Pengantin yang menjadi raja sehari itu masih sibuk berfoto dengan sanak keluarga dan para tamu yang masih berdatangan.
Suara canda tawa masih terdengar dengan begitu jelasnya, raut wajah kebahagiaan terlihat dengan begitu jelas.
Namun kebahagiaan itu tak dapat dirasakan oleh seorang gadis yang masih duduk dengan linangan air mata.
Bagaimana tidak, laki-laki yang tengah bersanding dengan wanita yang baru dikenalnya itu tak lain adalah mantan kekasihnya.
Ia tak pernah menyangka jika laki-laki itu benar-benar akan meninggalkannya dan menikahi gadis yang baru saja dikenalnya.
"Maria, kamu tidak mau berfoto bersama dengan Radit?" Suara seseorang membuatnya terkejut.
Air mata yang tadi sempat tumpah lantaran rasa kecewa dan sedih segera ia hapus supaya sahabatnya itu tak bisa melihatnya.
"Aku malas, kamu saja yang berfoto dengan dia. Aku akan segera pulang."
Tanpa menunggu perkataan yang lain lagi dari sahabatnya itu ia segera meninggalkan tempat itu masih dengan isakan tangis.
Malam yang masih penuh dengan kegelapan itu tak ia pedulikan, rasa takut jika ditemui binatang malam tak lagi ia hiraukan.
Hanya ada linangan air mata setiap langkah kakinya, semua harapan dan keinginannya untuk bersama dengan orang yang ia cintai sudah kandas.
Hubungan yang sudah mereka bina selama empat tahun itu tak lagi berarti, Radit takkan pernah lagi menjadi miliknya.
Semua kenangan yang telah mereka lalui membuat Maria sangat tersiksa sekali, bagaimana tidak, padahal ia sudah memberikan segalanya untuk Radit.
"Maria, tunggu!"
Langkah kakinya terhenti pada saat mendengarkan suara yang begitu nyata ia kenali, suara itu tak lain adalah suara Radit.
"Apa lagi? Kamu mau pamer sama aku kalau kamu udah bahagia sama perempuan itu? Sebentar lagi kamu juga akan punya anak kan?"
Semua rasa kecewa yang sudah berusaha untuk ia tahankan tak lagi dapat dibendung sekarang ini, membayangkan Radit bersama perempuan itu saja sudah membuatnya gila.
"Ayo ikut denganku, kita akan pergi ke tempat biasanya kita menghabiskan malam berdua." Radit segera menarik tangan Maria.
Tak ada lagi pertanyaan, Maria yang masih merasa sangat kecewa hanya bisa mengikuti keinginan Radit dan segera naik motor.
Sepanjang perjalanan mereka harus melihat ke segela arah supaya tak seorangpun yang melihat mereka pergi berdua pada malam hari.
"Kenapa kamu menemuiku? Bagaimana dengan istrimu dan para tamu yang masih banyak itu? Mereka pasti mencarimu kan?"
Radit tak menjawab pertanyaan dari Maria dan hanya memintanya untuk terus mengawasi jika ada orang yang melihat mereka.
Seperti biasanya, Radit akan membawa Maria ke tempat rahasia mereka, tempat untuk menghabiskan malam bersama.
"Ayo cepat, Maria." Radit membantu Maria untuk berjalan di jalan curam yang penuh kegelapan itu.
Jalan setapak yang mereka rintis berdua untuk bisa sampai menuju gubuk kecil yang juga mereka buat berdua untuk dapat melepaskan hasratnya.
Tempat yang sudah selama dua tahun mereka bangun di tengah hutan itu, dan sampai sekarang masih belum ada yang mengetahui tempat itu kecuali mereka.
Motor yang tadinya mereka kendarai sudah disembunyikan diantara semak belukar yang sangat tebal dan takkan mungkin ada yang tau jika di sana ada motor.
Mereka terus berjalan menuju hutan itu, hutan yang sudah tak asing lagi bagi mereka berdua semenjak kejadian itu.
"Kenapa kamu membawaku ke sini? Bukankah seharusnya ini malam bahagia kamu bersama istri kamu itu?"
Isakan tangis tak lagi dapat dibendung dari gadis ini, semua bayangan buruk takkan bisa lepas dari pikirannya. Ia belum siap untuk kehilangan laki-laki itu,
"Hanya kamu orang yang aku sayangi, aku takkan pernah menikmati kebahagiaan itu bersama dia."
Ia mulai menggenggam tangan mulus kekasihnya itu dan memintanya untuk bisa percaya lagi seperti sebelumnya.
Perlahan ia menghapus air mata yang sudah membasahi wajah Maria, ia berusaha untuk terus meyakinkan kekasihnya itu.
"Aku tak bisa membayangkan kamu dan dia akan melakukan itu nanti, sementara aku takkan ada laki-laki yang akan mau sama perempuan yang sudah tak gadis lagi."
Belum sempat semuanya ia katakan, mulutnya sudah dibungkam oleh mulut Radit, tanpa memberikan aba-aba apapun terlebih dahulu.
Mendapat perlakuan seperti yang ia dapatkan seperti pada saat pacaran membuat Maria mulai berontak.
Ia tak ingin menikmati itu lagi karena ia sangat tahu jika sekarang orang yang ada di depannya sudah menjadi suami orang lain.
"Kenapa kamu menolak? Percayalah aku takkan pernah meninggalkanmu."
Radit tak menyerah, ia kembali membungkam mulut Maria dengan mulutnya, dan perlahan ia membaringkan kekasihnya itu diatas gubuk yang sederhana itu.
"Aku hanya akan melakukan itu bersama kamu, aku hanya menikahinya dan tak pernah berniat untuk memiliknya."
Ia melepaskan mulutnya itu sementara waktu untuk bisa memberikan ruang bagi Maria untuk bisa bernafas.
"Apa buktinya jika kamu hanya akan melakukan itu denganku saja?" Ia terlihat masih ragu dengan ucapan Radit.
"Aku akan melakukan ini setiap malam bersamamu dan meninggalkan istriku sendirian di kamarnya."
Setelah mengatakn semua itu ia kembali melanjutkan aksinya itu, dua gunung kecil itu menjadi sasaran utamanya, menjelalahi keduanya dengan sangat lembut meski hanya dari luar baju saja.
Ia tahu betul bagaimana cara untuk menaklukkan kekasihnya itu, cara yang tak pernah gagal sebelumnya.
"Malam ini kita akan melakukannya tanpa pengaman supaya kamu percaya jika aku hanya mencintai kamu saja."
Gerakannya mulai terhenti, matanya kembali memandangi kekasihnya yang sudah mulai nampak menikmati hal itu.
"Bagaimana kalau aku hamil dan kamu sudah punya istri tidak mungkin untuk menikahiku, lebih baik seperti biasa saja."
Seperti apapun kekecewaannya kepada laki-laki itu jika sudah di bawa ke gubuk itu pasti ia akan segera melupakan semuanya.
"Kita akan melakukannya sampai pagi, dan aku takkan memberikanmu kesempatan untuk menolaknya."
Hanya anggukan yang diberikan oleh Maria, rasa kecewa tak lagi ia rasakan. Bagaimana mungkin Maria akan melewatkan malam itu dengan sia-sia.
Radit yang sudah mendapatkan lampu hijau itu segera melanjutkan aksinya itu kembali dengan lebih ageresif.
Baju hijau yang masih menutupi tubuh indah Maria segera ia tanggalkan dan memperlihatkan dengan sangat jelas dua gunung kecil itu.
Tak ingin ketinggal, Maria juga mulai melepaskan baju pengantin yang masih melekat di tubuh radit.
Perlahan ia mulai memainkan kedua gunung kecil itu, meremasnya dengan perlahan dan sesekali memasukkan mulutnya ke sana.
Tangannya yang satu lagi juga sudah mulai bergerak dengan liar, menjelajahi area bawah yang sudah basah itu.
"Cepat Radit, aku sudah tidak tahan!"
Maria yang sudah sangat tidak tahan segera menarik tangan Radit dan membimbingnya untuk masuk ke dalam rok yang masih melekat dengan sempurna itu.
"Sabar dulu sayang."
"Bagaimana kalau aku hamil?"
Maria mulai nampak pucat dan berusaha untuk menutupi tubuhnya yang sudah tak berbalutkan busana sedikitpun.
Kejadian yang telah mereka ciptakan sendiri satu jam yang lalu menyisakan kegelisahan di matanya.
"Tenanglah, kamu tidak akan hamil. Kita sudah sering melakukankannya kan?"
Radit kembali menenangkan Maria dan meyakinkannya jika Maria takkan hamil dan perbuatan mereka itu tidak akan diketahui oleh banyak orang.
Laki-laki itu masih terlihat sangat santai tanpa mengkhawatirkan apapun, bahkan ia tak khawatir jika orang-orang akan mencarinya karena kabur dari pelaminan.
"Aku mau pulang dulu, orangtua aku pasti sudah nyariin aku." Ia mulai mengenakan busananya kembali.
Radit yang melihat hal itu lansung saja mencegahnya dan menanggalkan busana itu lagi hingga memperlihatkan keindahan itu lagi.
Perlahan jari jemarinya kembali bermain diatara dua gunung kembar itu dan kembali membaringkan Maria di atas gubuk kecil itu.
Maria yang sudah sangat kelelahan hanya bisa pasrah tanpa perlawanan apapun, matanya hanya tertuju ke arah bintang yang mulai bersinar redup.
"Kenapa diam saja, sayang? Kamu tidak mau lagi melakukan ini sama aku karena sekarang aku sudah menikah?"
Radit mulai menghentikan permainannya pada saat mengetahui Maria tak lagi bersemangat seperti biasanya.
"Aku hanya takut kalau aku hamil, siapa yang akan bertanggung jawab nantinya?"
Tetasan air matanya mulai membasahi pipinya yang putih itu, ia sangat berbeda sekali dengan waktu yang sebelumnya.
Sekeras apapun Radit berusaha untuk membujuk dan memintanya supaya bersemangat untuk melakukan itu lagi tetapi tetap saja ia masih menangis.
"Baiklah kalau itu yang kamu pikirkan, aku takkan melakukannya lagi. Mungkin kamu sudah dapat penggantiku."
Radit beranjak dari tempat itu dengan wajah yang nampak kesal karena Maria terus saja menangis semenjak ia mengeluarkan itu di dalam.
"Bukan seperti itu maksudku."
Maria berusaha untuk mengejar Radit yang sudah menuju ke arah pancuran untuk segera bisa membersihkan diri.
"Aku hanya takut hamil saja Radit, apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya tentangku."
Ia berusaha untuk meraih tangan Radit dan menjelaskan semua yang ia rasakan pada saat itu juga.
"Ayo kita lakukan lagi untuk membuktikan kalau tidak ada laki-laki lain di hati aku selain kamu."
Maria berusaha untuk menggerakkan tangannya ke arah kepunyaan Radit, namun laki-laki itu segera menepisnya dan terlihat masih sangat kesal sekali.
"Ayo cepat mandi, aku akan mengantarkan kamu pulang."
Ia segera menyuruh Maria untuk membersihkan diri setelah melakukan dosa yang berkelanjutan itu. Wajahnya masih terlihat sangat kesal sekali.
Ini adalah pertama kalinya Maria tak mengikuti perintah seperti yang biasanya, padahal ia berharap Maria masih seperti dulu.
"Kamu jangan marah, aku sangat menyayangi kamu. Aku sudah memberikan semuanya untuk kamu." Ia tak menyerah dan terus membujuk Radit.
Tak ingin mendengarkan alasan apapun lagi, Radit segera menutup kedua telinganya menggunakan tangan menyuruh Maria untuk segera membersihkan diri.
Sinar rembulan masih berbaik hati untuk menyirani gelapnya malam ini, ditemani dengan ratusan bintang yang nampak kerlap-kerlip.
Guyuran air pancuran ditengah malam itu membuat Maria harus menahan rasa dingin yang mulai dirasakannya.
"Ayo cepat!" Radit sudah mulai beranjak meninggalkan Maria yang masih membersihkan diri diantara dinginnya air pancuran itu.
"Iya, tunggu sebentar."
Maria yang tak ingin membuat Radit marah lagi segera keluar dari tempat itu dengan sangat tergesa-gesa.
"Siapa di sina!"
Keduanya dikagetkan dengan suara seseorang yang ada di dalam hutan itu, suara yang mereka dengar itu semakin dekat.
Maria dengan tergesa-gesa harus mengenakan pakaian tanpa peduli lagi jika baju yang dipakainya terbalik.
"Siapa itu Radit?" Ia mulai ketakutan mendengarkan suara orang itu.
Baru kali ini mereka mendengarkan ada suara manusia yang berasal dari hutan seperti itu apalagi di tengah malam seperti ini.
Radit hanya menggeleng dan memberi isyarat kepada Maria untuk tidak berbicara apapun supaya mereka tidak ketahuan.
Suara yang mereka dengarpun semakin jelas, setitik cahaya mulai terlihat dari kejauhan hendak menuju ke gubung mereka itu.
Radit segera mendekat ke arah gubuk itu dan memperhatikan dengan sangat baik siapa yang berada di hutan itu.
"Siapa Radit?" Maria yang sudah sangat ketakutan itu kembali bertanya kepada Radit.
Tangannya sudah mulai gemetaran, rasa takut yang selama ini ia cemaskan sekarang benar-benar ia rasakan.
"Tidak ada yang mengikuti kita pada saat kita ke sini tadi kan?" Radit kembali memastikan sumber suara itu.
Maria dengan yakin mengatakan jika ia tak melihat seorangpun yang memgikuti mereka, kalaupun ada pasti ia takkan muncul dari arah yang berlawanan.
"Siapa di sana?"
Suara itu kembali terdengar dengan sangat jelas, suara yang begitu tegas lagi menakutkan. Hanya binatang malam yang menjawab pertanyaannya.
Maria yang sudah semakin ketakutan hanya bisa mendekat ke arah Radit yang juga sudah mulai kesal dengan Maria.
"Kenapa kamu tidak teliti? Bagaimana kalau ada yang melihat kita disini?" Ia mulai menatap Maria dengan tatapan kemarahan.
Gadis itu hanya bisa menunduk dan terus meminta maaf serta menjelaskan jika ia benar-benar tidak tau jika ada orang yang mengikuti mereka.
"Kita berpencar saja jangan sampai orang itu melihat kita berdua di sini malam hari seperti ini." Radit mulai berlari meninggkan Maria.
"Jangan tinggalkan aku, Radit!" Maria mulai berteriak memanggil Radit yang sudah semakin jauh meninggalkannya.
Ia tak menoleh sedikitpun untuk melihat keadaan Maria atau untuk mengajaknya pulang bersama seperti yang telah ia janjikan sebelumnya.
Tak ingin ketahuan oleh orang itu maka Maria juga mulai hendak berlari untuk menyusul Radit yang sudah semakin jauh.
"Berhenti! Siapa kamu? Ngapain di sini malam-malam begini?"
Maria tak lagi peduli, ia tetap berteriak memanggil nama Radit karena tak ingin berada di hutan itu sendirian.
Ia terus berlari sekuat yang ia bisa tanpa melihat ke arah suara yang terus memanggilnya dari arah belakang.
Nafasnya sudah mulai terlihat sesak, langkah kakinyapun sudah tak sekencang yang sebelumnya lagi.
"Tunggu Radit! Kita harus pulang bersama!" Maria kembali berteriak pada saat sudah hampir sampai di dekat Radit.
"Maafkan aku Maria, aku harus pergi tanpa kamu." Radit segera menaiki motornya dan meninggalkan Maria yang masih sangat kelelahan.
Ia pergi dengan motornya itu tanpa peduli dengan Maria yang sudah menangis menangis meneriaki namanya.
Sekarang ia hanya bisa kembali bangkit dan berlari ke mana saja supaya orang yang ada di hutan itu tak dapat menemukannya.
"Jangan lari kamu! Aku tau kamu ada di sana!" Suara itu kembali terdengar dengan sangat jelas.
Maria semakin ketakutan, ia terus berlari tanpa arah dan tujuan yang jelas, berlari dengan penuh rasa takut.
"Tunggu! Kamu siapa?" Suara itu semakin dekat terdengar.
Maria yang sudah sangat ketakutan hanya bisa berlari sembari menangis dan berharap supaya Radit datang kembali dan membantunya.
Berlari diatara hutan yang lebat di malam hari bukanlah hal yang mudah baginya, berkali-kali ia terjatuh karena tak bisa lagi melihat jalan dengan benar.
Rembulan dan bintang yang tadinya sempat menerangi bumi sudah mulai menghilang diatara awan malam yang menutupinya.
"Aku tau ada seseorang disana, tolong berhenti!" Orang itu terus meneriaki dan mengejar Maria.
Maria yang tak ingin tertangkap itu terus berlari ke sembarangan arah, arah yang sama sekali tak ia kenal.
Keringat sudah mulai membanjiri wajahnya, tanggannya yang mulus itu supaya sudah mulai gemetaran lantaran rasa takut.
"Ayo berhenti dan perlihatkan dirimu!" Suara itu semakin jelas dan menakutkan.
Maria terus berlari menyusuri hutan yang sudah nampal semakin gelap lantaran bulan benar-benar sudah hendak menghilang.
Kakinya berlari tak lagi mengikuti arah, sandal yang ia kenakan juga sudah tak lagi berada di telapak kakinya.
"Berhenti kamu!"
Orang itu tak menyerah, ia terus mengikuti jejak Maria yang terlihat jelas diantara tanah yang masih basah itu.
Maria mencoba untuk bersembunyi diantara semak-semak dan pepohonan yang ada di dalam hutan lebat itu.
Ia kembali menangis tersedu-sedu takut jika orang itu akan menemukannya dan membawanya ke hadapan orang tuanya.
Radit merupakan orang yang paling ia percaya dan cinta juga tega meninggalkannya sendirian di hutan itu.
Padahal sebelumnya, Raditlah yang selalu mengajaknya untuk datang ke hutan itu walau ia sudah sering menolak.
Deraian air mata sekaligus penyesalan tak bisa dielakkan lagi, semuanya sudah terjadi dan takkan bisa dirubah lagi.
"Ayo cepat keluar sebelum aku yang menemukanmu!"
Suara itu semakin keras, membangun para binatang yang sudah tertidur dengan lelapnya dari lelahnya kehidupan siang hari.
Maria terus berlari dengan penuh rasa takut, ia tak lagi peduli dengan apa yang akan ia temui di depan sana asalkan tidak bertemu dengan orang itu.
"Aw, lepaskan aku!" Maria mulai berteriak.
Seseorang yang tak ia ketahui menutup mulutnya dengan tangan dari belakang dan membuatnya tak berdaya.
Ia mencoba untuk berontak dan ingin mengetahui siapa yang sudah menemukannya di temgah hutan itu.
"Diam dan ikuti saja aku!"
Semakin Maria meronta-ronta maka orang itu semakin keras menutup mulutnya dan memaksanya untuk terus berjalan.
Tangannya masih terus berusaha untuk bisa lepas dari orang yang belum sempat ia lihat itu tetapi ia mulai mengingat suara laki-laki itu.
"Di mana kamu!" Orang yang tadinya mengejarnya kembali menguarkan suara yang membuatnya semakin ketakutan.
"Jangan berisik atau kamu akan tertangkap oleh orang itu!" Laki-laki yang menutup mulutnya berjalan melangkag mundur.
Ia membawa Maria menjauhi tempat itu dengan memasuki jalan lain yang tertupi oleh semak-belukar.
Semakin lama ia semakin jauh membawa Maria, ia tak peduli meski Maria sudah semenjak dari tadi meminta untuk dilepaskan.
"Duduk di sini dan jangan ke mana-mana tanpa seizin aku!" Ia melepaskan Maria dengan sekuat tenaganya.
Gadis yang malang itu terlempar ke atas gubuk kecil yang hampir mirip dengan gubuk tempat ia biasanya memghabiskan malam bersama dengan Radit.
"Masih ingat aku kan Maria?"
Laki-laki yang terlihat lebih tua darinya itu memperlihatkan wajahnya dengan sangat dekat penuh dengan senyuman kemenangan.
"Apa yang kamu lakukan di sini Ezi?" Maria nampak kaget setelah melihat wajah Ezi itu.
"Apa lagi kalau bukan menyaksikan kalian menghabiskan malam di gubuk kecil itu, apalagi sekarang Radit sudah menjadi suami orang."
Maria segera berdiri dan lebih mendekat ke arah Ezi. Ia mengatakan tidak mengerti dengan apa yang dikatan oleh Ezi.
Wajahnya sudah mulai pucat, air mata itu sudah kembali lagi dan membuatnya menangis di tempat itu juga.
Ezi segera mengeluarkan hpnya dan memperlihat kepada Maria video perbuatan dosa mereka di gubuk itu.
Maria benar-benar tak menyangka jika Ezi punya videonya pada saat melalukan hubungan terlarang itu dengan Radit.
"Cepat hapus dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya!" Maria berusaha untuk mengambil hp Ezi.
Ezi dengan begitu sigapnya menghalangi Maria untuk mengambil hp itu, bahkan Maria tak bisa menyentuhnya sedikitpun.
"Apa jadinya kalau aku perlihatkan video ini kepada kedua orang tua kamu?" Ia mulai tertawa menikmati kebahagiaannya itu.
Maria terus berusaha untuk membujuk Ezi supaya mau menghapus video itu dan tak memperlihatkannya kepada siapapun.
Ezi yang merasa menang kali ini terus memperlihatkan video itu kepada Maria dengan penuh tawa kemenangan.
"Cepat hapus Zi! Aku akan ngelakuin apa aja asalkan kamu hapus video itu!"
Maria sudah kehabisan akal untuk mengambil hp itu dari tangan Ezi, badannya yang sudah sangat lemah hanya bisa duduk terdiam menangis.
"Ok, aku akan menghapus video ini asalkan kamu mau mengikuti keinginanku sekarang juga."
Ia kembali tersenyum dengan puasnya setelah membuat kesepakatan dengan Maria yang akan sangat menguntungkan dirinya.
Selama ini ia secara diam-diam mengikuti Maria dan Radit yang pergi ke hutan itu. Tentu saja ia akan mengabadikan momen itu.
Perlahan ia membuka kancing bajunya dengan penuh senyuman, bidang dadanya mulai terpampang dengan sangat jelas.
Maria yang mulai mengetahui kesepakatan apa yang dimaksud oleh Ezi itu segera menjauh dari laki-laki itu.
"Kamu mau ke mana? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Apa kamu ingin melihara kedua orang tua kamu tiada karena video ini?"
Ia mulai membaringkan Maria dengan kasarnya, tak peduli dengan linangan air mata yang terus mengalir dari matanya itu.
"Aku mohon jangan lakukan ini!" Maria masih berusaha untuk berontak.
Ezi tak peduli, ia mulai menindih gadis itu dan bisa untuk berontak lagi. Ia lebih kuat dari Maria yang malang itu.
"Permainan aku juga tak kalah hebatnya dari Radit, saya yakin kamu akan minta lebih padaku nanti."
Perlahan ia mulai membuat gadis itu tak mempunyai sehelai benang kainpun untuk menutupi diri.
Tangannya juga tak lagi bisa berontak karena Ezi juga sudah mulai mengikatkan tangannya di tempat itu.
"Ini akibat karena kamu pernah menolakku, Maria. Aku terus melakukan ia sama kamu meski aku tau kalau kamu sudah bekas orang lain."
Tanpa basa-basi lagi ia mulai memaikan kedua gunung kembar itu dengan sigapnya, ia tak peduli meski Maria terus berontak.
Melihat tubuh Maria yang tanpa busana itu saja sudah membuatnya merasa sangat senang dan ingin segera melakukan apa yang ia impikan selama ini.
Malam menjadi malam yang paling buruk bagi Maria, ia benar-benar sudah kehilangan segalanya.
Ezi dengan begitu puasnya bisa menikmati hal yang ia dambakan tanpa takut Maria akan menolaknya lagi.
Selama Maria mau melakukan apa yang ia inginkan maka video itu takkan pernah bisa tersebar kepada siapapun.