Bab 1

Di pusat Kota Orkset yang ramai dan lapuk, api berkobar hebat di dalam sebuah bangunan apartemen kuno. Didorong oleh embusan angin, api melahap bangunan itu, menyemburkan asap tebal serta kobaran api yang terang dan membakar.

"Berhasil! Mereka telah berhasil diselamatkan!" Kata-kata ini bergema di tengah kekacauan.

Para petugas pemadam kebakaran muncul dari kobaran api yang membara, membawa Carrie Campbell ke tempat yang aman di pinggir jalan.

Wajahnya yang biasanya anggun dan ekspresif, kini telah ternoda oleh jelaga. Matanya yang biasanya berbinar sekarang meredup menjadi tatapan kosong dan dingin.

Saat kenyataan kembali merasuki kesadarannya, Carrie merasakan gelombang rasa syukur yang mengalahkan ketenangannya yang biasa. Suaranya yang serak dan lemah menyampaikan ucapan "terima kasih" yang mendalam pada para penyelamatnya. Dengan panik, dia mengambil ponselnya dan ujung jarinya gemetar saat mencari nomor yang dikenalnya.

"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang sibuk, silakan coba beberapa saat lagi ...."

Mendapati pesan otomatis ini berbunyi setelah beberapa kali dering, kejengkelan yang telah mencapai bibirnya tercekat di tenggorokan, rasa jengkel dan kesedihan yang tak terucap membuncah dalam dirinya.

Boom!

Suara gemuruh dari sebuah ledakan yang memekakkan telinga tiba-tiba membungkam suara mekanis dingin yang bergema di sepanjang jalan. Ketika mendongak, betapa terkejutnya dia saat menyaksikan apartemen yang baru saja dia tinggalkan telah meledak.

Akibat kekuatan dari ledakan itu, bongkahan puing terlempar ke udara dan berhamburan di angkasa.

Kepanikan melanda kerumunan saat para korban yang baru saja diselamatkan berteriak ketakutan. Mereka berpelukan erat-erat, mencari pelipur lara dalam pelukan masing-masing dan tangisan mereka memecah keheningan suasana. Ini begitu kontras dengan Carrie yang terbaring sendirian di atas tandu, keterasingannya semakin terasa di tengah kekacauan.

"Kristopher ...." Berjuang melawan rasa takut yang merayapi tulang punggungnya, Carrie mengatupkan bibirnya erat-erat, berusaha menghubungi nomor suaminya lagi dengan tekad yang tidak tergoyahkan.

Namun, panggilan itu terputus setelah beberapa dering singkat, yang meninggalkannya dalam keheningan yang mencekam.

Tepat pada saat ini, notifikasi dari Twitter berkedip di layar ponselnya.

Ternyata, ada kabar gosip terbaru, yaitu tentang Lise Nash dan pacar misteriusnya.

Menurut cuitan tersebut, seorang produser dari acara varietas terkenal mengundang bintang ternama, Lise Nash, untuk makan malam, yang berakhir dengan buruk karena wanita itu menolak untuk ikut bersulang.

Tindakan pembangkangan ini membuat suasana menjadi ricuh, tapi segera diinterupsi oleh kedatangan pacar Lise yang mendominasi. Dia menerobos masuk ke ruang pribadi itu, menepis sang produser, dan membawa Lise pergi.

Cuitan ini menggambarkan kejadian itu dengan jelas, di mana seorang pria tengah membela pacar tercintanya.

Namun, mungkin karena pria itu merupakan seorang tokoh terkemuka, hanya sosok punggungnya saja yang diperlihatkan pada foto-foto yang disertakan untuk menjaga kerahasiaan identitasnya. Sementara itu, Lise yang memakai jas yang jelas terlihat kebesaran, tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan untuk merangkul lengan pria itu saat mereka pergi bersama-sama.

Mata Carrie terpaku pada layar, tatapannya tajam dan tak berkedip saat mengamati foto di hadapannya.

Pria itu adalah Kristopher Norris!

Dia langsung mengenali jas kebesaran yang dikenakan oleh Lise.

Setiap potong pakaian yang dimiliki Kristopher dijahit dengan sangat teliti oleh seorang ahli perajin di luar negeri, dan Carrie sangat mengenalinya.

Genggamannya pada ponselnya semakin erat sampai buku-buku jarinya memucat. Jiwanya seolah sedang diremas oleh tangan yang tidak kasat mata sehingga rasanya sakit sekali seperti tersayat-sayat.

Ketika dia sedang menghadapi hidup dan mati, Kristopher memutuskan panggilan teleponnya dengan dingin dan memilih untuk berada di sisi Lise.

Sebenarnya apa nilai pernikahan mereka selama dua tahun ini?

Air mata yang sejak tadi dia tahan kini membanjiri wajahnya.

Bahkan ketika dia berusaha menghentikan aliran air matanya dengan memiringkan kepala ke belakang, air matanya enggan untuk berhenti.

Lise selalu menjadi cinta pertama Kristopher, itu merupakan fakta yang selalu digosipkan di lingkaran mereka. Namun, karena latar belakang wanita itu dianggap biasa saja, Keluarga Norris tidak pernah menyetujui Lise.

Karena tekanan keluarga, Lise terpaksa berinisiatif untuk mengakhiri segalanya, tapi tampaknya sulit untuk meninggalkan masa lalu.

Kristopher berusaha keras untuk meraih posisi sebagai pemimpin Keluarga Norris dengan harapan kelak dia dan Lise bisa bersama.

Namun, ketika berhasil mencapai tujuannya, dia mendapati bahwa Lise telah memilih pria lain.

Entah apakah dia sengaja membuat keluarganya kesal karena merasa sakit hati, Kristopher beralih pada Carrie, seorang wanita yang juga tidak memiliki kekayaan atau status, untuk menjadi istrinya, sehingga para kerabatnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjodohkannya.

Saat itu, Carrie menghadapi tekanan luar biasa dari ayahnya, Tristan Campbell, yang mendesaknya menikah dengan seorang playboy, putra seorang rekan bisnis, untuk menutupi biaya pengobatan neneknya yang besar.

Didorong oleh tujuan masing-masing, baik Kristopher maupun Carrie setuju untuk menikah secara kontrak.

Awalnya, pernikahan ini ditetapkan hanya untuk satu tahun, tapi pernikahan ini diperpanjang melebihi jangka waktu dan dipertahankan berdasarkan kesadaran bersama di antara mereka.

Seiring berjalannya waktu, Carrie mulai mengira dirinya sudah menjadi istri Kristopher sepenuhnya tanpa pernah menduga bahwa ini hanyalah angan-angannya belaka.

Beberapa saat yang lalu, kebakaran hampir merenggut nyawa Carrie. Di saat kritis ini, dia menghubungi Kristopher, tapi ditolak dua kali karena pria itu sedang menghabiskan waktu bersama Lise.

Kenyataan pahit ini membuyarkan lamunannya ke dunia nyata dan membuatnya terbangun dengan cara yang paling menyakitkan.

Dia bahkan bukan pengganti sementara dalam hidup Kristopher, melainkan hanya sebuah pion yang digunakan pria itu untuk menyakiti hati keluarganya.

Setelah tertegun sejenak, air mata di mata Carrie semakin tidak terbendung.

Mungkin sudah saatnya baginya untuk melepaskan diri dari belenggu delusi harapannya sendiri dan memutuskan untuk berhenti menipu diri sendiri.

Bab 2

Ada begitu banyak korban luka dalam kebakaran itu, sehingga para dokter dan perawat yang berada di sana kewalahan untuk memberikan perawatan pada mereka.

Carrie hanya tergores oleh rak pakaian yang patah dan mengalami luka yang cukup parah di betisnya, tapi ini masih jauh lebih ringan dibandingkan yang lain.

Setelah lukanya dibersihkan dan diperban di rumah sakit terdekat, dia menaiki taksi untuk pulang ke rumah.

Vila Bayview merupakan properti megah atas nama Kristopher, yang secara teknis merupakan tempat mereka tinggal setelah menikah.

Hidup sendiri sudah menjadi hal yang biasa bagi Carrie karena Kristopher jarang pulang ke rumah. Menyadari bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia cukup memesan makanan dan sesekali menyewa petugas kebersihan paruh waktu, jadi dia telah memberhentikan pelayan yang bekerja di rumah itu.

Kini, dia mendapati dirinya sebagai satu-satunya penghuni ruang tamu yang luas itu. Duduk di sofa, tatapannya melayang ke seluruh ruangan yang kosong itu.

Dekorasi bergaya minimalis dengan warna abu-abu dan putih, tidak memberikan kehangatan pada suasana.

Sebuah kesadaran yang mengerikan merayapi dirinya, yaitu ruang yang luas dan elegan ini terasa seperti sebuah makam raksasa, di mana dia mengubur masa mudanya yang hilang dan cinta yang telah lenyap tanpa jejak selama bertahun-tahun.

Di rumah yang dingin dan bergema ini, akankah ada orang yang menyadari jika suatu hari dirinya tiada?

Menghela napas dengan lelah, Carrie merasa tubuhnya begitu berat saat bersandar ke dinding yang dingin untuk mencari dukungan dan berjuang menaiki tangga untuk pergi ke kamar tidurnya yang berada di lantai dua.

Setiap langkah merupakan pertarungan yang mengirimkan rasa sakit yang menusuk dari permukaan kulit sampai ke tulang-tulangnya.

Rumah ini begitu kosong sehingga suara sekecil apa pun akan bergema, yang memperbesar rasa keterasingannya.

Hari ini, di tengah keheningan yang mendalam, Carrie benar-benar memahami hakikat kesepian yang menyeluruh. Ini terasa begitu nyata, menyelubungi inderanya dengan tekstur dan bisikan-bisikan memilukan, mencengkeram hatinya, dan menghasilkan rasa sakit yang tumpul dan tidak henti-hentinya.

Sesampainya di kamar, satu-satunya tempat ternyaman baginya, dia langsung ambruk ke tempat tidur. Dia benar-benar kelelahan, baik secara fisik maupun mental.

Tepat saat dia ingin menyerah pada rasa lelahnya, dering ponsel yang tajam menembus kesunyian.

"Kamu meneleponku tadi siang, ada urusan apa?" tanya Kristopher dengan suara dingin dan jauh seperti biasanya.

Carrie terkejut dengan panggilan tidak terduga itu. Dia membuka mulut dan hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum dia bisa mengumpulkan pikirannya, sebuah suara lembut dan feminin terdengar dari ujung telepon, "Kristopher, bisakah kamu temani aku ...."

Gelombang emosi mempererat pegangan Carrie pada ponsel, jantungnya berdebar makin kencang setiap detiknya. Merasa kewalahan dan tidak mampu menahan kepanikannya yang meningkat, dia bertanya, "Kamu sedang bersama siapa?"

Alih-alih menjawab, Kristopher hanya berkata dengan nada datar dan dingin, "Jika ada urusan, kita bicarakan lagi saat aku pulang. Aku masih ada urusan lain, aku tutup dulu teleponnya."

Kristopher segera mengakhiri panggilan telepon tanpa memberi Carrie kesempatan untuk menjawab.

Saat bunyi bip kasar dari sambungan telepon terdengar di telinganya, sudut bibir Carrie terangkat membentuk sebuah cibiran. Dia benar-benar bodoh! Jauh di lubuk hatinya, dia tahu betul jawabannya, tapi dia masih berharap mendengar jawaban itu langsung dari mulut Kristopher sebagai konfirmasi.

Mengalami pergolakan batin, Carrie mengambil tabletnya dan menelusuri topik hangat hari itu.

Sebuah judul berita menarik perhatiannya yang berbunyi, "Dilecehkan ketika makan malam, seorang aktris langsung dilindungi oleh pacarnya yang tangguh." Senyum kecut tersungging di bibirnya.

Carrie tahu betul bagaimana rasanya menghadapi pelecehan di acara makan malam semacam itu.

Dia ingat betul audisi besar pertamanya setelah memasuki dunia hiburan. Dia diantar oleh manajernya ke sebuah acara makan malam dengan sutradara dan produser berpengaruh dari sinetron 'Serene Sighs'.

Sebagai seorang pemula dalam dunia hiburan, Carrie merasa luar biasa rentan dan tidak tahu harus berbuat apa pada acara semacam itu.

Sang produser menatapnya dengan tatapan mesum sambil bertanya, "Apa ini aktris pendatang baru yang baru saja kamu rekrut? Kelihatannya dia lumayan, tapi aku penasaran melihat bagaimana dia minum. Bagaimana jika kita bertaruh? Jika kamu sanggup menghabiskan sebotol wine ini sekaligus, aku akan meminta sutradara untuk membiarkanmu mengikuti audisi untuk pemeran utama."

Carrie ingin menolak, tapi karena tekanan terus-menerus dari manajernya, dia terpaksa menghabiskan seluruh botol wine itu.

Setelah makan malam tersebut, dia buru-buru dibawa ke rumah sakit karena penyakit maagnya kambuh.

Merasa khawatir kesempatan ini mungkin akan direbut oleh orang lain, manajernya segera menyelesaikan biaya rumah sakit dan pergi.

Pada saat itu, Carrie mendapati dirinya terisolasi di ranjang rumah sakit selama beberapa hari.

Namun, bahkan sebelum Carrie dapat meninggalkan rumah sakit, media sudah heboh dengan pengumuman bahwa Lise didapuk sebagai pemeran utama dalam sinetron 'Serene Sighs'.

Alhasil, sang manajer menegur Carrie karena kurang ambisius dan mengeluh, "Kamu lebih menarik daripada Lise, tapi kenapa kamu tidak seambisius dia? Berkat kedekatannya dengan Pak Kristopher, tanpa repot-repot, semua orang berlomba-lomba untuk menyenangkannya. Kudengar Pak Kristopher secara pribadi mengatur agar dia mendapatkan peran utama dalam sinetron ini!"

Saat sinetron itu ditayangkan perdana, karier Lise langsung melejit menjadi aktris papan atas.

Sejak saat itu, Carrie membiarkan aspirasi aktingnya memudar dan memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk mendukung suaminya, Kristopher.

Lagi pula, tidak peduli seberapa keras usahanya, dia tidak akan pernah bisa mendapatkan kesempatan karier seperti Lise, yang mendapat dukungan dari Kristopher.

Saat itu, Carrie merasa dirinya menempati posisi yang seharusnya ditempati Lise, yaitu istri Kristopher, sehingga dia menganggap dirinya telah berutang pada wanita itu.

Dengan menyerahkan peluang karier itu pada Lise, Carrie mengira utangnya pada wanita itu sudah impas.

Akan tetapi, Carrie tidak menyangka Lise tidak hanya merebut karier yang dia dambakan, tapi juga kasih sayang Kristopher.

Di saat kehidupan profesional dan cinta Lise berkembang, Carrie menyadari kenyataan pahit bahwa dia telah terlalu sibuk dengan perasaannya sehingga dia sampai mengorbankan kariernya. Sekarang, dia mendapati dirinya kehilangan cinta maupun karier.

Dengan air mata yang mengalir di wajahnya, Carrie merasa dua tahun terakhirnya terasa begitu konyol.

Jika diberi kesempatan untuk mengulang lagi, dia tidak akan sebodoh itu untuk membiarkan dirinya terpikat oleh pesona Kristopher.

"Bu Katrina, kontrak hak cipta baru telah disiapkan. Tolong dicek apakah ada yang tidak sesuai."

Menerima pesan ini, ponselnya bergetar dan menyadarkan Carrie dari lamunannya. Dia menatap berkas PDF yang terlampir dalam pesan itu dan pikirannya terpaku untuk sejenak.

Dengan nama samaran Katrina Spencer, Carrie mencoba peruntungan sebagai penulis skenario amatir dan telah berhasil menjual beberapa naskah.

Ketika merintis karier sebagai penulis skenario, Carrie kerap menjual karyanya dengan harga murah karena didorong oleh kebutuhannya yang mendesak untuk mendapatkan uang.

Beberapa tahun kemudian, naskah buatannya menjadi film dan sinetron yang laris di pasaran, sehingga melambungkan reputasi Katrina ke tingkat yang lebih tinggi.

Pada saat itu, Carrie telah menikah dengan Kristopher dan tidak lagi dirundung kesulitan keuangan yang pernah membuatnya putus asa. Tagihan biaya pengobatan neneknya yang membengkak juga sudah menjadi masa lalu. Setelah krisis keuangannya teratasi, tanggung jawab Carrie beralih ke mengurus rumah tangga, di mana dia berusaha menjadi istri teladan bagi Kristopher. Di tengah perubahan ini, nama samarannya, Katrina Spencer, perlahan memudar.

Akan tetapi, masa lalunya sebagai Katrina belum siap untuk dilupakan begitu saja. Baru-baru ini, dia didekati oleh seseorang yang ingin membeli naskah lamanya dengan harga tinggi.

Namun, Carrie merasa ragu untuk menjualnya. Dia mengemukakan beberapa kekhawatiran tentang kontrak yang diberikan padanya, dan yang mengejutkannya, sang pembeli dengan tulus bersedia merevisi kontrak sesuai keinginannya.

Membaca kontrak yang baru saja dia terima dan sudah direvisi, sebuah pemikiran terbesit di benaknya sehingga dia menarik napas dalam-dalam dan membulatkan tekad.

Jarinya yang panjang dan ramping menari-nari di atas keyboard ponselnya dengan cepat dan tepat saat dia mengetik sebuah perintah yang tegas, "Buatkan perjanjian cerai sesuai dengan permintaanku dan pastikan dokumen itu sampai ke tangan Kristopher Norris, CEO Grup Norris."

Tanpa menunggu jawaban, dia meletakkan ponselnya dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Setiap langkah mencerminkan perpaduan antara tekad dan kemandirian yang baru saja dia temukan.

Bab 3

Setengah jam telah berlalu, akhirnya Carrie bangkit dari bak mandi, tapi anggota tubuhnya terasa berat seakan-akan tidak mau diajak bekerja sama. Saat dia mendongak untuk melihat bayangannya sendiri yang terpantul di cermin, dia melihat kulitnya yang halus dan mulus seperti boneka porselin yang berkilau.

Sepasang matanya yang penuh dengan daya pikat, berbinar dengan kehangatan yang lembut dan memesona, mengundang siapa pun yang berani menatapnya.

Meski usianya sudah menginjak seperempat abad, dia merasa senang karena waktu belum menorehkan jejaknya pada kulitnya yang sempurna.

Dengan penampilan seperti ini, dia tidak seharusnya mengasihani dirinya sendiri seperti seorang wanita malang yang tidak berdaya.

Hanyut dalam lamunannya, Carrie lupa bahwa kaki kanannya sedang cedera dan menjulurkannya ke lantai yang dingin dengan ceroboh. Lukanya dibalut dengan plastik wrap dengan tujuan agar tidak terpapar air, tapi perban itu sangat erat sehingga menghambat peredaran darah dan membuat kakinya mati rasa. Saat menyentuh lantai, kakinya mengkhianatinya sehingga tanpa sengaja dia langsung terpeleset.

"Ah!" Carrie terkesiap dengan lengan terayun-ayun mencari penopang di tengah kesulitannya.

Tepat pada saat dia hampir menyentuh lantai, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

Dalam balutan setelan jas yang dirancang tanpa cela, Kristopher berdiri di pintu masuk dan tampak begitu menawan. Saat pandangan mereka bertemu, dia tertegun sejenak dan tampak terkejut, sebelum menutup jarak di antara mereka dengan langkah cepat.

Napas Carrie tercekat saat Kristopher membopongnya seperti seorang pengantin dan dekapan yang tidak terduga melingkari pinggangnya. Terperangkap lengah oleh kemunculan Kristopher yang tiba-tiba, Carrie tersentak saat menyadari bahwa dirinya masih telanjang. Rasa malu menyerbunya, dia secara naluriah menutupi dadanya.

Ini pertama kalinya mereka begitu intim sejak pernikahan mereka, dan rasa tidak nyaman ini membuat jari-jari kakinya meringkuk dan kulitnya merona merah muda nan lembut.

Kristopher menatap Carrie sambil menyeringai nakal dan menggoda dengan lembut, "Jujur saja, tidak banyak yang bisa dilihat."

Merasa malu sekaligus sedikit jengkel, Carrie membalas dengan ketus, "Pak Kristopher memiliki banyak pengalaman, wajar jika tidak ada yang bisa membuatmu terkesan lagi."

Dengan payudara kencang dan berukuran cup C, Carrie tentu saja tampak lebih sensual dibanding Lise, yang memiliki bentuk tubuh datar dan kaku.

Namun, Carrie tahu betul bahwa tanpa cinta, fisik yang paling sempurna sekalipun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pesona seseorang yang sangat disayangi.

Dengan acuh tak acuh, Kristopher meraih jubah mandi yang tergantung di balik pintu dan mengenakannya pada tubuh Carrie. Mendengar komentar Carrie, dia mengerutkan kening dan bertanya, "Apa maksudmu, Carrie?"

Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, ekspresinya menjadi semakin tidak sabar saat bertanya, "Katakan padaku, apa kamu sengaja mengirim surat cerai itu di tengah malam hanya untuk memancingku pulang ke sini dan memergokimu sedang telanjang bulat?" Ada jejak ketidakpercayaan dan kekesalan dalam nada suaranya saat dia melanjutkan, "Sudah kubilang aku sedang sibuk. Apa perlu kamu bersikap dramatis seperti ini?"

Dituduh seperti itu, amarah Carrie berkobar, yang menyulut kembali ketegangan di antara mereka. Kristopher selalu cepat kehilangan kesabaran terhadapnya.

Carrie bukan tipe orang yang mengumbar kata cerai dengan sembarangan. Faktanya, ini pertama kalinya dia menyinggung soal perceraian selama dua tahun pernikahan mereka, tapi Kristopher tampak acuh tak acuh terhadap persoalan ini. Pria itu hanya menampik kekhawatirannya, seolah-olah dia bereaksi berlebihan terhadap masalah sepele.

Meski merasakan rasa sakit yang berdenyut di kakinya, Carrie mengumpulkan kekuatan untuk meronta dan menegur, "Turunkan aku."

Namun alih-alih menghiraukannya, mata Kristopher tertuju pada kaki Carrie yang terbalut perban. Dia mengerutkan alis dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan kakimu? Apa ini semacam taktik licik untuk memikatku kembali?"

Mendengar kata-kata Kristopher, tawa getir lolos dari bibir Carrie.

Di mata Kristopher, mungkin dia dianggap sebagai orang yang suka mencari perhatian. Karena gagal menarik perhatiannya, pria itu mengira dia sengaja mengarang cerita agar dia terlihat begitu menyedihkan dan membuatnya merasa iba.

Dia meringis dan berdalih, "Ini hanya perawatan kecantikan dan tidak boleh terkena air."

"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan menjalani perawatan seperti ini?" tanya Kristopher dengan santai sambil menggendong Carrie keluar dari kamar mandi.

Dada Kristopher begitu bidang sehingga Carrie dapat merasakan dengan jelas panas tubuh yang menyengat melalui lapisan kemejanya yang tipis serta bentuk otot dadanya yang tegas.

Kedekatan itu menimbulkan ketegangan yang tidak mengenakkan bagi Carrie, yang telah memutuskan untuk mengakhiri semuanya untuk selamanya.

Tanpa sadar, suaranya lebih tinggi dan tajam saat bertanya, "Sejak kapan kamu peduli dengan hal-hal sepele seperti itu, Pak Kristopher?"

Untuk pertama kalinya, Kristopher melihat Carrie bertanya dengan sinis, tapi anehnya, dia malah merasa geli. Dengan sikap tenang, dia menjawab, "Kamu istriku, jadi wajar jika aku khawatir dengan keselamatanmu."

"Benarkah?" Ada kesedihan dalam suara Carrie saat berkata, "Sepertinya kamu tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai istrimu. Bahkan meski aku mati, kamu mungkin bukan orang pertama yang mengetahuinya."

Lagi pula, pada saat ini, Kristopher sedang sibuk menemani cinta pertamanya, jadi dia tidak akan memiliki waktu untuk mendengarkan permohonan putus asa Carrie.

Terperangkap lengah oleh tuduhan Carrie, Kristopher membelalak kaget sebelum terkekeh tidak percaya dan bertanya, "Carrie, kenapa kamu tiba-tiba marah? Kamu marah hanya karena aku sedang sibuk sore ini dan tidak menjawab panggilan teleponmu? Mungkin aku terlalu memanjakanmu akhir-akhir ini, sehingga kamu menjadi terlalu lancang?"

Terkejut, Carrie membeku. Kristopher menuduhnya terlalu lancang?

Dia menyadari pernikahan mereka selalu timpang. Di mata Kristopher, hubungan mereka tidak lebih dari sekadar transaksional, di mana dia hanyalah seorang wanita yang menukar kebebasannya dengan keamanan finansial.

Pernikahan mereka seharusnya hanya sekadar simbiosis mutualisme, tapi dia dengan bodohnya telah jatuh cinta pada pria ini.

Dalam medan percintaan yang rumit, orang yang jatuh lebih dulu pasti akan mendapati diri mereka pada posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Melihat reaksi Kristopher seolah-olah dia adalah orang yang tidak masuk akal, Carrie merasa terguncang dan sesak napas yang hebat menjalar di dadanya.

"Kubilang turunkan aku sekarang juga!" bentak Carrie dengan nada tidak sabar yang tajam.

Kristopher bergeming dan terus menggendongnya sampai ke tepi ranjang sebelum tiba-tiba melepaskan pegangannya.

Saat dukungan itu lenyap, Carrie yang lengah merasakan sentakan yang tajam sehingga dia tanpa sadar berusaha meraih Kristopher dengan jantung yang berdebar kencang.

Alhasil, tubuh mereka terjatuh ke tempat tidur, jubah mandi yang menutupi tubuh Carrie bahkan bisa lepas kapan saja jika dia melakukan pergerakan sekecil apa pun.

Bertopang pada satu siku, Kristopher menatap ke arah Carrie dengan bibir melengkung membentuk seringai licik dan menggoda saat berkata, "Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku melepaskanmu? Jadi, kenapa kamu memelukku lagi?"

Mata Kristopher yang dalam dan berbinar bagaikan danau tengah malam yang bertabur bintang dan memikat hati Carrie.

Di kedalaman surgawi ini, Carrie sekilas melihat bayangannya sendiri.

Di saat-saat seperti ini, dia memiliki kesan yang keliru bahwa Kristopher adalah pria yang penyayang.

Sayangnya, cintanya yang mendalam hanya diberikan pada Lise dan yang tersisa bagi Carrie hanyalah khayalan kosong.

"Membosankan!" seru Carrie dengan jengkel. Saat berjuang untuk bangun, dia tidak sengaja menyentuh sesuatu yang tidak terduga.

Detik berikutnya, perutnya secara jelas merasakan perubahan yang nyata pada bagian bawah pria itu.

"Jangan bergerak, atau aku tidak bisa menjanjikan apa yang akan terjadi selanjutnya," ucapnya memperingatkan dengan suara yang dalam dan serak.

Mendengar pernyataan itu, Carrie mengerutkan kening dan mengumpat dalam hati.

Benar saja, semua pria memiliki naluri yang sama seperti hewan. Meskipun mereka tidak memiliki perasaan, ini tidak memadamkan hasrat dasar mereka.

Namun, dia tidak berani memprovokasi Kristopher. Sambil memalingkan wajahnya, tubuhnya tetap kaku, membeku di tempat.

Merasa jengkel, dia membalas, "Bukankah kamu bilang tidak ada yang bisa dilihat? Kenapa kamu masih bereaksi, Pak Kristopher? Apa kamu semudah itu dibuat terangsang?"

Begitu kata-kata itu terlontar dari mulutnya, Carrie sudah menyadari akibat yang mungkin timbul dari lidahnya yang tajam dan gelombang penyesalan menyerbunya.

Namun, alih-alih marah, Kristopher hanya tertawa kecil dan berkata, "Bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Karena aku tidak bisa mengubahnya, kupikir aku bisa belajar menerimanya. Lagi pula, sudah bertahun-tahun sejak kita menjadi suami istri, jadi akan sangat disayangkan jika aku mengabaikanmu begitu saja."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED