Bab 1

Pagi itu, Nina merasakan ketegangan yang aneh saat melangkah ke kantor. Udara di luar terasa begitu panas, meski matahari baru saja menyembul dari balik awan. Sejak pindah ke kota ini beberapa bulan lalu, Nina merasa hidupnya mulai kembali normal. Dia menikmati ketenangan, jauh dari kenangan buruk dan kebencian yang ia pendam terhadap masa lalunya. Di sini, di kota yang jauh dari semua yang pernah dia kenal, dia berharap bisa mulai dari awal.

Namun, semua harapannya sirna ketika langkah kakinya berhenti di depan pintu kantor yang baru ia masuki pagi itu. Mata Nina langsung tertuju pada papan nama besar di atas pintu ruangan yang tidak asing baginya-"Direktur Utama, Leo Sutrisno." Nama itu terasa begitu berat di dadanya, seolah-olah mengingatkan kembali akan segalanya yang ia coba lupakan.

Seperti di luar kendali, kakinya bergerak sendiri memasuki ruang kantor. Begitu menginjakkan kaki di dalam, suasana di ruangan itu terasa begitu berbeda-berat dan dingin. Nina menelan ludah, matanya tidak bisa lepas dari sosok yang sedang duduk di meja direktur, sibuk dengan tumpukan dokumen di hadapannya.

Leo.

Pria itu masih tampak seperti dulu-terlalu tampan untuk bisa dilupakan. Hanya saja, kini ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya yang dulu penuh keceriaan kini dipenuhi dengan ekspresi serius dan penuh kewibawaan. Tak ada lagi senyuman yang dulu selalu membuat hatinya berdebar. Nina merasa udara di sekitar mereka menjadi begitu tebal, hampir sesak, meskipun dia baru saja memasuki ruangan.

"Halo, Nina." Suara Leo terdengar datar, tanpa kehangatan yang biasanya mengiringi namanya.

Nina hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Leo berbicara seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi antara mereka. Seolah-olah perpisahan yang menyakitkan itu tidak pernah terjadi, dan semua kenangan indah yang pernah mereka bagi hanya terhapus begitu saja.

Nina menatap Leo dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya, berusaha menahan suara yang hampir pecah. "Apa-apaan ini, Leo?"

Leo hanya menatapnya dengan pandangan kosong, seolah tidak ada yang perlu dijelaskan. "Aku bos di sini," jawabnya, suaranya datar namun penuh makna.

Setiap kata yang keluar dari mulut Leo seperti menambah beban di dada Nina. Dia ingin marah, ingin meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendam, namun tubuhnya terasa kaku. Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tidak meledak di depan Leo.

"Kamu... Bos?" Nina menyebutkan kata itu dengan rasa terkejut dan penuh kebencian. "Jadi, kamu jadi bos di sini, di tempat yang aku bekerja?"

Leo mengangguk pelan, matanya tidak berpaling sedikit pun dari Nina. "Sepertinya ini takdir," katanya, walaupun suaranya lebih terdengar seperti pernyataan kosong. "Kita berdua berada di tempat yang sama sekarang."

Nina berusaha untuk tetap tenang, meskipun perasaannya bergolak hebat. Dia berbalik dan berjalan ke arah meja kerjanya, mencoba menghindari tatapan Leo. Hati Nina terasa seperti tertusuk, kenangan-kenangan tentang mereka berdua kembali menghantui pikirannya. Dulu, dia dan Leo begitu saling mencintai. Mereka berbagi tawa, berbagi impian, hingga akhirnya segalanya hancur karena sebuah kesalahpahaman yang tak pernah benar-benar dijelaskan.

"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu akan kembali?" Nina berusaha mengendalikan emosinya, suaranya penuh dengan ketegangan yang tertahan. "Kenapa kamu tidak memberi tahu aku, Leo?"

Leo berdiri dan berjalan mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Nina. Dia melihat Nina dengan tatapan yang penuh arti. "Kamu pikir aku harus memberi tahu kamu tentang semua keputusan hidupku?" tanyanya dengan nada yang menusuk. "Kamu pikir aku harus menjelaskan segala hal kepada kamu setelah yang terjadi di masa lalu?"

Seketika, Nina merasa hatinya teriris. Kata-kata Leo bagaikan pedang yang menusuk langsung ke dalam dirinya. "Aku tidak tahu, Leo," jawabnya dengan suara bergetar. "Aku hanya... Aku hanya ingin mengerti kenapa kamu meninggalkanku tanpa penjelasan. Kenapa kamu membiarkan aku terpuruk sendirian?"

Leo terdiam beberapa saat, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Kamu tidak akan pernah mengerti, Nina. Aku melakukan itu karena aku pikir itu yang terbaik untuk kita berdua."

"Terbaik?" Nina hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. "Kamu pikir meninggalkanku tanpa kata-kata adalah yang terbaik? Kamu hancurkan semuanya, Leo. Semua yang kita bangun, kamu hancurkan begitu saja!"

Leo mendekatkan wajahnya ke Nina, matanya menatapnya dengan intens. "Aku tidak pernah ingin melukai kamu, Nina," katanya pelan, hampir seperti sebuah bisikan. "Tapi ini bukan soal cinta lagi. Ini soal kenyataan yang harus kita hadapi."

Nina menatapnya dengan penuh amarah. "Lalu apa yang kamu inginkan dari aku sekarang? Aku harus tinggal di sini dan menjadi bagian dari hidupmu yang sudah rusak? Begitu saja?"

Leo menunduk, napasnya terdengar berat. "Kamu harus bekerja di sini, Nina. Tidak ada pilihan lain." Suaranya berubah tegas. "Ini adalah keputusan yang harus kita jalani, entah kita suka atau tidak."

Nina merasa seolah-olah dunianya runtuh. Tidak hanya dia harus menghadapi kenyataan bahwa Leo adalah bosnya sekarang, tapi juga bahwa perasaan yang telah lama terkubur kini muncul kembali, membawa sakit yang lama terkubur. Namun, satu hal yang pasti-dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan bertahan, meskipun harus menghadapi Leo setiap hari.

"Jadi, aku harus bekerja di sini, dengan kamu," ucap Nina akhirnya, suaranya lirih namun penuh tekad. "Meskipun itu berarti aku harus menghadapi masa lalu yang kau hancurkan."

Leo menatap Nina dalam-dalam, tak tahu lagi harus berkata apa. Namun, satu hal yang jelas-kehadiran Nina di kantornya akan mengubah segala hal, baik bagi keduanya.

Mereka terjebak dalam situasi yang sulit, dan hanya waktu yang bisa memberi jawaban tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bab 2

Nina berdiri tegak, matanya menatap Leo dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Ada kebingungan yang begitu mendalam, rasa sakit yang tak terucapkan, dan kebencian yang terus membara. Semua perasaan yang pernah dia pendam untuk Leo kini muncul kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

"Apa yang harus aku lakukan, Leo?" Tanya Nina dengan suara yang terhenti. "Apa yang kamu ingin aku lakukan di sini? Apa kamu berharap kita bisa bekerja bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu?"

Leo menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya. Ia menatap Nina dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya, lebih lembut, lebih penuh penyesalan. Namun, itu hanya sementara. Begitu Leo kembali tersadar dari perasaannya, wajahnya kembali kaku dan dingin. "Aku tidak menginginkan ini, Nina," jawabnya dengan nada rendah. "Aku tidak menginginkan pertemuan ini. Tapi kamu harus bekerja di sini, seperti yang sudah ditentukan. Tidak ada pilihan lain."

Nina merasa seperti tubuhnya dipenuhi dengan energi negatif yang datang dari setiap kata yang keluar dari mulut Leo. Dia tahu, seberapa pun kerasnya dia berusaha, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan ini. Mereka terjebak dalam situasi yang mereka ciptakan. Mereka berdua.

"Tidak ada pilihan lain?" Nina hampir tidak bisa menahan tawa sinis yang keluar dari bibirnya. "Kamu benar-benar berpikir aku akan tinggal di sini, bekerja denganmu, setelah semua yang terjadi? Setelah cara kamu meninggalkan aku tanpa penjelasan yang layak?"

Leo terdiam, tidak menjawab. Hatinya yang keras seakan terbelah melihat Nina yang kini berdiri dengan raut wajah penuh kemarahan dan kekecewaan. Dalam sekejap, kenangan tentang mereka berdua yang indah dulu kembali menghantui Leo. Bagaimana Nina selalu ada untuknya, bagaimana dia mengandalkan Nina dalam segala hal. Tapi itu semua kini terasa seperti mimpi buruk yang tak bisa ia lupakan.

"Aku benar-benar tidak bisa mengerti, Leo," Nina melanjutkan, suaranya penuh dengan ketegangan. "Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu memilih untuk pergi tanpa menjelaskan kenapa? Aku bahkan tidak tahu apa yang salah antara kita. Kamu benar-benar membuat aku merasa seperti aku tidak berarti apa-apa."

Leo mengalihkan pandangannya, menatap jendela di seberang ruangan. Ada rasa bersalah yang menghimpit dadanya, tapi dia tidak bisa menunjukkannya. "Nina..." Suaranya pecah, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun terhambat oleh kebanggaan dan ketakutannya. "Aku... Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku pikir itu yang terbaik. Aku pikir kamu bisa lebih baik tanpaku."

Nina merasa hatinya tersentak mendengar kata-kata Leo. "Apa kamu pikir aku bisa lebih baik tanpamu?" tanyanya, nada suaranya naik. "Apakah kamu benar-benar percaya itu, Leo? Kamu meninggalkan aku tanpa kata-kata, tanpa penjelasan, dan kamu pikir itu akan membuat aku lebih baik? Kalau itu yang kamu pikirkan, berarti kamu tidak tahu betapa hancurnya aku waktu itu!"

Leo menoleh, wajahnya kini penuh dengan penyesalan. "Nina... aku minta maaf," katanya pelan. "Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku tidak ingin menyakitimu, tapi saat itu aku merasa terjebak dalam hidupku. Aku merasa aku harus pergi."

Nina menatapnya dengan mata penuh kebingungan, rasa sakit yang dia rasakan semakin dalam. "Terjebak? Terjebak dalam hidupmu?" Dia mendekat, suara Nina semakin keras dan penuh emosi. "Kamu meninggalkan aku tanpa penjelasan, tanpa mencoba untuk memperbaiki apa yang salah di antara kita. Kamu bahkan tidak memberi aku kesempatan untuk menjelaskan diriku! Aku terjebak, Leo. Aku yang harus bertahan hidup tanpa kamu, tanpa penjelasan."

Leo ingin menjawab, tetapi kata-katanya terhenti. Apa yang bisa ia katakan? Semua yang telah ia lakukan terasa salah sekarang. Semua alasan yang ia berikan terasa kosong di hadapan Nina. Dia tahu, dia telah merusak semuanya.

Nina menunduk, mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba menenangkan diri. "Aku tidak tahu apa yang kamu harapkan dari aku sekarang," lanjutnya, suaranya lebih tenang, meskipun penuh dengan kepahitan. "Kamu sudah membuat aku merasa tak berarti. Dan sekarang, kamu datang ke sini, ke tempat kerja ini, sebagai bosku. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di masa lalu. Kamu pikir aku bisa melupakan semuanya begitu saja?"

Leo menggelengkan kepalanya, matanya tetap menatap Nina dengan rasa yang campur aduk. "Aku tidak mengharapkan kamu melupakan semuanya," katanya, suaranya lirih. "Aku hanya berharap kita bisa mulai dengan hal yang baru, meskipun itu sangat sulit."

Nina memandangnya dengan tatapan tajam, berusaha menahan air matanya. "Mulai dengan hal baru? Kamu ingin kita bekerja bersama, tetapi aku harus berpura-pura tidak ada yang terjadi?" tanyanya, nada suaranya naik kembali. "Leo, itu tidak akan pernah terjadi. Kamu bisa jadi bosku, tapi itu tidak akan pernah mengubah apa yang kamu lakukan kepadaku."

Leo merasa ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya. Dia ingin meraih Nina, ingin menjelaskan semuanya, tapi dia tahu itu tidak akan membuat perbedaan. Nina sudah terluka terlalu dalam. Dan ia tahu, segala kata maaf yang keluar dari mulutnya takkan pernah cukup untuk menghapus rasa sakit yang telah ia sebabkan.

"Jika kamu merasa begitu, maka aku tidak akan memaksamu," jawab Leo pelan. "Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal di sini jika itu membuatmu terluka lebih dalam."

Nina merasa sedikit lega mendengar kata-kata itu, meskipun masih ada perasaan amarah yang mengendap. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan," jawabnya dengan suara pelan. "Tapi aku tidak akan tinggal di sini untuk membiarkan diriku terluka lebih jauh lagi."

Leo menatap Nina dengan tatapan yang penuh makna. "Aku tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki semuanya, Nina. Tapi aku akan berusaha. Jika kamu ingin pergi, aku tidak akan menghentikanmu. Tetapi aku berharap kamu memberi aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku bisa berubah."

Nina tidak menjawab, hanya menghela napas panjang dan memutar tubuhnya menuju pintu. "Kita lihat saja nanti," jawabnya, suaranya penuh ketegasan. "Aku akan pikirkan semuanya. Tapi jangan berharap aku akan mudah melupakan apa yang kamu lakukan."

Dengan langkah berat, Nina keluar dari ruang direktur itu, meninggalkan Leo di belakangnya dengan semua penyesalan yang tak bisa diubah. Dunia mereka sudah terlalu rusak, dan seiring waktu, mereka akan tahu, apakah ada jalan untuk memperbaiki semuanya atau tidak.

Bab 3

Setelah pertemuan yang penuh emosi dengan Nina, Leo merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Meskipun ia berusaha untuk tampak tegar, perasaan sesak yang menghimpit dadanya tak bisa ia pungkiri. Selama ini, ia merasa begitu yakin bahwa Nina masih menyimpan perasaan padanya, bahwa ada kemungkinan untuk mereka kembali bersama. Tapi kenyataan yang ada sekarang... berbeda. Nina sudah berubah. Dia bukan Nina yang dulu.

Malam itu, Leo tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, tak bisa menghindari bayangan wajah Nina yang penuh amarah dan kekecewaan. Setiap kali matanya terpejam, wajah Nina selalu muncul, diiringi kata-kata yang masih terngiang di telinganya. "Kamu meninggalkan aku tanpa penjelasan, tanpa mencoba untuk memperbaiki apa yang salah di antara kita."

Perasaan bersalah yang telah lama terkubur mulai muncul kembali. Tetapi, di balik rasa itu, ada satu hal yang mengganggu Leo lebih dari apapun. Nina... dia sudah memiliki seseorang dalam hidupnya.

Leo bertekad untuk mencari tahu lebih banyak. Pagi-pagi sekali, sebelum kantor mulai sibuk, Leo duduk di ruang kerjanya, membuka komputer dan mulai mengetikkan nama Nina di mesin pencari. Hatinya berdebar, seolah mengetahui bahwa ia akan menemukan sesuatu yang tak ingin ia dengar.

Hasil pencarian pertama hanya menunjukkan informasi dasar mengenai Nina: tempat dia bekerja, alamat rumah, dan beberapa artikel tentang kehidupan pribadinya yang pernah dipublikasikan. Namun, semakin dalam Leo menggali, semakin jelas ia menemukan sesuatu yang membuat hatinya tersentak.

Di sebuah artikel yang diposting beberapa bulan lalu, ada sebuah foto Nina sedang tersenyum bahagia di samping seorang pria. Leo bisa melihat dengan jelas bahwa mereka berdua tampak sangat dekat, seolah tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Pria itu memeluk Nina dengan penuh kasih, dan Nina membalasnya dengan senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Leo merasa matanya mulai kabur, dan jantungnya berdegup semakin kencang.

Nina sudah memiliki kekasih.

Leo menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan amarah yang mulai meluap. "Siapa dia?" gumamnya pelan. Nama pria itu tercetak di bawah foto: Ardan Pratama. Tidak ada yang Leo kenal. Tidak ada yang Leo ingin kenal.

Dengan tangan yang gemetar, Leo membuka halaman profil Ardan. Pria itu tampaknya seorang pengusaha muda yang cukup sukses, dengan banyak foto perjalanan, acara-acara sosial, dan tentu saja, gambar-gambar bersama Nina. Hati Leo semakin teriris. Nina... sudah ada yang memiliki. Dan lebih parahnya, pria itu terlihat seperti seseorang yang bisa memberikan Nina kebahagiaan yang selama ini Leo tidak bisa beri.

Leo bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Pikirannya berkecamuk. Kenapa dia merasa begitu cemburu? Kenapa dia merasa seperti ada yang diambil darinya?

Nina, yang dulu begitu berarti baginya, kini bahkan tidak pernah meliriknya lagi. Ia menginginkan Nina kembali, tapi sekarang, Nina sudah berjalan bersama pria lain. Apa yang harus ia lakukan? Akankah ia membiarkan Nina bahagia dengan orang lain, atau akankah ia berjuang untuk mendapatkan kembali apa yang dulu ia miliki?

"Tidak!" Leo hampir berteriak. "Aku tidak bisa biarkan itu terjadi."

Dia mengerutkan keningnya, mencoba mencari alasan rasional. Tetapi tidak ada yang masuk akal. Dia hanya ingin Nina kembali, meskipun ia tahu itu tidak akan mudah.

Kemudian, terlintas dalam benaknya sebuah pemikiran. Apa yang akan terjadi jika ia bisa memisahkan Nina dan Ardan? Jika ia bisa mengungkapkan sesuatu yang bisa merusak hubungan mereka, mungkin saja Nina akan kembali padanya.

Leo menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Aku harus tahu lebih banyak tentang Ardan. Aku harus cari tahu apa yang bisa aku manfaatkan."

Tanpa menunggu lebih lama, Leo mulai mencari informasi tentang Ardan, berharap menemukan celah, apapun itu, yang bisa digunakan untuk menjauhkan Nina dari pria itu. Entah itu kesalahan, kebohongan, atau apapun yang bisa ia jadikan senjata. Tidak ada yang akan menghalangi jalan untuk mendapatkan Nina kembali.

Namun, semakin dia mencari, semakin Leo menyadari satu hal yang menyakitkan. Sepertinya, semakin banyak usaha yang ia lakukan untuk mendapatkan Nina kembali, semakin ia merasa seperti orang asing yang berusaha mengubah takdir, tanpa memikirkan apa yang Nina inginkan.

Akhirnya, setelah beberapa jam mencari, Leo menatap layar komputernya, dan untuk pertama kalinya, dia merasakan ketidakberdayaan yang besar. Apa yang dia lakukan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Nina. Ia merasa seolah sedang berjuang dengan bayangannya sendiri, berusaha memperbaiki sesuatu yang sudah rusak tanpa tahu bagaimana cara melakukannya. Dan meskipun ia terus berusaha, seolah-olah Nina semakin jauh darinya.

"Aku harus mendapatkan Nina kembali," bisiknya pada dirinya sendiri, suara penuh tekad. "Aku tidak akan menyerah."

Tetapi, di dalam hatinya, Leo mulai meragukan segalanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED