Bab 1

Aulia duduk di sudut kafe kecil yang hangat, dengan sebuah cangkir kopi yang hampir dingin di hadapannya. Waktu terasa lambat, seolah setiap detik berlalu dengan berat. Matanya kosong, menatap permukaan kopi yang berwarna hitam pekat, namun tidak mampu mengusir kekosongan di dalam dirinya. Hatinya sudah terlalu lama terkoyak, seperti selembar kertas yang dipaksa disobek berulang kali, dan kini tinggal serpihan-serpihan yang sulit untuk disatukan lagi.

Dua bulan sudah berlalu sejak perceraian itu. Dua bulan yang memberikan Aulia sedikit ruang untuk bernafas, meski setiap malam ia masih terjaga, terjaga dari mimpi buruk yang terus menghantuinya. Mimpi yang sama: Arya, suaminya yang dulu, dan Dinda, mantan istri yang selalu menjadi bayangan tak terjangkau, berdiri berdampingan. Saling memandang, saling berbicara, saling tersenyum, sementara Aulia merasa seperti orang asing yang berdiri di sudut, tak pernah benar-benar ada di dunia mereka. Dan meskipun ia sudah bercerai, bayangan itu tidak pernah pergi.

"Aulia?"

Suara itu, lembut namun penuh tekanan, mengusik lamunannya. Aulia terkejut, tubuhnya langsung menegang. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja memanggilnya. Hanya satu nama yang dapat membuatnya merasa cemas dan marah sekaligus: Arya.

Dengan hati yang berdegup kencang, Aulia mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya berdiri Arya, mengenakan kemeja biru yang tampak pas di tubuhnya yang masih tegap. Namun kali ini, ada yang berbeda. Matanya lebih lelah, lebih gelap, dan ada kerut di dahinya yang menunjukkan betapa banyaknya pikiran yang mengganggu benaknya. Tak ada senyum di wajahnya, hanya ekspresi serius yang entah bagaimana membuat Aulia merasa semakin tidak nyaman.

"Arya," ucap Aulia, berusaha menahan getaran yang mulai menjalar di suaranya. Ia merasakan ada rasa sakit yang terpendam, namun ia tak ingin menunjukkannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Arya menarik kursi di depannya tanpa meminta izin, duduk dengan sikap yang mencoba terlihat tenang. Namun Aulia tahu, ada sesuatu yang berbeda. Pria itu terlihat lebih rapuh, lebih memerlukan.

"Aulia, aku ingin bicara," kata Arya, nadanya rendah, hampir seperti permohonan.

Aulia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mencoba untuk menenangkan hatinya. "Untuk apa? Kita sudah tidak ada apa-apa lagi, Arya. Semua sudah selesai." Suaranya terdengar datar, meski hatinya berteriak sebaliknya. Bagaimana mungkin ia bisa berpura-pura tidak merasa apa-apa setelah dua tahun menikah dengan pria ini, setelah dua tahun merasa seperti bayangan dalam hidupnya?

"Aku tahu aku salah," kata Arya, suaranya terasa begitu dalam dan penuh penyesalan. "Aku tahu aku... aku telah mengabaikanmu, Aulia. Dan aku sangat menyesal."

Aulia menahan napas. Kata-kata itu terdengar familiar. Seperti mantra yang sudah terlalu sering ia dengar, tapi tak pernah benar-benar ia rasakan. Setiap kata itu terucap, namun tak pernah menyembuhkan luka yang semakin dalam. Ia hanya bisa memandang Arya dengan tatapan kosong. "Kau menyesal?" ucapnya pelan. "Kau menyesal karena kita berakhir? Atau karena kau kehilangan seseorang yang selalu ada untukmu, sementara yang kau inginkan sebenarnya adalah Dinda?"

Arya menundukkan kepala. "Aulia... aku tahu aku sudah membuat kesalahan besar. Aku terlalu lama terjebak di masa lalu. Aku belum siap melepas Dinda, dan aku menyakitimu, aku tahu itu."

Aulia tertawa pahit. "Masa lalu? Kau pikir aku ini apa, Arya? Apa aku hanya tempatmu berlabuh sementara, sampai kau selesai dengan bayangan masa lalumu?" Pertanyaan itu seperti pisau yang tajam, melukai tanpa ampun. "Aku selalu tahu, sejak awal, bahwa aku bukan pilihan utamamu. Dinda selalu lebih penting, dan aku hanya menjadi pengalih perhatian, seseorang yang ada di sana untuk mengisi kekosongan."

"Aulia, itu tidak benar!" Arya hampir berteriak, dan Aulia melihat matanya mulai berkaca-kaca. "Aku mencintaimu! Aku hanya... aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghapus Dinda dari pikiranku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mencintaimu sepenuhnya saat hatiku masih terikat pada masa lalu. Tapi aku sudah melupakan semuanya. Aku ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin kita kembali bersama."

Seketika itu, Aulia merasa seperti dunia sekitarnya berputar begitu cepat. Kata-kata itu, permohonan itu, terdengar seperti kebohongan yang sudah terlalu sering didengar, tetapi kali ini, entah kenapa, terasa sangat nyata. "Kembali bersama?" ucapnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Setelah semuanya, kau datang dengan kata-kata itu? Kau pikir aku bisa begitu saja melupakan semua rasa sakit yang kau berikan? Kau pikir aku bisa menerima semua itu begitu saja?"

Arya terdiam. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang sudah semakin dekat. "Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Aku tahu itu. Aku hanya ingin kesempatan kedua, Aulia. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa lebih baik. Aku... aku mencintaimu."

Aulia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya terhimpit oleh kata-kata itu. "Kau mencintaiku?" tanya Aulia, menatap Arya dengan mata yang mulai memerah. "Kau mencintaiku? Di saat aku merasa seperti bayangan dalam hidupmu? Saat kau selalu memprioritaskan Dinda? Kau baru sadar itu sekarang?"

Arya mengangguk, tetapi Aulia tidak bisa melihat lebih jauh. Ia merasa hatinya seperti teriris-iris. Ia tahu, mungkin ia tak akan pernah benar-benar bisa melepaskan Arya, meskipun ia ingin sekali. Mungkin ia akan selalu mencintainya, bahkan setelah semua yang telah terjadi. Tapi satu hal yang pasti, Aulia tidak bisa hidup dalam bayang-bayang. Ia tidak bisa mencintai seseorang yang tidak pernah benar-benar menghargainya.

"Aku tidak bisa, Arya," jawab Aulia, suara itu terdengar begitu lelah dan putus asa. "Aku sudah terlalu terluka. Aku tidak bisa kembali, dan aku tidak bisa memaafkan semua yang telah terjadi. Aku bukan pilihan kedua, dan aku tidak akan pernah bisa menjadi itu."

Arya menatapnya, matanya penuh dengan harapan yang semakin memudar. Tapi Aulia sudah membuat keputusan. Ia sudah cukup merasakan sakit itu. Kini, waktunya untuk pergi, untuk menutup bab ini dalam hidupnya.

Dengan satu tarikan napas panjang, Aulia berdiri dari kursinya, meninggalkan Arya yang masih terdiam di tempatnya. Langkahnya tegap, meski hatinya hancur. Saat pintu kafe itu tertutup di belakangnya, ia merasa sedikit lebih bebas, meski rasa sakit itu masih akan terus ada.

Namun satu hal yang pasti: ia tidak akan kembali menjadi bayangan dalam hidup seseorang yang tak pernah benar-benar melihatnya.

Bab 2

Aulia berjalan keluar dari kafe dengan langkah yang terhuyung, seolah-olah dunia di sekitarnya tidak lagi berdiri kokoh. Setiap langkahnya terasa lebih berat, seperti ada batu besar yang mengikat kakinya. Udara di luar begitu dingin, dan meskipun musim panas baru saja berganti ke musim gugur, Aulia merasa seolah dunia ini telah membeku.

Ia berhenti di depan pintu kaca kafe, menatap refleksinya yang samar di dalamnya. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah, dan bibirnya terasa kering. Mengapa ia merasa begitu rapuh setelah bertemu dengan Arya? Mengapa setiap kali pria itu datang, segala luka yang sudah hampir sembuh kembali terbuka begitu saja?

Seribu pertanyaan berputar di kepalanya. **Apa yang sebenarnya ia inginkan?** Apakah ia ingin kembali bersama Arya? Apakah ia masih bisa memaafkannya? Dan yang lebih penting lagi, apakah ia bisa melupakan semua rasa sakit yang sudah terlalu lama ia tahan?

"Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri," kata suara itu dalam hatinya. **Apakah kau masih mencintainya?**

Namun jawabannya secepatnya datang-**ya**. Ia masih mencintainya. Bahkan setelah semua yang terjadi, ia tidak bisa menyangkal perasaan itu. Arya adalah pria yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati. Mereka memiliki kenangan yang tidak bisa begitu saja dilupakan. Tetapi kenangan itu tidak cukup untuk menghapus luka yang menganga di hatinya.

Aulia berjalan perlahan, melewati jalanan yang sibuk dengan orang-orang yang tak ia kenal, tapi semuanya tampak seperti bayangan yang jauh. Begitu jauh, begitu asing. Ketika ia sampai di rumahnya, ia merasa semakin terasing. Rumah itu-yang dulunya penuh dengan tawa, canda, dan harapan-sekarang hanya terasa sepi. Ruang tamunya yang luas kini terasa kosong. Semua barang-barang di rumah itu tampak seperti pengingat akan kebahagiaan yang tak pernah benar-benar ada.

Aulia duduk di sofa, menarik napas dalam-dalam, dan meletakkan tasnya di samping. Matanya menatap pemandangan luar jendela, namun tak ada yang ia lihat, selain bayangannya sendiri yang terlihat buram. Ia teringat bagaimana dulu Arya begitu peduli, bagaimana setiap pagi mereka saling berbicara tentang segala hal, bahkan hal-hal terkecil. Mereka berbagi mimpi dan tawa. Tapi semua itu kini terasa seperti dusta.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Aulia menatap layar dengan ragu. Nama itu muncul, Arya. Jantungnya berdegup lebih cepat, namun ia tahu, ia tidak boleh menjawabnya. Ia tidak boleh memberi kesempatan lagi pada pria yang sudah membuat hatinya hancur.

Namun, detik demi detik berlalu, dan Aulia merasa semakin lelah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, tetapi sepertinya hatinya tidak bisa mengikuti akalnya. Ia membuka pesan itu.

**Arya:**

_"Aulia, aku masih tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku tahu ini tidak adil untukmu, dan aku sangat menyesal. Aku tahu aku tidak bisa memperbaiki semuanya begitu saja, tapi aku akan melakukan apa pun untuk membuktikan padamu bahwa aku serius. Tolong beri aku kesempatan. Aku tak ingin kehilanganmu."_

Aulia menatap pesan itu dengan hati yang terpecah. Kata-kata itu begitu familiar, begitu sering ia dengar, tetapi kali ini, ia tidak tahu apakah ia masih bisa mempercayainya. Arya mengatakan bahwa ia akan berusaha, tapi apakah itu cukup? Apakah usaha saja bisa mengembalikan semuanya seperti dulu?

Ia meletakkan ponselnya di sampingnya, menutup mata dan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Berapa lama lagi ia harus hidup dengan kebingungan ini? Berapa lama lagi ia harus terperangkap dalam perasaan yang saling bertentangan?

**"Aulia..."**

Suara itu kembali terdengar di dalam hatinya, lebih lembut daripada sebelumnya. Suara yang hampir seperti bisikan angin. Ia teringat pada malam-malam yang ia habiskan bersama Arya-malam-malam yang dipenuhi dengan janji-janji, dengan ketulusan yang ia pikir tak akan pernah hilang. Tapi ternyata, Arya adalah seorang pria yang bisa dipengaruhi oleh masa lalunya. Masa lalu yang tak pernah bisa ia lepas, meskipun itu sudah mengkhianati mereka berdua.

Aulia berdiri, berjalan ke kamar tidur, dan berdiri di depan cermin. Ia menatap dirinya, seperti mencari jawaban dari sosok yang terpantul di sana. "Kau kuat, Aulia," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau bisa melalui ini. Kau sudah melewati terlalu banyak."

Tetapi, saat matanya menangkap bayangan dirinya yang lelah, hatinya mulai runtuh lagi. Ada sesuatu yang sangat dalam di hatinya yang ingin mengatakan, **kembali padanya**. Karena bagaimana pun, ia masih mencintai Arya.

Ponsel itu kembali bergetar. Kali ini lebih sering, lebih mendesak. Setiap getarannya seperti menyentuh jantungnya dengan rasa sakit yang tajam. Tanpa bisa menahan diri, Aulia mengambil ponsel dan membuka pesan itu.

**Arya:**

_"Aulia, aku di luar. Aku tahu ini mungkin terdengar gila, tapi aku harus bicara langsung. Tolong."_

Aulia menghempaskan ponselnya ke atas kasur, melangkah mundur ke dinding dengan napas yang terengah-engah. Bayangan Arya muncul di benaknya, pria yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati, pria yang membuatnya merasa berarti meskipun sering kali diabaikan. Ia ingin mengabaikan pesan itu. Ia ingin melupakan semuanya, tetapi kenyataan bahwa ia masih mencintai Arya membuat semuanya menjadi begitu sulit.

Langkah kaki di luar pintu membuat Aulia berhenti. Ia mendengar suara pintu depan diketuk dengan lembut. Ada jeda, kemudian ketukan lagi. Dering teleponnya tak berhenti. Arya tidak menyerah. Lalu, tanpa bisa menahan diri lagi, Aulia membuka pintu.

Di depan pintu, berdiri Arya, dengan wajah yang penuh harap, mata yang dipenuhi penyesalan. "Aulia," suara itu penuh dengan kecemasan, dan ketika Aulia melihatnya, ia bisa melihat betapa beratnya perasaan Arya. Namun, apakah itu cukup?

"Aku datang, Aulia. Aku tahu aku sudah banyak membuat kesalahan, dan aku tahu aku tidak bisa meminta maaf untuk semuanya. Tapi aku ingin kau tahu satu hal, aku tidak ingin hidup tanpamu."

Aulia menatap Arya dengan mata yang basah. Ia tahu, ia tahu benar bahwa ia masih mencintai pria ini. Tetapi, apakah itu cukup untuk menghapus semua luka?

"Kau sudah pergi terlalu jauh, Arya," bisiknya, suara itu terdengar rapuh, seperti dinding yang hampir runtuh. "Kau tidak bisa kembali, tidak setelah semuanya."

Dan meskipun kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk, Aulia tahu ia benar. Ia harus melepaskan, meskipun hati ini sangat ingin tetap memeluknya.

Bab 3

Langit malam itu kelam, dan udara terasa semakin dingin. Angin berhembus lembut, berdesir melewati celah-celah pintu, membawa bau tanah yang lembab. Aulia berdiri di ambang pintu, menatap Arya yang berdiri di depannya dengan mata penuh harap, hampir seperti seorang anak yang takut kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Wajahnya terlihat kelelahan, lebih tua dari yang terakhir kali ia lihat. Mungkin karena penyesalan yang menggerogoti dirinya setiap detik, mungkin juga karena terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Tapi di mata Arya, Aulia hanya melihat satu hal-kesepian yang sama. Kesepian yang sudah terlalu lama mereka rasakan bersama, dan kini hanya tersisa antara mereka berdua.

"Aulia," kata Arya dengan suara yang rendah, hampir berbisik, seperti ada bagian dari dirinya yang takut jika suara itu terlalu keras akan mengusik perasaan Aulia lebih dalam. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa... aku tahu aku sudah terlalu banyak menyakiti hati kamu, tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin mencoba lagi, Aulia. Tolong beri aku kesempatan."

Aulia menggigit bibir bawahnya, menahan agar air mata yang sudah menggenang tidak jatuh begitu saja. Setiap kali Arya berbicara, setiap kali ia melihat pria ini dengan harapan yang tertulis jelas di wajahnya, hatinya teriris. Tapi di saat yang sama, ada keraguan yang semakin menguat. Ia tahu, dan ia sangat tahu, bahwa untuk memulai kembali, mereka harus membayar harga yang sangat tinggi. Dan Aulia sudah tidak tahu lagi apakah ia cukup kuat untuk menanggung semua rasa sakit itu.

"Bagaimana caramu ingin memperbaiki semuanya, Arya?" Aulia berbicara dengan suara yang gemetar, namun ia berusaha agar kata-katanya tetap terdengar tegas. "Apa yang bisa kau lakukan sekarang yang belum pernah kau lakukan dua tahun lalu? Apa yang bisa kau beri yang aku belum dapatkan?"

Arya menunduk, seolah tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Wajahnya memucat, dan dalam diamnya, Aulia bisa melihat betapa hatinya hancur. Namun, di sisi lain, hatinya juga hancur. **Mengapa ia harus merasa seperti ini? Mengapa ia masih harus bertahan dengan cinta yang begitu mengikat, sementara yang ia dapatkan hanyalah bayang-bayang?**

"Aulia, aku minta maaf," suara Arya kembali terdengar, dan kali ini terdengar lebih pecah, seolah ia berjuang untuk menahan tangis yang hampir meledak. "Aku tak pernah berniat untuk membuatmu merasa seperti itu. Aku tak pernah berniat untuk membuatmu merasa tak penting, untuk membuatmu merasa seperti kamu tidak pernah ada di hati aku. Tapi aku sudah kehilangan kendali. Aku terlalu takut kehilangan Dinda, dan aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu aku bisa seburuk itu."

Aulia terdiam. Apa yang bisa ia katakan? Apa yang bisa ia rasakan? Bukankah ini hanya siklus yang terus berulang? Bukankah ini hanya bagian dari kebohongan yang tidak pernah selesai? Arya selalu kembali, selalu berkata ingin memperbaiki, namun kenyataannya, itu hanya omong kosong yang tak pernah terwujud. Hati Aulia sudah terlalu banyak terluka, terlalu banyak berharap pada janji-janji yang akhirnya hancur.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi, Arya," Aulia akhirnya membuka suara, suara itu pecah, dan terasa begitu berat, seperti ada beban yang sangat besar yang terpaksa harus ia keluarkan. "Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima cintamu setelah semua yang telah terjadi."

"Aulia..." Arya melangkah maju, hampir mendekatinya, namun Aulia mundur beberapa langkah, memagari dirinya dengan jarak yang tidak bisa didekati. "Aku tahu aku tidak bisa mengubah masa lalu, aku tahu aku tidak bisa menghapus semua yang sudah terjadi, tapi aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa berubah. Aku ingin kamu tahu, bahwa tanpa kamu, hidupku kosong. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kehadiranmu. Aku butuh kamu, Aulia. Aku ingin kita mencoba lagi, kalau kamu mau."

Aulia menatap Arya dengan perasaan yang bercampur aduk-marah, terluka, dan rindu. Rindu yang tak pernah padam, meskipun ia mencoba untuk menahannya, untuk menutupinya. Ia ingat betul bagaimana dulu mereka saling berbicara tentang masa depan, tentang impian yang mereka bangun bersama. Tapi kini, impian itu terasa begitu jauh, seperti sesuatu yang sudah tidak bisa diraih lagi.

"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Arya?" Aulia berkata dengan suara yang hampir pecah. "Kau berkata ingin berubah, tapi apa yang menjamin aku bahwa ini bukan kebohongan yang sama? Apa yang membuatmu yakin bahwa kali ini, kita tidak akan berakhir di tempat yang sama? Apa yang akan mengubah segalanya, kalau pada akhirnya, Dinda selalu ada di antara kita?"

Arya terdiam. Matanya tertunduk, dan Aulia bisa melihat bahwa pertanyaannya itu begitu menusuk. Sepertinya Arya tidak punya jawaban yang bisa membenarkan dirinya. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa kata-katanya itu benar-benar tulus, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ia akan meninggalkan bayangan masa lalunya dan sepenuhnya mencintai Aulia tanpa syarat.

"Aku... aku tidak tahu," jawab Arya, suara itu terdengar begitu rapuh. "Aku hanya tahu bahwa aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Dan kali ini, aku benar-benar ingin kamu menjadi prioritas utamaku. Hanya kamu, Aulia. Hanya kamu."

Tapi Aulia sudah terlalu banyak terluka. Ia sudah terlalu sering merasa terabaikan, meskipun ia tahu, di dalam hatinya yang terdalam, bahwa Arya memang mencintainya. Tapi cinta itu, cinta yang tidak sepenuhnya diberikan, cinta yang setengah hati, tidak bisa membuat Aulia merasa dihargai.

"Aku sudah cukup, Arya," Aulia berkata dengan suara yang semakin keras, meskipun ada tetesan air mata yang mengalir di pipinya. "Aku sudah cukup mencintaimu dalam diam. Aku sudah cukup berharap tanpa pernah mendapatkan apa yang pantas aku dapatkan. Aku tidak bisa lagi menjadi pilihan kedua. Aku tidak bisa lagi hidup dalam bayanganmu dan bayangan Dinda."

Arya berdiri di sana, matanya penuh dengan air mata yang belum jatuh. Ia merasa dunia sekitarnya runtuh. "Aulia, jangan..." ia berusaha meraih tangan Aulia, tetapi Aulia menarik tangan itu dengan cepat.

"Aku bukan orang yang kau butuhkan, Arya. Dan aku sudah cukup lelah menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Mungkin ini waktunya aku untuk pergi, dan pergi jauh darimu. Untuk sekali saja, aku ingin merasa bebas. Tanpa bayangan, tanpa penyesalan. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri."

Aulia berbalik dan berjalan menjauh. Setiap langkahnya terasa berat, setiap napasnya terasa lebih sulit, tetapi ia tahu, ini adalah pilihan yang benar. Meski hatinya masih tercabik-cabik, meski ia masih mencintai Arya dengan segenap jiwa, ia tahu satu hal: ia tidak bisa hidup di antara ketidakpastian, dan ia tidak bisa membiarkan dirinya terus terluka oleh seseorang yang tidak pernah bisa sepenuhnya hadir.

"Selamat tinggal, Arya," bisiknya, tanpa menoleh lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED