-Married With MANTAN-
******
Sagara Alditama, pria keturunan jerman-indonesia yang baru saja memasuki usia 28 tahun ini tengah dipusingkan dengan perjodohan yang dilakukan oleh sang ibu. Tentu saja Saga sangat menentang hal itu, dia merasa seperti pria yang tidak laku saja ketika mendengar kata PERJODOHAN.
Sagara merasa dia belum siap untuk menjadi suami sekaligus ayah, jika nanti ia dan istrinya memiliki anak. Dia ingin menikah saat dia sudah siap namun di umurnya yang semakin matang ini Saga hanya ingin menikmati masa-masa dimana dia bebas berganti pasangan tanpa takut ketahuan oleh siapapun. Namun karena ini adalah permintaan sang ibu Sagara terpaksa harus mengikuti kemauannya.
Dan puncaknya malam ini dia dan keluarga besar akan bertemu dengan calon istrinya, dan langsung melaksanakan pertunangan. Ingin rasanya Sagara berteriak bahwa keluarganya sangat cepat mengambil keputusan, bahkan dia tidak tau siapa perempuan yang akan menjadi istrinya itu.
"Woy jangan ngelamun, dirasuk setan baru tau rasa!"
"Sialan, kau pergi dari sini aku sedang tidak ingin di ganggu." Usir Saga kepada sang adik yang baru saja mengejutkannya.
"Idih, mamah manggil kamu buat siap-siap kita akan ketemu sama calon abang." Saga menatap sang adik, dia merasa jika adiknya ini sangat senang jika Saga mendapatkan masalah seperti ini. Tanpa menjawab sang adik Saga langsung memasuki kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, jadi masih sisa dua jam lagi untuk Saga bersiap-siap.
Sagara duduk di samping ibu nya di ruang tamu, mereka tinggal menunggu adik perempuan Saga. Tentu saja remaja seperti adik Saga akan lama mempersiapkan diri dan hal itu membuat Saga emosi.
"Mamah harap kamu tidak mempermalukan mamah, dan jaga sikap kamu di depan calon besan mamah!" Peringat Tamara kepada sang anak, Saga hanya berdehem saja yang membuat Tamara ingin mencekik sang anak.
"Aku sudah siap!" Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai juga dengan alat make up nya.
"Tetap sama dan tidak ada yang berubah!" Kata Saga dengan nada dingin yang membuat sang adik merajuk dan mengadu kepada sang Mamah.
"Mah, liat Bang Saga. Masa ngomong sama Rika kaya gitu."
"Saga gak boleh gitu, kamu harus menghargai usaha adik kamu dong." Kata Tamara, Jelas saja Tamara membela Rika karena dia adalah anak kesayangan Tamara.
"Ya ya ya....Saga tunggu di mobil." Saga langsung berjalan keluar dari dalam rumahnya dia akan menunggu mereka di dalam mobil saja karena dia tidak suka di salahi terus menerus seperti tadi.
........
Keluarga Alditama sampai di sebuah restoran mewah yang sudah di booking oleh mereka, tidak beberapa lama sebuah rombongan juga baru saja memasuki restoran tersebut.
Tamara dan suami nya langsung menyambut mereka dengan bahagia, karena itu adalah calon besan mereka."Gita, apa kabar, sudah lama kita tidak mengobrol bareng." Sambut Tamara kepada perempuan yang bernama Gita tersebut.
"Aku baik, gimana sama kamu dan keluarga?"
"Baik juga, ayo ayo silahkan duduk." Ajak Tamara mereka bersalaman dan saling menyapa.
"Ini kenalin, Sagara Alditama dia anak sulung aku loh Git." Tamara mengkode Saga agar menyalami Gita.
"Gak nyangka ya Ra, rasanya Saga baru saja pulang dari rumah aku tapi kok udah sebesar ini." Saga hanya bisa tersenyum saja mendengar perkataan Gita, dia sudah bisa menebak jika wanita yang ada di sebelah mamah nya ini adalah calon mertuanya.
"Nah ini, anak kedua aku namanya Reksa Alditama, dan yang ini anak perempuan satu-satunya di keluarga Alditama, namanya Rika Alditama." Gita sangat kagum dengan anak-anak dari sahabatnya yang sudah beranjak dewasa semua. Suami Gita juga berkenalan dengan mereka yang ada di sana.
"Maaf ya Ra, anak aku agak telat datangnya. Dia ada klien yang ingin memakai jasa wedding organizer miliknya."
"Iya gak papa, hebat dong anak kamu sudah bisa mandiri dan cari uang sendiri." Puji Tamara.
"Ya hebat sih, tapi kadang bisa lupa pulang ke rumah aku kadang merasa seperti tidak memiliki anak saja." Mereka yang ada di sana tertawa mendengar kalimat Gita.
"Jangan heran Git, Saga juga seperti itu kadang 1 bulan sekali dia pulang kerumah. Makanya aku mau dia punya istri supaya bisa pulang dan gak kerja terus." Kata Tamara dan hal itu membuat Saga ingin pergi saja rasanya dia sangat malu sungguh.
Obrolan keluarga terus berlanjut, Para pria membahas soal bisnis sedangkan wanita malah bergosip ria. Namun obrolan mereka terhenti saat seorang perempuan menegur mereka.
"Maaf saya terlambat." Bahasa formal sangat kentara yang terlontar dari wanita yang baru saja tiba disana.
"Astaga kamu ini, Mamah kan sudah bilang jangan lama-lama coba lihat jam berapa sekarang." Gita mengomeli anaknya yang baru saja sampai. Bagaimana tidak di omeli anak perempuannya terlambat setengah jam lebih dan itu membuat Gita dan juga suaminya tidak enak terhadap keluarga Alditama.
"Jangan di marahi Git, ayo nak silahkan duduk." Kata Tamara,wanita tadi langsung duduk di hadapan Saga tanpa menatap ke arah pria itu. Sedangkan Saga terkejut dengan wanita yang baru saja tiba di meja mereka. Apa ini calon istrinya? Saga terus bertanya sampai suara sang calon Ayah mertua mengintrupsi dirinya.
"Saga kenalin ini anak Om, namanya Meysa Bramasta dan Mey itu Sagara Alditama calon kamu." Saga menjulurkan tangannya dengan gemeteran mereka yang ada di sana menunggu reaksi Meysa.
Sedangkan Meysa terkejut dengan pria yang akan menjadi tunangannya malam ini. Namun dia harus bisa menguasai diri agar tidak terlihat bahwa dirinya terkejut atas keberadaan pria tersebut.
"Saya Meysa, senang bertemu dengan anda." Saga hanya mengangguk masih belum bisa berkata dia terkejut dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang. Meysa melepaskan tautan tangan mereka yang membuat Saga kembali sadar dari keterkejutannya.
"Abang terpesona ya hahah....dia cantik kan Bang." Goda Reksa yang membuat Saga menatap sang adik dengan mata melotot. Yang langsung membuat Reksa menyatukan kedua tangannya seperti memohon ampun dari Saga.
"Mey, jangan formal ini acara keluarga sayang jadi santai saja." Kata sang ayah. Meysa hanya mengangguk saja mendengar perkataan orang tuanya.
"Jadi kita langsung saja ya, tukaran cincin dulu untuk tanggal berlangsungnya acara pernikahan nanti kita bicara kan setelah pertukaran cincin." Semua keluarga mengangguk setuju dengan perkataan Satya ayah Saga.
Tamara memberikan cincin untuk Saga agar bisa memasangkannya ke jari Meysa. Tidak ingin memperlama proses nya Saga langsung melingkarkan cincin tersebut sedangkan Meysa mengepalkan tangan kirinya di balik gaun yang ia kenakan.
Semua keluarga bertepuk tangan saat cincin itu sudah melingkar sempurna di jari manis Meysa."Sekarang giliran kamu sayang." Kata Tamara dan memberikan cincin itu kepada Meysa.
Meysa tidak sengaja menjatuhkan cincin yang dia pegang, membuat semua keluarga terkejut."Meysa jaga sikap!" Kata Endy yang melihat jika anak nya tidak menginginkan pertunangan tersebut.
"Tidak apa, mungkin nak Meysa hanya gugup." Bela Tamara, lalu dia kembali memberikan cincin tadi kepada Meysa. Dengan tangan gemetar Meysa memasukkan cincin tersebut ke jari Saga dan membuat keluarga senang saat cincin itu sudah berada di tempat yang tepat.
Semua keluarga berpelukan dan memberikan selamat kepada Meysa dan Saga. Meysa sama sekali tidak senang dengan pertunangan itu namun dia tidak bisa menolak karena dia tidak ingin mengecewakan orang tuannya lagi.
......
Sekian!
-Married With MANTAN-
*****
"Mey kamu pulang bareng sama Saga ya..." Meysa hendak menolak namun saat melihat pelototan yang di lakukan oleh Gita membuatnya mengangguk saja."Hitung-hitung kalian kenalan dulu sebelum menikah."
"Oh ya kak jangan sampe lupa jalan pulang ya." Gurau Rika yang membuat Saga melotot ingin rasanya Saga menyumpal mulut adiknya itu namun dia sadar diri harus jaga sikap di depan mertua dan tunangannya.
"Kalau gitu kami pamit duluan ya tante, om." Izin Saga
"Jangan panggil om, tante panggil Mamah, papah seperti Meysa manggil kami ya. Kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga Bramasta." Saga tersenyum."Iya Mah." Kata Saga, lalu setelah itu dia dan Meysa berjalan keluar dari restoran.
Saga hendak membuka pintu mobil untuk Meysa namun dengan cepat Meysa menepis tangan pria itu."Tidak perlu, saya bisa sendiri!" Katanya dengan nada ketus yang membuat Saga terdiam dan tidak bisa berkata lagi. Bagaimana dia harus menghadapi wanita ini jika sang wanita tidak ramah terhadap kehadirannya.
"Kita kemana?" Tanya Saga saat mobil sudah meninggalkan restoran.
"Cari cafe, saya ingin membahas soal pernikahan kita." Jawab Meysa, sebenarnya Saga bingung apa yang ingin wanita ini bahas soal pernikahan. Apa ini masalah anak? atau hal lainnya, entahlah Saga tidak bisa menebak isi pikiran Meysa sejak dulu.
Mereka telah sampai di sebuah Cafe sederhana, walaupun sudah jam 10 malam tapi cafe tersebut masih buka dan juga pengunjungnya banyak. Jadi Meysa tidak perlu merasa takut saat bersama Saga."Mau pesan apa, Mbak sama Masnya?" Tanya pelayan yang baru saja tiba di meja mereka.
"Kopi hitam, gulanya sedikit saja." Kata Meysa, Saga menatap Meysa penuh arti. Dulu Meysa tidak menyukai kopi tapi sekarang?
"Bukannya kamu tidak suka kopi?" Tanya Saga
"Apa ada masalah?" Tanya Meysa dengan nada ketus, pelayan yang sedari tadi menunggu pesanan Saga menjadi tidak enak saat tau bahwa kedua pasangan dihadapannya ini sedang tidak baik-baik saja. Saga yang menyadari ketidak nyamanan pelayan tersebut langsung menyebutkan pesanannya.
"Segelas susu coklat ya.." Dengan cepat pelayan tersebut berlalu dari hadapan Meysa dan Saga setelah dia mengulangi pesanan kedua pasangan tersebut.
"Aku hanya tidak ingin asam lambung kamu kambuh, kamu lupa bahwa orang yang terkena maag tidak bisa mengonsumsi kopi." Nasihat Saga yang membuat Meysa memutar bola matanya bosan.
"Jangan banyak omong, saya disini bukan untuk membahas tentang penyakit maag dan lainnya, disini saya ingin kita membuat perjanjian tentang pernikahan!" Ketus Meysa, perkataan itu membuat Saga heran. Perjanjian pernikahan?
"Maksud kamu?" Tanya Saga dia masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Meysa.
"Maksud saya dalam pernikahan kit----"
"Maaf menganggu Mbak, Mas. Pesananya silahkan." Pelayan tadi langsung meletakkan segelas kopi dan segelas susu coklat di atas meja. Setelah itu dia langsung pamit undur diri dari sana, Sedangkan Meysa jangan ditanya lagi wanita itu sungguh tidak suka jika pembicaraan langsung dipotong oleh orang lain. Saga menukar gelas kopi milik Meysa dengan segelas susu miliknya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak ingin kamu meminum ini dan membuat asam lambung kamu naik." Kata Saga dan membuat Meysa hendak merebut gelas kopi tersebut namun dengan cepat Saga menjauhkannya dari jangkauan Meysa.
"Kali ini saja, nurut sama aku plis!" Kata Saga, lalu setelah itu Meysa berhenti untuk merebut kembali gelas kopi miliknya. Dia duduk dengan tenang sebelum kembali dengan tujuan awalnya membawa Saga ke cafe ini.
"Saya tidak bisa berlama-lama karena masih ada kerjaan yang menunggu saya di kantor dan juga ini sudah pukul setengah sebelas malam. Jadi to the point saja saya ingin kita tidak pernah menganggap pernikahan ini benar-benar seperti pernikahan orang-orang yang ada di luar sana, seperti memiliki anak misalnya. Karena sebenarnya saya hanya ingin menyenangkan orang tua saya saja makanya saya menerima lamaran keluarga anda!" Saga sangat syok mendengar penuturan Meysa, jika perempuan ini masih belum bisa memaafkan kesalahannya di masalalu seengganya Meysa jangan menganggap remeh pernikahan mereka.
"Tidak bisa seperti itu, aku tidak ingin jika pernikahan kita hanya sebatas sandiwara saja. Aku tau, aku salah di masa lalu tapi tolong jangan mengorbankan pernikahan kita."
"Saya tidak ingin terikat dengan pecundang seperti anda, jadi turuti apa yang saya mau. Besok surat perjanjiannya akan saya kirim ke kantor anda. Selamat malam!" Meysa berdiri dari duduknya lalu mengambil tas yang ia simpan dia tas meja, jadi dia sudah menyuruh supir pribadinya untuk menjemput.
Saga ikut berdiri, dia mencekal tangan Meysa dengan erat."Aku tidak akan mengikuti kemauan konyol kamu Mey. Aku akan tetap memiliki anak dan hidup bahagia bersama kamu. TITIK!" Keduanya menjadi pusat perhatian pengunjung cafe karena teriakan Saga yang cukup keras.
"Siap-siap saja kamu akan saya permalukan!" lalu Meysa menghepas tangan Saga yang mencengkam tangannya dengan keras, dia berlalu dari sana lalu memasuki mobil yang sudah menunggu nya sejak tadi.
"Sial, Berengsek!" Maki Saga dan lagi membuat dirinya menjadi pusat perhatian, Saga mengeluarkan uang pecahan 100 ribu 2 lembar lalu menaruhnya di atas meja untuk membayar tagihan tadi. Dia langsung keluar dari dalam Cafe dan hendak menyusul Meysa namun mobil wanita itu sudah pergi dengan sangat jauh.
Saga memaki dan memukul setir mobil miliknya, dia sangat menyesal dulu atas apa yang dilakukannya kepada Meysa Bramasta. Gadis yang hitam, pendek dan dekil itu dulu tapi sekarang dia berubah menjadi wanita karir yang cantik mempesona sampai membuat Saga pangling melihat perubahan yang terjadi kepada Meysa.
Saga memutuskan untuk kembali ke rumah, malam ini dia akan menginap di sana saja karena tidak mungkin ia tidur di apartemen miliknya. Saga sampai di rumah namun tidak ada yang menyambut kendatangannya karena semua keluarga sudah tertidur, Saga melangkah ke arah kamar miliknya lalu dia membersihkan dirinya sebelum tidur.
Sedangkan di tempat lain, Meysa baru saja tiba di kantor miliknya, demi apapun ini sudah menunjukkan pukul 1 dini hari namun Meysa tidak peduli karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, dan malam ini dia akan tidur di kantor lagi. Jangan heran dia sudah terbiasa dengan hal itu karena tuntutan pekerjaan dan karena inilah ibu dan Ayahnya menjodohkan Meysa dengan Saga alasan klasik memang namun untuk orang tua seperti ayah dan ibunya tidak ada yang namanya alasan klasik jika sudah menyangkut masalah masa depan putri mereka.
Meysa melanjutkan pekerjaannya, besok ada 2 pernikahan yang menggunakan jasa wedding organizer miliknya. Bisnis ini sudah ia tekuni sejak dia lulus kuliah dulu tidak pernah terpikirkan untuk Meysa agar menjadi seorang WO namun tuhan memiliki rencana lain dan disinilah dia menjadi pembisnis dan Meysa tetap bersyukur atas apa yang di berikan oleh tuhan untuknya yah walaupun cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter tidak tercapai.
Meysa merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk dan berkutat dengan laptop dia melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan dia merasakan badannya butuh istirahat. Meysa memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar miliknya yang ada di ruangan tersebut. Karena terlalu lelah Meysa langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur dan tertidur.
......
Note : Maaf masih banyak Typo dan beberapa kata yang menurut kalian tidak cocok di lidah saat membacanya. Terima kasih
-Merried With MANTAN-
******
Besoknya Sagara terbangun dari tidur nyenyak nya, dia menatap jam yang ada di atas nakas ternyata baru jam 5 pagi. Malam ini entah kenapa tidurnya tidak nyenyak sama sekali, pikirannya berkenala entah kemana saat mengingat Meysa.
Tidak ingin membuang waktu Saga langsung bangkit dari atas ranjang dia berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamar miliknya, namun sebelum itu dia menyuruh sekertarisnya untuk mencari tahu tentang Meysa Bramasta selama ini.
Selesai mandi Saga langsung memilih Jas mana yang akan ia gunakan ke kantor hari ini. Rutinitas seperti ini Saga lakukan sendiri dia sudah terbiasa dan untung saja Saga bisa mandiri jadi dia tidak perlu khawatir dengan masalah sepele seperti ini.
Saga keluar dari dalam kamarnya, di meja makan sudah tersedia makan yang akan mengisi perutnya pagi ini. Yang menyiapkan semua ini adalah assistent rumah tangga yang akan datang ke apartemen setiap pagi dan sore hari saja untuk membuatkan sarapan dan tentunya membersihkan apartemen milik Saga. Saga memakan makanannya dengan lahap dia cukup lapar pagi ini, selesai makan Saga langsung berangkat kekantor dia tidak menggunakan supir karena Saga merasa dia bisa menyetir sendiri.
Sampai di Kantor Saga di samput oleh beberapa karyawan, mereka sangat mengagumi sosok seorang Sagara karena selain tampan saga adalah atasan yang selalu menjunjung tinggi kedisiplina.
"Selamat pagi pak." Sapa sekertarisnya Saga mengangguk lalu memasuki ruangannya di ikuti oleh sang sekertaris.
"Jadwal saya hari ini apa Nadia?" Tanya Saga, Saga membuka beberapa dokumen yang tidak sempat ia baca kemaren karena dia harus ikut makan bersama keluarga besarnya untuk mengenalkan calon istrinya.
Saga baru ingat sekarang dia adalah tunangan dari seorang Meysa Bramasta, Saga menatap cincin di jari manis miliknya lalu tersenyum. Senyum Saga membuat Nadia terpana seketika baru kali ini dia melihat atasannya tersenyum dengan lebar.
"EH..anu pak, jadwal anda hari ini. Anda ada rapat pukul 10 nanti di restoran X bersama Alaska Group lalu setelah itu anda rapat kembali bersama dengan manejer dan karyawan yang mengelola pembangunan restoran di daerah Kalimantan.
"Ada lagi?" Tanya Saga ternyata hari ini jadwal nya tidak terlalu padat.
"Maaf pak ternyata jam 3 sore anda memiliki janji temu dengan nona Meysa Bramasta." Saga mengangguk dia juga sudah tidak sabar bertemu dengan Meysa dan menanyakan apa maksud gadis itu kepadanya. Lalu setelah itu Nadia keluar dari dalam ruangan Saga dia kembali bekerja begitupun dengan Saga yang kembali dengan kesibukannya.
......
Di tempat lain Meysa sudah sibuk dengan beberapa keperluan yang ia bawa untuk persiapan pernikahan, untungnya ada beberapa pegawai Meysa sudah mendekorasi bagian luar dan dalam gedung. Meysa disibukakan dengan perias pengantin, tadi dia sudah menghubungi perias tersebut namun sampai sekarang orang yang di hubungi masih belum sampai. Acara ini di adakan pada sore hari pemberkatan dan malamnya resepsi.
"Gilang kamu sudah menghubungi Roni untuk mencarikan Perias cadangan?" Tanya Meysa, pria yang di panggil Gilang oleh mesya tadi langsung mengangguk Lalu setelah itu Meysa kembali disibukkan dengan beberapa hal sampai ia lupa jika dia melewatkan makan siang.
Jika sudah menyangkut pekerjaan Meysa akan selalu profesional dan dia ingin hasil yang maksimal, seperti saat ini dia sendiri yang harus turun tangan untuk mencari photographer karena karyawannya lupa akan hal itu.
"Bu Meysa apa anda tidak makan dulu?" Tanya salah satu karyawannya yang sejak tadi melihat bahwa Meysa tidak ikut bersama dengan mereka untuk makan siang.
"Tidak, tadi saya sudah makan roti. Jika semuanya sudah selesai makan bersihkan peralatan ini karena semuanya sudah beres dan tanyakan kepada Becca apakah dekorasi dan yang lainnya di tempat klien kita yang lain sudah selesai." Kata Meysa dia mengambil tas dan kunci mobil miliknya.
"Baik bu."
"Kalau begitu saya duluan."
"Hati-hati di jalan bu." Meysa mengangguk lalu dia keluar dari gedung dan menuju dimana mobilnya terparkirkan. Setelah ini Meysa akan kembali ke kantor karena ada beberapa hal lagi yang harus ia urus.
Beginilah rutinitas Meysa selama ini, tidak ada yang berubah dia sibuk dengan bisnisnya dan tidak pernah memikirkan soal percintaan lagi karena menurutnya itu akan membuang-buang waktunya saja. kadang teman-temannya suka jengkel kepada Meysa karena setiap mereka membawa Meysa untuk reuni SMA Meysa tidak pernah datang dan itu membuat mereka kali ini memaksanya dan Meysa tidak bisa lagi mengelak. Acara reuni akan di adakan 2 hari lagi yang mengundang beberapa kakak tingkat dan Meysa lupa jika salah satu dari kakak tingkat di sana menyukainya.
Meysa turun dari mobilnya dan dia langsung masuk ke dalam ruangan miliknya, Meysa menghela nafas dengan kasar dia sungguh sangat lelah hari ini tapi dia harus bersikap profesional agar bisa memuaskan kliennya yang menggunakan jasa WO miliknya. Setelah itu Meysa sibuk kembali dengan berkasnya sampai ia lupa jika sore ini dia memiliki janji bersama Saga.
Sedangkan di tempat lain Saga sudah sejak tadi menunggu Meysa, tapi gadis itu belum datang sama sekali dan hal itu membuat Saga geram tapi dia harus bersbar untuk sekarang. Saga kembali sibuk membaca dokumen yang di kirimkan oleh sekertarisnya tadi yang berisi tentang Meysa.
"Oh jadi pria ini yang menyukai Meysa." Kata Saga kepada dirinya sendiri dia melihat profil pria tersebut dan tersenyum. Dia tidak menyangka jika David harrison yang menyukai wanitanya. Dia mengenal David dulu, pria cupu yang ketika Saga menjemput Meysa, David selalu menatap ke arahnya dan Saga sadar sejak dulu jika David menarih perasaan kepada Meysa. Yah walaupun dulu Meysa tidak cantik namun kesan manis yang tampil di wajah Meysa membuat siapa saja akan terpesona apa lagi saat Meysa tersenyum.
Cukup lama menunggu Meysa akhirnya gadis itu datang dengan wajah datar, tidak ada senyum sama sekali yang membuat Saga bertanya-tanya diamanakah senyum yang dulu sering Meysa tampilkan untuknya. Tanpa mengucapkan apapun Meysa langsung duduk dia seperti orang yang tidak bersalah sama sekali dan masa bodo dengan keterlambatannya yang membuat Saga menunggu.
Meysa memanggil pelayan untuk memesan makannya, dia lapar sekarang dan ingin makan terlebih dahulu sebelum ia berbicara kepada Saga.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan tersebut yang baru saja datang menghampiri meja keduanya.
"Saya ingin pesan makanan, Tteokbokki, aglio olio pasta, puding mangga dan jus alpukat jangan lupa segelas wine."
Saga terkejut mendengar pesanan Meysa yang tidak biasa bukannya apa Meysa tidak mungkin kan memakan makan seperti itu namun Saga tidak berani protes. Dia hanya melihat Meysa saja jika boleh jujur Saga sangat merindukan perempuan yang ada di hadapannya ini tapi dia tidak berani mengatakannya. Sedangkan Meysa sibuk dengan ponsel yang ada di genggamannya dia sibuk membalas chatan dari para sahabatnya yang menyuruh Meysa membawa pasangan ke reuni mereka karena hanya Meysa sendirilah yang belum menikah ke 2 temannya sudah menikah semua.
"Kau tidak makan?" Tanya Meysa sesaat setelah makanan nya sudah di antar, Saga menggeleng kan kepalanya."Aku sudah makan tadi." Meysa hanya mengangguk lalu memakan makanannya dengan lahap dia tidak malu makan berantakan di hadapan Saga dan itu membuat Saga tersenyum melihat tingkah Meysa.
*****
Akun Fb : Roy Alexander Smith