Rumah mewah, halaman sangat luas, terdapat taman bunga yang indah, bisa terlihat setelah melewati pagar dan masuk ke rumah keluarga Anggoro, Satpam yang selalu siaga menjaga pagar di depan rumah kediaman tuan Anggoro.
Anggoro Saputra, memiliki banyak usaha, dari property, pabrik tekstil dan tambang di beberapa daerah, hampir jarang di rumah, karena banyaknya pekerjaan yang harus di urusnya.
Hari itu, Tuan Anggoro hendak berangkat selama dua bulan, dan terpaksa Naldo harus ditinggal, Bi' Onah dan dua pembantu yang selalu cekatan dalam mengurus, menjaga dan memberikan perhatian penuh kepada Naldo saat tuan Anggoro tak dirumah maupun sedang dirumah.
Besar tanpa kasih sayang seorang Ibu, membuat Naldo sedikit bandel, sedikit keras kepala, tetapi anak itu dasarnya baik dan cerdas, hanya butuh perhatian saja.
“Naldo, Papi berangkat ya, baik-baik dirumah ya sayang, kalau ada perlu bisa telpon Papi langsung” Anggoro berpamitan dengan Naldo putra satu-satunya.
“Iya Pi, hati-hati, cepat pulang ya” ucap Naldo, yang sudah biasa ditinggalkan di rumah saat Papinya sibuk bekerja.
Anggoro berjalan menuju mobil, yang sudah siap mengantarnya, Naldo pun masuk kedalam, melanjutkan main game kesukaannya.
Kamar Naldo diatas, bisa melihat kehalaman belakang, yang juga tak kalah luasnya dengan halaman depan.
Setelah selesai dengan Gamenya Naldo duduk di kursi santainya dekat jendela, terlihat mbak Yani, sedang menyiram taman bunga dihalaman belakang rumah, dengan baju yang terlihat belahan dadanya. Naldo memperhatikan dari atas di jendela kamarnya.
tok..tok..tok, suara ketukan pintu terdengar. “Mas Naldo, Bi’ Onah boleh masuk?” terdengar suara Bi’ onah yang meminta ijin masuk ke kamar tuan mudanya.
“Masuk aja Bi’” sahut Naldo dari dalam.
Bi’ Onah masuk, membawa makanan ringan dan beberapa buah-buahan buat Naldo yang jarang turun dari kamarnya.
“Kalau kepengen apa bilang ya Mas, Bi’ Onah turun dulu” ucap wanita yang sudah lama menjaga Naldo, bahkan dari Naldo baru lahir, Bi’ Onah sudah bekerja dengan keluarga Anggoro.
Naldo hanya mengangguk dan kembali melihat keluar jendela, anak pengusaha yang baru mau beranjak remaja itu sudah mulai tertarik dengan wanita.
Menghidupkan PC dikamarnya, searching gambar-gambar wanita seksi, dan tontonan yang membuatnya cepat dewasa sebelum usianya, di usianya yang ke 14 tahun ini, Naldo semakin terobsesi melihat payudara hanya sebatas itu saja, membuat hasratnya ingin terus dan terus menyaksikan gambar-gambar yang tampil di layar monitor PCnya.
‘Bosan gak asli’ ucapnya lalu mematikan PC, lanjut ke jendela kamar, mbak Yani atau Mbak Ana gak terlihat.
Naldo mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang yang dia kenal “Erju, kamu lagi dimana?”
“Dirumah, kamu lagi apa, kesini aja” Erju mengundang Naldo kerumahnya.
“Oke, aku kesana” Naldo mengakhiri panggilan telpon, bersiap dan meluncur ke rumah Erju menggunakan sepedanya.
Sebelum keluar rumah, Mbak Ana bertanya, “Mau kemana Mas?, di antarin Pak kusno aja ya,” ucap Mbak Ana yang selalu meng khawatirkan tuan mudanya itu.
“Gak usah, dekat kok, mau main kerumah Erju” jawab Naldo yang segera berlalu.
Mengeluarkan Sepedanya dan mulai mengoes, Satpam yang menjaga pagar telah siaga membukakan pagar untuknya.
Rumah Erju tak Jauh, satu kawasan, tetapi semua dikawasan itu rumah-rumah yang sangat besar dan megah.
Sesampai di Rumah Erju, satpamnya pun sudah membuka, karena mengenal Naldo yang sering main kesitu.
“Eh ada Naldo, naik aja, Erju diatas” ucap Mami tiri Erju yang sangat seksi itu.
“Iya Tante, makasih” Naldo langsung naik ke tangga menuju kamar Erju.
Naldo mengetuk kamar Erju dan terdengar suara dari dalam, “masuk aja”
“Ju, Mami tirimu seksi banget ya” ucap Naldo mengooda temannya.
“Dasar!!!” Erju melempar bantal ke sahabat kecilnya itu.
“Sini Do ikut, aku lihatin yang seru” ajak Erju ke lokasi rahasia nya, dua bocah baru puber ini naik ke satu tangga lagi menuju atap rumah Erju.
Diatas ada ruangan bersih, dengan Ac, dan ada teropong bintang, tapi digunakan oleh dua bocah puber yang pastinya, tidak digunakan untuk melihat bintang.
teropong itu bisa menjangkau banyak tempat, “Ini Do, kalau beruntung, bisa lihat Tante Miya sedang santai di samping kolam renangnya,”
“Coba” Aldo mencoba teropong itu dan memantau sekitar, dan tak terlihat apa-apa.
“Sini, Kalau sudah dapat objek bagus aku lihatin” Erju mengeser Naldo yang belum tahu lokasi mana yang di katakan temannya tadi.
“Nah, nasib baik Do” Erju meminta Naldo melihat dari teropong, sesuai kordinat yang sudah diarahkan oleh Erju.
Nalldo melihat dan menggeser perlahan-lahan, “Yak ketemu, ‘Bisa di perbesar gak Ju?”
“Bisa, itu ada disamping, putar ke kanan memperbesar”
“Wow, Gede ya” Naldo melihat dan memperhatikan dengan seksama.
“Gantian Do” Erju juga gak sabar melihat tante Miya sedang setengah berbaring menyandar di kursi, persis di samping kolam renang miliknya.
kurang lebih 45 menit mereka mengintip tante Miya, dan baru selesai setelah tante Miya bergerak dari tempat itu.
Mereka berdua tertawa, sembari turun ke kamar Erju kembali, pertemanan mereka terjalin semenjak SD, terlahir dari keluarga kaya, membuat mereka tak sebebas dan sepuas, teman-teman lainnya yang tinggal di perumahan biasa atau di perkampungan yang memiliki pengalaman lebih hebat dan bermain dengan bebas.
Mereka tidak bisa sesering itu, Erju dan Naldo hoby melihat wanita seksi, hobi dan kebiasaan yang sama membuat mereka berdua semakin dekat.
“Ju, Mami tirimu itu seksi bener pakaiannya setiap aku kesini, emang selalu begitu ya?” tanya Naldo penasaran
“Iya begitu deh, mungkin karena cantik dan seksi papi terpikat olehnya.”
“Terus, kamu senang lihatin Mami tirimu itu?”
“Jangan bahas Mami tiriku, aku kurang suka ngeliatnya”
“Oke, Maaf ya Ju”
“Gak apa-apa Do, kita Mabar ML aja yuk”
Mereka melupakan sejenak pembahasan tentang keseksian wanita dewasa, tidak ada bahasan tentang teman kelasnya yang cantik atau kakak kelas, bahasannya selalu wanita yang dewasa.
“Erju, Mami bawain makanan, buat kamu sama Naldo” panggil Maminya di depan pintu kamar.
“Masuk aja Mi” sahut Erju.
Mami Erju masuk, dengan baju putih tanpa lengan sebatas paha, dan tak terlihat memakai dalaman atau tidak, tetapi paha mulusnya terlihat oleh Naldo, kosentrasinya Mabar ML terpecahkan.
“Dimakan ya sayang, Naldo tante taruh disini ya” ucap Maminya dengan suara lembut, yang membuat Naldo tersipu malu.
“Makasih Tante” jawab Naldo dengan senyumannya.
Mami Naldo mungkin berusia 27 tahunan, menikahi Papi Naldo karena Mama Naldo berpisah dan memilih ke luar negeri, dengan mantan pacarnya yang juga kaya raya tetapi bajungan, menurut Erju begitu.
“Ju, sumpah deh, Mami tirimu membuat otakku susah berjalan normal” ucap Naldo.
“Bantu Do, Aku di incer Aldous, lindungi aku” teriak Erju yang asik dengan game MLnya.
“Yah matikan, kamu gak konsentrasi, malah liatin Mami aku, Tanknya gak benar nih”
“Oke maaf, sekali lagi aku tarik pas Aldous datang, tadi ada gangguan perasaan datang ke kamar soalnya” jawab Naldo yang masih Bahas Mami tirinya Erju.
“Serius dodol”
“Oke siap”
Mereka asik bermain dan kembali larut dengan game sampai waktunya Naldo pulang.
Hari sudah semakin sore, Naldo ingin segera pulang, setelah hampir setengah seharian bermain dirumah Erju, “Aku balik dulu ya Ju”
“Oke, besok main kesini lagi aja Do, mumpung masih suasana liburan sekolah”
“Lihat besok deh, aku balik ya” Naldo berpamitan dan turun kelantai bawah.
Terlihat Mami tiri Erju sedang santai di ruang tengah, karena tidak ada orang dibawah, duduk santai sambil melihat ponselnya, kaki kanan di angkat melipat ke kaki kirinya, terlihat jelas paha mulusnya, anak yang baru saja puber, melihat paha mulus sangat bahagia, “Mami, Naldo pamit pulang” ucap Erju, seketika Mami tiri Erju berdiri, “Iya, hati-hati ya Naldo, besok main kesini lagi ya” ucap Mami seksinya Erju.
“Iya tan, pulang dulu ya” Lalu Naldo bergegas mengayuh sepedanya, meninggalkan rumah Erju menuju Rumahnya yang tidak terlalu jauh.
Sesampai di depan pagar rumahnya, Pak satpam sudah membukakan pagar, dan menyapa “Sudah pulang Mas Naldo” terlihat senyuman di wajah pak satpam,
“Iya Pak” jawab Naldo sambil mengoes sepedanya menuju ke parkiran sepeda.
Di depan pintu Bi’ Onah sudah menunggu tuan muda yang di sayanginya itu pulang.
“Mas Naldo sudah makan belum, makan dulu ya sebelum mandi”
“Iya Bi’.” jawab tuan muda singkat, dan segera menuju meja makan,
Mbak Yani sudah mengambilkan nasi, dan membuatkan Es jeruk buat Naldo, senyuman selalu manis melayani Naldo makan, Bi’ Onah, mengambilkan lauk dan sayur untuk Naldo, enaknya jadi tuan Muda, mau makan dilayani dua asisten rumah tangganya.
Usai makan, Naldo naik ke kamarnya, dan segera mandi, memutar keran dan air turun dari shower, sejuk terasa saat mandi, dan seketika wajah Mami Erju terlintas di kepalanya, shampoo yang di gosokkan ke rambut kepala turun ke bawah, bulu belum terlalu lebat diusianya yang masih 14 tahun, senjatanya berdiri, tangannya terus bergoyang, teringat Mami Erju yang luar biasa, dengan dada yang besar dan bodi yang aduhai, teringat paha mulusnya, Naldo pun membayangkan pakaiannya terangkat hingga terlihat semua bagian dalamnya, tangannya semakin cepat dan semakin cepat, badan nya menegang dan akhirnya selesai misi nya dikamar mandi.
Air masih menyala, Naldo masih dibawah shower membasahi dirinya, yang baru saja melakukan kegiatan tangan dan pikiran, yang harus saling menyatu, agar bisa merasakan fantasi liar saat mandi.
Saat itu Naldo baru bisa membayangkan Mami Erju saja, karena dia hanya terbayang, bohay tubuh sang Mami tiri Erju.
Usai mandi, Naldo bersantai di kamar, melanjutkan hobinya ngegame, Mbak Ana menuju kamar Naldo membawa pakaian yang sudah di setrika untuk ditaruh di lemari.
Tok..tok…tok.
“Masuk aja” Naldo bersuara masih sambil asik bermain Game onlinenya.
“Maaf ya Mas, Mba Ana mau nyusun baju di lemari”
“Iya..” jawab Naldo singkat.
Mbal Ana yang membawa beberapa baju Naldo memakai keranjang baju, menyusun dengan rapi pakaian tuan muda.
dengan dasternya yang tanpa lengan terlihat payudara dari samping, mengenakan Bra berwarna putih.
Naldo yang dalam masa puber sangat tertarik dengan pemandangan yang begitu, memperhatikan Mbak Ana yang sedang menyusun baju.
Mbak Ana tak berpikiran apapun, dan tidak merasakan sang tuan muda ingin melihat bentuk dada langsung di depan matanya, ingin rasanya menyuruhnya membuka, tetapi Naldo pasti malu, apalagi jika Mbak Ana menolak dan mengadu ke sang Ayah.
Naldo berpikir bagaimana cara biar bisa ditemanin Mbak Ana atau Mbak yani saat tidur, oh mungkin dengan berpura-pura demam. pikir bocah yang sedikit mesum itu, kebanyakan melihat gambar gadis-gadis seksi di medsos dan media lainnya.
Malam sekitar pukul 08.00 Naldo turun dan duduk disamping kolam renang dihalaman belakang rumahnya, yang atapnya tertutup, meminta Mbak Yani membuat kan Es jeruk untuknya.
“Mbak, bisa berenang gak?” tanya Tuan muda Naldo ke Mba Yani.
“Bisa atuh mas, kalau cuma berenang” jawab Mba Yani yang sok bisa padahal gak bisa.
“Bohong ah, lihat Mbak Yani nyemplung ke kolam aja gak pernah”
“Ini kan kolam pribadi Mas Naldo sama Papi, nanti kalau saya berenang disini di anggap gak sopan” jawab Mbak Yani yang masih sok bisa berenang.
“Boleh, coba sekarang berenang, saya mau lihat”
Mbak Ana pun datang mendekati mereka, dan menemani Tuan muda ngobrol di tepian kolam.
“Mbak Ana bisa berenang?, Mba Yani bilang bisa, disuruh nyoba, gak berani, bohong aja ya?” ucap Naldo yang sebenarnya ingin melihat mereka basah didepannya.
Walaupun Mbak Ana dan Mbak Yani bekerja sebagai asisten rumah tangga, kulit mereka puti dan bersih, cantik dan sedikit menonjol dada mereka berdua.
“Saya Gak Bisa Mas, tapi kalu Yani, saya gak tahu” jawabnya
sambil mengemil makanan yang dibawa Mbak Ana, mereka bertiga terlihat ngobrol.
“Mas Naldo kenapa gak milih jalan-jalan liburan ini?” tanya Mbak Yani.
“Gak ada yang nemenin Mbak, Papi kan sibuk terus, mau liburan sama siapa?” ucapnya dengan nada sedikit sedih, mereka berdua tahu, Naldo sering sendiri, tanpa Ibu dan Papinya yang super sibuk.
Jika masalah kebutuhannya, apa saja selalu terpenuhi, hanya kasih sayangorang tua yang Naldo kurang rasakan, dalam bentuk belaian, hanya perhatian dari ketiga asisten rumah tangganya saja, hanya itu yang Naldo rasakan.
Mbak Yani sedih melihat tuan Mudanya, iya punya kasih sayang, tapi dia hanya sebatas pembantu saja dirumah itu, tak berani membelainya, memeluknya memberikan kasih sayang sebagai ibu.
Suasana Hening sesaat, “Coba Mbak Yani berenang, tadi katanya bisa, gak boleh bohong, ayo sekarang" ucap tuan mudanya sedikit memaksa.
“Ayo Yan, katanya bisa, biar Mas Naldo senang lihatnya” pinta Ana yang ingin tahu apa benar Yani bisa berenang.
Dan Akhirnya cebur, Di kira Yani gak dalam, sebenarnya emang gak dalam, karena panik, Yani seketika kelelep, berdiri aja bisa, paling sebatas mulut.
Bi’ onah sudah tidur pulas, karena dia sebelum subuh sudah start duluan, dan sampai Naldo tidur, itu tugas dua Asistennya ini.
bluuup…aaa bllupp
Melihat Mbak Yani yang gak bisa berenang, Naldo lompat ke air membawanya ke tepian, tersentuhlah dadanya yang masih kenyal, pertama kali Naldo memegang dada wanita dewasa.
wajah Mbak Ana pun ikut panik, melihat Yani, untung Naldo segera membawanya kepinggir.
Terasa hidungnya banyak kemasukan air, Yani akhirnya tenang, “Kirain Gak begitu dalam, ternyata dalam” ucapnya masih dalam kondisi basah.
Naldo hanya tertawa, terlihat bentuk dada yang bulat karena dasternya yang menempel di tubuh.
“Sudah Yan, ganti pakaian, nanti masuk angin” ucap Mbak Ana yang membawa kan handuk untuk Naldo.
Mas Naldo, ayo ganti pakaian biar gak masuk angin.
Naldo terbersit, nah kesempatan, biar ditemani Mbak Ana dikamar.
Naldo mengenakan Handuk dan membuka pakaian basahnya, dan berjalan kekamar hanya dengan handuknya saja.
Mbak Ana membawa pakaian basah Naldo untuk segera dimasukan ke mesin cuci.
“Haciiim” terdengar Naldo bersin, yang emang ada air yang nyangkut dan sengaja dibesarin.
Mbak Ana yang mendengar itu, segera membuat kan jahe hangat untuk tuan mudanya.
Didalam kamarnya Naldo mandi, dan segera memakain pakaian tidur nya.
“Mas”
“Masuk aja Mbak” sahut Naldo
“Ini diminum biar gak masuk angin”
“Makasih Mbak, disini aja dulu Mbak temani ngobrol, saya belum bisa tidur”
dirumah Naldo, kamar asisten rumah tangganya satu-satu, karena rumah yang luas, jadi kamar dibawah ada 5, satu lagi untuk kamar tamu.
“Mas Naldo sering kesepian ya?” tanya Mbak Ana, yang berusia 36 tahun, menganggap Naldo anaknya.
“Iya, coba lihat sendiri, Papi jarang dirumah, Mami sudah dari kecil pergi, kadang Naldo butuh belaian kasih sayang Mbak”
Ana juga merasakan kasihan, walaupun kaya raya, gak punya siapa-siapa untuk membelainya.
“Naldo kepengen apa?, kalau bisa saya bantu, saya lakukan”
“Pengen dibelai kepalanya seperti orang-orang, saat anaknya mau tidur samapai terlelap” ucap Naldo yang sebeanrnya butuh itu sewaktu kecil, tetapi kini dia sudah beranjak remaja, membelainya berbahaya.
Ana berpikir, Naldo masih kecil, dan dia mungkin butuh itu, dan lagi pula umurnya sebaya dengan umur anakku.
“Sebentar ya Mas Naldo, nanti saya Naik lagi.” ucap Mbak Ana yang melihat kondisi Yani dan menutup semua pintu rumah.
Yani sudah tertidur dan Ana pun naik lagi, menutup kamar Naldo dan baring di sampingnya.
Naldo pun rebah disamping Mbak Ana yang mulai membelai kepalanya sambil bercerita, “tidurlah Mas, kalau sudah tidur Mbak Ana ke bawah ya”
Jantung Naldo berdetak, dia ingin menyentuh payudara Mbak Ana, tetapi dia takut, dia ingin Mbak Ana menawarkannya.
Naldo terpejam dan tangannya memegang pinggang Mba Ana, Mbak Anapun masih merasakan dia seoarang anak, apalagi tuan muda emang kesepian jarang belaian kasih sayang.
Reflek Mbak Ana memajukan badannya, dan membelai Naldo persis di depan dadanya.
Naldo memajukan kepalanya, “Gini ya orang kalau punya ibu, nyaman dan hangat ya Mbak” ucap Naldo, mendengar itu Mbak Ana langsung memeluknya dan memebelainya
Naldo menggoyangkan kepalanya, Mbak Ana semakin terasa enak, tapi dia menahan, dia mengira tuan muda hanya rindu seorang ibu.
Makin lama, Naldo mulai menggerakan lagi, Jantung Ana berdesir, ingin melepas Ana takut, membiarkan Ana bisa sangat terangsang, karena sudah lama sekali menjanda, belum dibelai-belai.
Naldo Mulai mencium-cium dada Ana, dan Ana mulai tersengat, “Mas, Naldo suka ya ditempelin ke dada Mbak Ana?” tanyanya dengan suara yang sedikit berat.
“Iya Mbak, Naldo lupa rasanya, sedari kecil ingin dipeluk dan dibelai seperti ini.”
Ana membiarkannya terus, dan Naldo terus meremas dengan wajahnya, tak teras “Aah” terdengar suara Ana sedikit merasa sudah bergelora.
Tangan Naldo memegangnya, dan meremasnya, “Kenyal Banget ya Mbak, lembut banget”
Ana, hanya menjawab, "he-eh" Ana sudah terangsang oleh sentuhan bocah kecil yang ingin dibelai ini.
Dan Naldo memundurkan wajahnya, karena Pedngnya sudah mengeras, Ana yang sudah bersemangat, malah memajukan badan mendekati, dan membuka kancingnya, “Mas Naldo boleh sambil menyusu, tapi bobo ya” ucap Ana yang sudah sedikit basah.
dan Naldo membuka kancingnya dan menurun kan Branya, mulai menyusu dengan Mulutnya, dan semakin lama, Ana sering bersuara, dan Naldo memajukan badanya maju mundur.
Ana merasakan pedang kecil Naldo di bagian depannya, terus Naldo menekan, walaupun masih menggunakan celana, dan tiba-tiba Naldo mundur, karena sudah basah.
Ana mengetahui, dan membelai sedikit, lalu berjalan menuju kamarnya, batinnya gak menentu, ada rasa aneh dan takut, bagaimana jika Papinya Naldo tahu, Bi’ onah dan Yani juga tahu akan hal ini.
Ana Gelisah sudah membuat anak majikannya menghisap putingnya. rasa itu berkecamuk di hatinya.
Naldo bahagia, bisa memeras dada dan menghisapnya, dia ingin merasakan milik Mami tirinya Erju.
Di dalam kamarnya, Mbak Ana begitu gelisah, telah berbuat jauh dengan Naldo anak majikannya, walau hanya mendekapnya dengan pelukan kasih sayang seorang Ibu, tetapi usia Naldo sudah memasuki usia Puber, pelukan dan belaian darinya membuat Naldo bergairah, dan Mbak Ana pun merasakan Hal yang sama.
Apa yang akan terjadi besok, dan apa yang terjadi jika Tuan Anggoro mengetahui, resah dan gelisah dirasakan Mbak Ana, bagaiman jika Bi’ Onah dan Yani tahu.
Sudah beberapa jam dia berguling tak menentu di atas ranjang kamarnya, setelah berpikir lama, Ana memutuskan untuk pulang kampung, jika tidak Mas Naldo pasti menginginkan lagi, karena usia pubernya yang baru kenal hal semacam begitu, aku juga ikut merusaknya, pikir Mbak Ana di dalam hati, padahal semua adalah kesalahan Naldo, Mbak Ana hanya mencoba mengurangi kesepian dalam hidupnya untuk tumbuh menjadi remaja yang kuat.
Mbak Ana mengemas barang-barang dan pakaiannya, siap untuk pulang ke kampung halaman, waktu terasa, dan pagi menyapa.
“Bi' saya pamit pulang, semalam mendapat kabar, dikeluarga ada masalah yang harus di selesaikan segera, nanti saya telpon langsung Tuan Anggoro” ucap Mbak Ana ..
“Mendadak sekali Ana, apa gak bisa tunggu Tuan Anggoro pulang, atau pamitan sama Mas Naldo" pinta Bi' Onah yang juga merasa kasihan mendapatkan kabar dari Ana tentang keluarganya dikampung, walau itu cuma alasan Ana saja.
“Gak usah Bi' saya pamit ke Bi' Onah dan Yani saja” ucap Ana, sembari menjelaskan akan menelpon sendiri Pak Anggoro.
Setelah proses mengharu biru, Mbak Ana pun pergi ke terminal Bis, dan segera pulang ke kampung halamannya.
Di kamar Naldo, terlihat tuan muda masih tertidur pulas, karena memang sekolah lagi libur.
Mbak Yani dan Bi' Onah tinggal berdua didalam rumah, dan pak Satpam hanya sebatas pagar depan.
Jam 10.00 wib, Naldo terbangun dan segera mandi, masih teringat kejadian semalam, dan ingin lagi mengulanginya.
Usai Mandi dan berpakaian, Naldo turun kebawah, menyantap makanan yang tersedia, “Mas Naldo, Ana pulang kampung, katanya ada urusan keluarga yang penting dan mendadak”ucap Bi' Onah sembari menambah lauk dan sayuran ke meja makan.
Naldo terdiam sesaat dan memikirkan, mungkin kejadian semalam, membuat Mbak Ana pergi, dia malu atas yang terjadi dan semua itu pasti salahku.
Naldo terdiam, hatinya merasa menyesal melakukan rencana yang membuat asisten rumah tangga yang baik pulang kampung dan berhenti bekerja, kesedihan terlihat di wajahnya.
Tanpa menjawab atau membahas tentang Ana, Naldo menelpon papinya dan meminta papinya memberikan hadiah, karena Mbak Ana sudah banyak membantu dirumah dan sangat baik padanya.
Naldo pun menelpon Papinya“Halo, Papi lagi sibuk?" ucap Naldo di ponselnya.
“Enggak, ada papa sayang?" jawab Papinya.
“Mbak Ana ada urusan keluarga penting, dia pulang kampung, kata Bi" Onah kemungkinan menetap di kampung, berikan hadiah ya Pi, karena Mbak Ana baik banget sama Naldo dan sudah lama kerja sama kita”pinta anak kesayangan Anggoro itu.
“Iya, setelah ini Papi hubungi Ana dan Papi kasih pesangon yang cukup, terus kamu mau papi cariin pembantu baru nak?" tanya Papinya
“Gak usah Pi, ya sudah Naldo lanjut mainnya ya Pi, terimakasih”Naldo mengakhiri panggilan telponnya, Mbak Yani dan Bi' Onah yang berdiri didekat tuan mudanya, merasakan kasihan dengan Naldo yang kehilangan Mbak Ana yang sangat menyayanginya.
“Bi" Onah, Mbak Yani jangan pergi ya, Naldo gak ada temannya lagi nanti”lalu tuan muda yang masih bersedih itu berjalan menuju kamarnya.
Naldo duduk menatap jendela, dimana dia sering melihat Mbak Ana dari situ, dia menyesal tetapi sudah terjadi, dan kenapa mbak Ana memutuskan untuk langsung pergi.
Bi' Onah tak tahu apapun alasan Ana sebenarnya pergi, biar lah itu jadi rahasianya bersama Tuan muda yang disayanginya.
“Yani, tolong kamu antarkan buah-buahan ke kamar Mas Naldo”pinta Bi' Onah ke Yani.
Yani mengetuk pintu tuan Mudanya, dan dipersilahkan masuk. “Mas Naldo, kalau butuh apa-apa bilang saya ya, jangan sedih, walaupun Mbak Ana pulang, saya dan Bi’ Onah masih tetap disini buat jagaian Mas Naldo”ucap Yani memberikan semangat ke tuan muda.
“Iya Mbak, terimakasih ya”
Yani pun mengusap kepala Tuan mudanya penuh kasih sayang, dan segera meninggalkan kamar tuan mudanya yang sedang bersedih.
Bap..bap..bap suara dering ponsel Naldo terdengar.
Naldo melihat layar ponsel, panggilan dari Erju
“Hallo Ju”
“Do, main kerumah ku gak?”tanya Erju
“Aku lagi males keluar Ju, besok aja ya”jawab Naldo yang hilang semangatnya hari itu.
Sore hari, Naldo berenang sebentar di kolam renang miliknya, Yani melihat Naldo yang masih sedih ditinggal satu asisten rumah tangganya. lalu menghampiri dan bertanya.
“Mau di buatin apa Mas? Roti tawar atau apa?”tanya Yani kepada Naldo.
“Es Jeruk sama cemilan.”
Yani segera membuatkan dan mengantarkan pesanan Naldo disamping kursi duduk setelah Naldo selesai berenang.
Naldo berpikiran, kenapa ya Mbak Ana, apa merasa malu, atau apa, pikiran anak ini tak sampai memikirkan hal yang jauh, hanya berpikiran sebatas usianya saja.
Duduk di kursi santai dekat kolam sambil menyantap cemilan yang tersedia dimeja.
“Mas Naldo, ada paket dari Papi nya”Bi' Onah mengantarkan paket kiriman dari Papinya.
Naldo mengambilnya dan tak sabar membuka hadiah yang dikirimkan Papi untuk dirinya, "Wow, thanks Pap”Naldo terlihat bahagia melihat hadiah yang diberikan papinya.
Beberapa miniatur yang memang Naldo hobi mengoleksi miniatur tokoh-tokoh game.
Yang dikirimkan Papinya tadi, miniature Franco, Tigreal, dan Jhonson. dari tokoh game mobile legend, yang memang Naldo terkenal sangat pro memakai hero Tank.
Wajah yang tadi bersedih, seketika berubah menjadi senang, dan berbegas menuju kamar.
Mengirimkan pesan gambar ke Papinya, "Terima kasih Papi, hadiahnya sudah sampai”
Dua hari berlalu, tanpa ulah kenakalan pubernya, dan hari ini kesedihannya telah sedikit berkurang, namanya juga bocah.
Duduk di kursi tepat didepan jendelanya. Mbak Yani sedang menyiram bunga, dengan baju tanpa lengan, baju yang sedikit tipis berwarna hitam, Rok mini di atas paha.
Mbak Yani memang sering tampil sedikit seksi, karena terbiasa memakai pakaian begitu, yang dirasa lebih simple dan sejuk baginya.
Baju tanpa lengan yang tidak terlalu ketat, jika membungkuk maka terlihat lah payudaranya.
Naldo semangat memperhatikan dari atas, beberapa kali Yani bergerak seperti membungkuk, dan terlihat dua gunung kembar nya oleh Naldo dari atas.
Lebih besar dari miliknya Mbak Ana ya, pikir di otak mesumnya, usai menyiram bunga, Yani menyapu daun-daun disekitanya dan sesekali duduk dan membungkuk, Naldo sangat menyukai pemandangan itu.
Dari atas, kaca yang tak terlihat dari luar, membuat Yani tak sadar diperhatikan, Banyak momen pemandangan indah buat Naldo dari atas.
Naldo turun, dan melihat Mbak Yani masih sibuk membereskan taman belakang, Naldo yang melihat dari samping kolam renang, memanggilnya.
“Mbak sini, belajar berenang sekarang, biar bisa”ucap tuan mudanya.
“Nanti kelelep lagi Mas”jawabnya.
“Saya bantuin kalau kelelep”ucap Naldo meyakinkan, Mbak Yani pun menuruti.
“Jangan terjun seperti kemaren, pelan-pelan dari tangga.”ujarnya mengintruksi kan dari kursi duduknya. Naldo hanya ingin menonton.
Yani turun dari tangga, dan berdiri, ternyata kolamnya tidak telalu dalam dibawah lehernya.
“Gak dalam ya Mas, kemaren kok saya kelelep ya?”tanyanya sambil tersenyum malu.
“Kemaren itu panik, coba tangan nya taruh di pinggir atas kolam, terus kakinya digerakan pelan-pelan.”
Yani melakukan arahan tuan mudanya, terlihat lah payudaranya, karena menghadap ke Naldo.
“Terus pelan pelan, kalau sudah coba berjalan ketengah, terus berenang menuju tepian kolam”
Yani melakukannya dan terkadang kelelep dan Naldo tertawa melihatnya, Bi' Onah yang melihat Naldo tertawa, hatinya merasa senang dan kembali kedalam, melanjutkan kerjaannya.
“Tenang, jangan panik, berdiri aja kan gak begitu dalam, ulangi berkali-kali”intruksi dari Naldo.
Kali ini Naldo tidak senekat waktu bersama Mbak Ana, dia hanya ingin melihat saja, belum mau menjamah, takut, Mbak Yani juga pulang.
Berulang-ulang kali, Yani lakukan sesuai arahan Naldo dan akhirnya berhasil, lalu bolak balik dengan gaya bebas yang penting sampai kepinggiran kolam, Yani sudah terlihat lelah, dan naik kepermukaan kolam, terlihat baju yang menempel di dadanya, begitu besar dan roknya telihat lengket ke pantatnya memperlihatkan kemolekan tubuhnya., Naldo yang menyaksikan itu, gerakan didalam celananya terlihat sedikit demi sedikit pedang Naldo ereksi.
“Sudah ya Mas, saya capek, saya masuk dulu ya, ganti pakaian”ucap Yani ke tuan mudanya itu.
“Iya Mbak” jawab Naldo sambil terus menyaksikan tubuh basah sang pembantu rumah tangganya itu lewat didepan matanya.
Di pagi yang terlihat sedikit mendung, Naldo dengan sepedanya menuju rumah Erju, seperti biasa pemandangan segar selalu terlihat, wanita muda yang berstatus Mami tiri Erju itu pasti selalu tanpil seksi dan menggoda, “Hai tante, Erju ada?”
“Naik aja Do, ada diatas” ucap Mami seksinya Erju itu mempersilahkan Naldo naik ke atas.
Di dalam kamar, Erju mengajakku lagi ketempat rahasianya menoropong, mengamati sekitar, mana tahu ada pemandangan yang menyegarkan.
Naldo sebenarnya hanya ingin melihat Mami Erju, dari pada meneropong jauh mencari Tante Miya berada.
“Gak ada yang terlihat Do, kita mabar aja yuk,”
Jika hanya mabarkan bisa dari rumah, sama-sama bisa mendengarkan suara, baiknya lihat Mami mu aja Ju, pikir otak Naldo.
‘Duar, dduaar’, kaget terdengar suara geluduk, sepertinya hari mau hujan, Naldo pun buru-buru ijin, biar gak kehujanan, handphone di taruh di tas kecil Naldo yang anti air. bergegas mengayuh sepedanya.
Belum sampai satu menit keluar dari pagar rumah Erju, hujan deras langsung jatuh ke bumi, Naldo pun tak singgah berteduh masih ia tetap menggayuh sepedanya menuju rumah. Derasnya hujan mengguyur badannya, basah kuyup. Lokasi perumahan elite, jalannya luas, rumah mewah satu persatu dilewatinya berjarak cukup jauh tak berdempetan, di batasi taman-taman dan kursi. dikit lagi sampai rumah.
“Pak” teriak Naldo, satpam yang berteduh dibawah posnya segera berlari membuka pagar dengan payung di tangannya.
“Hujan-hujanan Mas Naldo?” tanya pak satpam.
“Iya pak, dijalan pulang langsung deras, malas berteduh” jawab Naldo.
Mbak Yani yang khawatir dan Bi’ Onah yang mondar mandir didepan ruang tamu menunggu tuan mudanya, padahal sudah di hubungi ponselnya, tapi Naldo tak mengangkatnya karena handphone didalam tas miliknya.
“Mas Naldo, kenapa hujan-hujanan dijalan, deras banget lagi” seru Bi’ Onah yang terlihat sangat khawatir di wajahnya.
“Gak apa-apa Bi’ malah segar banget”
Mbak Yani memberikan handuk, Naldo berjalan dengan tubuh yang basah menuju ke kamar mandi di bawah, setelah melepaskan pakaian dengan handuk melangkah ke kamarnya.
Di kamar, Naldo Mandi, dan berganti pakaian, Bi’ Onah membawakan jahe hangat buat diminum Naldo.
“Hujannya deras banget Mas, kenapa gak di rumah mas Erju dulu, baru setelah reda pulang.” ucap Bi’ Onah lagi.
“Di jalan tadi, tiba-tiba aja hujannya turun langsung deras, jadi ya sudah sekalian aja”
Bi’ Onah yang tahu, kondisi fisik Naldo mengkhawatirkannya, tetapi Naldo merasa biasa saja.
Bi’ Onah pun turun ke bawah melanjutkan kegiatannya, dan Yani waktunya istirahat, biasanya Bi’ Onah tidur setelah sholat isya. dan Yani melanjutkan sampai jam 10 baru tidur, hari sudah maghrib, Naldo belum turun, Bi’ Onah menitip pesan ke Yani “Yani, nanti kalau Mas Naldo belum turun, kamu antarin makanan ke atas ya, semoga Mas Naldo gak masuk angin, biasanya jika terkena hujan dadakan Naldo sering demam” ucap Bi’ Onah yang hafal dengan Naldo sedari kecil.
“Iya Bi’,”
“Kalau kamu capek banguni aja Bi’ Onah buat jagain mas Naldo diatas ya” ucap Bi’ Onah lagi.
Jam 8 malam, Naldo belum juga turun dari kamarnya, Yani membawakan makanan sesuai pesan Bi’ Onah, didalam kamar setelah di ijinkan masuk, terlihat Naldo kedingan, meriang.
Yani segera memberikan obat dan membantunya makan, “Perlu dipanggilin dokter Mas?” tanya Yani.
“Gak usah Mbak, sudah sering kalau hujan meriang, nanti juga baikan” jawab Naldo dengan suara bergetar.
“Mbak Yani temanin dikamar ini gak apa-apa Mas?”
“Iya mbak” masih dengan suara bergetar, kebetulan sebelum naik keatas, Yani sudah mengkondisikan semua nya dibawah.
“Mbak di-ngiin” ucap Naldo.
Mbak Yani gak tahu harus apa, hanya menambahkan selimut “Ac nya di matiin mas?” tanya Yani.
“Gak usah, Mbak Yani pelukin Naldo dingin” ucap tuan muda yang ingin dipeluk.
Yani tak berpikir panjang, dia naik ke ranjang, dan memeluk tuan mudanya, dari belakang, terasa kenyal sentuhan dada Yani dipunggung Naldo, terasa hangat.
Yani menarik selimut dan memeluk Naldo dari belakang, Naldo tak berani menghadap kedepan, dia takut Kejadian seperti Mbak Ana.
Sambil memeluk tuan Muda, “Yani berkata, dulu, waktu mas Naldo berusia 10 tahun, Mas Naldo juga kedinginan setelah berenang dan kehujanan, Mbak Yani juga peluk seperti ini” ucapnya, Naldo lupa masa itu.
Naldo yang masih meriang, tetap otaknya bekerja memikirkan hal mesum, anunya ereksi, tetapi tetap diam.
“Sudah terasa hangat Mas?” tanya Mbak Yani.
“Iya hangat mbak, peluk terus ya, sampai Naldo tertidur” pinta tuan muda.
“Iya Mas, tidur lah” jawab Yani yang menyayangi tuan mudanya sedari dulu.
Sentuhan dari dada Yani membuat Naldo sulit memejamkan mata, hanya diam merasakan kehangat menjalar hingga ereksinya semakin kencang.
Yani pun meraskan perbedaan, saat usianya 10 tahun dengan sekarang, dengan badan yang semakin besar, dan tubuh yang menghangatkan diri dan hatinya.
Yani menyukai saat memeluk anak majikannya itu, dengan dekapan yang hangat, tak melepaskannya. sejam waktu berlalu, dan Naldo tertidur pulas.
Yani bergerak turun perlahan dan keluar dari kamar Tuan mudanya.
Pagi harinya, Bi’ Onah naik memeriksa Naldo, dan melihat kondisi tuan mudanya sudah baikan seperti semula, ke khawatirannya berkurang, dan kembali turun perlahan ke bawah.
Yani yang sedang menyetrika pakaian, bertanya “Gimana Naldo Bi’?
“Sudah baikan, semalam kamu kasih obat apa?” tanya Bi’ Onah.
“Disuapin makan dan minum jamu madu hangat aja” jawab Yani.
“Masih mau Naldo disuapin, biasanya gak mau, sudah gede katanya” ungkap Bi’ Onah sambil tertawa kecil.
Naldo sudah terbangun, dan turun menuju meja makannya, menyantap makanan yang ada dan kembali ke kamar.
Melanjutkan permainan gamenya, Mbak Yani naik ingin menyusun pakaian dilemari, runitisan harian asisten rumah tangga.
“Gimana kondisi Mas Naldo, sudah enakan?” tanya Yani
“Sudah Mbak” jawab Naldo sambil terus melihat layar ponselnya, yang sebenarnya malu melihat Yani yang memeluknya dari belakang tadi malam.
Yani yang Janda lama, sejak usia 22 tahun sudah menjadi janda, mengatakan ke tuan muda, “Kalau mas Naldo kedinginan atau kesepian sebelum tidur, mau ditemanin Mbak Yani, ngomong aja ya, Mbak Yani temanin” ucapnya dengan senyuman.
Yani sedikit genit di banding Ana, mungkin jika Yani yang memeluknya dari depan, mungkin tak minta pulang kampung seperti Ana.
Yani melangkahkan kaki ingin keluar dari kamar Naldo, sebelum sampai di pintu kamar Naldo memanggil, “Mbak kesini dulu deh”
Yani menghampiri tuan mudanya.
“Semalam, setelah tertidur, Naldo mimpi dipeluk Mami, Naldo pengen dipeluk lagi Nanti malam, Naldo kangen pelukan itu” ucapnya yang benar ingin, di tambah modus.
“Iya, nanti setelah Bi’ Onah tidur, Mbak naik ke sini ya” ucap Yani dengan senyuman.
Malam yang ditunggu Naldo tiba, Yani pun memakai daster yang sedikit longgar dan tipis berwarna putih, dan di semprot dengan sedikit parfum, biar gak bau saat dekat dengan tuan muda.
Yani masih berpikir, bahwa tuan muda, memang kesepian dan butuh sentuhan kasih sayang, yang berbeda dengan Naldo yang mau memuaskan hasrat pubernya.