Malam bulan purnama. Terlihat di sebuah hutan dengan pohon-pohon besar yang tinggi menjulang tinggi. Serigala putih terus berlari ke dalam hutan. Serigala dengan buku putih ini sebenarnya adalah Jenny yang telah diangkat menjadi Ratu di kerajaan Maraja.
Raja Bruto mengutuk putrinya untuk berubah menjadi serigala karena Jenny dengan tegas menolak perjodohan yang dilakukan ayahnya. Dengan penolakan tersebut akhirnya raja Bruto murka dan melontarkan kutukannya, mengutuk putrinya menjadi seekor serigala.
Jeny yang telah berubah wujud karena takut dibunuh oleh ayahnya yang sedang marah. Akhirnya ia lari dari istana kerajaan Maraja untuk menyelamatkan diri. Tak hanya itu, raja Bruto memerintahkan sebagian pasukannya untuk mengejar dan membunuh putrinya yang telah berubah menjadi serigala.
Dengan sekuat tenaga Jeny berlari masuk ke dalam untuk menghindari kejaran beberapa prajurit yang diperintahkan langsung oleh ayahnya. Berwujud serigala putih, Jenny terus berlari ke tengah hutan belantara, sementara ratusan tentara yang diperintahkan ayahnya terus mengejar.
Saat Jenny melewati dua pohon besar di dalam hutan, ia langsung merasa memasuki dimensi lain yang hutannya cukup tenang. Suara tentara yang mengejarnya seakan menghilang. Jenny menolehkan pandangannya. Benar saja, dia tidak melihat satupun serigala dari pasukan kerajaan ayahnya.
Karena merasa takut, pada akhirnya Jenny lari kembali melewati dua pohon besar tersebut sebelum akhirnya bertemu dengan seorang pria yang sedang berkemah di hutan.
Melihat ada serigala, laki-laki itu segera mengambil pedangnya karena takut serigala putih akan menyerangnya.
“Ayo, kalau kamu mendekat, aku akan menebas lehermu!” bentak pria itu sambil mengacungkan pedangnya.
Namun selang beberapa saat lelaki itu terdiam dan takjub karena serigala putih itu tak kunjung menjauh juga, namun ia terdiam dan duduk di posisinya. Hal itu membuat sang pria terkejut, di satu sisi ia juga merasa penasaran dengan serigala yang tidak terlihat seperti binatang buas. Hingga akhirnya pria itu terdiam sambil menatapnya.
"Jangan takut, ini aku," kata Jenny yang masih dalam wujud serigalanya.
Seketika laki-laki itu kebingungan, ia mengarahkan pandangannya ke setiap sudut untuk mencari tahu sumber suara perempuan itu. Tapi tidak ada seorang pun di hutan.
“Siapa? Siapa kamu?” teriak pria itu dengan panik. Matanya terus memandang ke setiap sudut.
"Aku sedang bicara. Hei, lihat aku," kata Jenny sambil mengibaskan ekornya.
Seketika lelaki itu terdiam, dia menatap fokus serigala putih itu. Pria itu tidak menyadari bahwa yang berbicara adalah serigala di depannya.
"Hei. Apakah kamu yang bicara?" tanya pria itu dengan sedikit gemetar.
"Ya. Aku yang bicara," jawab serigala putih.
Pria itu semakin bingung, ia belum sepenuhnya percaya, yang ia rasakan saat itu hanyalah halusinasi saja. Dia menampar pipinya sendiri untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi.
"Hah! Apakah ini nyata? Benarkah kamu yang berbicara?" Pria itu masih bingung dan tidak yakin dengan kejadian itu.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu tidak sedang bermimpi, kawan, kamu sadar," ucap Jenny dalam wujud serigalanya, lalu berjalan menghampiri pria itu.
Tiba-tiba pria itu menghindar karena takut, takut kalau serigala putih akan menyerangnya.
"Hei. Jangan takut, aku tidak akan menyerang kamu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu," ucap Jenny. Serigala itu menatap pria itu seolah memelas..
"Serigala, kenapa kamu bisa bicara? Aku tidak mengerti, aku tidak yakin dengan situasi saat ini. Lalu kamu bilang minta bantuan, apa yang bisa aku bantu?" Wajah lelaki itu masih terlihat bingung.
"Tolong bawa aku, ada orang yang mencari aku dan akan membunuhku," jelas Jenny dengan suaranya yang lembut.
"Orang? Siapa yang akan membunuhmu? Tidak ada apa-apa," jawab pria itu sambil melihat ke setiap sudut.
Namun, sesaat kemudian dia mendengar suara serigala dari kejauhan dan suara dedaunan serta semak-semak seperti ada yang memukulnya. Tiba-tiba pria itu langsung berpikir kalau itu pasti orang yang akan melukai serigala putih itu. Hingga tak banyak bicara lagi, lelaki itu langsung meminta serigala putih itu lari ke tempat persembunyiannya.
"Ayo, ayo, ikuti aku, ayo." Pria itu berteriak sambil terus lari dari tempat itu.
Jenny berlari mengikuti pria yang baru saja ia temui. Keduanya pun berlari cepat menjauhi para serigala yang tak lain adalah prajurit kerajaan Maraja yang hendak membunuh Jenny.
"Masuk ke sini, cepat masuk." Pria itu mencoba menarik serigala putih itu ke dalam gua.
Jenny terdiam setelah melihat situasi di dalam gua yang tampak diterangi beberapa obor. Namun dengan cepat pria itu memintanya untuk mengikutinya masuk lebih dalam ke dalam gua sebelum mereka berdua duduk.
"Kau di sini saja, aku ingin melihat keadaan diluar terlebih dahulu" ucap laki-laki itu yang segera berjalan menuju pintu masuk goa.
Karena takut ketahuan oleh rombongan yang mengejarnya. Akhirnya lelaki itu menutup pintu gua dengan bebatuan dan semak. Setelah itu dia terdiam sambil mendengarkan suara-suara serigala yang berlarian di dekat pintu gua. Anehnya laki-laki itu kembali mendengar percakapan serigala yang akhirnya ia menyangka bahwa itu adalah manusia. Namun, ketika dia melihat melalui celah batu, pria itu terdiam karena dia melihat serigala itu yang berbicara.
"Ini aneh, sungguh aneh. Kenapa serigala bisa bicara," ucap pria itu pelan sambil tetap mengalihkan pandangannya ke luar.
Tak lama kemudian puluhan serigala lari dari lokasi tersebut. Dengan itu, pria itu berjalan mendekati serigala putih yang sedang duduk di dekat api unggun yang dibuatnya.
Hei.Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apakah kamu punya nama? tanya pria itu lalu duduk.
"Ceritanya panjang. Namaku Jenny," jawab sang serigala, suaranya begitu lembut hingga membuatnya mengaguminya.
"Jenny? Kenalkan namaku John. Dan ini adalah rumah keduaku, aku sering menghabiskan waktuku di gua ini," ucap John menjelaskan.
"Tapi aku bersumpah. Aku tidak yakin dengan apa yang kulihat, ini sungguh aneh, kenapa kamu bisa berbicara bahasa manusia? Siapa kamu sebenarnya?" dia terus bertanya.
Saat itu Jenny menjelaskan sedikit demi sedikit agar John mengerti apa yang diceritakannya. John terdiam, ia tampak sangat serius mendengarkan apa yang Jenny katakan padanya.
"Tunggu dulu, Jenny. Jadi kamu dari dimensi lain?" tanya John penasaran.
"Iya, John. Aku dari alam lain, aku tidak sengaja menembus dimensi ini sehingga aku dibawa ke alam manusia," jawab Jenny pelan.
"Aneh. Ini sungguh aneh, kenapa kamu bisa kabur dari kerajaanmu?" tanya John, matanya tertuju pada serigala.
"Tadinya aku akan dijodohkan dengan raja dari Utara, tapi aku menolaknya. Karena itu ayahku marah dan mengutukku menjadi serigala," jawab Jenny perlahan menjelaskan.
"Jenny. Bukankah kamu manusia serigala, lalu kenapa kamu bilang terkutuk?" tanya John semakin penasaran.
"Begini. Aku bukan manusia serigala. Tapi aku sudah disempurnakan dan menjadi seorang putri. Tapi karena kutukan itu, aku sekarang terlihat seperti ini," jawab Jenny.
“Kalau kamu melihat serigala yang mencari dan mengejar aku, sebenarnya mereka mempunyai wujud yang sama denganmu. Namun karena mereka memasuki dimensi ini, mereka berubah wujud. Jika mereka kembali ke dimensinya, maka wujudnya akan seperti manusia. lagi, kecuali aku. Aku akan tetap seperti ini,” lanjutnya.
John merasa sedih mendengar perkataan Jenny. Namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Jenny. Pada saat itu mereka dikejutkan oleh suara dari arah pintu gua yang terdengar beberapa batu berjatuhan. Sontak John dan Jenny kaget mendengarnya.
*****
John meminta Jenny untuk diam di tempat. Perlahan-lahan John bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan untuk melihat keadaan pintu goa itu. Perasaannya mulai tidak karuan, takut jika sampai ada serigala yang akan masuk kedalam goa itu dan akan melukainya, melukai Jenny yang membutuhkan perlindungan.
Degup jantungnya berdetak kencang, John berusaha untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu sambil menyenderkan tumbuhnya di dinding goa itu. Matanya terus menatap kearah pintu goa yang terlihat beberapa batu yang ia letakan berjatuhan. Namun, karena John ingin benar-benar melindungi Jenny, pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekati pintu goa.
"Apa yang terjadi? Kenapa batu itu berjatuhan?" John bergumam dalam hatinya, sambil terus melangkahkan kakinya.
Tidak lama kemudian ia sampai di dekat pintu goa. Pada saat itu John tidak melihat adanya mahluk aneh ataupun binatang buas yang ada di dekat pintu goa itu. John mengarahkan pandangannya kearah luar untuk memastikan keadaan. Ketika tidak melihat ada siapa-siapa, John langsung menata ulang susunan batu itu supaya tidak ada orang atau binatang yang bisa masuk kedalam goa tempat persembunyiannya.
Setelah selesai menyusun batu menutup pintu goa itu, John kembali berjalan untuk menghampiri Jenny.
"Ada apa, John?" tanya Jenny menatap penuh kearah John.
"Tidak ada apa-apa. Sudah kita aman, mungkin gerombolan serigala itu sudah kembali," jawab John yang kemudian duduk di dekat api unggun.
"Mereka tidak akan kembali sebelum matahari terbit. Mereka masih ada di sekitar sini, John," ucap Jenny pelan.
Mendengar itu John terdiam, ia merasa heran dengan ucapan Jenny.
"Darimana kamu tahu kalau gerombolan serigala itu masih ada di sekitar tempat ini?" tanya John penasaran.
"Aku tahu, dan aku bisa merasakannya, Jhon. Jadi aku sarankan, kamu jangan keluar goa ini sebelum matahari terbit," jawab Jenny menjelaskan.
"Baik. Jika memang begitu, aku akan menuruti perkataanmu." John memanggutkan kepalanya lalu meraih minuman yang dibawanya.
John terlihat meminum air, ia juga memberikan air itu kepada Jenny. Dalam suasana itu Jenny semakin yakin kalau John adalah pria baik dan pengertian. John nampak memperlakukannya seperti teman dekatnya. Dengan begitu maka Jenny merasa nyaman berada di goa itu.
"Apa kamu mau ini," ucap John menawarkan kelinci yang sedang dipanggangnya di atas api unggun.
"Tidak, John. Terimakasih kamu sudah baik terhadapku," jawab Jenny.
"Hey, Jenny. Kamu harus makan. Kalau tidak nanti kamu sakit," ucap John merasa prihatin melihat kondisi Jenny.
"John. Aku tidak sedang lapar, sebaiknya kamu saja yang makan itu," jawab Jenny menyarankan.
"Baiklah. Akan aku makan ini semua. Tapi ingat yah, kalau kamu lapar kamu makan aja. Itu banyak, aku sudah siapkan kelinci hasil buruan. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan kelaparan," timpal John tersenyum menatap serigala putih itu.
"Terimakasih, John," jawab Jenny pelan.
Malam semakin larut. Jenny masih terduduk di dekat api unggun sambil memperhatikan John yang sedang menikmati kelinci bakar. John yang melihat Jenny terdiam seperti itu, ia merasa kasihan dan kembali menawarkan apa yang sedang di makannya.
"Aku tidak lapar, John. Kamu habiskan saja makanan itu," ucap Jenny pelan.
"Jenny. Aku lihat dan aku dengar dari nada bicaramu, kalau kamu sedang sedih. Jenny, apa kamu tidak suka tinggal di sini?" John meletakan makanannya.
"Bukan itu, John. Justru aku merasa senang dan berterima kasih kepada kamu yang sudah menolong aku," balas Jenny menjelaskan. Namun masih dengan nada yang terdengar sedih.
"Tidak, Jenny. Aku paham dengan keadaanmu. Apa yang bisa aku bantu biar kamu tidak bersedih?" John menawarkan dirinya, sambil mengusap-usap kepala serigala itu.
"Aku sedih karena jauh dari orangtuaku. Aku sedih karena wujudku seperti ini," jawab Jenny pelan. Matanya nampak berkaca-kaca.
"Hey, Jenny. Aku paham dengan situasi yang kamu rasakan. Lantas apa yang harus aku perbuat? Apa yang bisa aku bantu?" tanya John merasa sangat kasihan.
"John. Apa kamu tahu dimana letak mata air keabadian?" Jenny menanyakan sesuatu yang seketika membuat John terdiam kebingungan.
John mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jenny. John terlihat mengingat-ingat nama mata air itu. Namun ia pun belum pernah tau sebenarnya mata Ari yang disebut mata air keabadian.
"Jenny. Aku pernah mendengar nama mata air itu. Tapi aku lupa dimana mata air keabadian berada," ucap John pelan, raut wajahnya masih terlihat kebingungan.
"Ada apa dengan mata air itu, Jenny?" sambungnya.
"Menurut pembesar kerajaan, jika seseorang terkena kutukan dan ingin mengembalikan ke wujud semula. Maka orang itu harus mandi di mata air keabadian," jawab Jenny menjelaskan.
"Jadi begitu? Sebentar, Jenny. Akan aku ingat-ingat dulu dimana lokasi mata air keabadian. Karena jujur saja aku juga belum pernah kesana, dan menurut manusia sepertiku nama mata air itu hanyalah sebuah mitos yang kemungkinan kecil tidak ada dalam dunia nyata," ucap John.
"Tidak, John. Mata air itu sebenarnya ada. Akan tetapi, hanya karena energinya tinggi sehingga manusia sepertimu tidak berani berkunjung ke sana, karena jika manusia biasa mandi di air keabadian, dia bisa masuk ke alam atau ke dimensi lain," balas Jenny menjelaskan.
John terdiam seakan mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh Jeny.
"Tolong aku, John. Bawa aku ke mata air keabadian, aku ingin mandi di sana. Supaya kamu bisa melihat wujud asliku," ucap Jenny pelan, dega raut wajah memelas.
"Aduh ... Di mana lokasinya? Apa kamu tahu letaknya di mana?" tanya John yang benar-benar tidak mengetahui.
"Menurut orang-orang terdahulu. Letak air terjun keabadian ada di antara dua gunung, yang di sebut gunung kembar, dan ada di wilayah utara," jawab Jenny sedikit menjelaskan.
Seketika mata John terbelalak mendengar nama gunung kembar. John mulai terlihat senang karena ia tahu letak gunung itu. Namun letaknya begitu jauh dari posisinya saat itu.
"Jenny. Kalau nama gunung itu aku tahu, tapi itu sangat jauh dari sini. Belum lagi jika ingin kesana harus melewati hutan iblis. Hutan yang sangat dilarang untuk dimasuki oleh manusia," ucap John menjelaskan.
"Aku akan menjaga keselamatanmu, John. Asal kamu mau membantu aku untuk sampai ke mata air keabadian. Tidak hanya itu, setelah aku berubah kembali ke wujud asliku, akan aku jadikan kamu suamiku," timpal Jenny pelan.
John seketika kaget, ia menatap penuh kearah serigala putih itu sambil mengerutkan keningnya.
"Hey, Jenny. Mana mungkin aku mempunyai istri serigala? Aku kan bangsa manusia. Sudah lah niat aku hanya membantumu, tidak lebih dari itu, Jeny," timpal John sedikit tertawa sambil terus mengusap-usap kepala serigala itu.
Dalam keheningan malam itu, John dan Jenny yang semula ngobrol-ngobrol. Tidak lama kemudian, dan tanpa sadar akhirnya Jhon tertidur di dekat serigala putih itu. Goa itu nampak masih berwarna jingga dari cahaya api yang terus menyala. Jenny hanya terdiam sambil memperhatikan John yang terlelap.
***
Dalam tidurnya, John terbawa ke alam mimpi yang dimana ia dipertemukan dengan seorang perempuan cantik, berpakaian seperti ratu. Tidak hanya itu dalam mimpinya perempuan itu menyebutkan kalau dirinya adalah Jenny.
Kecantikannya di atas rata-rata, wajahnya benar-benar sangat cantik dan memiliki senyum yang teramat manis yang mampu menggetarkan hati John. Sebagai pria sejati tentunya Jhon langsung jatuh hati terhadap sosok perempuan itu. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengajak berkenalan.
"Hay, aku John. Siapa namu kamu?" Jhon mengasongkan tanganya mengajak bersalaman.
"Aku sudah tahu namamu. Aku Jeny," jawab perempuan itu tersenyum manis, matanya yang bening serata buku mata yang nampak indah dipandang membuat Jhon gemetaran.
"Jeny?" John terlihat bingung.
"Yah, aku Jenny, John," jawab perempuan itu tersenyum. Namun dengan cepat perempuan itu terbang menggunakan kain selendang berwana merah.
Sontak saja John yang masih penasaran, ia langsung memanggil-manggil nama perempuan itu. Hingga akhirnya ia tersadar dan membuka matanya. John terdiam kebingungan karena melihat keadaanya yang sedang berada di dalam goa. Nafasnya terdengar berat serta keringat dingin bercucuran.
"Kamu kenapa, John?" suara Jenny mengagetkannya.
"Hah!" Jhon terbelalak sebelum akhirnya ia tersadar kalau serigala itu itu memang bisa bicara.
John dengan cepat mengambil air minum lalu meminumnya, ia tidak langsung menjawab atau menceritakan tentang mimpinya kepada Jenny. Nafanya terdengar berat, John berusaha untuk mengatur ritme nafas dan detak jantungnya sambil menatap penuh kearah serigala putih itu.
"Kamu kenapa, John? Apakah kamu mimpi buruk?" tanya Jenny. Suaranya terdengar sama persis dengan sosok perempuan yang ada di dalam mimpi John.
*****
Dengan nafas yang masih terdengar berat, John mencoba untuk terus menenangkan dirinya meskipun ia merasa suara itu sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya. Namun ia menyadari betul kalau yang bicara dengannya itu adalah sosok serigala putih.
"Hey, John. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti itu?" tanya Jenny sambil terus mengibaskan ekornya.
"Tidak, Jenny. Tidak ada apa-apa," jawab John dengan nada yang terdengar gugup.
"Aku tahu. Pasti kamu bermimpi kan? Apa kamu mimpi buruk?" Jenny berusaha mencari tahu.
John hanya terdiam seoalah tidak ingin menceritakan tentang mimpinya. Namun saat itu Jenny terus memintanya untuk bercerita. Sehingga akhirnya John mau menceritakan tentang mimpinya di malam itu. Jenny mendengarkan baik-baik apa yang diceritakan oleh Jhon yang terlihat seperti orang sedang penasaran dengan sosok perempuan yang ada di alam mimpinya.
"Dia itu namanya sama sepertimu, dia juga memiliki nama Jeny," ucap John meyakinkan.
"Apa kamu lihat wajahnya? Bagaimana dia berpakaian?" tanya Jenny penasaran.
"Dia memiliki paras yang sangat cantik. Mengenakan pakaian layaknya seorang putri. Perempuan itu sungguh luar biasa, Jenny. Seumur hidup aku baru tahu ada perempuan secantik itu berparas seperti bidadari yang turun dari langit," jawab John menjelaskan.
"Sudah lah, John. Itu hanya mimpi. Sebaiknya kamu tidur lagi saja, aku akan menjagamu," ucap Jenny menyarankan.
"Tidak, Jenny. Aku sungguh-sungguh penasaran dengan sosok perempuan itu. Entah kenapa aku merasa jatuh cinta saat itu juga. Dia perempuan yang terlihat indah, aku ingin perempuan seperti itu, aku ingin menikahi perempuan itu," balas John yang sudah merasakan ada getaran cinta dalam hatinya.
"John. Jika memang kamu benar-benar ingin melihat perempuan itu lagi, kamu lebih baik tidur lagi. Siapa tahu kamu nanti bertemu lagi di alam mimpi," ucap Jenny kembali menyarankan.
"Benar juga. Baiklah, aku akan tidur lagi, semoga saja aku bermimpi denganya kembali," timpal John yang langsung membaringkan tubuhnya tepat di posisi semula.
Beberapa saat kemudian John kembali terlelap. Namun Jhon benar-benar terlelap dan tidak bermimpi seperti sebelumnya. Dalam diam itu Jenny sambil memperhatikan John, ia juga meyakini kalau perempuan yang dilihat oleh John di alam mimpi, tidak lain adalah dirinya.
***
Pagi itu John terbangun, dengan raut wajah yang masih terlihat mengantuk ia memperhatikan setiap sudut goa. Seketika Jhon terbelalak karena tidak melihat adanya serigala putih di goa itu. Sontak saja hal itu membuat John panik, ia langsung bergegas mencari serigala putih itu. Anehnya pintu goa itu masih tertutup oleh bebatuan yang ia susun. Jhon terdiam kebingungan.
"Jenny ... Jenny." Jhon berteriak-teriak memanggil.
John terlihat mencari-cari serigala putih itu. Namun John seketika tersenyum ketika melihat serigala putih itu tertidur di atas bebatuan yang ada di dalam goa itu.
"Hey, Jenny. Rupanya kamu tidur di situ, aku pikir kamu keluar," ucap John tersenyum menatapnya.
Selang beberapa saat serigala putih itu terbangun. Terlihat John yang sedang menikmati minuman panas. Serigala putih itu melompat lalu berjalan mendekati John.
"Jenny ... Kamu sudah bangun. Kamu mau minum ini?" John langsung memeluk serigala itu.
"Terimakasih, John," jawab Jenny kemudian duduk.
"Aku kecewa, Jenny. Semalam aku tidak bertemu lagi dengan perempuan itu," ucap John sambil mengunyah makanan.
"Sudahlah, John. Itu hanya mimpi. Kamu bisa kok mendapatkan yang lebih cantik dari perempuan itu, dan bahkan kamu bisa mendapatkan kekayaan juga," balas Jenny dengan suara lembut.
Jhon mengarahkan kedua bola matanya, menatap penuh kearah Jenny.
"Apa? Aku bisa mendapatkan yang lebih dari perempuan itu? Aku bisa mendapatkan kekayaan? Bagaimana caranya, Jenny?" Jhon terlihat kebingungan.
"Yah kamu bisa mendapatkan itu semua asalkan kamu bisa membantu aku," jawab Jenny.
"Jenny. Aku pasti membantumu. Tapi kalau untuk perempuan secantik dia, rasa-rasanya tidak akan mungkin. Tidak akan ada perempuan yang secantik dia, bagaimana aku bisa bertemu denganya di alam nyata? Itu mustahil," ucap John merasa tidak yakin.
"Kamu harus yakin dengan hatimu, John. Jika kamu benar-benar ingin bertemu dengan perempuan yang ada di alam mimpi itu. Kamu harus yakin. Syaratnya cuma satu. Kamu cukup membantu aku. Dengan begitu, maka kamu akan bertemu dengan perempuan itu," balas Jenny pelan.
"Jenny. Kamu jangan menghiburku seperti itu. Tidak ada perempuan seperti itu, Jenny. Dan jangan bilang kalau perempuan itu adalah kamu," timpal John menunjukkan jari telunjuknya.
"Kalau perempuan itu benar aku. Kamu mau apa?" tanya Jenny, suaranya terdengar sangat lembut.
John terdiam sejenak sambil menatap serigala putih itu.
"Tida mungkin. Dia itu perempuan sedangkan kamu kan serigala. Kamu ini aneh," ucap John kembali mengunyah makanan di mulutnya.
"Sebentar. Tapi jujur, suaramu itu sama persis dengan apa yang aku dengar ketika aku melihat perempuan itu, Jenny. Aku sempat berfikir bahwa itu memang kamu. Tapi rasanya itu tidak mungkin," sambungnya.
"Mungkin saja. Sekarang aku mau tanya, jika memang itu benar aku. Kamu mau apa?" tanya Jenny.
"Kalau itu benar kamu. Aku akan menikahi kamu," jawab John lalu tertawa.
Setelah ngobrol-ngobrol itu, kemudian John mengajak Jenny untuk keluar goa itu. Tanpa berlama-lama lagi keduanya berjalan kearah pintu goa. Dengan hati-hati John menurunkan batu-batu yang menutupi pintu goa itu. Setelah selesai John dan Jenny langsung melangkah keluar.
Terlihat hamparan tumbuhan yang hijau serta pohon-pohon besar ada di hadapan mereka. Pagi itu udara terasa sejuk. John melebarkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar.
"Sumpah, ini enak banget. Jenny, aku akan menepati janjiku untuk membatu kamu sampai di mata air terjun keabadian," ucap John sambil mengusap kepala serigala itu.
"Baik, Jhon. Terimakasih," jawab Jenny singkat.
Tidak berlama-lama lagi, John langsung mengemas semua perlengkapannya. Setelah siap dengan semua itu. John langsung mengajak Jenny untuk berjalan kearah utara menuju gunung kembar yang dimana tempat air terjun keabadian berada. Mereka berdua menyusuri hutan itu, melewati sungai, lembah yang terjal.
Disitu Jenny terus memperhatikan John, ia merasa benar-benar yakin terhadap sifat baik John yang tulus membantunya. Sehingga Jenny benar-benar merasa nyaman dengan adanya John yang menunjukkan kalau dia adalah pria sejati.
"Jenny. Jika kita ingin kesana, kita harus menyebrangi sungai ini. Apa kamu bisa berenang?" tanya John.
"Bisa, John. Sebaiknya kamu hati-hati, aku tau sungai ini sangat dalam, dan arusnya juga kuat," jawab Jenny.
"Oke baik, aku akan perlihatkan cara berenang yang benar," timpal John yang langsung menceburkan kedalam sungai itu.
BURRR...
John berenang dengan cepat, namun seketika ia terlihat kesusahan dan terbawa arus sungai yang deras. Melihat hal itu, Jenny yang masih berada di pinggir sungai langsung melompat dan berusaha menolong John yang hampir hanyut terbawa aliran arus sungai yang deras.
Dengan cepat Jenny menarik tubuh John dan membawanya kepinggir. Jhon tersengal-sengal, ia tidak menyangka akan terjadi sesuatu bisa mengancam keselamatannya. Namun disitu John beruntung bisa diselamatkan oleh Jenny.
"Terimakasih, Jenny. Untungnya ada kamu, jadi aku bisa selamat," ucap Jhon sambil naik ke daratan.
"Iya, John. Lain kali, hati-hati, jangan ceroboh," jawab Jenny mengingatkan.
"Baik, Jenny. Ayo kita jalan lagi," balas John sambil melangkahkan kakinya.
Keduanya melanjutkan perjalanan, kembali memasuki hutan yang terlihat gelap karena pohon-pohon yang rimbun. Pada saat seperti itu, tiba-tiba saja keduanya dihadang oleh seekor harimau yang berukuran besar. Sontak saja John kaget, matanya terbelalak, ia langsung mencabut pedangnya.
Harimau itu menatap tajam kearah John dan Jenny yang berwujud serigala. Suaranya terdengar menggelegar, tak sampai disitu beberapa ekor harimau berdatangan. Hal itu semakin membuat John ketakutan.
"Hah! Bagaimana ini?" John terlihat gemetaran, ia mulai ketakutan melihat banyaknya harimau yan ada di depannya.
*****