Pagi ini, udara cukup sejuk karena sang surya tidak bersinar begitu terik.
Di jalanan yang cukup lengang, seorang laki-laki yang sangat rupawan tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Wajah khas Asia Tenggara miliknya terlalu sempurna hingga terlihat sangat tidak manusiawi jika dipandang. Para perempuan bisa menatap rupa itu seharian tanpa merasa bosan.
Ken Prana Mahendra namanya, laki-laki yang memiliki kulit putih bersih, tinggi lebih dari 180 cm, badan tegap, bahunya bidang, rambut berantakan, alis menukik, senyum tipis yang mematikan, serta sorot mata tajam dan siap menusuk hati siapa saja yang menatapnya.
Namun, mata itu kala menatap seorang gadis akan berubah selembut aliran air. Yap, dia sudah memiliki seorang kekasih yang sangat dia cintai.
Meskipun begitu, masih banyak para gadis yang mengantri untuk menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi, hanya ada nama sang kekasih di hatinya.
Sonya Maharani Iskandar, itulah nama sang kekasih. Seorang gadis cantik berperawakan tinggi dan ramping bak seorang model dengan paras yang bisa dikatakan setara dengan Ken.
Sonya adalah gadis yang dipuja-puja banyak lelaki, dan Ken adalah laki-laki yang dipuja para gadis. Mereka berdua adalah wajah dari kampus tempat mereka berkuliah, dan orang-orang menyebut mereka sebagai Dewa dan Dewi visual dari Asia di Oxford University.
Ken memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen Sonya sembari menunggu sang kekasih keluar dari tempat tinggalnya. Tak lama kemudian, gadis yang ditunggu-tunggu pun datang dan masuk ke dalam mobil dengan wajahnya yang pucat pasi tanpa ada sedikit pun senyum di wajah itu.
"Muka kamu kenapa kayak gitu?" tanya Ken saat melihat wajah Sonya yang sangat tidak enak dipandang.
"Aku masih merasa mual, aku nggak bisa makan apa-apa karena dari kemarin aku muntah-muntah," ucap Sonya dengan suara lirih.
"Kalo sampai kayak gitu, kamu seharusnya minum obat." Ken berujar dengan wajah datar.
Sonya menatap Ken dengan ekspresi tak habis pikir. Dia kesal dengan tingkan Ken yang selalu saja bersikap seperti itu terhadapnya.
Orang-orang mungkin melihat mereka adalah pasangan yang sangat romantis dan serasi. Tapi nyatanya, Ken adalah sosok laki-laki yang dingin sedingin es di kutub utara, dan jarang sekali memberikan perhatian pada Sonya.
Menurut Sonya, Ken berbeda dengan kebanyakan pria yang biasanya bersikap hangat kepada kekasihnya. Sonya tahu Ken menyayanginya, tetapi sifat dingin laki-laki itu menutupi semuanya.
"Seenggaknya pura-pura peduli kek soal keadaan aku," ketus Sonya seraya membuang wajah.
"Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud kayak gitu. Sekarang kita jalan aja, ya? Udara segar akan membantu supaya kamu merasa lebih enakan." Ken menatap Sonya yang masih asyik menatap ke luar jendela mobil.
"Nggak usah sok peduli sama aku."
"Gimana bisa? Kamu adalah orang yang aku cintai melebih siapa pun di dunia ini. Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Ken seraya menggenggam tangan Sonya.
Beberapa kali Sonya merasa muak pada hubungannya dengan Ken karena laki-laki itu selalu bersikap seakan-akan tidak peduli padanya. Tetapi sialnya, Sonya terlalu mencintai Ken. Tidak bisa dia pungkiri, laki-laki itu tahu cara memperlakukan perempuan. Setiap Sonya marah atau kesal, entah kenapa Ken selalu saja bisa meluluhkan hatinya.
Sonya menoleh ke arah Ken lalu berdeham sembari tersenyum tipis.
Setelah itu, Ken segera melajukan mobil menuju kampus.
***
Saat tiba di kampus, Sonya dan Ken turun dari mobil. Seperti biasa, Ken selalu berjalan dengan merangkul tubuh pacarnya dan pemandangan itu sudah dilihat oleh orang-orang di sana setiap hari. Sehingga tak ayal mereka selalu saja kagum dengan sikap Ken yang terlihat sangat menyayangi Sonya.
Mereka yang disebut Dewa dan Dewi kampus itu berjalan dengan percaya diri tanpa mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka berdua di sepanjang jalan menuju aula kuliah.
Tetap saja Sonya merasakan ada sesuatu yang terus ingin keluar dari mulutnya, tetapi gadis itu berusaha untuk menahannya.
Sonya dan Ken kemudian mulai mengikuti pelajaran dengan saksama, karena mereka berdua pun adalah murid yang cukup berprestasi di kampus itu di antara mahasiswa lainnya yang sama-sama berasal dari Indonesia, sehingga mereka pastinya dikenal oleh seluruh dosen dan penghuni kampus yang karena mereka telah banyak menorehkan prestasi untuk kampus tersebut selama kurang lebih dua tahun belakangan ini.
Setelah pelajaran berakhir, Ken pergi ke gedung olahraga kampus karena dia sedang ada pertandingan basket hari ini, sedangkan Sonya meminta izin pada Ken untuk pergi ke suatu tempat.
Sonya terus saja merasa mual sejak kemarin hingga sudah tidak dapat menahannya dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya.
"You're twelve weeks pregnant, don't you know? You have to do a prenatal check up," ucap sang dokter.
Sonya tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah mendengar itu semua. Dia hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong saking syoknya. Bagaimana caranya dia memberitahu Ken bahwa dia tengah mengandung anak dari laki-laki itu? Bagaimana cara dia memberitahu orang tuanya tentang masalah ini? Akankah Ken mau menerima dirinya dan bayinya? Itulah sederet pertanyaan yang terus bergelayut di benak Sonya.
Setelah selesai pergi ke dokter, Sonya kembali ke kampus dengan wajah murung. Saat berjalan masuk ke dalam ruang olahraga, dilihatnya Ken sedang beristirahat.
"Waw, gadis cantik itu siapa?" tanya Ken pada temannya.
Temannya itu pun menoleh ke mana arah mata Ken menatap dan melihat Sonya tengah berjalan masuk ke dalam gedung.
"Dia kan pacar kamu, bodoh!" pungkas Gibran.
"Iya, kamu benar juga. Dia emang pacar aku." Ken nyegir kuda lalu berlari menghampiri Sonya.
"Kok lama banget, sih?" tanya Ken.
Sonya tidak menjawan ucapan Ken dan hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ada apa?" tanya Ken lagi.
"Hah? Nggak apa-apa, kok," bohong Sonya. Gadis itu ragu, apakah dia harus mengatakan semuanya atau merahasiakannya dari Ken?
"Pasti terjadi sesuatu. Kamu harus harus kasih tau aku, apa pun itu."
"Aku akan kasih tau, tapi nggak bisa di sini."
Mereka berdua kemudian berjalan ke belakang gedung olahraga dan di sana, Sonya memberanikan diri untuk memberitahukan semuanya pada Ken.
"Jadi, kamu kenapa?" tanya Ken seraya mengusap rambut Sonya.
"Aku ... a-aku ... aku hamil," lirih Sonya dengan air mata yang menetes seketika.
Ken sangat terkejut mendengar itu tetapi dia berusaha untuk menetralkan rasa terkejutnya dengan menarik napas dan tetap bersikap tenang.
"Kamu hamil di saat kamu masih kuliah dengan semua prestasi yang udah kamu dan aku raih, jadi kamu harus ngambil keputusan yang tepat buat masalah ini dengan berpikir rasional," ucap Ken.
"Apa yang terjadi kalo aku tetap melahirkan bayi ini?" tanya Sonya.
"Jangan konyol, kita masih punya cita-cita yang belum tercapai. Kamu tau kita bahkan baru kuliah di semester keempat, 'kan? Dan kalo kampus tau kamu hamil, semuanya akan jadi tambah runyam. Lakukan aborsi."
"Cita-cita? Aborsi? Dengan gampangnya kamu mengucapkan kata-kata itu, Ken?" Sonya menatap Ken dengan berkaca-kaca. Tega sekali Ken mengatakan itu, seakan-akan cita-cita itu jauh lebih penting dari buah hati mereka.
Sebenarnya, Sonya dan Ken sudah merancang masa depan mereka. Dua sejoli itu sudah membuat rencana bisnis untuk membangun perusahaan yang bergerak di bidang keamanan. Rencana itu pun sudah terjalan sebanyak 40% dan pembangunan perusahaan tersebut juga sudah dimulai di Jakarta. Tentunya, mereka tidak hanya berdua. Ada dua sahabat mereka lainnya yaitu Gibran dan juga Nadine yang ikut membantu dalam pembangunan perusahaan tersebut.
Ken menghela napasnya. "Sonya, maksud aku--"
"Aku lapar. Oke, aku akan melakukan aborsi. Tapi sebelum itu, biarin aku ngasih bayi ini makanan enak dulu," ucap Sonya dengan matanya yang masih berkaca-kaca.
"Tapi aku masih ada satu babak lagi, gimana kalo kita makan habis itu?" tawar Ken.
Sonya mengangguk dan mereka kembali ke dalam gedung olahraga.
Ken segera bersiap-siap untuk babak terakhir pertandingannya, sedangkan Sonya duduk di bangku penonton, menonton pertandingan Ken dengan pandangan kosong.
Setelah menyelesaikan pertandingannya, Ken berhasil lolos menjadi tim terbaik bersama timnya dan juga dirinya dinobatkan sebagai pemain terbaik. Itu cukup membuat dirinya merasa sangat bahagia dan berharap Sonya akan bangga kepada dirinya.
"Gimana? Aku hebat, kan?" tanya Ken.
Sonya memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Sesuai janji mereka, Ken membawa Sonya ke salah satu restoran tempat biasa mereka makan. Tetapi saat di perjalanan, ponsel laki-laki itu berdering dan dia segera meminggirkan mobilnya lalu mengangkat telepon tersebut.
Ternyata, Ken diminta untuk menandatangani kontrak untuk menjadi pemain inti dalam tim basket tersebut dan akan mengikuti kejuaraan internasional. Mendengar semua itu, Ken tidak bisa membendung rasa bahagianya dan langsung memeluk Sonya.
"Aku diminta buat menandatangani kontrak sekarang," ucap Ken.
"Selamat, ya," ucap Sonya.
"Kamu bisa ke restoran duluan naik taksi, nanti setelah tanda tangan kontrak aku nyusul ke sana," ucap Ken seraya melepas pelukannya.
Sonya mengangguk.
"Hati-hati," ucap gadis itu seraya turun dari mobil lalu berjalan dan menyetop sebuah taksi yang lewat.
Sebelum Sonya masuk ke dalam taksi itu, dia menatap ke arah Ken dan mobilnya dengan tatapan penuh arti. Gadis itu bisa melihat bahwa Ken juga menoleh ke arahnya.
Sesaat kemudian, mobil Ken perlahan mulai mengecil dari pandangan Sonya lalu gadis itu langsung masuk ke dalam taksi.
Sonya tidak berniat untuk pergi ke restoran. Tanpa Ken ketahui, gadis itu membuat keputusan yang lebih besar untuk memilih pergi meninggalkan Ken, karena dia tidak bisa membunuh bayinya.
Saat tiba di restoran setelah menandatangani kontrak, Ken tidak menemukan keberadaan Sonya di restoran tersebut. Karena itu, dia segera mengambil ponselnya dan menelepon sang kekasih.
Berkali-kali dirinya mencoba untuk menelepon gadis itu, tetapi ponsel Sonya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
Karena panik dan takut terjadi apa-apa pada sang kekasih, Ken segera pergi menuju apartemen gadis itu.
Setelah sampai di apartemen, Ken masuk ke dalam karena dia memiliki kunci duplikat apartemen Sonya tetapi apartemen itu sangat sepi seakan-akan tidak ada orang di sana.
"Sonya! Sonya!" panggil Ken seraya menyusuri setiap sudut apartemen tetapi nihil, tidak ada suara sahutan untuk panggilannya dan itu artinya Sonya tidak ada di sana.
Ken masuk ke dalam kamar Sonya dan melihat sebuah surat terletak di atas nakas tempat tidur gadis itu. Dengan cepat Ken mengambil surat tersebut lalu membacanya.
Kepada Ken Prana Mahendra yang aku cintai.
Ken, ada jantung lain di dalam diri aku sekarang. Bisa dikatakan ini lebih kecil dan lemah daripada jantung aku, tapi aku bisa merasakan setiap detakannya. Kamu tau apa itu, Ken? Jantung bayi aku. Lalu, gimana bisa aku menyingkirkan dia? Ini bayi aku, dia hidup dan bernapas di dalam tubuh aku. Ini pilihan aku, Ken. Seperti kamu memilih masa depan kamu, aku memilih masa depan anak aku. Jadi, jangan khawatirin aku atau merasa bersalah atas semua yang udah terjadi. Mulai sekarang, aku bukan Sonya yang kamu kenal lagi. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa, karena sekarang aku adalah seorang ibu.
Ken membaca surat itu dengan hati yang merasakan kepedihan luar biasa. Tidak pernah dia merasakan perasaan sesakit itu sebelumnya. Sedih, marah, kecewa dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam hatinya.
Ini adalah keegoisan mereka masing-masing. Ken telah egois karena lebih mementingkan prestasinya dibandingkan anaknya, dan Sonya memilih jalan keegoisan mempertahankan bayinya. Hingga, hubungan mereka harus berakhir seperti itu.
Di sisi lain, Sonya terduduk diam di dalam pesawat sembari menatap ke luar jendela, melihat awan putih bersih yang tidak menampilkan apa-apa. Dia sudah mengambil keputusan dan memikirkan semuanya dengan matang.
Sonya akan memberitahu orang tuanya tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Entah sehabis itu dia akan diusir atau tidak diakui lagi sebagai keluarga Iskandar, Sonya tidak peduli karena dia telah membulatkan tekadnya.
***
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, akhirnya Sonya tiba di rumahnya. Gadis itu memandangi rumah mewah di depannya dengan kerinduan yang memuncak dalam benak.
Saat masuk ke dalam rumah, Sonya disambut dengan wajah gembira oleh kedua orang tuanya. Mereka sangat merindukan putri tunggal mereka itu.
Bergantian Sonya memeluk ibu dan ayahnya dengan sangat erat.
"Kamu pulang kok nggak bilang-bilang sama kita?" tanya Miranda; ibunya Sonya.
"Iya, 'kan aku pengen ngasih surprise buat kalian," ucap Sonya.
"Aaaa sayang." Miranda kembali memeluk putrinya itu dengan erat.
"Gimana kuliah di Oxford? Seru?" tanya Bima; ayahnya Sonya.
Setelah cukup lama memeluk Sonya, Miranda pun melepas pelukannya.
"Seru kok, Pa." Sonya berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya masih sangat terluka.
Miranda mengerutkan keningnya, seketika menjadi sangat khawatir saat melihat wajah Sonya yang sangat pucat.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Kok muka kamu pucat banget kayak gitu? Kamu sakit?" tanya Miranda.
"Aku nggak apa-apa kok, Ma," ucap Sonya.
"Nggak apa-apa gimana orang muka kamu pucat banget gini, kok. Pa, coba liat deh benar, kan? Ini muka anak kamu pucat banget loh."
"Iya. Sayang, kamu sakit, Nak?" tanya Bima.
"Aku nggak apa-apa kok, Ma, Pa." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sonya jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
***
Sonya membuka matanya dengan perlahan dan kepala yang masih terasa sangat pusing. Saat sudah bisa melihat dengan benar, Sonya melihat Miranda dan Bima tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu udah sadar, Nak?" tanya Miranda dengan ekspresi yang khawatir.
Sonya mengangguk seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Siapa yang udah melakukan itu ke kamu?" tanya Bima.
"Maksud Papa?" tanya Sonya dengan kening mengkerut.
"Siapa yang udah melakukan itu sama kamu?!" tanya Bima lagi, kali ini dengan nada yang mulai meninggi.
"Pa, anaknya jangan dibentak, dong. Kita tanya baik-baik sama dia," ucap Miranda.
"Sonya, kamu jujur sama Mama ya, Nak? Kata dokter kamu udah hamil dua belas minggu. Siapa yang udah melakukan itu, Sayang?"
Sonya terdiam sembari memainkan tangannya, air mata kini telah menggenang di pelupuk matanya yang indah.
"Maafin aku Ma, Pa. Maaf kalo aku udah mengecewakan kalian. Papa sama Mama nggak perlu tau siapa ayah dari anak ini, yang jelas aku pasti akan ngurus anak aku sendiri dengan baik," ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Mendengar itu, Miranda segera memeluk Sonya dan tangis gadis itu langsung pecah di pelukan sang ibu.
"Gimana caranya? Gimana caranya kamu bisa ngurus anak kamu sendiri? Kamu lupa Papa ini siapa? Papa ini bukan orang sembarangan, Sonya. Apa yang akan kolega Papa bilang seandainya mereka tau kalo kamu hamil tanpa menikah? Reputasi Papa dan perusahaan kita bisa hancur. Orang-orang akan menganggap kalau Papa ini gagal menjaga anak perempuan Papa satu-satunya," ucap Bima.
"Terus aku harus gimana, Pa? Aku nggak mau menggugurkan anak ini, aku mau ngurus dia sampai dewasa. Kalo Papa nggak bisa terima, aku akan pergi dari hidup kalian," ucap Sonya dengan air matanya yang sudah berjatuhan.
"Kamu itu ngomong apa, sih? Kamu nggak boleh pergi dari sini," Miranda menyeka air mata putrinya.
Melihat Sonya menangis sesegukan seperti itu, Bima merasa tidak tega dan langsung memeluk sang putri.
"Maafin Papa ya, Sayang. Maafin Papa. Oke, kamu boleh ngurus anak kamu dan Papa sama Mama pasti akan membantu kamu karena anak yang kamu kandung adalah cucu kita," ucap Bima seraya memeluk putrinya dan mencium pucuk kepala gadis itu.
Tak lama, datang seorang laki-laki muda yang kelihatannya seumuran dengan Sonya.
"Maaf Pak, saya mau ngasih tau kalo saya udah cuci mobilnya," ucap Daffin; sopir keluarga Bima.
Saat menoleh ke arah Daffin, Bima memikirkan satu hal. Dari yang dia lihat selama ini, Daffin adalah laki-laki pekerja keras. Laki-laki itu juga terbilang tampan dan tidak norak, dia juga adalah laki-laki yang baik dan sopan.
"Oh iya, makasih ya," ucap Bima.
Daffin mengangguk dan hendak pergi dari sana tetapi Bima mencegahnya.
"Tunggu dulu, ada yang mau saya bicarakan sama kamu." Bima beranjak dari duduknya dan mengajak Daffin untuk ikut ke ruang kerjanya.
Sekarang, mereka berdua sudah duduk berhadapan di dalam ruangan itu.
"Waktu itu kamu pernah bilang sama saya kalo biaya kuliah kamu udah lama nunggak, kan?" tanya Bima yang disambut anggukkan kepala oleh Daffin.
"Saya akan tanggung semua biaya kuliah kamu, kamu nggak perlu memikirkan apa pun dan cuma harus belajar dengan baik aja. Bukan cuma itu, setelah kamu lulus kuliah saya akan ajak kamu bergabung dengan perusahaan saya. Setuju?"
"Beneran, Pak?" tanya Daffin dengan matanya yang berbinar.
Bima mengangguk.
"Wah terima kasih banyak, Pak."
"Tapi saya nggak melakukan itu secara cuma-cuma, saya akan kasih itu semua asal kamu melakukan satu syarat yang saya minta."
"Syarat apa, Pak?"
"Nikahi anak saya."
"Ma-maksud Bapak?" tanya Daffin yang masih tidak mempercayai telinganya.
"Iya, syaratnya adalah kamu harus menikahi anak saya," ucap Bima dengan santainya.
"Tapi, kenapa Bapak tiba-tiba mau menikahkan saya sama anak Bapak? Bukannya apa-apa Pak, tapi saya ini kan cuma sopir Bapak, mana mungkin saya pantas buat anak Bapak."
"Saya nggak peduli tentang itu. Yang penting buat saya adalah kamu mau menerima anak saya dan bersedia menjadi ayah untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Setelah itu, saya akan tanggung seluruh biaya hidup kamu."
Daffin terdiam mendengar itu.
Jadi, anaknya pak Bima ini lagi hamil toh, batin Daffin.
Laki-laki itu mulai berpikir seraya menimbang-nimbang. Jika dipikir-pikir, semua ini sama sekali tidak memberatkannya dan akan banyak memberikan keuntungan untuk dirinya. Kesempatan ini tidak datang dua kali, kapan lagi dia bisa menjadi menantu seorang konglomerat dengan statusnya yang seperti sekarang?
"Jadi gimana? Kamu mau menikahi anak saya?" tanya Bima.
Setelah cukup lama berpikir dan memikirkan semuanya dengan matang, Daffin sudah mengambil keputusan.
"Saya bersedia menikahi anak Bapak," ucap laki-laki itu yang disambut senyuman oleh Bima.
"Oke, kalo gitu pernikahan kalian akan dilangsungkan sebulan dari sekarang."
***
"Apa?! Papa mau menikahkan aku sama sopir Papa?" tanya Sonya yang tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ayah.
"Papa rasa ini adalah jalan yang terbaik," ucap Bima.
"Tapi apa Papa memikirkan gimana perasaan aku? Apa bisa aku nikah sama orang yang nggak aku cintai?"
"Apa sekarang cinta itu penting? Reputasi keluarga kita dan nasib anak dalam kandungan kamu itu jauh lebih penting, Sonya."
"Sayang, Papa kamu benar. Sekarang bukan waktunya mementingkan perasaan. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan Mama setuju sama keputusan papa kamu. Lagi pula, Daffin itu anak yang baik dan jujur," sahut Miranda.
"Nggak, aku nggak mau nikah. Aku bisa kok ngurus anak aku sendiri," ucap Sonya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Mungkin kamu bisa ngurus anak sendirian, tapi suatu saat kalo anak kamu nanya sama kamu siapa ayahnya atau ayahnya ke mana kamu mau jawab apa?" tanya Bima yang berhasil membuat hati Sonya berdenyut.
Sonya terdiam mendengar kata-kata orang tuanya. Sanggupkah dia menikah dengan orang lain padahal satu-satunya laki-laki yang ada di hatinya hanyalah Ken? Apa tidak boleh jika dia berharap pada Tuhan kalau Ken akan mencarinya lalu menikahinya? Haruskah dia melupakan kisah cintanya dan membangun kisah cinta baru bersama orang lain?
Jika Sonya memikirkan itu, rasanya sakit sekali. Tetapi jika Sonya memikirkan masa depan bayinya dan sikap Ken yang memintanya untuk menyingkirkan bayi mereka, itu jauh lebih menyakitkan.
Nggak, aku nggak boleh egois. Masa depan anak aku adalah yang terpenting. Aku siap mengorbankan kebahagiaan dan hidup aku demi anak ini, batin Sonya.
"Demi bayi dalam kandungan aku, aku menerima pernikahan ini," ucap Sonya.
Miranda dan Bima tersenyum penuh kelegaan mendengar itu.
***
Satu bulan kemudian...
Acara pernikahan Sonya dan Daffin berlangsung dengan sangat mewah dan meriah. Banyak rekan bisnis dan tamu yang berdatangan untuk memberi selamat pada Sonya dan Daffin atas pernikahan mereka. Bukan hanya rekan bisnis dari Indonesia, tetapi juga ada beberapa yang dari luar negeri.
Sekarang Sonya sudah sah menjadi istri Daffin, tetapi gadis itu masih bingung dia harus bahagia atau justru bersedih dengan pernikahan ini. Laki-laki yang dia nikahi adalah laki-laki baik yang tetap mau menikahi dirinya meskipun sudah tahu bahwa dia tengah mengandung anak dari laki-laki lain.
Sonya tidak peduli apa alasan Daffin mau menikahi dirinya, apakah itu karena uang, jabatan, nama, atau memang laki-laki itu dengan ikhlas menikahinya secara sukarela. Yang jelas, Sonya akan sangat berterima kasih kepada Daffin seumur hidup.
Di atas pelaminan, memperhatikan para tamu undangan yang sibuk menyantap makanan mereka sembari sesekali bercengkrama, Sonya dan Daffin menoleh ke arah satu sama lain sambil tersenyum.
Pada saat itu Sonya bertekad, meskipun dia tidak mencintai Daffin atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa mencintai laki-laki itu, Sonya berjanji pada dirinya bahwa dia akan hidup dengan Daffin sebagai sahabat baik hingga nantinya mautlah yang akan memisahkan mereka berdua.
Setelah acara selesai, mereka semua kemudian beristirahat ke kamar masing-masing. Dan sekarang, Sonya dan Daffin sudah berada di kamar hotel mereka.
"Mbak, boleh nggak saya mandi duluan?" tanya Daffin dengan wajah polosnya yang membuat Sonya tergelak.
"Silakan. Oh iya, kamu jangan manggil aku Mbak, ya. Kita kan udah nikah, jadi kamu panggil aku Sonya aja," ucap Sonya yang disambut anggukkan kepala oleh Daffin.
"Kalo gitu, aku mandi duluan," ucap laki-laki itu seraya berjalan ke kamar mandi.
Setelah Daffin selesai mandi, kini giliran Sonya yang mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket-lengket.
Tak butuh waktu lama, Sonya pun telah selesai mandi dan bersiap untuk tidur.
"Daffin," panggil Sonya seraya duduk di sebelah Daffin yang tengah memainkan ponselnya.
Mendengar Sonya memanggil namanya, dengan cepat laki-laki itu menutup ponselnya dan bersiap mendengarkan perkataan Sonya.
"Iya, kenapa?" tanya Daffin.
"Aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya karena kamu udah bersedia menikahi aku secara sukarela meskipun kamu tau kalo aku sebenarnya lagi mengandung anak dari orang lain," ucap Sonya seraya menatap manik mata Daffin dalam-dalam.
Daffin tersenyum mendengar itu dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Sonya.
"Aku janji akan jadi ayah yang baik buat anak kamu, emm ... maksud aku anak kita. Aku janji akan jadi orang yang paling pertama melindungi dia, dan akan sayang banget sama dia," ucapnya lalu membelai lembut perut Sonya.
"Tapi kayaknya aku nggak akan bisa jatuh cinta sama kamu karena cinta aku udah jadi milik orang lain," ucap Sonya yang membuat Daffin menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah Sonya yang sudah berkaca-kaca.
"Cinta itu nggak bisa dipaksa. Kalo kita kuat, kalo kita bisa, aku yakin kita akan jadi partner hidup yang baik tanpa harus ada cinta di dalamnya, karena cinta itu bukan segalanya."
"Jadi, kamu rela hidup sama aku tanpa adanya rasa cinta?"
Daffin mengangguk.
"Kalo gitu mulai sekarang kita akan jadi sahabat sekaligus partner yang baik. Janji?" tanya Sonya seraya mengangkat kelingkingnya.
"Janji." Daffin menautkan kelingkingnya pada kelingking Sonya.
Dua sejoli itu tidak tahu sampai mana dan sampai kapan mereka akan bertahan dengan hubungan tersebut. Yang jelas, demi bayi yang bahkan belum lahir itu, mereka berdua siap mengarungi biduk rumah tangga pernikahan bersama-sama dengan prinsip saling menjaga satu sama lain.
Padahal, dalam hati mereka masing-masing terbersit sebuah keinginan dan harapan yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.