Bab 2

Di dalam kamarnya, Mbak Ana begitu gelisah, telah berbuat jauh dengan Naldo anak majikannya, walau hanya mendekapnya dengan pelukan kasih sayang seorang Ibu, tetapi usia Naldo sudah memasuki usia Puber, pelukan dan belaian darinya membuat Naldo bergairah, dan Mbak Ana pun merasakan Hal yang sama.

Apa yang akan terjadi besok, dan apa yang terjadi jika Tuan Anggoro mengetahui, resah dan gelisah dirasakan Mbak Ana, bagaiman jika Bi’ Onah dan Yani tahu.

Sudah beberapa jam dia berguling tak menentu di atas ranjang kamarnya, setelah berpikir lama, Ana memutuskan untuk pulang kampung, jika tidak Mas Naldo pasti menginginkan lagi, karena usia pubernya yang baru kenal hal semacam begitu, aku juga ikut merusaknya, pikir Mbak Ana di dalam hati, padahal semua adalah kesalahan Naldo, Mbak Ana hanya mencoba mengurangi kesepian dalam hidupnya untuk tumbuh menjadi remaja yang kuat.

Mbak Ana mengemas barang-barang dan pakaiannya, siap untuk pulang ke kampung halaman, waktu terasa, dan pagi menyapa.

“Bi' saya pamit pulang, semalam mendapat kabar, dikeluarga ada masalah yang harus di selesaikan segera, nanti saya telpon langsung Tuan Anggoro” ucap Mbak Ana ..

“Mendadak sekali Ana, apa gak bisa tunggu Tuan Anggoro pulang, atau pamitan sama Mas Naldo" pinta Bi' Onah yang juga merasa kasihan mendapatkan kabar dari Ana tentang keluarganya dikampung, walau itu cuma alasan Ana saja.

“Gak usah Bi' saya pamit ke Bi' Onah dan Yani saja” ucap Ana, sembari menjelaskan akan menelpon sendiri Pak Anggoro.

Setelah proses mengharu biru, Mbak Ana pun pergi ke terminal Bis, dan segera pulang ke kampung halamannya.

Di kamar Naldo, terlihat tuan muda masih tertidur pulas, karena memang sekolah lagi libur.

Mbak Yani dan Bi' Onah tinggal berdua didalam rumah, dan pak Satpam hanya sebatas pagar depan.

Jam 10.00 wib, Naldo terbangun dan segera mandi, masih teringat kejadian semalam, dan ingin lagi mengulanginya.

Usai Mandi dan berpakaian, Naldo turun kebawah, menyantap makanan yang tersedia, “Mas Naldo, Ana pulang kampung, katanya ada urusan keluarga yang penting dan mendadak”ucap Bi' Onah sembari menambah lauk dan sayuran ke meja makan.

Naldo terdiam sesaat dan memikirkan, mungkin kejadian semalam, membuat Mbak Ana pergi, dia malu atas yang terjadi dan semua itu pasti salahku.

Naldo terdiam, hatinya merasa menyesal melakukan rencana yang membuat asisten rumah tangga yang baik pulang kampung dan berhenti bekerja, kesedihan terlihat di wajahnya.

Tanpa menjawab atau membahas tentang Ana, Naldo menelpon papinya dan meminta papinya memberikan hadiah, karena Mbak Ana sudah banyak membantu dirumah dan sangat baik padanya.

Naldo pun menelpon Papinya“Halo, Papi lagi sibuk?" ucap Naldo di ponselnya.

“Enggak, ada papa sayang?" jawab Papinya.

“Mbak Ana ada urusan keluarga penting, dia pulang kampung, kata Bi" Onah kemungkinan menetap di kampung, berikan hadiah ya Pi, karena Mbak Ana baik banget sama Naldo dan sudah lama kerja sama kita”pinta anak kesayangan Anggoro itu.

“Iya, setelah ini Papi hubungi Ana dan Papi kasih pesangon yang cukup, terus kamu mau papi cariin pembantu baru nak?" tanya Papinya

“Gak usah Pi, ya sudah Naldo lanjut mainnya ya Pi, terimakasih”Naldo mengakhiri panggilan telponnya, Mbak Yani dan Bi' Onah yang berdiri didekat tuan mudanya, merasakan kasihan dengan Naldo yang kehilangan Mbak Ana yang sangat menyayanginya.

“Bi" Onah, Mbak Yani jangan pergi ya, Naldo gak ada temannya lagi nanti”lalu tuan muda yang masih bersedih itu berjalan menuju kamarnya.

Naldo duduk menatap jendela, dimana dia sering melihat Mbak Ana dari situ, dia menyesal tetapi sudah terjadi, dan kenapa mbak Ana memutuskan untuk langsung pergi.

Bi' Onah tak tahu apapun alasan Ana sebenarnya pergi, biar lah itu jadi rahasianya bersama Tuan muda yang disayanginya.

“Yani, tolong kamu antarkan buah-buahan ke kamar Mas Naldo”pinta Bi' Onah ke Yani.

Yani mengetuk pintu tuan Mudanya, dan dipersilahkan masuk. “Mas Naldo, kalau butuh apa-apa bilang saya ya, jangan sedih, walaupun Mbak Ana pulang, saya dan Bi’ Onah masih tetap disini buat jagaian Mas Naldo”ucap Yani memberikan semangat ke tuan muda.

“Iya Mbak, terimakasih ya”

Yani pun mengusap kepala Tuan mudanya penuh kasih sayang, dan segera meninggalkan kamar tuan mudanya yang sedang bersedih.

Bap..bap..bap suara dering ponsel Naldo terdengar.

Naldo melihat layar ponsel, panggilan dari Erju

“Hallo Ju”

“Do, main kerumah ku gak?”tanya Erju

“Aku lagi males keluar Ju, besok aja ya”jawab Naldo yang hilang semangatnya hari itu.

Sore hari, Naldo berenang sebentar di kolam renang miliknya, Yani melihat Naldo yang masih sedih ditinggal satu asisten rumah tangganya. lalu menghampiri dan bertanya.

“Mau di buatin apa Mas? Roti tawar atau apa?”tanya Yani kepada Naldo.

“Es Jeruk sama cemilan.”

Yani segera membuatkan dan mengantarkan pesanan Naldo disamping kursi duduk setelah Naldo selesai berenang.

Naldo berpikiran, kenapa ya Mbak Ana, apa merasa malu, atau apa, pikiran anak ini tak sampai memikirkan hal yang jauh, hanya berpikiran sebatas usianya saja.

Duduk di kursi santai dekat kolam sambil menyantap cemilan yang tersedia dimeja.

“Mas Naldo, ada paket dari Papi nya”Bi' Onah mengantarkan paket kiriman dari Papinya.

Naldo mengambilnya dan tak sabar membuka hadiah yang dikirimkan Papi untuk dirinya, "Wow, thanks Pap”Naldo terlihat bahagia melihat hadiah yang diberikan papinya.

Beberapa miniatur yang memang Naldo hobi mengoleksi miniatur tokoh-tokoh game.

Yang dikirimkan Papinya tadi, miniature Franco, Tigreal, dan Jhonson. dari tokoh game mobile legend, yang memang Naldo terkenal sangat pro memakai hero Tank.

Wajah yang tadi bersedih, seketika berubah menjadi senang, dan berbegas menuju kamar.

Mengirimkan pesan gambar ke Papinya, "Terima kasih Papi, hadiahnya sudah sampai”

Dua hari berlalu, tanpa ulah kenakalan pubernya, dan hari ini kesedihannya telah sedikit berkurang, namanya juga bocah.

Duduk di kursi tepat didepan jendelanya. Mbak Yani sedang menyiram bunga, dengan baju tanpa lengan, baju yang sedikit tipis berwarna hitam, Rok mini di atas paha.

Mbak Yani memang sering tampil sedikit seksi, karena terbiasa memakai pakaian begitu, yang dirasa lebih simple dan sejuk baginya.

Baju tanpa lengan yang tidak terlalu ketat, jika membungkuk maka terlihat lah payudaranya.

Naldo semangat memperhatikan dari atas, beberapa kali Yani bergerak seperti membungkuk, dan terlihat dua gunung kembar nya oleh Naldo dari atas.

Lebih besar dari miliknya Mbak Ana ya, pikir di otak mesumnya, usai menyiram bunga, Yani menyapu daun-daun disekitanya dan sesekali duduk dan membungkuk, Naldo sangat menyukai pemandangan itu.

Dari atas, kaca yang tak terlihat dari luar, membuat Yani tak sadar diperhatikan, Banyak momen pemandangan indah buat Naldo dari atas.

Naldo turun, dan melihat Mbak Yani masih sibuk membereskan taman belakang, Naldo yang melihat dari samping kolam renang, memanggilnya.

“Mbak sini, belajar berenang sekarang, biar bisa”ucap tuan mudanya.

“Nanti kelelep lagi Mas”jawabnya.

“Saya bantuin kalau kelelep”ucap Naldo meyakinkan, Mbak Yani pun menuruti.

“Jangan terjun seperti kemaren, pelan-pelan dari tangga.”ujarnya mengintruksi kan dari kursi duduknya. Naldo hanya ingin menonton.

Yani turun dari tangga, dan berdiri, ternyata kolamnya tidak telalu dalam dibawah lehernya.

“Gak dalam ya Mas, kemaren kok saya kelelep ya?”tanyanya sambil tersenyum malu.

“Kemaren itu panik, coba tangan nya taruh di pinggir atas kolam, terus kakinya digerakan pelan-pelan.”

Yani melakukan arahan tuan mudanya, terlihat lah payudaranya, karena menghadap ke Naldo.

“Terus pelan pelan, kalau sudah coba berjalan ketengah, terus berenang menuju tepian kolam”

Yani melakukannya dan terkadang kelelep dan Naldo tertawa melihatnya, Bi' Onah yang melihat Naldo tertawa, hatinya merasa senang dan kembali kedalam, melanjutkan kerjaannya.

“Tenang, jangan panik, berdiri aja kan gak begitu dalam, ulangi berkali-kali”intruksi dari Naldo.

Kali ini Naldo tidak senekat waktu bersama Mbak Ana, dia hanya ingin melihat saja, belum mau menjamah, takut, Mbak Yani juga pulang.

Berulang-ulang kali, Yani lakukan sesuai arahan Naldo dan akhirnya berhasil, lalu bolak balik dengan gaya bebas yang penting sampai kepinggiran kolam, Yani sudah terlihat lelah, dan naik kepermukaan kolam, terlihat baju yang menempel di dadanya, begitu besar dan roknya telihat lengket ke pantatnya memperlihatkan kemolekan tubuhnya., Naldo yang menyaksikan itu, gerakan didalam celananya terlihat sedikit demi sedikit pedang Naldo ereksi.

“Sudah ya Mas, saya capek, saya masuk dulu ya, ganti pakaian”ucap Yani ke tuan mudanya itu.

“Iya Mbak” jawab Naldo sambil terus menyaksikan tubuh basah sang pembantu rumah tangganya itu lewat didepan matanya.

Bab 3

Di pagi yang terlihat sedikit mendung, Naldo dengan sepedanya menuju rumah Erju, seperti biasa pemandangan segar selalu terlihat, wanita muda yang berstatus Mami tiri Erju itu pasti selalu tanpil seksi dan menggoda, “Hai tante, Erju ada?”

“Naik aja Do, ada diatas” ucap Mami seksinya Erju itu mempersilahkan Naldo naik ke atas.

Di dalam kamar, Erju mengajakku lagi ketempat rahasianya menoropong, mengamati sekitar, mana tahu ada pemandangan yang menyegarkan.

Naldo sebenarnya hanya ingin melihat Mami Erju, dari pada meneropong jauh mencari Tante Miya berada.

“Gak ada yang terlihat Do, kita mabar aja yuk,”

Jika hanya mabarkan bisa dari rumah, sama-sama bisa mendengarkan suara, baiknya lihat Mami mu aja Ju, pikir otak Naldo.

‘Duar, dduaar’, kaget terdengar suara geluduk, sepertinya hari mau hujan, Naldo pun buru-buru ijin, biar gak kehujanan, handphone di taruh di tas kecil Naldo yang anti air. bergegas mengayuh sepedanya.

Belum sampai satu menit keluar dari pagar rumah Erju, hujan deras langsung jatuh ke bumi, Naldo pun tak singgah berteduh masih ia tetap menggayuh sepedanya menuju rumah. Derasnya hujan mengguyur badannya, basah kuyup. Lokasi perumahan elite, jalannya luas, rumah mewah satu persatu dilewatinya berjarak cukup jauh tak berdempetan, di batasi taman-taman dan kursi. dikit lagi sampai rumah.

“Pak” teriak Naldo, satpam yang berteduh dibawah posnya segera berlari membuka pagar dengan payung di tangannya.

“Hujan-hujanan Mas Naldo?” tanya pak satpam.

“Iya pak, dijalan pulang langsung deras, malas berteduh” jawab Naldo.

Mbak Yani yang khawatir dan Bi’ Onah yang mondar mandir didepan ruang tamu menunggu tuan mudanya, padahal sudah di hubungi ponselnya, tapi Naldo tak mengangkatnya karena handphone didalam tas miliknya.

“Mas Naldo, kenapa hujan-hujanan dijalan, deras banget lagi” seru Bi’ Onah yang terlihat sangat khawatir di wajahnya.

“Gak apa-apa Bi’ malah segar banget”

Mbak Yani memberikan handuk, Naldo berjalan dengan tubuh yang basah menuju ke kamar mandi di bawah, setelah melepaskan pakaian dengan handuk melangkah ke kamarnya.

Di kamar, Naldo Mandi, dan berganti pakaian, Bi’ Onah membawakan jahe hangat buat diminum Naldo.

“Hujannya deras banget Mas, kenapa gak di rumah mas Erju dulu, baru setelah reda pulang.” ucap Bi’ Onah lagi.

“Di jalan tadi, tiba-tiba aja hujannya turun langsung deras, jadi ya sudah sekalian aja”

Bi’ Onah yang tahu, kondisi fisik Naldo mengkhawatirkannya, tetapi Naldo merasa biasa saja.

Bi’ Onah pun turun ke bawah melanjutkan kegiatannya, dan Yani waktunya istirahat, biasanya Bi’ Onah tidur setelah sholat isya. dan Yani melanjutkan sampai jam 10 baru tidur, hari sudah maghrib, Naldo belum turun, Bi’ Onah menitip pesan ke Yani “Yani, nanti kalau Mas Naldo belum turun, kamu antarin makanan ke atas ya, semoga Mas Naldo gak masuk angin, biasanya jika terkena hujan dadakan Naldo sering demam” ucap Bi’ Onah yang hafal dengan Naldo sedari kecil.

“Iya Bi’,”

“Kalau kamu capek banguni aja Bi’ Onah buat jagain mas Naldo diatas ya” ucap Bi’ Onah lagi.

Jam 8 malam, Naldo belum juga turun dari kamarnya, Yani membawakan makanan sesuai pesan Bi’ Onah, didalam kamar setelah di ijinkan masuk, terlihat Naldo kedingan, meriang.

Yani segera memberikan obat dan membantunya makan, “Perlu dipanggilin dokter Mas?” tanya Yani.

“Gak usah Mbak, sudah sering kalau hujan meriang, nanti juga baikan” jawab Naldo dengan suara bergetar.

“Mbak Yani temanin dikamar ini gak apa-apa Mas?”

“Iya mbak” masih dengan suara bergetar, kebetulan sebelum naik keatas, Yani sudah mengkondisikan semua nya dibawah.

“Mbak di-ngiin” ucap Naldo.

Mbak Yani gak tahu harus apa, hanya menambahkan selimut “Ac nya di matiin mas?” tanya Yani.

“Gak usah, Mbak Yani pelukin Naldo dingin” ucap tuan muda yang ingin dipeluk.

Yani tak berpikir panjang, dia naik ke ranjang, dan memeluk tuan mudanya, dari belakang, terasa kenyal sentuhan dada Yani dipunggung Naldo, terasa hangat.

Yani menarik selimut dan memeluk Naldo dari belakang, Naldo tak berani menghadap kedepan, dia takut Kejadian seperti Mbak Ana.

Sambil memeluk tuan Muda, “Yani berkata, dulu, waktu mas Naldo berusia 10 tahun, Mas Naldo juga kedinginan setelah berenang dan kehujanan, Mbak Yani juga peluk seperti ini” ucapnya, Naldo lupa masa itu.

Naldo yang masih meriang, tetap otaknya bekerja memikirkan hal mesum, anunya ereksi, tetapi tetap diam.

“Sudah terasa hangat Mas?” tanya Mbak Yani.

“Iya hangat mbak, peluk terus ya, sampai Naldo tertidur” pinta tuan muda.

“Iya Mas, tidur lah” jawab Yani yang menyayangi tuan mudanya sedari dulu.

Sentuhan dari dada Yani membuat Naldo sulit memejamkan mata, hanya diam merasakan kehangat menjalar hingga ereksinya semakin kencang.

Yani pun meraskan perbedaan, saat usianya 10 tahun dengan sekarang, dengan badan yang semakin besar, dan tubuh yang menghangatkan diri dan hatinya.

Yani menyukai saat memeluk anak majikannya itu, dengan dekapan yang hangat, tak melepaskannya. sejam waktu berlalu, dan Naldo tertidur pulas.

Yani bergerak turun perlahan dan keluar dari kamar Tuan mudanya.

Pagi harinya, Bi’ Onah naik memeriksa Naldo, dan melihat kondisi tuan mudanya sudah baikan seperti semula, ke khawatirannya berkurang, dan kembali turun perlahan ke bawah.

Yani yang sedang menyetrika pakaian, bertanya “Gimana Naldo Bi’?

“Sudah baikan, semalam kamu kasih obat apa?” tanya Bi’ Onah.

“Disuapin makan dan minum jamu madu hangat aja” jawab Yani.

“Masih mau Naldo disuapin, biasanya gak mau, sudah gede katanya” ungkap Bi’ Onah sambil tertawa kecil.

Naldo sudah terbangun, dan turun menuju meja makannya, menyantap makanan yang ada dan kembali ke kamar.

Melanjutkan permainan gamenya, Mbak Yani naik ingin menyusun pakaian dilemari, runitisan harian asisten rumah tangga.

“Gimana kondisi Mas Naldo, sudah enakan?” tanya Yani

“Sudah Mbak” jawab Naldo sambil terus melihat layar ponselnya, yang sebenarnya malu melihat Yani yang memeluknya dari belakang tadi malam.

Yani yang Janda lama, sejak usia 22 tahun sudah menjadi janda, mengatakan ke tuan muda, “Kalau mas Naldo kedinginan atau kesepian sebelum tidur, mau ditemanin Mbak Yani, ngomong aja ya, Mbak Yani temanin” ucapnya dengan senyuman.

Yani sedikit genit di banding Ana, mungkin jika Yani yang memeluknya dari depan, mungkin tak minta pulang kampung seperti Ana.

Yani melangkahkan kaki ingin keluar dari kamar Naldo, sebelum sampai di pintu kamar Naldo memanggil, “Mbak kesini dulu deh”

Yani menghampiri tuan mudanya.

“Semalam, setelah tertidur, Naldo mimpi dipeluk Mami, Naldo pengen dipeluk lagi Nanti malam, Naldo kangen pelukan itu” ucapnya yang benar ingin, di tambah modus.

“Iya, nanti setelah Bi’ Onah tidur, Mbak naik ke sini ya” ucap Yani dengan senyuman.

Malam yang ditunggu Naldo tiba, Yani pun memakai daster yang sedikit longgar dan tipis berwarna putih, dan di semprot dengan sedikit parfum, biar gak bau saat dekat dengan tuan muda.

Yani masih berpikir, bahwa tuan muda, memang kesepian dan butuh sentuhan kasih sayang, yang berbeda dengan Naldo yang mau memuaskan hasrat pubernya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED