Bak palu godam raksasa yang meluluhlantakkan pegunungan Jayawijaya, seperti itulah perasaan seorang Amadeo Keita yang luluh lantak saat ceweknya mendadak menamatkan hubungan mereka yang sudah terukir lima tahun lamanya.
“Apa kamu nggak bisa mikir ulang lagi keputusanmu itu?” tanya Deo tak percaya.
“Itu udah keputusan final aku, Yo. Maaf, ya ...” jawab Freya dengan sangat lirih.
“Paling nggak beritahu aku alasannya, kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku?” desak Deo ingin tahu.
“Kamu ... terlalu baik buat aku, Deo.” Freya memandangnya nanar.
“Harusnya kamu bersyukur dong kalo aku cowok yang baik!” kata Deo bangga, tapi hanya sesaat saja. “Alasan kamu kok nggak sinkron sama tindakan kamu, ya?”
Freya meremas kedua tangannya dengan gugup.
“Pasti ada alasan lain, kan, Frey?” kata Deo curiga. “Kita ini udah lima tahun pacaran lho, bahkan aku udah rencana mau ngenalin kamu ke ortu aku, tapi ...”
“Udah telat, Yo. Udah telat ...” ratap Freya nelangsa. “Aku udah telat ...”
“APA?” Deo membulatkan kedua matanya. “Kamu telat? Kok Bisa? Selama ini aku selalu jaga jarak aman lho sama kamu, Frey! Masa sih kamu bisa telat gitu aja? Telat dari mananya coba?”
Deo mendesah pelan.
“Bisa nggak kamu pelanin dikit suara kamu?” bisik Freya sambil mengertakkan giginya. “Kamu sukses bikin kita jadi bahan tontonan, tau!”
Deo menoleh ke kanan dan kiri, beberapa mahasiswa yang sedang makan di kantin kini memperhatikan mereka dengan penuh rasa keingintahuan.
“Ehm, ya kamu duluan sih yang bikin panik.” Deo terbatuk sambil pura-pura tak terjadi apa-apa. “Siapa sih yang nggak kaget pas kamu bilang kalo kamu telat tadi?”
Freya menarik napas dengan jengkel.
“Maksud aku itu, aku udah telat ngenalin kamu ke ortu aku.” Dia memperjelas kalimatnya. “Bukan telat yang ituuuu!”
"Huh, ngemeng kek dari tadi.” Deo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Salah siapa, coba? Dulu aku udah sering minta main ke rumah kamu sekalian silaturahmi sama calon mertua, tapi kamu nggak pernah mau. Lima tahun aku pacaran sama kamu, apa pernah kamu ngenalin aku ke ortu kamu?”
Freya menyeruput es jeruknya kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi ke arah Deo.
“Kamu sendiri juga nggak pernah ngenalin aku sama ortu kamu,” komentarnya.
Deo termangu.
“Oh iya ... Kita samaan deh kalo gitu.”
Freya menghabiskan es jeruknya yang tinggal sedikit.
“Pada intinya kita udah nggak bisa sama-sama lagi, Yo. Kita harus putus sampe di sini,” katanya sungguh-sungguh.
“Alasannya apa, Frey?” desak Deo lagi. “Cuma karena lima tahun pacaran kita nggak pernah saling mengenal ortu masing-masing? Atau kamu malu karena aku lebih muda dari kamu? Atau ...”
“Deo, bukan masalah itu!” Freya menggeleng.
“Terus apaan? Kamu ngomong dong yang jelas. Jangan ngasih aku alasan klasik kayak aku terlalu baik atau apalah ... yang masuk akal dikit ‘napa?”
Freya memandang Deo dalam-dalam.
“Cepetan jawab, nggak usah ngelihatin aku kayak gitu! Kamu mau bikin aku baper?” sentak Deo. “Nggak usah kelamaan mikirnya ...”
“Aku mau dinikahin,” kata Freya lirih.
“Apa?” Deo berpikir kalau telinganya salah dengar.
“Aku mau dinikahin sama cowok lain, Yo.” Freya meletakkan tangannya di atas tangan Deo yang terkepal. “Cowok yang dateng melamar aku minggu lalu ...”
"Minggu lalu?” potong Deo tidak percaya. “Dan kamu baru cerita sama aku sekarang, sekaligus mutusin aku? Hebat ...”
Freya menggelengkan kepala.
“Kamu jangan marah gini, dong. Selama seminggu itu aku berusaha bujuk papaku biar nggak buru-buru menerima lamaran cowok itu,” katanya lirih. “Tapi papaku bilang dia cowok yang baik dan juga ... mapan.”
Brak!
Di luar kesadarannya, Deo memukul meja dengan satu tangannya yang bebas. Beberapa mahasiswa menoleh ke arahnya lagi, tapi Deo tidak peduli.
“Pantes aja diterima,” komentarnya sinis. “Cowok mapan sih, ya? Apalah aku ini yang masih bocah ingusan dan baru kemarin sore resmi jadi mahasiswa baru.”
“Deo, nggak kayak gitu!” Freya menggenggam tangannya, bermaksud meredam emosi Deo.
“Nggak usah pegang-pegang aku lagi,” sentak Deo. “Nyadar dong bentar lagi kamu jadi isteri orang.”
“Maaf,” ujar Freya sambil menarik tangannya kembali. “Maaf kalau keputusanku ini bikin kamu sakit hati ...”
“Banget lah!”
“Maaf sekali lagi, kita harus putus ...” Freya mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Namun, dia hanya berdiri di depan meja selama beberapa saat lamanya.
Deo heran sekali melihatnya begitu.
“Ngapain kamu? Kalo mau pergi ya udah, sana. Nggak usah lama-lama,” suruhnya.
Freya menoleh dengan ragu-ragu, tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu.
“Yo, es jeruknya tadi tolong dibayar sekalian, ya. Makasih dan maaf sekali lagi.”
Deo terbengong-bengong ketika menyaksikan permintaan cewek yang baru saja memporakporandakan hatinya itu.
Sialan, kata Deo dalam hatinya. Udah diputusin sepihak, masih harus nanggung tagihan es jeruk yang nggak seberapa ....
Setengah jam kemudian Deo meninggalkan kampusnya dengan hati yang hampa. Lima tahun sudah dia menghabiskan waktunya dengan orang yang salah, lima tahun yang berlalu sia-sia tanpa ada kenangan berarti.
Dan lima tahun yang dibuangnya demi menjaga jodoh orang lain.
“Deo, nanti malam kamu nggak futsal lagi, kan?” sapa mama ketika Deo baru membuka pagar rumahnya. Beberapa orang pekerja nampak sibuk membereskan halaman.
“Tergantung, Ma. Kenapa emang?” tanya Deo tidak bersemangat.
“Nanti malem kakak kamu mau lamaran, kamu ikut nganter ya?” ujar mama sumringah.
Deo tidak menjawab. Mendengar kata lamaran entah kenapa membuat hatinya terasa ngilu.
“Kok diem?” tanya mama heran.
“Capek banget aku, Ma. Aku nggak usah ikut deh, ya. Kan yang mau nikahan kakak, bukan aku.” Deo menggelengkan kepalanya sambil melangkah memasuki ruang tamu.
“Tapi kamu kan adiknya,” kata mama. “Udah sewajarnya kalo kamu ikut nganterin lamaran kakak kamu. Ya udah, kamu istirahat sana biar capeknya ilang. Nanti malem kamu bisa ikutan ke rumah calon kakak ipar kamu.”
Deo terlalu lelah untuk menjawab. Dia bergegas naik ke lantai dua kemudian masuk ke kamarnya untuk melepas penat.
Hari yang suram sepanjang hidupnya, begitu Deo berpikir. Freya memilih menikah dengan cowok lain daripada mempertahankan hubungan dengan dirinya yang sudah terjalin lima tahun lamanya.
Hari yang suram ini seharusnya menjadi hari terindah untuknya dan juga Freya Arabelle. Karena semestinya mereka berdua merayakan anniversary mereka yang kelima, tepat pada hari ini.
Tapi justru keputusan sepihaklah yang Deo terima. Freya dengan gampang mengakhiri hubungan mereka, segampang dia melupakan apa yang sudah mereka berdua jalani sejauh ini.
Deo mengambil ponselnya dan menghapus semua foto-foto Freya baik yang tersimpan di galeri maupun di semua akun media sosialnya. Deo tidak mau berlama-lama meratapi patah hatinya.
Karena air matanya terlalu berharga untuk sekadar menangisi jodoh orang lain.
Bersambung—
Deo tertidur sampai adzan ashar berkumandang. Dia bangun, mengucek-ucek matanya dan bersyukur masih bisa hidup tanpa mantan pacarnya.
Sore itu mama heboh sendiri mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk melamar calon menantunya nanti. Setelah Deo mandi sore pun keribetan mamanya belum selesai juga.
“Ma?” panggil Deo dengan handuk yang melingkar di lehernya. Kepalanya celingukan ke sana kemari mencari seseorang.
“Apa sih?” sahut mama sambil lalu.
“Itu yang mau ngelamar mama apa anak mama?”
“Ya anak mama lah, kakak kamu!” sergah mama sambil merapikan barang-barang yang berserakan di meja.
“Terus orangnya mana, perasaan nggak kelihatan dari tadi?” komentar Deo. “Yang mau nikah siapa, yang ribet siapa.”
“Yang namanya calon pengantin emang harus diistimewakan, Yo. Dia cukup nyiapin mental buat ijab qobul, selebihnya keluarga yang ngurusin segala macem keperluan pernikahannya,” kata mama menjelaskan.
Deo mengangguk-angguk paham.
“Enak ya jadi calon manten, tinggal ongkang-ongkang kaki doang. Selebihnya anggota keluarga yang ribet ngurus ini ngurus itu.”
“Kamu kepingin kayak kakak kamu?” seloroh mama sambil memandang anak bungsunya.
“Enggak lah. Nanti tau-tau aku bawa calon mantu juga, mama yang ketiban pusing,” sahut Deo sambil melangkah pergi meninggalkan mamanya.
“Hustt, hati-hati ngomongnya. Bisa jadi doa loh itu!”
Deo masih sempat mendengar suara mamanya berseru menanggapi candaannya. Cowok itu mana mungkin siap untuk menikah di umur yang masih labil seperti sekarang.
Mendadak pintu kamar di sebelah kamar Deo terbuka, dan seorang laki-laki dewasa muncul keluar.
Dia adalah kakak kandung Deo sekaligus anak sulung mama, namanya Gennaro Silva.
“Baru pulang kuliah, Yo?” sapanya datar.
“Udah dari tadi kok, Kak.” Deo menjawab sungkan.
Umur mereka yang terpaut lumayan jauh serta pembawaan Gennaro yang begitu tenang, kalem dan tidak banyak omong ini seakan menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka berdua.
“Nanti ikut, ya?” kata Gennaro lagi.
Sebelum Deo sempat menjawab, Gennaro sudah melangkah pergi meninggalkannya di depan kamar.
Menjelang pukul empat sore, ketika semua anggota keluarga sudah siap berangkat, Deo yang terakhir kali keluar kamar menatap heran mamanya.
“Dari tadi ribet nyiapin ini itu, yang pergi ke sana cuma empat orang doang, Ma?” komentarnya.
“Emang mau ngajak siapa lagi?” tukas mamanya sambil sesekali meratakan bedak di kedua pipinya.
“Kirain mau ngajak warga sekampung,” ceplos Deo.
Mama berbisik tepat di telinga Deo.
“Ini cuma mau melamar anak orang, bukan bikin acara sunatan.”
Deo terbahak, untung Gennaro tidak mendengar guyonan yang diucapkan mama mereka.
Papa yang sudah tidak sabar bergegas menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam mobil.
Deo menurut, dia segera masuk dan duduk di belakang, bersebelahan dengan Gennaro. Di sepanjang perjalanan, Deo dan kakaknya sama sekali tidak mengobrol. Deo sendiri sungkan jika harus membuka obrolan lebih dulu.
Perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit menggunakan mobil, sampai kemudian papa membelokkan kendaraannya di gang besar sebuah perumahan elit di pusat kota.
Deo tidak memiliki firasat apa pun ketika ayahnya menepikan mobilnya di salah satu rumah. Dia bahkan masih anteng-anteng saja saat salah satu penghuni rumah menyambut kedatangan keluarganya dengan sangat ramah.
Baru setelah calon pengantin perempuan keluar untuk menyambut pihak keluarga calon pengantin laki-laki, Deo terkejut bukan main.
“Ini yang namanya Freya?” sapa mama sambil berdiri untuk cipika cipiki dengan calon menantunya. “Cantiknya ...”
Deo mengedipkan matanya beberapa kali, berharap sosok yang sedang dirangkul oleh mamanya akan berubah menjadi orang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetapi kenyataan kadang selalu lebih menyakitkan daripada ekspektasi.
Calon menantu mamanya adalah Freya Arabelle, mantan pacarnya sendiri yang secara sepihak telah memutuskan hubungan dengannya tadi siang.
Deo mengelus dadanya dengan nelangsa, dia harus kuat. Hatinya memang sempat rapuh, tapi hati ini bukanlah kaleng-kaleng. Dia harus menunjukkan kepada dunia, khususnya Freya, bahwa dia memiliki hati yang kokoh dan tak tertandingi.
Freya sendiri ekspresinya sulit ditebak, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Deo seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa adik dari calon suaminya ini adalah mantan pacarnya.
Acara lamaran sore itu tetap berlangsung lancar seperti rencana, tanpa memedulikan perasaan Deo yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Gennaro menyematkan cincin lamaran ke jari tangan Freya.
“Ma, acaranya udah selesai, kan?” tanya Deo ketika Gennaro dan Freya sudah duduk lagi di tempatnya masing-masing.
“Udah sih, kenapa?” tanya mama balik.
“Aku pulang duluan, ya?” kata Deo. “Aku kebelet, nih.”
“Bentar lagi, nunggu bubaran. Kamu nggak sopan kalau pulang duluan. Mau naik apa kamu?” bisik mama.
“Ojek online kan banyak,” bisik Deo mengimbangi mamanya. “Beneran kebelet ini, Ma. Udah di ujung, daripada aku kebablasan di sini gimana? Tambah nggak sopan, kan? Malu lagi ...”
“Apaan sih kamu? Ya udah sana, tapi pamit dulu.” Mama tak kuasa lagi mencegah keinginan anak bungsunya.
Deo berdehem agak keras.
“Tante, Om, Kakak, mohon maaf sebesar-besarnya! Saya izin pulang duluan, ada panggilan mendadak!” katanya dengan wajah meringis.
Mama Freya tertawa melihat ekspresi wajah Deo.
“Adiknya Aro, ya? Lucunya ...”
“Saya permisi!” Deo cepat-cepat pergi meninggalkan rumah Freya sambil membawa semua sakit hatinya yang masih tersisa.
Deo menelusuri jalanan tanpa arah tujuan yang jelas. Dia ikut saja ke mana kedua kakinya ini membawanya pergi, yang jelas dia tidak mau berlama-lama menyaksikan lamaran kakaknya dengan mantan pacarnya sendiri.
Mendung mulai menggelayut di langit, menambah kesuraman di hidup Deo menjadi semakin sempurna. Tidak dipedulikannya satu-dua tetesan air yang mulai turun menitik di ujung hidungnya.
Deo keluar dari gang perumahan elit tadi, dan meneruskan pengembaraannya ke pinggir jalan besar. Walaupun tadi dia sempat bilang mau pakai ojek online, nyata-nyatanya Deo tidak memesan ojek satupun. Dia lebih memilih menyusuri jalanan dengan kedua kakinya. Tidak peduli risiko hujan, petir, bahkan masuk angin yang mengancamnya jika dia sampai kehujanan.
Namun ada satu hal yang membuatnya tiba-tiba peduli pada sekitarnya. Dari sudut matanya, Deo melihat seseorang sedang berdiri di tengah jalanan yang ramai kendaraan. Masalahnya orang itu tidak kelihatan sedang menyeberang.
Deo melihatnya dengan jelas saat orang itu membentangkan kedua tangannya, sengaja tidak mau menggeser posisinya saat truk besar tengah melaju kencang ke arahnya.
TIINNN! TIINN! TIIINNNNNN!
Suara klakson saling bersahutan dengan keras, memperingatkan seseorang yang dengan warasnya berdiri di tengah jalanan sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Deo mengamati orang itu dengan heran. Ada ya manusia yang nyalinya segede itu, pikirnya.
Beberapa orang yang sedang berdiri di tepi jalan mulai menunjuk-nunjuk sambil berkomentar macam-macam.
“Eh, itu dia mau mati apa gimana?”
“Dia pikir ini jalan punya moyangnya ...”
“Jangan-jangan mau bunuh diri!”
Bersambung—
Kata-kata mereka yang terakhir membuat Deo reflek menghentikan langkahnya, dan mencoba menyeberangi jalan, tepat di lokasi orang itu berdiri.
TIINN! TIINNNN!
Deo berlari, menyelip di antara kendaraan-kendaraan yang melaju dan dengan sekuat tenaga didorongnya orang itu hingga mereka berdua terpental bersama ke atas trotoar.
“Aduuhhh ...”
“Sakit ...”
Deo menoleh ke orang yang tadi sengaja menantang maut di tengah jalan.
“Lo nggak papa?” katanya.
Orang itu menoleh, dan memandang Deo dengan galak.
“Heh, lo ngapain sih pakai dorong gue? Gue kan jadi batal mati!” ketusnya.
Deo termangu sejenak, orang di depannya ini ternyata cewek. Dan dia sangat tidak terima ketika Deo mengentaskannya dari kematian.
“Maaf, elo waras?” tanya Deo ragu-ragu. “Elo baru aja diselametin dari maut, lho.”
“Gue nggak ulang tahun, jadi nggak usah pake selametan segala!” ketus cewek itu.
Beberapa orang pejalan kaki mendekati mereka.
“Dek, kalian ngapain sih? Bahaya tahu?”
“Untung nggak sampe kecelakaan, lain kali jangan sembrono.”
Deo meringis malu, sementara cewek di sebelahnya manyun menahan kekesalan.
“Padahal kurang dikit lagi,” keluhnya ketika orang-orang sudah berlalu pergi. Cewek itu bangkit berdiri lalu duduk di tepi trotoar.
Deo mengelus-elus sikunya yang terhantam aspal.
“Dikit lagi apanya?” tanya Deo, ikut duduk di tepi trotoar. Sikunya mulai nyut-nyut tidak keruan.
“Dikit lagi gue mati,” kata cewek itu. “Kalo elo nggak tiba-tiba muncul, gue pasti masih bisa mati ditabrak truk atau bus.”
Deo menarik napas.
“Jadi lo nggak beryukur nyawa lo masih utuh?”
“Enggak! Lagian gue heran banget, kenapa dari tadi gue berdiri di tengah jalan rame, tapi truk-truk itu masih bisa ngehindarin gue ...” keluh cewek itu lagi. “Gue pikir mati itu gampang, ternyata jauh lebih susah daripada yang gue kira.”
Deo memandangnya dengan heran. Cewek itu membuka hoodie yang menutupi kepalanya.
“Apa gue segitu nggak pantesnya buat mati?” Keluhan-keluhan itu terus mengalir dari mulutnya.
“Gue jadi kepo, alasan apa sih yang bikin lo segampang itu buat bunuh diri?” tanya Deo ingin tahu.
“Lo nggak bakal paham,” decak cewek itu. “Karena lo nggak di posisi gue.”
“Makanya gue jadi kepo,” komentar Deo. “Alasan masuk akal apa yang bikin elo rela mengakhiri hidup lo sendiri? Biar kalo suatu saat gue ada di posisi lo, gue nggak bakal ngelakuin apa yang lo lakuin tadi.”
Cewek itu bertopang dagu dan terdiam cukup lama.
“Gue baru diputusin,” katanya dengan pandangan menerawang. “Alasan sepele, baginya pacaran itu nggak terlalu serius dan bisa diakhiri kapan aja. Padahal sejak awal gue jadian sama dia, gue berusaha tulus dan serius ngejalaninnya.”
Deo terdiam selama cewek itu bercerita.
“Lo pasti mikir kalo alasan gue ini juga sepele kan?” ketus cewek itu. “Lo nggak ada di posisi gue sih, makanya lo nggak bakal paham apa yang lagi gue rasain. Lo pasti mikirnya gue labil, cengeng, lemah ...”
“Nggak juga,” sahut Deo kalem. “Gue ngerti kok gimana rasanya diputusin.”
Si cewek memandangnya tidak percaya.
“Lo nggak ngalamin apa yang gue alami, gimana bisa lo tau rasanya?”
Pandangan Deo menerawang ke langit yang menghitam karena mendung.
“Lo pacaran udah berapa lama?” katanya.
“Tiga tahun,” jawab si cewek.
“Gue udah pacaran lima tahun lamanya, hari ini mestinya gue sama dia ngerayain anniversary kami yang kelima.” Deo bercerita.
“Wah, selamat deh!”
“Tapi siang tadi gue justru diputusin sama dia,” sela Deo. “Gue diputusin karena dia mau dinikahin sama ortunya. Dan barusan gue dari nganterin kakak gue lamaran di rumah tunangannya.”
Mata cewek itu mengerjab heran.
“Apa hubungannya lo diputusin sama kakak lo lamaran?” katanya tidak mengerti.
“Hubungannya adalah ...” Deo menggantungkan kalimatnya sementara gerimis kecil-kecil mulai turun. “Ternyata kakak kandung gue sendiri yang akan menikahi mantan cewek gue. Makanya siang tadi gue diputusin.”
“Apa? Yakin lo?” sahut cewek itu terkejut.
“Yakin lah, mata gue kan masih normal. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri saat kakak gue masangin cincin lamaran itu ke jari tangan mantan gue,” ujar Deo, satu tangannya terulur menengadah ke depan, membuat tetesan air hujan itu tertampung di tangannya.
“Elo kuat lihatnya?”
“Dikuat-kuatin lah, gue nggak mau mohon-mohon dia supaya batalin pertunangannya sama kakak gue,” kata Deo tenang.
“Tapi kan elo masih bisa nyegah ...”
“Kalo dia udah tega mutusin gue buat orang lain, itu tandanya dia nggak beneran serius sama gue. Ngapain gue kejar lagi?” tukas Deo. “Buang-buang waktu aja.”
Cuaca saat itu seolah mewakili perasaan Deo yang terluka. Tidak tanggung-tanggung, hujan yang semula hanya rintik-rintik kecil mendadak turun lebih deras dan mengguyur semua yang masih berada di jalan.
“Elo nggak marah sama kakak lo itu?!” tanya si cewek dengan suara keras, mengimbangi suara air hujan yang menghantam jalanan.
“Kalo gue marah sama dia, itu artinya gue nggak bisa nerima kenyataan!” jawab Deo setengah berteriak. “Ngapain gue mati-matian mempertahankan orang yang nggak serius sama gue?! Kalo emang dia jodohnya sama kakak gue, gue bisa apa?!”
Cewek itu mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
“Lo yang sabar, ya!”
“Stok sabar gue luber-luber kayak hujan ini, kok! Tenang aja!” Deo berdiri dari duduknya dan menengadahkan wajahnya ke langit. Tetesan-tetesan besar air hujan menampar kulitnya dengan keras, seakan sedang membangunkannya untuk menerima kenyataan pahit itu.
“Neduh, yuk?!” ajak si cewek. “Hujannya deres banget, gue kedinginan!”
Deo menoleh dan mengangguk setuju. Cewek itu berjalan mendahuluinya ke tepi, sementara Deo mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua mencari tempat yang bisa dipakai untuk berteduh sementara. Saat cewek itu melihat ada pos ronda yang letaknya tidak begitu jauh di perkampungan warga, mereka berdua memutuskan untuk berteduh di sana.
“Udah mau maghrib, nih ...” kata Deo sambil duduk di tepi. “Lo nggak langsung pulang?”
“Entar aja,” sahut si cewek. “Gue lagi males ke mana-mana. Tujuan gue semula kan mau mati. Tau-tau lo dateng gitu aja ...”
Deo menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mati terus yang lo pikirin,” komentarnya. “Kalo mau bales dendam sama mantan, yang pinter dikit lah. Buktiin ke dia kalo elo masih bisa hidup lebih baik tanpa dia.”
“Tapi gue masih cinta sama dia ...”
“Kalo dia nggak cinta, lo mau apa?” kata Deo lugas. Dia menggeser tubuhnya lebih dalam ke pos ronda agar lebih hangat.
Ketika cewek itu menoleh dan melihat Deo menyandarkan tubuhnya dengan sangat nyaman di pos ronda, dia ikut bersandar sisi satunya. Mereka berdua saling berhadapan, namun terdiam memandangi hujan dengan pikiran masing-masing.
Hujan yang terus turun membuat rasa kantuk datang menyerang, sampai akhirnya tanpa sadar mereka tertidur di dalam pos ronda.
Bersambung—