Huh!
Kayara menarik nafas dalam saat melihat tulisan 'Mas Stev' di layar ponselnya.
'Jangan lemah Kayara, kamu sudah lelah bukan? Abaikan saja dia, tak perlu melayaninya seperti yang lalu-lalu.' Dengan sedikit kasar ia kembali meletakkan ponselnya, dan mengaktifkan mode senyap.
Biasanya Kayara selalu sigap saat di telpon oleh Stev. Tak lain, pasti lelaki itu ingin menyuruhnya sesuatu makanya menelpon, jika tidak mana mungkin Stev menelponnya.
Tok! Tok! Tok!
Pikiran Kayara buyar saat mendengar pintu ruangannya di ketuk. Dengan cepat ia menghapus jejak air mata di pipinya.
"Masuk," ucapnya mempersilhkan.
"Omaigat Ra, gila sih kita dapet orderan kue banyak banget." Heboh seorang wanita bercepol. Dia Linlin teman serta kaki tangannya dalam urusan toko.
"Oh ya? Bagus dong Lin, itu yang kita cari, terus masalahnya apa?" tanya Kayara dengan tatapan heran menatap temannya yang telah duduk di bangku kosong hadapannya.
"Masalahnya dia order buat hari ini, jam dua. Aku gak yakin kita sanggup."
Kayara melihat jam di di ding yang menujukkan pukul delapan pagi. "Bahan gimana? Lengakap gak?" tanya Kayara.
"Bahan sih ada Ra, tapi apa kita bisa buat sebanyak itu dalam waktu singkat?" tanya Linlin memastikan, di bayangkan saja rasanya sangat tidak mungkin.
Sekali lagi Kayara melihat ke arah jam. "Bisa! Kita mulai sekarang, untuk hari ini kita tutup toko, kita semua fokus kerjakan pesanan, aku juga akan membantu, kita pasti bisa. Ayo!" ajak Kayara bangkit dari kursinya dann berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangannya.
Linlin meringis melihat jam yang tergantung, memang sih toko kue mereka sudah memiliki beberapa karyawan, tapi kan yang bertugas di dapur hanya dua orang saja. Rasanya sangat tidak mungkin menyiapkan pesanan dalam jumlah sangat banyak dengan waktu yang singkat. Namun apa boleh buat, dia hanya bisa mengikuti Kayara saja.
"Rini tutup toko, hari ini kita tutup dulu, ada pesanan masuk," perintah Kayara pada salah satu karyawannya.
"Siap Mbak."
Kini Kayara sudah berada di dapur toko, dia tak sendiri, ia di temani Linlin dan dua karyawannya yang memang bertugas mengolah kue. Biasanya, Kayara memilih untuk tidak ikut campur dalam proses mengolah kue di dapur, mempercayakan sepenuhnya segala urusan olah-mengolah pada dua koki handal yang telah lama bekerja dengannya. Tips dan resep telah menjadi pengetahuan umum bagi mereka, tanda dari kepercayaan mutlak yang diberikan Kayara kepada kedua karyawannya itu. Kini, mereka bagaikan empat sahabat yang bersinergi menciptakan kue-kue yang di pesan oleh sebuah perusahaan besar.
"Kau yakin Ra? Kita bisa selesai tepat waktu?" tanya Lilin berbisik, memastikan jika semuanya akan berjalan sesuai rencana atau tidak.
"Kita akan tepat waktu Lin, kalau kamu berhenti mengoceh dan fokus membuat kue." Sahut Kayara.
Linlin mengerucutkan bibirnya sebal, meski demkian dia dan yang lain tak pernah mengambil hati perkataan seperti itu. Hal seperti itu bagi mereka semua adalah hal biasa. Kayara memang tidak pernah membedakan dirinya dengan karyawan-karyawannya. Jadi mereka semua seperti sekawan saja.
***
Niko memicingkan matanya saat mendapati sang majikan datang dengan pakaian sedikit lusuh tidak seperti biasanya yang selalu rapi.
"Selamat datang Tuan," sapa Niko seperti biasa. Dan seperti biasa pula hanya anggukan kecil yang ia dapat sebagai balasannya.
"Apa sudah ada orang yang saya minta? Harus ada hari ini, saya tidak mau tau!" ucap Stev tak menerima alasan apapun . Hal seperti itu sudah biasa bagi Niko yang merupakan asisten pribadinya. Yang mau tidak mau harus di turutinya, jika tidak ingin kehilangan pekerjaan.
"Saya usahakan hari ini Tuan."
"Hm."
Saat jam makan siang tiba, Steven melirik jam tangannya, sesekali melirik ke arah pintu, seakan sedang menunggu seseorang.
'Ck! apa dia tidak mengantarkan makan siang?' batinnya bertanya-tanya. Dan ternyata benar saja, lelaki tampan itu tengah menunggu seseorang.
Steven mulai jengah menunggu. Dengan gerakan kasar, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Saat panggilan pertamanya tidak dijawab oleh orang di seberang sana, rasa kesalnya semakin bertambah.
Dengan sisa kesabarannya, ia kembali menelpon untuk yang kedua kali, namun masih sama, panggilannya tak di jawab.
Ck!
Dan akhirnya dia sudah tidak bisa bersabar. Dengan gerakkan kasar ia bangkit dan langsung pergi dari ruangannya.
"Tuan mau ke mana? Apa perlu saya temani?" tanya Niko saat melihat sang majikan keluar dari ruangan dengan terburu-buru.
"Tidak, saya pergi sendiri!" jawab Steven tanpa menoleh, "dan kamu, tunda pertemuan saya." Sambungnya berbicara pada wanita yang memakai rok pendek, dia adalah Lani, seketarisnya.
"Baik Pak." Jawab Lani.
Steven mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang, entah mengapa tidak mendapat makan siang dari Kayara mmmbuatnya hampa. Padahal dulu jika Kayara datang dan membawakannya makan siang, dia tidak memperdulikannya, bersikap acuh tak acuh pada Kayara yang selalu datang mengantar makan siang. Tapi hari ini, tiba-tiba saja Kayara berhenti mengiriminya makan siang, dan hal itu mengusik hatinya, dia sangat kehilangan hal itu.
Dulu Kayara memang sangat rajin mengantar makan siang untuk sang suami. Semua itu ia lakukan demi keutuhan rumah tangganya yang serasa hambar, dengan harapan Steven akan menganggap dirinya dan melupakan sang Kakak, Kalisa yang sampai saat ini mereka tak tau di mana rimbanya.
Mobil mewah Steven parkir di hadapan toko kue milik Kayara. Saat keluar dari mobil, keningnya mengkerut melihat tulisan 'tutup.'
Namun hal yang membuatnya bingung adalah mobil Kayara yang terparkir yang artinya ada Kayara di toko. Tapi kenapa tokonya tutup?
Langkah tegap nan panjangnya berjalan mendekati toko, dan langsung mendorong pintu kaca yang bertempelkan tulisan 'tutup'.
"Maaf tapi kami se-" perkataan Rini terhenti saat melihat yang masuk adalah Steven suami dari sang majikan.
"Di mana Kayara?" tanyanya datar.
"Mbak Kayara di dapur Pak,"sahut Rini hati-hati, takut pada sosok lelaki tinggi tegap yang berdiri di hadapannya saat ini.
Tanpa menjawab Stev langsung melangkah menuju dapur toko, mencari keberadaan Kayara. Dan saat tiba di dapur, di lihatnya keadaan dapur yang cukup terlihat berantakkan, hingga matanya menangkap sosok yang di cari-cari.
Di sana Kayara tengah sibuk menguleni adonan, tanpa sadar ada sosok yang menatapnya.
Linlin tanpa sengaja menatap ke arah Steven yang berdiri dengan tangan berlipat di depan dada dan pandangan lurus menatap Kayara.
Linlin beralih menatap ke arah Kayara yang ternyata masih belum menyadari keberadaan sang suami.
"Huuust! Ra," panggil Linlin berbisik.
"Apa Lin?" sahut Kayara tanpa melihat ke arah Linlin, tangan dan matanya terpusat pada adonan kue di hadapannya.
"Huuust! Ra," panggil Linlin lagi.
"Kena-" pertanyaan Kayara terhenti saat ia mendongak hendak menatap Linlin, matanya malah terpaku melihat Steven yang juga menatapnya.
Kayara memutar bola matanya malas. "Lin, kamu tolong lanjutin ini, aku samperin dia dulu," pintanya pada Linlin.
"Sip sip aman Ra, lagian tinggal dikit juga 'kan?"
"Iya."
Kayara beranjak setelah melepas penutup kepala dan apron.
"Bicara di atas,"ajak Kayara pada Stev. Stev mengikuti langkah Kayara. Hingga tiba di atas, tepatnya di ruangannya.
"Ada apa Mas?" tanyanya santai.
"Apa gunanya ponselmu hm? Kenapa tidak mengangkat panggilanku?" tanyanya dengan nada menyentak.
Kayara tak gentar, ia malah tersenyum, bukan senyum manis swperti biasa, tapi senyum remeh.
"Sibuk, tidak ada waktu bermain ponsel," sahutnya.
Tatapan Stev tajam menatap Kayara.
"Kenapa tidak ada makan siang saya? Kenapa kamu berhenti mengantarkan makan siang hah?"
Dengan tenang, Kayara mengunci kedua tangannya di depan dadanya, pandangan matanya tajam menembus kehampaan, seolah-olah ketakutan itu hanyalah sebuah mitos bagi dirinya."Kenapa Mas? Bukannya selama ini kamu tidak suka jika aku mengantarkan makanan, bahkan jarang sekali juga kamu memakan masakan aku," ucapnya santai, tak takut sedikitpun dengan sosok lelaki yang berstatus suaminya itu.
Lagi dan lagi Stev tertegun akan perubahan drastis yang di lakukan Kayara terhadapnya. Jika biasanya Kayara tak pernah membantah selalu menurutinya, maka kali ini tidak.
Kayara memperhatikan Steven dari atas sampai bawah, rasa kasihan pun menghantuinya saat melihat kemeja yang di pakai Stev sedikit lusuh. Bagaimana tak lusuh? Ia tidak menyetrika pakaian lelaki itu seperti biasanya.
Namun semua rasa itu ia tepis, di banding dengan rasa sakit tak di anggap dan tak di pedulikan selama dua tahun ini, rasanya masih sangat tak sebanding.
Anggap saja Kayara jahat, siapun boleh beranggapan demikian, namun bagi Kayara, Steven lah yang lebih jahat padanya. Bayangkan saja, dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu ia berjuang sendiri, selama itu ia menahan sakit hati. Kayara tidak akan peduli jika ada yang mengatainya istri durhaka atau semacamnya.
Steven menatap lekat Kayara yang berdiri dengan arogantnya, ia seakan kehilangan sosok Kayara yang selalu lembut dan taat padanya. Saat ini berdiri di depannya bukan lagi Kayara yang selalu tersenyum manis padanya tapi sosok Kayara yang dingin, bahkan senyum pun sudah tak lagi menghiasi wajah cantik itu.
"Ada apa denganmu Kayara?" tanya Stev penuh penekanan, kedua alisnya terangkat menatap penuh tanya wanita di hadapannya itu.
Kayara tertawa hambar. "Aku kenapa? Kamu yang kenapa Mas? Kenapa sekarang tiba-tiba mencari makanan yang tak pernah kamu hergai sebelumnya, bukannya kamu tak pernah peduli, kamu pikir aku tidak lelah melakukan hal yang tidak pernah di hargai? Aku lelah mas, di luar sana masih banyak yang membutuhkan makanan, maka dari sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan masakan aku lagi, dari pada aku memberimu berakhir terbuang maka lebih baik tidak usah." Ucap Kayara panjang lebar.
Steven terpaku untuk saat mendengar ucapan kyara yang begitu menusuk. Ingatannya pun kembali Memutar waktu di mana hari-hari kyara selalu datang ke kantornya membawakan sebuah bekal makan siang untuk dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk sebanyak tiga kali setelahnya muncullah seorang wanita cantik berbadan mungil dengan sebuah tas bekal berwarna biru di tangannya. Dia kyara, wanita itu sudah biasa mengantarkan makanan untuk sang suami di jam makan siang dengan tujuan dan maksud agar suami bisa menerimanya dan menghargainya paling tidak menganggapnya ada.
Steven melirik sebentar ke arah pintu yang terbuka, lalu kembali fokus menatap layar laptopnya seakan tak peduli akan kedatangan Kayara.
"Mas ini aku bawakan makanan kamu belum makan siang kan? Ayo kita makan sama-sama," ucap Kayara lembut tak lupa menampilkan senyuman manisnya.
Steven melirik tak minat ke arah bekal yang di keluarkan oleh Kayara dari tasnya.
"Saya sudah makan, bawa kembali makanan kamu, saya tak membutuhkannya." Jawab Steven.
Mendengar itu Kayara menundukkan kepalanya, sembari menghela nafas berat, padahal dia sudah rela meninggalkan toko demi sang suami, dengan harapan hubungan mereka akan membaik.
Tak ingin memprotes akhirnya Kayara pun kembali menyimpan bekal tersebut.
"Ya sudah Mas kalau begitu aku pulang, makanan ini aku tinggal di sini, barangkali kamu lapar kamu bisa memakannya, aku pamit Mas." Kayara pun beranjak pergi dengan tangan kosong, bekal yang tadinya ia bawa ia letakkan di atas meja.
Krrk~
Steven memegangi perutnya yang berbunyi, sebenarnya lelaki itu belum makan siang dia sengaja belum makan siang karena menunggu bekal yang akan dibawakan oleh Kayara, dia sudah hafal Kayara pasti datang dan membawakannya makan siang, padahal tadi Niko sudah menawarkannya makan siang bersama, namun ia tolak.
Setelah memastikan Kayara sudah pergi, dengan cepat Steven bangkit dari duduknya menghampiri bekal yang tergeletak di atas meja, lalu membuka dan memakannya dengan lahap.
Lamunan Steven buayar saat cacing di dalam perutnya berdemo minta di isi, ia langsung membuang tatapannya ke lain arah lantaran malu, sudah pasti suara perutnya itu terdengar oleh Kayara.
Kayara menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya, setelahnya ia keluar dari ruangannya meninggalkan Steven sendiri di sana, namun tak lama ia kembali dengan nampan di tangannya. Ia membawakan secangkir kopi dan beberpa aneka kue. "Aku cuma punya ini, kalau kamu mau makan saja," ucapnya pada Steven lalu meletakkannya si atas meja.
Tanpa menjawab Steven langsung duduk di sofa dan memakan kur yang di suguhkan oleh Kayara. Melihat itu hati kecil Kayara tercubit, sekarang ia seakan menjadi istri yang durhaka, tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri pun sudah lelah. Tak mau terlalu larut dalam perasaan, Kayara memilih pergi, "Aku lanjut kerja," pamitnya sebelum keluar dari ruangannya sendiri.
Tepat jam dua kurang lima menit, pekerjaan mereka selasai, keempat orang yang berada di dapur itu menghela nafas lega telah menyelesaikan pesanan tepat waktu.
"Setelah ini langsung di antar ke tempat tujuan ya," ucap Kayara sebelum beranjak pergi dari dapur.
Kayara kembali ke ruanganya, dan saat ia masuk ia di kejutkan akan keberadaan sang suami yang ternyata masih di sana. Ia pikir Steven sudah pergi sedari tadi, ternyata tidak. Di lihatnya lelaki yang tertidur di sofa, kue serta kopi yang ia suguhkan tadi habis tak bersisa, perasaan bersalah dan sedih lagi-lagi menghantui Kayara.
Perlahan ia mendekat, menatap lekat wajah tampan yang kini tengah tertidur.
'Aku gak tahu apa yang aku lakukan saat ini salah atau benar, yang aku tahu aku lelah Mas, lelah dengan sikap kamu, lelah tak pernah kau anggap. Dua tahun ini rasanya sungguh melalahkan bagiku, sekarang aku benar-benar lelah untuk berjuang.' Batinnya.
Bersamaan dengan Kayara beranjak mata Steven terbuka, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah punggung kecil Kayara yang berjalan menjauh.
"Kayara,"panggilnya serak dengan suara yang khas bangun tidur.
Langkah Kayara berhenti, namun wanita itu tak menoleh.
Steven bangkit dari posisi baringnya, dan duduk, matanya menatap lurus ke arah punggung Kayara.
"Tidak bisakah kau bersikap seperti biasa? Saya rasa kamu bukanlah Kayara yang dulu." Ucapnya.
Kayara berbalik, tatapannya bertemu dengan tatapan elang Steven. Lalu ia terkekeh pelan. "Bersikap seperti biasa? Ck! seperti biasa apa yang kamu maksud Mas, biasa bodoh? Memohon dan berusaha memperbaiki seorang diri? Berusaha dan berjuang sendiri? Seperti itu?" Kayara tertawa hambar, " aku sudah bilang 'kan? Aku lelah Mas," sambungnya lirih.