Gadis itu datang pada reuni SMA satu angkatannya. Ya, akhirnya inilah keputusannya setelah beberapa hari yakin tidak akan datang ke acara ini.
Gadis berusia dua puluh lima tahun itu duduk paling belakang di antara teman-teman yang lainnya. Jika bukan karena undangan langsung dari pemilik sekolah SMA-nya, dia tidak mungkin datang pada acara tahunan ini. Mengingat jika dia tidak begitu dianggap oleh teman-temannya. Ya, dia memang tidak terlalu akrab dengan teman-temannya sedari dia di bangku SMA dan dia memang tidak sepopuler mereka. Namun demi Pak Ezra sang pemilik sekolah, dia akhirnya datang. Gadis itu memiliki banyak hutang budi pada Pak Ezra. Sosok kebapakan yang memberinya kesempatan menerima beasiswa semasa SMA dulu.
"Hai Emily, kau datang ternyata." Sapa seorang teman wanita padanya.
Gadis yang di sapa Emily tersenyum padanya. "Hai, Ember. Iya, aku datang. Senang bertemu denganmu," jawab Emily ramah pada temannya.
Mereka kemudian saling berjabat tangan. Gadis bernama Ember duduk di samping Emily. Mereka sama-sama tidak populer saat SMA dulu.
"Kupikir aku telat datang," ucap Ember.
"Sepertinya bukan kau yang telat tetapi acaranya yang mundur," jawab Emily. Acara-acara semacam ini memang terasa membosankan bagi seseorang yang tidak memiliki teman akrab seperti Emily. Kehadirannya di sini hanya seperti penghias ruangan.
"Jam karet bukankah sudah biasa," sambung Ember. "Oh, bagaimana kabarmu, Emily? Kau kerja di mana sekarang?"
Emily dan Ember berbincang berdua di bagian barisan belakang. Sementara pada bagian depan adalah mereka-mereka yang cantik dan dulunya sangat populer di sekolah.
Tak lama, suasana semakin riuh dan beberapa bahkan terdengar histeris. Emily menatap mereka tak mengerti. Apa yang membuat mereka heboh. Batinnya.
"Hahh?! Apa aku tidak salah dengar?!" Ember berkata lebih dulu. "King akan datang pada reuni ini." Dia melanjutkan.
King? Emily segera memproses nama itu. King Absyar? Dia kah. Laki-laki yang menghancurkan hati dan hidupnya dengan sangat keji. Cih, rasanya dia tidak sudi untuk bertemu lagi dengan laki-laki itu.
Emily menatap ke arah yang lain dan menyesali keputusannya untuk datang pada undangan reuni sekolah saat ini.
Jejeran para mantan King terlihat menata rambut dan membenarkan make up mereka saat kabar kehadiran King mencuat.
Ya, ya. King adalah bintang dari segala bintang di acara hari ini. Ah, bukan hanya pada acara hari ini tetapi pada sekolah mereka dulu. King Absyar adalah laki-laki tampan putra konglomerat yang memiliki pesona luar biasa. Wajah dan status sosial membuat para wanita bertekuk lutut di bawahnya. Melemparkan diri dengan suka rela. King adalah laki-laki pujaan sejuta wanita. Termasuk Emily pada waktu itu.
Namun gadis itu berbeda dengan gadis yang lainnya. Dia menjalin kisah kasih dengan King secara rahasia. Tidak ada yang tahu jika dia dan King pernah bersama dalam ikatan pacaran. Dia menjalani kisah asmara rahasia itu selama hampir dua tahun. Pencapaian pacaran terlama King. Hingga King kedapatan berselingkuh dengan adik kelas mereka. Sejujurnya, itu bukan yang pertama tetapi entah yang keberapa kali.
Yeach ... King memang seorang playboy.
Emily mual mengingat betapa bodohnya perasannya dulu pada King. Laki-laki pengecut yang tidak memiliki perasaan. Sangat rugi beberapa hari ia menangis karena laki-laki itu.
"Kenapa tidak ada bocoran jika King akan datang." Salah satu mantan pacar King berkata. Dia masih sibuk menebali bulu matanya dengan maskara.
"Sepertinya tidak ada yang tahu tentang ini," jawab teman wanita satunya. Dia juga adalah salah satu mantan King.
"Oh, astaga. Bagaimana wajah dia sekarang. Apakah masih setampan saat SMA."
"Sepertinya lebih tampan."
"Kapan King kembali dari luar negeri?"
"Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."
"Dia belum menikah bukan?"
"Aku harap begitu."
"Dan semoga dia belum punya pacar."
"Hahahaaaa."
Sementara para laki-laki berbincang tentang bisnis apa yang bisa mereka kelola bersama King atau perencanaan pesta malam dengan laki-laki itu.
Perbincangan mereka berakhir saat langkah kaki terdengar dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Semua wanita selain Emily menahan nafasnya untuk menyambut seseorang ini datang. Namun ... mereka harus kecewa karena bukan King yang datang melainkan kepala sekolah mereka. Perempuan-perempuan itu berteriak setelah tahu siapa yang datang.
"Pak Ezra ...." Teriak mereka kecewa karena ternyata yang datang adalah pemilik sekolah SMA mereka dulu. Padahal seharusnya mereka bahagia karena Pak Ezra menyempatkan diri untuk hadir di reuni ini. Namun ketenarannya kalah dengan tamu istimewa kali ini.
Pak Ezra tertawa melihat mereka semua. Kedua bola matanya menyisir ruangan dan menatap para muridnya ini. Beliau tersenyum saat melihat salah satu murid yang duduk di belakang sana. Emily. Undangannya diterima oleh gadis itu.
Emily segera berdiri dan membungkuk memberi salam saat pandangannya bertemu dengan Pak Ezra. Laki-laki ini juga yang dulu membantunya mendapatkan beasiswa saat kuliah.
Pak Ezra mengangguk sebagai jawaban. Beliau kemudian menyapa semuanya.
"Sepertinya kalian sudah mendengar jika King akan datang pada reuni kali ini." Pak Ezra berkata. Beliau berdiri dengan begitu gagah di depan semuanya.
"Iya, Pak. Apakah kabar itu benar?" Seseorang segera menjawab. Dia adalah gadis cantik yang memiliki tubuh indah salah satu mantan pacar King.
"Benar," seseorang menjawab dari pintu masuk ruangan dan seketika ruangan itu menjadi sangat ramai meneriakkan namanya. Oh, laki-laki pujaan sejuta wanita itu benar-benar datang. Ya, dia datang. Suaranya begitu berkharisma dan sangat damai.
Laki-laki itu melangkah masuk ke dalam dan berdiri di samping Pak Ezra. Kedua bola matanya segera mencari wanita yang ingin dia temui. Kedua sudut bibirnya melengkung saat ia mendapati wanita itu di sana. Seorang wanita yang menampakkan ketidak sukaan pada wajahnya.
"Hallo semuanya ...." King menyapa teman-temannya dengan ramah. Senyum menawan menghiasi kedua sudut bibirnya.
"Hay, King."
"Hallo, King."
"Senang kau bisa datang ke reuni ini, King."
"Kapan kau kembali dari luar negeri?"
Pak Ezra menenangkan mereka semua. Dia meminta panitia reuni untuk memulai acaranya.
"Duduklah di sampingku, King," seorang gadis cantik berprofesi desainer menawari King untuk duduk di sampingnya. Mereka pernah berpacaran selama dua Minggu lamanya.
King mengangguk tetapi tidak menerima tawaran itu. Dia memiliki tempat duduk istimewa di reuni ini. Ya, dia duduk di samping Pak Ezra.
Dari sini, dia bisa melihat dengan jelas wanita yang ia cari. Emily. Gadis itu menunduk. Memainkan ponselnya dan tidak tertarik untuk mengikuti acara ini.
Apakah ini kebetulan. Emily benar-benar menyesal dengan keputusannya ini.
Emily masih enggan memperhatikan ke depan. Dia lebih memilih sibuk dengan ponselnya. Itu ... Agar pandangan matanya tidak bertemu dengan King.
Laki-laki itu terlalu menyakiti hatinya. Atau ... apakah hanya dia saja yang terlalu berharap pada hubungan mereka, dulu. Bukankah Emily tahu jika King adalah seorang playboy. Jadi bukankah hal yang wajar jika King berganti-ganti pasangan, menghianatinya berulang kali dan bahkan meninggalkannya saat ia diambang keterpurukan.
Emily yang salah karena dia terlalu percaya dengan laki-laki itu. Ah, tidak. Itu tidak wajar. Seorang laki-laki haruslah memiliki kesetiaan kepada pasangannya. Emily berperang pada pikirannya sendiri.
"Bagaimana kabar teman semuanya. Saya bahagia bisa datang ke acara reuni ini dan bertemu dengan kalian." Suara King ramah menyapa semuanya.
Emily sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki itu. Dia tidak sudi dan rasanya semakin muak saat mendengar ramah tamah King pada semuanya.
"Ember, maaf. Sepertinya aku harus kembali lebih dulu," ucap Emily pamit. Dia berdiri dari kursinya dan tepat setelah itu, Pak Ezra memanggilnya.
"Emily. Kemarilah," pinta Pak Ezra. Detik itu juga mata Emily menatap ke arah depan. Dan detik itu juga matanya bertemu dengan King. Pandangan mata mereka bertemu sepersekian detik sebelum akhirnya Emily mengalihkan pandangannya pada Pak Ezra.
Emily membungkukkan badannya. "Maaf, Pak. Umm, saya mendadak ada suatu urusan penting," ucap Emily canggung. Dia kemudian pamit pada semuanya dan terlebih dia benar-benar meminta maaf kepada Pak Ezra.
Tidak ada yang keberatan saat Emily pamit selain Pak Ezra dan tentu saja King. King sengaja datang ke acara ini hanya untuk menemui wanita itu. Tetapi Emily malah pergi.
Emily melangkah dengan tergesa. Dia menggerutu dalam hati dan menyalahkan keputusannya karena datang ke acara reuni ini.
Emily terus berjalan hingga basemen tetapi langkahnya terhenti saat seseorang menarik lengannya.
"Emily."
Emily terperanjat mendengar suara itu. Dia tahu ini adalah King.
"Astaga. Kau?!" Wanita itu memekik. Dia menarik lengannya dari genggaman tangan King hingga terlepas.
"Ya. Aku. Kenapa kau pergi, hmm. Tidakkah kau merindukanku Nona Emily?"
"Siapa kau hingga harus ku rindukan. Sangat tidak penting." Emily menjawab dengan judes.
"Oh, Nona Emily. Jangan terlalu galak." King menarik lengannya lagi dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Bajingan. Lepaskan." Emily mengumpatnya. Namun yang ada, King malah menunduk dan mengambil ciuman pada bibirnya.
PLAKK. Emily menampar King dengan sangat kuat.
"Benar-benar bajingan, kau King." Emily berkata dengan marah. Dia langsung melayangkan tinjunya pada perut King. Membuat pelukan laki-laki itu terlepas.
"Jangan berani menyentuhku lagi." Emily menunjuk tepat pada wajahnya. Oh, dia benar-benar pemberani.
Emily membawa mobilnya melesat meninggalkan gedung itu. Bibirnya mengoceh dan sesekali meludah kecil ke arah samping.
"Sialan." Dia mengumpat King tanpa henti. Dia mual karena ciuman King padanya. "Dasar Playboy bajingan," umpatnya lagi. "Psiko gila." Dia berapi-api memarahi King. Dia bahkan menepi sebentar untuk berkumur dan membuangnya ke jalanan. Emily tidak tahu, jika ada mobil yang diam-diam mengikutinya.
Diantara kekesalannya, ponselnya berdering. Erland. Teman satu kantornya dan Emily menyukainya.
"Ya?" Emily mencoba menetralisir rasa marahnya. Suaranya menjadi manis saat mengangkat panggilan Erland.
"Bisakah kita bertemu sekarang, Emily?" Tanya Erland di seberang sana.
"Bertemu?" Emily nampak berbinar. Setidaknya tawaran ajakan bertemu ini mengurangi rasa kesalnya pada apa yang baru saja terjadi.
"Ya. Apakah kau sudah ada janji dengan seseorang?" tanya Erland.
"Hmm? Tidak ada," sahut Emily segera. "Apakah ini tentang pekerjaan kantor?" Tanya Emily kemudian.
"Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu," jawab Erland. Itu membuat Emily bahagia.
"Aku akan menjemputmu di apartemen," ucap Erland selanjutnya.
"Eh, tapi sekarang aku sedang ada di luar kota. Aku lagi pulang ke rumah ibuku. Emm tapi sebentar lagi balik, kok," jawab Emily berbohong.
"Oh, apakah aku mengganggu liburanmu, Emily."
"Tidak. Tidak sama sekali. Kita bertemu di mana? Dari rumah ibu, aku langsung ke lokasi."
"Baiklah. Kita bertemu di Moonlight. Aku akan menunggumu di sana."
"Baik, Erland. Aku pasti akan datang. Bye. Sampai ketemu nanti."
Klik. Panggilan terputus. Emily melesatkan mobilnya lagi. Tak lama, ponselnya terus bergetar. Banyak pesan masuk di sana. Tumben? Batin Emily. Ponselnya selalu sepi dari chat. Dia adalah tipe perempuan yang malas dengan grup dan sejenisnya. Menurutnya, tidur lebih menyenangkan dari pada ngobrol tidak penting di grup. Baginya, grup adalah pengganggu. Dia melihat sekilas grup itu. Grup alumni sekolahnya. Heh.
Emily mematikan ponselnya segera. Setelah itu, ia langsung datang ke tempat di mana Erland menunggunya.
Saat Emily sampai di parkiran tempat nongkrong anak muda itu, dia membuka tasnya dan mengeluarkan bedaknya. Tipis-tipis ia menambahkan bedak pada pipinya. Setelah itu, ia keluar dari mobil dan menuju tempat di mana Erland menunggunya. Di balkon luas beralaskan rumput sintetis dan ornamen pendukung lainnya khas tongkrongan anak-anak muda.
"Maaf jika aku membuatmu menunggu, Erland," ucap Emily setelah ia sampai.
"Tidak. Aku juga baru sampai," jawab Erland. Dia mempersilahkan Emily untuk duduk dan memesankan wanita itu makanan.
Emily mengaktifkan ponselnya kembali.
"Apa kau tidak ada acara dengan pacarmu, Erland?" Tanya Emily sambil menekan tombol on pada ponselnya.
"Tidak. Aku sudah sebulan lalu putus," jawab Erland. Jawaban yang membuat Emily tersenyum dalam hati. Dia bahagia atas kabar itu.
"Oh. Pantas saja kau mengajakku bertemu," ucapnya. "Hahaa."
"Apa kau keberatan?" Erland bertanya.
"Hmm? Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak keberatan," jawab Emily. Tak lama, ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
Emily menatap ponselnya. Nomor tidak di kenal?
"Sebentar." Gadis itu berkata pada Erland dan kemudian menerima panggilan itu. "Ya?" jawabnya setelah panggilan terhubung.
"Emily."
Emily tahu itu suara siapa. King. Ya, itu dia. Walaupun hanya menyebut namanya, Emily tahu itu adalah suara King.
Klik. Emily mematikan panggilan itu. Dia juga mematikan kembali ponselnya. Shit. King pasti tahu nomor ponselnya dari grup SMA itu.
"Siapa?" tanya Erland.
"Sepertinya nomor iseng," jawab Emily santai. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Erland mengangguk. "Menurutmu, bagaimana dengan atasan baru kita, Emily?" tanya Erland memulai sebuah pembahasan.
"Bu Finta sangat cerewet dan sangat galak. Untuk sekedar minum saja aku tidak berani jika ada beliau," jawab Emily. "Menyeramkan bukan?"
Mereka membahas pekerjaan dan selanjutnya mereka membahas sebuah film. Sebuah film horror yang terkenal dengan kisah nyatanya.
"Sepertinya memang bagus. Bioskop selalu penuh," komentar Emily.
"Bagaimana jika kita nonton malam ini?" Erland mengajaknya.
"Boleh," jawab Emily menyetujui dan dia senang dengan ajakan ini.
Erland tersenyum bahagia. Dia segera membuka aplikasi untuk memesan tiket secara online. Namun sungguh malam ini sedang tidak berpihak pada mereka. Semua bangku sudah terisi. Erland mencoba mencari bioskop lainnya di mall lainnya tetapi sama saja. Semuanya penuh.
"Masih sangat penuh," ucap Erland.
"Ya, ya. Memang film itu masih sangat di minati." Emily memberikan jawaban. Dia mengaduk minumannya dan menyedotnya perlahan.
"Bagaimana jika kita nonton film yang lain?" tanya Erland. Yang penting itu bukan filmnya tapi kebersamaan mereka berdua, pikir Erland.
"Emmm, boleh," Emily menyetujuinya.
"Ok."
Erland mencari film romantis dewasa. Dari ponsel dia membaca ulasan film dan trailernya dan ia memutuskan untuk menonton film Hollywood. Sepertinya ini cocok untuk mereka.
"Dapat," ucapnya.
Emily mengangguk. "Apa judulnya?" dia bertanya. Dan ia terkejut saat Erland membacakan judul film yang dipesan. Emily bahkan terbatuk-batuk. Dia tahu tentang film itu. Film yang sempat di cekal dan tidak boleh tayang di negara ini. Ah, semoga sudah banyak sensor.
"Kenapa Emily?" tanya Erland.
Emily menyeruput minumannya lagi. "Tidak. Sedikit tersedak minuman saja," jawab Emily.
"Film di putar satu jam lagi. Bagaimana jika kita kesana sekarang." ajak Erland.
Emily mengangguk menyetujui walaupun sebenarnya dia ragu karena film itu terkenal sangat fulgar.
Mereka keluar dari cafe dan menuju mobil Emily. Betapa kagetnya Emily saat melihat ada seseorang yang berdiri bersandar di mobilnya.
_____
"Hai, Sayang. Aku menunggumu dari tadi," seseorang itu berkata pada Emily.
"Siapa dia, Emily?" Erland segera bertanya.
Emily mulai pening dengan ini.
"Oh, hai. Aku King pacar Emily. Kau siapa?" seseorang itu memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
Mata Emily membeliak mendengar itu. Sial. apa-apaan ini. Belum sempat dia memberikan jawaban, King berkata lagi.
"Sayang, siapa dia? Apakah kau selingkuh dariku, hmm."
"King jangan mengada-ada!!" sentak Emily.
"Emily, kau sudah punya pacar?" Erland bertanya dengan raut wajah yang tidak lagi bersahabat. Jelas dia kecewa jika gadis yang ia incar ternyata sudah memiliki pacar.
"Belum. Dia bukan pacarku," jawab Emily segera.
"Oh, Sayang. Kenapa kau tidak mengakuiku?" King menyahut.
"Emily?!" Erland meminta penjelasan. Dia menatap Emily dengan pasti.
"Jangan tatap pacarku seperti itu, kau membuatku cemburu," King menegur Erlnad.
"King diam?!!" Emily marah padanya. "Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa," dia memberikan kepastian. King menatapnya diam.
"Erland, ayo." Emily mengulurkan tangannya meraih tangan Erland dan membawa Erland menjauh dari King yang gila itu.
Emily segera masuk kedalam mobil Erland. Mobil itu melesat cepat meninggalkan cafe.
"Serius dia bukan pacarmu, Emily? Aku tidak mau membawa kabur pacar orang," ucap Erland.
Emily mengatur nafasnya dulu sebelum ia memberikan jawaban.
"Dia mantan pacarku saat SMA." Emily menjawab jujur.
Erland menoleh menatapnya. "Mantan saat SMA?" dia merasa tidak percaya. Selama itu dan laki-laki tadi masih mengejar Emily.
Gadis itu mengangguk. "Ya," jawabnya. "Erland, bisakah kita tidak perlu membahasnya. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan dia. Dia hanya masa laluku saat SMA," ucap Emily.
Erland mengangguk. "Baiklah," jawabnya. Dia justru bahagia jika Emily sungguh tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki tadi.
Emily menyandarkan punggungnya di bangku dan menoleh menatap jalanan. Kenapa King harus datang kembali dalam hidupnya. Setelah laki-laki itu berhasil menghempaskannya ke dasar bumi. Kedua orangtuanya bahkan hampir membunuhnya karena kesalahan yang pernah ia lakukan dengan King. Kemana King saat ia terpuruk. Tidak ada. Laki-laki itu adalah laki-laki pecundang.
Emily mengambil nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Pelan, ia merasakan genggaman tangan hangat. Genggaman tangan dari Erland. Tidak ada penolakan dari Emily. Dia menoleh menatap Erland sejenak dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali.
Emily berharap, Erland laki-laki yang baik yang menerima dirinya apa adanya. Dia berharap, dia bisa memulai sebuah hubungan dengan Erland.
"Aku akan melindungimu dari mantan pacarmu itu, Emily," ucap Erland pasti. Dia merasa seperti seorang super hero yang akan siap melindungi gadis yang ia cintai. Saat ini, mobil mereka telah sampai di parkiran mall.
Emily menatapnya. "Terima kasih, Erland," ucap Emily.
Erland mengangguk. "Kalian sudah putus, seharusnya dia tidak mengejarmu lagi," ucapnya.
"Iya. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang," jawab Emily. Mereka kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju bioskop. Menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam.
Emily merasa tempat duduk yang dipilih Erland terlalu pojok. Dia risih sebenarnya, apalagi yang akan mereka tonton adalah film dewasa.
Emily duduk dengan canggung. Dia duduk paling pojok dan Erland di sampingnya.
Erland memberi pop corn pada Emily.
"Terima kasih, Erlnad," ucap Emily.
"Aku bahagia akhirnya bisa nonton bareng kamu, Emily," ucap Erlnad dengan lembut.
"Aku juga senang," jawab Emily. Mereka seperti remaja yang malu-malu.
Pelan, Erlnad mengambil tangan Emily. Mengusap dengan lembut. Jantung Emily berdegup tetapi takut.
"Besok hari Senin yang melelahkan," ucap Emily merasa canggung setengah mati. Dia menarik pelan tangannya dari genggaman tangan Erland.
"Ya," jawab Erland. Hanya itu. Film bahkan belum dimulai tapi Erlnad sudah mulai mengusap-usap lengan Emily. Gadis itu sungguh risih. Dia sedikit menghindari usapan itu.
Tak lama, layar lebar di depan sana mulai menyala memperlihatkan beberapa promo film yang akan di putar.
Dan ... film pun dimulai.
Emily, terlebih Erland melebarkan matanya. Kenapa film Minion? Apakah mereka salah masuk?
Erland segera melihat kembali tiket yang ia bawa. Melihat judul, studio, tempat duduk. Semuanya benar tapi kenapa ini film Minion? Erland heran bukan main. Dia mengumpat kesal. Ini pasti kesalahan. Dia akan memprotes ini pada petugas bioskop. Bisa-bisanya mereka memberikan tiket yang salah.
Disisi lain, Emily merasa lega dan ia mulai tertawa melihat betapa lucunya Minion itu dan impian si tokoh utama yang ingin menjadi seorang penjahat.
"Emily, Maaf. Sepertinya petugas salah memberikan tiket kepada kita. Aku keluar sebentar untuk komplen," ucap Erland.
"Ah, tidak perlu Erland. Film ini juga seru kok," jawab Emily.
"Tapi bukan film ini yang ingin kita tonton," sahut Erland. Dia masih tidak terima film dewasa yang ia pilih malah menjadi film Minion yang menggelikan untuknya.
"Ini juga bagus. Aku suka. Ini bahkan sangat seru, melihat aksi para minions yang lucu. Perjuangan si Gru yang memiliki cita-cita menjadi orang jahat," ucap Emily.
Pada akhirnya, Erland mengangguk setuju walaupun dalam hati marah bukan main. Dia akan memberikan bintang satu pada bioskop ini. Dia juga akan memposting tentang pengalaman tidak menyenangkan ini di akun media sosialnya.
Sepanjang film di putar, Erland tidak menikmatinya. Dia terlanjur kesal. Sementara Emily sangat menikmati film ini. Film yang menghibur hatinya setelah sempat kesal dengan kehadiran King hari ini. Emily tertawa terbahak-bahak saat adegan salah satu Minion berubah menjadi ayam bertelur hingga menetas.
Dia tidak tahu jika ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Dan sebenarnya ... film ini memang sengaja ia putar menggantikan film dewasa itu. Sungguh, dia telah mengacaukan jadwal film hari ini.
Koneksi orangtuanya sangat luas, masalah mengganti film seperti ini sangat kecil baginya.
Setelah film selesai. Erland mengajak Emily untuk memprotes kesalahan pihak bioskop ini. Namun Emily menolaknya. Dia bahkan menasehati Erland agar tidak memperpanjang ini.
Baiklah, karena masih pendekatan, Erland mengalah. Dia tidak mempermasalahkan itu.
Setelah selesai menonton, Emily memilih untuk segera pulang. Dia ingin segera mengistirahatkan diri karena besok adalah hari Senin yang lelah.
Erland mengantarnya hingga apartemen.
"Terima kasih, Erlnad. Senang bisa jalan sama kamu," ucap Emily dengan senyum.
"Maaf tentang bioskop itu, Emily."
"Tidak apa-apa. Aku justru suka. Filmnya lucu."
Erland tidak setuju dengan itu. Dia benar-benar masih kesal. Mulai saat ini, dia membenci Minion.
"Sampai jumpa besok, Emily. Semoga kita bisa memiliki waktu berdua seperti ini," ujar Erland penuh harap.
Emily melambai saat mobil Erland menjauh. "Bye Erland."
Emily masuk ke dalam apartemennya. Dia tinggal di lantai enam. Apartemen ini tidak begitu mewah, tidak juga menyedihkan. Pilihan nyaman untuk Emily yang selalu sendiri.