Bab 2

Satu.

Dua.

Tiga.

Dalam hati aku menghitung, namun tak kunjung ada tanda-tanda si pemilik mobil tadi menghampiriku. Tepatnya, nggak ada suara jejak kaki orang mau menghampiriku yang saat ini lagi pura-pura pingsan.

Eh, tapi harusnya aku seneng dong, karena itu berarti aku nggak jadi dimarahi sama si empunya mobil, gara-gara kaca mobilnya aku lempari sepatu.

Sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba kudengar suara langkah kaki yang kayaknya lagi berjalan ke arahku. Hmm ... mungkin si pemilik mobil.

Mataku terus terpejam, sedangkan suara langkah kaki itu semakin mendekat.

Sebenarnya nggak tahan dengan posisi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, kalau nggak kayak gini, aku bakal diomelin.

"Walah, kok malah pingsan toh. Bukannya ini tadi yang lempar sepatu ke kaca mobil, ya?" Dari suaranya, aku bisa tebak kalau yang ngomong ini laki-laki yang sudah cukup berumur. Dan dari suaranya juga, aku yakin kalau aku nggak bakal dimarahi, meskipun aku nggak pura-pura pingsan begini.

"Pak Suyuti ...." Terdengar suara teriakan orang dari jauh. Aku nggak tahu siapa, kan aku lagi pura-pura pingsan.

"Iya, Tuan." Ooh, ternyata orang yang lagi melihatku ini namanya pak Suyuti.

"Ini orangnya pingsan, Tuan," adu pak Suyuti.

"Udah, biarin aja, paling cuma pura-pura. Ayo cepat berangkat," kata orang di sana yang dari tadi dipanggil 'tuan' oleh pak Suyuti. Ternyata si 'tuan' itu bisa tahu kalau aku cuma pura-pura pingsan.

"B-baik, Tuan," jawab pak Suyuti, yang kemudian berjalan menjauh dari posisiku pura-pura pingsan.

"Haah ...." Aku bernapas lega. Akhirnya aktingku berhasil.

Setelah terdengar suara mobil melaju, aku pun membuka mata, dan langsung bangun dari kepura-puraan.

Tunggu ... ada sesuatu yang mengusikku dari tadi. Tepatnya semenjak mendengar suara seseorang yang dipanggil 'tuan' oleh pak Suyuti tadi. Kok kayaknya aku familiar dengan suara itu ya? Tapi siapa?

Bodo amat deh, yang penting aku selamat dari caci maki si pemilik mobil itu. Meskipun seharusnya sih, aku yang maki-maki tuh orang gara-gara udah bikin bajuku basah.

=========Aufa=========

Pagi ini aku sudah rapi, dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor tempat Alena kerja. Di sana aku mau melamar pekerjaan, seperti yang dikatakan Alena kemarin, kalau di sana lagi buka lowongan.

Semalam aku sudah menyiapkan surat lamaran kerja, beserta berkas-berkas yang dibutuhkan. Aku juga melampirkan surat pengalaman kerja dari mantan kantor kemarin. Untungnya, kemarin pak Bambang bersedia ngasih surat pengalaman kerja.

"Oke, Alula, you look so perfect," kataku di depan cermin dengan penuh percaya diri.

Dengan wajah yang lumayan good looking ini, membuatku tidak perlu bersusah payah buat pakai make up. Lha wong sudah cantik dari lahir kok. Ditambah lagi warna kulitku yang pada dasarnya putih.

Eh, aku bukannya sombong ya, dengan mengaku kalau aku good looking. Tapi, emang banyak kok yang bilang gitu ke aku, terlebih kaum adam, dan barisan para mantan. Eh!

Aku cuma pakai krim siang sama sunscreen saja, ditambah lipstik berwarna soft. Simpel tapi cukup elegan. Ya, itu sih menurutku, nggak tahu kalau orang lain.

Kemeja putih dengan dilapisi blazer berwarna hitam, serta celana bahan hitam panjang, menjadi outfit-ku hari ini.

Aku tipe orang yang nggak suka tampil terbuka, apalagi pakai rok di atas lutut, itu nggak pernah aku lakukan selama menjadi orang kantoran. Meskipun belum berhijab, setidaknya aku masih berpenampilan sopan.

"Drrt ... drrt ...." Ponselku bergetar, segera kumenyambarnya, dan ternyata Alena yang menelpon.

"Iya, Len."

"La, lo jadi nggak ngelamar kerja di tempat gue?" tanya Alena.

"Iya jadilah, ini gue udah siap-siap, bentar lagi berangkat," jawabku.

"Ya udah, lo tunggu gue jemput ya."

"Eh, nggak usah, Len, gue bisa berangkat sendiri kok. Lagian kost-an lo kan udah deket ke kantor, masa mau jemput gue dulu, entar lo bisa telat lho."

"Nggak papa kali, kek sama siapa aja. Kost lo tuh jauh dari kantor, La. Lo juga nggak ada kendaraan kan? Jadi lebih baik gue jemput aja."

"Ya udah deh, terserah lo."

Oke, aku nggak akan nolak rejeki dari orang yang mau ngasih tumpangan. Lumayan kan, irit ongkos.

=========Aufa=========

"Wah, ternyata kantor lo udah berubah ya, Len. Dulu kan belum segede gini waktu gue sering lewat sini," ucapku setelah sampai di parkiran kantor.

"Bukan kantor gue, La," kata Alena sambil ngaca di spion motor miliknya.

"Ya, maksudnya kantor tempat lo kerja, Alena ...!" geramku.

"Hehehe ... bercanda aja kali, La. Udah yuk masuk, entar gue tunjukin ke resepsionis." Alena menggandeng tanganku, dan kami pun mulai memasuki kantor.

"Permisi Mbak Nela yang cantik," ucap Alena ketika kami sampai di depan meja resepsionis.

"Iya, Alena, ada apa?" Si mbak resepsionis yang bernama Nela itu tersenyum ramah.

"Ini Mbak, ada temenku yang mau ngelamar kerja di sini." Alena menunjukku, dan aku pun tersenyum ke arah mbak Nela.

"Ooh, mau melamar kerja ya?" Aku mengangguk.

"Silakan duduk dulu ya, Mbak, soalnya bagian HRD yang mau interview belum datang." Mbak Nela menunjukkan sebuah sofa panjang di sebelah meja resepsionis.

"Terima kasih, Mbak." Aku pun menuju sofa itu lalu mendudukinya.

"La, gue masuk kerja dulu ya. Selanjutnya lo bisa ngikutin arahan dari mbak Nela," ujar Alena.

"Ya udah sana. Kerja yang rajin ya, jangan mikirin jodoh mulu."

Alena mencebik tanpa menjawab gurauanku, lalu ia mulai pergi meninggalkanku di sini.

==========Aufa==========

"Saudari Alula Maheswari, betul?" tanya orang di depanku, si ketua HRD di kantor ini.

Aku mengangguk. "Iya, Pak, saya Alula."

"Selamat Alula, kamu diterima bekerja di sini. Dan kamu bisa mulai bekerja esok hari."

Aku dibuat melongo seketika.

Beginikah cara masuk di perusahaan Alexander Corp? Tanpa tes atau wawancara terlebih dulu? Bahkan baru sekitar semenit yang lalu aku masuk ke ruangan ini.

"Bagaimana, Alula, kamu bersedia kan, bekerja di perusahaan ini?"

"Eh? Oh, ya jelas bersedia dong, Pak, saya kan lagi butuh kerjaan. Tapi kok, Bapak nggak interview saya dulu sih, cuma lihat CV saya doang," ucapku melontarkan unek-unek.

"Iya, saya nggak perlu interview kamu lebih lanjut. Dengan melihat berkas lamaran kamu yang disertai pengalaman kerja di perusahaan Wijaya Company, saya yakin kamu ini orang yang cukup kompeten. Jadi tanpa pikir panjang, kamu saya terima bekerja di sini."

Senyumku mengembang. Ternyata modal surat pengalaman kerja dari mantan tempatku bekerja kemarin, memudahkanku untuk diterima di sini.

"Serius nih, Pak?" tanyaku memastikan.

Si bapak ketua HRD itu mengangguk mantap.

Yeye ... akhirnya dapat kerja lagi, dan nggak jadi jadi pengangguran.

=============Aufa==========

"Hah? Serius lo langsung diterima gitu aja tanpa ditanyain macem-macem?" tanya Alena setelah aku ceritakan tentang kabar diterimanya aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya.

"Iya, sebenarnya gue juga heran sih, masa cuma bermodal surat pengalaman kerja dari Wijaya Company aja, udah bikin gue diterima kerja dengan mudahnya."

"Ye ... Wijaya Company kan perusahaan gede, La. Lo aja dulu berjuang mati-matian kan, biar bisa kerja di sana."

Aku mengangguk. "Hu'um, gajinya juga gede, makanya gue betah kerja di sana. Sayangnya, si direkturnya itu yang ganjen. Andai kalau gue tau siapa sebenarnya owner perusahaan itu, udah gue aduin tuh sikap semena-menanya direktur t*a b**gka itu, dan pastinya sekarang gue masih kerja di sana."

"Ya udahlah, La, lupain aja, yang penting kan sekarang lo udah dapet kerjaan lagi, sekantor lagi sama gue. Coba lo inget deh, udah tiga tahun semenjak kita lulus kuliah, kita udah jarang sama-sama lagi, La," ujar Alena.

"Iya juga, ya."

"Eh, La, mending sekarang lo siap-siap, terus bawa baju buat kerja besok sama perlengkapan-perlengkapan yang lainnya."

Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan ucapan Alena. "Buat apa? Emangnya kita mau ke mana?"

"Ke kost gue. Malam ini mendingan lo nginep di tempat gue. Gue kangen pengin ngobrol panjang lebar sama lo."

"Ck! Ya, tinggal lo yang nginep di sini aja, napa jadi gue yang repot," protesku.

Alena memutar bola matanya. "Tempat kost gue lebih deket ke kantor, dan besok hari pertama lo masuk kerja, jadi mending lo nginep di tempat gue aja, biar besok gue nggak jemput lo dulu ke sini."

"Ya, lo nggak perlu jemput gue besok," kataku yang masih ogah-ogahan menuruti kemauan Alena.

"Lo mau berangkat kerja naik angkot? Di hari pertama masuk? Serius?"

Aku mengangguk mantap. "Iyalah, emang mau naik apa lagi? Motor gue kan udah di kampung."

"Oh, ayolah Alula, temen gue yang banyak mantannya. Gue tau lo itu kurang disiplin, apalagi kantor cukup jauh dari sini. Gue yakin kalau lo besok bisa telat kalau berangkat dari sini."

Si*lan Alena, masih aja inget kebiasaan burukku.

"Oke, deh, gue ikut lo sekarang." Akhirnya aku mengalah buat ikut kata Alena.

Tanpa membuang waktu lagi, aku pun menyiapkan apa-apa saja yang buat bekerja esok hari.

Setelah semua siap, aku dan Alena pun pergi meninggalkan kost-anku menuju tempat Alena.

Sepulang kerja tadi, Alena langsung mampir ke kost-anku, sedangkan aku langsung pulang ketika selesai bertemu dengan ketua HRD tadi, tanpa menunggu Alena. Ya kali nunggu Alena sampai sore.

=========Aufa=========

"Len, lo bawa motornya santai amat sih," protesku sedikit berteriak. Maklumlah, ini lagi di jalan raya, banyak suara kendaraan, ditambah lagi Alena juga pakai helm, takutnya nggak denger aku ngomong apa.

"Lo kayak nggak tau aja, La. Gue kan masih takut bawa motor semenjak kecelakaan waktu itu," jawabnya.

"Ya udah sini, biar gue aja yang bawa motor. Kita menepi dulu," usulku.

"Nggak, nggak, nggak. Gue paham betul kalau lo bawa motornya kayak setan. Takutnya lo malah bikin kita kecelakaan."

"Ck! Dasar lo! Kalau kek gini, kapan sampainya coba?"

"Udah, lo nikmati aja, anggep lagi nikmati pemandangan sore hari," jawab Alena santai.

Dasar nih orang.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku ngikutin aja sama si empunya motor. Kalau aja aku yang nyetir, udah pasti sampai di tempat dari tadi.

Karena ada lampu merah, Alena pun menghentikan motornya.

Aku menoleh ke samping kanan, dan ... ya ampuun ... kok ada mobil mewah yang kemarin sih?

Gimana ini?

Bab 3

.

Dasar nih orang.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku ngikutin aja sama si empunya motor. Kalau aja aku yang nyetir, udah pasti sampai di tempat dari tadi.

Karena ada lampu merah, Alena pun menghentikan motornya.

Aku menoleh ke samping kanan, dan ... ya ampuun ... kok ada mobil mewah yang kemarin sih?

Gimana ini?

Eh, tapi yang punya mobil mewah seperti itu kan bukan cuma orang yang kemarin aja, tentu ada banyak orang yang bisa memiliki mobil seperti itu kan?

Sebodo amatlah itu mobil orang yang kemarin atau bukan, yang pasti, untuk menghindari sesuatu yang nggak diinginkan, lebih baik aku segera memalingkan wajah ke sisi kiri.

Beruntung, tak lama kemudian traffic light berubah jadi warna hijau, dan Alena pun segera menjalankan motornya kembali.

Beruntungnya lagi, kulihat mobil itu berjalan mendahului motor yang sedang kutumpaki ini.

Huuh ... selamat, selamat. Aku mengelus dada, lega. Keadaan kembali berpihak padaku.

"La, lo kenapa, kok dari tadi diem mulu, nggak biasanya?" tanya Alena dengan suara kerasnya. Maklum, masih di jalan raya.

"Nggak papa, cuma lagi latihan jadi pendiem aja," jawabku asal. Nggak mungkin dong, mau kasih tahu ke Alena tentang apa yang aku resahkan dari tadi, nanti dia bisa ngetawain aku, lagi.

"Caela, seorang Alula pengin jadi pendiem? Sampai kiamat gue nggak bakalan percaya!" cibir Alena.

===========Aufa=========

"Alulaaa ... bangun woooy ...." Teriakan Alena yang kebetulan tepat di samping telingaku, sontak membuatku kaget. Aku yang tadinya masih terbuai mimpi, refleks jadi terduduk meski mata masih enggan terbuka.

"Apaan sih, lo, Len, gangguin orang tidur aja!" kataku kesal. Gimana nggak kesal coba, orang lagi enak-enak tidur eh, malah dikagetin gitu.

"Ck! Lo tuh kebiasaan ya, ini tuh udah jam enam pagi, sejam lagi kita berangkat kerja. Bisa telat kalau jam segini lo belum bangun, mana ini hari pertama lo masuk kerja, kalau sampai telat, bisa-bisa lo dicancel jadi karyawan di kantor gue." Omongan Alena yang lagi ngomel-ngomel itu persis seperti ibuku kalau lagi merepet. Duh, jadi kangen ibu di kampung.

"Untung aja gue ajak lo buat nginep di sini, jadi lo ada yang bangunin. Coba kalau lo kekeuh di kost-an lo, beneran hari ini lo bisa telat," tambah Alena.

"Iya, iya, bawel! Nih, gue mau mandi." Dengan enggan, aku bangkit dari kasur. Berjalan dengan masih sedikit menutup mata menuju kamar mandi.

=========Aufa=======

"Len, ini gue kerja di bagian apa ya?" tanyaku pada Alena, ketika kami sampai di lobi kantor.

"Lho, kok malah lo tanya ke gue sih? Ya mana gue tau lah. Emangnya lo kemarin nggak tanya sama pak Angga?"

"Pak Angga siapa, Len?"

Alena memutar bola matanya. "Pak Angga itu ketua HRD di kantor ini, yang kemarin interview lo."

"Ooh ... yang itu ...." Aku mengangguk paham. "Gue nggak dikasih tahu kerja di bagian apa."

"Ck! Terus lo nggak tanya gitu?"

"Enggak. Soalnya gue kemarin lupa buat tanya. Saking senengnya gue bisa diterima kerja tanpa interview macem-macem," jawabku.

Sahabatku itu menghembuskan napas kasar. "Dasar pe'a! Harusnya lo tanya dodol!" Alena menjitak kepalaku.

"Ya, namanya juga lupa," ujarku membela diri.

"Gue mau masuk ke ruangan divisi gue. Lo di sini aja dulu, nanti lo tanya sama mbak Nela, lo ditempatin di bagian apa."

"Kata lo waktu itu di sini lagi butuh karyawan yang sama di divisi lo. Jadi, mungkin kerja gue bareng sama lo."

"Belum tentu, soalnya di sini juga lagi butuh sekretaris buat CEO. Jadi, mungkin aja lo diterima jadi sekretaris CEO, mengingat pengalaman kerja lo di perusahaan Wijaya Company," tutur Alena.

"Iya juga sih. Tapi, gue nggak yakin bakal jadi sekretaris CEO, tepatnya nggak minat sih," kataku.

"Ya udah deh, mending lo di sini dulu. Nanti kalau mbak Nela udah ada, lo tanya aja ke dia," saran Alena yang kemudian melangkah pergi meninggalkanku.

=========Aufa========

Tak lama setelah kepergian Alena, mbak Nela pun datang. Dia langsung menempati meja resepsionis tempatnya bertugas. Sepertinya dia tidak melihat keberadaanku yang sedang duduk manis di sofa lobi ini.

Aku bangun dari duduk, lalu menghampiri meja resepsionis. Tentu tujuanku bertanya pada mbak Nela, seperti arahan dari Alena tadi.

"Selamat pagi, Mbak Nela," sapaku dengan nada seramah mungkin, disertai senyuman.

"Ooh, selamat pagi, Alula," balasnya ramah. Kemarin kami memang sempat berkenalan seusai aku diinterview di ruang ketua HRD, maka dari itu mbak Nela tahu siapa namaku. "Hari ini kamu sudah mulai bekerja ya?"

"Iya, Mbak. Tapi kemarin nggak dikasih tahu di bagian apa, soalnya aku asal aja bikin surat lamaran kerja tanpa mencantumkan posisi yang mau aku lamar. Terus, kemarin aku juga lupa nanyain sama pak Angga," terangku.

"Ooh, gitu ...." Mbak Nela mengangguk. "Ya udah, ayo aku anterin kamu ke ruangannya pak Angga."

=========Aufa========

Setelah menanyakan pada pak Angga perihal bagian apa aku ditempatkan di kantor ini, akhirnya aku mendapat jawabannya.

Aku ditempatkan di bagian yang sama dengan Alena, divisi marketing. Hal ini jelas membuatku senang, karena itu berarti aku bisa lebih cepat beradaptasi dengan orang di divisi ini, sebab salah satunya adalah sahabat karibku.

"Selamat pagi semua," ucap pak Angga begitu masuk di ruang divisi marketing. Aku kini berada di belakangnya.

"Pagi, Pak ...," jawab para karyawan di divisi ini dengan serentak. Kulihat mereka sedang memperhatikanku dari kubikel masing-masing. Eh, tepatnya memperhatikan pak Angga juga.

"Hari ini saya mau memperkenalkan karyawan baru di perusahaan ini, yang akan bekerja sama dengan kalian di divisi ini," terang pak Angga yang membuat orang-orang di ruangan ini semakin memperhatikanku. "Alula, ayo sini." Pak Angga memberi kode agar aku berdiri di sampingnya. Aku pun menurut.

"Ayo, silakan perkenalkan diri," perintah pak Angga padaku.

"Hai teman-teman semua, perkenalkan saya Alula ...."

========Aufa========

Sebagai karyawan baru di perusahaan ini, tak membuatku kesulitan untuk berteman dengan orang-orang di sini. Bukan saja karena Alena yang sudah lama kukenal, tetapi karena kebanyakan dari mereka itu ramah-ramah, dan humble, terutama yang satu ruangan denganku.

Baru beberapa jam saja berkenalan, aku sudah merasa nyaman dengan mereka. Obrolan ngalor ngidul tentu saja terjadi di antara kami. Seperti halnya saat ini aku yang sedang berada di kantin kantor, bersama Alena, dan dua teman baruku--Tere, dan Gio.

Jam makan siang ini kami memilih untuk makan di kantin kantor. Katanya sih, tiga temanku ini biasanya makan siang di restoran yang letaknya berada di seberang kantor, tapi berhubung di luar sedang hujan lebat, jadi terpaksa makan di sini.

"La, lo tuh beneran kocak ya," kata Gio setelah tadi kami ketawa-ketiwi ngobrolin yang nggak jelas. "Jangan-jangan karena lo ketularan si Alena, lagi, kan katanya kalian temenan udah lama."

"Enak aja! Yang ada gue yang ketularan Alula," protes Alena. "Gue tuh aslinya pendiem tau!"

Ucapan Alena tadi sontak membuat kami tertawa. Siapa yang akan percaya dengan pernyataannya barusan?

"Iyain aja deh, takut lo gantung diri," kata Gio di sela tawanya. Tentu itu membuat Alena semakin kesal.

"Udah, udah, kalian berdua tuh kalau lagi bareng nggak pernah akur mulu," ucap Tere menengahi, sedang aku masih sedikit tertawa sambil melihat ekspresi Alena, dan Gio bergantian.

Mereka berdua itu lucu, dan sepertinya ada sesuatu. Kayaknya aku harus menanyakan ini pada Alena.

=========Aufa=========

"Len, lo ada hubungan apa sama Gio?" tanyaku yang spontan membuat Alena menghentikan kegiatannya yang sedang memoles bedak pada wajahnya.

Saat ini aku dan Alena sedang berada di toilet, dan hanya kami berdua saja yang ada di sini, jadi aku bebas bertanya macam-macam sama Alena.

"Kita temenan, La," jawabnya singkat, namun aku menangkap ada yang aneh dari nada Alena ngomong.

"Serius?" Kutatap mata Alena lekat, mencari kebenaran darinya.

Alena menghembuskan napasnya berat, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Bukannya aku mau ikut campur sih, tapi sebagai sahabat, aku wajib tahu dong tentang keduanya, biar ke depannya aku lebih enak dalam bersikap.

"Sebenarnya gue udah lama suka sama Gio, La, sejak pertama gue kerja di sini," ungkap Alena yang seketika membuatku membelalakkan kedua mataku. "Sayangnya, dia suka sama orang lain."

Aku mengelus bahu Alena,memberi kekuatan. "Sabar ... kalau jodoh pasti nggak akan ke mana kok." Alena hanya mengangguk.

======Aufa======

Nasib jadi anak baru ya gini, dikit-dikit disuruh, mau membantah nggak mungkin karena yang nyuruh si ketua divisi--bu Indira, yang konon katanya masih jomblo di umurnya yang sudah menginjak kepala tiga. Kebanyakan marahin karyawan sih, jadinya banyak kan yang doain biar jomblo terus, eh!

Seperti saat ini, aku disuruh buat memfotokopi beberapa berkas yang lumayan tebal, dan cukup berat dibawa olehku yang kebetulan bertubuh mungil nan imut, dan cantik ini.

Sebenarnya sih, di ruang divisi ada mesin fotokopi, tapi berhubung lagi rusak, dan belum diperbaiki, akhirnya dengan sangat terpaksa aku harus bawa berkas-berkas ini ke lapak fotokopi yang ada di sebelah kantor. Mau nebeng fotokopi di ruang divisi lain jelas nggak mungkinlah, malu!

"Duh, berat amat sih," gerutuku begitu turun dari lift. Saat ini aku berada di lobi kantor, niatnya sih, pengin minta bantuan sama mbak Nela buat bantu bawain, eh, malah orangnya nggak ada di tempat. Terpaksa harus bawa sendiri sampai ke tempat kang fotokopi.

Berjalan dengan pelan, sesekali lihat ke depan, sesekali lihat berkas yang sedang aku bawa dengan susah payah ini, takutnya ada yang terbang kebawa angin. Kan berabe kalau sampai gitu, bisa-bisa balik-balik nanti diomelin sama mak lampir alias bu Indira.

"Tumbenan banget nih lobi sepi, nggak ada satu orang pun. Mbak Nela nggak ada, pak satpam juga entah di mana rimbanya. Padahal kan pengin minta bantuan," kataku bermonolog sambil celingukan ke kanan, dan ke kiri.

Tiba-tiba ....

Bruk ....

Berkas-berkasku jatuh semua gara-gara nggak sengaja menabrak orang.

"Kamu jalannya pake mata nggak sih?!"

To be continue

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED