"Aku lelah Mas, kita akhiri saja semua di sini," lirih wanita cantik berbadan mungil, yang terduduk lemah di sofa, matanya sudah basah oleh air mata.
Dia Kayara, Kayara Adeluwis. Wanita cantik berperawakan kecil, dia merupakan anak kedua dari pasangan Andreas Adeluwis dan Kamila Adeluwis. Dia memiliki seorang kakak perempuan bernama Kalisa Adeluwis, namun Kalisa tiba-tiba memghilang dan sampai saat ini tak kunjung kembali dan di temukan.
"Berpisah? Ck! Beranganlah setinggi mungkin, saya tidak akan menceraikan kamu sebelum Kalisa kembali." Sahutan dari lelaki berkemeja putih itu semakin membuat air mata Kayara berjatuhan. Lelaki itu adalah suaminya.
Steven Alexander. Lelaki tampan dan kaya yang merupakan seorang pengusaha muda. Anak tunggal dari pasangan Dirga Alexander dan Marisa Alexander.
"Mau sampai kapan kamu terus mengurungku di rumah mewah ini, bebaskan aku. Kakakku tidak akan kembali, bahkan sampai detik ini tidak ada kabar darinya." Muak. Itu yang di rasakan Kayara saat ini. Ia sangat muak akan kisah pernikahannya yang sama seperti neraka baginya.
Selama pernikahan ini, dia tidak pernah di anggap oleh Steven, sang suami. Yang ada di otak dan hati Stev, hanyalah Kaliasa, kakaknya yang memghilang sampai saat ini tak di temukan.
Saat ini yang hanya bisa Kayara lakukan adalah menyesali keputusannya. Dan berharap waktu bisa ia putar kembali, namun nyatanya waktu tak dapat di putar balik. Ingatannya pun kembali melayang pada kejadian dua tahun lalu.
Kala itu, perjodohan terjadi di antara dua keluarga bernama besar yaitu, Alexander dan Adeluwis. Awalnya semuanya berjalan lancar, pihak yang di jodohkan pun menerima, kala itu yang di jodohkan adalah anak tunggal dari pasangan Alexander yaitu Steven Alexander, dan anak pertama pasangan Adeluwis yaitu, Kalisa Adeluwis. Pada pertemuan pertama mereka sama-sama setuju tidak ada penolakan, karena pada dasarnya Stev dan Kalisa memang sudah saling mengenal, bahkan mereka berteman saat duduk di bangku kuliah dulu. Namun satu hari menjelang pernikahan, tiba-tiba saja Kalisa menghilang tanpa jejak, keluarga yang kala itu tak ingin menanggung malu pun tetap melangsungkan pernikahan, dan Kayara di paksa menggantikan sang Kakak.
Ingatan Kayara akan masa lalu buyar, mendengar suara langkah tegas Stev.
Rahang Stev mengeras mendengar ucapan dari Kayara yang membuatnya berapi-api. Ia mendekati Kayara, lalu mencengkram kuat rahang kecil wanita yang berstatus istrinya itu.
"Apa yang baru kau katakan hah! Berani-berani nya kau berkata seperti itu!" bentak Stev marah masih dengan tangan bertengger di rahang sang istri.
Bukan cuma hatinya kali ini yang sakit, tapi raganya. Dengan kekuatan penuh dan berlinang air mata, Kayara melepaskan tangan kekar Stev dari rahangnya. Dan akhirnya berhasil meski susah payah.
Huh!
Nafas Kayara memburu, dadanya naik turun memandang tajam Stev di hadapannya saat ini.
"Gila kamu Mas, bukan cuma hati aku aja yang kamu sakitin, tega!" berang Kayara berteriak.
Sedangkan Steven seakan tersadar dari iblis yang merasuknya, ia menyesali perbuatannya barusan, ia akui dia sangat kasar dan keterlaluan. Tidak seharusnya dan sepantasnya ia berlaku seperti itu. Di lihatnya Kayara yang memandangnya dengan tatapan terluka.
"Ka-kayara saya-"
Langkah Stev terhenti saat ia maju mendekat, Kayara malah mundur.
"Aku benci kamu Mas!" setelah berucap demkiam Kayara berlari menuju kamarnya. Ya, hanya kamarnya, karena selama ini mereka tidur terpisah, tidak ada istilah kamar bersama selama dua tahun ini.
***
Hari berganti, Kayara seperti biasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan, setelahnya ia bersiap pergi ke toko kuenya. Pagi ini tidak ada kopi hitam yang tersedia di meja makan, jika biasanya dia selalu menyuguhkan kopi untuk sarapan sang suami, maka kali ini tidak.
Kini wanita berbadan mungil itu, tengah duduk menikmati nasi goreng serta segelas susu hangatnya, dia sudah terlihat sangat cantik dan fress dengan dress selutut yang membalut tubuhnya.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki terdengar mendekat, suara langkah kaki siapa lagi jika bukan langkah Steven Alexander, penghuni lain rumah mewah itu.
Steven melirik ke arah Kayara yang sibuk sarapan,bahkan kehadirannya tak mengusik wanita itu. Padahal biasanya Kayara selalu memperhatikannya, selalu menyuruhnya sarapan, tapi pagi ini tidak.
"Ekhem!" deheman Steven seakan-akan tak terdengar di telinga Kayara, semakin membuat Stev menaikan alisnya bingung.
Hingga matanya menatap meja, mencari keberadaan secangkir kopi yang biasanya setiap pagi selalu ada.
"Kayara, di mana kopi saya?" tanya Stev dengan tatapan bertanya-tanya.
Kayara bangkit, meninggalkan sisa sarapannya. Matanya yang semula lembut kini memandang Stev dengan tatapan datar, dingin, seakan tak ada kehangatan yang pernah ada. "Bikin sendiri saja, atau tunggu Kak Kalisa kembali, lalu minta buatkan dia," ucapnya, suaranya sehalus bisikan namun menikam seperti es.
Steven bungkam, terdiam, ia seperti melihat bukan sosok Kayara yang biasanya. Karena biasanya, Kayara selalu berbicara lembut dan melayaninya dengan patuh. Tidak seperti sekarang ini.
Sementara Kayara melangkah pergi dengan menjinjing tas mahalnya. Setalah keluar dari rumah, ia menghembuskan nafasnya, membuangnya kasar.
'Huh! Kamu pasti bisa Kayara, kamu lelahkan menjalani pernikahan yang hanya kamu menganggapnya, sekarang waktunya kamu bangkit, dua tahun rasanya sudah sangat cukup untuk kamu merasakan pahitnya pernikahan, lepaskan dia yang tidak bisa menerimamu, jangan biarkan hatimu terus-menerus lelah Kayara.' Batinnya mencoba memotivasi dirinya sendiri. Ia pun melajukan mobilnya menuju sebuah toko kue miliknya sendiri.
Sementara Stev tengah berdiri kebingungan di depan lemari pantry, pasalnya dia tidak tahu di mana letak-letakknya kopi, gula dan kawan-kawannya. Karena selama ini, Kayara lah yang mengurus semuanya.
'Huh! di mana letaknya kopi, astaga!' kesalnya sembari mengusap rambutnya kasar.
Baru kali inilah ia merasa kehilangan sosok Kayara, kehilangan sosok yang biasanya mengurus semua keperluannya.
Kesal, tak mendapatkan kopi yang entah di mana letaknya. Stev meraih ponselnya kasar.
Lalu menghubungi seseorang.
"Nik, cari kan orang untuk bekerja di rumah, harus ada hari ini!" ucapnya memerintah pada seseorang di seberang telepon sana.Dan tanpa menunggu sahutan ataupun jawaban dari lawan bicaranya, Stev langasung memutuskan sepihak panggilan telponnya.
***
Sebuah toko kue dengan tulisan Kayara bakery terpampang besar dan indah. Itu merupakan toko kue milik Kayara, yang di kelolanya dari hanya toko kecil hingga sebesar sekarang.
Kini Kayara tengah berada di ruangannya, matanya tertuju pada figura foto, di mana dia dan sang Kakak Kalisa tengah tersenyum riang menatap kamera, kala itu Ayah mereka lah yang memotret Kalisa dan Kayara kecil. Umur keduanya hanya terpaut dua tahun saja.
"Kakak di mana Kak? Kakak tau? Semuanya runyam setelah Kakak menghilang. Aku di paksa Ayah untuk menggantikan Kakak. Dan Ayah menikah tak lama dari pernikahanku, Ayah menikahi seseorang yang tak aku sukai. Ayah kini sudah bahagia Kak sama keluarga barunya, bahkan menanyakan kabarku saja tidak. Dan sekarang aku sendiri. Suami? Dia hanya mencintai Kakak, tidak ada aku dan hanya Kakak.' Monolognya di dalam hati.
Kayara meraih ponselnya yang tergeltak di atas meja kerjanya, ia berniat memesan makanan online, karena sebentar lagi jam makan siang. Biasanya dia selalu pulang ke rumah memasak sendiri. Baru saja ia hendak membuka aplikasi berwarna hijau, sebuah panggilan masuk.
Deg!
Jantung Kayara berdegub kencang membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Huh!
Kayara menarik nafas dalam saat melihat tulisan 'Mas Stev' di layar ponselnya.
'Jangan lemah Kayara, kamu sudah lelah bukan? Abaikan saja dia, tak perlu melayaninya seperti yang lalu-lalu.' Dengan sedikit kasar ia kembali meletakkan ponselnya, dan mengaktifkan mode senyap.
Biasanya Kayara selalu sigap saat di telpon oleh Stev. Tak lain, pasti lelaki itu ingin menyuruhnya sesuatu makanya menelpon, jika tidak mana mungkin Stev menelponnya.
Tok! Tok! Tok!
Pikiran Kayara buyar saat mendengar pintu ruangannya di ketuk. Dengan cepat ia menghapus jejak air mata di pipinya.
"Masuk," ucapnya mempersilhkan.
"Omaigat Ra, gila sih kita dapet orderan kue banyak banget." Heboh seorang wanita bercepol. Dia Linlin teman serta kaki tangannya dalam urusan toko.
"Oh ya? Bagus dong Lin, itu yang kita cari, terus masalahnya apa?" tanya Kayara dengan tatapan heran menatap temannya yang telah duduk di bangku kosong hadapannya.
"Masalahnya dia order buat hari ini, jam dua. Aku gak yakin kita sanggup."
Kayara melihat jam di di ding yang menujukkan pukul delapan pagi. "Bahan gimana? Lengakap gak?" tanya Kayara.
"Bahan sih ada Ra, tapi apa kita bisa buat sebanyak itu dalam waktu singkat?" tanya Linlin memastikan, di bayangkan saja rasanya sangat tidak mungkin.
Sekali lagi Kayara melihat ke arah jam. "Bisa! Kita mulai sekarang, untuk hari ini kita tutup toko, kita semua fokus kerjakan pesanan, aku juga akan membantu, kita pasti bisa. Ayo!" ajak Kayara bangkit dari kursinya dann berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangannya.
Linlin meringis melihat jam yang tergantung, memang sih toko kue mereka sudah memiliki beberapa karyawan, tapi kan yang bertugas di dapur hanya dua orang saja. Rasanya sangat tidak mungkin menyiapkan pesanan dalam jumlah sangat banyak dengan waktu yang singkat. Namun apa boleh buat, dia hanya bisa mengikuti Kayara saja.
"Rini tutup toko, hari ini kita tutup dulu, ada pesanan masuk," perintah Kayara pada salah satu karyawannya.
"Siap Mbak."
Kini Kayara sudah berada di dapur toko, dia tak sendiri, ia di temani Linlin dan dua karyawannya yang memang bertugas mengolah kue. Biasanya, Kayara memilih untuk tidak ikut campur dalam proses mengolah kue di dapur, mempercayakan sepenuhnya segala urusan olah-mengolah pada dua koki handal yang telah lama bekerja dengannya. Tips dan resep telah menjadi pengetahuan umum bagi mereka, tanda dari kepercayaan mutlak yang diberikan Kayara kepada kedua karyawannya itu. Kini, mereka bagaikan empat sahabat yang bersinergi menciptakan kue-kue yang di pesan oleh sebuah perusahaan besar.
"Kau yakin Ra? Kita bisa selesai tepat waktu?" tanya Lilin berbisik, memastikan jika semuanya akan berjalan sesuai rencana atau tidak.
"Kita akan tepat waktu Lin, kalau kamu berhenti mengoceh dan fokus membuat kue." Sahut Kayara.
Linlin mengerucutkan bibirnya sebal, meski demkian dia dan yang lain tak pernah mengambil hati perkataan seperti itu. Hal seperti itu bagi mereka semua adalah hal biasa. Kayara memang tidak pernah membedakan dirinya dengan karyawan-karyawannya. Jadi mereka semua seperti sekawan saja.
***
Niko memicingkan matanya saat mendapati sang majikan datang dengan pakaian sedikit lusuh tidak seperti biasanya yang selalu rapi.
"Selamat datang Tuan," sapa Niko seperti biasa. Dan seperti biasa pula hanya anggukan kecil yang ia dapat sebagai balasannya.
"Apa sudah ada orang yang saya minta? Harus ada hari ini, saya tidak mau tau!" ucap Stev tak menerima alasan apapun . Hal seperti itu sudah biasa bagi Niko yang merupakan asisten pribadinya. Yang mau tidak mau harus di turutinya, jika tidak ingin kehilangan pekerjaan.
"Saya usahakan hari ini Tuan."
"Hm."
Saat jam makan siang tiba, Steven melirik jam tangannya, sesekali melirik ke arah pintu, seakan sedang menunggu seseorang.
'Ck! apa dia tidak mengantarkan makan siang?' batinnya bertanya-tanya. Dan ternyata benar saja, lelaki tampan itu tengah menunggu seseorang.
Steven mulai jengah menunggu. Dengan gerakan kasar, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Saat panggilan pertamanya tidak dijawab oleh orang di seberang sana, rasa kesalnya semakin bertambah.
Dengan sisa kesabarannya, ia kembali menelpon untuk yang kedua kali, namun masih sama, panggilannya tak di jawab.
Ck!
Dan akhirnya dia sudah tidak bisa bersabar. Dengan gerakkan kasar ia bangkit dan langsung pergi dari ruangannya.
"Tuan mau ke mana? Apa perlu saya temani?" tanya Niko saat melihat sang majikan keluar dari ruangan dengan terburu-buru.
"Tidak, saya pergi sendiri!" jawab Steven tanpa menoleh, "dan kamu, tunda pertemuan saya." Sambungnya berbicara pada wanita yang memakai rok pendek, dia adalah Lani, seketarisnya.
"Baik Pak." Jawab Lani.
Steven mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang, entah mengapa tidak mendapat makan siang dari Kayara mmmbuatnya hampa. Padahal dulu jika Kayara datang dan membawakannya makan siang, dia tidak memperdulikannya, bersikap acuh tak acuh pada Kayara yang selalu datang mengantar makan siang. Tapi hari ini, tiba-tiba saja Kayara berhenti mengiriminya makan siang, dan hal itu mengusik hatinya, dia sangat kehilangan hal itu.
Dulu Kayara memang sangat rajin mengantar makan siang untuk sang suami. Semua itu ia lakukan demi keutuhan rumah tangganya yang serasa hambar, dengan harapan Steven akan menganggap dirinya dan melupakan sang Kakak, Kalisa yang sampai saat ini mereka tak tau di mana rimbanya.
Mobil mewah Steven parkir di hadapan toko kue milik Kayara. Saat keluar dari mobil, keningnya mengkerut melihat tulisan 'tutup.'
Namun hal yang membuatnya bingung adalah mobil Kayara yang terparkir yang artinya ada Kayara di toko. Tapi kenapa tokonya tutup?
Langkah tegap nan panjangnya berjalan mendekati toko, dan langsung mendorong pintu kaca yang bertempelkan tulisan 'tutup'.
"Maaf tapi kami se-" perkataan Rini terhenti saat melihat yang masuk adalah Steven suami dari sang majikan.
"Di mana Kayara?" tanyanya datar.
"Mbak Kayara di dapur Pak,"sahut Rini hati-hati, takut pada sosok lelaki tinggi tegap yang berdiri di hadapannya saat ini.
Tanpa menjawab Stev langsung melangkah menuju dapur toko, mencari keberadaan Kayara. Dan saat tiba di dapur, di lihatnya keadaan dapur yang cukup terlihat berantakkan, hingga matanya menangkap sosok yang di cari-cari.
Di sana Kayara tengah sibuk menguleni adonan, tanpa sadar ada sosok yang menatapnya.
Linlin tanpa sengaja menatap ke arah Steven yang berdiri dengan tangan berlipat di depan dada dan pandangan lurus menatap Kayara.
Linlin beralih menatap ke arah Kayara yang ternyata masih belum menyadari keberadaan sang suami.
"Huuust! Ra," panggil Linlin berbisik.
"Apa Lin?" sahut Kayara tanpa melihat ke arah Linlin, tangan dan matanya terpusat pada adonan kue di hadapannya.
"Huuust! Ra," panggil Linlin lagi.
"Kena-" pertanyaan Kayara terhenti saat ia mendongak hendak menatap Linlin, matanya malah terpaku melihat Steven yang juga menatapnya.
Kayara memutar bola matanya malas. "Lin, kamu tolong lanjutin ini, aku samperin dia dulu," pintanya pada Linlin.
"Sip sip aman Ra, lagian tinggal dikit juga 'kan?"
"Iya."
Kayara beranjak setelah melepas penutup kepala dan apron.
"Bicara di atas,"ajak Kayara pada Stev. Stev mengikuti langkah Kayara. Hingga tiba di atas, tepatnya di ruangannya.
"Ada apa Mas?" tanyanya santai.
"Apa gunanya ponselmu hm? Kenapa tidak mengangkat panggilanku?" tanyanya dengan nada menyentak.
Kayara tak gentar, ia malah tersenyum, bukan senyum manis swperti biasa, tapi senyum remeh.
"Sibuk, tidak ada waktu bermain ponsel," sahutnya.
Tatapan Stev tajam menatap Kayara.
"Kenapa tidak ada makan siang saya? Kenapa kamu berhenti mengantarkan makan siang hah?"
Dengan tenang, Kayara mengunci kedua tangannya di depan dadanya, pandangan matanya tajam menembus kehampaan, seolah-olah ketakutan itu hanyalah sebuah mitos bagi dirinya."Kenapa Mas? Bukannya selama ini kamu tidak suka jika aku mengantarkan makanan, bahkan jarang sekali juga kamu memakan masakan aku," ucapnya santai, tak takut sedikitpun dengan sosok lelaki yang berstatus suaminya itu.
Lagi dan lagi Stev tertegun akan perubahan drastis yang di lakukan Kayara terhadapnya. Jika biasanya Kayara tak pernah membantah selalu menurutinya, maka kali ini tidak.
Kayara memperhatikan Steven dari atas sampai bawah, rasa kasihan pun menghantuinya saat melihat kemeja yang di pakai Stev sedikit lusuh. Bagaimana tak lusuh? Ia tidak menyetrika pakaian lelaki itu seperti biasanya.
Namun semua rasa itu ia tepis, di banding dengan rasa sakit tak di anggap dan tak di pedulikan selama dua tahun ini, rasanya masih sangat tak sebanding.
Anggap saja Kayara jahat, siapun boleh beranggapan demikian, namun bagi Kayara, Steven lah yang lebih jahat padanya. Bayangkan saja, dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu ia berjuang sendiri, selama itu ia menahan sakit hati. Kayara tidak akan peduli jika ada yang mengatainya istri durhaka atau semacamnya.
Steven menatap lekat Kayara yang berdiri dengan arogantnya, ia seakan kehilangan sosok Kayara yang selalu lembut dan taat padanya. Saat ini berdiri di depannya bukan lagi Kayara yang selalu tersenyum manis padanya tapi sosok Kayara yang dingin, bahkan senyum pun sudah tak lagi menghiasi wajah cantik itu.
"Ada apa denganmu Kayara?" tanya Stev penuh penekanan, kedua alisnya terangkat menatap penuh tanya wanita di hadapannya itu.
Kayara tertawa hambar. "Aku kenapa? Kamu yang kenapa Mas? Kenapa sekarang tiba-tiba mencari makanan yang tak pernah kamu hergai sebelumnya, bukannya kamu tak pernah peduli, kamu pikir aku tidak lelah melakukan hal yang tidak pernah di hargai? Aku lelah mas, di luar sana masih banyak yang membutuhkan makanan, maka dari sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan masakan aku lagi, dari pada aku memberimu berakhir terbuang maka lebih baik tidak usah." Ucap Kayara panjang lebar.
Steven terpaku untuk saat mendengar ucapan kyara yang begitu menusuk. Ingatannya pun kembali Memutar waktu di mana hari-hari kyara selalu datang ke kantornya membawakan sebuah bekal makan siang untuk dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk sebanyak tiga kali setelahnya muncullah seorang wanita cantik berbadan mungil dengan sebuah tas bekal berwarna biru di tangannya. Dia kyara, wanita itu sudah biasa mengantarkan makanan untuk sang suami di jam makan siang dengan tujuan dan maksud agar suami bisa menerimanya dan menghargainya paling tidak menganggapnya ada.
Steven melirik sebentar ke arah pintu yang terbuka, lalu kembali fokus menatap layar laptopnya seakan tak peduli akan kedatangan Kayara.
"Mas ini aku bawakan makanan kamu belum makan siang kan? Ayo kita makan sama-sama," ucap Kayara lembut tak lupa menampilkan senyuman manisnya.
Steven melirik tak minat ke arah bekal yang di keluarkan oleh Kayara dari tasnya.
"Saya sudah makan, bawa kembali makanan kamu, saya tak membutuhkannya." Jawab Steven.
Mendengar itu Kayara menundukkan kepalanya, sembari menghela nafas berat, padahal dia sudah rela meninggalkan toko demi sang suami, dengan harapan hubungan mereka akan membaik.
Tak ingin memprotes akhirnya Kayara pun kembali menyimpan bekal tersebut.
"Ya sudah Mas kalau begitu aku pulang, makanan ini aku tinggal di sini, barangkali kamu lapar kamu bisa memakannya, aku pamit Mas." Kayara pun beranjak pergi dengan tangan kosong, bekal yang tadinya ia bawa ia letakkan di atas meja.
Krrk~
Steven memegangi perutnya yang berbunyi, sebenarnya lelaki itu belum makan siang dia sengaja belum makan siang karena menunggu bekal yang akan dibawakan oleh Kayara, dia sudah hafal Kayara pasti datang dan membawakannya makan siang, padahal tadi Niko sudah menawarkannya makan siang bersama, namun ia tolak.
Setelah memastikan Kayara sudah pergi, dengan cepat Steven bangkit dari duduknya menghampiri bekal yang tergeletak di atas meja, lalu membuka dan memakannya dengan lahap.
Lamunan Steven buayar saat cacing di dalam perutnya berdemo minta di isi, ia langsung membuang tatapannya ke lain arah lantaran malu, sudah pasti suara perutnya itu terdengar oleh Kayara.
Kayara menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya, setelahnya ia keluar dari ruangannya meninggalkan Steven sendiri di sana, namun tak lama ia kembali dengan nampan di tangannya. Ia membawakan secangkir kopi dan beberpa aneka kue. "Aku cuma punya ini, kalau kamu mau makan saja," ucapnya pada Steven lalu meletakkannya si atas meja.
Tanpa menjawab Steven langsung duduk di sofa dan memakan kur yang di suguhkan oleh Kayara. Melihat itu hati kecil Kayara tercubit, sekarang ia seakan menjadi istri yang durhaka, tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri pun sudah lelah. Tak mau terlalu larut dalam perasaan, Kayara memilih pergi, "Aku lanjut kerja," pamitnya sebelum keluar dari ruangannya sendiri.
Tepat jam dua kurang lima menit, pekerjaan mereka selasai, keempat orang yang berada di dapur itu menghela nafas lega telah menyelesaikan pesanan tepat waktu.
"Setelah ini langsung di antar ke tempat tujuan ya," ucap Kayara sebelum beranjak pergi dari dapur.
Kayara kembali ke ruanganya, dan saat ia masuk ia di kejutkan akan keberadaan sang suami yang ternyata masih di sana. Ia pikir Steven sudah pergi sedari tadi, ternyata tidak. Di lihatnya lelaki yang tertidur di sofa, kue serta kopi yang ia suguhkan tadi habis tak bersisa, perasaan bersalah dan sedih lagi-lagi menghantui Kayara.
Perlahan ia mendekat, menatap lekat wajah tampan yang kini tengah tertidur.
'Aku gak tahu apa yang aku lakukan saat ini salah atau benar, yang aku tahu aku lelah Mas, lelah dengan sikap kamu, lelah tak pernah kau anggap. Dua tahun ini rasanya sungguh melalahkan bagiku, sekarang aku benar-benar lelah untuk berjuang.' Batinnya.
Bersamaan dengan Kayara beranjak mata Steven terbuka, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah punggung kecil Kayara yang berjalan menjauh.
"Kayara,"panggilnya serak dengan suara yang khas bangun tidur.
Langkah Kayara berhenti, namun wanita itu tak menoleh.
Steven bangkit dari posisi baringnya, dan duduk, matanya menatap lurus ke arah punggung Kayara.
"Tidak bisakah kau bersikap seperti biasa? Saya rasa kamu bukanlah Kayara yang dulu." Ucapnya.
Kayara berbalik, tatapannya bertemu dengan tatapan elang Steven. Lalu ia terkekeh pelan. "Bersikap seperti biasa? Ck! seperti biasa apa yang kamu maksud Mas, biasa bodoh? Memohon dan berusaha memperbaiki seorang diri? Berusaha dan berjuang sendiri? Seperti itu?" Kayara tertawa hambar, " aku sudah bilang 'kan? Aku lelah Mas," sambungnya lirih.