Syafa Sidqiah, seorang wanita muslimah yang cantik dan juga pintar. Dia adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar milik ayahnya. Namun, Syafa malah memilih melakukan pekerjaan lain dan mempercayakan perusahaannya kepada orang kepercayaan nya.
Dan hari ini adalah hari pertama Syafa bekerja sebagai sekretaris di kantor orang lain.
Terdengar aneh memang, sudah punya perusahaan sendiri tapi masih ingin kerja di kantor orang lain.
Tapi memang itu keputusan Syafa, jadi tidak ada yang bisa mencegah nya.
***
"Pak ayo cepat bawa mobilnya pak," desak Syafa kepada supir taksi yang sedang dia naikin.
"Iya neng, sabar. Ini juga udah cepat neng," jawab sopir taksi tersebut.
Syafa masih saja terlihat gelisah. Kenapa tidak, hari ini adalah hari pertama dia bekerja. Dia tidak mau membuat kesan yang buruk di tempat kerja nya hanya karena dia datang terlambat.
Taksi pun sudah berhenti di depan kantor. Dengan cepat Syafa langsung berlari kearah kantor nya.
Brukkk
Syafa menabrak seseorang. Dengan merasa bersalah, Syafa langsung meminta maaf.
"Maaf pak saya gak sengaja."
Orang tersebut menatap tajam kearah Syafa. Namun emang dasarnya Syafa yang tidak pernah takut malah membalas tatapan orang tersebut.
"Hei pak, kenapa bapak natap saya seperti itu? Ada yang salah?"
"Iya, memang ada yang salah. Anda sudah membuat pagi saya menjadi buruk!"
"Apa maksud bapak bilang kayak gitu? saya tidak pernah punya masalah sama bapak," balas Syafa tak mau kalah.
"Anda sudah menabrak saya dan itu adalah masalah anda!"
"Pak, apa bapak tidak sadar. Bapak itu jalan sambil sibuk memainkan ponsel tanpa memperhatikan jalan. Jadi bapak juga bersalah dalam hal ini!" ujar Nayla tak mau kalah.
Orang tersebut menjadi semakin kesal kepada Syafa yang tidak mau disalahkan.
"Kenapa anda malah menuduh saya, jelas-jelas anda yang sudah menabrak saya."
"Hei pak, kalau gak mau di tuduh itu, bikin jalan sendiri aja biar gak ada yang nabrak bapak lagi."
"Lama-lama pusing saya hadapin orang seperti anda. Mending saya pergi aja."
"Kalau mau pergi, ya pergi aja pak. Gak usah ngomong segala kali."
"Lama-lama nih orang bikin saya emosi!" ujar orang tersebut geram. Dia pun meninggal kan Syafa.
"Dasar orang aneh," ujar Syafa pelan tapi masih didengar oleh orang tersebut.
"Saya dengar!"
"Bagus deh kalau dengar."
Syafa pun melanjutkan langkahnya lagi.
***
Para karyawan di kumpulkan oleh Deni selaku menejer di perusahaan ini. Hari ini ia mewakili CEO nya untuk memperkenalkan sekretaris baru untuk CEO mereka.
"Baiklah, maksud saya mengumpulkan kalian disini yaitu untuk memperkenalkan sekretaris baru di perusahaan ini," ujar Deni.
"Dia adalah saudara Syafa Sidqyah," lanjut nya lagi.
"Sekarang kalian semuanya boleh berkenalan dulu," ijar Deni.
Satu persatu karyawan datang menghampiri Syafa untuk berkenalan.
"Hallo Syafa, aku Rianti, salam kenal ya."
"Hallo Rianti, salam kenal juga."
"Hai Syafa, aku Fina."
"Ha juga Fina."
Dan begitu selanjutnya mereka saling berkenalan.
Dan emang dasarnya Syafa itu orangnya mudah akrab dan cepat beradaptasi dengan orang baru, jadi dengan cepat ia langsung nyaman aja bicara dengan teman-teman barunya itu.
Setelah acara perkenalan selesai, Syafa dan karyawan lainnya pun mulai bekerja.
"Syafa ini meja kerja kamu ya," ujar Deni menunjukkan meja kerja Syafa.
Dan kebetulan meja kerja nya berada di depan ruangan Devan.
"Oke, terima kasih pak," ujar Syafa.
"Sama-sama. Semoga betah ya."
"Insyaallah pak."
"Yaudah, kalau gitu saya permisi dulu. Selamat bekerja," pamit Deni.
"Baik pak," balas Syafa sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah Deni pergi, Syafa pun memulai pekerjaannya.
"Hai Syafa, semoga kamu betah ya kerja disini," ujar Rianti yang menghampiri Syafa.
"Insyaallah mbak," balas Syafa sambil tersenyum.
"Eits, jangan panggil aku mbak, panggil Rianti aja," ujar Rianti memperingati Syafa.
Syafa sedikit tersenyum.
"Baiklah Rianti," jawab Syafa.
"Oh ya, kalau boleh tau kamu udah ada ketemu belum dengan CEO kita?" tanya Fina yang juga ikut menghampiri Syafa.
Syafa menggeleng.
"Belum pernah."
"Kami harap nih ya, kalau kamu ketemu sama CEO nanti, kamu harus punya kesabaran yag ekstra," ujar Rianti tiba-tiba.
"Emangnya kenapa?" tanya Syafa bingung.
"Soalnya, dia itu orang nya galak," jawab Fina dengan membuat ekspresi seperti orang marah.
"Dia itu kerjaannya suka marah-marah mulu," tambah Rianti lagi yang semakin mengompori.
"Kalian ini ada-ada aja deh. Masa bos sendiri di bilang gitu," ujar Syafa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi ini beneran lho Fa," ujar Rianti lagi yang mencoba meyakinkan Syafa.
"Udah lah, gak baik ngomongin bos sendiri nanti orangnya dengar bisa berabe urusannya," ujar Syafa mengingatkan.
"Mending kalian lanjut kerja lagi. Dari pada nanti kena marah gara-gara ngerumpi pas jam kerja," ujar Syafa lagi.
"Hehe iya deh Fa. Ini kami juga mau kerja kok," balas Rianti dan Fina sambil nyengir kuda.
Belum beberapa lama Syafa memulai pekerjaannya, tiba-tiba Deni datang untuk memanggil nya.
"Syafa!" panggil Deni.
Syafa pun menoleh kearah sumber suara.
"Iya pak," balas Syafa.
"Kamu di suruh pak Devan ke ruangannya," ujar Deni.
"Baiklah pak, saya akan kesana," balas Syafa sambil mengangguk.
"Cepat ya, kamu sudah ditunggu."
"Baik, terima kasih pak."
Syafa pun mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan Devan.
Tok...tok...tok
"Masuk!"
Syafa yang mendengar suara itu pun langsung membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut.
Terlihat seseorang yang sedang duduk membelakangi pintu.
"Bapak memanggil saya?" tanya Syafa setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Iya. Silahkan duduk!"
Syafa pun langsung duduk didepan meja bosnya tersebut.
"Ada apa ya bapak memanggil saya kesini?" tanya Syafa setelah duduk di depan meja Devan.
"Apakah anda sekretaris baru itu?" tanya Devan yang masih membelakangi Syafa.
"Iya pak," balas Syafa.
Orang tersebut pun membalikkan kursinya agar duduk menghadap ke arah Syafa.
Seketika mata Syafa membulat melihat siapa orang yang ada didepannya ini.
Jadi dia bos aku?
Tanya Syafa dalam hati.
Devan tersenyum mengejek ketika melihat ekspresi Syafa.
"Oo, jadi kamu yang menjadi sekretaris saya?" ujar Devan sambil menampilkan ekspresi yang tidak dapat di artikan.
"I...iya pak," jawab Syafa yang entah sejak kapan mulai terlihat gugup.
"Tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya?" Devan mengetok-ngetok jarinya diatas meja dengan gaya arrogannya seperti orang yang sedang berfikir.
Mati lah diriku.
ujar Syafa dalam hati.
"Oh iya, saya ingat. Kamu wanita yang tadi pagi bukan?" tanya Devan sambil menatap Syafa.
"I...iya, pak," balas Syafa gugup.
"Aneh emang. Kenapa wanita seceroboh seperti kamu bisa jadi sekretaris saya," ujar Devan seperti mengejek Syafa.
"Maksud bapak apa?" Syafa tidak terima dengan ucapan Devan tersebut.
"Ya pikir saja sendiri," jawaban Devan berhasil membuat Syafa menahan kesal nya.
"Ngeselin banget sih punya bos kayak dia," ujar Syafa pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Eh, enggak ada kok pak."
Setelah itu wajah Devan berubah menjadi serius.
"Perkenalkan nama kamu!" ujarnya tegas.
"Nama saya Syafa Sidqyah pak."
Devab mengangguk kan kepalanya.
"Sekarang kamu sudah mulai bekerja. Tapi ingat jangan sekali-kali bikin kesalahan kalau kamu gak mau di pecat!" ujar Devan tegas.
"Baiklah pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Syafa.
"Silahkan," balas Devan tanpa melihat kearah Syafa, karena dia sudah mengalihkan pandangannya ke arah laptop nya.
Syafa pun keluar dari ruangan Devan dengan rasa kesal yang sedari tadi ia tahan.
"Kamu kenapa Fa?" tanya Fina yang sadar dengan raut wajah Syafa.
"Aku gak nyangka aja kalau pria itu yang jadi bos kita," balas Syafa.
"Siapa maksud kamu? Pak Devan?"
"Ya siapa lagi."
Fina terkekeh.
"Emang kenapa? Diapain kamu barusan sama pak Devan?"
"Menurut aku ya, dia itu cowok yang ngeselin banget tau gak," ujar Syafa.
Tawa Rianti dan Fina pun pecah.
"Kan emang udah kami bilangin tadi, kamu sih gak percaya. Pak Devan itu emang kayak gitu orangnya," ujar Fina yang ketawa melihat wajah kesal Syafa.
"Awas aja ya kalau tuh orang berani-beraninya sama aku, bakal aku jadiin peyek dia," ujar Syafa yang membuat Fina bergidik ngeri.
"Siapa yang kamu maksud?"
ujar seseorang dari belakang Syafa.
***
"Siapa yang kamu maksud?"
ujar seseorang dari belakang Syafa.
Tubuh Syafa menegang.
Mampus.
Syafa pun berbalik melihat siapa pemilik suara tersebut. Sedangkan Fina, entah sejak kapan dia kabur dari tempat tersebut.
"Eh pak Devan. Ada apa ya pak?" tanya Syafa yang hanya bisa nyengir kuda saja.
Devan menatap Syafa datar, melebihi datarnya triplek.
"Ini waktu kerja, bukan waktu buat gibahin saya!"
"Hehe, maaf pak saya gak sengaja," ujar Syafa yang hanya menampilkan wajah tak berdosa nya.
"Gibahin orang pake gak sengaja segala. Selesai kan laporan ini, setelah itu temani saya meeting dengan klien." Devan pun memberikan sebuah file kepada Syafa.
"Sekarang pak?" tanya Syafa polos.
"Minggu depan juga gak papa," balas Devan yang sudah menatap Syafa tajam.
"Oh gitu, masih lama pak mending saya ngerjain tugas yang lain dulu," ujar Syafa polos. Terdengar beberapa karyawan yang ada disana tertawa mendengar jawaban Syafa. Sedangkan Devan sudah geram dengan tingkah karyawan nya yang satu ini.
"Ya harus diselesaikan sekarang Syafa!" ujar Devan geram.
"Lah, kata bapak tadi minggu depan." Devan menepuk jidatnya.
"Mangkanya kalau punya otak gunain buat mikir, bukanya malah gibahin orang." Devan emang tak habis pikir dengan wanita yang satu ini. Bisa-bisanya dia bikin Devan naik darah.
"Lah apa hubungannya, yang di gunain buat gibah itu kan mulut pak, bukan otak."
Tawa para karyawan pun kembali terdengar. Devan langsung melayangkan tatapan tajamnya sehingga nyali mereka langsung ciut dan memutuskan untuk kembali bekerja.
Devan kembali menatap sinis Syafa.
"Terserah kamu aja, yang penting laporan ini harus siap sebelum jam makan siang. Kalau tidak, gaji kamu saya potong!" ancam Devan yang membuat mata Syafa langsung melebar.
"Masa langsung potong gaji aja pak, gak bisa gitu dong pak."
"Yang bosnya disini siapa?"
"Bapak."
"Yang berhak ngatur disini siapa?"
"Bapak juga."
"Jadi..."
"Jadi ya-" Syafa menggantungkan kalimatnya.
"Nah, kamu pikir saja sendiri." Devan pun mulai melangkah meninggalkan Syafa. Namun Devan kembali berbalik.
"Ingat, ucapan saya gak pernah main-main." Devan pun langsung pergi.
Syafa langsung mendengus kesal.
"Iss, mentang-mentang bos, seenaknya aja motong gaji orang." Syafa duduk dimeja dengan wajah kesalnya.
Tak lama, terdengar suara tawa disekitar Syafa. Ternyata para karyawan yang menyaksikan perdebatan antara Syafa dan Devan tadi.
"Sumpah, baru kali ini ada karyawan yang berani ngebantah ucapan pak Devan," ujar Denis, salah satu karyawan disana.
"Benar banget Fa. Tapi bagus juga sih, akhirnya pak Devan dapat lawan juga," balas Fina yang sudah tertawa.
"Udah ah, aku mau ngerjain laporan ini dulu. Nanti cuma gara-gara laporan ini gaji pertama ku di potong pula sama BOS kita," ujar Syafa dengan menekan kalimat nya.
Fina dan yang lainnya hanya tertawa melihat Syafa yang terlihat sangat kesal karena Devan.
***
Syafa baru saja selesai membuat laporan yang disuruh oleh Devan. Syafa melirik kearah jam yang ada didepannya.
"Masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum istirahat. Mending aku antar laporan ini dulu ke pak Devan," ujar Syafa.
Syafa pun bangkit untuk mengantarkan laporan tersebut ke ruangan Devan. Syafa melihat hanya dirinya saja yang tinggal disana.
Syafa mengetuk pintu ruangan Devan. Ia pun langsung masuk setelan diizinkan oleh pemilik ruangan tersebut.
"Ini laporan nya pak." Syafa memberikan laporan tersebut kepada Devan.
Devan pun mengambil file tersebut dan mulai memeriksa nya.
Devan pun terlihat mengangguk-anggukan Kepala.
"Hmm oke," ujar Devan menganggap kalau laporan tersebut sudah benar.
"Saya permisi dulu pak," pamit Syafa yang hendak keluar dari ruangan Devan.
"Mau kemana kamu?" Syafa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Devan.
"Mau makan siang pak," jawab Syafa jujur.
"Nanti saja, kita akan pergi menemui klien."
"Tapi kan ini masih jam istirahat pak."
"Ya terus kenapa kalau masih jam istirahat?"
"Ya gak papa sih pak. Tapi apa gak sebaiknya bapak makan siang dulu, pak?" usul Syafa pada Devan.
"Saya makan nya nanti saja di jalan," balas Devan.
"Ya udah kalau gitu, pak. Saya akan siap-siap dulu," ujar Nayla yang akhirnya menyetujui perintah Devan.
"Saya tunggu di mobil!" Devan pun berlalu meninggalkan Syafa. Sedangkan Syafa dia langsung kembali ke meja nya untuk mengambil file yang di butuhkan.
Setelah selesai menyiapkan segala hal yang di perlukan, Syafa pun menyusul Devan ke parkiran.
Walaupun ada sedikit rasa kesal Syafa kepada Devan, namun dia tetap saja mematuhi perintah Devan. Walaupun makan siangnya harus tertunda seperti ini.
Syafa dan Devan sudah berada didalam mobil milik Devan. Devan mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
Syafa sedari tadi terlihat memegangi perutnya, karena emang efek lapar. Syafa hanya diam memandangi jalanan.
Ya ampun, nih perut kenapa harus sakit sekarang sih.
Syafa berusaha menahan rasa sakit nya. Syafa memang punya penyakit mag, itu sebab nya ia tidak boleh terlambat makan. Tapi hari ini, gara-gara bos nya ia harus menahan rasa sakit itu.
Devan sebenarnya menyadari kondisi Syafa. Ia melihat Syafa yang selalu memegangi perutnya dan sesekali meringis seperti orang yang sedang menahan rasa sakit. Namun sebisa mungkin ia bersikap seolah-olah ia tidak tau.
Mobil yang di kendarai Devan masuk ke area sebuah restoran.
"Kita udah sampai," ujar Devan menyadarkan Syafa yang yah sedang melamun.
Tanpa menjawab, Syafa langsung saja membuka pintu mobil tersebut untuk keluar. Mood nya hari ini benar-benar buruk karena harus menahan rasa sakit.
Syafa mengikuti Devan yang memasuki restoran tersebut dan duduk di meja yang sudah dipesan oleh Devan.
"Masih ada waktu 20 menit lagi, sebaiknya kamu pesan makan siang dulu," ujar Devan yang mulai merasa tidak tega melihat Syafa.
"Gak usah pak, nanti setelah meeting saja," balas Syafa.
"Sudah gak usah ngebantah. Saya tau kamu sekarang itu pasti lagi kelaparan."
Udah tau ngapain dari tadi gak peka.
"Tapi pak-" Devan langsung saja memanggil pelayan yang ada disana.
Setelah pelayan itu mendekat, Devan pun mulai mengatakan makanan yang akan ia pesan.
Syafa menatap Devan heran. Heran karena pria itu tiba-tiba jadi baik gini.
"Ngapain kamu natap saya seperti itu?" tanya Devan datar.
Syafa hanya memalingkan tatapan nya dan mengacuhkan ucapan Devan tersebut.
Lama kelamaan perut Syafa jadi semakin sakit. Tangannya terus saja mencekram perutnya dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit nya.
Namun itu hanya sia-sia saja, bahkan ketika makanan nya pun sudah datang ia sudah tidak selera lagi untuk makan.
"Dimakan makanan kamu!" ujar Devan.
"Iy...iya pak." Syafa memaksa kan dirinya untuk memakan makanan tersebut. Namun semakin ia memaksa untuk makan, semakin bertambah rasa sakit di perut nya.
Syafa sungguh tak sanggup lagi menahan rasa sakit nya. Hingga akhirnya dia pun kehilangan kesadaran nya.
Devan yang melihat Syafa tiba-tiba tak sadarkan diri langsung sigap membawa Syafa ke mobilnya. Setelah itu, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sebelum itu, ia memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan klien.
Sesampainya di rumah sakit, Syafa langsung di bawa ke UGD.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Devan datar.
"Pasien gak papa kok. Cuma asam lambungnya kambuh, mungkin karena dia telat makan," jelas dokter tersebut.
Devan hanya mengangguk saja.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak."
"Silahkan."
Devan pun masuk kedalam ruang UGD dan melihat Syafa yang sudah sadar.
"Pak Devan! Kenapa kita bisa ada disini? Bukanya kita mau meeting ya?" Tanya Syafa polos.
"Kamu mau tau kenapa kita ada Disini?" Syafa mengangguk.
"Karena di bawa sama angin." Jawab Devan datar.
"Ih, pak Devan ngaco deh. Masa angin bisa bawa manusia, pak Devan lagi mimpi ya?" Devan geleng-geleng kepala melihat Syafa.
"Kamu ini kapan pintarnya sih?"
"Aku kan udah pintar pak." Devan langsung menepuk jidatnya. Merasa tak ada jawaban dari Devan, Syafa pun turun dari brankar nya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau punya penyakit asam lambung?" Syafa menghentikan aktivitas nya yang hendak turun dari brankar.
"Bapak gak nanya," jawabnya datar dan kembali turun dari ranjang.
"Mau kemana kamu?" Tanya Devan yang melihat Syafa jalan mendahului nya.
"Ya mau balik ke kantor lah pak, masa mau pulang. Bisa-bisa gaji aku di potong lagi."
"Bukannya kamu lagi sakit? Istirahat aja dulu."
"Ciee pak Devan perhatian. Bapak tenang aja, aku udah gak papa kok."
Devan hanya menatap datar ke arah Syafa.
"Terserah kamu aja, kalau terjadi apa-apa lagi saya tidak tanggung jawab."
Syafa tersenyum kearah Devan "pak Devan tenang aja."
Devan hanya menghela napasnya dan mengikuti Syafa yang sudah mendahului nya. Persetan dengan keadaan wanita itu. Dia aja gak mikirin kondisi nya, kenapa kita yang pusing mikirin nya. Begitu setidaknya pikiran Devan.
Mobil Devan sudah memasuki area kantor. Devan langsung saja masuk kedalam kantornya dan diikuti oleh Syafa.
Devan berjalan dengan gaya angkuhnya. Tatapan dingin, mungka datar dan seperti nya dia tidak bisa tersenyum. Buktinya pada saat beberapa karyawan menyapa nya, jangan kan tersenyum, menoleh pun tidak.
"Dari mana kamu sama pak Devan Fa?" tanya Fina setelah Syafa duduk di meja kerjanya.
"Rencananya mau ketemu klien, tapi gak jadi," jawab Syafa.
"Lah, kenapa?"
"Karena pak Devan aku jadi masuk rumah sakit." Mata Fina membulat.
"Masuk rumah sakit? Kok bisa? Emang kamu di apain sama pak Devan?" tanya Fina kaget.
"Gak di apa-apain sih, cuma asam lambung aku aja kumat jadinya. Itu gara-gara pak Devan aku jadi telat makan siang."
"Ya ampun Fa, kok bisa sih. Terus sekarang gimana?"
"Udah baikan sih. Pak Devan udah bawa aku kerumah sakit tadi." Fina hanya mengangguk saja.
***
Syafa baru berencana ingin masuk kedalam ruangan Devan. Namun langkahnya terhenti karena mendengar Devan yang sepertinya sedang marah-marah.
"Siapa yang membuat laporan ini?" Tanya Devan tegas.
"Saya pak."
"Udah berapa lama kamu kerja disini?" Tanya Devan lagi.
"Satu tahun pak."
"Uda satu tahun kamu kerja, buat laporan ini aja kamu gak becus. Emang apa aja yang kamu kerjakan selama ini? Ngerjain laporan kecil ini aja gak bisa kamu!" Ujar Devan emosi kepada seorang karyawan yang sedang menunduk di hadapannya.
"Ma...maaf pak."
"Mulai sekarang kamu saya pecat!"
"Ta...tapi pak-"
"Gak ada tapi-tapi-an, sekarang kamu keluar dari ruangan saya."
Dengan berat hati, karyawan tersebut keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gontai. Tak sengaja ia berpapasan dengan Syafa yang sedang berdiri di depan ruangan Devan.
Tok tok tok
Syafa mengetuk pintu ruangan Devan. " Masuk!"
Syafa pun masuk kedalam ruangan tersebut.
"Maaf pak, tadi saya dengar bapak memecat karyawan itu ya? Emang apa alasannya pak? Kenapa bapak terlalu cepat mengambil keputusan."
Devan memandang Syafa dengan tatapan tajamnya.
"Apa masalah kamu, kenapa harus ikut campur dengan urusan saya."
"Bukan maksud saya untuk ikut campur pak, tapi kan setidaknya bapak bisa memberi kesempatan kedua."
"Gak usah nasehatin saya kayak gitu. Ini kantor saya jadi terserah saya mau ngapain disini," ujar Devan yang terdengar emosi.
Syafa hanya menghela napas tak habis pikir dengan jalan pikiran Devan.
"Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?" tanya Devan datar.
"Saya mau memberikan file ini pak." Devan pun menerima file tersebut.
"Saya permisi keluar dulu pak," pamit Syafa.
"Hm."
***
Syafa baru saja sampai di rumahnya setelah pulang dari kantor. Rumah Syafa terbilang cukup mewah, bahkan sebenarnya almarhum orang tuanya meninggalkan sebuah perusahaan besar untuk Syafa. Tapi Syafa malah memilih untuk mencari pekerjaan sendiri agar bisa mandiri. Sedangkan perusahaannya di kelola oleh orang kepercayaannya. Ia hanya sesekali memeriksa kondisi perusahaan nya.
"Non Syafa udah pulang? Mau bibi siapin makanan non?" tanya Bi Inah, asisten di rumah nya.
"Gak usah Bi, aku udah makan di kantor tadi," balas Syafa.
"Baiklah non, kalau gitu bibi permisi dulu."
"Silahkan Bi," balas Syafa ramah.
Ya begitulah Syafa. Dia selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Dia tidak pernah memandang derajat siapapun, karena baginya setiap manusia itu sama.
Syafa masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Cahaya matahari pagi menusukkan kedalam kamar Syafa membuat tidur gadis itu menjadi terusik.
Syafa membuka matanya dan meraih ponselnya.
"Masih jam 05.00, mending aku shalat dulu," ujar Syafa yang langsung masuk kedalam kamar mandi dan berwudhu. Baru setelah itu dia bersiap-siap untuk ke kantor.
Setelah selesai shalat, Syafa pun mandi dan bersiap-siap.
Lalu, Syafa pun mengambil kunci mobilnya dan langsung berangkat dengan mengendarai sendiri mobilnya.
Ketika di perjalanan menuju kantor, Syafa melihat ada kerumunan orang di tengah jalan. Karena penasaran, Syafa pun memutuskan untuk melihat apa yg terjadi di sana.
"Permisi, pak. Ini ada apa ya, pak?" tanya Syafa pada salah seorang yang ada di sana.
"Oh, ini mbak. Ada orang korban tabrak lari," jawab orang tersebut.
Syafa pun membulatkan matanya.
Setelah melihat bagaimana kondisi orang tersebut, Syafa memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
"Tolong bantu angkat ke mobil saya, pak!" pinta Syafa pada orang-orang yang ada di sana.
Bapak itu pun mengangguk dan mengangkat korban tersebut kedalam mobilnya.
Syafa melajukan mobilnya kearah rumah sakit terdekat untuk menolong korban tersebut.
Setelah beberapa saat, Syafa pun sampai di rumah sakit.
Korban tersebut langsung di tangani oleh pihak rumah sakit.
Setelah selesai mengurus administrasi, Syafa pun menitipkan orang tersebut kepada pihak rumah sakit agar segera menghubungi pihak keluarga pasien.
Syafa kembali melajukan mobilnya ke arah kantor nya.
Dia memang sudah sangat terlambat, tapi Syafa juga tidak bisa meninggalkan orang yang sedang butuh pertolongan.
Akhirnya Syafa pun sampai di kantor nya.
Dengan langkah cepat, Syafa langsung memasuki kantor nya. Sesekali dia menyahuti sapaan dari teman-temannya.
Bruk
Syafa terjatuh karena sudah menabrak seseorang. Syafa pun langsung berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil berdiri, ia pun secara takut melihat kearah orang yang di tabrak nya tadi. Namun orang tersebut menatap nya dengan tatapan datar.
"Telat?"
"I...iya pak," jawab Syafa berusaha tetap tenang.
"Saya sangat tidak suka dengan karyawan yang sering datang terlambat. Dan kamu masih karyawan baru, sudah berani terlambat dengan saya!"
"Maaf pak, tadi di jalan ada sedikit kecelakaan kecil. Dan saya harus menolong korban nya dulu, pak. Mangkanya saya terlambat." Syafa terpaksa berbohong.
"Saya tidak terima alasan dari kamu. Kalau sekali lagi kamu terlambat, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu!"
"Baiklah pak, sekali lagi saya minta maaf," ujar Syafa lagi dengan menahan segala kekesalannya.