"Mungkinkah aku meminta, kisah kita selamanya. Tak terlintas dalam benakku, bila hariku tanpamu. Segala cara telah kucoba pertahanan cinta kita, selalu kutitipkan dalam doaku, tapi ku tak mampu melawan restu ...."
Clara terus mengulang lirik yang sama dari lagu berjudul Melawan Restu dari Mahalini tersebut. Karena lagu itu sangat mewakili perasaannya saat ini. Ia tidak direstui menikah dengan pacar beda agamanya yang bernama Algo.
Ya ... mereka sudah berpacaran sejak dua tahun yang lalu. Mereka bertemu ketika Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).
Algo merupakan kakak angkatan Clara yang merupakan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang dikenal dengan ketampanan dan sikap dinginnya. Bahkan banyak yang memanggilnya kulkas berjalan.
Kala itu, secara tidak sengaja ... Clara sudah menumpahkan minuman dingin ke almamater milik Algo. Alhasil laki-laki itu marah dan memintanya untuk mencuci. Ia pun menurut saja, pasalnya memang ia yang salah.
Ia sering dihukum oleh Algo karena alasan dendam. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Ia mulai menyukai Clara karena sikapnya yang berbeda dari gadis lain. Ia mampu memikat hatinya dalam waktu yang singkat. Wonderful!
Setelah kejadian itu ... mereka sering bertemu dan menjadi semakin dekat. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk pacaran. Namun, hubungan mereka dipenuhi bara api karena terhalang restu orang tua. Pasalnya, mereka berbeda keyakinan dan tetap bersikukuh untuk mempertahankan kepercayaan masing-masing.
"Kalau saja Mama sama Papa memberikan restu untuk hubungan Clara, mungkin sekarang Clara nggak akan kabur dari rumah," gumamnya dalam hati.
Ia menghela napas panjang dan mulai memejamkan mata. Karena hari ini ia menginap di kos sahabatnya, Caca. Hatinya gundah setiap kali hubungannya dengan Algo ditentang orang tua.
"Ra, kamu udah tidur?" tanya Caca.
Ia mengambil selimut untuk sahabatnya ini. Kemudian, menyelimutkannya ke tubuh gadis itu.
"Belum," jawabnya.
Ia hanya memejamkan mata untuk menenangkan diri. Batinnya sangat lelah dan tertekan.
"Cepetan tidur, besok kita harus berangkat kuliah pagi. Soalnya besok ada Pak Arya. Duh ... jadi nggak sabar pengen cepet-cepet ngampus," ujar Caca.
Matanya berbinar seperti rembulan malam. Senyum di bibirnya terukir sempurna. Karena ia merupakan salah satu fans fanatik dosen tampan itu. Tidak hanya tampan, tapi juga ... penuh rahasia.
"Ra, kamu kok diam aja? Aku lagi ngomong sama kamu, loh."
Ia menatap Clara penuh tanda tanya. Pasalnya hari ini ia terlihat tak bersemangat sama sekali. Bahkan ia datang ke rumah kosnya secara tiba-tiba. Itu pun langsung nyelonong masuk tanpa salam atau pun sepatah kata.
"Aku denger, kok. Lagi nggak mood jawab aja," celetuknya.
"Kamu ada masalah sama Mama kamu lagi?" tanya Caca penasaran.
Pasalnya ia tahu jika hubungan Clara dan Algo ditentang oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya saja ... mereka tetap berhubungan. Karena sudah terlanjur jatuh cinta. Namun, apakah cinta bisa bertahan selamanya?
"Kamu pasti tahu sendiri jawabannya, 'kan?"
Ia mendengus kesal. Karena perkataan mamanya tadi pagi sangat menusuk hati. Dengan tega ia mengatakan jika Clara anak durhaka. Tapi ia juga tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia telanjur jatuh cinta pada Algo.
"Makanya akhiri aja hubungan kamu sama Algo. Lagi pula kalian nggak akan pernah bisa bersama, Ra. Ingat! kalian beda keyakinan. Seamin tapi tak seiman," peringat Caca.
"Nggak bisa, dong. Aku sama Algo udah dua tahun pacaran. Masak iya harus putus gitu aja. Apakah hanya karena masalah keyakinan. Aku mau kok masuk ke agamanya dia," sahut Rara.
Caca menatap sahabatnya ini penuh arti. Di satu sisi ia terharu dengan kisah cinta mereka yang langgeng. Namun di sisi lain ia tak mau sahabatnya menjadi murtad (keluar dari agama Islam).
"Jangan ngomong gitu, Ra. Kamu nggak boleh jadi murtad. Nggak takut siksa api neraka apa?"
"Kemarin aja bilangnya nggak mau masuk agama Algo, kenapa sekarang berubah pikiran?"
Ia geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang terlihat santai dan penuh keyakinan melontarkan kata-katanya.
"Tahu ah, mendingan kita tidur aja. Besok pasti Pak Arya bakalan nunjuk aku lagi buat maju. Menyebalkan emang tuh dosen," kesal Clara.
"Harusnya kamu seneng dong, itu tandanya Pak Arya perhatian sama kamu. Atau jangan-jangan ...."
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Clara bergetar.
Drt ... drt ... drt ....
"Ra, ponsel kamu bergetar tuh. Kali aja ada notifikasi penting," tunjuk Caca pada benda pipih di meja belajar.
"Siapa sih yang ganggu malam-malam begini? Nggak tahu apa lagi sedih," gerutunya.
Ia memasang muka cemberut. Karena pasti itu hanya pesan dari nomor tidak dikenal yang menawarkan pinjaman dana. Hal itu sudah biasa ia terima akhir-akhir ini. Padahal ia tak merasa ingin menjadi pengusaha, tapi notifikasi itu selalu muncul di layar ponselnya.
"Buka aja, Ra! Kalau ternyata itu dari pacar bucin kamu itu bagaimana? Nanti dia ngambek loh, kalau kamu cuekin. Ntar diambil orang gimana?"
Karena perkataan Caca barusan, ia langsung beranjak dari kasur dan mulai mencari benda pipih berwarna merah muda itu.
"Yeay, kalau tentang Algo aja cepetnya ngalahin macan tutul," ejek Caca.
Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah berubah.
Saat membuka layar ponsel, ia tertegun. Ia pun mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya ini tak biasa ia terima. Sangat asing.
"Siapa, Ra?" tanya Caca penasaran.
Pak Arya
BESOK TOLONG TEMUI SAYA DI GUDANG KAMPUS. JANGAN SAMPAI TERLAMBAT. KARENA INI MENYANGKUT NILAI IPK KAMU. SATU LAGI, DATANG SENDIRI! JANGAN BAWA TEMAN!
Ia masih membaca pesan singkat, tapi panjang itu secara berulang-ulang untuk menyadarkan dirinya sendiri. Karena ini sangat aneh dan ambigu.
"Clara! Siapa yang mengirim pesan? Jangan bikin penasaran, kenapa?" kesal Caca. Ia mulai beranjak dan melihatnya sendiri.
"Ya ampun, Clara. Demi apa Pak Arya ngirim pesan malam-malam begini? Kami disuruh ke gudang lagi. Pasti disuruh beres-beres, soalnya kan kemarin kamu absen," tebak Caca.
Ia menertawakan sahabatnya yang masih berdiri mematung. Ia masih mencerna maksud pesan dosennya ini. Karena ini pertama kalinya sang dosen mengirimkan pesan padanya.
"Clara, kok malah bengong sih!" sergah Caca kesal.
Pasalnya ia tak bereaksi apa pun. Jika saja itu mahasiswi lain, pasti langsung jingkrak-jingkrak saking senengnya.
"Aku malah ngerasa aneh sama nih dosen. Nggak biasanya ngirim pesan kayak gini. Apalagi memakai kalimat yang dibold," ucap Clara penuh curiga.
"Ya ampun, Ra. Positive thingking, kenapa? Bisa jadi kamu bakal dipersunting di dalam gudang, maybe."
Ia masih tak kuat menahan tawa. Pasalnya ekspresi Clara menunjukkan jika gadis itu kurang nyaman dengan pesan dari dosen tampan tersebut.
"Hitung-hitung cari keuntungan, Ra, bisa bertemu dosen tampan secara privat. Walaupun hanya di dalam gudang," ejeknya. Ia nyengir tak berdosa. Ingin rasanya menonjok mukanya, tapi ia tahu jika Caca adalah sahabat paling baik.
"Kayaknya Pak Arya punya maksud terselubung, deh. Apa iya ... ada dosen yang menyuruh mahasiswanya menemui di gudang? Kenapa tidak di kantor dosen saja? Aneh nggak, sih?"
Pertanyaan itu terus bergejolak dalam pikirannya. Ia bukan gadis bodoh yang akan menganggap itu hal yang wajar. Karena hanya dosen itu yang sikapnya aneh padanya. Hal itu membuatnya kurang nyaman saat di kampus.
"Iya juga ya, Ra. Perasaan ya dosen kalau mau manggil mahasiswanya pasti ke ruang dosen. Tapi ini kok beda sendiri. Atau ... Pak Arya ingin berbeda dari yang lain? Kan dia paling tampan tuh di antara semua dosen. Bisa jadi kebijakan yang diterapkan juga beda," pikir Caca.
Tak tahu benar atau salah yang penting berkomentar. Karena mahasiswi kedokteran penuh dengan ambisi dan suka mengkritik orang lain, tapi ... hal itu hanya berlaku untuk mahasiswi seperti Caca.
"Tahu, ah. Kita lihat saja besok. Sekarang ayo tidur, mataku sudah nggak kuat nahan rindu," ucapnya.
"Gadis aneh, mana ada yang merasakan rindu itu mata. Mata gunanya untuk melihat Clara. Aku jadi curiga bagaimana cara kamu bisa masuk fakultas kedokteran. Fungsi mata saja kamu nggak tahu," sergah Caca.
Namun, Clara sudah terlelap dalam dunia mimpinya. Ia cepat sekali tidurnya. Padahal baru lima menit mereka mengobrol. Caca pun membenarkan selimut sahabatnya, kemudian menyusul tidur di sampingnya.
Ia pun memikirkan hidupnya sendiri yang sulit mendapatkan cinta. Padahal ... wajahnya tidak jelek-jelek amat. Tapi entah mengapa tidak ada laki-laki yang mendekati dirinya.
Dulu sewaktu Ospek, ia pernah berkenalan dengan seseorang dan menyukainya. Namun, ternyata dia sudah berada di pelukan orang lain. Memang ... kapan datangnya cinta tidak ada yang tahu. Karena semua akan indah sesuai takdirnya masing-masing.
"Have a nice dream, Clara."
Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya. Jujur saja ia sedikit ragu untuk menemui dosennya. Tapi ia takut jika ini memang menyangkut nilai IPK-nya.
"Ayo Clara, jangan takut. Pak Arya juga manusia seperti kamu. Nggak ada yang perlu ditakutin," lirihnya.
Ia mencoba bersikap tenang. Karena ia gadis pemberani, tidak perlu takut dengan dosen muda seperti Pak Arya.
Kemudian, berjalan pelan menuju gudang. Tak lupa ia membenarkan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin.
....
"Akhirnya kamu datang juga Clara Marshita Anjelika!" seru Pak Arya.
Ia menyerigai ke arahnya. Hal itu membuatnya bergidik ngeri. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari dosen paling famous di kampus. Ternyata ... tidak sebaik yang ia kira.
Hal itu nampak pada caranya memandang Clara. Terlihat seperti seorang psikopat yang ingin menelan mangsa. Dalam hatinya selalu berdoa agar tidak terjadi apa-apa setelah ia keluar dari tempat gelap ini.
Ia merasa terkutuk bisa memiliki dosen seperti Pak Arya. Jika saja ia bisa, ia pasti akan mengutuk dosen killer itu menjadi katak. Kalau perlu semut sekalian.
Dan orang itu berjalan ke arahnya dengan langkah yang membuatnya merinding. Matanya terus tertuju padanya tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya seolah mengisyaratkan sebuah misi. Tapi ia tetap mencoba bersikap tenang agar Pak Arya tidak curiga.
Ia memejamkan mata dan ... ternyata Pak Arya hanya menatapnya sekilas saat berada tepat di sampingnya, kemudian melalui dirinya. Ia mencoba melirik dan mendapati dosennya sedang berdiri di ambang pintu gudang.
Kreeeeekk!
Pintu itu tertutup sempurna. Tak lupa pria itu mengunci mereka dari dalam. Ia pun tambah tidak mengerti dengan maksud sang dosen. Satu kata yang menggema dalam batinnya, aneh.
"Ya Tuhan ... kenapa pintunya dikunci? Apakah Pak Arya akan melakukan kejahatan padaku? Tenang Clara, tenang. Jangan mikir aneh-aneh," gumamnya dalam hati.
Ia ingin bersuara. Namun masih merancang kata-kata yang tepat untuk dilontarkan pada dosen mencurigakan ini. Karena jika salah ngomong satu kata saja, bisa habis dirinya nanti.
Pak Arya dosen yang killer, meskipun wajahnya kalem dan rupawan. Namun saat ini, yang Clara lihat adalah mata tajam dosen itu yang mirip dengan psikopat. Ia seperti bersiap untuk melukai korbannya.
"Kenapa Clara? Kamu bingung?"
Tiba-tiba, ia membuka percakapan yang semula sangat hening. Ia terlihat aneh hari ini. Pakaian yang rapi, tubuh yang wangi, dan ... terlihat seperti pengantin.
"A-ada apa ya, Pak? Kenapa saya dipanggil?" tanyanya terbata-bata.
Entah karena ia takut, atau karena bingung. Bicaranya menjadi terbata-bata seperti orang gagap. Ini bukan dirinya. Ia tipikal gadis yang tegas dan banyak bicara.
Pikiran-pikiran negatif terus muncul dalam benaknya. Pasalnya gudang ini sangat gelap dan kotor. Untuk apa dosen bertemu mahasiswi di tempat seperti itu, kalau bukan punya maksud tertentu?
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tawar Pak Arya tiba-tiba.
Ia tersenyum ke arah gadis yang gemetar itu. Ia meneliti penampilan Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pakaian selututnya menarik perhatian sang dosen.
Karena merasa diperhatikan, ia pun menutupi kaki jenjangnya dengan selendang yang ia kenakan. Ia merasa aneh jika diperhatikan secara intens begini. Karena yang ia lihat sekarang bukan Pak Arya yang mengajar di kelas, melainkan seorang psyco yang menakutkan.
"Rupanya gadis ini pemalu," gumam Arya menyerigai.
"Kesepakatan apa, Pak?" tanya Clara penasaran. Ia harap ini bukan kutukan akibat kemarin membentak mamanya.
"Saya bisa memberikan kamu nilai paling bagus di kampus. Itu artinya ... kamu tidak perlu ikut ujian dan tes sana-sini. Kamu tinggal menuruti syarat dari saya," ujarnya.
Clara mengeryitkan dahi. Ia tak paham dengan maksud pembicaraan sang dosen. Tapi ... ia tertarik untuk mengetahui syarat yang ia ajukan.
"Syarat? Apa syaratnya, Pak?" tanyanya. Ia menaikkan sebelah alisnya.
Arya menatapnya dengan intens. Seperti ingin membakar dirinya hidup-hidup. Apalagi sedari tadi, kaki jenjangnya menarik perhatian mata. Meskipun sudah ditutupi selendang, namun tetap kelihatan. Karena selendang yang ia kenakan sangat tipis.
Hal itu menampakkan lekuk kakinya, meskipun remang-remang.
"Syaratnya sangat mudah dan kamu pasti juga menginginkan hal ini. Karena ... tidak ada yang berani menolak syarat yang saya ajukan," ucapnya dengan bangga.
'Nih dosen kepedean banget, deh. Muka doang ganteng, ternyata kelakuan nggak lebih dari seorang iblis' gumam Clara.
Ingin rasanya ia mengeluarkan umpatan dan makian pada dosennya ini. Namun ia tahan, karena jika sampai itu terjadi ... masalahnya akan tambah runyam. Ia bisa dikeluarkan dari kampus karean alasan yang konyol.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak ingin mendengar syaratnya? Saya yakin, hidupmu akan berubah seratus delapan puluh derajat," ujar Arya. Hal itu membuat Clara semakin penasaran.
"Tidak usah bertele-tele, langsung to the point saja Pak! Saya tidak suka dengan kalimat yang bertele-tele. Membuang waktu saja," ketusnya.
Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba ia menjadi gadis pemberani di depan dosen killer-nya ini. Biasanya ia menundukkan pandangan jika Pak Arya yang mengajar.
Aura keberanian dalam dirinya seakan keluar dari jiwa. Hal itu membuatnya semakin berani, ketika dosen kurang ajar ini dengan berani menatap dirinya.
"Menikah dengan saya!" seru Pak Arya.
Deg!
Syarat macam apa ini? Ia sama sekali tidak pernah menduga jika dosennya ini ternyata mengincar dirinya. Pantas saja setiap kali mengajar, selalu namanya yang disebut dan disuruh ini itu. Ternyata ada maksud terselubung di balik itu semua.
"Apa? Menikah dengan Bapak?"
Ia menepuk pipinya. Berharap ini hanyalah mimpi buruk yang menjadi bunga tidur saja. Ia tidak ingin menikah dengan orang lain, kecuali kekasihnya ... Algo.
Tak pernah terpikirkan olehnya, jika dosennya ini sangat kurang ajar. Bisa-bisanya menyuruh dirinya ke gudang yang gelap hanya untuk menyatakan hasratnya. Apakah ia layak disebut dosen yang teladan? Bahkan ia tak lebih dari seorang buaya buntung.
"Iya, menikahlah dengan saya! Saya akan memberikan kebahagiaan tiada tara hanya untuk, Adinda."
Ia berlutut di hadapan Clara. Kemudian mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat gemerlap. Rasanya seperti melihat bintang di malam hari. Apalagi di tengah kegelapan seperti ini.
"Maaf, saya tidak tertarik dengan tawaran Anda. Karena saya sudah memiliki pacar dan segera menikah," jawabnya asal.
Ia sendiri tidak tahu mengapa mulutnya tidak bisa mengerem kalau ngomong. Padahal ia tidak akan menikah, orang hubungannya saja tidak mendapatkan restu dari orang tua. Bagaimana bisa langsung menikah?
"Kamu bisa meninggalkan pacar jelekmu itu. Kamu perempuan paling beruntung karena bisa menyentuh hati saya. Saya sangat mencintai kamu, Clara Marshita Anjelika! Will you marry me?"
Ia masih berlutut dengan cincin yang ia sodorkan pada gadis itu. Ia terlihat sangat percaya diri. Karena merasa yakin jika Clara tidak mungkin menolak dosen tampan yang memiliki banyak fans.
Namun, harapan itu salah. Dengan keras Clara menampik cincin lamaran itu. Karena ia merasa jijik dengan dosennya ini. Cara yang ia lakukan terkesan murahan baginya. Karena sama saja ia adalah pecundang. Tidak berani datang ke orang tuanya seperti yang kekasihnya lakukan.
"Maaf, Anda ini sedang bermimpi! Tolong segera bangun dari mimpi Anda! Karena saya bukan gadis seperti fans-nya fanatik Anda di luar sana. Saya merasa jijik dengan sikap Anda yang seperti ini. Terkesan norak. Dan satu lagi ... saya tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak saya cintai. Anda bukan tipe saya!" tegas Clara penuh penekanan.
Tanpa rasa ragu dan goyah sedikit pun, ia menolak dengan tegas ajakan dosennya untuk menikah. Karena ini sangat aneh. Mereka hanya sebatas mahasiswi dan dosen, tidak lebih dari itu.
Bahkan orang seperti Pak Arya adalah orang yang paling Clara benci. Karena sok kepedean, sok berkuasa, dan yang lebih parah lagi ... menyalahkangunakan kekuasaan untuk menguntungkan diri sendiri.
Benar-benar menjijikkan!
"Jangan asal bicara kamu! Kamu pikir siapa dirimu bisa menolak saya seperti itu? Kamu pikir dirimu sudah cantik dengan menolak saya? Jika dengan cara halus tidak bisa, saya akan menggunakan cara kasar untuk mendapatkan kamu!"
Brakk! Brakk! Brakk!
Ia menggebrak pintu gudang yang terbuat dari besi itu. Berharap ada yang membukakan pintu untuknya. Ia sangat takut dengan kemurkaan Pak Arya yang ingin menelannya hidup-hidup.
"Toloooonggg! Toloooonggg! Toloooonggg!"
Teriakan Clara menggema di dalam gudang. Namun tiada guna ia berteriak sekencang apa pun. Pasalnya ... suara dari dalam tidak bisa terdengar dari luar. Namun, suara dari luar bisa terdengar dari dalam.
"Teriaklah sekencang-kencangnya, Sayang! Karena tidak akan ada yang mendengar suara kamu. Karena ruangan ini kedap suara. Jadi suaranya hanya terdengar dari dalam saja," ucap Arya menyerigai.
Ia berjalan ke arah gadis itu dengan langkah mematikan. Setiap langkahnya membuat Clara semakin ketakutan. Matanya sudah berkaca-kaca dan ingin mengeluarkan cairan bening dari sana.
"Pergi! Jauhi saya!" teriak Clara.
Ia berlari menjauh dari laki-laki psyco itu. Rasanya ingin meminta tolong sahabatnya, Caca. Namun ia tadi menolak untuk ditemani olehnya. Alhasil ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
"Berlarilah sekencang yang kamu mau, Sayang. Karena ujung-ujungnya kamu akan jatuh ke dalam pelukan saya," ujarnya.
"Ha-ha-ha!"
Arya tertawa jahat persis seperti iblis. Ia memang iblis berwujud manusia. Selalu ingin ambisinya terpenuhi. Apalagi setan sudah merasuki tubuhnya, hingga terbesit pikiran kotor dari otaknya.
Kini ... Arya semakin mendekat. Gadis itu berjalan mundur, mundur, dan mundur. Sesekali ia menengok ke belakang yang sudah hampir ke tembok. Satu langkah saja akan mengantar punggungnya menabrak tembok.
"Mari bersenang-senang, Sayang."
Arya menangkap tubuhnya. Ia memegang tangan Clara dengan erat. Hingga ia tak bisa melepaskannya.
"Lepas! Lepas atau saya akan teriak!" ancam Clara tak main-main. Ia mencoba untuk tidak takut, karena situasi yang ia hadapi sangat sulit. Ingin menghubungi seseorang, tapi ponselnya ada di kelas. Ingin berteriak minta tolong, tapi percuma.
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus menerima tawaran sang dosen agar bisa keluar? Hanya orang bodoh yang putus asa.
"Argghh."
Clara menggigit tangan Arya kuat-kuat. Ia seperti seorang vampir yang haus darah. Kemudian menginjak kaki pria kurang ajar itu dengan hentakan yang kuat.
"Awwww!" pekik laki-laki kurang ajar itu.
Akhirnya ia lepas dari genggaman dosennya. Namun ini bukan berita baik juga, karena ia masih terkunci di ruangan yang ia anggap neraka itu.
Brakkk! Brakk! Brakkk!
Meskipun caranya bodoh, ia tetap melakukannya. Setidaknya ada usaha agar bisa keluar dari sana.
"Siapa pun tolong keluarin aku dari sini! Heiiii ... toloongg!"
"Dasar gadis sialan. Berani sekali dia," cerca Arya. Ia bangkit dan berjalan ke arahnya.
Bisa dipastikan seperti apa ekspresinya saat ini. Ia sangat marah, karena Clara semakin ngelunjak. Untung saja tadi ia sempat mengunci dari dalam. Jadi tidak, maka akan ada yang bisa menggagalkan rencana busuknya.
....
"Jangan lakukan ini, Pak," pinta Clara berkaca-kaca. Ia menahan tangan kekar itu untuk tidak sampai menyentuh barang berharganya.
"Kenapa? Kamu pasti akan menikmatinya, Sayang."
Ia tetap melakukan hal tak senooh itu. Ia memaksakan kehendaknya pada gadis yang tak berdosa. Ia seperti buaya yang kelaparan. Seenak jidat menyentuh bagian tubuh Clara.
"Jangan, Pak. Jangan lakukan itu, saya nggak mau. Hiks ... hiks ... hiks ...."
Ketika Arya mencoba membuka kancing bajunya satu per satu, ia menangis histeris. Dengan susah payah ia menjaga kesuciannya, tapi laki-laki di hadapannya ini malah ingin merenggutnya begitu saja.
Bagaimana caranya ia bilang ke mama dan papanya nanti? Apa kata suaminya kelak jika istrinya sudah tak perawan lagi? Apa kata masyarakat jika seorang gadis direnggut kesuciannya?
Pikiran seperti itu terus menyelimuti otaknya. Ia tak bisa berkutik sekarang. Karena Arya mengunci tubuhnya. Hingga untuk bernapas saja harus seizin pria tak punya otak itu.
Hidupnya seperti kiamat, orang di hadapannya ini ibarat Malaikat Izrail yang siap mencabut nyawa hamba yang akan tiada. Seperti itulah rasanya berada di posisi gadis itu.
"Makanya jangan sok nolak, akhirnya kamu mau juga melakukan ini sama saya," ujarnya.
Padahal Clara sama sekali tak menginginkan hal itu. Ia masih ingin kuliah dan menikmati pacaran bersama Algo. Namun sekarang ... ia sudah tak gadis lagi.
Setelah melakukan hal memalukan itu, Arya langsung tersenyum puas. Akhirnya hasrat yang ia pendam selama ini sudah terpenuhi. Jiwa laki-lakinya seakan ingin melakukan lagi. Tapi sebentar lagi ia harus mengajar, karena itulah ia menghentikan aksinya.
"Dah, gadis cantik! Terimakasih atas pelayanannya hari ini. Jadilah wanita bayaran saja, pasti laris manis. Hahaha."
Ia pergi meninggalkan Clara seorang diri. Bahkan tanpa kepedulian sedikit pun. Ia memang laki-laki tak bermoral. Statusnya saja yang dosen, tapi kelakuan menyerupai iblis.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
Clara hanya bisa menangis, kesucian yang ia jaga telah direnggut oleh dosennya sendiri. Ia tak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.
Ini seperti mimpi buruk yang menghancurkan hidupnya, masa depannya, dan ... bagaimana nasib hubungannya dengan Algo? Apa yang harus ia katakan nanti?
Bahkan dirinya sudah tak suci lagi. Ia sudah tak gadis lagi. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Hanya harapan yang bisa ia andalkan sekarang.
Tiba-tiba ada cahaya yang menyibak ke dalam ruangan gelap itu. Pintu itu terbuka sempurna dan menampilkan sosok laki-laki yang tidak bisa ia lihat dengan jelas bagaimana wajahnya.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
Ia menangis sembari memangku tangan. Tidak ada lagi yang bisa ia banggakan dari dirinya. Semua telah sirna, impiannya menjadi dokter, impiannya menikah dengan Algo, sirna sudah. Tidak ada yang tersisa selain penyesalan dan rasa malu.
"Siapa yang di dalam? Siapa yang menangis?" tanya laki-laki yang membuka pintu gudang.
Di sana hanya ada seorang gadis yang memangku tangan seraya menangis. Arya sudah tidak berada di sana. Karena ia keluar duluan tanpa memikirkan keadaan gadis yang telah ia nodai. Ia memang laki-laki tak punya hati.
"Pergi! Jangan lakukan itu, hiks ... hiks ... hiks ...."
"Melakukan apa? Apa yang terjadi pada gadis ini? Kenapa menangis di gudang? Apalagi pakaiannya terlihat tak beraturan," gumamnya dalam hati.
Ia pun memutuskan untuk medekat ke gadis yang belum ia ketahui indentitasnya. Karena Dev tak tega jika ada perempuan yang menangis. Ia merasa simpati dan iba.
Ya ... laki-laki itu adalah Devaro Mahardika Sanjaya, mahasiswa jurusan hukum yang menjadi kakak angkatan Clara. Ia juga salah satu teman Algo yang merupakan kekasih gadis itu.
"Hei, kenapa lu nangis di sini? Kalau mau nangis di kamar mandi sono!"
Namun gadis itu semakin menangis histeris. Ia merasa sangat buruk, bahkan lebih buruk dari pelakor. Karena ia gagal menjaga barang berharganya yang hanya berhak disentuh oleh suaminya.
"Kok malah makin keras, sih."
Tiba-tiba datang gerombolan mahasiswa dan para dosen ke arah gudang. Sedangan Dev, ia mengerutkan dahinya bingung dengan tatapan mereka ke arahnya.
"Devaro!!!" teriak Pak Tirta, salah satu dosen dari fakultas kedokteran di Universitas Manura.
Sedangkan pemilik nama hanya menatap dengan cengo. Karena ia bukan mahasiswa yang suka bikin onar.
"Kamu sangat keterlaluan, Dev. Di mana etika kamu? Apa ini yang kamu dapat selama kuliah di sini? Perbuatan kamu ini bisa merusak reputasi kampus, paham nggak?!"
"Maksud Bapak apa ya? Saya nggak ngerti," tanyanya.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja telinganya tangkap.
"Kamu sudah mempraktikkan salah satu mata pelajaran, yaitu biologi. Masih mau ngelak?!"
Pak Tirta terlihat sangat marah dan ingin memakan Dev hidup-hidup. Karena kelakuannya sangat memalukan, menjijikkan, kalau orang Jawa menyebutnya nggilani.
"Hari ini saya memang ada praktik mengoperasi katak, Pak. Jadi itu maksudnya?" tanyanya cengo. Ia seperti orang bodoh yang tidak punya otak.
Sedangkan Clara, masih dalam posisi yang sama. Menangis.
"Lihat gadis itu, kamu sudah menodai kesuciannya! Kenapa sekarang kamu jadi laki-laki menjijikkan?!"
Ia kaget bukan main. Tuduhan yang dosennya berikan sangat tidak masuk akal. Ia ke sini karena manaruh barang. Tapi kenapa ia malah dituduh hal yang memalukan seperti ini?
"Saya tidak melakukan apa pun, Pak. Saya tadi ...."
Belum selesai ia melanjutkan kalimatnya, Pak Tirta sudah memotongnya.
"Saya dapat laporan dari Pak Arya kalau kalian telah berbuat hal tak senooh di gudang kampus. Kalian ini mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi, bisa-bisanya melakukan perbuatan hina seperti ini!"
"Kalau kamu masih punya tanggung jawab, maka nikahi Clara. Pertanggung jawabkan perbuatan kalian!"
Apa? Menikah? Dengan gadis asing? Bahkan Dev tak tahu siapa gadis itu sebenarnya. Bisa-bisanya ia dituduh pelaku kejahatan seperti ini. Dia anak dari keluarga terhormat, keluarganya tak pernah mengajarkan hal memalukan seperti ini.
"Sial, ternyata si dosen sok cakep itu sudah menjebak gue. Kurang ajar," cercanya dalam hati.
Ingin rasanya menekik lehernya hingga putus. Berani sekali memutar balik fakta. Dia pelakunya, tapi Dev yang harus menikahi gadis itu. Ini jebakan.
Sedangkan pelaku sebenarnya terlihat bernapas lega. Karena masalahnya bisa teratasi dalam waktu yang singkat. Itulah gunanya otak yang cerdas. Namun ... salah persepsi. Ia menyalahgunakan kekuasaan dan kepintaran yang dimiliki.
Gadis itu masih dalam posisi yang sama, merutuki nasib buruknya. Ia berharap semoga semua ini hanyalah bunga tidur. Namun ... inilah kenyataan pahit yang ia terima. Takdir sedang tak berpihak padanya.
Status Clara bukan gadis cantik dan berprestasi lagi. Ia hanya mantan gadis yang kesuciannya direnggut paksa oleh dosen yang jahat. Benar-benar tidak ada gunanya lagi ia hidup.