Bab 2

Saat tiba di restoran setelah menandatangani kontrak, Ken tidak menemukan keberadaan Sonya di restoran tersebut. Karena itu, dia segera mengambil ponselnya dan menelepon sang kekasih.

Berkali-kali dirinya mencoba untuk menelepon gadis itu, tetapi ponsel Sonya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi sama sekali.

Karena panik dan takut terjadi apa-apa pada sang kekasih, Ken segera pergi menuju apartemen gadis itu.

Setelah sampai di apartemen, Ken masuk ke dalam karena dia memiliki kunci duplikat apartemen Sonya tetapi apartemen itu sangat sepi seakan-akan tidak ada orang di sana.

"Sonya! Sonya!" panggil Ken seraya menyusuri setiap sudut apartemen tetapi nihil, tidak ada suara sahutan untuk panggilannya dan itu artinya Sonya tidak ada di sana.

Ken masuk ke dalam kamar Sonya dan melihat sebuah surat terletak di atas nakas tempat tidur gadis itu. Dengan cepat Ken mengambil surat tersebut lalu membacanya.

Kepada Ken Prana Mahendra yang aku cintai.

Ken, ada jantung lain di dalam diri aku sekarang. Bisa dikatakan ini lebih kecil dan lemah daripada jantung aku, tapi aku bisa merasakan setiap detakannya. Kamu tau apa itu, Ken? Jantung bayi aku. Lalu, gimana bisa aku menyingkirkan dia? Ini bayi aku, dia hidup dan bernapas di dalam tubuh aku. Ini pilihan aku, Ken. Seperti kamu memilih masa depan kamu, aku memilih masa depan anak aku. Jadi, jangan khawatirin aku atau merasa bersalah atas semua yang udah terjadi. Mulai sekarang, aku bukan Sonya yang kamu kenal lagi. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa, karena sekarang aku adalah seorang ibu.

Ken membaca surat itu dengan hati yang merasakan kepedihan luar biasa. Tidak pernah dia merasakan perasaan sesakit itu sebelumnya. Sedih, marah, kecewa dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam hatinya.

Ini adalah keegoisan mereka masing-masing. Ken telah egois karena lebih mementingkan prestasinya dibandingkan anaknya, dan Sonya memilih jalan keegoisan mempertahankan bayinya. Hingga, hubungan mereka harus berakhir seperti itu.

Di sisi lain, Sonya terduduk diam di dalam pesawat sembari menatap ke luar jendela, melihat awan putih bersih yang tidak menampilkan apa-apa. Dia sudah mengambil keputusan dan memikirkan semuanya dengan matang.

Sonya akan memberitahu orang tuanya tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Entah sehabis itu dia akan diusir atau tidak diakui lagi sebagai keluarga Iskandar, Sonya tidak peduli karena dia telah membulatkan tekadnya.

***

Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, akhirnya Sonya tiba di rumahnya. Gadis itu memandangi rumah mewah di depannya dengan kerinduan yang memuncak dalam benak.

Saat masuk ke dalam rumah, Sonya disambut dengan wajah gembira oleh kedua orang tuanya. Mereka sangat merindukan putri tunggal mereka itu.

Bergantian Sonya memeluk ibu dan ayahnya dengan sangat erat.

"Kamu pulang kok nggak bilang-bilang sama kita?" tanya Miranda; ibunya Sonya.

"Iya, 'kan aku pengen ngasih surprise buat kalian," ucap Sonya.

"Aaaa sayang." Miranda kembali memeluk putrinya itu dengan erat.

"Gimana kuliah di Oxford? Seru?" tanya Bima; ayahnya Sonya.

Setelah cukup lama memeluk Sonya, Miranda pun melepas pelukannya.

"Seru kok, Pa." Sonya berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya masih sangat terluka.

Miranda mengerutkan keningnya, seketika menjadi sangat khawatir saat melihat wajah Sonya yang sangat pucat.

"Sayang, kamu kenapa, Nak? Kok muka kamu pucat banget kayak gitu? Kamu sakit?" tanya Miranda.

"Aku nggak apa-apa kok, Ma," ucap Sonya.

"Nggak apa-apa gimana orang muka kamu pucat banget gini, kok. Pa, coba liat deh benar, kan? Ini muka anak kamu pucat banget loh."

"Iya. Sayang, kamu sakit, Nak?" tanya Bima.

"Aku nggak apa-apa kok, Ma, Pa." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sonya jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.

***

Sonya membuka matanya dengan perlahan dan kepala yang masih terasa sangat pusing. Saat sudah bisa melihat dengan benar, Sonya melihat Miranda dan Bima tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu udah sadar, Nak?" tanya Miranda dengan ekspresi yang khawatir.

Sonya mengangguk seraya mengubah posisinya menjadi duduk.

"Siapa yang udah melakukan itu ke kamu?" tanya Bima.

"Maksud Papa?" tanya Sonya dengan kening mengkerut.

"Siapa yang udah melakukan itu sama kamu?!" tanya Bima lagi, kali ini dengan nada yang mulai meninggi.

"Pa, anaknya jangan dibentak, dong. Kita tanya baik-baik sama dia," ucap Miranda.

"Sonya, kamu jujur sama Mama ya, Nak? Kata dokter kamu udah hamil dua belas minggu. Siapa yang udah melakukan itu, Sayang?"

Sonya terdiam sembari memainkan tangannya, air mata kini telah menggenang di pelupuk matanya yang indah.

"Maafin aku Ma, Pa. Maaf kalo aku udah mengecewakan kalian. Papa sama Mama nggak perlu tau siapa ayah dari anak ini, yang jelas aku pasti akan ngurus anak aku sendiri dengan baik," ucap gadis itu dengan suara bergetar.

Mendengar itu, Miranda segera memeluk Sonya dan tangis gadis itu langsung pecah di pelukan sang ibu.

"Gimana caranya? Gimana caranya kamu bisa ngurus anak kamu sendiri? Kamu lupa Papa ini siapa? Papa ini bukan orang sembarangan, Sonya. Apa yang akan kolega Papa bilang seandainya mereka tau kalo kamu hamil tanpa menikah? Reputasi Papa dan perusahaan kita bisa hancur. Orang-orang akan menganggap kalau Papa ini gagal menjaga anak perempuan Papa satu-satunya," ucap Bima.

"Terus aku harus gimana, Pa? Aku nggak mau menggugurkan anak ini, aku mau ngurus dia sampai dewasa. Kalo Papa nggak bisa terima, aku akan pergi dari hidup kalian," ucap Sonya dengan air matanya yang sudah berjatuhan.

"Kamu itu ngomong apa, sih? Kamu nggak boleh pergi dari sini," Miranda menyeka air mata putrinya.

Melihat Sonya menangis sesegukan seperti itu, Bima merasa tidak tega dan langsung memeluk sang putri.

"Maafin Papa ya, Sayang. Maafin Papa. Oke, kamu boleh ngurus anak kamu dan Papa sama Mama pasti akan membantu kamu karena anak yang kamu kandung adalah cucu kita," ucap Bima seraya memeluk putrinya dan mencium pucuk kepala gadis itu.

Tak lama, datang seorang laki-laki muda yang kelihatannya seumuran dengan Sonya.

"Maaf Pak, saya mau ngasih tau kalo saya udah cuci mobilnya," ucap Daffin; sopir keluarga Bima.

Saat menoleh ke arah Daffin, Bima memikirkan satu hal. Dari yang dia lihat selama ini, Daffin adalah laki-laki pekerja keras. Laki-laki itu juga terbilang tampan dan tidak norak, dia juga adalah laki-laki yang baik dan sopan.

"Oh iya, makasih ya," ucap Bima.

Daffin mengangguk dan hendak pergi dari sana tetapi Bima mencegahnya.

"Tunggu dulu, ada yang mau saya bicarakan sama kamu." Bima beranjak dari duduknya dan mengajak Daffin untuk ikut ke ruang kerjanya.

Sekarang, mereka berdua sudah duduk berhadapan di dalam ruangan itu.

"Waktu itu kamu pernah bilang sama saya kalo biaya kuliah kamu udah lama nunggak, kan?" tanya Bima yang disambut anggukkan kepala oleh Daffin.

"Saya akan tanggung semua biaya kuliah kamu, kamu nggak perlu memikirkan apa pun dan cuma harus belajar dengan baik aja. Bukan cuma itu, setelah kamu lulus kuliah saya akan ajak kamu bergabung dengan perusahaan saya. Setuju?"

"Beneran, Pak?" tanya Daffin dengan matanya yang berbinar.

Bima mengangguk.

"Wah terima kasih banyak, Pak."

"Tapi saya nggak melakukan itu secara cuma-cuma, saya akan kasih itu semua asal kamu melakukan satu syarat yang saya minta."

"Syarat apa, Pak?"

"Nikahi anak saya."

Bab 3

"Ma-maksud Bapak?" tanya Daffin yang masih tidak mempercayai telinganya.

"Iya, syaratnya adalah kamu harus menikahi anak saya," ucap Bima dengan santainya.

"Tapi, kenapa Bapak tiba-tiba mau menikahkan saya sama anak Bapak? Bukannya apa-apa Pak, tapi saya ini kan cuma sopir Bapak, mana mungkin saya pantas buat anak Bapak."

"Saya nggak peduli tentang itu. Yang penting buat saya adalah kamu mau menerima anak saya dan bersedia menjadi ayah untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Setelah itu, saya akan tanggung seluruh biaya hidup kamu."

Daffin terdiam mendengar itu.

Jadi, anaknya pak Bima ini lagi hamil toh, batin Daffin.

Laki-laki itu mulai berpikir seraya menimbang-nimbang. Jika dipikir-pikir, semua ini sama sekali tidak memberatkannya dan akan banyak memberikan keuntungan untuk dirinya. Kesempatan ini tidak datang dua kali, kapan lagi dia bisa menjadi menantu seorang konglomerat dengan statusnya yang seperti sekarang?

"Jadi gimana? Kamu mau menikahi anak saya?" tanya Bima.

Setelah cukup lama berpikir dan memikirkan semuanya dengan matang, Daffin sudah mengambil keputusan.

"Saya bersedia menikahi anak Bapak," ucap laki-laki itu yang disambut senyuman oleh Bima.

"Oke, kalo gitu pernikahan kalian akan dilangsungkan sebulan dari sekarang."

***

"Apa?! Papa mau menikahkan aku sama sopir Papa?" tanya Sonya yang tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ayah.

"Papa rasa ini adalah jalan yang terbaik," ucap Bima.

"Tapi apa Papa memikirkan gimana perasaan aku? Apa bisa aku nikah sama orang yang nggak aku cintai?"

"Apa sekarang cinta itu penting? Reputasi keluarga kita dan nasib anak dalam kandungan kamu itu jauh lebih penting, Sonya."

"Sayang, Papa kamu benar. Sekarang bukan waktunya mementingkan perasaan. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan Mama setuju sama keputusan papa kamu. Lagi pula, Daffin itu anak yang baik dan jujur," sahut Miranda.

"Nggak, aku nggak mau nikah. Aku bisa kok ngurus anak aku sendiri," ucap Sonya dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Mungkin kamu bisa ngurus anak sendirian, tapi suatu saat kalo anak kamu nanya sama kamu siapa ayahnya atau ayahnya ke mana kamu mau jawab apa?" tanya Bima yang berhasil membuat hati Sonya berdenyut.

Sonya terdiam mendengar kata-kata orang tuanya. Sanggupkah dia menikah dengan orang lain padahal satu-satunya laki-laki yang ada di hatinya hanyalah Ken? Apa tidak boleh jika dia berharap pada Tuhan kalau Ken akan mencarinya lalu menikahinya? Haruskah dia melupakan kisah cintanya dan membangun kisah cinta baru bersama orang lain?

Jika Sonya memikirkan itu, rasanya sakit sekali. Tetapi jika Sonya memikirkan masa depan bayinya dan sikap Ken yang memintanya untuk menyingkirkan bayi mereka, itu jauh lebih menyakitkan.

Nggak, aku nggak boleh egois. Masa depan anak aku adalah yang terpenting. Aku siap mengorbankan kebahagiaan dan hidup aku demi anak ini, batin Sonya.

"Demi bayi dalam kandungan aku, aku menerima pernikahan ini," ucap Sonya.

Miranda dan Bima tersenyum penuh kelegaan mendengar itu.

***

Satu bulan kemudian...

Acara pernikahan Sonya dan Daffin berlangsung dengan sangat mewah dan meriah. Banyak rekan bisnis dan tamu yang berdatangan untuk memberi selamat pada Sonya dan Daffin atas pernikahan mereka. Bukan hanya rekan bisnis dari Indonesia, tetapi juga ada beberapa yang dari luar negeri.

Sekarang Sonya sudah sah menjadi istri Daffin, tetapi gadis itu masih bingung dia harus bahagia atau justru bersedih dengan pernikahan ini. Laki-laki yang dia nikahi adalah laki-laki baik yang tetap mau menikahi dirinya meskipun sudah tahu bahwa dia tengah mengandung anak dari laki-laki lain.

Sonya tidak peduli apa alasan Daffin mau menikahi dirinya, apakah itu karena uang, jabatan, nama, atau memang laki-laki itu dengan ikhlas menikahinya secara sukarela. Yang jelas, Sonya akan sangat berterima kasih kepada Daffin seumur hidup.

Di atas pelaminan, memperhatikan para tamu undangan yang sibuk menyantap makanan mereka sembari sesekali bercengkrama, Sonya dan Daffin menoleh ke arah satu sama lain sambil tersenyum.

Pada saat itu Sonya bertekad, meskipun dia tidak mencintai Daffin atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa mencintai laki-laki itu, Sonya berjanji pada dirinya bahwa dia akan hidup dengan Daffin sebagai sahabat baik hingga nantinya mautlah yang akan memisahkan mereka berdua.

Setelah acara selesai, mereka semua kemudian beristirahat ke kamar masing-masing. Dan sekarang, Sonya dan Daffin sudah berada di kamar hotel mereka.

"Mbak, boleh nggak saya mandi duluan?" tanya Daffin dengan wajah polosnya yang membuat Sonya tergelak.

"Silakan. Oh iya, kamu jangan manggil aku Mbak, ya. Kita kan udah nikah, jadi kamu panggil aku Sonya aja," ucap Sonya yang disambut anggukkan kepala oleh Daffin.

"Kalo gitu, aku mandi duluan," ucap laki-laki itu seraya berjalan ke kamar mandi.

Setelah Daffin selesai mandi, kini giliran Sonya yang mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket-lengket.

Tak butuh waktu lama, Sonya pun telah selesai mandi dan bersiap untuk tidur.

"Daffin," panggil Sonya seraya duduk di sebelah Daffin yang tengah memainkan ponselnya.

Mendengar Sonya memanggil namanya, dengan cepat laki-laki itu menutup ponselnya dan bersiap mendengarkan perkataan Sonya.

"Iya, kenapa?" tanya Daffin.

"Aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya karena kamu udah bersedia menikahi aku secara sukarela meskipun kamu tau kalo aku sebenarnya lagi mengandung anak dari orang lain," ucap Sonya seraya menatap manik mata Daffin dalam-dalam.

Daffin tersenyum mendengar itu dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Sonya.

"Aku janji akan jadi ayah yang baik buat anak kamu, emm ... maksud aku anak kita. Aku janji akan jadi orang yang paling pertama melindungi dia, dan akan sayang banget sama dia," ucapnya lalu membelai lembut perut Sonya.

"Tapi kayaknya aku nggak akan bisa jatuh cinta sama kamu karena cinta aku udah jadi milik orang lain," ucap Sonya yang membuat Daffin menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah Sonya yang sudah berkaca-kaca.

"Cinta itu nggak bisa dipaksa. Kalo kita kuat, kalo kita bisa, aku yakin kita akan jadi partner hidup yang baik tanpa harus ada cinta di dalamnya, karena cinta itu bukan segalanya."

"Jadi, kamu rela hidup sama aku tanpa adanya rasa cinta?"

Daffin mengangguk.

"Kalo gitu mulai sekarang kita akan jadi sahabat sekaligus partner yang baik. Janji?" tanya Sonya seraya mengangkat kelingkingnya.

"Janji." Daffin menautkan kelingkingnya pada kelingking Sonya.

Dua sejoli itu tidak tahu sampai mana dan sampai kapan mereka akan bertahan dengan hubungan tersebut. Yang jelas, demi bayi yang bahkan belum lahir itu, mereka berdua siap mengarungi biduk rumah tangga pernikahan bersama-sama dengan prinsip saling menjaga satu sama lain.

Padahal, dalam hati mereka masing-masing terbersit sebuah keinginan dan harapan yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED