Untukmu, kehadiranmu sangat kami tunggu untuk kembali lagi.
Datanglah, Una dan haya mencintaimu jagoan.
"Pergi! Pembunuh! Jangan menyentuhku! Vante Adinan telah membunuh jagoanku! Kau akan hidup menderita, Vante Adinan!"
"Andara ... tidak ... aku bukan pembunuh ... jangan tinggalkan aku ... kumohon .... Aku bukan pembunuh ...." Vante kembali mengigau lagi sampai membuat Andara menjadi panik.
"Sayang! Vante! Vante!" Andara mengguncang pipi Vante agar laki-laki itu tersadar. Wajah Vante yang penuh peluh keringat membuat Andara mengusapnya. Leher pria itu juga sangat terasa licin sekarang.
"Ashhh!" Vante membuka kedua matanya dan mendudukkan tubuhnya tiba-tiba. Lagi, mimpi itu sungguh membuatnya sangat menderita. Sangat sulit untuk mengabaikannya karena banyak luka yang dibuat Vante di dalamnya.
"Sayang ...," lirih Andara yang ketakutan saat melihat Vante menjadi seperti itu.
Vante menolehkan kepalanya begitu cepat saat mendengar suara dari istrinya. Kini, tubuhnya bergerak menghambur kepelukan Andara.
"Jangan pergi ... kumohon ... jangan ... aku bukan pembunuh ... aku tidak bermaksud membunuh jagoan kita ...," isak Vante di lekukan leher Andara.
Andara memeluk tubuh Vante dan diusapnya surai hitam milik sang suami dengan kasih sayang. "Itu hanya kecelakaan, Te. Kau tidak membunuhnya, tolong jangan tersiksa dengan bayangan itu lagi." Andara mencium dahi suaminya dengan lamat.
Berbicara tentang hubungan mereka sebelumnya, mereka sama sekali belum bercerai.
"Andara ... aku takut kau meninggalkanku lagi ... aku takut ...," ucap Vante yang semakin erat memeluk pinggang istrinya.
"Tidak, aku sudah kembali seutuhnya untukmu, Te."
"Mari membuat janji," tawar Vante dengan menaikkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Andara. Kepalanya masih nyaman di lekukan leher mulus itu.
"Janji," kilah Andara dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Vante. Tanpa berpikir dua kali atau berpikir lama, Andara sudah tau pada tujuannya sekarang.
***
"Aku sangat malu untuk ikut ke kantormu," ucap Andara yang pandangan matanya tertuju pada bangunan yang dilewati melalui mobil bersama Vante.
"Kenapa begitu? Renan pasti juga merindukanmu, dia adik yang baik." Vante mengecup punggung tangan Andara yang sedari tadi di genggamnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya sibuk memainkan stir pengemudi dan membelokkannya menuju basement kantor.
Vante membawa Andara menuju ruangannya. Karyawan yang berada di sana terheran-heran melihat siapa wanita yang di bawa oleh Vante karena Andara terus menundukkan wajahnya.
"Siapa?" tanya Naya pada Renan yang sedang menyesap kopi di meja resepsionis kantor.
Renan berbalik untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Naya barusan. Alis Renan tertaut saat mensiasati siapa tubuh kurus itu yang berani menggandeng tangan bos-nya selain Andara. "Tubuhnya sangat familiar, tapi bos tampak berseri-seri. Berani sekali lelaki bodoh itu mengganti posisi kak Andara dengan wanita lain."
Vante terus melebarkan senyumnya sampai mereka tiba di dalam ruangan kerja miliknya.
"Duduk," titah Vante, dia menyuruh Andara untuk duduk di chairmove miliknya.
"Aku akan duduk di sofa."
"Disini, jangan membantah."
"Kau memaksa, Te." Andara menuruti perintah Vante dan duduk di kursi kejayaan yang ditunjuk Vante tadi.
Vante berjongkok di depan Andara. Kepalanya disejajarkan dengan lutut Andara.
"Cup!" Vante mengecup lutut Andara.
"Apa yang kau lakukan, Te!" Pekik Andara tertahan.
"Menjadi pelayan untuk ratuku."
"Aku tidak ingin yang seperti ini, Tuan Adinan," tekan Andara dengan menyebut marga dari Vante, hingga membuat laki-laki itu terkekeh mendengarnya.
Vante memutar chairmove-nya dengan lembut. "Andara adalah ratu."
"Vante, jangan main-main!"
"Andara sangat galak." Vante memeluk perut Andara. "Kemana lemak gembilnya? tadi pagi masih ada, kenapa cepat sekali hilangnya." Vante terus menekan perut Andara dengan jari telunjuknya karena gemas.
Andara memutar malas bola matanya. Padahal tadi pagi Vante melihat Andara memakai corset untuk menutupi lemaknya. Memang Vante ini suka sekali menggoda istrinya.
Cklek!
Pintu terbuka, menampilkan tubuh Renan dan juga Naya dari balik pintu. Vante yang masih di bawah sana hanya memperlihatkan matanya dari balik meja, Andara reflek menoleh ke arah pintu.
"HAH!! KAKAK! KAK ANDARA?" Renan menutup mulutnya karena tak percaya pada sosok wanita yang ada di hadapannya sekarang.
"RENAN!!" teriak Andara juga membala.
Jadilah Renan menghambur memeluk Andara, membuat Vante menjadi kepanasan.
"Menjauh." Tangan Vante menarik kerah belakang baju Renan untuk melepaskan pelukan dari istrinya.
"Bos sangat pelit, aku baru saja bertemu dengan kakak."
"Tapi, tidak seperti itu juga, Ren."
Renan memicingkan matanya pada Vante, membuat Andara tertawa geli melihat kelakuan dua laki-laki itu.
"Kau siapa?" tanya Andara pada wanita yang sedari tadi mengikuti Renan.
"Ah, perkenalkan saya sekretaris yang sudah satu tahun bekerja di sini, mungkin nyonya baru tahu, ya."
Andara menganggukkan kepalanya. "Benar, aku baru tahu kalau suamiku memperkerjakan sekretaris perempuan."
"Dia asisten Renan, bukan sekretarisku," ucap Vante dengan nada dingin yang membuat atmosfir di ruangan itu menjadi awkward.
***
"Jagoan!! Una merindukanmu ...." Andara mengusap batu nisan jagoannya.
"Jagoan mungkin sudah bosan denganku karena aku selalu ke sini mendatanginya."
"Apa hayamu selalu mengganggu tidurmu, Sayang?"
"Jagoan mungkin sudah hapal, hayanya selalu mencurhati unanya yang tidak kunjung kembali."
Andara mengabaikan perkataan Vante sejak tadi, dirinya masih sedikit kesal karena Vante yang tidak memberitahukan tentang sekretaris barunya itu setelah tiga hari Andara pulang.
"Apa jagoan bertemu para bidadari di sana? Apa bidadarinya sangat cantik dari pada Una?"
"Tentu saja, unanya jauh lebih cantik dan manis dari para bidadari disana," lontar Vante yang tentu sedang berusaha mencari perhatian dari istrinya.
"Aku sedang berbicara dengan jagoan."
"Kau mengacangiku sejak bertemu asistennya Renan."
"Kau dulu juga begitu, berbohong padaku kalau mantanmu itu bekerja di kantormu. Setelah itu, kau pergi berkencan dengannya tanpa aku ketahui. Kau mulai jarang pulang, bahkan mengabaikan telponku."
Vante lalu memeluk leher Andara dari belakang, dia tahu perasaan Andara sangat bergemuruh saat ini, pasti ingatannya dulu menghantuinya kembali. Dimana, ingatan tentang Vante yang memulai kembali suatu hubungan bersama Naya kala itu.
"Syutt ... aku tidak ingin kau membahas iblis itu. Aku mencintaimu Andara, aku sudah menerima hukumannya dari Tuhan. Kau tahu, hidup tersiska tanpamu dan mimpi buruk setiap malam. Aku tahu itu tidak seberapa untuk menyembuhkan lukamu, tapi aku berusaha untuk selalu menjagamu dan hidup tenang bersamaku." Vante mencium ringan bahu Andara.
Andara hanya diam tidak membalas, dia berharap Tuhan membiarkannya sekali lagi untuk hidup bahagia bersama Vante.
"Andara?" panggil Jaren yang melihat keberadaan Andara bersama Vante di makam si jagoan.
"Mas J-jaren?"
"Kau kembali?"
Andara mengangguk.
***
Berbahagialah, karena setiap manusia pantas mendapatkannya.
Sekali lagi, jagoanmu Una merindukanmu. Sekali lagi, ia ingin diberi kesempatan untuk singgah di rahimmu kembali.
Melepasnya tidak semudah yang kau bayangkan, tapi mengikhlaskan jauh lebih mengharukan dari apapun.
Jagoan, unamu ternyata sangat mencintai Haya.
Andara menemani Vante untuk mengembalikan otot-otot yang selama ini telah menghilang. Andara tidak suka jika bahu Vante menjadi loyo karena akan menghambat hobinya untuk menggigit bahu sang suami sebelum tidur.
Sudah hampir satu minggu Andara kembali bersama Vante, sudah selama itu Andara menahan giginya untuk tidak menguasai bahu pria itu yang tulangnya semakin kelihatan.
"Apa otot-ototku sudah mulai terlihat kembali?" Vante memutar kunci mobil untuk menyalakan mobilnya.
Andara mengambil handuk kecil dari dalam tas bawaan Vante yang sedang dipangkunya. "Keringatmu tidak ingin dilap? Wanita disana memperhatikanmu terus sambil memegangi handuk kecil."
"Benarkah?" Vante memajukan tubuhnya mendekat pada Andara yang tengah berada di sampingnya. "Aku hanya ingin pamer keringat sexy-ku untukmu, bukan untuk yang lain." Tangan kekar Vante telah sampai untuk bertumpu pada kursi Andara.
Andara mendecih, "cih ... sangat suka sekali memamerkan visualmu," sarkas Andara disertai dengan aktivitas mengelapi peluh keringat Vante yang sudah sangat banjir di seluruh wajahnya.
Vante hanya tersenyum dan menutup matanya, merasakan sensasi nyaman saat Andara mengusap lehernya yang berkeringat dengan handuk kecil. Belum lagi rambut yang sedikit basah membuat jari-jari Andara bergerak menyisirnya ke belakang.
Andara sangat menyukai wajah Vante yang sedang terpejam seperti ini, membuat Andara ingin sekali menciumi suaminya dengan gemas.
"Lihat dadaku, bukannya sudah besar dan jantan," ujar Vante lagi. Sekarang matanya terbuka dan tangannya menuntun jari-jari Andara untuk turun mengelus dadanya yang menyembul efek dari nge-gym tadi.
Andara meremasnya dengan geram. "Sudah mau menandingi punyaku, sangat menonjol. Apa nanti juga boleh digigiti?"
"Tentu. Asal aku juga mendapat jatah untuk mimi yuyu padamu." Vante melirik ke arah gundukan kembar milik Andara, baju Andara memang menutupi seluruh gundukan miliknya. Tapi, ya namanya Vante Adinan akan terus penasaran dengan isi di balik baju itu.
"Kau bahkan setiap hari mimi yuyu padaku tanpa izin," balas Andara sembari menangkup wajah si lawan bicara.
Taehyung mendongakkan wajahnya untuk menatap Andara lekat-lekat. "Mau melakukannya disini?" tanyanya tanpa ada candaan sedikitpun.
"Adinan gila," jawab Andara.
Taehyung tertawa mendengarnya. "Sangat menantang melakukannya disini, aku sangat bergairah sekarang."
"Nanti akan telat bertemu mas Raihan."
"Sebentar saja. Biarkan aku memainkan milikmu dulu, maka aku akan puas."
"Vante Adinan sangat gila!"
"Mimi yuyu saja?"
"Tidak."
"Memainkan punyaku ini?"
Andara memicingkan matanya dengan tajam atas permintaan aneh dari Vante. "Mimpi."
Berakhir dengan Vante yang memanyunkan bibirnya karena tertolak oleh Andara.
***
"Apa sudah siap semua?" tanya Andara pada laki-laki di depannya.
"Sudah, kau sudah seperti seorang ibu-ibu yang akan menghantarkan anaknya untuk pergi merantau," jawab Raihan sambil mengusap puncak kepala Andara.
"Masss ...," lirih Andara, matanya sudah berkaca-kaca karena hendak menangis. Tentu, hal itu membuat Raihan menatapnya dengan iba, tidak tega untuk ditinggalkan.
"Kenapa begitu? Aku hanya di sana tujuh bulan, setelah itu aku kembali lagi."
"Tetap saja ...." Andara memanyunkan bibirnya, berharap Raihan akan merubah niatnya untuk pergi ke Amsterdam.
Raihan memeluk tubuh Andara. "Memangnya kau mau ikut?"
Andara menggeleng sebagai jawaban. Tidak mungkin, bisa menangis meraung-raung suaminya.
"Ekhm ...," dehem Vante karena perkataan Raihan barusan.
"Lihat? Suamimu memang sangat posesif," ujar Raihan yang tengah melirik ke arah Vante.
"Dia memang begitu, tadi di mobil dia ngambek gara-gara ingin mimi yuyu tapi tidak aku berikan," jawab Andara asal.
Raihan menggelengkan kepalanya.
"Sayang ... apa perlu mas Raihanmu itu tahu tentang yang tadi?" tanya Vante keheranan.
"Vante, jangan menyakitinya lagi. Aku sudah tidak bisa menjaganya seperti dulu. Jika kau masih begitu, aku akan membawa Andara pergi tanpa kau bisa melihatnya lagi."
"Tidak akan, Abang. Aku sudah cukup tersiksa selama ini. Kau tenang saja," janji Vante dengan mantap membuat Raihan tersenyum lega.
Bisa mati beneran jika hal itu benar-benar terjadi.
Raihan mengelus pipi Andara. "Berbahagialah, maka Mas akan berbahagia, Andara." Raihan mencium pipi Andara sekilas tanpa peduli pada Vante di dekatnya.
"Abang ... itu istriku ...," protes Vante karena Raihan mencium pipi Andara dengan penuh kelembutan.
"Apa kau masih akan marah juga padaku? Andara adikku, aku hanya memberikan ciuman terakhir sebagai seorang laki-laki yang menganggapnya sebagai perempuan bukan adik."
"Iya, tapi-"
"Setelah ini aku hanya akan mencium dahinya saja," goda Raihan.
"HEY! ABANG!" Wajah Vante memerah karena begitu kesal.
Andara langsung memeluk leher Raihan dengan erat. "Berkencanlah, banyak wanita sexy sangat menyukai kepribadian Mas. Mereka juga suka bibir Mas yang sexy dan tangan kekar yang menawan."
"Tidak janji ya," balas Raihan yang tengah memberikan pelukan pada Andara dengan erat."
Setelah itu, Raihan melakukan penerbangan menuju Amsterdam dan akan kembali lagi menuju Jakarta setelah tujuh bulan berada di sana.
***
Sejak mengantar Raihan ke airport, Vante menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Apalagi sekarang, dia mengabaikan apa yang diucapkan oleh Andara, membuat Andara menjadi kebingungan.
"Kau masih marah perihal mimi yuyu?"
"Tidak."
"Mas Raihan menciumku?"
"Tidak."
"Terus apa?"
"Tidak ada."
Andara menggelengkan kepalanya.
"Ya, sudah." Tubuhnya memunggungi Vante yang sedang fokus menyetir. Percuma bertanya pada bayi besar yang sedang mengambek, yang ada seperti bertanya pada batu, tak ada manfaat.
"Apa kau tidak sayang padaku, sehingga kau memunggungiku."
Andara diam tidak menjawab.
"Apa jakunku tidak sexy? Apa tubuhku tidak seatletis bang Raihan? Apa tanganku tidak kekar menawan? Apa bibirku tidak sexy?"
Oh, Andara suamimu ini sangat iri, kau memuji Raihan, membuatnya kepanasan sejak tadi. Suami mana yang tidak merajuk ketika istrinya memuji laki-laki lain di hadapan suaminya sendiri.
Andara membalikkan lagi tubuhnya. "Bibirmu lucu, lehermu jantan, tubuhmu bagus, bahumu sexy membuatku selalu menggigitinya, perut sixspackmu menggoda, dadamu tegap, apa masih kurang?"
Vante menahan senyum mendengarnya, lalu berdehem. "Ehm, bagaimana dengan ituku?"
"Itu apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu."
Andara mengernyitkan alisnya keheranan. "Aku beneran tidak tahu."
"Penanam benih di dalam rahimmu."
Seketika wajah Andara memerah saat tahu apa yang dimaksud oleh Vante tersebut. "O-ohh itu ... itu sangat besar dan membuatku ketagihan." Andara membuang wajahnya ke segala arah yang penting tidak melihat ke arah Vante.
"Malam ini tidak boleh tidur cepat, bayi besar sedang butuh asupan mimi yuyu dan penanam benih membutuhkan lahan dari nyonya Andara."
"Sangat mengerikan telingaku mendengarnya, kenapa suamiku begitu menakutkan?" tanya Andara bergidik ngeri.
Membiarkan apa yang sudah menjadi haknya adalah pilihan terbaik, dengan begitu kau juga akan ikut tersenyum bahagia.
Lihatlah, hayamu seorang pencemburu yang handal, Jagoan.
***