, ia memperhatikan gerak-gerik Dewa yang terlalu terkalkulasi, seolah-olah setiap kata dan tindakannya dirancang untuk memikat.
Keesokan harinya di kantor, Lily mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan. Namun, ia terus merasa gelisah.
Saat sedang memeriksa dokumen, Rehan datang membawa secangkir kopi. "Untuk membantu fokus, Nona," ujarnya dengan senyum ramah.
Lily tersenyum kecil. "Terima kasih, Rehan. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."
Namun, senyum itu pudar saat ponselnya berdering. Nama Dewa terpampang di layar. Lily menghela napas panjang sebelum mengangkat.
"Lily," suara Dewa terdengar lembut tetapi tetap tegas. "Aku ingin mengundangmu makan malam lagi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan."
"Hal penting apa?" tanya Lily, curiga.
"Kita bicarakan nanti saja," jawab Dewa dengan nada penuh teka-teki.
Lily menutup telepon dengan perasaan semakin tak nyaman. Rehan, yang memperhatikan ekspresinya, bertanya hati-hati, "Ada masalah, Nona?"
"Dewa," jawab Lily singkat. "Dia ingin bertemu lagi malam ini. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi aku harus bersiap."
Rehan mengangguk. "Kalau Anda butuh sesuatu, saya selalu di sini."
Lily menatap Rehan, merasa sedikit lega. Meski hanya seorang asisten, kehadiran Rehan selalu membuatnya merasa tidak sendirian dalam menghadapi semua ini.
Malam itu, Lily duduk di meja rias, memandangi bayangannya di cermin. Ia mengenakan gaun merah marun yang dipilih ibunya, sebuah simbol keanggunan yang dipaksakan. Namun, pikirannya jauh dari kesan elegan. Ia memikirkan pertemuannya dengan Dewa sebelumnya-senyumnya terlalu sempurna, ucapannya terlalu licin.
Ketukan di pintu memecah lamunannya.
"Nona, mobil sudah siap," suara Rehan terdengar dari luar.
"Masuklah, Rehan," jawab Lily sambil berdiri.
Rehan melangkah masuk, mengenakan setelan rapi seperti biasa. Namun, kali ini ada sedikit kerutan di dahinya. Ia menatap Lily dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Sepertinya Anda tidak terlalu bersemangat untuk malam ini," katanya.
Lily mendengus. "Menurutmu? Aku dipaksa bertemu seseorang yang bahkan tidak ingin kukenal lebih jauh. Tapi aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, Nona," ujar Rehan dengan nada pelan tetapi tegas.
Lily menatapnya, seolah mencari keyakinan. Namun, ia hanya tersenyum kecil sebelum mengambil tasnya.
"Mari kita pergi."
Di restoran yang sama seperti malam sebelumnya, Dewa sudah menunggu dengan senyuman yang sama sempurnanya.
"Lily," sapa Dewa sambil berdiri. "Kau terlihat luar biasa malam ini."
"Terima kasih," jawab Lily dingin. Ia duduk tanpa basa-basi, langsung ingin mengetahui maksud dari pertemuan ini.
"Aku tahu kau bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi aku akan langsung saja," kata Dewa,
menyesap anggurnya. "Aku ingin memastikan bahwa kau memahami pentingnya pernikahan kita, tidak hanya untuk keluarga kita, tapi juga untuk masa depan bisnis kita."
"Bisnis kita?" Lily mengangkat alis, menahan tawa sarkastis. "Maaf, tapi aku tidak melihat diriku sebagai bagian dari 'tim' itu."
Dewa menyeringai, matanya memancarkan sesuatu yang dingin meski bibirnya tetap tersenyum. "Lily, aku tahu kau cerdas. Dan aku suka itu. Tapi dunia ini tidak selalu tentang apa yang kita inginkan. Kadang, kita harus menerima apa yang terbaik untuk semua orang."
"Dan kau menganggap dirimu sebagai yang terbaik?" balas Lily tajam.
"Aku menawarkan stabilitas," jawab Dewa dengan nada datar. "Kita tidak harus saling mencintai, tapi kita bisa saling menghormati. Itu cukup untuk membangun kemitraan yang kuat."
Lily terdiam, menatap pria di depannya dengan mata penuh penilaian. Ada sesuatu di balik kata-kata Dewa-seperti ancaman yang terselubung dalam kelembutan.
"Kalau kau menginginkan mitra bisnis, Dewa," ujar Lily akhirnya, "kau harus mencari orang lain. Aku bukan orangnya."
Dewa tertawa kecil, lalu bersandar di kursinya. "Kau tidak mudah, ya? Itu bagus. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja."
Di luar restoran, Rehan menunggu di mobil, mengamati gerak-gerik para tamu. Saat Lily akhirnya keluar dengan ekspresi letih, Rehan segera turun dan membuka pintu untuknya.
"Bagaimana malamnya, Nona?" tanya Rehan sambil menyalakan mesin.
"Persis seperti yang kuduga," jawab Lily lesu. "Dewa hanya berbicara tentang bisnis, kemitraan, dan segala hal yang tidak menyentuh perasaan. Aku merasa seperti barang dagangan."
Rehan terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau Anda merasa tidak nyaman, Anda selalu punya hak untuk menolak."
"Benarkah?" Lily tersenyum pahit. "Hak itu tampaknya tidak berlaku untukku, Rehan. Ayahku tidak akan membiarkanku lolos."
Rehan menatap cermin spion, melihat bayangan wajah Lily yang tampak muram. Dalam hati, ia merasa marah melihat Lily dipaksa menghadapi situasi seperti ini.
"Kalau begitu, apa rencananya, Nona?" tanya Rehan akhirnya.
Lily terdiam, menatap keluar jendela. "Aku belum tahu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengontrol hidupku."
Rehan mengangguk pelan. "Saya mendukung apa pun keputusan Anda."
Malam itu, Lily tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh senyuman Dewa yang terasa dingin dan kalkulatif. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan pria itu, sesuatu yang tidak baik.
Bersambung...
Lily duduk di ruang kerja ayahnya, sebuah ruangan besar yang dipenuhi rak-rak buku berisi literatur bisnis. Di balik meja kayu mahoni, ayahnya, William Hartono, terlihat tenang seperti biasa, mengenakan jas gelap yang sempurna. Namun, kali ini, ketenangan itu justru membuat Lily merasa cemas.
"Lily, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan," kata William, mengisyaratkan putrinya untuk duduk.
"Apa lagi, Ayah?" Lily bertanya dengan nada yang lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Perjodohan ini sudah cukup buruk. Apa sekarang kau akan memaksaku melakukan sesuatu yang lebih?"
William menghela napas panjang, membuka folder di mejanya dan mendorongnya ke arah Lily. "Lihat ini."
Dengan enggan, Lily membuka folder itu. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen merger, proyeksi keuntungan, dan peta pasar global. Semua informasi ini menunjukkan satu hal: penggabungan bisnis keluarga mereka dengan perusahaan milik keluarga Dewa akan menciptakan monopoli di industri teknologi dan energi.
"Jadi ini semua tentang bisnis?" tanya Lily dengan suara gemetar. "Bukan hanya soal pernikahan, tapi tentang menguasai pasar global?"
"Benar," jawab William tanpa ragu. "Ini bukan hanya pernikahan. Ini adalah strategi yang telah kurancang selama bertahun-tahun. Kau dan Dewa akan menjadi pasangan yang tidak hanya memperkuat posisi keluarga kita, tetapi juga membentuk aliansi yang tak tertandingi."
Lily terdiam, matanya menatap dokumen-dokumen itu dengan perasaan campur aduk. "Kau tahu aku bukan pion, Ayah. Aku bukan alat untuk menjalankan rencanamu."
"Kau pewaris keluarga ini, Lily," kata William dengan nada tegas. "Tugasmu adalah memastikan keberlangsungan bisnis ini. Kalau kau tidak melakukan ini, apa yang terjadi dengan semua yang telah kita bangun?"
"Jadi, aku harus mengorbankan hidupku demi ambisi Ayah?"
William berdiri, menatap Lily dengan mata tajam. "Ini bukan soal ambisi. Ini soal tanggung jawab. Kau tidak akan mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti kau akan berterima kasih padaku."
Setelah pertemuan itu, Lily meninggalkan ruangan dengan perasaan hampa. Ia berjalan ke ruang pribadinya, di mana Rehan sudah menunggu dengan laptop terbuka.
"Bagaimana hasilnya, Nona?" tanya Rehan, menutup laptopnya dan berdiri.
Lily menghempaskan dirinya ke sofa. "Kau benar, Rehan. Perjodohan ini bukan hanya tentang keluargaku dan keluarganya. Ini tentang rencana besar untuk menguasai pasar global."
Rehan menatap Lily dengan serius. "Dan bagaimana pendapat Anda?"
Lily menggeleng, air matanya hampir menetes. "Aku merasa dikhianati. Aku pikir ini hanya tentang memperkuat hubungan keluarga, tapi ternyata mereka ingin menjadikan aku bagian dari permainan mereka."
Rehan duduk di kursi di depan Lily, suaranya lembut namun penuh kepastian. "Nona, Anda memiliki hak untuk memilih. Meski mereka mencoba menekan Anda, Anda tetap bisa menentukan jalan hidup Anda sendiri."
Lily mengangkat wajahnya, menatap Rehan. "Bagaimana aku bisa melawan keluargaku sendiri? Mereka sudah mempersiapkan ini selama bertahun-tahun. Aku hanya seorang diri, Rehan."
"Tidak," jawab Rehan tegas. "Anda tidak sendirian. Saya ada di sini, Nona. Apa pun keputusan Anda, saya akan mendukung."
Kata-kata itu membuat Lily merasa sedikit lega. Tapi ia tahu perjuangannya baru saja dimulai.
Keesokan harinya, Lily memutuskan untuk menemui Dewa di kantornya. Ia tidak memberi tahu ayahnya, ingin mendengar langsung dari pria itu apa perannya dalam rencana ini.
Dewa menyambut Lily dengan senyuman biasa, tetapi kali ini Lily tidak terpengaruh. Ia langsung berkata, "Aku tahu tentang rencana besar kalian. Ayahku sudah memberitahuku."
Dewa menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku sudah menduga kau akan mengetahuinya cepat atau lambat."
"Kau tahu ini salah, kan? Menggunakan pernikahan untuk menguasai pasar?"
Dewa mengangkat bahu. "Dunia ini tidak tentang benar atau salah, Lily. Ini tentang kekuasaan. Dan kalau kita tidak melakukannya, orang lain yang akan mengambil alih."
"Kau bicara seolah-olah aku tidak punya pilihan."
"Karena kau memang tidak punya," jawab Dewa dengan nada dingin. "Kau dan aku berada di dalam sistem yang lebih besar daripada yang kau bayangkan."
Lily menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi. "Kalau begitu, dengar ini, Dewa. Aku tidak akan menikahimu tanpa alasan yang benar. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi alat permainan."
Dewa memiringkan kepalanya, menyeringai. "Kita lihat saja, Lily. Pada akhirnya, kau akan mengerti bahwa ini adalah pilihan terbaik."
Malam telah larut, tetapi Lily tidak bisa tidur. Dokumen-dokumen itu masih berserakan di meja kerjanya, menatapnya seolah-olah memaksa dia membuat keputusan. Pikirannya melayang ke percakapan dengan Dewa dan ayahnya, keduanya begitu yakin bahwa ia tidak akan berani melawan.
Ketukan pelan di pintu memecah kesunyian.
"Masuk," kata Lily sambil memijat pelipisnya.
Pintu terbuka, dan Rehan masuk dengan ragu. "Maaf mengganggu, Nona. Tapi saya melihat lampu kamar Anda masih menyala. Ada yang bisa saya bantu?"
Lily menatapnya sejenak sebelum mengangguk. "Masuklah, Rehan. Aku butuh seseorang untuk mendengar semua ini."
Rehan melangkah masuk dan duduk di kursi di seberang Lily. "Ada apa, Nona?"
Lily menghela napas panjang. "Ayahku tidak akan berhenti sampai aku menikah dengan Dewa. Dia bilang ini untuk masa depan keluarga. Tapi aku merasa... seperti aku dijual, Rehan. Dan Dewa-dia seperti bayangan gelap yang tidak bisa aku percayai."
Rehan mendengarkan dengan serius, tangannya terlipat di atas pangkuan. "Jika Anda merasa ini tidak benar, maka Anda harus memperjuangkan apa yang Anda yakini. Kadang, melawan orang yang kita cintai adalah bagian dari menemukan siapa diri kita sebenarnya."
"Tapi bagaimana caranya?" Lily menatapnya dengan mata penuh kebingungan. "Ayahku mengendalikan segalanya, Rehan. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
Rehan terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kita bisa mulai dengan mencari tahu semua yang perlu diketahui tentang Dewa dan keluarganya. Jika ada sesuatu yang bisa membuat posisi Anda lebih kuat, itu pasti ada di sana."
Lily memandangnya dengan penuh harap. "Kau serius? Kau bersedia membantuku?"
Rehan tersenyum tipis. "Tentu saja. Anda tidak sendirian, Nona."
Keesokan harinya, Lily dan Rehan mulai bekerja secara diam-diam. Dengan akses ke dokumen-dokumen bisnis yang dimiliki Lily, mereka mencari informasi tentang perusahaan milik keluarga Dewa.
"Ini dia," kata Rehan suatu sore, menatap layar laptopnya dengan alis terangkat. "Perusahaan Dewa memiliki beberapa kontrak besar di luar negeri, tetapi tampaknya ada beberapa transaksi yang mencurigakan."
Lily beringsut lebih dekat, membaca laporan yang ditunjukkan Rehan. "Transaksi apa ini? Kenapa ada dana yang disalurkan ke perusahaan kecil di negara-negara yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam bisnis mereka?"
"Sepertinya ini upaya untuk menyembunyikan sesuatu," kata Rehan, matanya menyipit. "Dana ini bisa saja digunakan untuk sesuatu yang ilegal."
"Kalau kita bisa membuktikan ini..." Lily menggigit bibirnya, mencoba menyusun rencana di kepalanya. "Ini bisa menghancurkan reputasi mereka. Tapi bagaimana cara mendapatkan bukti yang lebih kuat?"
"Saya punya beberapa koneksi di bidang IT," kata Rehan pelan. "Mungkin mereka bisa membantu kita melacak lebih dalam."
Lily menatapnya dengan rasa syukur. "Kalau begitu, mari kita lakukan. Aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan."
Sementara itu, Dewa mendapat laporan dari salah satu orang kepercayaannya.
"Tuan, Nona Lily sedang menggali informasi tentang perusahaan kita," lapor seorang pria berkacamata yang duduk di ruang kerja Dewa.
Dewa tersenyum tipis, meski matanya memancarkan kemarahan yang terpendam. "Oh, jadi dia mulai melawan? Menarik. Biarkan dia mencoba, tapi pastikan dia tidak menemukan sesuatu yang berbahaya."
"Tentu, Tuan. Kami akan mengawasi setiap langkahnya."
Setelah pria itu pergi, Dewa bersandar di kursinya, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Lily, kau tidak tahu dengan siapa kau bermain. Tapi aku suka permainan ini."
Bersambung...