Dia kembali, untukku.
Menyakitkan untuk saling menjauh di saat orang yang kau cintai adalah obat luka itu sendiri.
"Kau pembunuh! Kau pembunuh anakku! Kau pembunuh Vante Adinan!! Aku membencimu! Kau pembunuh!"
Andara berlari dan berdiri di tengah jalan menyerahkan dirinya pada Tuhan, biar saja mobil bis itu menabraknya, wanita itu rela.
Kaki Vante pun seketika beku, bukannya mengejar wanita itu, justru Vante malah membiarkannya begitu saja.
"Hoshh!!!" Vante membuka matanya dari mimpi buruk sejak 1,5 tahun yang lalu selalu datang menghantuinya. Napasnya kini tercekal seperti menahan sesuatu yang sangat menakutkan.
"Lagi?" guman Vante sembari mengucek matanya yang sejak bermimpi terus mengeluarkan air mata. Lalu, tangannya bergerak mengambil smartphone di atas nakas, tepat di samping tempat tidur. Dilihatnya bahwa sudah pukul 06.30, waktu yang masih sangat pagi untuk bangun di hari weekend seperti ini.
Berniat ingin melanjutkan tidurnya, hidung Vante mencium aroma nasi goreng yang sangat wangi. "Hari weekend, kenapa bibi datang? Bukannya istirahat, malah kesini."
Vante bangkit dan menggeser tubuhnya ke ujung ranjang, jari-jari kakinya menarik sandal bermotif kartun Thomas untuk dikenakan.
Pria itu menuruni tangga rumahnya dengan hati-hati, terlihat di atas meja dapurnya hanya ada sepiring nasi goreng dan satu gelas susu coklat hangat. "Mungkin, bibi hanya datang sebentar," ucap Vante yang langsung mendudukkan bokongnya di atas kursi.
Suapan pertama terlaksana dan Vante mengunyah dengan nikmat, setelah menelannya Vante menjadi tertegun. "Rasanya, seperti ....," ujar Taehyung yang kepalanya menunduk kebawah melihat nasi goreng itu, lalu kepalanya menggeleng-geleng. "Tidak m-mungkin, kan?" gumamnya dengan begitu pelan.
Vante mencoba menyuap lagi pada suapan kedua. "Apa aku terlalu merindukannya?" Tepat perkataan Vante terucap, dari arah taman rumahnya terdengar bunyi tangkai sapu yang terjatuh menimpa lantai.
Vante reflek menoleh ke sumber suara. Kakinya bangkit menuju taman dengan sedikit tergesa-gesa. Saat membuka pintu dari dalam rumahnya, Vante mendapati punggung seorang wanita dengan memakai kaos dan celana yang kebesaran. Pakaian itu persis seperti milik Vante yang tadi malam ia susun tepat di atas sekali di antara pakaian-pakaiannya yang lain.
"K-kau siapa?" Tanya Vante gugup membuat wanita itu membalikkan badannya dengan cepat.
Seperti waktu diberhentikan secara tiba-tiba, seperti itulah Vante sekarang. Dentuman bilah jantungnya berkedut tak terarah, mulut yang sedikit menganga saat tahu siapa wanita yang telah berada di hadapannya sekarang.
Wajah itu .... Wajah yang 1.5 tahun terakhir sangat Vante rindukan. Wajah putih bak susu yang sangat pria itu sukai, membuat rasa sesak di dadanya semakin kuat. Dalam diam pun Vante menitikkan air matanya. Apa benar wanita itu Andaranya? Apa benar wanita itu kembali? Kalau benar, maka Vante akan berjanji untuk tidak menyakitinya lagi, bahkan sedikitpun.
Bibir Vante bergetar hebat saat menahan suaranya untuk tidak menangis, sesekali jari tangannya menghapus jejak air mata yang turun dari ujung pelupuk matanya.
Bahu Andara tertunduk, bibir bawahnya ikut manyun saat Vante berusaha mengelap air matanya sendiri. "Apa Andara Jeo sudah tidak di harapkan oleh Vante Adinan?" tanyanya dengan bibir yang mencebik, hingga membuat Vante langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Pikir saja, Andara baru saja landas dari penerbangan pukul 02.00 pagi menuju Jakarta, tentu saja ia langsung diantar oleh Raihan ke rumah Vante. Akhirnya, semua pakaiannya masih dibawa oleh Raihan menuju rumah Ken. Andara berharap jika Vante akan kegirangan dan melompat-lompat saat mengetahui kehadiran dirinya, atau memeluknya langsung dengan senyuman yang ceria, bukan sedih seperti ini.
"Andaraku ... Andaraku ... ini tidak mimpi kan ... Andaraku kembali," lirih Vante sembari berusaha berjalan menjangkau Andara untuk dibawa kepelukannya.
Andara langsung berlari menghambur kepelukan suaminya, dipeluknya leher Vante dengan erat dan diciuminya leher yang sangat jantan dan kokoh tersebut.
Begitu juga dengan Vante, walau masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, dirinya tetap berusaha meraih Andara kedekapannya. Saat tubuh itu berhasil menyentuh kulit tubuhnya, sebuah euphoria bergemuruh di dalam perut Vante mulai mendominasi.
Pelukan yang paling nyaman yang sangat Vante rindukan, aroma khas stroberi yang tidak pernah hilang dan tubuh mungil yang lucu yang selalu lelaki itu sukai.
Tangannya berusaha mengunci Andara untuk tidak pergi lagi atau bahkan tidak boleh pergi sedetikpun dari hadapan Vante. Bibirnya sibuk mengeluarkan suara isak tangis yang tak dapat ditahan sejak tadi.
Vante menelusupakan kepalanya di bahu Andara dan dikecupi lembut bak sesuatu yang sangat harus dijaga, bahu mulus itu ... bahu yang selalu Vante rindukan untuk dikecup setiap malam sebelum tidur.
Andara mencoba melepaskan pelukan Vante, tetapi lelakinya itu tidak mau bergerak sedikitpun, membuat Andara sedikit sebal. Dengan giginya sendiri Andara menggigit bahu Vante sampai suaminya meringgis dan melepaskan pelukannya dari Andara. Namun, tangannya masih memeluk pinggang Andara dengan erat.
"Wajahmu sangat tirus, kantung matamu jelek, bahu kekar sudah tidak ada lagi, gigiku sakit saat menggigitnya karena tulangmu yang menonjol. Lemak di perutmu loyo, rambutmu gondrong dan bau badanmu asam. Sungguh, bukan suamiku yang seperti dulu," oceh Andara yang membuat Vante tersenyum, ia merindukannya dan sangat bahagia sekarang.
"Aku mencintaimu." Vante mengecup dahi Andara dan turun mengecup hidung Andara dan berakhir di bibir wanita manis tersebut.
"Aku juga ... aku pikir berpisah bisa mendamaikan hati. Ternyata yang damai hanya rasa sakitku, hatiku semakin sesak jika jauh darimu. Maafkan aku ....," lirih Andara, lalu tangannya mengusap rambut gondrong Vante dengan lembut.
"Jangan minta maaf ... kau tidak salah ...," ucap Vante sembari menarik pinggang Andara, membuat wajah Andara tepat di depan wajahnya.
Jantung Andara pun berdetak cepat saat mata elang milik Vante menatapnya lekat-lekat, mata yang pertama kali Andara temui saat melakukan first kiss-nya bersama Vante dulu.
"Jangan pergi lagi ... aku akan menggemukkan bahuku lagi agar gigimu tidak sakit saat menggigitnya," bisik Vante di telinga Andara. Alhasil, Andara menggelinjang saat merasa telinganya geli.
"Euhm," lenguh Andara saat bibir basah Vante mencoba menggesek-gesek di telinganya dengan sensual.
Serasa ada celah, Vante dengan cekatan mengangkat tubuh Andara dan di bawanya untuk masuk ke dalam kamar.
***
"Gelap ...," lirih Andara.
"Kau masih takut?" tanya Vante sambil mengecup kepala istrinya yang sudah menunduk untuk menjilati leher kekar miliknya.
Sebagai jawaban Andara mengangguk.
Vante lalu membaringkan tubuh Andara di atas kasur dan dihidupkannya lampu tidur mereka.
"Apa sudah nyaman?" tanya Vante yang mana matanya sejak tadi tidak terlepas dari mata Andara.
Andara hanya mengangguk gugup. Ditatap intens seperti itu membuat Andara gugup, manik mata Vante begitu mengintimidasi sampai membuat Andara rela jika tubuhnya dijamah oleh sang suami sesuka hati.
"Andara sangat cantik ... Andara sangat sexy ... Andara sangat menggoda ... Vante suka saat Andara menguasai tubuh Vante. Vante juga suka jika Andara menyentuh semua milik Vante ...," lirih pria itu dengan suara baritonnya yang begitu serak, wajahnya sangat merah saat mengatakan hal seperti itu.
"Vante ...," lirih Andara pelan, jari kakinya bergerak ke atas mengelus milik suaminya yang masih terbungkus dengan celana tidur.
Sadar atas perlakuan istrinya, dia memejamkan matanya untuk menahan enak saat jari-jari kaki Andara menyentuh bagian bawahnya dengan lembut.
Dengan rasa lemas, Vante menjatuhkan tubuhnya dan mendaratkan kepalanya di samping wajah Andara. "Aku merindukanmu ... merindukan semua yang ada pada dirimu ... mari bercinta," lirih Vante dengan berbisik di telinga Andara.
Satu persatu baju mereka mulai terlepas, eluhan nikmat tiada tara yang saling melepas rindu pun memecahkan susasana ruang kamar itu. Ruang kamar yang sudah lama terasa hambar dan dingin, kini menjadi penuh rasa cinta dan hangat.
Vante yang menguasai Andara dan melahap Andara habis-habisan, membuat sekujur tubuh gadis itu penuh dengan keringat karena ulah lelaki itu.
***
"Tatto laba-laba?" tanya Vante karena merasa keheranan saat melihat punggung istrinya bergambar tatto laba-laba.
"Mas Raihan yang mengantarkanku ke rumah Tatto. Punggungku waktu itu luka jadi meninggalkan sedikit bekas kehitaman, jadi mas Raihan menyarankan untuk membuat tatto laba-laba di area bekas luka itu," jawab Andara yang sedang memunggungi Vante, tangan pria itu dibawa untuk memeluk perut Andara dan memainkan pusarnya dengan pelan.
Mereka berdua berada di bawah selimut yang menutupi sampai batas pinggang. Bahkan, tanpa baju sehelaipun karena ntah kemana baju mereka dilempar asal oleh Vante saat mereka saling menikmati melakukan hubungan suami istri itu.
"Luka waktu itu, kan?" tanya Vante kembali, lalu bibirnya bergerak mencium tatto laba-laba di punggung istrinya.
Andara hanya diam, dia tidak ingin lagi membahas masalah yang sudah berusaha ia tutup rapat-rapat selama ini.
"Maaf ...," lirih Vante yang langsung memeluk leher istrinya untuk dikecupi rambutnya.
"Aku tidak ingin mengingatnya lagi, ku mohon ...," pinta Andara.
Vante hanya menghela napas pasrah, dia harus menghargai permintaan istrinya tersebut.
"Apa ingin minum pil pencegah kehamilan, Sayang?" tanya Vante sedikit ragu untuk memastikan.
Andara menggeleng cepat. "Aku ingin ada jagoan lagi yang singgah di perutku, Te ...."
Vante tersenyum mendengar respon yang dilontarkan oleh Andara. "Aku juga ingin, Sayang ...."
"Sudah berapa lama suamiku tidak mencukur itunya?" Andara membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Vante sekarang.
"Dua b-bulan," jawab Vante, dia sedikit malu.
"Pantas saja, pipipku geli karena rambutnya panjang-panjang saat kita melakukannya."
Vante langsung terkekeh karena protesan istrinya akibat rambut halus milik bagian bawahnya. "Cukurkan, ya. Aku sangat malas mencukurnya, dulu kau yang selalu mencukurnya," bujuk Vante, dia meminta kepada istrinya dengan manja. Bahkan, kepalanya sudah bergerak mendekap ke dada Andara, Vante ingin dielus sekarang.
Andara mengelus rambut Vante. "Nanti, kita rapikan juga rambutmu dan pergi untuk menggemukkan tubuhmu yang semakin kurus."
Tentu saja, Andara sangat merindukan Vante yang dulu. Juga, merindukan tubuh Vante dengan bidang dada yang begitu lebar, lengan kekar berotot dan bahu yang keras dan kokoh.
Vante hanya mengangguk.
"T-te?" panggil Andara pelan.
"Hm?" jawab Vante yang berupaya mendongakkan kepalanya untuk menatap istrinya tersebut.
"Sekarang, apa hanya aku perempuan satu-satunya yang kau cintai?" Andara menatap Vante dengan serius.
"Tidak, ada dua wanita yang aku cintai sekarang," jawab Vante datar yang membuat Andara terdiam, tangannya juga ikut membeku mendengar jawaban dari lelakinya itu.
Sadar dengan reaksi Andara, Vante pun tersenyum lembut. "Ibu akan marah jika tidak masuk ke dalam daftar wanita yang aku cintai."
Andara lalu memanyunkan bibirnya hendak menangis, ia pikir Vantenya akan mengatakan nama lain selain ibunya. "Kau ...," kesal Andara lalu berbalik lagi memunggungi Vante.
Vante terkekeh lalu memeluk Andara lagi dari belakang. "Apa aku juga tidak boleh mencintai ibuku sendiri?" tanyanya sembari menggoda Andara.
"Bukan seperti itu, maksud--"
"Iya-iya aku paham. Aku cuma milikmu Andara. Selama ini hidupku hanya bolak-balik dari rumah ke kantor, sesekali aku mampir ke rumah ibu dan yang paling sering ... ke makam jagoan kita ...." Vante mengecilkan suaranya saat menyebut makam jagoannya, ia takut Andara tidak ingin mengingatnya lagi karena itu sebuah masa lalu kelam baginya.
Andara tercekat seketika. "Ah, aku merindukan jagoan kita, Te ...."
Vante semakin erat memeluk Andara. "Mari mengunjunginya, ia pasti sudah sangat menantikan kau datang ...," kilah Te yang membuat Andara merasa bersalah.
Meninggalkan yang lalu bukan berarti kau harus melupakan memori yang indah tentangnya.
Dia tidak berubah, begitu juga dengan perasaanya.
***
Untukmu, kehadiranmu sangat kami tunggu untuk kembali lagi.
Datanglah, Una dan haya mencintaimu jagoan.
"Pergi! Pembunuh! Jangan menyentuhku! Vante Adinan telah membunuh jagoanku! Kau akan hidup menderita, Vante Adinan!"
"Andara ... tidak ... aku bukan pembunuh ... jangan tinggalkan aku ... kumohon .... Aku bukan pembunuh ...." Vante kembali mengigau lagi sampai membuat Andara menjadi panik.
"Sayang! Vante! Vante!" Andara mengguncang pipi Vante agar laki-laki itu tersadar. Wajah Vante yang penuh peluh keringat membuat Andara mengusapnya. Leher pria itu juga sangat terasa licin sekarang.
"Ashhh!" Vante membuka kedua matanya dan mendudukkan tubuhnya tiba-tiba. Lagi, mimpi itu sungguh membuatnya sangat menderita. Sangat sulit untuk mengabaikannya karena banyak luka yang dibuat Vante di dalamnya.
"Sayang ...," lirih Andara yang ketakutan saat melihat Vante menjadi seperti itu.
Vante menolehkan kepalanya begitu cepat saat mendengar suara dari istrinya. Kini, tubuhnya bergerak menghambur kepelukan Andara.
"Jangan pergi ... kumohon ... jangan ... aku bukan pembunuh ... aku tidak bermaksud membunuh jagoan kita ...," isak Vante di lekukan leher Andara.
Andara memeluk tubuh Vante dan diusapnya surai hitam milik sang suami dengan kasih sayang. "Itu hanya kecelakaan, Te. Kau tidak membunuhnya, tolong jangan tersiksa dengan bayangan itu lagi." Andara mencium dahi suaminya dengan lamat.
Berbicara tentang hubungan mereka sebelumnya, mereka sama sekali belum bercerai.
"Andara ... aku takut kau meninggalkanku lagi ... aku takut ...," ucap Vante yang semakin erat memeluk pinggang istrinya.
"Tidak, aku sudah kembali seutuhnya untukmu, Te."
"Mari membuat janji," tawar Vante dengan menaikkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Andara. Kepalanya masih nyaman di lekukan leher mulus itu.
"Janji," kilah Andara dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Vante. Tanpa berpikir dua kali atau berpikir lama, Andara sudah tau pada tujuannya sekarang.
***
"Aku sangat malu untuk ikut ke kantormu," ucap Andara yang pandangan matanya tertuju pada bangunan yang dilewati melalui mobil bersama Vante.
"Kenapa begitu? Renan pasti juga merindukanmu, dia adik yang baik." Vante mengecup punggung tangan Andara yang sedari tadi di genggamnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya sibuk memainkan stir pengemudi dan membelokkannya menuju basement kantor.
Vante membawa Andara menuju ruangannya. Karyawan yang berada di sana terheran-heran melihat siapa wanita yang di bawa oleh Vante karena Andara terus menundukkan wajahnya.
"Siapa?" tanya Naya pada Renan yang sedang menyesap kopi di meja resepsionis kantor.
Renan berbalik untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Naya barusan. Alis Renan tertaut saat mensiasati siapa tubuh kurus itu yang berani menggandeng tangan bos-nya selain Andara. "Tubuhnya sangat familiar, tapi bos tampak berseri-seri. Berani sekali lelaki bodoh itu mengganti posisi kak Andara dengan wanita lain."
Vante terus melebarkan senyumnya sampai mereka tiba di dalam ruangan kerja miliknya.
"Duduk," titah Vante, dia menyuruh Andara untuk duduk di chairmove miliknya.
"Aku akan duduk di sofa."
"Disini, jangan membantah."
"Kau memaksa, Te." Andara menuruti perintah Vante dan duduk di kursi kejayaan yang ditunjuk Vante tadi.
Vante berjongkok di depan Andara. Kepalanya disejajarkan dengan lutut Andara.
"Cup!" Vante mengecup lutut Andara.
"Apa yang kau lakukan, Te!" Pekik Andara tertahan.
"Menjadi pelayan untuk ratuku."
"Aku tidak ingin yang seperti ini, Tuan Adinan," tekan Andara dengan menyebut marga dari Vante, hingga membuat laki-laki itu terkekeh mendengarnya.
Vante memutar chairmove-nya dengan lembut. "Andara adalah ratu."
"Vante, jangan main-main!"
"Andara sangat galak." Vante memeluk perut Andara. "Kemana lemak gembilnya? tadi pagi masih ada, kenapa cepat sekali hilangnya." Vante terus menekan perut Andara dengan jari telunjuknya karena gemas.
Andara memutar malas bola matanya. Padahal tadi pagi Vante melihat Andara memakai corset untuk menutupi lemaknya. Memang Vante ini suka sekali menggoda istrinya.
Cklek!
Pintu terbuka, menampilkan tubuh Renan dan juga Naya dari balik pintu. Vante yang masih di bawah sana hanya memperlihatkan matanya dari balik meja, Andara reflek menoleh ke arah pintu.
"HAH!! KAKAK! KAK ANDARA?" Renan menutup mulutnya karena tak percaya pada sosok wanita yang ada di hadapannya sekarang.
"RENAN!!" teriak Andara juga membala.
Jadilah Renan menghambur memeluk Andara, membuat Vante menjadi kepanasan.
"Menjauh." Tangan Vante menarik kerah belakang baju Renan untuk melepaskan pelukan dari istrinya.
"Bos sangat pelit, aku baru saja bertemu dengan kakak."
"Tapi, tidak seperti itu juga, Ren."
Renan memicingkan matanya pada Vante, membuat Andara tertawa geli melihat kelakuan dua laki-laki itu.
"Kau siapa?" tanya Andara pada wanita yang sedari tadi mengikuti Renan.
"Ah, perkenalkan saya sekretaris yang sudah satu tahun bekerja di sini, mungkin nyonya baru tahu, ya."
Andara menganggukkan kepalanya. "Benar, aku baru tahu kalau suamiku memperkerjakan sekretaris perempuan."
"Dia asisten Renan, bukan sekretarisku," ucap Vante dengan nada dingin yang membuat atmosfir di ruangan itu menjadi awkward.
***
"Jagoan!! Una merindukanmu ...." Andara mengusap batu nisan jagoannya.
"Jagoan mungkin sudah bosan denganku karena aku selalu ke sini mendatanginya."
"Apa hayamu selalu mengganggu tidurmu, Sayang?"
"Jagoan mungkin sudah hapal, hayanya selalu mencurhati unanya yang tidak kunjung kembali."
Andara mengabaikan perkataan Vante sejak tadi, dirinya masih sedikit kesal karena Vante yang tidak memberitahukan tentang sekretaris barunya itu setelah tiga hari Andara pulang.
"Apa jagoan bertemu para bidadari di sana? Apa bidadarinya sangat cantik dari pada Una?"
"Tentu saja, unanya jauh lebih cantik dan manis dari para bidadari disana," lontar Vante yang tentu sedang berusaha mencari perhatian dari istrinya.
"Aku sedang berbicara dengan jagoan."
"Kau mengacangiku sejak bertemu asistennya Renan."
"Kau dulu juga begitu, berbohong padaku kalau mantanmu itu bekerja di kantormu. Setelah itu, kau pergi berkencan dengannya tanpa aku ketahui. Kau mulai jarang pulang, bahkan mengabaikan telponku."
Vante lalu memeluk leher Andara dari belakang, dia tahu perasaan Andara sangat bergemuruh saat ini, pasti ingatannya dulu menghantuinya kembali. Dimana, ingatan tentang Vante yang memulai kembali suatu hubungan bersama Naya kala itu.
"Syutt ... aku tidak ingin kau membahas iblis itu. Aku mencintaimu Andara, aku sudah menerima hukumannya dari Tuhan. Kau tahu, hidup tersiska tanpamu dan mimpi buruk setiap malam. Aku tahu itu tidak seberapa untuk menyembuhkan lukamu, tapi aku berusaha untuk selalu menjagamu dan hidup tenang bersamaku." Vante mencium ringan bahu Andara.
Andara hanya diam tidak membalas, dia berharap Tuhan membiarkannya sekali lagi untuk hidup bahagia bersama Vante.
"Andara?" panggil Jaren yang melihat keberadaan Andara bersama Vante di makam si jagoan.
"Mas J-jaren?"
"Kau kembali?"
Andara mengangguk.
***
Berbahagialah, karena setiap manusia pantas mendapatkannya.
Sekali lagi, jagoanmu Una merindukanmu. Sekali lagi, ia ingin diberi kesempatan untuk singgah di rahimmu kembali.
Melepasnya tidak semudah yang kau bayangkan, tapi mengikhlaskan jauh lebih mengharukan dari apapun.
Jagoan, unamu ternyata sangat mencintai Haya.
Andara menemani Vante untuk mengembalikan otot-otot yang selama ini telah menghilang. Andara tidak suka jika bahu Vante menjadi loyo karena akan menghambat hobinya untuk menggigit bahu sang suami sebelum tidur.
Sudah hampir satu minggu Andara kembali bersama Vante, sudah selama itu Andara menahan giginya untuk tidak menguasai bahu pria itu yang tulangnya semakin kelihatan.
"Apa otot-ototku sudah mulai terlihat kembali?" Vante memutar kunci mobil untuk menyalakan mobilnya.
Andara mengambil handuk kecil dari dalam tas bawaan Vante yang sedang dipangkunya. "Keringatmu tidak ingin dilap? Wanita disana memperhatikanmu terus sambil memegangi handuk kecil."
"Benarkah?" Vante memajukan tubuhnya mendekat pada Andara yang tengah berada di sampingnya. "Aku hanya ingin pamer keringat sexy-ku untukmu, bukan untuk yang lain." Tangan kekar Vante telah sampai untuk bertumpu pada kursi Andara.
Andara mendecih, "cih ... sangat suka sekali memamerkan visualmu," sarkas Andara disertai dengan aktivitas mengelapi peluh keringat Vante yang sudah sangat banjir di seluruh wajahnya.
Vante hanya tersenyum dan menutup matanya, merasakan sensasi nyaman saat Andara mengusap lehernya yang berkeringat dengan handuk kecil. Belum lagi rambut yang sedikit basah membuat jari-jari Andara bergerak menyisirnya ke belakang.
Andara sangat menyukai wajah Vante yang sedang terpejam seperti ini, membuat Andara ingin sekali menciumi suaminya dengan gemas.
"Lihat dadaku, bukannya sudah besar dan jantan," ujar Vante lagi. Sekarang matanya terbuka dan tangannya menuntun jari-jari Andara untuk turun mengelus dadanya yang menyembul efek dari nge-gym tadi.
Andara meremasnya dengan geram. "Sudah mau menandingi punyaku, sangat menonjol. Apa nanti juga boleh digigiti?"
"Tentu. Asal aku juga mendapat jatah untuk mimi yuyu padamu." Vante melirik ke arah gundukan kembar milik Andara, baju Andara memang menutupi seluruh gundukan miliknya. Tapi, ya namanya Vante Adinan akan terus penasaran dengan isi di balik baju itu.
"Kau bahkan setiap hari mimi yuyu padaku tanpa izin," balas Andara sembari menangkup wajah si lawan bicara.
Taehyung mendongakkan wajahnya untuk menatap Andara lekat-lekat. "Mau melakukannya disini?" tanyanya tanpa ada candaan sedikitpun.
"Adinan gila," jawab Andara.
Taehyung tertawa mendengarnya. "Sangat menantang melakukannya disini, aku sangat bergairah sekarang."
"Nanti akan telat bertemu mas Raihan."
"Sebentar saja. Biarkan aku memainkan milikmu dulu, maka aku akan puas."
"Vante Adinan sangat gila!"
"Mimi yuyu saja?"
"Tidak."
"Memainkan punyaku ini?"
Andara memicingkan matanya dengan tajam atas permintaan aneh dari Vante. "Mimpi."
Berakhir dengan Vante yang memanyunkan bibirnya karena tertolak oleh Andara.
***
"Apa sudah siap semua?" tanya Andara pada laki-laki di depannya.
"Sudah, kau sudah seperti seorang ibu-ibu yang akan menghantarkan anaknya untuk pergi merantau," jawab Raihan sambil mengusap puncak kepala Andara.
"Masss ...," lirih Andara, matanya sudah berkaca-kaca karena hendak menangis. Tentu, hal itu membuat Raihan menatapnya dengan iba, tidak tega untuk ditinggalkan.
"Kenapa begitu? Aku hanya di sana tujuh bulan, setelah itu aku kembali lagi."
"Tetap saja ...." Andara memanyunkan bibirnya, berharap Raihan akan merubah niatnya untuk pergi ke Amsterdam.
Raihan memeluk tubuh Andara. "Memangnya kau mau ikut?"
Andara menggeleng sebagai jawaban. Tidak mungkin, bisa menangis meraung-raung suaminya.
"Ekhm ...," dehem Vante karena perkataan Raihan barusan.
"Lihat? Suamimu memang sangat posesif," ujar Raihan yang tengah melirik ke arah Vante.
"Dia memang begitu, tadi di mobil dia ngambek gara-gara ingin mimi yuyu tapi tidak aku berikan," jawab Andara asal.
Raihan menggelengkan kepalanya.
"Sayang ... apa perlu mas Raihanmu itu tahu tentang yang tadi?" tanya Vante keheranan.
"Vante, jangan menyakitinya lagi. Aku sudah tidak bisa menjaganya seperti dulu. Jika kau masih begitu, aku akan membawa Andara pergi tanpa kau bisa melihatnya lagi."
"Tidak akan, Abang. Aku sudah cukup tersiksa selama ini. Kau tenang saja," janji Vante dengan mantap membuat Raihan tersenyum lega.
Bisa mati beneran jika hal itu benar-benar terjadi.
Raihan mengelus pipi Andara. "Berbahagialah, maka Mas akan berbahagia, Andara." Raihan mencium pipi Andara sekilas tanpa peduli pada Vante di dekatnya.
"Abang ... itu istriku ...," protes Vante karena Raihan mencium pipi Andara dengan penuh kelembutan.
"Apa kau masih akan marah juga padaku? Andara adikku, aku hanya memberikan ciuman terakhir sebagai seorang laki-laki yang menganggapnya sebagai perempuan bukan adik."
"Iya, tapi-"
"Setelah ini aku hanya akan mencium dahinya saja," goda Raihan.
"HEY! ABANG!" Wajah Vante memerah karena begitu kesal.
Andara langsung memeluk leher Raihan dengan erat. "Berkencanlah, banyak wanita sexy sangat menyukai kepribadian Mas. Mereka juga suka bibir Mas yang sexy dan tangan kekar yang menawan."
"Tidak janji ya," balas Raihan yang tengah memberikan pelukan pada Andara dengan erat."
Setelah itu, Raihan melakukan penerbangan menuju Amsterdam dan akan kembali lagi menuju Jakarta setelah tujuh bulan berada di sana.
***
Sejak mengantar Raihan ke airport, Vante menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Apalagi sekarang, dia mengabaikan apa yang diucapkan oleh Andara, membuat Andara menjadi kebingungan.
"Kau masih marah perihal mimi yuyu?"
"Tidak."
"Mas Raihan menciumku?"
"Tidak."
"Terus apa?"
"Tidak ada."
Andara menggelengkan kepalanya.
"Ya, sudah." Tubuhnya memunggungi Vante yang sedang fokus menyetir. Percuma bertanya pada bayi besar yang sedang mengambek, yang ada seperti bertanya pada batu, tak ada manfaat.
"Apa kau tidak sayang padaku, sehingga kau memunggungiku."
Andara diam tidak menjawab.
"Apa jakunku tidak sexy? Apa tubuhku tidak seatletis bang Raihan? Apa tanganku tidak kekar menawan? Apa bibirku tidak sexy?"
Oh, Andara suamimu ini sangat iri, kau memuji Raihan, membuatnya kepanasan sejak tadi. Suami mana yang tidak merajuk ketika istrinya memuji laki-laki lain di hadapan suaminya sendiri.
Andara membalikkan lagi tubuhnya. "Bibirmu lucu, lehermu jantan, tubuhmu bagus, bahumu sexy membuatku selalu menggigitinya, perut sixspackmu menggoda, dadamu tegap, apa masih kurang?"
Vante menahan senyum mendengarnya, lalu berdehem. "Ehm, bagaimana dengan ituku?"
"Itu apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu."
Andara mengernyitkan alisnya keheranan. "Aku beneran tidak tahu."
"Penanam benih di dalam rahimmu."
Seketika wajah Andara memerah saat tahu apa yang dimaksud oleh Vante tersebut. "O-ohh itu ... itu sangat besar dan membuatku ketagihan." Andara membuang wajahnya ke segala arah yang penting tidak melihat ke arah Vante.
"Malam ini tidak boleh tidur cepat, bayi besar sedang butuh asupan mimi yuyu dan penanam benih membutuhkan lahan dari nyonya Andara."
"Sangat mengerikan telingaku mendengarnya, kenapa suamiku begitu menakutkan?" tanya Andara bergidik ngeri.
Membiarkan apa yang sudah menjadi haknya adalah pilihan terbaik, dengan begitu kau juga akan ikut tersenyum bahagia.
Lihatlah, hayamu seorang pencemburu yang handal, Jagoan.
***